Tuesday, January 1, 2013

KUMPULAN SKRIPSI BAHASA INDONESIA TERLENGKAP


KEMAMPUAN  MENGEMBANGKAN KARANGAN NARASI BERDASARKAN TEKS WAWANCARA
OLEH SISWA KELAS I SMPN 1 KECAMATAN SEUNAGAN
KABUPATEN NAGAN RAYA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar Belakang dan Masalah
Kemampuan berbahasa dalam KBK mencakup empat aspek penting, yaitu (1) keterampilan mendengar, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Kemampuan berbahasa ini berhubungan erat dalam usaha seseorang memperoleh kemampuan berbahasa yang baik. Berbagai usaha dilakukan untuk membina dan mengembangkan bahasa agar benar-benar memenuhi fungsinya.
Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah melalui program pendidikan di sekolah, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Depdiknas (2003:6-7), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
1)      berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulisan;
2)      menghargai dan bangga menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
3)      memahami bahasa indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
4)      menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
5)      menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan
6)      menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia (Sic).

Penggunaan aspek kebahasaan dalam proses pembelajaran sering berhubungan satu sama lainnya. Menyimak dan membaca  erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat hubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna (Tarigan, 1986:10). Menulis merupakan kegiatan mengekspresikan informasi yang diterima dari proses menyimak dan membaca. Jadi, semakin banyak seseorang menyimak atau membaca semakin banyak pula informasi yang diterimanya untuk diekspresikan secara tertulis. Kemudian, Crimmon (dalam Kurniawan 2006:122) mengatakan bahwa
menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif. Kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian dan pemilihan kata, dan struktur kalimat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan  salah satu keterampilan berbahasa yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan penguasaan keterampilan menulis, diharapkan siswa dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya setelah menjalani proses pembelajaran dalam berbagai jenis tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi. Asumsinya, pengungkapan tersebut merupakan peresapan, pemahaman, dan tanggapan siswa terhadap berbagai hal yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, segala informasi, ilmu pengetahuan, dan berbagai kecakapan yang diperoleh siswa dalam pembelajaran tidak akan sekedar menjadi hafalan yang mudah dilupakan sesaat setelah siswa menjalani tes.
Tujuan pembelajaran menulis belum dicapai secara maksimal oleh siswa. Menurut Trimantara (2005:1), penyebab terhadap tidak tercapainya tujuan pembelajaran menulis meliputi
1)      rendahnya tingkat penguasaan kosa kata sebagai akibat rendahnya minat baca;
2)      kurangnya penguasaan keterampilan mikrobahasa, seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penyusunan kalimat dengan struktur yang benar, sampai penyusunan paragraf;
3)      kesulitan menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa; serta
4)      ketiadaan atau keterbatasan media pembelajaran menulis yang efektif.

Karena pentingnya keterampilan menulis, pengembangan pembelajaran menulis perlu ditingkatkan. Peningkatan pembelajaran menulis dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Purwo (1990:166-171) mengatakan kegiatan pengembangan pembelajaran menulis dapat dilakukan dengan kegiatan mengembangkan logika, melatih daya imajinasi, merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat menjadi paragraf. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mareka.
Tes kemampuan menulis dapat divariasikan dalam berbagai bentuk tulisan. Tekniknya dapat disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bagan. Dari data-data itu, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan. Melalui kegiatan inilah kemampuan komunikatif siswa diukur secara terintegrasi (Mahmud, 2003:14).
Penggunaan teks wawancara sebagai alat bantu dalam mengembangkan karangan narasi akan membantu siswa untuk  menceritakan kembali sesuatu peristiwa atau kejadian secara kronologis. Kegiatan seperti ini menyuburkan kesempatan kreatif bagi  siswa dalam  menampilkan gagasan dan keahlian memilih kata serta merangkainya menjadi kalimat.
Penelitian ini mencoba mengukur kemampuan menulis siswa melaluiKemampuan  Mengembangkan Karangan Narasi Berdasarkan Teks Wawancara oleh Siswa Kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya”. Adapun tujuan utamanya adalah mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya melalui mengembangkan teks wawancara menjadi karangan narasi. Hal ini dilakukan karena selama ini siswa SMP masih dianggap belum mampu untuk menulis dengan alasan menulis itu cukup sulit untuk dikuasai  oleh mereka, padahal siswa SMP ditutut memenuhi kemampuan yang memadai dalam menulis.
Pemilihan  siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya sebagai populasi penelitian didasari atas pertimbangan (1) sebagaimana siswa di SMP lainnya, siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya telah mendapat pengajaran menulis sebagaimana tertera dalam kurikulum yang berlaku,        (2) setelah menjalani pembelajaran, siswa dituntut memiliki kemampuan yang memadai dalam menulis, dan  (3) siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  perlu mendapat pembinaan yang intensif dalam menulis.




1.2 Rumusan Masalah
Bedasarka latar belakang di atas, masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya?

1.3  Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Secara khusus penelitian ini  bertujuan mendeskripsikan kemampuan  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh mereka.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang mewajibkan penuturnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Penelitian ini juga menjadi pengetahuan, khususnya bagi peneliti, siswa, guru, dan masyarakat umum.

1.5  Populasi dan Sampel Penelitian
1.5.1  Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah siswa kelas I  SMPN 1  Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Jumlah populasi seluruhnya adalah 190 siswa. Adapun rincian populasi tersebut dapat dilihat berikut ini.
TABEL 1
RINCIAN POPULASI

No.
Kelas
Jumlah siswa
1.
I.1
26
2.
I.2
41
3.
I.3
42
4.
I.4
41
5.
I.5
40
Jumlah
190


1.5.2  Sampel Penelitian
Subjek penelitian ini tergolong banyak, oleh karena itu dilakukan penelitian sampel. Penetapan sampel  penelitian ini didasarkan pada pedapat Arikunto (1998:120)  “Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya banyak dapat diambil 10-15% atau 20-25%  atau lebih tergantung pada kemampuan peneliti, sempit luasnya wilayah pengamatan, dan besarnya resiko peneliti.”
Berdasarkan pendapat di atas, sampel penelitian ini ditentukan sebanyak 25% dari jumlah populasi sebanyak 190 siswa, yaitu 48 responden. Sampel tersebut diambil secara acak pada lima kelas paralel. Dengan demikian, setiap kelas diambil 25%  sebagai sampel penelitian. Adapun rincian sampel tersebut dapat dilihat berikut ini.    

         TABEL 2
RINCIAN SAMPEL
No.
Kelas
Jumlah siswa
1.
I.1
6
2.
I.2
11
3.
I.3
11
4.
I.4
10
5.
I.5
10
Jumlah
48


1.6  Metode dan Teknik Penelitian
1.6.1  Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penganalisisan deskriptif kuantitatif yang bermaksud mendeskripsikan kemampuan mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara oleh siswa kelas I  SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya secara objektif. Hal ini dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh murid dalam menulis, khususnya menulis karangan narasi bardasarkan teks wawancara.
1.6.2  teknik Penelitian
1.6.2.1 Teknik Pengumpulan Data
Objek penelitian ini adalah karangan siswa. Siswa diberi tugas menulis karangan narasi berdasarkan teks wawancara dengan waktu yang telah ditentukan (90 menit). Instrumen yang digunakan adalah teks wawancara. Teks wawancara tersebut dikembangkan menjadi karangan narasi. Teks wawancara yang telah diubah menjadi karangan narasi diberi penilaian berdasarkan aspek-aspek yang telah ditentukan. Aspek penilaian tersebut dibagi atas dua jenis, yaitu aspek substansi dan aspek kebahasaan.
1.6.2.2 Teknik Pengolahan Data
Sesuai dengan metode yang telah dilakukan, prosedur pengolahan data ditempuh melalui sejumlah tahapan, yaitu
1)      memeriksa karangan siswa berdasarkan aspek penilaian yang telah ditentukan;
2)      memberikan skor pada aspek yang diperiksa sesuai dengan ketentuan pengskoran yang telah ditetapkan. kemudian, skor yang diperoleh oleh setiap siswa dihitung sebagai nilai kemampuan siswa yang bersangkutan;
3)      merekap data penilain yang diperoleh siswa untuk setiap aspek yang diteliti; dan
4)      menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa pada setiap aspek yang diteliti, kemudian mencari nilai rata-ratanya.

1.6.2.3 Teknik Analisis Data
penelitian ini menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik sederhana
tingkat penguasaan rata-rata keseluruhan aspek yang diteliti, untuk mencari nilai rata-rata keseluruhan aspek yang diteliti,  menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Umar (2005:100-101) sebagai berikut.



                  
Setelah diperoleh nilai rata-rata, langkah selanjutnya adalah menentukan klasifikasi penilaian dengan menggunakan skala Depdiknas (2004:57) yaitu,  sebagai berikut.
TABEL 5
KUALIFIKASI NILAI

No.
Kualifikasi
Skor
1.
sangat baik
85-100
2.
baik
70-84
3.
cukup
55-69
4.
kurang
40-54
5.
sangat kurang
≤ 39








BAB II..
LANDASAN TEORETIS


2.1       Pengertian Karangan
Karangan merupakan hasil akhir dari pekerjaan merangkai kata, kalimat, dan alinea untuk menjabarkan atau mengulas topik dan tema tertentu (Finoza, 2004:192). Menulis atau mengarang pada hakikatnya adalah menuangkan gagasan, pendapat gagasan, perasaan keinginan, dan kemauan, serta informasi ke dalam tulisan dan ”mengirimkannya” kepada orang lain (Syafie’ie, 1988:78). Selanjutnya, menurut Tarigan (1986:21), menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca.
Semua pendapat tersebut sama-sama mengacu pada menulis sebagai proses melambangkan bunyi-bunyi ujaran berdasarkan aturan-aturan tertentu. Artinya, segala ide, pikiran, dan gagasan yang ada pada penulis disampaikan dengan cara menggunakan lambang-lambang bahasa yang terpola. Melalui lambang-lambang tersebutlah pembaca dapat memahami apa yang dikomunikasikan penulis.
Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya saling melengkapi. Menurut Syafie’ie (1988:42), secara psikologis menulis memerlukan kerja otak, kesabaran pikiran, kehalusan perasan, kemauan yang keras. Menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama dan berulang-ulang. Dengan kata lain, tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.
Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya, misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, dan motivasi yang kuat. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis hendaknya memiliki tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian, dan keterampilan pewajahan. Ketiga keterampilan ini harus saling menunjang atau isi-mengisi. Kegagalan dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis (Semi, 2003:4)
Jadi, sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam kegiatan menulis, yaitu (1) penguasaan bahasa tulis yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, diksi, struktur kalimat, paragraf, ejaan, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.
Bahasa merupakan sarana komunikasi. Penulis harus menguasai bahasa yang digunakan untuk menulis. Jika dia menulis dalam bahasa Indonesia, dia harus menguasai bahasa Indonesia dan mampu menggunakannya dengan baik dan benar. Menguasai bahasa Indonesia berarti  mengetahui dan dapat menggunakan kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia, serta mengetahui dan dapat menggunakan kosa kata bahasa Indonesia. Ia juga harus mampu menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku, yaitu ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (Syafie’ie, 1988:46).
Mengacu pada pendapat di atas, menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan (membahasatuliskan dari bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisasi sedemikian rupa, sehingga terjadi suatu kegiatan komunikasi tidak langsung antara penulis dan pembaca. Seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis, jika tujuan penulisannya sama dengan yang dipahami oleh pembaca.

2.2 Tujuan Mengarang
Tujuan utama menulis atau mengarang adalah sebagai sarana komunikasi tidak langsung. Tujuan menulis banyak sekali ragamnya. Tujuan menulis secara umum adalah memberikan arahan, menjelaskan sesuatu, menceritakan kejadian, meringkaskan, dan menyakinkan (Semi, 2003:14-154). Menurut Syafie’ie (1988:51-52),  tujuan penulisan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1)      mengubah keyakinan pembaca;
2)      menanamkan pemahaman sesuatu terhadap pembaca;
3)      merangsang proses berpikir pembaca;
4)      menyenangkan atau menghibur pembaca;
5)      memberitahu pembaca; dan
6)      memotivasi pembaca.

Selain  itu, Hugo Harting (dalam Tarigan, 1994:24-25)  mengkalasifikasikan tujuan penulisan, antara lain tujuan penugasan (assingnment purpose), tujuan altruistik (altruistic purpose), tujuan persuasi (persuasive purpose), tujuan penerangan (informational purpose), tujuan penyataan (self-expressive purpose), tujuan kreatif (creative purpose), dan tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose).
Tujuan-tujuan  penulisan tersebut kadang-kadang berdiri sendiri secara terpisah, tetapi sering pula tujuan ini tidak berdiri sendiri melainkan merupakan gabungan dari dua atau lebih tujuan yang menyatu dalam suatu tulisan. Oleh karena itu, tugas seorang penulis tidak hanya memilih topik pembicaraan yang sesuai atau serasi, tetapi juga harus menentukan tujuan yang jelas. Penentuan tujuan menulis sangat erat hubungannya dengan bentuk atau jenis-jenis tulisan atau karangan.

2.3  Jenis- Jenis Karangan
Mengarang merupakan kegiatan mengemukakan gagasan secara tertulis. Menurut  Syafie’ie (1988:41), tulisan pada hakikatnya adalah representasi bunyi-bunyi bahasa dalam bentuk visual menurut sistem ortografi tertentu.  Banyak aspek bahasa lisan seperti nada, tekanan irama serta beberapa aspek lainya tidak dapat direpresentasikan dalam tulisan. Begitu juga halnya dengan aspek fisik, seperti gerak tangan, tubuh, kepala, wajah, yang mengiringi bahasa lisan tidak dapat diwujudkan dalam bahasa tulis. Oleh karena itu, dalam mengemukakan gagasan secara tertulis, penulis perlu menggunakan bentuk tertentu. Betuk-bentuk tersebut, seperti  dikemukakan oleh Semi (2003:29) bahwa secara umum karangan dapat dikembangkan dalam empat bentuk yaitu narasi, ekposisisi, deskripsi, dan argumentasi.

2.3.1    Narasi
Karangan narasi (berasal dari naration berarti bercerita) adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, dan merangkaikan tindak tanduk perbuatan  manusia  dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau berlangsung dalam suatu kesatuan waktu (Finoza, 2004:202). Narasi bertujuan menyampaikan gagasan dalam urutan waktu dengan maksud menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca serentetan peristiwa yang biasanya memuncak pada kejadian utama (Widyamartaya, 1992:9-10). Menurut Semi (2003:29), narasi merupakan betuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia dari waktu ke waktu. Selajutnya, Keraf (1987:136) mengatakan karangan narasi merupakan
suatu bentuk karangan yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkai menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan dengan cara lain; narasi adalah suatu bentuk karangan yang berusaha mengambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.

            Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat kita simpulkan, secara sederhana narasi merupakan cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam suatu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik.
            Karangan narasi merupakan salah satu karangan yang dapat dijadikan alat untuk menyampaikan pangetahuan atau informasi kepada orang lain (keraf, 1982:3). Narasi melakukan penambahan ilmu pengetahuan melalui jalan cerita, bagaimana suatu peristiwa itu berlangsung. Karena lebih menekankan jalannya peristiwa, reproduksi masa silam merupakan bidang utama sebuah narasi. Seseorang dapat menginformasikan sesuatu kejadian atau peristiwa pada orang lain  dengan latar belakang kejadian yang nyata maupun rekaan.
Dalam menulis, penulis dituntut mampu membedakan antara narasi dan deskripsi. Narasi mempunyai kesamaan dengan deskripsi, yang membedakannya adalah narasi mengandung imajinasi dan peristiwa atau pengalaman lebih ditekankan pada urutan kronologis. Sedangkan deskripsi, unsur imajinasinya terbatas pada penekanan organisasi penyampaian pada susunan ruang sebagai mana yang diamati, dirasakan, dan didengar. Oleh karena itu, penulis perlu memperhatikan unsur latar, baik unsur waktu maupun unsur tempat.  Dengan kata lain, pengertian narasi itu mencakup dua unsur, yaitu perbuatan dan tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu.

2.3.1.1 Ciri-Ciri Karangan Narasi
Setiap karangan mempunyai ciri tertentu. Adapun ciri-ciri karangan narasi menurut Semi (2003:31), yaitu
1)      berupa cerita tentang pengalaman manusia;
2)      kejadian atau peristiwa yang disampaikan dapat berupa peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, dapat pula berupa semata-semata imajinasi, atau gabungan keduanya;
3)      bedasarkan konflik. karena, tanpa konflik biasanya narasi tidak menarik;
4)      memiliki nilai estetika karena isi dan cara penyampainya bersifat sastra, khususnya narasi berbentuk fiksi;
5)      menekankan susunan kronologis (catatan: deskripsi menekankan susunan ruang); dan
6)      biasanya memiliki dialog.

Karangan narasi bisa berisi fakta bisa pula berisi fiksi atau rekaan yang direka atau dikhayalkan oleh pengarangnya. Narasi yang berisi fakta adalah biografi, otobiografi, kisah sejati, dan lain-lain. Sedangakan narasi yang berisi fiksi seperti novel, cerpen, dan cerita bergambar (Marahami, 2005:96). Selain dari itu, Semi (2003:32) juga mengatakan bahwa narasi dibagi atas dua jenis, yaitu narasi informatif yang sering disebut pula narasi ekspositoris, yang pada dasarnya berkencenderungan sebagai bentuk ekposisi yang berkecenderungan memaparkan informasi dengan bahasa yang lugas dan konfliknya tidak terlalu kelihatan. Kedua narasi artistik,  narasi ini  umumnya berupa cerpen atau novel.
Menurut Keraf (1987:133-139), narasi ekpositoris dan narasi sugestis memiliki ciri-ciri yang berbeda.
1)      Narasi ekspositoris memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.       memperluas pengetahuan;
b.      menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian;
c.       didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatan nasional; dan
d.      bahasanya lebih cenderung ke bahasa informatif dengan menitik beratkan pada penggunaan kata-kata denotatif.

2)      Sedangkan narasi sugestis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a.       menyampaikan suatu makna atau amanat yang tersirat;
b.      menimbulkan daya khayal;
c.       penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar; dan
d.      bahasanya lebih cenderung ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan pada penggunaan kata-kata konotatif.

Berdasarkan kutipan di atas, tujuan narasi  ekspositoris adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca agar pengetahuannya bertambah luas. Sedangakan narasi sugestis menyampaikan suatu makna kepada pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya, sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi pembaca dari daya khayal yang dikembangkan oleh pengarangnya. Jadi, jelas bahwa antara narasi ekspositoris dan narasi sugestis terdapat perbedaan tujuan pengarang dalam menarasikan suatu kejadian atau peristiwa.

2.3.1.2 Pola Pengembangan Narasi
Menurut Semi (2003:30), tulisan narasi biasanya mempuyai pola. Pola sederhana berupa awal peristiwa, tengah peristiwa, dan akhir peristiwa. Awal narasi biasanya berisi pengantar, yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Dengan kata lain, bagian ini  mempunyai fungsi khusus untuk memancing pembaca dan mengiring pembaca pada kondisi ingin tahu kejadian selanjutnya.
Bagian tengah merupakan bagian yang menjelaskan secara panjang lebar tentang peristiwa. Di bagian ini, penulis memunculkan suatu konflik. Kemudian, konflik tersebut diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda. Bagian terakhir ini konfliknya mulai menuju ke arah tertentu.
Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada bagian diceritakan dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
Berdasarkan  uraian di atas, dapat  disimpulkan bahwa pengembangan tulisan dengan teknik narasi dilakukan dengan mengemukakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara kronologis. Dalam karangan ini, bagian-bagian karangan disajikan sesuai dengan kejadian dalam waktu tertentu. Bagian pertama menyajikan kejadian satu, kemudian disusul dengan kejadian kedua, menyajikan bagian kedua dan seterusnya.
Teknik pengembangan narasi diidetikkan dengan penceritaan (storitelling), karena teknik ini biasanya selalu digunakan untuk menyampaikan sesuatu cerita.  Karangan-karangan berbentuk cerita pada umumnya merupakan karangan fiksi. Namun, teknik narasi ini tidak hanya digunakan  untuk mengembangkan tulisan-tulisan berupa fiksi saja. Teknik narasi ini dapat pula digunakan untuk mengembangkan penulisan karangan nonfiksi  (Syafie’ie, 1988:103). Seorang siswa dapat menuliskan darmawisata, seorang wartawan menuliskan laporan kunjungannya ke suatu negara, seorang arkheologi menuliskan jalannya panggalian sejarah yang dilakukannya.
Untuk menganalisis sebuah narasi dengan lebih cermat perlu kita ketahui narator dalam cerita. Menurut Parera (1993:9),  secara umum narator dalam narasi dapat bagi tiga.
1)      Narator bereaksi, di sini tokoh yang menceritakan cerita itu  merupakan karakter utama. Ia menceritakan cerita itu dalam persona pertama.
2)      Narator sebagai pengamat, di sini narator sebagai pengamat dari pinggir lapangan. Ia menceritakan cerita ini dalam persona ketiga.
3)      Narator sebagai mahatahu, di sini narator tidak termasuk dalam cerita dan tidak berada dalam cerita. Ia berada di atas segala-galanya, ia tahu semua yang terjadi dalam cerita itu. Ia menceritakan dalam persona ketiga.

2.3.2 Eksposisi

Kata ekposisi dipungut dari kata bahasa Inggris exposition sebenarnya berasal dari kata bahasa latin yang berarti membuka atau memulai (Finoza, 2004:204). Menurut Widyamartaya (1992:9-10), ekposisi bertujuan menyampaikan gagasan yang berupa fakta atau hasil-hasil pemikiran dengan maksud untuk memberitahu atau menerangkan sesuatu seperti masalah, mafaat, jenis, proses, rencana, atau langkah-langkah. Jadi, ekposisi adalah tulisan yang bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu. Menurut Semi (2003:35),
bila suatu tulisan yang berupa ekposisi berkecenderungan untuk lebih menekankan pembuktian dari suatu proses penalaran, mempengaruhi pembaca dengan data yang lengkap, berkeinginan mengubah pandangan pembaca agar menerima pendapat penulis, tulisan ekposisi itu secara lebih khusus disebut argumentasi. Bila tulisan ekposisis berkecenderungan untuk menonjolkan perincian atau detail sehingga seolah-olah lengkap bagaikan foto keadaan yang dijelaskan itu sehingga mampu menggugah perasaan pembaca sehingga pembaca bagaikan diajak menyaksikan sendiri peristiwa itu, dan tulisan itu lebih banyak menggunakan susunan ruang, tulisan ekposisi tersebut secara lebih khusus dinamakan deskipsi. Dengan demikian, secara garis besar hanya ada dua jenis tulisan, yaitu narasi ada ekposisi, ekposisis dapat pula membentuk diri menjadi argumentasi atau deskripsi.

Sehubungan dengan hal di atas, pada dasarnya ciri-ciri narasi sama dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh deskripsi dan argumentasi. Adapun ciri-ciri karangan ekposisi menurut  Semi (2003:37), yaitu
1)      berupa tulisan yang memberikan pegertian dan pengetahuan;
2)      menjawab pertanyaan tentang apa, mengapa, kapan, dan bagaimana;
3)      disampaikan dengan lugas dengan bahasa baku;
4)      menggunakan dengan nada netral, tidak memihak, dan memaksakan sikap penulis terhadap pembaca;
Adapun ciri-ciri karangan ekposisi menurut Keraf (1982:4-5), yaitu
(a). ekposisi hanya berusaha menjelaskan atau menerangkan suatu pokok persoalan, (b). keputusan suatu ekposisi diserahkan kepada pembaca, (c). gaya cerita ekposisi lebih cenderung berisi informatif, (d). fakta  yang dipakai dalam suatu ekposisi hanya sebagai alat kontrasasi, yaitu rumusan kaidah yang dibuat itu lebih konkret.

Bedasarkan ciri tersebut karangan ekposisi hanya berusaha menyampaikan sesuatu pemberitahuan, pengetahuan tanpa mempegaruhi minat dan sikap pembaca, Pembaca diberi kesempatan untuk menerima, memutuskan atau menolak tentang sesuatu yang diuraikan penulis. Gaya penyampaiannya cenderung bersifat informatif, artinya penulis juga memberikan penjelasan untuk gagasan, sehingga pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang sesuatu yang dimaksudkan dari gagasan tersebut.
Pemberian informasi penjelasan melalui karangan ekposisi hanya bersifat menguraikan dan memberi pengenalan lanjutan bagi pembaca dan bukan merupakan suatu pembuktian. Penggunaan bahasa dalam karangan ini tidak dipengaruhi oleh unsur subjektifitas dan emosional. Penulis hanya menjelaskan apa adanya dan tidak membubui dengan kata-kata yang menarik minat dan emosi pembaca. Penggunaan kosakata cenderung bermakna denotatif.
Karangan ekposisi berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik. Tujuan utama karangan ini adalah memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk mencapai tujuan yang  diharapkan, pola pengembangan karangan ekposisi biasanya dikembangkan dengan susunan logis dengan pola pengembangan gagasan seperti definitif, klasifikasi, ilustrasi, perbandingan dan pertentangan, dan analisis fungsional (Semi, 2003:37). Karangan ini berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
Jenis karangan ekposisi dapat berupa kisah perjalanan, pemaparan suatu peristiwa atau kejadian, bentuk struktur dan tugas organisasi atau laporan kegiatan. Untuk memperjelas uraian, karangan ini dapat dilengkapi dengan grafik atau gambar.

2.3.3        Deskripsi

Deskripsi dipungut dari bahasa Inggris description. Kata ini berhubungan dengan verba to describe (melukis dengan bahasa). Dalam bahasa latin, deskripsi dikenal dengan describere yang berarti ’menulis tentang’ membeberkan sesuatu hal, melukis sesuatu hal (Finoza, 2004:197-198). Deskripsi adalah tulisan yang tujuannya memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga dapat memberi pengaruh pada sentivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar bagaikan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung objek tersebut (Semi, 2003:41).
Deskripsi bertujuan menyampaikan sesuatu hal dalam urutan atau rangka ruang dengan maksud untuk menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca segala sesuatu yang dilihat, didengar, dicecap, diraba, atau dicium oleh pengarang. (Widyamartaya, 1992:9-10). Jadi, deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya.
Supaya karangan ini sesuai dengan penulisannya, diperlukan suatu pendekatan. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan realistis dan pendekatan impresionistis. Penulis ditutut memotret hal atau benda seobjektif mungkin sesuai dengan keadaan yang dilihatnya, dinamakan pendekatan realistis. Sebaliknya, pendekatan impresionistis adalah  pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara subjektif  (Finoza, 2004:197-198).
Menurut Semi (2003:41), deskripsi ini merupakan ekposisis juga, sehingga ciri umum yang dimiliki oleh ekposisi pada dasarnya dimiliki pula oleh deskripsi. Lebih lanjut, Semi (2003:41) mengatakan bahwa ciri-ciri deskripsi yang sekaligus sebagai pembeda dengan ekposisi adalah sebagai berikut.
1)      Deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail atau perincian tentang objek.
2)      Deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi pembaca.
3)      Deskripsi disampaikan dengan gaya yang nikmat dengan pilihan kata yang menggugah; sedangkan ekposisi gayanya lebih lugas.
4)      Deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar dilihat, dan dirasakan sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam, warna, dan manusia.
5)      Organisasi penyampaiannya lebih banyak menggunakan susunan ruang (spartial order).

Di antara ciri-ciri tersebut yang tidak dimiliki oleh ekposisi adalah gaya yang indah dan memikat sehingga memancing sesitivitas dan imajinasi pembaca atau pendengar. Ada pula deskripsi yang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan juga tidak memancing sensitivitas pembaca, tapi menekankan pada perincian atau detail dengan mengajukan pembuktian atau banyak contoh (mis. deskripsi tentang keadaan ruang praktik atau  deskripsi tentang keadaan daerah yang dilanda tsunami). Oleh sebab itu, karangan deskripsi dibagi atas dua, yaitu deskripsi  ekpositoris (deskripsi teknis) dan deskripsi artistik (disebut juga deskripsi literer, impresionistik, atau sugestif) (Semi, 2003:43). Lebih lanjut, Semi (2003:43) mengatakan bahwa
karangan yang bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa manekankan unsur impresif atau sugestif kepada pembaca, dinamakan deskripsi ekpositorik. Selain itu juga menggunakan bahasa-bahasa yang formal dan lugas. Sebaliknya, deskripsi artistik adalah deskripsi yang mengarah kapada  pangalaman kepada pembaca bagaikan berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi melalui keterampilan penyampaian dengan gaya yang memikat dan pilihan kata yang menggugah perasaan.


2.3.4 Argumentasi
Argumentasi adalah tulisan yang bertujuan menyakinkan atau membujuk pembaca tentang pendapat atau penyataan penulis (Semi, 2003:47). Menurut Widyamartaya (1992:9-10), argumentasi bertujuan menyampaikan gagasan berupa data, bukti hasil penalaran, dan sebagainya dengan maksud untuk menyakinkan pembaca tentang kebenaran pendirian atau kesimpulan pengarang atau untuk memperoleh kesepakatan pembaca tentang maksud pengarang. Tujuan utama karangan ini adalah untuk menyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu dokrin, sikap, dan tingkah laku tertentu. Adapun ciri-ciri karangan narasi menurut Finoza (2004:207), yaitu
1)      mengemukakan alasan atau bantahan sedemikian rupa dengan tujuan mempengaruhi keyakinan pembaca agar menyetujuinya;
2)      mengusahakan suatu pemecahan masalah; dan
3)      mendiskusikan suatu persoalan tanpa perlu mencapai suatu penyelesaian.
Menurut Semi (2003:48), ciri-ciri pengembangan karangan argumentasi-sekaligus merupakan juga ciri pembeda dengan ekposisi adalah  sebagai berikut.
1)      bertujuan menyakinkan orang lain (ekposisi memberi informasi);
2)      berusaha membuktikan suatu penyataan atau pokok persoalan (ekposisi hanya menjelaskan);
3)      menggugah pendapat pembaca (ekposisi meyerahkan keputusan kepada pembaca); dan
4)      fakta yang ditampilkan merupakan bahan pembuktian (ekposisi menggunakan fakta sebagai alat mengkongkretkan).

Berdasarkan pendapat di atas, argumentasi merupakan karangan yang berusaha menjelaskan suatu masalah dengan menyajikan alasan-alasan. Ketika mengembangan karangan ini, Penulis harus menganalisis dan menjelaskan suatu masalah secara terperinci dan mendalam, alasan-alasan yang dikemukakan harus didukung dengan bukti-bukti yang menyakinkan. Dengan kata lain, argumen adalah suatu proses benalar.
Pengarang dapat dapat menggunakan penalarannya dengan metode deduktif induktif. Deduktif merupakan metode benalar yang bergerak dari hal-hal yang bersifat umum ke hal-hal atau pernyataan yang bersifat khusus. Sebaliknya, induktif adalah metode benalar yang dimulai dengan mengemukakan penyatan yang bersifat khusus kemudian diiringi dengan kesimpulan umum.  Pengarang dapat mengajukan penalarannya berdasarkan contoh-contoh, analogi, akibat ke sebab, sebab ke akibat,  dan pola-pola deduktif  ke induktif. 
Argumentasi dan ekposisi merupakan bentuk atau jenis tulisan yang paling banyak digunakan di dalam tulisan-tulisan ilmiah. Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat atau  kesimpulan dengan data atau fakta sebagai alasan atau  bukti. Dalam karangan ini, pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan merupakan penyokong opini tersebut.

2.4 Pembelajaran Mengarang
Belajar dan mengajar merupakan dua istilah dalam dunia pendidikan yang sangat populer. Kedua istilah itu mengacu kepada suatu proses yang terjadi dalam suatu rangkaian unsur yang saling terkait. Belajar berarti berusaha agar memperoleh kepandaian atau ilmu. Kegiatan ini merupakan suatu proses yang terjadi secara bertahap. Tahap-tahap tersebut terdiri dari informasi, transformasi, dan evaluasi. Informasi menyangkut materi yang akan diajarkan, transformasi berkenaan dengan proses memindahkan materi, dan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar (Djamrah, 2000:20). Jadi, belajar adalah suatu proses yang dilakukan untuk menimbulkan perubahan pada anak didik.
Bagaimanapun  bentuknya, proses belajar mengajar harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses belajar mengajar menulis, tujuan tersebut adalah agar siswa memiliki pengetahuan menulis, bersikap positif terhadap ilmu dan aktivitas, serta terampil menulis.
Untuk mencapai tujuan di atas, segala sesuatu harus diupayakan sedemikan rupa sehingga proses belajar mengajar menulis tersebut lebih bermafaat. Sehubungan dengan itu, ada beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengelolaan proses belajar mengajar menulis. Hal itu meliputi materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.


2.4.1 Materi Pembelajaran Mengarang
Pemilihan dan penyusunan materi ajar dalam proses belajar mengajar menulis harus dirancang  sedemikian rupa sehingga materi itu dapat mengarahkan siswa untuk terampil berbahasa Indonesia secara tertulis. Variasi dan bobot kesukaran materi perlu disesuaikan dengan komponen proses belajar mengajar yang lain (siswa, media, dan lain-lain). Bila perlu, materi pembelajaran berasal dari pemikiran, tugas, atau pengalaman siswa.

2.4.2 Tujuan Pembelajaran Mengarang
Secara umum tujuan pembelajaran menulis adalah siswa mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan (Depdiknas, 2003). Oleh karena itu, tujuan proses belajar mengajar menulis hendaknya selalu diarahkan kepada kegiatan terampil menulis. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dalam perencanaan pengajarannya harus memperhatikan poin-poin tertentu yang dapat memudahkannya mencapai tujuan tersebut. Jadi, latihan menulis dengan segala dinamikanya merupakan kunci utama keberhasilan.
Siswa harus dibiasakan  menulis. Hasil tulisan tersebut didiskusikan, sehingga mereka mengetahui kelemahan dan keunggulannya. Berdasarkan hal tersebut diputuskan lah suatu tindak lanjut yang mengarah kepada keterampilan menulis siswa. Sekalipun tujuan pengajaran adalah terampil, bukan berarti aspek yang lain (pengetahuan dan sikap) diabaikan. Artinya, di akhir proses belajar mengajar hendaknya siswa terampil menulis dan mengerti dengan kaidah-kaidah menulis.
Menurut Raimes (1987) (dalam www.puskur.net) tujuan pembelajaran menulis meliputi
(1) memberikan penguatan (reinforcement), (2) memberikan pelatihan (training), (3) membimbing siswa melakukan peniruan atau imitasi (imitation, (4) melatih siswa berkomunikasi (communication), (5) membuat siswa lebih lancar dalam berbahasa (fluency), dan (6) menjadikan siswa lebih giat belajar (learning). Keenam tujuan pedagogis menulis itu secara berurutan dijelaskan berikut ini.  

Untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang diharapkan, khususnya proses belajar mengajar menulis. Penetapan dan pengelolaan perencanaan, proses, evaluasi, dan tindak lanjut pembelajaran merupakan hal utama yang harus dikelola dengan tepat.
2.4.3 Metode Pembelajaran Mengarang
Metode pengajaran merupakan cara mengajar pengajar dalam proses belajar mengajar yang dibina. Pilihan metode yang tepat sangat membantu tingkat ketercapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, pengajar menulis harus dapat menerapkan metode pengajaran dengan tepat. Persoalan penggunaan media juga perlu mendapat perhatian. Metode pelatihan dan diskusi merupakan dua metode yang ampuh dalam rangka menerampilkan pembelajar menulis.
Dalam proses belajar mengajar, siswa disuruh menulis tentang apa saja (sebaiknya materi yang dekat dengan siswa). Hasil tulisan tersebut dikoreksi dan didiskusikan dari berbagai aspek penggunaan  bahasa. Untuk kelas yang besar, pelibatan teman sebaya perlu dilakukan. Dengan kegiatan tersebut, siswa akan mengetahui kelemahan dan keunggulannya dalam hal ketatabahasaan, kelogisan pikiran, dan kaidah-kaidah menulis lainnya.
Selain itu, pengajar hendaknya juga mengetahui pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran menulis. Untuk lebih jelas mengenai model atau pendekatan pembelajaran menulis kita perhatikan perbedaan antara pendekatan tradisional dan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis sebagaimana dikemukakan oleh Tompkins (dalam Gani, 2001:70) pada tabel berikut ini.

. Pada pendekatan tradisional, pengajar memberikan topik tulisan dan setelah siswa mengerjakan tugas tersebut selama satu jam pelajaran, pengajar mengumpulkan pekerjaan siswa untuk dievaluasi. Dengan model pembelajaran seperti ini, biasanya hanya sedikit saja siswa yang dapat menghasilkan tulisan yang baik. Sebagian besar siswa biasanya hanya menghasilkan tulisan yang kurang baik.
            Menyadari terhadap kenyataan yang tidak menguntungkan bagi upaya pengembangan keterampilan menulis bagi siswa seperti digambarkan di atas, selayaknya dapat diterapkan model atau pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, terlebih dahulu perlu diketahui proses kreatif dalam menulis.

2.4.4 Evaluasi Pembelajaran Mengarang
Evaluasi berarti memberi penilaian atau cara menilai. Penilaian merupakan upaya pengumpulan informasi untuk mengetahui seberapa jauh kompetensi berbahasa dan bersastra Indonesia yang sudah dicapai oleh siswa setelah beberapa tatap muka di kelas, pada tenggah semester, akhir semester, atau akhir tahun. Adapun aspek penilaian mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotor), Ketiga aspek ini meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, baik yang berkaitan dengan bahasa maupun sastra Indonesia (Depdiknas, 2003:15-16).
Melalui evaluasi, seorang pengajar dapat (1) mengetahui tingkat ketahuan dan keterampilan menulis siswa, (2) mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dan (3) menentukan kebijakan selanjutnya. Evaluasi proses belajar mengajar menulis hendaknya selalu memperhatikan tujuan pengajaran, materi, dan proses yang telah dilakukan. Sehubungan dengan itu, evaluasi yang tepat menurut hemat penulis adalah kegiatan menulis esai (bentuk tes esai). Dengan kata lain, menulis berdasarkan bentuk gambar susun, komik, atau teks. Kegiatan seperti ini, baik sebagai ransangan untuk pelajar yang masih sederhana tingkat kemampuan berbahasanya. Ransangan-ransangan yang lain dan bentuk tugas yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa dan berpikir siswa, misalnya menulis berbagai laporan, surat, resensi buku, dan sebagainya (Nurgiantoro, 1988:289). Lebih lanjut, Nurgiantoro, (1988:271) mengatakan
tes tugas menulis hendaknya bukan semata-mata tugas untuk (memilih dan) menghasilkan bahasa saja melainkan bagaimana mengungkapkan gagasan dengan mempergunakan bahasa tulis secara tepat. Dengan kata lain, tugas menulis haruslah memeungkinkan terlibatnya unsur linguistik dan ekstralinguistik, memberi kesempatan kepada pelajar untuk berpikir mempergunakan bahasa secara tepat dan juga memikirkan gagasan apa yang dikemukakan.

Evaluasi pembelajaran menulis meliputi kemampuan siswa mengorganisasikan dan mengemukakan gagasan dalam bentuk bahasa yang tepat. Dengan kata lain, penilaian yang dilakukan dalam tes menulis mempertimbangakan  kesesuaian judul, penataan, gagasan, paragraf, diksi, ejaan, tanda baca, dan bahasa dalam kaitanya dengan konteks dan isi.  Apek-aspek ini tidak dinilai sekaligus, melainkan melaui proses dan secara bertahap sebagaimana telah ditentukan dalam kurikulum yang berlaku.
2.5  Wawancara Sebagai Salah Satu Media Pembelajaran Menulis
Media pembelajaran merupakan sarana yang dingunakan oleh siswa atau guru untuk menunjang proses belajar mengajar. Media dan proses penggunaanya mungkin jarang terpikirkan dalam proses belajar mengajar. Media pembelajaran seharusnya dapat meningkatkan itensitas pengajaran menulis. Dengan media pembelajaran, pengajaran akan semakin bergairah, menarik dan mempermudah proses belajar mengajar.
Teks wawancara dapat dingunakan sebagai salah satu media pembelajaran menulis, karena pada hakikatnya, wawancara merupakan tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai sesuatu hal untuk dimuat di surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditanyangkan pada layar televisi (KBBI 2003:1270). Dengan kata lain, teks wawancara bukan lagi hal yang asing  dalam lingkungan siswa.

BAB III
HASIL PENELITIAN

3.1 Hasil Pengumpulan Data
Data penelitian ini adalah kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara. Penilaian terhadap data penelitian ini meliputi aspek substansi dan aspek kebahasaan. Skor aspek substansi adalah 60 yang terdiri atas skor susunan kronologis 30 dan skor kesesuaian isi narasi dengan teks wawancara 30. Adapun skor untuk aspek kebahasaan adalah 40 yang terdiri atas ejaan 10, diksi 10, kalimat efektif 10, dan paragraf 10.
Data penelitian disajikan atau diklasifikasikan dalam tabel. Adapun nilai-nilai yang diperoleh siswa dari hasil tes kemampuan mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara adalah sebagai berikut.
3.2 Pengolahan dan Penganalisisan Data
Data penelitian ini diolah dengan mengunakan teknik stastistik. Pengolahan data yang berupa nilai mentah kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya dalam mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara dilakukan dengan menyusun tabel distribusi frekuensi  dan menghitung nilai rata-rata (mean). Pengolahan data tersebut dilakukan sebagai berikut.

3.2.1 Menyusun Tabel Distribusi Frekuensi
Berdasarkan data nilai kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara, apabila dilihat persentase siswa dalam sebaran nilai klasifikasi Depdiknas (2004) adalah  sebagai berikut.
3.2.2 Menentukan Nilai Rata-Rata (Mean)
Nilai rata-rata kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara adalah sebagai berikut.

Jadi, kemampuan rata-rata siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara adalah 45,39 dan dibulatkan menjadi 45. Apabila nilai rata-rata ini dimasukkan ke dalam klasifikasi nilai mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara, nilai rata-rata (mean) tersebut termasuk kategori  kurang. Dengan kata lain, mereka belum mampu mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara.
Gambaran di atas merupakan kemampuan mereka secara umum. Adapun gambaran kemampuan secara khusus atau berdasarkan aspek penilaian tertentu adalah sebagai berikut.

3.3 Gambaran Kemampuan Siswa Secara Khusus
Kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara dapat dianalisis secara khusus. Secara khusus kemampuan itu diklasifikasikan atas aspek susbtansi dan aspek kebahasaan. Aspek susbtansi terdiri atas kemampuan menyusun kronologis dan kemampuan menyesuaikan isi narasi dengan teks wawancara. Sedangkan aspek kebahasaan meliputi kemampuan menggunakan ejaan, diksi, kalimat efektif, dan paragraf. Untuk mengetahui persentase rata-rata pada setiap aspek penilaian, setiap nilai rata-rata aspek tersebut dibagikan dengan skor maksimal lalu dikalikan dengan seratus.
3.3.1 Kemampuan Menyusun Kronologis

Kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya menggunakan susunan kronologis dalam karangan narasi berdasarkan teks wawancara merupakan aspek utama dalam penilaian karangan siswa. Kemampuan ini dinilai melalui urutan gagasan yang dikembangkan dengan mengunakan urutan kronologis atau urutan waktu. Hubungan yang menyatakan waktu tersebut  ditandai dengan penggunaan kata penghubung, seperti waktu, sewaktu, ketika, tatkala, tenggah, sedang, tiap kali, sebelum, setelah, sesudah, sehabis, sejak, semenjak, selagi, semasa, sementara, selama, setiap, setiap kali, sehingga, dan sampai.
Adapun skor untuk aspek ini adalah 30. Skor maksimal yang diperoleh mereka adalah 26 dan skor minimal 4. Berdasarkan tabel 7, nilai rata-rata kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya dalam mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara pada aspek menyusun kronologis adalah sebagai berikut.
Skor rata-rata aspek kemampuan menggunakan susunan kronologis adalah 12,91 dan dibulatkan menjadi 13. Skor ini terlihat belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan pada aspek ini adalah 30. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menyusun kronologis termasuk dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasian berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata ini (13) dibagikan dengan skor maksimal (30) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 43.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 43 termasuk dalam ketegori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menyusun kronologis tergolong dalam kategori kurang.

3.3.2 Kemampuan Menyesuaikan Isi Narasi dengan Teks Wawancara

Selain kemampuan menyusun kronologis,  kemampuan menyesuaikan isi narasi dengan teks wawancara juga merupakan aspek penilaian dari segi subsatansi. Penilaian ini juga dinyatakan dalam bentuk skor. Skor maksimal yang diperoleh mereka adalah 27 dan skor minimalnya 5. Berdasarkan tabel 7, diketahui bahwa jumlah skor nilai pada aspek ini adalah 756. Untuk mengetahui nilai rata-rata pada aspek ini, jumlah skor rata-rata tersebut dibagikan dengan jumlah siswa.

Jadi, skor rata-rata aspek ini adalah 16. Skor ini belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan pada aspek ini adalah 30. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menyesuaikan isi narasi dengan teks wawancara termasuk dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasian berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata ini (16) dibagikan dengan skor maksimal (30) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 53.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 53 termasuk dalam ketegori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menyesuaikan isi narasi dengan teks wawancara  tergolong dalam kategori kurang.
3.3.3 Kemampuan Menggunakan Bahasa

Analisis data ini dilakukan dengan identifikasi kesalahan-kesalahan menggunakan bahasa. Setelah diidentifikasi, kesalahan-kesalahan berbahasa tersebut diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok tertentu sehingga akan terlihat kesalahan-kesalahan berbahasa yang sering dilakukan oleh siswa. Kemampuan menggunakan bahasa dalam karangan siswa dianalisis meliputi kemampuan menggunakan ejaan, diksi, kalimat efektif, dan paragraf. Adapun prosedur pengolahan data dan gambaran mengenai kesalahan-kesalahan tersebut adalah sebagai berikut ini.
3.3.3.1 Kemampuan Menggunakan Ejaan
Kemampuan menggunakan ejaan dinyatakan dalam bentuk skor. Adapun skor untuk aspek ini adalah 10. Skor maksimal yang diperoleh mereka adalah 8 dan skor minimal 4. Nilai rata-rata kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya menggunakan ejaan dalam  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara adalah sebagai berikut.
Jadi, skor rata-rata aspek ini adalah  5,31 dan dibulatkan menjadi 5. Skor ini terlihat belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan pada aspek ini adalah 10. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menggunakan ejaan termasuk dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata ini (5) dibagikan dengan skor maksimal (10) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 50.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 50 termasuk dalam ketegori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menggunakan ejaan dengan tepat tergolong dalam kategori  kurang.
Adapun kesalahan penggunaan ejaan yang ditemukan pada karangan siswa cukup beragam. Ketidaktepatan menggunaan ejaan tersebut meliputi  (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, dan (4) pemakaian tanda baca. Adapun kesalahan yang sering dilakukan mereka adalah penggunaan tanda baca. Berikut ini akan disajikan beberapa contoh kesalahan penggunaan ejaan tersebut.
(1)  Kadang - kadang mereka juga membantu orang tuanya.
(2)  Bapak terus menerus bekerja.
(3)  Kadang ** pembeli Pak Karim cukup banyak.
(4)  ... anak tersebut bernama adi dan bapak penjual bakso.
(5)  Waktu itu  pak karim tidak memiliki perkerjaan.
(6)  Dia Menanyakan tentang Pak Karim Menjual bakso.
(7)  ”Anak Bapak berapa orang dan sekolah dimana?”
(8)  ....agar keuntunganpun bertambah besar.
 
(9)  Bapak senang di wawancarai.”
(10)   Bertanya apa !

Berdasarkan contoh-contoh di atas, terbukti bahwa kesalahan pengunaan ejaan yang dilakukan siswa sangat beragam. Kesalahan pada kalimat (1) adalah tanda hubung diikuti spasi pada bentuk pengulangan kadang-kadang. Tanda hubung dingunakan untuk merangkai kata ulang. Dalam pedoman ejaan, kata ulang harus dituliskan dengan dirangkaikan tanda hubung. Kesalahan kalimat  (2) tidaka ada tanda hubung pada bentuk  reduplikasi terus menerus. Selain itu, penggunaan angka dua atau bentuk (**) pada bentuk reduplikasi kalimat (3) juga tidak dibenarkan.
Kata adi, bapak pada kalimat (4), dan pak karim pada kalimat (5) merupakan nama orang dan kata penujuk kekerabatan. Bentuk tersebut ditulis dengan huruf awal kapital  karena unsur-unsur nama orang dan kata penujuk kekerabatan seperti bapak, ibu saudara, kakak, adik, paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan ditulis dengan huruf kapital dipakai sebagai huruf pertamanya. Selain itu, pada kalimat (6) kata Menanyakan dan Menjual seharusnya tidak ditulis denga huruf kapital.
Karena di, ke, sering kita temukan serangkai, hal itu tentu melanggar kaidah ejaan. Kata di pada bentuk dimana pada kalimat (7) harus ditulis terpisah dari kata yang mengiringinya karena merupakan kata depan (preposisi). Biasanya bentuk di  sebagai kata depan ini berfungsi menyatakan arah atau tempat dan merupakan jawaban di mana.
Partikel pun pada kalimat (8) ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Kemudian, bentuk di wawancarai pada kalimat (9) merupakan afiksasi. Afiks di- yang berfungsi sebagai awalan membentuk kata kerja pasif harus dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya. Oleh karena itu, penulisan betuk tersebut tidak dipisahkan dari bentuk dasarnya.
Kalimat (10) merupakan kalimat tanya (introgatif). Seharusnya, bentuk apa ! tidak ditulis dengan menggunakan tanda seru (!), melainkan dengan tanda tanya (?). Selain kesalahan tersebut, penulisan tanda baca pun pada kalimat yang sama seharusnya juga tidak dipisahkan dengan kata yang mengikutinya karena bentuk tersebut harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Jadi, kalimat tersebut baru benar bila diubah, seperti berikut.
             (1a )  Kadang-kadang mereka juga membantu orang tuanya.
            (2a)  Bapak terus-menerus bekerja.
            (3a)  Kadang-kadang pembeli Pak Karim cukup banyak.
            (4a) ... anak tersebut bernama Adi dan Bapak penjual bakso.
             (5a) Waktu itu  Pak Karim tidak memiliki perkerjaan.
            (6a) Dia menanyakan tentang Pak Karim menjual bakso.
            (7a) ”Anak Bapak berapa orang dan sekolah di mana?”
            (8a)  ....agar keuntungan pun  bertambah besar.

            (9a)  “Bapak senang diwawancarai.”
  (10a)  Bertanya apa?

3.3.3.2 Kemampuan Menggunakan Diksi
Kemampuan menggunakan diksi merupakan salah satu subaspek penilaian pada aspek penggunaan kebahasaan dalam karangan siswa. Adapun skor maksimal yang diperoleh mereka adalah 8 dan skor minimalnya 2.  Jumlah skor seluruhnya pada aspek ini adalah 220. Untuk mengetahui nilai rata-rata, jumlah skor tersebut dibagikan dengan jumlah sampel, seperti berikut.
 Jadi, skor rata-rata kemampuan menggunakan diksi adalah 4,58 dan dibulatkan menjadi 5. Skor ini terlihat belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan pada aspek ini adalah 10. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menggunakan diksi termasuk ke dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata ini (5) dibagikan dengan skor maksimalnya (10) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 50.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 50 termasuk dalam ketegori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menggunakan diksi tergolong dalam kategori kurang.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini memberi gambaran yang jelas bahwa para siswa banyak melakukan            kesalahan dalam pemilihan kata (diksi). Kesalahan yang mereka lakukan seperti penggunaa bentuk superlatif, penggunaa kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara berganda (poliesemi), dan penggunaan makna kesalingan secara berganda (resoprikal).
Beberapa kata yang  kesalahan pemakaiannya cukup sering dilakukan adalah penggunaan kata-kata yang mirip secara berganda. Berikut ini adalah beberapa contoh kesalahan yang dilakukan siswa dalam memilih kata (diksi).

1) Bentuk superlatif
(1)    Nama anak Pak Karim sangat bagus sekali....
(2)    Anak Pak Karim termasuk anak yang sangat padai sekali.
Kalimat  (1) salah karena kalimat tersebut merupakan bentuk superlatif. Bentuk superlatif merupakan bentuk yang mengandung arti ‘paling’ dalam suatu perbandingan. Bentuk tersebut dapat dihasilkan dengan suatu kata sifat ditambah kata-kata amat sangat, paling, sekali, atau imbuhan ter_ yang mengandung arti ’paling’. Jika kedua kata ini dingunakan sekaligus dalam suatu kalimat, terjadilah sebuah bentuk superlatif yang berlebihan. Jadi, kalimat tersebut baru benar bila diubah, seperti berikut.
(1a)  Nama anak Pak Karim bagus sekali....
(1.b) Nama anak Pak Karim bagus cantik....
(2a) Anak Pak Karim termasuk anak yang padai sekali.
(2a) Anak Pak Karim termasuk anak yang sangat padai.

(2) Penggunaa kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara   
      berganda (poliesemi)

(2)    Lalu Adi bertaya kemudian, di mana Pak Karim membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat bakso tersebut. 

(3)   Adi pun bertanya lagi....
(4)    Anak itu langsung memulai mewawancaranya.
(5)    Mereka berbicara sejak mulai  siang.
(6)   Pak Karim berjualan bakso hanya untuk mempertahankan kehidupan keluarganya saja.
(7)   Banyak orang-orang membeli bakso di tempat Pak Karim.

Kesalahan kalimat (2), (3), (4), (5) (6), dan (7) adalah  terdapat bentuk pleonasme, yaitu kata-kata atau frasa yang berlebihan/berganda maknanya. Bentuk ini bila dihilangkan salah satu unsurnya, maknanya tetap utuh. Kalimat- kalimat tersebut baru benar bila diubah, seperti berikut.
      
(3a) Lalu, Adi bertaya, “Di mana Pak Karim membeli bahan-bahan    
       yang diperlukan untuk membuat bakso tersebut.”

(3b)  Kemudian, Adi bertaya, “Di mana Pak Karim membeli bahan-bahan  
        yang diperlukan untuk membuat bakso tersebut.”

(4a)  Adi pun bertanya....
(4b)  Adi bertanya lagi....
(5a)  Anak itu memulai mewawancaranya.
(5b)  Anak itu langsung mewawancaranya.
(6a)  Mereka berbicara mulai siang...
(6b)  Mereka berbicara sejak siang...
(7a)  Pak Karim berjualan bakso hanya untuk mempertahankan 
        kehidupan keluarganya.

(7b) Pak Karim berjualan bakso untuk mempertahankan kehidupan 
        keluarganya saja.
(8a)  Banyak orang membeli bakso di tampat Pak Karim.
(8b)  Orang-orang membeli bakso di tampat Pak Karim.

3)  Penggunaan makna kesalingan secara berganda (resiprokal)
(8)  Pak Karim dan anaknya saling bantu- membantu.
Kesalahan pada kalimat (8) adalah penggunaan bentuk bahasa yang mengandung arti bebalasan. Bentuk ini  dihasilkan dengan menggunakan kata saling dengan kata ulang beribuhan. Akan tetapi, jika ada bentuk yang berarti ‘berbalasan’ itu dengan cara pengulangan kata sekaligus dengan pengunaan kata saling sehingga terjadi bentuk resiproka, seperti disebutkan pada kalimat (8). Jadi, kalimat tersebut baru benar bila diubah, seperti berikut.

(8a) Pak Karim dan anaknya saling mambantu.
(8b) Pak Karim dan anaknya bantu-mambantu.

Selain itu, penggunaan kata katakan pada kalimat (9) dan jam pada kalimat (10)  berikut ini juga tidak tepat.
(9)   Hal yang pertama ia katakan adalah berbasa-basi.
(10) Bapak buka warung pada pukul 09.00 dan bapak tutup jam 19.00    
        malam.
Seharusnya,  kata tersebut ‘katakan’ diganti dengan kata ‘lakukan’. Kata  jam yang berarti menujukkan rentang waktu atau benda dan pada kalimat (10), seharusnya juga diganti dengan kata pukul yang berarti menujukkan waktu. Jadi, perbaikan terhadap kalimat-kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
 (9a)   Hal yang pertama ia lakukan adalah berbasa-basi.
 (10a)  Bapak buka warung mulai pukul 09.00 sampai  pukul 19.00.
Berdasarkan data penelitian dan sampel kesalahan tersebut, kemampun mereka menggunakan ketepatan pilihan kata, seperti membedakan secara cermat denotasi dari konotasi, membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonmi, dan  membedakan kata umum dan kata khusus masih kurang. Padahal, ketepatan pilihan kata (diksi) menentukan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat.
3.3.3.3 Kemampuan Menggunakan Kalimat Efektif

Sama halnya dengan kemampuan menggunakan ejaan dan diksi, kemampuan menggunakan kalimat efektif juga merupakan salah satu aspek penilaian dari segi penggunaan bahasa dalam karangan siswa. Skor maksimal yang diperoleh mereka pada aspek ini adalah 7 dan skor minimal 2. Adapun nilai rata-rata kemampuan menggunakan kalimat efektif adalah sebagai berikut.
 Skor rata-ratanya adalah 3,79 dan dibulatkan menjadi 4. Skor ini terlihat belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan pada aspek ini adalah 10. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menggunakan kalimat efektif termasuk dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata (4) dibagikan dengan skor maksimal (10) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 40.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 40 termasuk dalam ketegori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menggunakan kalimat efektif tergolong dalam kategori kurang.
Kalimat-kalimat yang dibuat siswa umunya merupakan kalimat tidak efektif. Kalimat tersebut tidak memenuhi syarat-syarat kalimat efektif seperti unsur-unsur kalimat tidak jelas, bagian-bagian kalimat tidak sejajar, bagian kalimat banyak yang dipenggal, bagian-bagian yang sama sering digunakan, dan sebagian kalimat tidak disusun menurut kaidah bahasa tersebut. Adapun kesalahan-kesalahan yang sering dilakukakan berupa ketidaklengkapan fungsi kalimat yang meliputi tidak adanya subjek, predikat yang tidak jelas, kalimat berbelit-belit, pemengalan kalimat, penghilangan konjungsi, dan penggunaan dua konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat. Karena hal tersebut, kalimat-kalimat yang ditata mereka mengandung lebih dari satu kesatuan informasi atau tidak lengkapnya informasi. Oleh karena itu, kalimat yang ditata mereka sering menimbulkan kerancuan dan ketidaktepatan makna.  Berikut ini adalah sampel ketidakefektifan kalimat  tersebut beserta perbaikannya.

1) Pemisahan bagian kalimat majemuk

(1)   Waktu itu Bapak tidak memiliki pekerjaan. Karena pabrik tempat Bapak   
       bekerja bangkrut.

(2) Mereka tetap sekolah. Walaupun Bapak  harus bekerja keras.


Kalimat di atas salah kerena unsur ketarangan pada kalimat tersebut yang ditandai dengan kata karena dan walaupun dipisah menjadi bagian tersendiri. Dengan kata lain, kalimat tersebut dipenggal. Kalimat yang dipenggal itu masih mempuyai hubungan gantung dengan Kalimat lainya. Kalimat yang memepunyai hubungan gantung itu disebut anak kalimat, sedangkan kalimat yang digantunginya disebut induk kalimat. Jika kalimat tungga diawali kata penghubung, bagian kalimat itu akan menjadi anak kalimat yang tidak memiliki induk kalimat.  Kalimat tersebut menjadi benar apabila unsur keterangan itu tidak berdiri sendiri karena bukan merupakan kalimat baru.

(1a) Waktu itu Bapak tidak memiliki pekerjaan karena pabrik tempat Bapak 
        bekerja bangkrut.

(1b) Karena pabrik tempat Bapak bekerja bangkrut, waktu itu Bapak tidak 
         memiliki pekerjaan.

(2a) Mereka tetap sekolah walaupun Bapak  harus bekerja keras.

(2a) Walaupun Bapak  harus bekerja keras, mereka tetap sekolah.


2) Penghilangan konjungsi

(3)   Mendengar jawaban dari Pak Karim, Adi merasa kasihan kepada Pak 
        Karim.

 (4)  Pulang sekolah, mereka membantu Bapak. 


Kalimat di atas salah karena kata penghubung penanda anak kalimat, seperti ketika, setelah, dan agar seharusnya dinyatakan secara gamblang di depan anak kalimat . Jadi, pembenaran kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

(3a) Setelah mendengar jawaban dari Pak Karim, Adi merasa kasihan kepada 
       Pak Karim.

(3b)  Adi merasa kasihan kepada Pak Karim setelah mendengar jawabannya.

(4a)  Ketika pulang sekolah, mereka membantu Bapak.

(4b)  Mereka membantu Bapak ketika pulang sekolah. 


3) Unsur kalimat tidak jelas

(5) Yang kedua yang namanya Nina yang sekolah di SD kelas 3.

(6)    Bapak yang menjual bakso itu.

(7)    Anak bapak itu yang pertama yang bernama Rudi yang duduk di kelas 1 SMP dan anak yang kedua baru duduk di kelas 3 SD.

(8)  Pak Karim akan mengolah bakso dengan istrinnya.


Unsur kalimat  di atas tidak jelas  Kalimat (5) tidak ada subjek dan predikat. Padahal kedua unsur tersebut wajib hadir dalam sebuah kalimat . Kalimat  (6) merupakan kalimat yang belum berpredikat.
Kalimat (7) merupakan kalimat yang belum berpredikat juga. Hal ini terjadi akibat adanya keterangan subjek yang beruntun, kemudian keterangan itu diberi keterangan lagi sehingga penulisnya lupa kalau kalimat yang ia buat itu belum lengkap, belum berpredikat, misalnya sebelum predikat tersebut dicantumkan kata yang atau dan sehingga kalimat predikat menjadi hilang. Jadi, penghilangan kata yang  pada kalimat (7) dapat menghasilkan kalimat yang benar atau kalimat yang mengandung subjek dan predikat. Subjek kalimat ini adalah anak Bapak itu pertama, predikatnya bernama, Rudi pelengkap, dan yang duduk di kelas 1 SMP dan anaknya yang kedua baru duduk di kelas 3 SD merupakan pewatas pelengkap. Jadi, perbaikan kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
Kalimat (8) tidak memiliki  predikat karena didahului kata preposisi akan. Fungsi predikat kabur bila diadahului preposisi. Seharusnya preposisi tersebut (akan) tidak dinggunakan. Jadi, alternatif perbaikan kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
           (5a)  Anak kedua bernama Nina yang sekolah di kelas III SD.

(5b) Nina yang sekolah di kelas III SD merupakan anak kedua.

(6a) Bapak penjual bakso itu.

(7a) Anak Bapak itu bernama Rudi yang duduk di kelas 1 SMP dan anak 
       yang kedua baru duduk di kelas III SD.

            (8a) Pak Karim mengolah bakso dengan isterinya.

            (8a)  Bakso itu diolah oleh Pak Karim dan istrinya.


4)  Penggunaan dua konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat

(9)  Meskipun Pak Karim berkeinginan anaknya sukses tetapi itu tidak  
       dengan mudah membiayai pendidikan mereka.

Penggunaan pasangan kata pada kalimat (9) meskipun...tetapi... pada kalimat tersebut akan menimbulkan kerancuan pikiran. Kata meskipun menyatakan ‘alahan’, sedangkan kata tetapi menyatakan ‘perlawanan’. Penggabungan kedua kata penghubung itu dalam satu kalimat tentulah menimbulkan hubungan pikiran yang tidak logis. Perbaikan kalimat tersebut adalah sebagai berikut.
(9a)   Pak Karim berkeinginan anaknya sukses  tetapi itu tidak
         mudah membiayai pendidikan mereka.

(9b)  Meskipun Pak Karim berkeinginan anaknya sukses, itu tidak
        mudah  membiayai pendidikan mereka.


4) Kaidah penalara

(10) Karena pabrik bapak mulai bangkrut bapak-bapak susah mendapatkan 
        pekerjaan.


Kalimat di atas tidak baku. Kesalahan pertama, penghubung kalimat tersebut seharusnya digunakan tanda koma (,) untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat yang didahului anak kalimat. Kesalahan kedua, kata karena seharusnya diganti dengan setelah. Selain itu, kalimat tersebut juga tidak bernalar. Hal ini terjadi karena pengulangan kata Bapak-bapak. Mustahil Bapak-bapak susah mendapatkan pekerjan karena pabrik Pak Karim bangkrut.  Jadi, alternatif perbaikan kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

(10a) Setelah pabrik Bapak mulai bangkrut, Bapak susah mendapatkan 
         pekerjaan.

(10a) Bapak susah mendapatkan pekerjaan setelah pabrik Bapak bangkrut.

(5)   Kalimat berbelit-belit

(11) Pak Karim berenjual bakso dengan istri dan juga dua orang anaknya, kedua anaknya itu sudah sekolah, yang satu bersekolah di SMP yang kedua sekolah di SD.

Karena beberapa gagasan yang disampaikan digabungkan menjadi satu kalimat, kalimat di atas sukar dipahami. Padahal, jika dipilah-pilah menjadi bagian- bagian yang sejalan dengan pokok pikiran yang dikemukakan, kalimat  tersebut mudah dipahami. Jadi, perbaiakan terhadap kalimat tersebut adalah sebagai berikut.

(11a) Pak Karim berenjual bakso dengan istri dan juga dua orang anaknya. Kedua  anaknya itu sudah sekolah. Anak yang pertama  sekolah di SMP dan anak kedua sekolah di SD.


3.3.3.4 Kemampuan Menyusun Paragraf
Selain kemampuan menggunakan ejaan, diksi, dan kalimat efektif, kemampuan menyusun paragraf  juga merupakan salah satu bagian dari penilaian pada aspek kebahasaan. Adapun skor untuk aspek ini adalah 10. Skor maksimal  yang diperoleh mereka adalah 5 dan skor minimal 2. Berdasarkan tabel 7, nilai rata-rata kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya pada aspek ini adalah sebagai berikut.

Skor rata-rata pada aspek ini adalah 3,16 dan dibulatkan menjadi 3. Skor ini terlihat belum memenuhi harapan karena skor maksimal yang diharapkan  pada aspek ini adalah 10. Untuk mengetahui skor atau nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya  tentang kemampuan menyusun paragraf termasuk dalam kategori mana, nilai rata-rata tersebut diklasifikasian berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas. Oleh karena itu, nilai rata-rata ini (3)  dibagikan dengan skor maksimalnya (10) lalu dikalikan dengan seratus (100). Jadi, nilai rata-rata tersebut adalah 30.
Berdasarkan klasifikasi nilai Depdiknas, skor 30 termasuk dalam ketegori sangat kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan mereka dalam menyusun paragraf tergolong dalam kategori  sangat kurang.
Bardasarkan uraian di atas, nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada aspek penggunaan paragaraf merupakan nilai terendah. Kesalahan yang sering terjadi adalah tidak adanya kesatuan gagasan dalam paragraf tersebut. Selain itu, ada pula karangan siswa yang terdiri lebih dari satu paragraf, tetapi paragraf tersebut belum belum memenuhi sayarat-sayarat paragraf yang baik. Dengan kata lain, paragraf itu belum ada kesatuan atau keutuhan gagasan, kepaduan susunan (koherensi), dan kelengkapan atau ketuntasan gagasan. Adapun contoh kesalahan penggunaan paragraf adalah sebagai berikut.

Contoh 1
(1) Pak Karim harus membuka usaha nya lebih besar lagi, untuk mebiayai pendidikan anaknya . (2) Adi memberi saran ” Bapak tidak usah kuatir , sekarang bantuan untuk pendidikan kita banyak sekali .(3) Mereka yang pinter akan diberikan beasiswa , malah ada yang disekolahkan keluar Negeri . (4) Kadang ** pembeli pak Karim cukup banyak , itulah yang menjadi suka dan kadang ** pak karim merasa kesepian , itulah dukanya . (5) Baiklah terimakasih pak , ya , nak .


Contoh (2)
(1) Pak karim sekarang tidak kuatir lagi. (2) Sebabnya bantuan untuk pendidikan sekarang sudah meningkat dan sering diberi beasiswa, bahkan ada juga dikirimkan ke luar negeri. (3) Sukanya Pak Karim jika pembeli ramai.


Contoh 3
Pada suatu hari ada seorang bakso yang sedang di wawan cari oleh seorang para kariawan. Dia bertanya kepada bapak itu. Bertanya apa !


Parangraf (1) di atas tidak memiliki kesatuan gagasan. Paragraf tersebut terdapat bukan satu gagasa utama, melainkan empat gagasa utama atau topik. Topik tersebut meliputi (1) ”Pak Karim harus membuka usahanya yang lebih besar lagi”, kalimat (2) dan (3) membicarakan saran si Adi untuk Pak Karim”, kalimat (4) membicarkan tentang suka dan duka pak Karim.” Selain itu, kalimat (5) Baiklah terimakasih pak , ya , nak juga merupakan gagasan baru. Gagasan pragraf ini bisa dikembangkan menjadi beberapa paragraf baru, seperti berikut.

Perbaikan (1a)
Adi memberi saran kepada Pak Karim. Pak Karim harus membuka usahanya yang lebih besar lagi untuk mebiayai pendidikan anaknya. Selain itu, dia juga menyarankan agar Pak Karim tidak usah kuatir  dengan biaya pendidikan sekarang  karena biaya untuk pendidikan kita itu sangat banyak. Sebagian  mereka yang pintar disekolahkan keluar negeri.


Perbaikan (1b)
Kadang-kadang pembeli bakso Pak Karim cukup banyak. Hal itu membuat dia menjadi senang. Sebaliknya, jika pembelinya sepi, beliau juga ikut sepi. Hal ini sudah biasa beliau alami.

         
Perbaikan (1c)
Si Adi mewawancarai Pak Karim hampir satu jam. Akhirnya, dia mengakhiri wawancaranya dengan mengucapkan terima kasih kapada Pak Karim. Pak Karim pun menjawab ucapan si Adi dengan senang hati.


Paragraf (2) terdiri atas dua gagasan utama. Kalimat  (1) ”Pak karim sekarang tidak kuatir lagi.”  dan (2)“ Sebabnya bantuan untuk pendidikan sekarang sudah meningkat dan sering diberi beasiswa, bahkan ada juga dikirimkan ke luar negeri.” membicarakan saran untuk Pak Karim. Kemudian, kalimat (3)  ”Sukanya Pak Karim jika pembeli ramai.” membicarakan tentang kesenangan Pak Karim.

Perbaikan (2a)
Pak Karim sekarang tidak usah kuatir lagi. Bantuan pendidikan kita sudah meningkat atau sering diberi beasiswa. Sebagian mereka yang pintar disekolahkan ke luar negeri.

 
Meskipun terdiri lebih dari satu kalimat, paragraf (3) belum tuntas atau tidak lengkap. Pikiran utama dalam paragraf tersebut belum dikembangan secara memadai. Paragraf tersebut lebih bersifat garis besar.  Dalam kalimat tersebut belum ada kalimat penjelas yang memaparkan tentang apa si pewawancara bertanya dan siapa penjual bakso itu atau pewawancara tersebut.
        
Perbaikan (3a)

Pada suatu hari, ada seorang penjual bakso diwawancarai oleh seorang  pewawancara. Penjual bakso itu bernama Adi dan pewawancaranya bernama Pak  Karim. Dia bertanya kepada Bapak itu. Petanyaannya dimulai dengan menanyakan kisah perjalanan penjual bakso tersebut.
  

Umunya paragraf yang dikembangaka siswa tidak memiliki peryaratan sebuah paragraf yang baik, seperti tidak adanya kesatuan, kohesi atau penyatuan, kecukupan pengembangan, susuan yang berpola.
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa mereka belum mampu mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara sebagaimana diharapkan. Ketidakmampuan ini terlihat pada aspek substansi dan aspek kebahasaan. Aspek substasi yang paling dominan terlihat adalah pada aspek kemampuan menyusun kronologis. Sedangkan aspek kebahasaan, para siswa umumnya belum mampu menggunakan ejaan secara benar, menggunakan diksi secara tepat, menata kalimat dengan efektif, dan menyusun paragraf  dengan baik. Pemakaian unsur ejaan, umumnya tanda baca dalam karangan siswa banyak ditemukan kesalahan. Penggunaan diksi pun masih kurang tepat. Penggunaan kalimat kebanyakan merupakan kalimat-kalimat yang tidak efektif. Selain itu, paragraf yang digunakan merupakan paragraf yang tidak memiliki syarat paragraf yang baik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ketidakmampuan siswa di SMP ini dalam  mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara terletak pada kedua aspek tersebut. Pertama adalah aspek substansi, yaitu ketidakmampuan mahami jenis karangan terutama karangan narasi. Selain itu juga karena ketidakmampuan mereka  menggunakan bahasa Indonesia yang benar sebagai sarana komunikasi tulis.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibicarakan pada bab III di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara torgolong kurang.  Hal ini dilihat melalui nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya secara umum, yaitu berada pada kategori kurang (40-54). Dilihat dari segi persentase, siswa memperoleh nilai pada kategori sangat baik tidak ada sama sekali,  kategori baik 6 orang atau 12,5%, kategori cukup 10 orang atau 20,8%, kategori kurang 7 orang atau 14,5% dan sisanya 25 orang atau 52,0% berada pada ketegori sangat kurang.
Adapun rincian nilai rata-rata kemampuan siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara secara khusus adalah sebagai berikut.
1)      Nilai rata-rata menyusun kronologis tergolong dalam kategori kurang, yaitu 43;
2)      Nilai rata-rata menyesuaikan isi narasi dengan teks wawancara  tergolong dalam kategori kurang, yaitu 53;
3)      Nilai rata-rata menggunakan ejaan tergolong dalam kategori  kurang, yaitu 5;
4)      Nilai rata-rata kemampuan mereka dalam menggunakan diksi tergolong dalam kategori kurang, yaitu 50.
5)      Nilai rata-rata menggunakan kalimat efektif tergolong dalam kategori kurang, yaitu 40;
6)      Nilai rata-rata menyusun paragraf tergolong dalam kategori sangat kurang, yaitu 30.
Ketidakmampuan siswa kalas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks wawancara meliputi aspek substansi dan aspek kebahasaan. Pada aspek substasi, kesalahan yang dominan adalah aspek menyusun kronologis. Adapun aspek kemampuan menggunakan bahasa, para siswa umumnya belum mampu menggunakan ejaan secara benar, menggunakan diksi secara tepat, menata kalimat dengan efektif, dan menyusun paragraf  dengan baik.

4.2 Saran
Kemampuan menulis siswa kelas I SMPN 1 Kecamatan Seunagan Kabupaten Nagan Raya belum maksimal. Oleh karena itu, siswa perlu mendapatkan pembelajaran yang intensif dalam pembelajaran menulis. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pembelajaran menulis. Peningkatan pembelajaran menulis dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti
5)      meningkatkan tingkat penguasaan kosa kata dengan banyak baca;
6)      menguasai keterampilan mikrobahasa, seperti penggunaan tanda baca, kaidah-kaidah penulisan, diksi, penataan  kalimat dengan struktur yang benar, dan penggunaan paragraf yang baik;
7)      menemukan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa; serta
8)      menggunakan media pembelajaran menulis yang efektif.
Selain itu, untuk meningkatkan keterampilan menulis, guru haruss banyak memberikan latihan menulis kepada siswa. Latihan itu divariasikan dalam berbagai bentuk. Tekniknya disajikan data verbal, gambar, tabel, teks, peta, bangan. Dari data-data tersebut, siswa diminta untuk menulis sebuah karangan. Dengan melakukan kegiatan seperti ini, siswa terlatih untuk mengembangkan logika, daya imajinasi, dan kemampuan menggunakan bahasa yang benar. Hal ini dilakukan untuk mengaktifkan daya kreatif siswa dalam mengasah kecerdasan mereka. 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Saiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Dididik dalam Pambelajaran Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
            . 2003. Kurikulum 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah         Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdiknas.
. 2004. Pengembangan Media Materi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta. Depdiknas.
                    .  Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).  diakses 1 Maret 2006).
Finoza, Lamuddin. 2004. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Insan Mulia.
Gani, Erizal. 2001. Pemberdayaan Pengajaran Menulis; Upaya       Menumbuhkembangkan Kemahiran Menulis Sejak Dini. Denpasar:              Balai Bahasa Denpasar.
Keraf, Gorys. 1987. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.
            . 1982. Ekposisi dan Deskripsi. Cetakan Kedua. Jakarta: Nusa Indah.
Kurniawan, Khaerudin. 2006. Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.
Marahami, Ismail. 2005. Menulis Secara Populer. Cetakan Kelima. Jakarta: Pustaka Jaya.
Mahmud, Saifuddin. 2003.  Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Banda Aceh: Dinas Pendidikan NAD dan Universitas Syiah Kuala.
Narcholis, Hanif. 2004. Saya Senang Berbahasa Indonesia untuk SD Kelas V. Jakarta: Erlangga.
Nurgiantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. BPFE: Yogyakarta.
Parera, Jos Daniel. 1993. Menulis Tertip dan Sistematis. Jakarta: Erlangga.
Purwo, Bambang Kaswati. 1990. Pragmatik dalam pengajaran Bahasa. Yogyakarata Karnisius.
Semi, M. Atar. 2003. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.
Syafie’ie, Imam. 1988, Retorika dalam Menulis. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menyimak Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
. 1994. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Trimantara,  Petrus. 2005. ”Metode Sugesti-Imajinasi dalam Pembelajaran Menulis dengan Media Lagu”. Jurnal Pendidikan Penabur, No.05/ Th.IV: 2-5.
Umar, Husein. 2005. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:      PT Raja Grafindo Persada.
Widyamartaya, A. 1992. Seni Menuangkan Gagasan. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Karnisius.

                    





KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN KARANGAN NARASI BERDASARKAN TEKS WAWANCARA OLEH SISWA KELAS I SMPN

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!