Thursday, February 14, 2013

KUMPULAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


KUMPULAN SKRIPSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM APLIKASI METODE CARD SORT DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
BIDANG STUDI AL-QUR’AN HADITS
DI MADRASAH TSANAWIYAH AN-NUR BULULAWANG



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, pendidikan dijadikan suatu ukuran maju mundurnya suatu bangsa.2 Pentingnya pendidikan bagi setiap individu ditegaskan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab III Pasal 4 menyebutkan bahwa: “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai cultural dan kemajemukan bangsa.” Amanah undang-undang tersebut pada akhirnya melahirkan
keniscayaan bahwa pelaksanaan pendidikan disekolah terutama bagi guru agama, harus memerhatikan keragaman peserta didik, baik dalam konteks kemampuan berfikir, berkreativitas, keterampilan, serta tidak boleh mengabaikan keragaman etnis dan budaya yang dimiliki oleh peseta didik.3 Menyadari adanya keragaman tersebut maka dalam proses belajar mengajar, harus diadakan inovasi pembelajaran, dimana guru harus mempersiapkan metode yang tepat dalam menyampaikan materi agar siswa bisa belajar sesuai dengan amanah undang-undang tersebut. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, paradigma kegiatan pembelajaran harus dirubah, dari sebatas menyampaikan ilmu atau materi pembelajaran menjadi proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Pengaturan lingkungan disini adalah proses menciptakan iklim yang baik seperti penataan lingkungan, penyediaan alat dan sumber pembelajaran, dan hal-hal lain yang memungkinkan peserta didik betah dan merasa senang belajar sehingga mereka dapat bekembang secara optimal sesuai dengan bakat, potensi yang dimilikinya.4 Menurut Oemar Hamalik: ”pembelajaran adalah suatu usaha mengorganisasi lingkungan sehingga
menciptakan kondisi belajar bagi siswa.”5 Penggeseran paradigma pendidikan sekarang ini, berpengaruh pada metode dan strategi pembelajaran. Yang mana hal ini juga akan berpengaruh pada fungsi pendidik itu sendiri, yaitu antara lain sebagai fasilitator, moderator, mediator, dinamisator, dan motivator. Karena fungsi tersebut maka pendidik harus benar-benar mengusahakan dan mempersiapkan pembelajaran yang baik bagi peserta didiknya agar mereka mudah dalam menerima serta memahami pelajaran, sabda Nabi saw. Tugas pendidik dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar adalah sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan kemauan belajar siswa, mengembangkan kondisi belajar yang relevan agar tercipta suasana belajar dengan penuh kegembiraan. Untuk mencapai kegiatan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, maka harus dilandasi oleh prinsip-prinsip: Pertama, berpusat pada peserta didik; kedua, mengembangkan kreativitas peserta didik; ketiga, menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang, keempat mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai; dan kelima, menyediakan pengalaman belajar yang beragam serta belajar melalui perbuatan. Dalam usaha pendidikan dan pengajaran agama, guru dan murid merupakan dua faktor yang sangat penting. Kedua faktor tersebut harus samasama aktif, guru agama sebagai subyek yang aktif mengajar agama dan murid sebagai subyek yang aktif menerima pelajaran.9 Lebih lanjut menurut Siti Kusrini, dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergi, yakni guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana siswa harus belajar. Sementara siswa belajar bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai pengalaman belajar sehingga terjadi perubahan dalam dirinya dari aspek kognitif, psikomotor, dan atau afektif dengan kata lain menumbuhkan minat dan bakatnya. Untuk menumbuhkan semua itu dan peserta didik aktif secara sukarela tumbuh kesadarannya mau dan senang belajar, guru atau pendidik harus merancang kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukam kegiatan belajar secara aktif, baik fisik maupun mental. Di madrasah Al-Qur’an dan Hadits merupakan bidang studi tersendiri yang diberikan kepada para siswa. Al-Qur’an dan Hadits adalah sumber utama ajaran Islam yang mencakup semua ilmu pengetahuan, dan untuk itu Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai risalahnya kepada manusia, agar mereka tidak terjerumus dalam kesesatan. Firman Allah Qs. An-
Naml ayat: 91-92.
Artinya:”Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nyalah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orangorang yang berserah diri. Dan supaya aku membacakan Al-Qur’an (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk( kebaikan)dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: ”sesungguhnya aku (nabi)tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.”
Dari ayat tersebut jelas bahwa Allah SWT memerintahkan tiga perkara yang salah satunya adalah membaca Al-Qur’an, termasuk didalamnya mengaji, mendarus dan mengajarkannya. Dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits diperlukan metode pengajaran yang tepat agar dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Salah satu media alternatif yang dapat digunakan dalam pengajaran Al-Qur’an dan Hadits adalah media kartu (flash card) karena penggunaan media ini sangat mudah, praktis dan bisa dipelajari setiap saat. Media ini juga sangat efektif untuk melatih keterampilan dalam pemahaman suatu materi. Adapun efektifitas penggunaan dari metode ini tergantung pada kreatifitas pendidik
atau guru tersebut.
Penerapan metode card sort dalam pembelajaran, akan menuntun siswa dengan sendirinya termotivasi untuk belajar. Sebab pada dasarnya siswa akan belajar jika ada pengarahan atau bimbingan yang mengarahkan mereka harus belajar yang dalam hal ini peran dari guru itu sendiri sebagai fasilitator. Pemilihan dan penggunaan metode yang baik oleh guru dalam pembelajaran akan menentukan dalam keberhasilan proses belajar mengajar. Metode card sort, dengan menggunakan media kartu dalam praktek pembelajaran, akan membantu siswa dalam memahami pelajaran dan menumbuhkan motivasi mereka dalam pembelajaran, sebab dalam penerapan metode card sort, guru hanya berperan sebagai fasilitator, yang memfasilitasi siswanya dalam pembelajaran, sementara siswa belajar secara aktif dengan fasilitas dan arahan dari guru, sehingga yang aktif disini bukan guru
melainkan siswa itu sendiri yang harus aktif dalam pembelajaran. Aplikasi metode card sort seperti yang dijelaskan sebelumnya, lebih melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif, siswa diharapkan mempunyai motivasi belajar yang lebih tinggi dan terus meningkat. Sehingga siswa dapat belajar dengan lebih mandiri, berfikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Dengan munculnya motivasi intrinsic siswa merasa bangga menumbuhkan percaya diri karena dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, siswa akan lebih senang dan akan memberikan dorongan untuk selalu mengingat materi pelajaran yang telah disampaikan. Adapun mengingat dapat dikategorikan sebagai aktifitas belajar, apabila ia mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar. Dengan pendekatan disiplin belajar “Learning Vocabs by cards Everyday” yaitu mempelajari bagian-bagian materi melalui kartu-kartu yang dilakukan setiap hari akan meningkatkan proses pemahaman siswa. Tujuan dari metode ini merupakan sebuah pemenuhan dari penggunaan target menguasai materi secara mendalam. Dari uraian tersebut, maka guru dituntut untuk mampu mengelola kelas dengan baik dan memperhatikan metode yang tepat yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga tercapailah keberhasilan dalam proses
belajar mengajar dan dapat menghasilkan pembelajaran yang efektif dan efisien pada mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits.
Berdasarkan gambaran-gambaran di atas, maka perlu kiranya pembahasan dan penelitian tentang “Aplikasi Metode Card Sort Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Al-Qur’an Hadits Di Madrasah Tsanawiyah An-Nur Bululawang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka untuk mengarahkan penelitian ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimanakah aplikasi metode card sort pada siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang?
b. Bagaimanakah motivasi belajar siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E setelah diterapkannya metode card sort bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan merupakan suatu target yang hendak dicapai dalam melaksanakan suatu kegiatan, berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan:
a. Mengetahui aplikasi metode card sort pada siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang.
b. Mengetahui motivasi belajar siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E setelah diterapkannya metode card sort bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang.
2. Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah di sebutkan, maka dalam penelitian ini diharapkan berguna bagi lembaga (baik almamater maupun obyek penelitian), bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi penulis.
a. Lembaga
Sebagai pemberi informasi tentang hasil dari penggunaan metode card sort dalam proses belajar mengajar Al-Qur’an Hadits, serta sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga dalam memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian materi Al-Qur’an Hadits.
b. Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama bagi yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut, guna mendapatkan pengetahuan yang lebih mendalam.
c. Peneliti
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai wahana dalam memperoleh informasi serta menambah wawasan tentang penggunaan metode pembelajaran, dan sebagai bekal dalam perjalanan hidup selanjutnya agar menjadi guru yang profesional di bidangnya.
D. Ruang Lingkup Pembahasan
Agar mempermudah dalam penelitian ini, maka yang akan dijadikan obyek dalam penelitian ini akan dibatasi dalam ruang lingkup sebagai berikut:
1. Aplikasi metode card sort pada siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang, meliputi proses belajar mengajar melalui penerapan metode card sort oleh guru bidang studi Al-Qur’an Hadits dalam meningkatkan motivasi belajar siswa MTs An-Nur Bululawang .
2. Motivasi belajar siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E MTs An-Nur
meliputi: motivasi bealajar siswa sebelum dan setelah diterapkannya metode card sort bidang studi Al-Qur’an hadits di MTs An-Nur Bululawang.
E. Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya salah pengertian atau kurang jelasnya makna dalam pembahasan, maka perlu adanya penegasan istilah atau definisi operasional. Adapun istilah yang perlu dijelaskan sebagai berikut:
1. Metode merupakan suatu cara atau alat untuk mencapai tujuan, selain itu metode adalah suatu bagian dari komponen proses pendidikan
2. Card Sort adalah card sort (mensortir kartu) yaitu suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan konsep dan fakta melalui klasifikasi materi yang dibahas dalam pembelajaran.
3. Motivasi Belajar adalah usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.
4. Bidang Studi Al-Qur’an Hadits merupakan unsur mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) pada Madrasah Tsanawiyah yang diberikan kepada peserta didik untuk memahami Al-Qur’an Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam dan mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk seta landasan dalam kehidupan sehari-hari.
F. Sistematika Pembahasan
Penulisan skripsi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan sekitar masalah yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, ruang lingkup pembahasan, definisi operasional dan sistematika pembahasan.Uraian dalam bab I ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum tentang isi keseluruhan tulisan serta batasan permasalahan yang di uraikan oleh penulis dalam pembahasannya.
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan secara rinci tentang: Metode card sort yang meliputi pengertian metode, card sort, ciri-ciri metode card sort, tujuan aplikasi metode card sort, dan aplikasi metode card sort. Tinjauan tentang Motivasi belajar yang meliputi pengertian motivasi, macam-macam motivasi, tujuan motivasi, fungsi motivasi dalam belajar, hakikat motivasi belajar, bentuk-bentuk motivasi di sekolah, cara mengukur motivasi, dan prinsipprinsip motivasi. Tinjauan tentang bidang studi Al-Qur’an Hadits, meliputi pengertian Al-Qur’an, pengertian Hadits, bidang studi Al-Qur’an Hadits,
tujuan bidang studi Al-Qur’an Hadits, serta fungsi bidang studi Al-Qur’an Hadits.
BAB III. METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara peneliti memperoleh hasil penelitian yang bertujuan mempermudah dalam penelitian di lapangan. Bab ini meliputi pendekatan dan jenis data, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, tehnis pengumpulan data, analisa data, keabsahan data, serta
tahap-tahap penelitian.
BAB IV. HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti di lapangan, bab ini meliputi latar belakang obyek penelitian yang terdiri dari: sejarah berdirinya MTs An-Nur Bululawang, visi misi dan tujuan MTs An-Nur Bululawang, struktur organisasi MTs An-Nur Bululawang, data guru MTs An-Nur Bululawang, data siswa MTs An-Nur Bululawang, data sarana prasarana MTs An-Nur Bululawang. Penyajian data juga dipaparkan pada bab ini yaitu aplikasi metode card sort bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang dan motivasi belajar siswa setelah diterapkannya metode card sort bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang.
BAB V. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang pembahasan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti di lapangan. Pada bab ini akan membahas temuantemuan penelitian yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, dan mempunyai arti penting bagi keseluruhan penelitian. Untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini.
BAB VI. PENUTUP
Bab ini menjelaskan secara global dari semua pembahasan skripsi dengan menyimpulkan semua pembahasan dan memberi beberapa saran dalam meningkatkan kualitas pembelajaran selanjutnya. Tujuannya mempermudah pembaca untuk mengambil inti sari dari pembahasan skripsi ini.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Card Sort
1. Pengertian Metode
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani “metodos”. Kata ini berasal dari dua suku kata: yaitu “metha” berarti melalui atau melewati, dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab metode disebut “Thariqat”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “metode” adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang
harus dilalui untuk menyajikan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pengajaran. Metode (method), secara harfiah berarti cara, sedang dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen dan sebagainya.
Sedangkan metode dalam pengertian istilah telah banyak dikemukakan oleh pakar pendidikan sebagaimana berikut ini:
1. Runes secara teknis menerangkan bahwa metode adalah: Pertama, sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan. Yakni suatu prosedur yang dipergunakan pendidik dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kedua, sesuatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi. Yakni teknik yang digunakan peserta didik untuk menguasai materi tertentu dalam proses
mencari ilmu pengetahuan. Ketiga, suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur. Yakni yang dipergunakan dalam merumuskan aturan-aturan tertentu dari prosedur (dari segi pembuat
kebijakan.
2. Menurut W. J. Spoer Wodarminto Metode adalah cara yang telah diatur atau teratur dan berfikir baik-baik untuk mencapai suatu tujuan atau maksud. Demikian juga menurut buku “Methodik Khusus Pendidikan Agama” diterangkan bahwa metode adalah pelaksanaan cara mengajar atau guru menyampaikan bahan pelajaran kepada murid.
3. Menurut Rasyidin dan Nizar, metode pendidikan Islam bisa berarti prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Selain itu, metode juga bisa berarti teknik yang dipergunakan untuk menguasai sejumlah materi pendidikan Islam.
4. Abdul Munir Mulkan mengatakan bahwa, metode pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada peserta didik.
5. Mahmud Yunus mengatakan metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan lainnya. Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode merupakan suatu cara atau alat untuk mencapai tujuan, selain itu metode adalah suatu bagian dari komponen proses pendidikan. Jadi dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah direncanakan.17 Oleh karenanya guru harus berusaha semaksimal mungkin di dalam menerapkan suatu metode yang nantinya diharapkan dapat mencapai tujuan di dalam pengajaran. Sehubungan dengan hal tersebut, Ahmad Tafsir menyatakan bahwa banyak orang menerjemahkan atau menyamakan pengertian metode dengan cara. Ini tidak seluruhnya salah. Memang metode dapat juga diartikan cara. Untuk mengetahui pengertiannya dilihat dari penggunaan
kata methode dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris ada kata way dan methode, dua kata ini sering diterjemahkan cara dalam bahsa Indonesia. Sebenarnya yang lebih layak diterjemahkan cara adalah kata way, bukan kata methode. Metode ialah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan
pengertian ”cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu”. Ungkapan ”paling tepat dan cepat” itulah yang membedakan method dengan way. Karena metode berarti cara yang paling tepat dan cepat, maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-benar secara ilmiah. Sedangkan yang dimaksud dengan metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.19 Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid menerima pelajaran pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk memberitahukan atau membangkitkan. Jadi peranan metode pengajaran ialah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif. Dengan metode diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif antara guru dengan siswa. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih aktif di bandingkan dengan gurunya. Misalnya menggunakan strategi pembelajaran yang membuat siswa belajar dengan
berfikir, bergerak dan lain sebagainya yang salah satunya adalah strategi atau metode card sort.
2. Pengertian Card Sort
Card sort yakni strategi pembelajaran berupa potongan-potongan kertas yang dibentuk seperti kartu yang berisi informasi atau materi pelajaran. Pembelajaran aktif model card sort merupakan pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa, dimana dalam pembelajaran ini setiap siswa diberi kartu indeks yang berisi informasi tentang materi yang akan dibahas, kemudian siswa mengelompok sesuai dengan kartu indeks yang dimilikinya. Setelah itu siswa mendiskusikan dan mempresentasikan hasil diskusi tentang materi dari kategori kelompoknya. Di sini pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang belum dimengerti siswa setelah presentasi selesai. Card sort (sortir kartu) strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek atau mereview ilmu yang telah diberikan sebelumnya atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamisir kelas yang kelelahan. Menurut Fatah Yasin, card sort (mensortir kartu) yaitu suatu strategi yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan konsep dan fakta melalui klasifikasi materi yang dibahas dalam pembelajaran. Metode card sort, dengan menggunakan media kartu dalam praktek pembelajaran, akan membantu siswa dalam memahami pelajaran dan menumbuhkan motivasi mereka dalam pembelajaran, sebab dalam penerapan metode card sort, guru hanya berperan sebagai fasilitator, yang memfasilitasi siswanya dalam pembelajaran, sementara siswa belajar secara aktif dengan fasilitas dan arahan dari guru, sehingga yang aktif disini bukan guru melainkan siswa itu sendiri yang harus aktif dalam pembelajaran.
Card Sort yaitu motivasi dari guru; bagi kartu kosong secara acak; guru mencari kata kunci di papan; siswa mencari kata sejenis (satu tema) dengan temannya; diskusi kelompok berdasarkan temanya; menyusun kartu di papan dan masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya. Strategi ini dapat diterapkan apabila guru hendak menyajikan materi atau topik pembelajaran yang memiliki bagian-bagian atau kategori yang luas. Caranya guru menuliskan materi dan bagian-bagiannya ke dalam kertas karton atau yang lainnya secara terpisah. Kertas diacak dan setiap siswa dipersilahkan mengambil satu kertas, atau beberapa siswa mengambil kertas tersebut lalu membagikannya satu persatu pada temantemannya. Setelah siswa memegang kertas tersebut, kemudian mencari pasangan siswa lain dalam kelompok berdasarkan kategori yang tertulis. Jika seluruh siswa sudah dapat menemukan pasangannya berdasarkan kategori yang tepat, mintalah mereka berjajar secara urut kemudian salah satu menjelaskan kategori kelompoknya.


3. Ciri-Ciri Metode Card Sort
Dalam metode card sort salah satu cirinya yaitu pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang belum dimengerti siswa setelah presentasi selesai. Sehingga materi yang telah dipelajari benar-benar difahami dan dimengerti oleh siswa. Ciri khas dari pembelajaran aktif model card sort ini adalah siswa mencari bahan sendiri atau materi yang sesuai dengan kategori kelompok yang diperolehnya dan siswa mengelompok sesuai kartu indeks yang diperolehnya. Dengan demikian siswa menjadi aktif dan termotivasi dalam proses belajar mengajar.
4. Tujuan Metode Card Sort
Istilah tujuan secara etimologi, mengandung arti arah, maksud atau haluan. Dalam bahasa Arab “tujuan” diistilahkan dengan “Ghayat atau Maqashid” sementara dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan “goal, purpose, objective atau aim”. Secara terminologi, tujuan berarti “sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai”. Tujuan dari strategi dan metode belajar menggunakan “memilah dan memilih kartu ”card sort” ini adalah untuk mengungkapkan daya “ingat” atau recoll terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari siswa. Sehingga siswa benar-benar memahami dan mengingat pelajaran yang telah diberikan. Untuk itu, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah ;
_ Kartu-kartu tersebut jangan diberi nomor urut.
_ Kartu-kartu tersebut dibuat dalam ukuran yang sama.
_ Jangan memberi “tanda kode” apapun pada kartu-kartu tersebut.
_ Kartu-kartu tersebut terdiri dari “beberapa bahasan” dan dibuat dalam jumlah yang banyak atau sesuai dengan jumlah siswa.
_ Materi yang ditulis dalam kartu-kartu tersebut, telah diajarkan dan telah dipelajari oleh mahasiswa atau siswa.

5. Aplikasi Metode Card Sort
Melvin L. Silberman menjelaskan bahwa mengajarkan bukan semata persoalan menceritakan. Belajar bukanlah konsekuensi dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan
keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif. Agar belajar menjadi aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit, menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduk mereka, bergerak leluasa dan berfikir keras
(moving about and thinking aloud). Pembelajaran aktif model card sort merupakan pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa, dimana dalam pembelajaran ini setiap siswa diberi kartu indeks yang berisi informasi tentang materi yang akan dibahas, kemudian siswa mengelompok sesuai dengan kartu indeks yang dimilikinya. Setelah itu siswa mendiskusikan dan mempresentasikan hasil
diskusi tentang materi dari kategori kelompoknya. Di sini pendidik lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan menjelaskan materi yang perlu dibahas atau materi yang belum dimengerti siswa setelah presentasi selesai. Strategi belajar ”Memilah dan Memilih Kartu” Card sort, banyak pakar pendidikan yang telah merumuskan langkah-langkah aplikasinya, diantaranya:
Langkah-langkah aplikasi yang ditulis Hartono, sebagai berikut: Langkah pertama, guru membagikan selembar “kartu” kepada setiap siswa dan pada kartu tersebut telah dituliskan suatu materi. Kartu tersebut terdiri dari “kartu judul” dan dan “kartu bahasan dari judul” tersebut. Kartu judul biasanya menggunakan huruf kapital dan kartu-kartu sub judul menggunakan huruf non-kapital. Langkah kedua, siswa diminta untuk mencari teman (pemegang kartu judul) yang sesuai dengan masalah yang ada pada kartunya untuk satu kelompok. Langkah ketiga, siswa akan berkelompok dalam satu “pokok bahasan” atau masalah masing-masing. Langkah keempat, siswa diminta untuk menempelkan di papan tulis bahasan yang ada dalam kartu tersebut berdasarkan urutan-urutan bahasannya yang dipegang kelompok tersebut. Langkah kelima, seorang siswa (pemegang kartu judul) dari masing-masing kelompok untuk menjelaskan dan sekaligus mengecek kebenaran urutan per pokok bahasan. Langkah keenam, bagi siswa yang salah mencari kelompok
sesuai bahasan atau materi pelajaran tersebut, diberi hukuman dengan mencari judul bahasan atau materi yang sesuai dengan kartu yang dipegang. Langkah ketujuh, guru memberikan komentar atau penjelasan dari permaianan tersebut. Adapun langkah-langkah aplikasi lainnya yaitu:
1. Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dan lain-lain. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan kartunya.
2. Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
3. Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
4. Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.  Langkah-langkah aplikasi metode card sort menurut Fatah Yasin yaitu:
a. Bagikan kertas yang bertuliskan informasi atau kategori tertentu secara acak.
b. Tempelkan kategori utama di papan atau kertas di dinding kelas.
c. Mintalah peserta didik untuk mencari temannya yang memiliki kertas/kartu yang berisi yang sama untuk membentuk kelompok dan mendiskusikannya.
d. Mintalah mereka untuk mempresentasikannya.
Langkah-langkah lainnya dalam aplikasi metode card sort menurut Suhairini,Suti’ah dan Marno yaitu antara lain:
a. Bagikan kertas yang berisi informasi atau contoh atau langkahlangkah yang telah disusun secara sistematis dalam satu kategori tertentu atau lebih secara acak.
b. Biarkan siswa berbaur mencari kawan-kawan dalam satu kategori yang sama.
c. Setelah siswa menemukan kawan-kawan dalam satu kategori, mintalah mereka berdiri berjajar sesuai urutan kategori dan menjelaskan kategori tersebut secara ke seluruh kelas.
d. Setelah semua kategori dijelaskan, berilah penjelasan tentang hal-hal yang masih dianggap perlu agar semua siswa memperoleh pemahaman yang utuh.31
Menurut Hisyam Zaini adapun langkah-langkah aplikasi dalam metode card sort yaitu:
a. Setiap siswa diberi potongan kertas atau contoh yang tercakup dalam satu atau lebih kategori.
b. Mintalah siswa untuk bergerak dan berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama (anda dapat mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan siswa menemukannya sendiri).
c. Siswa dengan kategori yang sama diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
d. Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap kategori tersebut, berikan poin-poin penting terkait materi perkuliahan. Variasi: Pertama minta setiap kelompok untuk melakukan menjelaskan tentang kategori yang mereka selesaikan. Kedua pada awal kegiatan bentuklah beberapa tim. Beri tiap-tiap tim satu set kartu yang sudah diacak sehingga kategori yang mereka sortir tidak nampak. Mintalah setiap tim untuk mensortir kartu-kartu tersebut ke dalam kategori-kategori tertentu. Setiap tim bisa memperoleh nilai untuk setiap kartu yang disortir dengan benar.
B. Tinjauan Tentang Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
Kata “motif’ diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. “motif” dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitasaktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap siagaan). Berawal dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan dirasa sangat mendesak. Membedakan pengertian motif dan motivasi adalah merupakan hal yang sukar. Namun demikian di dalam psikologi disamping istilah ”motif” dikenal pula istilah motivasi. Motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang menunjukkan kepada seluruh proses gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir
daripada gerakan atau perbuatan. Sedangkan motif ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Sigmund Freud mengatakan bahwa motif itu merupakan energi
dasar yang terdapat dalam diri seseorang. Tiap tingkah laku menurut Sigmund Freud didorong oleh suatu energi dasar yang disebut instink. Instink ini oleh Sigmund Freud dibagi dua. Pertama, instink kehidupan atau instink seksual atau libido, yaitu dorongan untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan keturunan. Kedua, instink yang mendorong perbuatan-perbuatan yang agresif atau yang menjurus kepada kematian. Menurut Sartain dalam bukunya Psycology Understanding of Human Behavior disebutkan motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan kesuatu tujuan atau perangsang.35 Motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah aktif pada saat-saat tertentu terutama apabila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. Menurut Mc. Donald ”motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”.
Motvasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga unsur penting sebagai berikut:
a. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi tiap individu. Perubahan-perubahan dalam motivasi timbul dari perubahanperubahan tertentu di dalam sistem neuropisiologis dalam organism manusia.
b. Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan affective arousal. Mulamula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi.
c. Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang bermotivasi mengadakan respons-respons yang tertuju kearah suatu tujuan.
Dengan ketiga unsur di atas dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertidak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
Apabila Dalam kegiatan belajar-mengajar, ada seorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan
sebab-musababnya kemudian mendorong seseorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, siswa perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.
Surjono Trimo memberikan pengertian motivasi adalah merupakan sesuatu kekuatan penggerak dalam perilaku individu baik yang akan menentukan arah maupun daya tahan (peristence) tiap perilaku manusia yang di dalamnya terkandung pula unsur-unsur emosional insan yang bersangkutan.  Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa motivasi secara etimologi adalah dorongan atau daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa motivasi dapat dipandang sebagai fungsi, proses dan tujuan. Motivasi dipandang sebagai tujuan berarti motivasi berfungsi sebagai daya penggerak dari dalam individu untuk melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan. Motivasi sebagai proses, berarti motivasi dapat dirangsang oleh faktor luar untuk menimbulkan motivasi dalam diri seseorang.
2. Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian motivasi atau motif yang sangat aktif itu sangat bervariasi.
a. Motif dilihat dari dasar pembentukannya
1) Motif-motif bawaan Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa
sejak lahir, jadi motif itu ada tanpa dipelajari. Contohnya, dorongan untuk makan, minum, bekerja, istirahat dan lain sebagainya.
2) Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif ini timbul karena dipelajari. Contoh dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan dan dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Disamping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:
a) Cognitive motives
Motif ini menunjukkan pada gejala intrinsik yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b) Self-expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu ini terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c) Self-enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik
untuk mencapai suatu prestasi.
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodwort dan Marquis
1) Motif atau kebutuhan organis misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, beristirahat dan lain sebagainya.
2) Motif darurat, yang termasuk dalam motif darurat ini adalah dorongan menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha dan lain sebagainya. Jelasnya motivasi ini timbul karena dorongan dari luar.
3) Motif subyektif, dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah Yang termasuk motivasi jasmaniah misalnya: reflek, instink, otomatis dan nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah yaitu kemauan. Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen yaitu:
1) Momen timbulnya alasan
Sebagai contoh seorang pemuda yang sedang giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi tiba-tiba diminta ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket
karena mau ke Jakarta. Si pemuda tadi kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini si pemuda tadi timbul alasan baru untuk menghormati tamu tersebut atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
2) Momen pilih
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternative atau alasan itu, kemudian seseorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menentukan pilihan alternative yang akan dikerjakan.
3) Momen putusan
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah tentu akan berakhir dengan dipilihnya satu alternatif. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
4) Momen terbentuknya kemauan
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, maka timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak, melaksanakan putusan itu.
d. Motivasi Intrisik dan Motivasi Ekstrinsik
Menurut Oemar Hamalik motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1) Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah motivasi yang menyertai tindakan, belajar dengan kegiatan itu akan dicapai tujuan tertentu yang secara langsung merupakan tujuan belajar itu sendiri. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan memenuhi kebutuhan dan tujuan-tujuan murid.
Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni Motivasi intrinsik timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan atau dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia akan rajin
mencari buku-buku yang dibacanya. Siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Sebab satu-satunya jalan menuju pada tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin
mendapat pengetahuan. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, yakni kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motif ekstrinsik timbul dari luar diri seseorang kadangkadang karena adanya paksaan atau pengaruh dari lingkungan anak didik. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan hadiah, medali perten-tangan dan persaingan yang bersifat negative ialah sarcasm, ridicule, dan hukuman. Motivasi ekstrinsik ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa atau sesuai dengan kebutuhan siswa.
Menurut Sardiman motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ada ujian dengan harapan mendapat nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secar mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.
3. Tujuan Motivasi
Adanya tujuan yang jelas dan didasari akan mempengaruhi kebutuhan dan ini akan mendorong timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan dapat juga membangkitkan timbulnya motivasi dalam diri seseorang. Sesuai dengan pengertian motivasi di atas, maka tujuan dari motivasi adalah untuk menggerakkan atau mengugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Motivasi bertujuan untuk menggerakkan dan sekaligus menggugah seseorang agar mau melakukan sesuatu dengan sekuat tenaga supaya apa yang diinginkannya itu dapat tercapai. Menggerakkan berarti mengalihkan kekuatan kepada kemauan, kemauan sudah jelas ditandai dengan suatu hasil yang diinginkan. Hanya saja kemauan yang diinginkan itu bermacam-macam sesuai dengan bentuk kegiatan yang akan dilakukan. Sebelum melaksanakan motivasi terhadap seseorang harus terlebih dahulu mencari atau mengamati untuk apa kita memotivasi seseorang. Di dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus terlebih dahulu merencanakan untuk apa siswa mempelajari materi-materi pelajaran yang akan diajarkan di dalam kegiatan belajar mengajar. Cara yang digunakan untuk menimbulkan motivasi siswa-siswi belajar, apakah dengan cara yang sama untuk semua, atau apakah cara motivasi siswa-siswi itu berbeda antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Hal ini juga harus dipikirkan oleh guru secara hati-hati. Memang demikian, ada cara untuk memotivasi sama untuk siswa, dan ada saatnya tidak sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Tentu setiap pekerjaan yang dilakukan semuanya melalui proses. Baik proses yang direncanakan terlebih dahulu atau yang disengaja, akan tetapi ada juga yang tidak direncanakan yakni timbul dengan sendirinya atau perencanaan yang tidak disengaja. Begitu juga halnya denga cara-cara memotivasi bermacam-macam, ada motivasi yang direncanakan dan ada juga motivasi yang tidak direncanakan, bergantung kepada situasi dan kondisi.
4. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essential condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran tersebut. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa.47 Menurut Oemar Hamalik, ada tiga fungsi motivasi dalam belajar yaitu:
a) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
b) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan.
c) Motivasi berfunsi sebagai penggerak. Ia berfunsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Sedangkan menurut Sardiman fungsi motivasi adalah sebagai berikut:
a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan tujuannya.
c) Menyelesaikan perbuatan, yakni menyelesaikan perbuatan-perbuatan apa yang harus dilakukan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan mengahbiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan. Motivasi sebagai suatu proses, mengantarkan murid kepada penglaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar. Sebagai proses, motivasi mempunyai fungsi antara lain:
a) Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga.
b) Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tetentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar.
c) Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.
Disamping itu, ada fungsi-fungsi yang lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasarkan adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

5. Hakikat Motivasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses yang terjadi antara siswa dengan guru, antara yang belajar dengan yang mengajar. Melalui proses pembelajaran akan berkembang secara sempurna atau tercapai hasil yang optimal bila guru maupun siswa terlibat aktif dan memiliki motivasi tinggi. Guru memiliki motivasi dan kreatif untuk mengajar, siswa memiliki motivasi dan kreatif untuk belajar terutama dalam hal memecahkan masalah. Motivasi belajar menurut Frederick J.
Mc. Donald, adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang  (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang dijamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat dicapai. Motivasi belajar menurut Sardiman adalah merupakan faktor psikis yang bersifat nonintelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat belajar. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat.  Dalam rumusan diatas terlihat ada tiga unsur penting, yakni;
Pertama, bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan tenaga pada setiap manusia. Kedua, motivasi ditandai dengan munculnya rasa, afeksi seseorang yang menentukan tingkah laku manusia. Ketiga, motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Selanjutnya Crow & Crow mengatakan bahwa motivasi juga merupakan faktor yang penting dalam belajar yaitu motivasi member semangat bagi seorang pelajar dalam kegiatan belajarnya, motivasimotivasi perbuatan sebagai pemilih dari tipe kegiatan-kegiatan dimana seseorang berkeinginan untuk melakukanya, dan motivasi member petunjuk pada tingkah laku. Penjelasan pengertian atau batasan tentang hal motivasi menurut para ahli diatas menunjukkan bahwa motivasi merupakan motif-motif dalam diri setiap orang yang memiliki kemampuan menggerakkan dan memelihara sikap dan perilakunya untuk mencapai suatu tujuan, sehingga terpuaskan kebutuhannya.
Gage dan Berliner mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut. Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segaladaya (kondisikondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses
pembelajaran.
Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait-mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar. Kesimpulannya motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang, dan belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar siswa yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatankegiatan.

6. Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah
Di dalam kegiatan belajar-mengajar, peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam kegiatan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Oleh karena itu guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberikan motivasi bagi kegiatan belajar kepada para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justeru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa. Beberapa bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain:
a. Memberi angka.
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar. Banyak siswa belajar, yang utama jutru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka yang baik bagi siswa merupakan motivasi yang sangat kuat.
b. Hadiah.
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian.
c. Saingan/kompetensi.
Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Apabila persaingan diadakan dalam suasana yang fair, maka hal ini merupakan suatu motivasi dalam “ Academic Achievement”.
d. Ego-involvenment.
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mereka bekerja keras dengan mempertahankan harga diri adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
e. Memberi ulangan.
Siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat guru, adalah jangan terlalu sering karena ini bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru juga harus terbuka, yakni jika akan mengadakan ulangan harus memberitahukan kepada siswa.
f. Mengetahui hasil.
Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan harapan hasilnya terus meningkat
g. Pujian.
Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.
h. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi, dan hukuman yang dapat diterima di dunia pendidikan adalah hukuman yang bersifat memperbaiki, hukuman yang bisa menyadarkan anak kepada keinsafan atas kesalahan yang diperbuatnya.
i. Hasrat untuk belajar.
Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
j. Minat.
Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar akan lancar kalau disertai dengan minat yang tinggi.
k. Tujuan yang diakui.
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai yang dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
7. Cara Mengukur Motivasi
Pada umumnya ada dua cara untuk mengukur motivasi, yaitu:
a. Mengukur faktor-faktor luar tertentu yang diduga menimbulkan dorongan dalam diri seseorang.
b. Mengukur aspek tingkah laku tertentu yang mungkin menjadi ungkapan dari motif tertentu.
Laboratorium penelitian tentang motivasi umumnya menggunakan cara yang pertama, yaitu berusaha menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan dorongan/kebutuhan tertentu.57 Dapat juga dengan cara pemberian hadiah/insentif, insentif verbal berupa pengarahan-pengarahan yang dapat memperkuat motif seseorang. Salah satu cara yang lebih tepat mengetahui motif seseorang yang
sebenarnya adalah mengamati obyek-obyek yang menjadi pusat perhatiannya. Obyek yang selalu dikejar itulah yang menjadi cermin atas motif yang sedang menguasainya, selain itu bisa juga dikenal melalui hadiah yang paling mengena baginya. Ada tidaknya motif yang sedang menguasai seseorang juga bisa dijadikan ukuran, misalnya: kekuatan tenaga yang dikeluarkan (usahanya), frekwensinya, kecepatan reaksinya, tema pembicaraannya, fantasi dan impiannya.58 Dalam penelitian mengenai motivasi perlu digunakan skala sikap dan chek list agar kesimpulan yang diambil sungguh-sungguh berdasarkan pada data yang dapat dipertanggung jawabkan.
8. Prinsip-Prinsip Motivasi
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar penelitian yang seksama, dalam rangka mendorong motivasi belajar murid-murid di sekolah yang mengandung pandangan demokratis dan dalam rangka menciptakan self motivation dan self discipline di kalangan murid-murid. Kenneth H. Hover, mengemukakan prinsip-prisip motivasi sebagai berikut:
a. Pujian lebih efektif daripada hukuman. Hukuman bersifat menghentikan sesuatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Karena itu pujian lebih besar nilainya bagi motivasi belajar siswa.
b. Semua murid mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan. Kebutuhankebutuhan itu menyatakan diri dalam berbagai bentuk yang berbeda.
c. Motivasi yang berasal dari dalam diri individu lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar.
d. Terhadap jawaban (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan (reinforcement). Apabila sesuatu perbuatan belajar mencapai tujuan maka terhadap perbuatan itu perlu segera diulang kembali setelah beberapa menit kemudian, sehingga hasilnya lebih mantap.
e. Motivasi itu mudah menjalar atau tersebar terhadap orang lain. Guru yang berminat tinggi dan antusias akan menghasilkan murid-murid yang berminat tinggi dan antusias pula.
f. Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi.
g. Tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri akan menimbulkan
minat ynag lebih besar untuk mengerjakannya daripada apabila tugastugas itu dipaksakan oleh guru.
h. Pujian-pujian yang datangnya dari luar (external reward) kadangkadang diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya.
i. Teknik dan proses mengajar yang bermacam-macam adalah efektif untuk memelihara minat murid.
j. Manfaat minat yang telah dimiliki oleh murid adalah bersifat ekonomis.
k. Kegiatan-kegiatan yang akan dapat merangsang minat murid-murid yang kurang mungkin tidak ada artinya bagi para siswa yang tergolong pandai.
l. Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan belajar. Sebab akan mengakibatkan pindahnya perhatian siswa kepada hal lain, sehingga kegiatan belajarnya tidak efektif.
m. Kecemasan dan frustasi yang lemah dapat membantu belajar, dapat juga lebih baik.
n. Apabila tugas tidak terlalu sukar dan tidak ada, maka frustasi secara cepat menuju ke demoralisasi.
o. Setiap murid mempunyai tingkat-tingkat frustasi toleransi yang berlainan
p. Tekanan kelompok siswa (per grup) kebanyakan lebih efektif dalam motivasi daripada tekanan/ paksaan dari orang dewasa.
q. Motivasi yang besar erat hubungannya dengan kreativitas murid. Dengan teknik mengajar tertentu motivasi murid-murid dapat ditujukan kepada kegiatan-kegiatan kreatif.

C. Tinjauan Tentang Bidang Studi Al-Qur’an Hadits
1. Pengertian Al-Qur’an
Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti ”bacaan” atau ”sesuatu yang dibaca berulangulang”.Kata Al-Qur’an berasal dari kata kerja Qara’a yang berarti
membaca, bentuk masdarnya adalah Al-Qur’an yang berarti bacaan. Secara khusus, Al-Qur’an menjadi nama bagi sebuah kitab yang  diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Maka jadilah ia sebagai identitas diri. Sebutan Al-qur’an tidak terbatas pada sebuah kitab dengan seluruh kandungannya, tapi juga bagian daripada ayat-ayatnya juga dinisbakan kepadanya. Qs. Al-A’raf:204
Artinya: “dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” Menurut sebagian ulama, penamaan kitab ini dengan nama Al- Qur’an diantara kitab-kitab Allah itu, karena kitab Al-Qur’an juga mencakup esensi dari kitab-kitab –Nya, bahkan mencakup esensi dari semua ilmu. Hal itu diisyaratkan dalam firman-Nya, Qs. An-Nahl:89
Artinya:(dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Para ulama menyebutkan definisi khusus bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, yang membacanya menjadi suatu ibadah. Adapun Muhammad salim Muhsin yang dinukil oleh Muhaimin mendefinisikan Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tertulis dalam mushaf mushaf dan di nukil/diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) walaupun surat terpendek.
Menurut Abdul Wahab Khalaf mendefinisikan Al-Qur’an adalah kalam Allah Yang diturunkan dengan perantaraan malaikat jibril as kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab, isinya dijamin kebenarannya, dan sebagai hujjah kerasulannya, undang-undang bagi seluruh manusia dan petunjuk dalam beribadah serta di pandang ibadah dalam membacanya, yang terhimpun dalam mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca, yang
dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas, yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir. Sedangkan Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an adalah kalam mulia yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi yang paling sempurna Muhammad SAW ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak
dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas.
Artinya:“Sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang
mempunyai 'Arsy. yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. dan Dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib.” (Qs. At-Takwir:19-24)
Berbeda dengan kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, Al- Qur’an mempunyai keistimewaan, antara lain:
a. Al-Qur’an itu ialah Kalamullah (wahyu Allah) yang dibukukan, kemurnian eksistensinyadijamin pemeliharaannya oleh Allah sendiri.
b. Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pikiran, diterima oleh Nabi dengan perasaan yang khusus.
c. Al-Qur’an mengandung ajaran yang bersifat universal, berlaku pada segala tempat dan situasi, menjadi pedoman sepanjang zaman.
d. Al-Qur’an merupakan mu’jizat Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat diatandingi, baik dari segi isi, susuna kalimat (bahasa) dan keabadian berlakunya.
e. Kemurnian dan keaslian Al-Qur’an terjamin dengan pemeliharaan Allah sendiri.
f. Ajaran yang dikandung oleh Al-Qur’an, secara umum dan prinsip, meliputi aspek kejidupan.
g. Membaca Al-Qur’an (walaupun belum mengerti terjemahannya), dinilai sebagai suatu ibadah.
h. Kebenaran yang dibawa oleh Al-Qur’an bersifat mutlak, tidak diragukan dan tidak meragukan.62
2. Pengertian Hadits
Kata Hadits berasala dari bahasa Arab. Menurut Ibn Manzhur, kata ini bersala dari kata al-Hadits, jamaknya: al-Ahadits al-Haditsan dan al- Hudtsan. Secara etimologis kata ini memiliki banyak arti, diantaranya: al- Jadid (yang baru), lawan dari al-Qadim (yang lama), dan Al-Khabar, yang berarti kabar atau berita. Hadits secara bahasa bermakna ”dhiddu alqadim” yakni lawan dari lama atau baru.63 Hadits juga sering disebut dengan al-kabar yang berarti berita, yaitu sesuatu yang sering
dipercakakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan Hadits. Hadits dengan pengertian khabar sebagaimana pengertian tersebut, dapat dilihat pada beberapa ayat Al-Qur’an, seperti Qs. Al-Thur: 34, Qs. Al-Kahfi: 6, dan Qs. Ad-Dhuha: 11. Adapun secara terminologis, Hadits dirumuskan dalam pengertian yang berbeda-beda diantara para ulama. Perbedaan-perbedaan pandangan itu disebabkan oleh terbatas dan luasnya obyek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang di dalaminya. Ulama Hadits mendefinisikan Hadits adalah segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi. Menurut istilah ahli Ushul Figh, Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW selain Al-Qur’an al- Karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara’. Sedangkan menurut istilah para Fuqaha, Hadits adalah segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalah fadhu atau wajib Sementara kalangan ulama ada yang menyatakan, bahwa apa yang dikatakan Hadits bukan hanya yang berasal dari Nabi SAW, namun yang bersal dari shahabat dan tabi’in disebut juga Hadits. Sebagai buktinya, telah kita kenal adanya istilah Hadits Marfu’ yaitu Hadits yang dinisbahkan kepada Nabi SAW, Hadits Mauquf yaitu Hadits yang dinisbahkan pada shahabat, dan Hadits Maqtu’ yaitu Hadits yang dinisbahkan pada tabi’in. Sebagian ulama berpendapat bahwa apabila kata Hadits itu berdiri sendiri, dalam arti tidak dikaitkan dengan kata atau istilah lain, maka biasanya yang dimaksudkan adalah apa yang bersal Nabi SAW hanya kadang-kadang kata Hadits yang berdiri sendiri itu memiliki pengertian tentang apa yang dinisbahkan kepada shahabat atau tabi’in.65 Hadits adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan Nabi terhadap suatu perbuatan atau ucapan yang datang dari sahabatnya). Yang berupa perkataan (alqaul), seperti sabda Nabi SAW
Artinya:”sesungguhnya sahnya amal itu, apabila disertai dengan niat. Dan setiap (perbuatan) seseorang itu tergantung pada apa yang diniatkanya
Yang berupa perbuatan (al-fi’il), ialah seperti yang beliau ajarkan kepada para sahabat tentang tata cara shalat, ”Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku mengerjakan shalat”. Sedangkan yang berupa persetujuan (taqrir) ialah seperti beliau menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang sahabat, baik perkataan ataupun perbuatan yang dilakukan dihadapannya ataupun tidak. Misalnya, mengenai makan biawak yang dihidangkan kepadanya.
3. Bidang Studi Al-Qur’an Hadits
Dalam mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits termasuk dalam rumpun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang mana tujuan dan fungsi mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits tidak jauh berbeda dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Bidang Studi Al-Qu’an dan Hadits merupakan unsur mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) pad  Madrasah Tsanawiyah yang diberikan kepada peserta didik untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber ajaran agama Islam dan mengamalkan isi kandungannya sebagai petunjuk serta landasan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Tujuan Bidang Studi Al-Qur’an Hadits
Dalam mengajar Al-Qur’an al-Karim, baik ayat-ayat bacaan, maupun ayat-ayat tafsir dan hafalan, bertujuan memberikan pengetahuan Al-Qur’an kepada anak didik yang mampu mengarah kepada:
a) Kemantapan membaca sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan dan menghafal ayat-ayat atau surat-surat yang mudah bagi mereka.
b) Kemampuan memahami kitab Allah secara sempurna, memuaskan akal dan mampu menenangkan jiwanya.
c) Kesanggupan menerapkan ajaran Islam dalam menyelesaikan problema hidup sehari-hari.
d) Kemampuan memperbaiki tingkah laku murid melalui metode pengajaran yang tepat.
e) Kemampuan memanifestasikan keindahan retorika dan uslub Al- Qur’an.
f) Penumbuhan rasa cinta dan keagungan Al-Qur’an dalam jiwanya.
g) Pembinaan pendidikan Islam berdasarkan sumber-sumbernya yang utama dari Al-Qur’an al-Karim.
Tujuan mengajar Hadits, berarti sesuatu yang dituju atau yang akan dicapai dengan kegiatan atau usaha mengajar Hadits. Kegiatan mengajar\ Hadits mesti mempunyai tujuan, karena kegiatan yang tidak mempunyai tujuan akan berjalan meraba-raba, berputar-putar tak tentu arah. Adapun tujuan yang hendak dicapai dengan pengajaran hadits ialah: agar peserta didik mengerti ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah yang dibicarakan. Yang jelas, memberi pengertahuan Hadits kepada peserta didik yang mengarah kepada:
a) Kemantapan membaca tanpa salah, sesuai dengan ketentuan membaca huruf arab dan nash, dan kemampuan menghafalnya dengan mudah.
b) Kemampuan memahami isi bacaan dengan sempurna, memuaskan akal, dan kemampuan memenagkan jiwa.
c) Kemampuan menerapkan ajaran Islam dalam menyelesaikan problema kehidupan sehari-hari.
d) Kemampuan memperbaiki tingkahlaku peserta didik melalui metode pengajaran yang tepat.
Bidang studi Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik bergairah untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits dengan baik dan benar, serta mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya.

5. Fungsi Bidang Studi Al-Qur’an Hadits
Sebelum membahas tentang fungsi dari bidang studi Al-Qur’an Hadits, maka perlu diketahui terlebih dahulu fungsi dari pada Al-Qur’an dan fungsi Hadits. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia, sudah barang tentu memiliki sekian banyak fungsi, diantaranya:
1. Sebagai bukti kerasulan Muhammad dan kebenaran ajarannya. Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup
nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Alahzab: 4)
2. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia, byang tersimpul dalam keimanan akan ke Esaan Allah dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Qs. Al-Baqarah:2)
3. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual dan kolektif
Artinya:“(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Ali ‘Imran:138 )
4. Petunjuk syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia. Atau dengan kata lain Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Artinya:Wahai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, (Muhammad) menjelaskan kepadamu banyak dari (keterangan-keterangan dan hukum-hukum) yang telah
kamu sembunyikan dari Kitab Suci, dan ia memafkanmu (dengan tidak mengungkapkan) banyak perkara (yang kamu sembunyikan). Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan”. (Qs. Al-Ma’idah: 15) .
Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup, sumber hukum dan ajaran dalam Islam, keduanya merupakan satu kesatuan. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh karena itulah kehadiran Hadits, sebagai ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi Al-Qur,an tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Qs. An-Nahl: 44
Artinya:“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang Telah diturunkan kepada mereka dan
supaya mereka memikirkan”.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an bagi umat manusia, agar Al- Qur’an ini dapat difahami oleh manusia, maka Rasul SAW diperintahkan untuk menjelaskan kandungan dan cara-cara melaksanakan ajarannya kepada mereka melalui Hadits-haditsnya. Oleh karena itu, fungsi Hadits Rasul sebagai penjelasan Al-Qur’an itu bermacam-macam. Imam Malik bin Anas menyebutkan lima macam fungsi Hadits, yaitu; bayan al-taqrir, bayan al-tafsir, bayan al-tafshil, bayan al-ba’ts, dan bayan al-tasyri’. Imam Syafi’I menyebutkan lima fungsi Hadits, yaitu; bayan al-tafshil, bayan at-takhshih, bayan al-ta’yin, bayan al-tasyri’, dan bayan al-nasakh.
1. Bayan At-Taqrir
Yang dimaksud dengan bayan ini, ialah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam Al-Qur’an. Fungsi Hadits dalam hal ini hanya memperkokoh kandungan Al-Qur’an. Contoh Hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah
Artinya: “Rasul SAW telah bersabda: Tidak diterima shalat seseorang yang berhadas sebelum ia berwudhu” (HR Bukhari) Hadits ini mentaqrir Qs. Al-Maidah:6, mengenai keharusan berwudhu
ketika seseorang akan mendirikan shalat.
Artinya “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.
2. Bayan Al-Tafsir
Yang dimaksud dengan bayan al-tafsir adalah bahwa kehadiran Hadits berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang masih bersifat global (mujmal), memberikan
persyaratan/batasan (taqyid) ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat mutlak. Diantara contoh tentang ayat ayat Al-Qur’an yang masih mujmal adalah perintah mengerjakan shalat. Artinya: “Shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat” (HR Bukhari)
3. Bayan Al-Tasyri’
Yang dimaksud dengan bayan al-tasyri’ adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalamAl-Qur’an, atau dalam Al-Qur’an hanya terdapat pokok-pokoknya (ashl) saja.
4. Bayan Al-Nasakh
Menurut pendapat yang dipegang dari ulama mutaqaddimin, bahwa terjadi nasakh ini karena adanya dalil syara’ yang mengubah suatu hukum meskipun jelas, karena telah berakhir masa keberlakuannya
serta tidak bisa diamalkan lagi, dan pembuat syari’at menurunkan ayat tersebut tidak diberlakukan untuk selama-lamanya (temporal). Adapun bidang studi Al-Qur’an Hadits pada madrasah berfungsi
sebagai berikut: Pengajaran, yaitu penyampaian ilmu pengetahuan yang merupakan informasi dan pesan-pesan Al-Qur’an Hadits tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sumber nilai, pengajaran Al-qur’an Hadits dapat melandasi nilai sikap, nilai keyakinan dan akhlak untuk terbentuknya insan yang utuh dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat kelak. Sumber motivasi, memberikan dorongan dan semangat yang kuat dalam beramal dan lebih meyakini akan makna
perbuatan yang dilakukannya. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pesrta didik dalam meyakini kebenaran ajaran Islam yang telah dilaksanakan mulai dalam lingkungan keluarga maupun jenjang pendidikan sebelumnya; Perbaikan, yaitu perbaikan kesalahankesalahan
dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam peserta didik dalam kehidupan sehari-hari; Pencegahan, yaitu untuk menagkal hal-hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat
membahayakan diri peserta didik dan menghambat perkembangan menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT; Pembiasaan, yaitu pemahaman ilmu pengetahuan, penanaman dan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an dalam konteks lingkungan fisik

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan sistem atau cara kerja yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian, seorang peneliti diharuskan dapat memilih dan menentukan metode yang tepat dan fleksibel guna mencapai tujuannya. Dan demi terwujudnya tujuan tersebut maka metode penelitian yang penulis gunakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbgai metode. Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan penelitian jenis lainnya. Ciri-ciri tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh Lincoln dan Guba, diantaranya:
1. Latar alamiah. Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity).
2. Manusia sebagai alat (isntrumen). Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama.
3. Metode kualitatif. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif
yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
4. Menggunakan analisis data secara induktif
5. Teori dari dasar (grounded theory). Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori substantif yang berasal dari data.
6. Deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
7. Lebih mementingkan proses daripada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
8. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus. Penelitian kualitatif menghendaki ditetapkan adanya batas dalam penelitian atas dasar focus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian.
9. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas dan objek dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
10. Desain yang bersifat sementara. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan.
11. Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama. Penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang yang dijadikan sebagai sumber data.
Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Sumadi Suryabrata, secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dikatakan juga
bahwa metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian pada saat sekarang berdasasrkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan karena peneliti ingin mendeskripsikan hal-hal yang berhubungan/terkait dengan aplikasi metode card sort dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an Hadit di MTs An-Nur Bululawang.
B. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif adalah mutlak yang harus dilakukan, oleh karena itu peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Adapun kehadiran peneliti dilapangan diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subyek atau informan. Dengan metode yang telah peneliti gunakan, maka peneliti akan menginterview subyek penelitian yang telah ditentukan; mengobservasi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh subyek serta mendokumentasikan berbagai informasi yang sekiranya sangat diperlukan. Selain peneliti sebagai instrumen, maka didukung pula dengan instrument yang lain yaitu:
1. Pedoman wawancara yaitu ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan\ sebagai catatan serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima.
2. Pedoman observasi berisikan sebuah daftar jenis kegiaytan yang mungkin timbul dan akan diamati.
3. Pedoman dokumentasi yaitu memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya.
C. Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di MTs An-Nur Bululawang, yang berlokasi di jalan Raya Bululawang Malang. MTs An-Nur merupakan salah satu madrasah yang menerapkan pemisahan kelas dan jam pelajaran antara siswa dan siswinya. Untuk siswa jam pelajaran dimulai dari pukul
07.00-12.00 WIB, sedangkan untuk siswinya jam pelajaran dimulai dari pukul 12.00-17.00 WIB. Dengan kenyataan yang demikian terutama jam pelajaran bagi siswi yang dimulai dari siang sampai sore hari, maka kreatifitas guru dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan agar siswa/siswi tetap semangat dan mempunyai motivasi belajar yang baik. Maka dari itu peneliti ingin mengetahui dan mendeskripkan aplikasi metode card sort dalam meningkatkan motivasi belajar siswa bidang studi Al-Qur’an Hadits di MTs An-Nur Bululawang yang dilaksanakan oleh guru bidang studi Al-Qur’an Hadits pada siswa kelas VII-C, VII-D dan VII-E.
D. Sumber Data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan data, maka sumber data disebut responden,\ yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaa-pertanyaan peneliti, baik pertanyaaan tertulis maupun lisan.82 Seperti keterangan sebelumnya\ bahwa sumber data menjelaskan dari mana data yang diperoleh dan sifat data yang dikumpulkan, serta orang-orang yang dimintai keterangan sehubungan dengan penelitian yang dilakukan. Orang yang dimintai keterangan adalah
subyek atau responden atau informan. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh oleh peneliti dari hasil wawancara dengan kepala sekolah MTs An-Nur Bululawang, guru bidang studi Al-Qur’an Hadits, siswa/siswi kelas VII-C, VII-D dan VII-E MTs An-Nur Bululawang, serta pihak-pihak yang berkaitan di madrasah tersebut. Sedangkan data pelengkapnya biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen yakni sejenis dokumen tentang MTs An- Nur Bululawang.
E. Tehnis Pengumpulan Data
Untuk data yang sesuai dengan masalah dan obyek yang diteliti, maka dalam teknik pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode antara lain:
1. Observasi
Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenarnya adalah pengamatan langsung. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang letak geografis, keadaan geografis, sarana dan prasarana sebagai penunjang pendidikan dan kegiatan belajar mengajar, keadaan guru dan murid serta pelaksana kepemimpinan kepala sekolah dalam proses pendidikan. Peneliti melakukan observasi awal di MTs An-Nur Bululawang untuk mengetahui permasalahan yang muncul di kelas.
2. Wawancara
Metode wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer). Wawancara atau interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap seseuatu.84 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar pada kelas VII-C,
VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an dan Hadits di MTs An-Nur Bululawang.
3. Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.85 Lebih lanjut Suharsimi
menyatakan Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barangbarang
tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dansebagainya. Adapun dalam penelitian ini, dokumentasi digunakan untuk memperoleh
data, diantaranya:
a. Sejarah Berdirinya MTs An-Nur Bululawang
b. Visi Misi dan Tujuan MTs An-Nur Bululawang
c. Struktur Organisasi MTs An-Nur Bululawang
d. Data Guru MTs An-Nur Bululawang
e. Data Siswa MTs An-Nur Bululawang
f. Data Sarana Prsarana MTs An-Nur Bululawang
F. Analisis Data
Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan pemilihan secara selektif, disesuaikan dengan permasalahan yang sudah ditentukan dalam penelitian. Setelah itu dilakukan pengolahan dengan proses editing, yaitu dengan meneliti kembali data-data yang didapat, apakah data tersebut sudah cukup baik dan dapat segera dipersiapkan untuk proses selanjutnya. Secara sistematis dan konsisten, data yang diperoleh dituangkan dalam suatu rancangan konsep yang kemudian dijadikan dasar dalam memberikan analisis. Analisis data kualitatif menurut Bogdan dan Biklen, yang dikutip oleh moleong adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Penelitian ini, menganalisis data yang sudah diperoleh dengan cara deskriptif (non statistik), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yangdipisahkan oleh kategori untuk memperoleh kesimpulan, yang bermaksud
mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana dan sebagainya. Dalam hal ini yaitu aplikasi metode card sort pada kelas VII-C, VII-D dan VII-E bidang studi Al-Qur’an dan Hadits di MTs An-Nur Bululawang dan motivasi belajar siwa kelas VII-C, VII-D dan VII-E melalui penggunaan metode card sort pada bidang studi Al-Qur’an dan Hadits di MTs An-Nur Bululawang.

G. Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).88 Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi
adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi yang digunakan peneliti adalah triangulasi dengan sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dapat dicapai dengan jalan; Pertama, membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. Kedua, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi. Ketiga, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu. Keempat, membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang. Kelima, membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
H. Tahap-Tahap Penelitian
Dalam penelitian ini, ada beberapa tahap penelitian:
1. Tahap pra lapangan
a. Menyusun rancangan penelitian
Pada tahap ini peneliti membuat latar belakang masalah penelitian dan alasan pelaksanaan penelitian.
b. Memilih lapangan, dengan pertimbangan bahwa MTs An-Nur adalah salah satu sekolah yang menerapkan metode card sort dalam proses belajar mengajar bidang studi Al-Qur’an Hadits.
c. Mengurus perijinan, setelah mendapatkan lokasi penelitian, peneliti mengurus surat izin yang disetujui oleh Dekan Fakultas Tarbiyah.
d. Melakukan penjajakan lapangan, dalam rangka penyesuaian dengan
MTs An-Nur Bululawang selaku objek penelitian.
e. Menyiapkan perlengkapan penelitian Untuk menunjang kevalidan pengumpulan data, maka peneliti menyiapkan alat pengumpul data seperti foto.
f. Persoalan etika penelitian Selama berinteraksi dengan orang-orang dilapangan, peneliti tetap
berusaha menjaga etika dalam proses pengumpulan data sesuai kode etik penelitian.
2. Tahap pekerjaan lapangan
a. Mengadakan observasi langsung ke MTs An-Nur Bululawang terhadap aplikasi metode card sort dalam proses belajar mengajar bidang studi Al-Qur’an Hadits, dengan melibatkan beberapa informan untuk memperoleh data.
b. Memasuki lapangan, dengan mengamati berbagai fenomina dalam proses belajar mengajar dan melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang bersangkutan.
c. Berperan serta sambil mengumpulkan data. Sebagai instrument penelitian peneliti bukan hanya sebagai perencana, tetapi peneliti juga berperan serta dan berinteraksi langsung dengan keadan di lapangan.
3. Penyusunan laporan penelitian berdasarkan hasil data yang diperoleh. Dengan rancangan penyusunan laporan sebagaimana telah tertera dalam sistematika penulisan laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, 1986. Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA). Bandung: CV Amrico.
Al-Qaththan, Syaikh Manna’, 2007. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia. Surabaya: Penerbit Al-Hidayah.
Arief, Armai. 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Birri, Maftuh Basthul, 2002. Al-Qur’anul Karim Hidangan Segar Bergizi Tinggi
Pemberkah, Penyegar dan Pembangkit Ummat. Kediri: Madrasah Murottilil Qur’anil Karim Lirboyo.
Dalyono, M., 1997. Psikologi Pendidikan.Jakarta: PT Rineka Cipta.
Daradjat, Zakiah, dkk., 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Handoko., Martin, 1992. Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku. Yogyakarta.
Hamalik, Oemar, 2007. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.
Hartono, 2006. Strategi Pembelajaran Active Learning (Suatu Strategi
Pembelajaran Berbasis Student Centred)
Moleong, Lexi J., 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. edisi Revisi.
Muhaimin, dkk., 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Kencana.
Muhaimin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Nashar, 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran. Jakarta: Delia.
Nizar, Samsul, 2002. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis Teoritis dan
Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.
Kusrini,Siti, dkk., 2008. Keterampilan Dasar Mengajar (PPL 1) Berorintasi Pada
Kurikulum Bernasis Kompetensi. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
Rusyan, Tabrani, dkk., 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajer.
Bandung: Rosda Karya.
Sanjaya, Wina, 2007. Strategi Pembelajran Berorientasi standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Saputro, Suprihadi, 1993. Dasar-Dasar Metodologi Pengajaran umum. Malang:
IKIP Malang.
Sardiman, 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Shaleh, Abdur Rachman, 2005. Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak
Bangsa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Silberman, Melvin L., 2006. Aktic Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif.
Bandung: Nusa Media.
Soejono, dan Abdurrahman, 1999. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan
Penerapan. Jakarta: PT rineka Cipta.
Soetari, Endang, 2005. Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah. Yogyakarta:
Mimbar Pustaka.
Suparta, Munzier, 2003. Ilmu Hadits. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin, 2006. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.
Banddung: PT. Remaja Rosda Karya.
Syaharuddin, http://.wordpress.com/2008/04/25/ mengurangi kebosanan siswa
melalui berbagai metode mengajar.
Tafsir, Ahmad, 2004. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Banddung: PT.
Remaja Rosda Karya.
Thoha, Chabib, dkk., 2004. Metodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Yasin, A. Fatah, 2008. Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN Malang
Press.
Zaini, Hisyam, dkk., 2004. Strategi Pembelajaran Aktif . Yogyakarta: CTSD.
Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Malang: UM Press.


APLIKASI METODE CARD SORT DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI AL-QUR’AN HADITS DI MADRASAH TSANAWIYAH AN-NUR BULULAWANG

2 comments: