Saturday, February 2, 2013

CONTOH SKRIPSI KIMIA LENGKAP EFEKTIFITAS PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN GENERATIF



EFEKTIFITAS PENGGUNAAN  STRATEGI PEMBELAJARAN GENERATIF UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN  BELAJAR MATERI  SISTEM PERIODIK UNSUR PADA SISWA KELAS X SEMESTER GANJIL SMAN 4 KOTA BIMA
TAHUN PELAJARAN 2010/2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.          Latar Belakang

 Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam, khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, dinamika dan energetika zat. Oleh sebab itu mata pelajaran kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA)  mempelajari segala sesuatu  tentang zat yang meliputi komposisi, struktur dan sifat, dinamika dan energetika zat yang melibatkan keterampilan dan penalaran (Anonim, 2007).
Banyak permasalahan ditemukan dalam pendidikan kimia dilapangan, seperti rendahnya nilai kimia baik pada ulangan harian, ulangan umum, rapor maupun nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), hal ini menunjukkan betapa sulitnya materi kimia dipelajari siswa.
 Dewasa ini berbagai kalangan menyoroti rendahnya mutu pendidikan yang berakibat pada rendahnya sumber daya manusia ditinjau dari aspek kognitif, khususnya pada mata pelajaran kimia, untuk itu pemerintah melakukan gerakan reformasi sekolah dari pendekatan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan mampu memberikan informasi tentang pencapaian kualitas kompetensi lulusan peserta didik. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dan penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan
Ketuntasan belajar merupakan salah satu muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar ketuntasan belajar siswa ditentukan dari hasil prosentase penguasaan siswa pada Kompetensi Dasar dalam suatu materi tertentu. Kriteria ketuntasan belajar setiap Kompetensi Dasar berkisar antara 0-100%. Menurut Departemen Pendidikan Nasional, idealnya untuk masing-masing indikator mencapai 75%. Sekolah dapat menetapkan sendiri kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, sekolah perlu menetapkan kriteria ketuntasan belajar dan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara berkelanjutan sampai mendekati ideal.
Dengan adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan guru dapat melakukan kontekstualisasi dalam model-model pembelajaran, karena proses belajar mengajar yang efektif tidak mungkin dicapai  dengan metode yang bersifat “teacher centered” atau komunikasi satu arah saja, akan tetapi harus dengan metode multi arah. Salah satu model pembelajaran yang sesuai diterapkan adalah pembelajaran generatif, karena strategi pembelajaran generatif memberikan kesempatan  kepada siswa terlibat langsung dalam pembelajaran, sehingga komunikasi tidak berjalan satu arah saja.              
Pembelajaran generatif merupakan salah satu   strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, membantu siswa dalam menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kristis serta mengembangkan keterampilan sosial siswa. Pembelajaran generatif didesain untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam mengkonstruksi kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan baru.
Pengaruh pembelajaran generatif terhadap kemampuan akademik dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tekhnik-tekhnik pembelajaran lebih unggul dalam meningkatkan ketuntasan belajar dan aktivitas siswa dibandingkan dengan hasil belajar individual.
Materi sistem periodik unsur  pada kelas X merupakan salah satu materi yang penting dalam kimia dan juga merupakan konsep dasar dari pengembangan  materi sistem periodik unsur dikelas XI, tetapi praktek pengajaran kimia yang dilakukan sebagian besar masih dengan metode hafalan dan ceramah. Metode ceramah dan hafalan dirasakan kurang  maksimal terhadap ketuntasan belajar peserta didik, karena peserta didik tidak dimotivasi untuk aktif dan terlibat langsung dalam  proses memahami materi sistem periodik unsur  tersebut,  akan tetapi dengan strategi pembelajaran generatif, siswa diberikan kesempatan untuk aktif dan terlibat langsung dalam proses memahami materi sistem periodik unsur, sehingga diharapkan mampu memotivasi siswa, yang pada akhirnya dapat meningkatkan  ketuntasan  belajar siswa.
Pembimbingan yang intensif dan merata kepada semua peserta didik dalam suatu proses belajar mengajar secara ideal memang hal yang sangat diharapkan dapat dilakukan oleh seorang guru sebagai fasilitator pembelajaran, namun mengingat alokasi waktu proses belajar mengajar yang tersedia terbatas, sementara jumlah siswa yang ada dalam setiap kelas cukup banyak (30 - 40 orang) maka pembimbingan per individu peserta didik akan menemui kendala. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru dalam  mengatasi masalah ini  yaitu dengan membagi  peserta didik ke dalam beberapa kelompok kecil.
 Berdasarkan informasi dari guru kimia di SMAN 4 Kota Bima yang diperoleh ketika melakukan observasi awal  bahwa hanya sebagian kecil siswa yang melibatkan diri  secara aktif dalam proses belajar mengajar kimia. Mereka hanya siswa-siswa yang pintar dan  berprestasi tinggi  sedangkan siswa - siswa lainnya yang kurang pintar dan berprestasi rendah terlihat pasif sehingga mereka sulit untuk memahami materi yang diajarkan dalam proses belajar mengajar. Ini dapat dilihat pada nilai rata-rata kelas mata pelajaran kimia pada tabel di bawah ini:
 Tabel 1.1: Tabel nilai rata-rata kimia siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima pada pokok bahasan sistem periodik unsur.
No.
Kelas
Nilai Rata-rata
Ketuntasan Belajar
Ket.
1.
X1
61,92
45%
Tidak Tuntas
2.
X2
62,56
60%
Tidak Tuntas
3.
X3
62,59
53,65%
Tidak Tuntas
4.
X4
61.85
57,5%
Tidak Tuntas
5.
X5
60,65
41,46%
Tidak Tuntas
6.
X6
59,71
48,78%
Tidak Tuntas
    Sumber: Daftar nilai dari guru SMAN 4 Kota Bima (terlampir).
Dari data di atas dapat dilihat hasil belajar sebagian besar siswa pada pokok bahasan ini tidak memenuhi standar (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang telah ditentukan yaitu 65.  Hal ini menuntut guru untuk lebih kreatif dalam menerapkan metode belajar yang tepatdalam proses belajar mengajar sehingga menciptakan suasana yang lebih dinamis dan terarah
Berdasarkan uraian di atas, diharapkan bahwa penggunaan strategi pembelajaran generatif menjadi pembelajaran yang efektif sehingga akan berpengaruh pada ketuntasan belajar materi sitem periodik unsur pada siswa kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.2.          Rumusan  Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah: bagaimanakah efektifitas penggunaan strategi pembelajaran generatif dapat meningkatkan ketuntasan belajara materi sistem periodik unsur pada siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima?.

1.3.          Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas peningkatan ketuntasan belajar kimia dengan penggunaan strategi pembelajaran generatif terhadap ketuntasan belajar materi sistem periodik unsur pada siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.4.          Manfaat Penelitian

Manfaat hasil  penelitian ini secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1.4.1.  Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terutama yang berkaitan tentang efektifitas penggunaan strategi pembelajaran generatif terhadap peningkatkan ketuntasan belajar siswa materi sistem periodik unsur kelas X semester ganjil SMA Negeri 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.
1.4.2.  Manfaat praktis
a.       Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi  masukan  bagi tenaga pengajar atau pendidik tentang upaya memperbaiki proses pembelajaran kearah perbaikan bagi siswa yang merasa kurang bisa menangkap lebih cepat materi yang diberikan guna meningkatkan ketuntasan belajar.
b.      Sebagai pengalaman yang menjadi pengetahuan penelititentang bagaimana penggunaan strategi pembelajaran generatif, dan menjadi acuan, pedoman serta referensi  bagi peneliti selanjutnya.

1.5.          Asumsi Penelitian

Asumsi dalam konteks penelitian dapat diartikan sebagai anggapan dasar yaitu suatu fakta yang kebenarannya tidak memerlukan pembuktian lagi atau dasar pikiran yang tidak perlu diuji kebenarannya (Arikunto, 2002)
Berdasarkan pendapat  tersebut maka  asumsi dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran generatif dapat meningkatkan ketuntasan belajar materi sistem periodik unsur  pada siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.

1.6.          Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari adanya salah pengertian dan luasnya permasalahan, maka ruang lingkup penelitian sebagai berikut:
1.      Lokasi penelitan
Lokasi penelitian ini bertempat di SMA Negeri 4 Kota Bima
2.      Subyek penelitian
Subyek yang diteliti adalah siswa kelas X SMA Negeri 4 Kota Bima tahun Pelajaran 2010/2011.
3.      Obyek Penelitian
Obyek yang diteliti adalah efektifitas penggunaan strategi pembelajaran generatif dan ketuntasan belajar materi sistem periodik unsur.

1.7.          Definisi Operasional Variabel

Agar tidak terjadi salah pengertian mengenai istilah-istilah yang terkandung dalam judul, maka penulis menganggap perlu untuk menjelaskan satu persatu istilah yang berhubungan dengan penelitian ini. Adapun istilah-istilah tersebut yaitu:

1.7.1.  Efektifitas
Dalam kamus bahasa indonesia dijelaskan bahwa efektifitas  berarti efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya), manjur, mujarab (Alwi, 2001). Sedangkan menurut Suryosubroto (2009) efektifitas adalah suatu hal yang berkenaan dengan sejauh mana apa-apa yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana atau tercapai.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa efektifitas   adalah ukuran yang diperoleh siswa setelah terjadi proses belajar mengajar kimia yang diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang mencakup sejumlah indikator dari materi pembelajaran.   
1.7.2.  Pembelajaran generatif.
Pembelajaran generatif merupakan terjemahan dari Generatif Lerning. Menurut Katu dalam Anwarholil (2008), pembelajaran generatif merupakan suatu pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Sedangkan menurut Koes (dalam Sayuti 2006) pembelajaran generatif merupakan urutan pembelajaran yang  didasarkan pada pandangan bahwa pengetahuan dikonstruksi oleh pembelajar.
Dari kedua pendapat di atas dapat di jelaskan bahwa pengetahuan diambil atau dikonstruksi oleh pembelajar sendiri sedangkan seorang guru sebagi fasilitator.
Pembelajaran generatif itu terdiri atas empat tahap yaitu: pendahuluan atau disebut tahap eksplorasi, pemfokusan, tantangan atau atau tahap pengenalan konsep, dan penerapan (Wena, 2009)
1.7.3.  Ketuntasan belajar
Menurut Kunandar (2007), belajar tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Kata tuntas dapat diartikan dengan selesainya suatu pekerjaan atau perbuatan dengan baik.
Sedangkan menurut Suryosubroto (2009) belajar dikatakan tuntas apabila dengan sistem pengajar yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi yang diajarkan di sekolah.      
        Patokan yang digunakan sebagai standar penguasaan minimal mata pelajaran kimia di SMA Negeri 4 Kota Bima adalah dengan nilai ketuntasan individu mampu memperoleh nilai ≥ 65 dan ketuntasan klaksikalnya sebesar 85%.
1.7.4.  Sistem Periodik Unsur
Sistem periodik unsur adalah sistem pengelompokkan unsur berdasarkan hukum periodik, mencakup golongan (kelompok unsur menegak) dan periode (kelompok unsur mendatar) yanng keduanya saling berhubungan tabel yang disebut tabel periodik unsur (Mulyono, 2006)
Adapun sub pokok bahasan yang dibahas dalam sistem periodik unsur yaitu perkembangan sistem periodik unsur, sistem periodik modern, dan sifat-sifat periodik unsur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Teori  Tentang Ilmu kimia
Secara garis besar ilmu kimia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan tersebut. Jadi ilmu kimia adalah salah satu diantara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di samping ilmu fisika, ilmu biologi, perbedaan tersebut hanyalah untuk mempermudah pemahaman kita atas kejadian-kejadian di alam (Purba, 2007).
Menurut Syukri (1999), ilmu kimia mempelajari tentang perubahan suatu zat menjadi zat lain, baik secara spontan maupun oleh faktor luar. Setiap zat kimia mempunyai komposisi dan struktur tertentu. Oleh sebab itu, masalah pokok ilmu kimia mengetahui komposisi dan struktur zat serta kaitannya dengan sifat-sifatnya. Kaitan itu dapat diketahui dari hukum dan teori kimia yang didapat melalui metode ilmiah. Langkah umum metode ilmiah adalah pengamatan (untuk mencari hukum), merumuskan hipotesis, melakukan percobaan, menarik kesimpulan (menghasilkan teori), dan membuat laporan. Hukum menunjukkan hubungan suatu besaran dengan besaran lain, sedangkan teori menjelaskan hubungan tersebut.
Jadi pada hakekatnya, ilmu kimia adalah bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam yang mempelajari strukur materi, komposisi, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu kimia dikembangkan dengan metode ilmiah.

2.2. Teori tentang belajar kimia
Konsep-konsep kimia mempunyai tingkat generisasi dan keabstrakkan yang tinggi. Konsep tersebut merupakan pintu pertama yang menuju kepada berbagai saluran struktur ingatan. Tujuan pengajaran kimia adalah untuk menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan berbagai macam cara yang di mungkinkan oleh struktur bidang studi (Sastrawijaya, 1998).
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan. Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi sendirinya, tetapi ada yang sengaja  direncanakan dan ada yanng sendirinya karena proses kematangan. Perubahan-perubahan perilaku ini merupakan hasil belajar yang mencakup ranah koognitif berorientasi pada kemampuan berfikir mencakup kemampuan yang lebih sederhana sampai dengan kemampuan untuk memecahkan suatu masalah. Hasil belajar ranah afektif  berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai dan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap suatu. Sedangkan hasil ranah psikomotorik berorientasi kepada keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh, atau tinadakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Ketiga ranah tersebut bertujuan membantu usaha untuk menguraikan secara jelas dan spesifik hasil belajar yang diharapkan. Sedangkan Gagne mengklasifikasikan hasil belajar menjadi lima (5) kategori yaitu informasi verbal, kemahiran intelektual, strategi koognitif (ranah koognitif), sikap dari ranah afektif dan keterampilan motorik (psikomotorik), (Suprayekti, 2003).

2.3. Teori Tentang Belajar Mengajar
Menurut Djamarah (1994), belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang dipelajari. Hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Sejalan dengan itu, Sardiman A.M dalam Djamarah (1994), mengemukakan bahwa belajar sebagai rangkaian jiwa-raga menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Slameto (2003), mengatakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari berbagai definisi belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses tingkah laku siswa yang melibatkan aktivitas mental/psikis yang mengakibatkan perubahan pada apek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (perubahan tingkah laku), dan aspek psikomotorik. Terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam diri seseorang, baik sifat maupun jenisnya, tetapi tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar.
Menurut Kunandar (2007), pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan prilaku kearah yang lebih baik. Sedangkan Wikipedia Indonesia dalam Suparyono (2008), pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun.
Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran dalam penelitian ini adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran untuk mengembangkan dan mengevaluasi seperangkat materi dengan menelaah bagaimana pengaruh tingkah laku mengajar terhadap ketuntasan belajar siswa yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang ditetapkan.

2.4. Efektifitas.
Dalam kamus bahasa indonesia dijelaskan bahwa Efektifitas berarti efeknya (pengaruhnya, akibatnya, kesannya), manjur, mujarab (Alwi, 2001). Sedangkan menurut Suryosubroto (2009), efektifitas adalah suatu hal yang berkenaan dengan sejauh mana apa-apa yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana atau tercapai.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa efektifitas   adalah ukuran yang diperoleh siswa setelah terjadi proses belajar mengajar kimia yang diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang mencakup sejumlah indikator dari materi pembelajaran.     

2.5. Teori tentang strategi pembelajaran.
Menurut Degeng 1989 (dalam Wena,2009) startegi pembelajaran merupakan cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda. Sedangkan menurut Dick dan Carey (dalam Hamzah, 2009), menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaranyang akan disampaikan kepada peserta didik.
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan strategi belajar adalah cara-cara yang dipilih  dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya diakhir kegiatan pembelajaran.

2.6.   Strategi Pembelajaran Generatif.
2.6.1.      Pengertian pembelajaran generatif
Menurut Katu dalam Anwarholil (2008), pembelajaran generatif     merupakan suatu pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Sedangkan menurut Koes (dalam Sayuti 2006) pembelajaran generatif merupakan urutan pembelajaran yang  didasarkan pada pandangan bahwa pengetahuan dikonstruksi oleh pembelajar.
Dari kedua pendapat di atas dapat di jelaskan bahwa pengetahuan diambil atau dikonstruksi oleh pembelajar sendiri sedangkan seorang guru sebagi fasilitator.
2.6.2. Landasan teoritik pembelajaran generatif
Pembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar kontruktivis mengenai belajar dan pembelajaran (Anwarholil, 2008). Prinsip-prinsip umum dari teori belajar kontruktivis menurut Suparno (1997) adalah:
a.       Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif.
b.      Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa.
c.       Mengajar adalah membantu siswa belajar.
d.      Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan hasil akhir.
e.       Kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan
f.       guru Adalah fasilitator
2.6.3.Langkah-langkah Pembelajaran Generatif

2.6.3.1. Pendahuluan atau Tahap Explorasi
Pada tahap  eksplorasi ini dimana guru melakukan demonstrasi, dan meminta siswa untuk mengajukan pertanyaan. Dari kegiatan demonstrasi itu guru menggali dan mengidentifikasi konsep awal siswa yang diperoleh dari pengalaman sehari-harinya atau diperoleh dari pembelajaran pada tingkat kelas sebelumnya.
  
2.6.3.2. Pemfokusan
 Pada tahap ini guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka , serta menginterprestasi dan mengklasifikasikan gagasan siswa. Pada sisi lain siswa aktif melakukan penggalian konsep, menyajikan ppandangan atau konsepsinya melaui diskusi kelompok maupun diskusi kelas.
2.6.3.3. Tantangan
Pada tahap tantangan ini guru bertindak sebagai fasilitator dalam mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah dengan cara menyajikan bukti-bukti berdasarkan pandangan para ilmuwan, sedangkan para siswa mempertimbangkan dan menguji pandang atau konsepsi teman sejawatnya dengan mencari bukti-bukti ilmiah.
2.6.3.4. Penerapan Konsep
Pada tahap ini, siswa mencoba memecahkan masalah-masalah praktis berdasarkan konsep-konsep ilmiah. Guru membantu siswa mengklarifikasikan pandangan ilmiah, memperlihatkan pandangan ilmiah itu dapat diaplikasikan dalam suatu rentang situasi, dan membantu siswa dalam memecahkan masalah yang lebih sulit. Pada tahap ini  juga siswa perlu diberi banyak latihan-latihan soal. Dengan adanya latihan soal, siswa akan semakin memahami konsep-konsep (isi pembelajaran) secara lebih mendalam dan bermakna. Pada akhirnya konsep yang dipelajari siswa akan masuk ke memori jangka panjang; ini berarti tingkat retensi siswa akan semakin baik.
2.6.4 Penerapan di kelas
 Secara operasional kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran dapat dijabarkan pada tabel berikut ini:
Melalui tahap-tahap pembelajaran di atas, siswa diharapkan memiliki pengetahuan, kemampuan serta keterampilan untuk mengkonstruksi/membangun pengetahuan secara mandiri. Dengan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki sebelumnya dan menghubungkan dengan konsep yang dipelajari, akhirnya siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan baru (Wena, 2009).

2.7. Teori Tentang Ketuntasan Belajar.
2.7.1. pengertian ketuntasan belajar
Ketuntasan belajar adalah satu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan baik dari hampir seluruh pelajaran yang diajarkan di sekolah (Suryosubroto, 2002).
Dipandang dari sudut pendidikan memang cara belajar mengajar dengan menggunakan prinsip belajar tuntas sangat menguntungkan siswa karena dengan belajar tuntas tersebut setiap siswa dapat dikembangkan semaksimal mungkin. Pandangan yang menyatakan semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik juga akan mempunyai imbas pada pandangan bahwa semua guru dapat mengajar dengan baik.
2.7.2. Ciri-ciri belajar mengajar dengan prinsip belajar tuntas.
a.       Pengajaran berdasarkan atas tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan terlebih dahulu.
b.      Memperhatikan perbedaan individu.
c.       Evaluasi dilakukan secara kontinu yang didasarkan atas kriteria.
d.      Menggunakan program perbaikan dan pengayaan.
e.       Menggunakan prinsip siswa belajar aktif.
f.       Menggunakan satuan pelajaran yang kecil (Suryosubroto, 2002)
2.7.3. Kriteria ketuntasan belajar
Ketuntasan belajar dapat dilihat secara kelompok maupun secara perorang. Secara kelompok, ketuntasan belajar dinyatakan telah dicapai jika sekurang-kurangya 85% dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan telah memenuhi kinerja ketuntasan belajar secara perorangan. Secara perorangan, ketuntasan belajar telah dinyatakan terpenuhi jika seseorang (siswa), telah mencapai taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap unit bahan yang dipelajarinya. (Suryosubroto, 2002).

2.8.Sistem Periodik Unsur.
2.8.1. Sejarah perkembangan dasar pengelompokan unsur.
a.       Pengelompokkan atas logam dan nonlogam
Penggolongan unsur yang pertama dilakukan oleh Lavoiser yang mengelompokkan unsur ke dalam logam dan nonlogam sekitar 20 jenis unsur yang sudah dikenal.
b.      Triade Dobeiner
Dobeiner mengambil kesimpulan bahwa unsur-unsur dapat dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tiga unsur yang disebut triade.
c.       Hukum Oktaf Newlands.
Pada tahun 1864, seorang ahli kimia dari inggris bernama A.R. Newlands mengumumkan penemuannya yang disebut hukum oktaf. Newlands menyusun unsur berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya. Ternyata unsur yang berselisih 1 oktaf (unsur ke-1 dan ke-8, unsur ke-2 dan ke-9, dan seterusnnya) menunjukkan kemiripan sifat. Daftar unsur yang disusun Newlands berdasarkan hukum oktaf diberikan pada tabel di bawah ini.
Hukum oktaf Newlands ternyata hanya berlaku untuk unsur-unsur ringan, kira-kira sampai dengan kalsium (Ar = 40).
d.      Sistem periodik Mendeleev.
Pada tahun 1869, seorang Sarjana asal Rusia  Dmitry Ivanovich Mendeleev, berdasarkan pengamatannya terhadap 63 unsur yang sudah dikenal ketika itu, menyimpulkan bahwa sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik dari massa atom relatifnya. Artinya, jika unsur-unsur  disusun menurut kenaikan  massa atom relatifnya,maka sifat tertentu akan berulang secara periodik. Mendeleev menempatkan unsur-unsur yang mempunyai kemiripan sifat dal lajur vertikal, yang disebut golongan. Lajur-lajur horizontal, yaitu lajur tempat unsur-unsur disusun berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya, disebut periode.
e.       Sistem periodik modern dari Henry G. Moseley.
Pada awal abad 20, setelah penemuan nomor atom, Henry Moseley menunjukkan bahwa urutan-urutan unsur dalam sistem periodik Mendeleev sesuai dengan kenaikan nomor atomnnya. Penempatan terlurium (Ar = 128) dan iodin (Ar = 127) yang tidak sesuai dengan kenaikan massa atom relatif, ternyata sesuai dengan kenaikan nomor atomnya (nomor atom Te = 52; I = 53).
2.8.2. Sistem periodik modern.
                  Sistem periodik unsur adalah suatu daftar unsur-unsur yang disusun dengan aturan tertentu. Sistem periodik modern disusun berdasarkan hukum periodik modern  yang menyatakan bahwa sifat unsur  merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya. Artinya, jika unsur-unsur  disusun berdasarkan kenaikan nomor atomnya, maka sifat-sifat tertentu akan berulang secara periodik.
2.8.2.1.Periode.
   Lajur-lajur horizontal dalam sistem periodik disebut periode. Sistem periodik modern terdiri dari 7 periode dengan jumlah unsur sebagai berikut:
                           Tabel 2.1. jumlah unsur pada setiap periode
           
   Periode 1, 2, dan 3 disebut periode pendek karena berisi relatif sedikit unsur, sedangkan periode 4 dan seterusnya disebut periode panjang karena berisi banyak unsur.
Contoh penentuan periode:
1. Terletak pada periode berapakah unsur X dengan konfigurasi elektron sebagai berikut:
 X: 2       8          18        3
Jawab:
Unsur X terletak pada periode ke empat, karena mempunyai empat kulit.


2.8.2.2. Golongan
   Kolom-kolom vertikal dalam sistem periodik disebut golongan. Sistem periodik modern terdiri dari 18 kolom vertikal. Contoh penentuan golongan:
1.      Terletak pada golongan berapa unsur X berikut dengan konfigurasi, X: 2 8          18        3
Jawaban:
Unsur X terletak pada golongan IIIA karena mempunyai 3 elektron valensi.
 Ada dua cara penamaan golongan yaitu: 
a.       Sistem 8 golongan
Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 8 golongan yang masing-masing terdiri atas golongan utama atau golongan A dan golongan tambahan atau golongan B. Nomor golongan ditulis dengan angka romawi.
b.      Sistem 18 golongan
Menurut cara ini, sistem periodik dibagi ke dalam 18 golongan yaitu golongan 1 dan 18, dimulai dari kolom paling kiri. Unsur-unsur transisi terletak pada golongan 3-12.
2.8.2.3. Unsur transisi dan transisi dalam
a.       Unsur transisi
Unsur-unsur yang terletak pada golongan-golongan B yaitu golongan IIIB hingga IIB (golongan 3 sampai 12) disebut unsur transisi atau unsur-unsur peralihan.
b.      Unsur transisi dalam
Dua baris unsur yang ditempatkan di bagian bawah tabel periodik disebut unsur transisi dalam yaitu terdiri dari:
1.    Lantanida, yang beranggotakan nomor atom 57-70 (14 unsur), ke-14 unsur ini mempunyai sifat yang mirip dengan lantanium (La), sehingga disebut lantanoida atau lantanida.
2.    Aktinida,yang beranggotakan nomor atom 89-102 (14 unsur), ke-14 unsur ini sangat mirip dengan  aktinium, sehingga disebut aktinoida atau aktinida.
2.8.2.4. Hubungan konfigurasi elektron dengan sistem periodik unsur.
Hubungan antara letak unsur dalam sistem periodik dengan konfigurasi elektronnya yaitu:
1)      Periode sama dengan jumlah kulit.
2)      Golongan sama dengan elektron valensi.
Contoh:
1.      Diketahui konfigurasi elektron unsur:
P  : 2        8          2
Q : 2        8          18        5

Jawab:
Unsur P terletak pada periode ke tiga karena mempunyai 4 kulit dan pada golongan  IIA keran mempunyai 2 elektron valensi. Sedangkan unsur Q terletak pada periode ke empat karena mempunyai  4 kulit dan pada golongan VA karena mempunyai 5 elektron valensi.

2.8.3. Sifat-sifat periodik unsur.
2.8.3.1. Jari-jari atom
   Jari-jari atom adalah jarak dari inti hingga kulit elektron terluar. Besar kecilnya jari-jari atom ditentukan oleh dua faktor, yaitu jumlah kulit dan muatan inti.
   Untuk unsur-unsur segolongan, semakin banyak kulit atom semakin besar jari-jarinya. Untuk unsur-unsur seperiode, semakin besar muatan inti semakin kuat gaya tarik inti terhadap elektron sehingga semakin kecil jari-jarinya.
 Contoh:
1.     Jika jari-jari atom unsur-unsur Li,Na, K, Be, dan B sacara acak dalam amstrom ialah 2,01; 1,27; 1,23; 0,80; 0,89, maka jari-jari atom Li sama dengan...
Pembahasan:
·         Unsur-unsur yang segolongan, jari-jari atomnya semakin  ke bawah semakin besar.
·         Unsur-unsur yang seperiode , jari-jari atomnya makin ke kanan makin kecil.
Atau:
                 1,23     0,89     0,80
                 Li         Be        B
1,57          Na
2,01          K
Jadi, jari-jari  atom Li = 1,23
2.8.3.2. Jari-jari ion.
Ion mempunyai jari-jari yang berbeda secara nyata (signifikan) jika dibandingkan dengan jari-jari atom netralnya. Ion positif mempunyai jari-jari yang lebih kecil, sedangkan ion negatif  mempunyai jari-jari yang lebih besar. Karena ion positif (kation) terbentuk karena pelepasan elektron, sedangkan ion negatif (anion) terbentuk karena penyerapan  elektron.
                          Contoh:
          Atom Na, r = 1,68 Ǻ                           ion Na+, r = 0,99 Ǻ
2.8.3.3. Energi ionisasi
Besarnya energi yang diperlukan untuk melepas satu elektron dari suatu atom netral dalam wujud gas sehingga terbentuk ion berwujud gas dengan muatan +1 disebut energi ionisasi.
Dalam satu golongan, energi ionisasi semakin kecil. Sedangkan dalam satu periode, energi ionisasi cenderung bertambah. Besar kecilnya energi ionisasi bergantung pada besar gaya tarik inti terhadap elektron terluar, yaitu elektron yang dilepaskan.
Contoh:
1. Data energi ionisasi pertama dari berbagai unsur:
 P = 1000 KJ/mol                  S = 1012 KJ/mol
Q = 738 KJ/mol                    T = 1051 KJ/mol
R = 786 KJ/mol
Urutan unsur-unsur tersebut di atas dalam satu periode adalah...
Pembahasan:
Unsur-unsuryang seperiode energi ionisasi pada umumnya dari kiri kekana semakin besar, sehingga urutannya:
1.      Energi inionisasi unsur Q = 738 KJ/mol
2.      Energi inionisasi unsur R = 786 KJ/mol
3.      Energi inionisasi unsur P = 1000 KJ/mol
4.      Energi inionisasi unsur S = 1012 KJ/mol
5.      Energi inionisasi unsur T = 1051 KJ/mol
2.8.3.4. Afinitas elektron.
Energi yang menyertai penambahan  1 elektron pada satu atom netral dalam wujud gas membentuk ion muatan -1 disebut afinitas elektron. Afinitas elektron dinyatakan dalam KJmol-1.
Dalam satu golongan, afinitas elektron cenderung berkurang. Sedangkan dalam  satu periode afinitas elektron cenderung bertambah. Kecuali unsur alkali tanah dan gas mulia semua unsur golongan utama mempunyai afinitas elektron bertanda negatif. Semakin negatif nilai afinitas elektron semakin besar kecenderungannya menarik elektron membentuk ion negatif.
2.8.3.5. Keelektronegatifan.
Keelektronegatifan berkaitan dengan kecenderungan unsur menarik elektron, tetapi tidak dikaitkan dengan pembentukkan ion positif atau ion negatif. Keelektronegatifan adalah suatu bilangan yang menggambarkan kecenderungan relatif suatu unsur menarik elektron kepihaknya dalam suatu ikatan kimia.
Dalam satu golongan, keelektronegatifan semakin berkurang, sedangkan dalam  satu periode, keelektronagatifan semakin bertambah.
Contoh:
1. Data keelektronegatifan beberapa unsur berikut:
T = 1,2                       Y = 3,5
U = 4,0                      Z = 3,0
X = 2,5
Unsur yang mudah menarik elektron ikatan adalah...
Pembahasan:
Semakin besar keelektronegatifan suatu unsur, semakin mudah unsur tersebut menarik elektron. Unsur yang memiliki kelektronegatifan paling besar adalah U = 4,0
2.8.3.6. Sifat logam dan nonlogam.
Sifat logam dan nonlogm dalam sistem periodik unsur adalah sebagai berikut:
a)      Dari kiri ke kanan dalam satu periode, sifat logam berkurang sedangkan sifat nonlogam bertambah.
b)      Dari atas ke bawah dalam satu golongan, sifat logam bertambah sedangkan sifat nonlogam berkurang.
Contoh:
1. Diantara logam-logam berikut yang dapat bereaksi dengan air adalah…
1. K              2. Ca                3. Na               4. Ba
Pembahasan:
Unsur-unsur golongan IA dan golongan IIA kecuali Be dan Mg pada suhu kamar bereaksi dengan air. Unsure Na dan K terdapat dalam golongan IA. Unsur Ba dan Ca terdapat dalam golongan IIA. Jadi semua logam di atas dapat bereaksi dengan air. 
2.8.3.7. kereaktifan
Kereaktifan suatu unsur bergantung pada kecenderungannya melepas atau menarik elektron. Jadi, unsur logam yang paling reaktif adalah golonga IA (Logam Alkali), sedangkan nonlogam yang paling reaktif adalah golongan VIIA (Halogen).
Dari kiri ke kanan dalam suatu periode, mula-mula kereaktifan menurun kemudian bertambah hingga golongan VIIA dan golongan VIIIA tidak reaktif.
2.8.3.     Beberapa golongan dalam sistem periodik.
Unsur segolongan bukannya mempunyai sifat yang identik, melainkan hanya mirip. Unsur-unsur tersebut mungkin mempunyai sifat yang sama, tetapi kadarnya berbeda. Beberapa golongan dalam sistem periodik unsur, yaitu:
a)      Golongan VIIIA (Gas Mulia)
Unsur-unsur golongan VIIIA, yaitu Helium, Neon, Argon, Kripton, Xenon, dan Radon. Golongan VIIIA disebut gas mulia karena semuanya berupa gas yang stabil, sangat sukar bereaksi dengan unsur lain. Gas mulia mempunyai titik didih dan titik leleh yang sangat rendah titik didihnya hanya beberapa derajat di atas titik lelehnya.
b)      Golongan VIIA (Halogen)
Disebut halogen karena jika bereaksi dengan logan akan membentuk garam. Contohnya NaF, NaCl, NaBr, dan NaI. Kereaktifan golongan VIIA berkurang dari F ke I. Semua unsur golongan VIIA berupa molekul diatomik (F2,Cl2, Br2, I2), berwarna, dan bersifat racun.
c)      Golongan IA (Logam Alkali)
Disebut logam alkali (kecuali hidrogen) karena unsur tersebut membentuk basa yang larut dalam air. Logam alkali mempunyai 1 elektron valensi yang mudah lepas, sehingga merupakan kelompok logam yang paling aktif, dapat terbakar di udara, dan bereaksi hebat denga air.
d)     Golongan IIA (Logam Alkali Tanah)
Disebut logam alkali tanah karena dapat membentuk basa, tetapi senyawa-senyawanya kurang larut dalam air. Logam alkali tanah juga tergolong logam aktif, tetapi kereaktifannya kurang dibandingkan logam alkali seperiode, dan hanya terbakar di udara bila dipanaskan.
e)      Unsur-unsur transisi
Unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang terdapat dibagian tengah sistem periodik (golongan B). Unsur transisi mempunyai sifat yang khas, yaitu:
·         Semua unsur transisi tergolong logam,
·         Mempunyai kekerasan, titik leleh, dan titik didih yang relatif tinggi,
·         Banyak diantaranya membentuk senyawa-senyawa berwarna (Purba, 2006).

2.9.   Kerangka berpikir
Perubahan yang terjadi setelah siswa melakukan aktivitas belajar akan ditunjukkan oleh tinggi rendahnya ketuntasan belajar yang dicapai oleh siswa tersebut. Di sekolah ketuntasan belajar siswa pada umumnya diwujudkan dalam nilai yang berupa angka. Dengan diwujudkan ketuntasan belajar siswa dalam bentuk nilai, maka tinggi rendahnya nilai yang diperoleh siswa akan menunjukan besar kecilnya perubahan yang terjadi pada setiap siswa tersebut.
Kesulitan belajar dapat diukur pada hasil belajar siswa sebagai potensi atau penunjuk tinggi rendahnya ketuntasan belajar siswa untuk mengidentifikasi adanya kesulitan tersebut.kesulitan tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada pelajaran kimia materi materi sistem periodik unsur.
Ketuntasan belajar pada materi sistem periodik unsur siswa kelas X  di SMA Negeri  4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011 hanya sebagian kecil yang telah dikatakan tuntas. Hal ini disebabkan karena siswa yang melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar kimia hanya siswa yang pintar dan berprestasi tinggi sedangkan siswa lain yang kurang pintar  dan berprestasi rendah terlihat pasif sehingga mereka sulit untuk memahami materi yang diajarkan dalam proses mengajar.
Dalam mempelajari materi tersebut, perlu digunakan pembelajaran tertentu oleh guru agar dapat mempermudah siswa memahami materi yang diajarkan. Yang dapat diterapkan adalah strategi pembelajaran generatif.
Strategi pembelajaran generatif merupakan salah satu pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan ketuntasan belajar dan motivasi belajar siswa. Untuk mempelajari ilmu kimia dituntut pemahaman yang sungguh tentang konsep yang sesuai dengan konsep sebab antara konsep yang satu dengan yang lebih kompleks. Konsep-konsep tersebut membutuhkan metode pembelajaran yang berbeda-beda dalam penyampaiannya.
Dengan demikian, maka strategi pembelajaran generatif tepat untuk pelajaran kimia yang dapat memotivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga dapat diharapkan ketuntasan belajar siswa meningkat.

2.10.   Hipotesis Penelitian.
Hipótesis adalah  suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Untuk membuktikan jawaban yang masih sementara itu maka peneliti harus mengumpulkan data pada obyek tertentu (Sugiyono, 2009). Hipótesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan strategi pembelajaran generatif efektif untuk meningkatkan ketuntasan belajara siswa materi sistem periodik unsur kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.


BAB III

METODE PENELITIAN


3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminasi atau menyisihkan factor-faktor lain yang bisa mengganggu. Dengan cara ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya suatu kejadian atau keadaan (Arikunto, 2006)
Penelitian ini menggunakan dua kelompok kelas. Kelas eksperimen dengan menggunakan metode pembelajaran generatif sedangkan untuk kelas kontrol sebagai kelas pembanding menggunakan metode yang diterapkan oleh sekolah pada pokok bahasan sistem periodik unsur pada siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.

3.2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah untuk mendapatkan data berupa nilai, karena penggunaan pengukuran pada penelitian ini disertai analisis secara statistik.
3.3. Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN 4 Kota Bima.
3.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil (1) Tahun Pelajaran 2010/2011.

3.4. Rancangan penelitian.
Penelitian ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kelompok eksperimen menerima pengajaran dengan metode pembelajaran generatif sedangkan kelompok kontrol yang menerima pengajaran dengan metode konvensional.
Adapun rancangan penelitian sebagai berikut:
a.    Tahap Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Tahap dimana peneliti merencanakan atau menggambarkan apa saja yang akan dilakukan peneliti pada saat penelitian. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan pada tahap perencanaan ini antara lain:
1.    Peneliti membuat silabus dan skenario (rencana pelaksanaan pembelajran) dengan menggunakan pembelajaran generatif.
2.    Menentukan dari dua kelas mana yang dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol.

b.    Tahap Pelaksanaan Pembelajaran.
Tahap dimana peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario atau rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat. Tahap pelaksanaan tindakan peneliti melaksanakan kegiatan belajar mengajar dikelas sesuai dengan rencana yang telah dituangkan dalam skenario pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran generatif.
Secara umum langkah-langkah proses pembelajaran:
1.    Tahap pendahuluan
a.    Mensosialisasikan kepada siswa tentang strategi pembelajaran yang diggunakan dengan tujuan siswa cepat memahami.
b.    Memberikan contoh-contoh konkrit yang dapat merangsang siswa untuk melakukan eksplorasi.
c.    Dengan bantuan guru, siswa membentuk kelompok yang heterogen baik dari segi kemampuan akademik, suku, dan jenis kelamin yang terdiri dari 2 sampai 4 orang.
d.   Memberikan apersepsi.
2.    Tahap pemfokusan
a.    Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka serta menginter- prestasikan   dan mengklasifikasikan gagasan siswa.
b.    Siswa aktif melakukan penggalian konsep, menyajikan pandangan atau konsepsinya melalui diskusi kelas.
3.    Tahap tantangan
a.    Guru membuka diskusi kelas
b.    Mengarahkan dan menfasilitasi agar terjadi pertukaran ide antar siswa.
c.    Guru bertindak sebagi fasilitator dalam mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah dengan cara menyajikan bukti-bukti berdasarkan pandang para ilmuwan.
d.   Siswa mempertimbangkan dan menguji pandang atau konsepsi teman sejawatnya dengan mencari bukti-bukti.
4.    Tahap penerapan
a.    Siswa mencoba memecahkan masalah-masalah praktis berdasarkan konsep ilmiah
b.    Guru membantu siswa dalam memecahkan masalah yang  sulit.
c.    Membantu siswa dalam memecahkan masalah yang sulit.
d.   Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
c.    Melakukan evaluasi terhadap siswa pada pokok bahasan system periodic unsur dengan memberikan soal-soal (instrument penelitian) yang telah divalidasi.

3.5. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang terbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh  informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ada dua yaitu varibel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat, sedangkan variable terikat merupakan variabel variable yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran generatif sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah ketuntasan belajar siswa materi sistem periodik unsur kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011.

3.6.Populasi dan Sampel
3.6.1.  Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1993). Sedangkan menurut Sugiyono (2009) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan.
Jumlah kelas di SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011 adalah 5 (lima) kelas dimana kelas X5 merupakan kelas unggulan sehingga tidak termasuk dalam populasi karena sebagian besar siswanya sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah ditetapkan. Jadi, yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah X1 sampai dengan X4 sebanyak 154 siswa.

3.6.2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Pendapat lain mengatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2009). Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebagian atau wakil dari kelas X SMAN 4 Kota Bima sebanyak 6 kelas.
Menurut Arikunto (2006), apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyeknya lebih dari 100 dapat diambil 10-15%  atau 20-25% atau lebih tergantung dari kebutuhan peneliti.
Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Random Sampling yaitu teknik pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono,2008). Cara demikian dilakukan apabila anggota populasi dianggap homogen.
Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah  sebanyak dua kelas dari populasi. Pada penentuan sampel untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan dengan melihat nilai hasil ulangan siswa kelas X SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010-2011  pada pokok bahasan struktur atom didapatkan persen ketidaktuntasan belajar untuk kelas X1 (47,74%), kelas X2 (60,53%), kelas X3 (35,89%), kelas X4 (48,76%). Dengan demikian sebagai kelas kontrol adalah kelas X3 dan sebagi kelas eksperimen adalah kelas X2, karena persen  ketidaktuntasan kelas X3 lebih kecil dari kelas X1 (35.89% < 60.53%).

3.7. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes. Menurut  Margono (2009), tes adalah seperangkat rangsangan atau stimulus yang diberikan. Sedangkan tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa dalam jangka waktu tertentu.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Tes dibuat dengan lima alternatif  jawaban. Setiap soal mempunyai skor yang sama yakni apabila dijawab benar diberi nilai satu (1), jika salah diberi nilai nol (0).
3.7.1.  Kisi-kisi instrument (terlampir).
3.7.2. Uji coba instrumen
Instrumen penelitian yang baik harus memenuhi syarat-syarat pembuatan tes antara lain validitas, reliabilitas, uji daya beda butir soal, uji tingkat kesukaran butir soal.
3.7.2.1. Uji validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrument. Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah item dikatakan valid jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total (Arikunto, 2006). Perhitungan validitas tes dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dengan angka kasar sebagai berikut:
Setelah diperoleh harga rxy kemudian dikonsultasikan dengan harga rproduct moment dengan interval kepercayaan 5%, jika rxy ≥ rtabel maka soal tersebut dikatakan valid (Arikunto, 2006).
3.7.2.2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas artinya, dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan.  Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebutsudah baik. Untuk mengetahui ttingkat reliabilitas soal tersebut dapat dihitung dengan  menggunakan rumus kuder Richardson (KR-20) dengan rumus:
r11 =
Dimana :
r11           = Reliabelitas tes secara keseluruhan
n             = banyaknya butir item
s             = standar deviasi dari tes
p             = proporsi subjek yang menjawab item betul
q             = proporsi subjek yang menjawab item salah.
S2 =
Keterangan:
S2    = Standar deviasi
∑X = Jumlah item dijawab benar
N    = Banyak subyek pengikut tes
       Banyaknya siswa yang menjawab benar
p     =
                    Jumlah seluruh siswa
q     = 1- p

   Kriteria dikatakan reliabel apabila r11 hitung > r tabel pada taraf  signifikasi = 0,05 (Arikunto, 2006)
   Koefisien korelasi reliabilitas instrumen (Sugiyono,2009).
Interval koefisien
Tingkat hubungan
0,00-0,199
0,20-0,399
0,40-0,599
0,60-0,799
0,80-1,000
Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat

3.7.2.3.Uji tingkat kesukaran butir soal.
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang tidak terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabakab siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya (Arikunto, 2008).
     Rumus mencari P adalah:
P = 
Keterangan:
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul.
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes.

Besarnya indeks kesukaran (P)
Interprestasi tingkat kesulitan
< 0,30
0,30-0,70
> 0,70
Tinggi
Sedang
Rendah

3.7.2.4. Uji daya beda soal
Daya beda butir soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi disingkat dengan ”D”. Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah:
D = 
Keterangan:
JA = Banyaknya peserta kelompok atas.
JB = Banyaknya peserta kelompok bawah
BA=Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal        dengan benar.
BB  = banyaknya peserta kelompok bawah soal yang menjawab soal dengan benar.


Klasifikasi daya pembeda:
Klasifikasi daya pembeda (D)
Criteria
0,00-0,199
0,20-0,399
0,40-0,699
0,70-1,000
Jelek (poor)
Cukup (satisfactor)
Baik (good)
Baik sekali (excelent)

D = Negatif, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja (Arikunto, 2008).

3.2. Teknik Analisis Data
3.2.1.      Data tes hasil belajar.
Setelah memperoleh data tes hasil belajar, maka data tersebut dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar. Kemudian dianalisis secara kuantitatif. Untuk mengetahui ketuntasab belajar siswa digunakan kriteria sebagai berikut:
3.2.1.1.    Ketuntasan individual
Setiap siswa dalam proses belajar dikatakan tuntas terhadap materi pelajaran yang telah diberikan apabila memperoleh nilai ≥ 65 (ketuntasan individu yang digunakan di SMAN 4 Kota Bima).
N =
Keterangan:
N   = nilai
SM = skor/nilai mentah
SI   = skor/nilai ideal

     Ketuntasan individual menurut standar ketuntasan belajar  dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berisi tentang kriteria dan mekanisme penetapan ketuntasan minimal mata pelajaran kimia yang ditetapkan oleh SMAN 4 Kota Bima sebesar 65. Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya apabila kelas tersebut terdapat 85% siswa yang telah mencapai ketuntasan individual. 
3.2.1.2.    Ketuntasan klasikal
Ketuntasan klaksikal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
KK = %
Keterangan:
KK : Ketuntasan klaksikal
X    : Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
N    : Jumlah siswa keseluruhan

3.2.2.      Uji homogenitas
Sebelum analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus t-tes untuk membuktikan kebeneran hipotesis yang telah dibuat sebelumnya, maka perlu dilakukan uji homogenitas terhadap sampel. Adapun rumus yang digunakan untuk menguji homogenitas sampel menggunakan F-hitung dengan rumus:
F = 
Varians masing kelas dicari dengan rumus:
S2
Keterangan:
F = indeks homogenita yang di cari
S2 = varians
X = nilai siswa
= rata-rata
N = jumlah sampel

Bila harga F-hitung > F-tabel berarti sampel tidak homogen.
Bila harga F-hitung ≤ F-tabel berarti sampel homogen.
3.2.3.      Uji hipotesis
Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu uji-t.
terdapat dua rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis. Adapun rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis sampel yang homogen dengan menggunakan rumus polled varians yaitu:


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.  Deskripsi Hasil Penelitian
4.1.1.  Hasil Uji Coba Instrumen
Data dalam penelitian ini berupa data ketuntasan belajar. Data ketuntasan belajar ditunjukkan dengan nilai post tes pokok bahasan sistem periodik unsur. Pengambilan data untuk nilai post tes menggunakan instrumen pengukuran data berupa tes objektif yang sudah diananlisis validitas, reliabilitas, uji tingkat kesukaran butir soal dan uji daya beda soal.
a.    Uji Validitas Insturmen
Sebelum tes diberikan kepada siswa, terlebih dahulu dilakukan uji validitas terhadap soal yang akan diujikan untuk mengetahui apakah soal-soal tersebut  layak untuk digunakan dalam penelitian. Dari hasil uji coba instrument yang dilakukan pada kelas X5 (kelas unggulan) SMAN 4 Kota Bima dengan jumlah siswa sebanyak 36. Dari 30 soal yang diujicobakan diperoleh 23 soal valid dan 7 soal yang tidak valid. Untuk N= 36 dengan taraf signifikansi 5%, maka rtabel = 0,329 sehingga dapat ditentukan valid tidaknya soal tersebut (untuk seluruhnya pada lampiran 17).

b.    Uji Reliabilitas Soal
Uji coba reliabilitas dilakukan pada 23 soal yang valid dengan
menggunakan rumus KR-20 diperoleh nilai r11 sebesar 0,859 dan nilai rtabel untuk taraf signikansi 5% dengan N = 36 sehingga diperoleh nilai 0,329. Oleh karena itu rhitung  lebih besar dari pada rtabel (0,859 > 0,329). Sesuai  dengan kriteria reliabilitas instrumen  (0,80 - 1,00) maka instrumen penelitian ini memiliki tingkat reliabilitas yang sangat kuat/tinggi (lampiran 19).
c.    Uji Tingkat Kesukaran Butir Soal 
Untuk setiap pokok bahasan divariasikan antara soal yang mudah, sedang dan sukar. Hasil uji tingkat kesukaran soal, dapat disimpulkan bahwa soal yang tingkat kesukarannya tinggi sebanyak 3 soal yang berada pada rentang < 30, soal yang tingkat kesukarannya sedang sebanyak 19 yang berada pada rentang 0,30 – 0,70, dan kriteria soal yang kesukarannya rendah/mudah sebanyak 1 yang berada pada rentang > 0,70 (lampiran 21).
d.   Uji Daya Beda Soal
Berdasarkan hasil uji daya beda soal, maka dapat disimpulkan bahwa soal yang bernilai negatif sebanyak 1 karena bernilai negatif sehingga soal ini dibuang saja. Soal yang memiliki daya beda jelek sebanyak 1 soal karena berada pada rentang 0,00-0,199, soal yang memiliki daya beda cukup berada sebanyak 9 karena berada pada rentang 0,20 - 0,3999, soal yang memiliki daya beda baik sebanyak 11 soal karena berada pada rentang 0,40-0,6999 dan soal yang memiliki daya beda sangat baik sebanyak 1 karena berada pada rentang 0,70 – 1,000 (lampiran 24).
4.1.2.  Deskripsi Data
a.    Data hasil penelitian
Data mengenai nilai tes hasil belajar pokok bahasan sistem periodik unsur diberikan secara menyeluruh pada lampiran 28.
Hasil penelitian ini berupa nilai yang diperoleh dari hasil tes soal yang sudah valid. Tes dilaksanakan sesudah semua rangkaian kegiatan pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol telah selesai. Berdasarkan hasil tes diperoleh persen ketuntasan sebesar 86,84% yaitu sebanyak  33 siswa dalam kelas eksperimen dapat melampui kriteria ketuntasan minimal yang telah ditentukan yaitu 65 dengan nilai rata-rata sebesar 76,79 dan 5 siswa tidak tuntas. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh persen ketuntasan sebesar 66,67% sebanyak 26 siswa yang dapat melampui kriteria ketuntasan minimal dengan nilai rata-rata sebesar 68,74 dan 13 siswa yang tidak tuntas (lampiran 28).
b.     Uji homogenitas sampel
Sebelum rangkaian pembelajaran dilaksanakan, peneliti melakukan uji homogenitas kemampuan awal siswa, untuk mengetahui apakah kemampuan awal siswa tersebut homogen atau tidak.
Uji homogenitas sampel dilakukan pada kelas X1, X2, X3 dan X4 dengan cara mengambil nilai ujian pokok bahasan struktur atom. Berdasarkan hasil uji homogenitas sampel tersebut diperoleh Fhitung= 1,63 dan harga Ftabel dengan dk pembilang 38-1= 37 dan dk penyebut 39-1= 38 untuk taraf signifikasi 5%= 1,72 (harga antara dkpembilang 30 dan 40) sehingga diiketahui kemampuan awal siswa homogen, karena Fhitung lebih kecil dari Ftabel (1,63 < 1,72), (lampiran 4).
c.    Uji Hipotesis
Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan rumus statistik uji t pada taraf signifikan 5%. Sebelum melakukan uji t terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas varians untuk kelas eksperimen sebesar 138,444 dan varians untuk kelas kontrol sebesar 92,303 sehingga diperoleh Fhitung sebesar 1,37. Harga Ftabel denga dkpembilang= 39-1= 38  dan dkpenyebut= 38-1= 37 denga taraf signifikasi 5% sebesar 1,72 (harga antara dkpembilang 30 dan 40 ) oleh karena Fhitung lebih kecil dari Ftabel (1,37 < 1,72) berarti varians tersebut homogen, maka digunakan rumus uji t polled varians (lampiran 31).
Dari hasil perhitungan statistik uji t polled varians diperoleh thitung sebesar 3,28 dan harga ttabel untuk taraf signifikasi 5% dengan derajat kebebasan dk n1 + n2 -2 = 38 + 39 – 2 = 75 sebesar 1,995 (harga antara dk 60 daan 120). Oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (3,28 > 1,995), maka dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar siswa pokok bahasan sistem periodik unsur yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran generatif lebih baik secara signifikan dari pada siswa yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran konvensional (ceramah dan tanya jawab) pada siswa kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011 (lampiran­ 33).

4.2.  Pembahasan
Pembelajaran generatif merupakan pembelajaran yang didesain untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam mengkonstruksi kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan baru. Pembelajaran generatif membutuhkan partisipasi dan kerjasama antara siswa untuk belajar secara berkelompok dalam menyusun konsep. Keunggulan pembelajaran ini adalah memberi kesempatan siswa untuk bekerjasama dengan orang lain dan pembelajaran dilakukan dalam suasana yang kondusif sehingga dalam proses pembelajaran siswa dapat lebih aktif. Dalam pembelajaran ini guru bertindak sebagai fasilitator. Dengan menerapkan strategi pembelajaran generatif diharapkan siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan barunya, sehingga konsep-konsep yang ada dalam materi khususnya pokok bahasan sistem periodik unsur dapat dikuasai dengan baik.
Dalam peneliitian ini, ada atau tidaknya perbedaan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat dari hasil uji t. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (3,28 > 1,995) yang berarti bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima yang berbunyi” ketuntasan belajar siswa  pada pokok bahasan sistem periodik unsur yang diajarkan dengan strategi pembelajaran generatif lebih efektif secara signifikan daripada siswa yang diajarkan secara konvensional (ceramah dan Tanya jawab) pada siswa kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota BimaTahun Pelajran 2010/2011”. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran generatif mempunyai keefektifan yang signifikan terhadap peningkatan ketuntasan belajar siswa.
Ketuntasan belajar adalah penguasaan tujuan pembelajaran oleh peserta didik setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini ketuntasan belajar berkaitan dengan nilai yang dicapai oleh siswa. Adanya perbedaan ketuntasan belajar siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen dipengaruhi oleh metode yang telah diterapkan.
Adanya keefektifan penggunaan strategi pembelajaran generatif terhadap peningkatan ketuntasan belajar kimia pokok bahasan sistem periodik unsur di kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima juga dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata yang dihasilkan kelas eksperimen, dimana sebelum diberi perlakuan diperoleh nilai rata-rata sebesar 60,68 kemudian setelah perlakuan dan diberikan post-tes diperoleh nilai rata-rata sebesar 76,79 dengan ketuntasan 86,84%. Nilai rata-rata kelas eksperimen meningkat sebesar 16,11 atau 26%. Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan yang diperoleh kelas kontrol, dimana sebelum diberi perlakuan nilai rata-ratanya sebesar 63,19 kemudian setelah perlakuan dan diberikan post tes diperoleh nilai rata-rata sebesar 64,74 dengan ketuntasan 66,67% peningkatan nilai rata-ratanya hanya sebesar 1,55 atau 2%.
Rendahnya ketuntasan belajar siswa yang menggunakan pendekatan konvesional dikarenakan pada tahap perencanaan maupun pelaksanaan proses pembelajaran, guru lebih banyak berperan aktif dibandingkan dengan siswanya. Dalam penyampaian materi pembelajaran, guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kesannya kegiatan pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru. Lain halnya dengan strategi pembelajaran generatif, siswa tidak hanya menerima materi pelajaran dalam bentuk final dari guru, tetapi siswa memperoleh daya serap yang lebih tinggi karena dalam proses pembelajaran siswalah yang lebih aktif mengkonstruksi sendiri konsep atau materi yang dipelajari.
Pembelajaran kimia bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, mengantar siswa menemukan dan membangun sendiri pengetahuan bukan mentransfernya. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan metode dan pendekatan  pembelajaran yang benar-benar tepat. Oleh karena itu maka salah satu pendekatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran kimia yaitu pendekatan ini siswa dapat bekerjasama dengan siswa lain dalam proses pembelajaran dengan teknik berpikir mandiri dan bekerjasama dengan siswa lain yang membuat siswa dapat menemukan sendiri pengetahuannya. Dengan kata lain, strategi pembelajaran generatif dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka dengan cara belajar aktif
dan kreatif. Namun dalam hal ini guru bertindak sebagai fasilitator selama pembelajaran berlangsung.

BAB V
PENUTUP

5.1.  Simpulan
 Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan, bahwa ketuntasan belajar siswa pada pokok bahasan sistem periodik unsur yang diajarkan dengan pembelajaran generatif lebih efektif secara signifikan daripada siswa yang diajarkan secara konvensional (ceramah dan tanya jawab) pada siswa kelas X semester ganjil SMAN 4 Kota Bima Tahun Pelajaran 2010/2011, dimana persentase ketuntasan meningkat sebesar 20,17 % yaitu kelas kontrol 66,67% ke kelas eksperimen 86,84%.

5.2.  Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diajukan beberapa saran, antara lain:
a.    Kepada pihak pengajar, hendaknya mempertimbangkan penggunaan   pembelajaran generatif dalam pelaksanaan proses belajar mengajar guna meningkatkan ketuntasan  belajar siswa.
b.    Penerapan strategi pembelajaran genertaif hendaknya dilakukan secara terus menerus dan lebih optimal pada pokok bahasan sistem periodik unsur di SMAN 4 Kota Bima ataupun di sekolah-sekolah lain. Hal ini dimaksudkan agar siswa terlatih untuk belajar dengan cara saling berdiskusi dalam menemukan pengetahuan mereka sendiri, belajar berfikir, mencari dan menemukan sendiri, bukan hanya mendengar dan mencatat saja.
c.    Perlu penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan variabel-variabel tertentu seperti kebiasaan belajar, motivasi dan lain-lain agar hasil penelitian lebih optimal dan untuk lebih mempopulerkan pembelajaran generatif di sekolah-sekolah.

NB : BAGI TEMAN-TEMAN YANG INGIN FILE SKRIPSI INI BESERTA LAMPIRANNYA SECARA LENGKAP BISA PM SAYA LANGSUNG YA,,TRIMS,,,
.































































EFEKTIFITAS PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN GENERATIF UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN BELAJAR MATERI SISTEM PERIODIK UNSUR PADA SISWA KELAS X

0 comments:

Post a Comment