Thursday, January 17, 2013

Kumpulan Contoh Skripsi Pertanian Agribisnis KOMODITAS TANAMAN WORTEL


MANAJEMEN AGRIBISNIS
TENTANG
(AGRIBISNIS KOMODITAS TANAMAN WORTEL)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Kebutuhan sayur sayuran wortel terus mengalami peningkatan yang ditandai dengan kenaikan jumlah produksinya. Pada tahun 1990 jumlah produksi wortel tercatat 172 ribu ton dan pada tahun 1991 meningkat menjadi 176 ribu ton. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, pengetahuan dan kebutuhan masyarakat akan makanan yang bergizi.Adanya peluang usaha dibidang komoditi .
oleh PT JORO (PMA Belanda) dan PTPN XII (Persero) untuk menjalain kerjasama mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang hortikultura yang bernama PT ROLAS INDUSTRI AGRO NUSANTARA (RIAN) yang berlokasi di Bondowoso. Dengan kemampuan menejerial standart PMA, teknis pengendalian mutu, serta penguasaan hasil yang baik, sebenarnya bagaimanakah prospek budidaya wortel di PT ROLAS INDUSTRI AGRO NUSANTARA (RIAN)?
B.     Rumusan masalah

1.       Bagaimana  Pedoman teknis budidaya?
2.      Bagaimana bentuk Rotasi lahan setelah pasca panen?
3.       Bagaimana cara untuk memperkembang ekspor wortel ?
4.      Bagaimana bentuk Panen dan pasca panen?
5.      Bagaimana  Manajemen pemasaran?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui  Pedoman teknis budidaya
2.      Untuk memahami bentuk Rotasi lahan setelah pasca panen
3.       Agar memahami cara untuk memperkembang ekspor wortel
4.      Untuk memahami cara bentuk Panen dan pasca panen
5.      Untuk mengetahui Bagaimana  Manajemen pemasaran


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

.(Nur Berlian A.V. dan Estu R.,2000)Secara lebih spesifik wortel di Belanda di kelompokkan berdasarkan bentuk dan kegunaan sebagaimana table 2.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R (2000) kebutuhan benih wortel per hektar sebanyak 300.000-400.000 biji atau 1,5 kg-3 kg dengan benih local.
Menurut Bejo Zaden B.V Guide Book (TK Tunas Harapan) kebutuhan benih wortel perhektar sebanyak 1 juta-1,5 juta biji untuk type nantes varietas Newton dan 500 ribu- 1 juta biji untuk type flakee varietas kamaran.
Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Menurut Agrobis (2000), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kemasan yaitu:
a.Desain harus menarik, informative, dan memberikan image yang baik, kuat, namun mudah di buka.
b.Informasi dan pelabelan, jelas berisi perihal perusahaan, macam produk, cara penyimpanan, dll.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000), pengemasan merupakan suatu cara untuk melindungi atau mengawetkan wortel,juga memperlancar transportasi dan distribusi ke konsumen.

BAB III
PEMBAHASAN
A.    SEJARAH SINGKAT
Wortel (Daucus carrota) dikenal hampir di setiap negara termasuk Indonesia. Sayuran ini cukup popular di kalangan masyarakat. Di hampir setiap daerah terutama wortel banyak dijual di pasar sehingga mudah di peroleh. Tak heran jika di tanah air, wortel  lebih dikenal masyarakat dibandingkan dengan sayuran umbi lainnya misalnya lobak.

Wortel/carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis) yaitu berasal dari Asia Timur Dekat dan Asia Tengah. Ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu. Rintisan budidaya wortel pada mulanya terjadi di daerah sekitar Laut Tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa, Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh bagian dunia yang telah terkenal daerah pertaniannya, selanjutnya berkembang ke Eropa, Afrika Utara, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Kalangan Internasional menyebutnya Carrot.
Wortel merupakan tanaman sayuran umabi semusim berbentuk semak. Sayuran ini dapat tumbuh sepanjang tahun, penghujan maupun kemarau. Wortel memiliki batang pendek yang hampir tidak tampak. Akarnya berupa akar tunggang yang berubah bentuk dan fungsi menjadi bulat dan memanjang yang selanjutnya dinamakan umbi. Bagian umbi inilah yang dimanfaatkan untuk konsumsi makanan sehari-hari.
1.      Sentra Penanaman
Di Indonesia budidaya wortel pada mulanya hanya terkonsentrasi di Jawa Barat yaitu daerah Lembang dan Cipanas. Namun dalam perkembangannya menyebar luas ke daerah-daerah sentra sayuran di Jawa dan Luar Jawa. Berdasarkan hasil survei pertanian produksi tanaman sayuran di Indonesia (BPS, 1991) luas areal panen wortel nasional mencapai 13.398 hektar yang tersebar di 16 propinsi yaitu; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya.
2.       Taksonomi Tanaman Wortel
Dalam dunia tumbuhan, klasifikasi tanaman wortel selengkapnya adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Klas : Angiosspermae
Subklas : Dycotyledoneae
Ordo : Umbelliferae/Apiaceae/Ammiaceae
Genus : Daucus
Spesies : Daucus carrota
3.   Kandungan Gizi Wortel
Umbi wortel berwarna kuning kemerahan yang disebabkan oleh kandungan karoten yang tinggi, yakni suatu senyawa kimia pembentuk vitamin A atau provitamin A, kulitnya tipis, memiliki rasa manis dan renyah. Wortel memiliki kandungan gizi yang banyak diperlukan oleh tubuh terutama sebagai sumber vitamin A. Dibandingkan dengan sayuran lainnya, nilai vitamin A wortel 12.000 SI, nilai ini lebih rendah dari daun pepaya 18.250 SI, dan daun singkong 13.000 SI. Selain vitamin A, wortel mempunyai kandungan gizi yang lain Tabel 1 mencantumkan komposisi gizi wortel yang disusun Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI.
3.        Tipe dan varietas yang dibudidayakan
Wortel dapat dibedakan menurut panjang umbinya menjadi 3 macam, yakni wortel yang berumbi pendek, berumbi sedang, dan berumbi panjang.(Nur Berlian A.V. dan Estu R.,2000)Secara lebih spesifik wortel di Belanda di kelompokkan berdasarkan bentuk dan kegunaan sebagaimana table 2.
PT. RIAN Divisi Jampit sekarang membudidayakan 3 type yaitu type nantes dengan varietas Newton dan nevis, type berlikum dengan varietas Bradford dan type flakee dengan varietas kamaran.Selain type dan varietas tersebut, pernah pula dibudidayakan 4 type lainnya yaitu type chantenee dengan varietas Carson, type paris dengan varietas parmex, type amsterdamse bak dengan varietas mokum dan type baby dengan varietas mignon.
Varietas yang dibudidayakan tersebut merupakan varietas yang sesuai dengan kondisi iklim dan struktur tanah di Jampit karena sebelum diusahakan dalam skala besar di lahan telah dilakukan uji coba di lahan R&D. Kesesuaian tersebut dapat dibuktikan dengan resistannya varietas tersebut terhadap hama dan penyakit yang ada seerta hasil yang optimal.
Iklim Dan Kondisi Tanah Sebagai Syarat Tumbuh Unsur-unsur yang berperan dalam pertumbuhan tanaman wortel meliputi curah hujan, temperatur, dan ketinggian tempat, kelembaban, sinar matahari dan angin.
a.       Curah Hujan
Tanaman wortel membutuhkan air yang banyak dalam pertumbuhannya. Kebutuhan air secara alami dapat dipenuhi dari air hujan. Air yang berlebih menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit dan sebaliknya kekurangan air menyebabkan tanaman kering dan akhirnya mati.
Berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson, iklim yang cocok untuk pertumbuhan tanaman wortel adalah iklim A (sangat basah), B (basah), dan C (agak basah). Curah hujan di afdeling Jampit rata-rata 1857 mm/tahun dengan bulan basah selama 10 bulan dan bulan kering selama 2 buln. Kondisi tersebut termasuk iklim B berdasarkan penggolongan Schmid-Ferguson. Curah hujan 6 tahun terakhir sebagai berikut:
b.      Temperatur dan Ketinggian
Tanaman wortel akan tumbuh dengan optimal pada daerah bertempetatur rendah. Oleh karenanya lebih cocok di tanam di daerah dataran tinggi, yakni daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 700 m di atas permukaan air laut. Namun demikian wortel dapat ditanam di daerah yang lebih rendah misalnya 400 m di atas permukaan air laut tetapi hasil produksinya lebih sedikit. Tanaman wortel akan tumbuh dengan optimal pada ketinggian 1200-1500 m di atas permukaan air laut.
c.          Kelembaban
Tanaman wortel memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kelembaban. Semakin tinggi letak tempat semakin tinggi pula kelembaban sehingga tanaman wortel tidak terlalu banyak penguapan. Begitupun sebaliknya, semakin rendah letak tempat semakin rendah pula kelembaban dan akan banyak sekali penguapan.
d.       Sinar matahari
Pada pertumbuhannya, tanaman wortel membutuhkan sinar matahari secara penuh (tidak ternaungi) sebagai sumber energi untuk pembentukan gula melalui proses fotosintesis dan pembentukan umbi tanaman. Tanaman yang kurang sinar matahari pertumbuhannya akan terhambat dan memanjang.
e.        Angin
Angin membantu tanaman dalam melakukan penyerbukan. Angin dengan kisaran kecepatan 19-35 km/ jam dapat menerbangkan serbuk sari. Angin menjadi sangat penting perannya bagi budidaya tanaman wortel yang diambil benihnya

f.       Kondisi tanah
Menurut klasifikasinya, beberapa jenis tanah yang sesuai untuk budidaya tanaman wortel antara lain regosol, latosol, dan andosol dengan kisaran pH 5,5-6,5.
Berdasarkan data analisis tanah, jenis tanah di Jampit adalah regosol, struktur tanah remah, tekstur lempung berpasir dengan prosentase pasir lebih banyak dan sedikit debu. Tanah ini banyak mengandung kalium dengan pH tanah 5,5-6. Topografi lahan datar yang berada di lembah gunung dengan lapisan olah tanah 4 sampai 5 meter.
Keadaan iklim menurut klasifikasi Schmid-Ferguson termasuk type B (basah) dengan 10 bulan basah (Oktober-Juli) dan 2 bulan kering (Agustus-September). Rata-rata curah hujan untuk 6 tahun terakhir (1997-2002) adalah 1857,5 mm/tahun. Temperatur minimum 50C dan maksimiu 200C. Kelembaban udara berkisar antara 90%-95%.
B.     PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Proses Budidaya Wortel
1.      Benih
Tanaman wortel diperbanyak dengan bijinya, Biji untuk penanaman dikenal dengan istilah benih. Benih yang berkualitas tinggi merupakan langkah awal peningkatan produksi. Benih wortel dapat diperoleh dengan 2 jalan yakni membeli dari toko pertanian dan menyiapkan sendiri melalui proses penyerbukan, tanaman dipelihara hingga berbiji untuk diambil benihnya.
Pada budidaya wortel yang dilakukan PT. RIAN Divisi Jampit benih diperoleh dengan jalan membeli. Pembelian dilakukan secara import dari industri benih BEJO ZADEN B.V yang berlokasi di Warmenhuizen Holland. Benih yang diimport tersebut telah diujicoba oleh bagian Research and Development PT. RIAN Divisi Jampit dan terbukti bermutu tinggi. Hal ini terbukti dengan tingginya daya kecambah yang mencapai 98%, tahan terhadap hama dan penyakit serta memberikan hasil produksi yang tinggi.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R (2000) kebutuhan benih wortel per hektar sebanyak 300.000-400.000 biji atau 1,5 kg-3 kg dengan benih local. Menurut Bejo Zaden B.V Guide Book (TK Tunas Harapan) kebutuhan benih wortel perhektar sebanyak 1 juta-1,5 juta biji untuk type nantes varietas Newton dan 500 ribu- 1 juta biji untuk type flakee varietas kamaran. Kebutuhan benih pada budidaya yang dilaksanakan di PT. RIAN Divisi Jampit setiap hektarnya menggunakan 19 kemasan benih atau sebanyak 0,25 kg.
Benih yang diimport tersebut dikemas dalam bentuk kemasan berukuran 11,5 cm x 17 cm. Terbuat dari kertas minyak di bagian luar dan aluminium foil di bagian dalam. Dalam satu kemasan terdapat 25.000 biji dengan berat rata-rata 10,08 g per 1000 biji. PT. RIAN Divisi Jampit tidak memproduksi benih sendiri dengan jalan membiarkan tanaman hingga berbiji untuk di ambil benihnya karena akan memakan waktu, biaya dan tenaga yang lebih besar. Sedangkan benih import dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Selain itu terdapat suatu keyakinan bahwa benih generasi kedua memiliki perbedaan yang signifikan dalam hasil produksi dan ketahanan terhadap penyakit.
Pengolahan Tanah
2.       Penggemburan
Keadaan fisik dan struktur tanah sangat berpengaruh pada pembentukan umbi wortel. Tanaman wortel memerlukan tanah yang berstruktur gembur dan mengandung bahan organic. Tanah yang keras akan sulit ditembus oleh akar sehingga bentuk wortel tidak lurus namun berbelok atau dapat pula bercabang dan kecil.
Pengolahan tanah bertujuan untuk menciptakan kondisi yang sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Pada pengolahan tanah, struktur tanah dapat di perbaiki, sirkulasi udara menjadi lebih baik, lapisan tanah yang kaya humus dapat dibalik sehingga dapat digunakan oleh tanaman, pupa ulat tanah dan mikroorganisme patogen di dalam tanah dapat mati oleh panas sinar matahari.
Penggemburan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor dengan kedalaman 30-40 cm Setelah lahan di bajak selanjutnya dilakukan pengapuran secara manual yang bertujuan membersihkan lahan dari gulma dan menghancurkan bongkahan tanah yang masih tersisa menjadi butiran.
3.      Pembuatan bedengan
Tanah yang sudah digemburkan dibuat alur atau bedengan. Arah bedengan sebaiknya dibuat membujur dari timur ke barat, agar tanaman menerima sinar matahari sebanyak-banyaknya. Bedengan dibuat dengan lebar 140 cm, tinggi 30 cm, dan panjang menyesuaikan dengan kondisi lahan, biasanya sepanjang 100 m. Pada kanan dan kiri bedengan dibuat parit selebar 40 cm dengan kedalaman +25 cm. Parit ini berfungsi untuk saluran drainase serta memudahkan penanaman dan pemeliharaan.

Setelah bedengan terbentuk, bagian atas bedengan diratakan dengan alat sederhana yang terbuat dari papan yang memiliki system kerja meratakan permukaan. Hal ini dilakukan agar alat tanam dapat bekerja dengan mudah dan bedengan terlihat lebih rapi. Dalam I ha terdapat 58 bedengan.
4.      Penanaman
a.       Waktu tanam
Di Jampit wortel dapat ditanam sepanjang tahun. Di musim penghujan air dapat terpenuhi dari air hujan dan di musim kemarau air dapat diperoleh melalui system irigasi tetes. Tanaman wortel dapat ditanam secara tumpangsari namun di Jampit di tanam secara monokultur.
b.      Cara penanaman
Benih wortel ditanam secara langsung tanpa disemai terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar akar tunggang tidak terputus sehingga penampilan wortel tetap lurus. Pertimbangan lain, karena ukuran benih cukup besar (1,6 mm-1,8 mm) sehingga tingkat kerusakan dan hilangnya benih di lahan sangat kecil. Benih ditanam menggunakan alat tanam (earth way). Alat tersebut dilengkapi dengan disc yang telah disesuaikan untuk menyemaikan benih wortel.
Prinsip kerja alat tersebut adalah membuat larikan sebagai penunjuk penanaman. Larikan tersebut memanjang sepanjang bedengan, dengan jarak antar larikan 20 cm sehingga dalam satu bedengan terdapat 4 larikan. Setelah larikan terbentuk maka dibuat lubang tanam dengan kedalaman 1,5 cm. Setelah lubang tanam tertutup benih tertanam, ditutup tanah dan ditekan. Tahapan kerja tersebut dapat dilakukan dalam satu kali jalan.

Penggunaan alat tersebut diawali dengan meletakkan benih pada kotak benih yang ada pada earth way dan mendorongnya. Benih akan tertanam secara otomatis. Semakin cepat laju alat maka jarak semai akan semakin lebar. Satu kemasan benih berisi 25.000 biji, dapat disemai pada 2 bedengan atau 8 larikan. Benih akan berkecambah pada umur 7-10 hari setelah tanam.
5.  Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan salah satu hal terpenting dalam budidaya wortel dalam rangka memperoleh hasil yang optimal. Pemeliharaan tanaman meliputi pengairan, pemupukan, penjarangan, penyiangan, dan pengendalian hama dan penyakit.
1. Pengairan
Tanaman membutuhkan air dalam proses prtumbuhannya termasuk wortel . Secara alami kebutuhan air dapat dipenuhi dari air hujan, namun di musim kemarau dimana ketersediaan air sangat terbatas maka diperlukan irigasi. Ketersediaan air yang kurang dan tidak tersedia secara kontinyu menyebabkan kracking pada umbi wortel terutama type nantes varietas nevis. Menurut Larry G. James (TT) irigasi pertanian memiliki fungsi sebagai berikut:
a.       Mendinginkan tanah dan tanaman
Pada saat panas terik, suhu lingkungan sekitar tanaman khususnya tanah meningkat begitu pula dengan suhu tanaman. Akhir dari peningkatan suhu adalah penguapan baik tanah maupun tanaman. Untuk menjaga suhu tanah maupun tanaman stabil diperlukan irigasi.
b.      Perlindungan dari embun es/fross
Pada saat terjadi fross, daun tanaman tertutup embun es, apabila dibiarkan mencair akibat panas matahari berakibat tanaman mati. Hal ini terjadi karena pada saat fross sitoplasma sel membeku lalu terkena sinar matahari. Suhu sitoplasma meningkat secara drastic akibatnya dinding sel pecah dan tanaman mati. Dengan irigasi terutama system springkel, tanaman yang terkena fross disiram sebelum matahari terbit sehingga embun es mencair sebelum matahari terbit. Oleh karena itu peningkatan suhu dalam sel meningkat secara perlahan sampai matahari terbit.
c.        Memacu pertumbuhan vegetatif menunda pembuahan
Pada tanaman sayur berbentuk buah misalnya paprika (Capsicum autuum) tersedianya air yang melimpah mengakibatkan pertumbuhan vegetatif, sebaliknya air yang tidak kontinyu mempercepat pertumbuhan generatif.
d.      Mengendalikan erosi yang disebabkan oleh angin
Kecepatan angin mampu menerbangkan butiran-butiran tanah, dengan adanya irigasi tanah menjadi basah dan lebih berat serta solid sehingga tidak mudah terbawa angin.
Mempercepat perkecambahan benih
Benih akan berkecambah dengan cepat pada tanah yang lembab dan agak basah.
e.       Media penerapan bahan kimia
Melalui irigasi dapat pula dilakukan pemberian fungisida maupun pemberian unsur hara.
f.       Pengendalian limbah cair
Melalui irigasi air tidak langsung menuju ke lahan melainkan melalui filter-filter terlebih dahulu sehingga air terbebas dari limbah.
Sistem irigasi yang digunakan PT. RIAN Divisi Jampit dalam budidaya tanaman wortel adalah irigasi tetes dimana air melalui pipa berdiameter + 1,5 cm yang dipasang memanjang, sepanjang bedengan. Air akan keluar dari lubang-lubang yang terdapat pada pipa/selang dalam bentuk tetes-tetes air. Dalam satu bedengan terdapat 2 buah pipa/selang.Menurut Yos Van Der Knaap, lahan seluas 1 ha membutuhkan 35 m3 air per hari atau 3,5 liter air/m2 dalam 1 hari.
Penyiraman dilakukan mulai benih di semai sampai menjelang panen sedangkan waktunya dapat dilakukan pagi atau sore hari tergantung dari sebagian besar kondisi tanah. Larry G. James (TT), terdapat tiga indikasi perlunya dilakukan penyiraman yaitu indikator tanaman, indikator tanah, dan teknik persediaan air. Indikator tanaman dapat dilihat dengan mudah misalnya tanaman layu dan berwarna pucat. Indikator tanah dapat dilihat apabila tanah mulai mongering dan tidak solid.
2. Pemupukan
Selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman memerlukan unsur hara yang dapat diperoleh dari pupuk. Pemupukan pada tanaman wortel dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan waktu pemberiannya yaitu pupuk dasar dan pupuk lanjutan. Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000) pupuk yang diberikan saat tanam adalah pupuk kandangsebanyk 15 ton/ha, SP-36 sebanyak 100 kg/ha, urea sebanyak 100 kg/ha dan KCl sebanyak 30 kg/ha. Untuk mendapatkan produksi umbi yang sempurna tanaman diberi pupuk susulan/lanjutan. Pupuk lanjutan pertama pada umur 2 minggu setelah tanam berupa 50 kg urea. Pupuk lanjutan kedua diberikan pada umur 1-1,5 bulan berupa urea sebanyak 50 kg/ha dan KCl sebanyak 20 kg/ha. Pupuk diberikan dengan jalan ditabur membentuk larikan sepanjang bedengan berjarak 5 cm dari tanaman dan ditutup dengan tanah. Dosis pemupukan dapat berubah sesuai dengan kondisi tanah.

            Pemupukan yang dilakukan PT. RIAN Divisi Jampit secara garis besar sama, terdapat pupuk dasar dan pupuk lanjutan. Pupuk dasar diberikan saat tanam terdiri dari pupuk kandang sebanyak 6 m3/ha dan SP-36 sebanyak 500 kg/ha. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara menyebarkannya di permukaan bedengan secara merata dan menutupnya dengan tanah. Pupuk lanjutan menggunakan pupuk daun Topsil-D dengan dosis 10-30 gr/10 l air. Intensitas pemberian 1-2 kali seminggu. Pemberian pupuk dapat dilakukan bersama dengan pemberian fungisida dan insektisida.
3. Penyiangan
Gulma adalah tanaman lain yang tumbuh liar di sekitar tanaman. Dalam pertumbuhannya gulma menjadi kompetitor tanaman wortel dalam memperoleh air, cahaya matahari, dan unsur hara.
            Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman wortel berumur + 15 hari karena pada umur tersebut mulai dapat dibedakan antara tanaman wortel dengan gulma. Penyiangan perlu sekali dilakukan karena pada umur tersebut pertumbuhan gulma lebih cepat di banding pertumbuhan tanaman wortel. Penyiangan kedua dilakukan seiring dengan pertumbuhan gulma. Di bagian tepi, penyiangan dilakukan menggunakan cangkul dan di bagian tengah bedengan digunakan alat sederhana berupa tabung berlapis spon yang terus menerus dibashi herbisida. Herbisida yang sering digunakan adalah Round Up dengan dosis 2 1/1000 liter air /ha. Tabung yang digunakan berdiameter 10 cm dengan panjang + 15 cm. Tabung tersebut mampu bergerak memutar akibat dorongan dan spon yang melapisi tabung yang dibashi dengan herbisida akan membasahi gulma yang tumbuh di antara tanaman wortel yang berbentuk larikan.
4. Penjarangan
Tanaman wortel yang berumur + 1 bulan dengan tinggi + 5 cm perlu dilakukan penjarangan yang bertujuan memberikan jarak antar tanaman sehingga umbi wortel dapat terbentuk dengan sempurna. Dalam penjarangan tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dan tumbuhnya terlalu dekat dicabut. Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000) jarak antar tanaman dalam baris menjadi 5-10 cm namun pada Divisi Jampit jarak antar tanaman + 5 cm.
5.      Pengendalian Hama Dan Penyakit
            Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000) hama yang sering mengganggu tanaman wortel adalah kutu daun (Semiaphis dauci), manggot-manggot (Psila rosae), ulat tritip (Plutella maculipennis), kumbang Bothymus gibbosus, ulat Anagrapha falafera, kumbang Listronatus oregoneuses dan ulat Crocidolomia binotalis. Sedangkan penyakit yang biasa menyerang tanaman wortel adalah bercak daun Cescospora, hawar daun Altenaria dauci dan busuk umbi Altenaria radicina.
            Menurut Yos Van Der Knaap penyakit yang menyerang tanaman wortel adalah Altenaria sedangkan hama yang menyerang adalah kutu daun (Aphid), ulat (Caterpillar) dan ulat tanah.Pada budidaya yang dilakukan di Jampit, penyakit yang menyerang tanaman wortel adalah hawar daun. Penyakit ini disebabkan jamur Altenaria dauci (Kuhn)Groves et Skolko. Gejala yang muncul yaitu pada daun terjadi bercak-bercak kecil berwarna coklat tua sampai hitam dengan tepi kuning. Bercak membesar dan bersatu hingga mematikan daun. Infeksi pada tangkai daun menyebabkan bercak memanjang yang berwarna seperti karat.
Pengendalian penyakit tersebut dapat digunakan fungisida dengan bahan aktif Thiram, Iprodion, dan Metalaxyl. Thiram tidak bisa diperoleh di Indonesia. Fungisida yang terbukti efektif adalah Rovral 50 WP dengan bahan aktif Iprodion. Dosis yang digunakan 0,5 gr/l atau 400-800 l/ha. Fungisida ini bersifat kuratif. Fungisida kedua adalah Ridomil Zeta MZ 8/64 WP dengan bahan aktif metalaxyl. Dosis yang digunakan 3-5 gr/l atau 400-800 l/ha. Fungisida ini bersifat kuratif dan untuk hasil optimal perlu dicampur dengan fungisida berbahan aktif mankozeb. Fungisida ketiga adalah Vondozep dengan bahan aktif mankozeb. Dosis yang digunakan 1-2 gr/l atau 400-800/ha. Fungisida ini bersifat preventif.
            Hama yang dijumpai mengganggu adalah ulat Crocidolomia binotalis. Ulat kecil dengan panjang + 18 mm berwarna hijau. Menyerang daun bagian dalam dengan meninggalkan bekas gigitan sehingga daun berlubang. Gangguan yang ditimbulkan hama tersebut sangat kecil. Pengendalian hama ini menggunakan insektisida Meothrin 50 EC. Dosis yang digunakan 2-4 ml/liter atau 0,5-1 liter/ha. Insektisida ini bekerja sebagai racun kontak dan lambung.
            Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah caranya sehingga tidak membahayakan jiwa. Selain itu penggunaan pestisida harus tepat waktu, tepat dosis, dan tepat sasaran. Tepat waktu berarti pemberian pestisida pada waktu yang tepat yaitu di pagi hari dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB atau pada sore hari pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Waktu antara pukul 10.00-15.00 WIB, suhu udara tinggi sehingga pestisida akan dengan mudah menguap atau tidak dapat terserap olehta secara sempurna karena stomata mengecil untuk mengurangi penguapan (untuk pestisida sistemik). Tepat waktu berati pula tepat dengan cara kerja pestisida kuratif atau preventif dan kontak atau sistemik. Tepat sasaran berarti pestisida tersebut harus efektif mengendalikan hama dan penyakit. Tepat dosis berarti sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Dosis yang terlalu tinggi dapat membahayakan keseimbangan ekosistem karena predator alami akan ikut mati sedangkan dosis yang terlalu rendah menyebabkan pestisida kurang efektif dan harus digunakan berulang kali. Keduanya merupakan suatu pemborosan biaya dan tenaga. Hal terakhir yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pestisida adalah 2 minggu menjelang panen pestisida tidak boleh digunakan lagi untuk menghindari keracunan pada konsumen. Pada musim penghujan penggunaan pestisida ditambahkan perekat dan perata. Perekat dan perata yang biasa digunakan adalah Agristick dengan dosis 0,25-0,5 ml/liter air.
6. Pemanfaatan  tanaman wortel
1.  Kejang Jantung Bahan: umbi wortel, 2.  sendok madu, dan 1 potong gula aren; Cara membuat: wortel diparut dan diperas dengan 2 gelas air, kemudian dioplos dengan bahan lainnya sampai merata; Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari. 2. Eksim a. Bahan:1 umbi wortel dan 1 sendok teh kapur sirih; Cara membuat: wortel diparut dan dicarnpur dengan kapur sirih sampai merata; Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian yang sakit dan dibalut dengan verban. b. Bahan: 3 umbi wortel; Cara membuat: diparut dan disedu dengan 2 gelas air masak; Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari. 3. Cacing Kremi Bahan: 5-7 umbi wortel, garam dan santan kelapa secukupnya; Cara membuat: wortel diparut, kemudian ditambah dengan bahan lainnya; Cara menggunakan: diperas dan disaring, kemudian diminum menjelang tidur malam. 4. Mata Minus Bahan: umbi wortel secukupnya; Cara membuat: diparut dan diperas untuk diambil airnya; Cara menggunakan: diminurn setiap pagi hari secara teratur.
C.    Panen Dan Pasca Panen
1. Panen
Ciri-ciri tanaman wortel sudah saatnya dipanen adalah sebagai berikut:
a)      Tanaman wortel yang telah berumur ± 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100-120 hari setelah tanam (hst). Varietas Caroline 95 hst., Varietas All Season Cross 120 hst., Varietas Royal Cross 110 hst., Kultivar lokal Lembang 100-110 hst.
b)      Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua (terlambat) dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkatu, sehingga kualitasnya rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian pula panen terlalu awal hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil-kecil, sehingga produksinya menurun (rendah).
Khusus bila dipanen umur muda atau "Baby Carrot" dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
a.       umur panen sekitar 50-60 hari setelah tanam.
b.      ukuran umbi sebesar ibu jari tangan, panjangnya antara 6-10 cm dan diameternya sekitar 1-2 cm. Dalam pemanenan hal yang harus diperhatikan adalah umur panen dan cara panen. Pemanenan yang tidak tepat waktu menyebabkan mutu produk akan menurun. Misalnya sayuran yang di panen terlalu tua maka komoditi tersebut tidak disukai konsumen dan berharga rendah.
Pada tanaman wortel terdapat dua fase pertumbuhan. Pertumbuhan vegetatif berakhir pada saat wortel berumur 70 hari. Setelah umur tersebut wortel masuk pada masa kematangan (maturity). Pada masa tersebut karakter bentuk dan ukuran umbi mulai terbentuk pada tiap-tiap varietas, kadar gula meningkat, terbentuk karakter rasa dan aroma serta lapisan kulit menjadi lebih cerah. Pada varietas Newton dapat di panen pada umur 100 hari dan varietas nevis dapat di panen pada umur 105 hari.

Cara panen tanaman wortel adalah dengan jalan mencabut batangnya. Pencabutan dilakukan dengan hati-hati agar umbi tidak patah, lalu dimasukkan dalam keranjang. Dalam memasukkan dalam keranjang haruslah hati-hati agar wortel tidak saling berbenturan satu sama lain.
2. Pasca panen
Umbi yang telah di panen selanjutnya di otong tangkainya sepanjang + 5 cm, dibersihkan dari batang daun yang tua dan kurang sehat. Hasil penelitian PT. DIF Nusantara, wortel yang disimpan dengan sedikit batang mampu bertahan lebih lama daripada wortel yang disimpan tanpa batang daun.
Tahap selanjutnya adalah pencucian yang menggunakan bak dengan air yang terus mengalir. Pencucian dilakukan menggunakan kain yang halus sehingga tidak melukai kulit wortel. Pencucian ini dilakukan dengan tujuan mempercantik penampilan wortel. Hasil penelitian yang dilakukan di Belanda, wortel akan lebih tahan lama apabila disimpan dalam cold storage pada suhu 1-2O C tanpa dicuci.

Kegiatan selanjutnya adalah sortasi, grading, dan sizing. Sortasi adalah pemilihan wortel yang baik dan pemisahan dari yang jelek. Grading adalah proses sortasi berdasarkan kualitas dan sizing adalah pengelompokan produk berdasarkan ukuran.

Pada wortel yang tidak termasuk mutu I dan mutu II dikategorikan dalam mutu III dan Baby. Masing-masing mutu ditempatkan dalam keranjang dan tersusun rapi. Khusus mutu III dan Baby dipasarkan melalui PT.DIF Nusantara dengan system konsinyasi. Kedua mutu tersebut terbukti dapat terjual namun memerlukan rentang waktu yang lebih lama jika dibandinagkan dengan mutu I dan II. Di Belanda, wortel yang telah melalui tahapan sortasi, grading dan sizing ditempatkan dalam keranjang kayu. Pada dasarnya keduanya sama namun keranjang yang terbuat dari plastik memiliki keunggulan struktur kuat dan tahan lama, ringan, interior halus dan dapat di cuci.
Walaupun telah dipanen, buah dan sayur tetap melanjutkan proses hidup seperti respirasi dan transpirasi, begitu pula wortel. Respirasi adalah suatu proses oksidasi biokimia pada sel yang hidup. Respirasi menghisap O2 dan mengeluarkan CO2 serta panas, dan merupakan kebalikan dari fotosintesis. Wortel rata-rata mempunyai kandungan air 75-90%. Kehilangan kandungan air sebanyak 5-10% dapat menyebabkan hilangnya rasa. Kedua hal tersebut perlu diperhaitkan untuk memperoleh mutu yang baik walaupun wortel tergolong sayuran yang memiliki daya respirasi rendah. Untuk menghambat kedua proses tersebut perlu dilakukan Pre Cooling, dengan meletakkan pada Cold storage dengan suhu 0,5-10C. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh PT. RIAN Divisi Jampit karena tenaga listrik tidak tersedia secara kontinyu. Wortel yang telah melalui tahapan sortasi, grading dan sizing serta ditempatkan dalam keranjang plastik kemudian ditimbang. Hasil timbangan di catat dalam surat bukti pengiriman sayur. Selanjutnya wortel dikirim ke PT. DIF Nusantara dengan mobil yang dilengakapi cold box.
D.    ROTASI LAHAN
Rotasi lahan atau pergiliran lahan adalah pengaturan susunan urut-urutan lahan dalam bentuk blok-blok yang sistematis pada suatu tempat dalam luasan areal tertentu. Tujuan rotasi lahan yang dilakukan oleh PT. RIAN Divisi Jampit adalah sebagai berikut:
a.  Menjaga struktur dan kesuburan tanah
Suatu tanaman memrlukan unsure hara tertentu dalam jumlah lebih besar dan menyisakan unsur hara lainnya yang diperlukan oleh tanaman lain. Adanya pergiliran lahan, unsur hara pada tiap-tiap blok dapat terjaga keseimbangannya.
b.  Menjaga keseimbangan ekosistem.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali.
c.  Mengendalikan hama dan penyakit secara alami.
Budidaya satu jenis tanaman pada satu lahan secara terus menerus dapat menyebabkan pertumbuhan hama dan penyakit tidak terkendali, dengan rotasi lahan populasi hama dan penyakit akan terkontrol secara alami karena tumbuhan yang tumbuh berganti atau
E.      MANAJEMEN PEMASARAN
A. Manajemen Pemasaran PT. RIAN
Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Hasil panen yang dihasilakn oleh PT. RIAN Divisi Jampit selanjutnya dipasarkan melalui PT.DIF Nusantara dengan system konsinyasi.
Manajemen Pemasaran PT. DIF Nusantara
Kegiatan pemasaran dilakukan oleh PT. DIF Nusantara yang berlokasi di Denpasar Bali. PT. DIF Nusantara merupakan anak perusahaan dari PT. JORO yang bergerak di bidang pemasaran hortikultura. Kegiatan pemasaran yang dilakukan PT. DIF Nusantara tidak terbatas pada penjualan sayuran saja melainkan juga beberapa jenis buah dan bunga seperti heliconia.
Suplier PT. DIF Nusantara tidak hanya berasal dari PT. RIAN Divisi Jampit untuk sayuran dan Divisi Heliconia untuk bunga. Daftar supplier dan konsumen PT. DIF Nusantara sebagaimana tabel 6 dan 7 terlampir. Wortel yang dikirim oleh PT. RIAN Divisi Jampit menggunakan kendaraan yang dilengkapi cold box di timbang ulang kemudian dimasukkan cold storage dengan suhu 6-7 0C. Proses penimbangan ulang yang dilakukan hanya sebagai cara untuk memeriksa ulang berat sayuran yang bersangkutan. Pengemasan baru dilakukan saat menerima order dari konsumen.

Pengemasan
Pengemasan dilakukan pagi hari setelah order diterima pada hari sebelumnya. Pengemasan wortel dapat dibedakan menjadi 2 bentuk. Bentuk pertama dikemas dalam plastik dan di press yang dikenal dengan kemasan “pepito” berisi 1 kg wortel. Bentuk kedua menggunakan styrofoam yang dibungkus dengan plastik film atau wraping, berisi 1 kg wortel pula. Pengemasan ini bertujuan memperindah penampilan dan mengurangi transpirasi.
Menurut Agrobis (2000), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kemasan yaitu:
a.Desain harus menarik, informative, dan memberikan image yang baik, kuat, namun mudah di buka.
b.Informasi dan pelabelan, jelas berisi perihal perusahaan, macam produk, cara penyimpanan, dll.
Menurut Nur Berlian V.A dan Estu R. (2000), pengemasan merupakan suatu cara untuk melindungi atau mengawetkan wortel,juga memperlancar transportasi dan distribusi ke konsumen. Kemasan yang biasa digunakan dibedakan menjadi 2 yaitu:
a.Kemasan karung plastik untuk tujuan ke pasar induk atau grosir.
b.Kemasan film plastik sehingga tampil baik, rapi, dan menarik untuk keperluan dijual di supermarket.
F.     Perkembangan Ekspor Wortel
Jepang merupakan target pasar yang baik untuk komoditas sayur-sayuran di masa yang akan datang. Hal ini terlihat dari tingginya impor komoditas tersebut selama 25 tahun terakhir. Wortel dan lobak misalnya, walaupun produksi dalam negerinya cukup baik, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun 1993, produksi wortel dan lobak adalah sebesar 709.000 ton akan tetapi Jepang masih mengimpor komoditi tersebut sebesar 9.266 ton, dengan nilai ¥ 677 million. Pada tahun 1994, volume impor malah meningkat menjadi 18.212 ton, dengan nilai ¥ 1.2 billion.
Pada saat ini negara pengekspor wortel dan lobak ke Jepang adalah Taiwan, China, USA, New Zealand and Australia. Indonesia belum berpartisipasi banyak dalam mensuplai komodtitas tersebut ke Jepang. Pada tahun 1993, volume ekspor Indonesia terhadap komoditi tersebut hanya 7 ton, dengan nilai ¥ 1.3 million, tetapi pada tahun 1994 ekspor Indonesia tidak ada sama sekali. Hal ini merupakan fenomena yang kurang baik bagi perdagangan wortel kita mengingat produksi wortel Indonesia sangat baik.
Produksi Dalam Negeri
Luas areal tanam untuk wortel di Jepang terus berkurang dari tahun ke tahun.berkurang dari tahun ke tahun. Kalau pada tahun 1987 luas arealnya adalah 23.000 ha maka pada tahun 1992 luas arealnya hanya 2.300 ha. Namun demikian produksi wortel dalam negeri tidak mengalami penurunan bahkan, sebaliknya. Pada tahun 1987 produksi wortel dalam negeri sebesar 669.300 ton, sedangkan pada tahun 1992 produksinya naik menjadi 690.300 Mts. Ini berarti bahwa ada peningkatan produksi untuk wortel. Bahkan pada tahun 1993 produksi dalam negerinya meningkat menjadi 709.000 ton.

Berbeda dengan lobak, luas areal tanam untuk komoditi ini mengalami penurunan tetapi tidak sedrastis pada tanaman wortel. Demikian juga produksinya mengalami penu-runan dari tahun ke tahun selama periode 1987-1992. Total produksi lobak pada tahun 1992 (197.700 ton) turun sebesar 8,7 % dibandingkan dengan total produksi dalam negeri tahun 1987.
Konsumsi Dalam Negeri
Konsumsi dalam negeri dihitung dengan mengurangi total volume ekspor dariproduksi dalam negeri dan impor. Dari data statistik perdagangan pertanianJepang terlihat bahwa ekspor wortel dan lobak dimulai pada tahun 1994. Oleh karena data produksi pada tahun tersebut tidak tersedia maka angka konsumsi dalam negeri akan dihitung berdasarkan data pada tahun 1992. Pada tahun 1992 produksi dalam negeri wortel dan lobak adalah 888.000 ton. Sedangkan total import untuk komoditas tersebut pada tahun yang sama adalah 2.967 ton. Karena kegiatan ekspor untuk komoditas tesebut pada tahun 19 pada tahun 1992 belum ada, maka konsumsi domestik untuk wortel dan lobak adalah 890.967,4 ton. Jika jumlah penduduk jepang pada tahun tersebut sebanyak 124.452.000 orang, maka konsumsi per kapita untuk komoditas tersebut adalah 7.2 kg.
Sejarah Impor
Pada tahun 1994, Jepang mengimpor sebanyak 18.212,5 ton.wortel dan lobak, baik dalam bentuk segar maupun dalan bentuk dingin, dengan total nilai ¥ 1,2 milyar. Jika dibandingkan dengan total impor pada tahun 1990, maka angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 400 persen. Volume importnya memangpengalami penurunan sebesar 7.039 ton pada tahun 1992 dari angka tahun 1991 (70.3%), tetapi sejak saat itu volume impor bertambah setiap tahun.
Demikian juga untuk nilai impornya, mengalami tren yang sama dengan volume impor. Kalau pada tahun 1990 nilai impornya mencapai ¥ 331,3 juta, maka pada tahun 1991 nilainya bertambah menjadi ¥ 713,5 juta. Nilai impor turun drastis sebesar & yen; 477,5 juta (67.1%) pada tahun 1992 dibandingkan dengan keadaan tahun 1991,tetapi sejak saat itu nilai impor naik sebesar ¥ 981.9 juta
Market Share Impor
Taiwan adalah pengekspor utama wortel dan lobak ke Jepang, walaupun kontribusinya ke negara tersebut berfluktuasi selama lima tahun terakhir. Pada tahun 1990, Taiwan menguasai hampir seluruh pemasaran wortel dan lobak di pasar Jepang dengan ‘market share’ sebesar 95.4 %. Pada tahun 1994, walaupun dominasi Tailand pun dominasi Taiwan masih tinggi namun market share negara ini terhadap wortel dan lobak hanya sebesar 52 %. China menunjukkan kemajuan yang pesat dalam perdagangan wortel dan lobak ke Jepang. Selama periode 1990-1993 kontribusinya di pasar Jepang masih sangat rendah, yaitu sebesar 1 %. Namun pada tahun 1994, market share negara ini telah mencapai 29 persen. New Zealand and USA adalah negara terbesar ketiga dan keempat mensuplai wortel dan lobak ke Jepang, masing dengan market share sebesar 7.2 % dan 6.2 % pada tahun 1994.
Indonesia baru mulai mengekspor wortel dan lobak ke Jepang pada tahun 1993 sebanyak 7 ton dengan total nilai sebesar ¥ 1,35 juta. Sayangnya kegiatan ekspor initerhenti pada tahun-tahun selanjutnya. Hal ini perlu dirintis lagi mengingat Indonesia adalah negera penghasil wortel dan lobak yang baik. Memang saingan kita adalah negara-negara yang maju, namun bukan tidak mungkin Indonesia dapat menembus pasar Jepang.
Musim Impor
Musim sangat penting diperhatikan bila ingin terjun dalam bisnis sayur-sayuran di pasar Jepang karena hal ini sangat berpengaruh terhadap produksi dan konsumsi dalam negeri negara Sakura tersebut. Walaupun dari statistik perdagangan terlihat bahwa kegiatan impor wortel dan lobak ini berjalan sepanjang tahun namun ada bulan-bulan tertentu dimana kegiatan impornya sangat intensif sehingga volume impornya pada periode tersebut lebih tinggi dari bulan lainnya.
Pada tahun 1994, total volume impor dari wortel dan lobak adalah 18,212 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.6 % nya disupplai pada bulan Desember. Hal ini disebabkan karena musim dingin pada bulan tersebut yang menyebabkan produksi sayur-sayuran di Jepang terhenti sama sekali. Pada bulan Februari volume impornya sangat rendah, yaitu hanya sebesar 0.01 % dari total impor pada tahun1994 tersebut.
USA, Taiwan, Australia and New Zealand adalah negara yang paling konsisten melakukan kegiatan ekspor selama tahun 1994 . USA (kecuali Januari) dan Taiwan (kecuali Februari) mengeskpor wortel dan lobak sepanjang tahun. New Zealand absen pada bulan Januari dan Oktober dan Australia absen pada bulan Januari dan Februari. Korea Selatan mengekspor wortel dan lobak ke Jepang hanya pada bulan Desember.
Sistem Distribusi
Umumnya semua produk-produk pertanian yang di impor ke Jepang (termasuk wortel dan lobak) melalui sistem pasar induk. Salah satu perusahaan yang bergerak dalam hal ini adalah Seiko yang biasanya membeli produk-produk pertanian melalui importir dan kemudian menjualnya lagi ke pasar induk yang lebih kecil. Dari sini kemudian produk tersebut masuk ke distributor, supermarket dan ke retailer.Beberapa importer menjual produknya langsung ke supermarket.
Harga
Harga di Tingkat Pasar Induk Harga rata-rata per tahun komoditas wortel dan lobak di tingkat pasar induk adalah sebesar ¥122/kg pada tahun 1994, ¥2 lebih rendah dibanding pada tahun 1993. Analisa terhadap perkembangan harga rata-rata di tingkat pasar indukselama tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa secara umum, harga umumnya tinggi selama July-September, yaitu pada saat supplai rendah.
Harga rendah selama periode Oktober-Desember, yaitu pada saat supplai tinggi. Harga rata-rata tahunan wortel ti tingkat pasar induk naik dari ¥123/kg pada tahun 1993 ke ¥168/kg pada tahun 1994. Harga ini lebih stabil dibandingkan dengan harga lobak, tetapi harga ini sedikit tinggi pada bulan Agustus dan September.
G.    HARGA PER UNIT
Harga rata-rata per unit satuan untuk wortel dan lobak yang diimpor selama empat tahun terakhir adalah ¥ 71.9/kg. Pada tahun 1994, hara rata-rata per unit paling tinggi untuk wortel dan lobak USA, diikuti dengan wortel dan lobak Canada, Australia, Vietnam, Singapore, Taiwan dan China yaitu berturut-turut senilai ¥ 153.6/kg, ¥ 90.9/kg, ¥ 83.9/kg, ¥ 81.7/kg, ¥66.2/kg dan ¥45.7/kg .Untuk tahun 1994, rata-rata harga bulanan per unit satuan tertinggi pada bulan, yaitu sebesar ¥ 199.1/kg. Hal ini semata-mata karena pada bulan tersebut hanya USA yang mengekspor wowrtel ke Jepang dan dari keterangan sebelumnya terlihat bahwa harga wortel USA paling tinggi. Namun, secara umum harga per unit untuk komoditas tersebut tinggi selama periode Juli - Oktober (Gambar 7). Hal ini disebabkan karenaebabkan karena pengaruh iklim/ musim dingin yang akan segera tiba pada bulan tersebut dan produksi dalam negeri biasanya sangat rendah pada bulan-bulan tersebut.

Peraturan Impor
Biasanya sayuran segar dijual/ekspor segera setelah waktu panen, sehingga sangat rawan sebagai host dari berbagai penyakit ataupun serangan binatang lainnya. Oleh karena itu untuk jenis komoditas ini perlu penanganan pasca panen yang lebih intensif dan teliti. Bagi negara-negara impotir, kesegaran merupakan prioritas utama yang dilihat pada saat tiba di pelabuhan, baru kemudian pengecekan dilakukan terhadap beberapa faktor seperti : negara asal, nama/perusahaan importir/eksportir, ‘disinfection treatment’, dan (jika ada) prosedur ekspor dari negara asal.
Sampel dari tiap-tiap komoditi secara acak diambil dan diperiksa apakah ada mengandung penyakit atau binatang lainnya. Jika ditemukan hal-hal yang mencurigakan maka akan dilakukan tindakan : desinfeksi atau dihancurkan, atau komoditas tersebut harus segera diangkut keluar nari negara tersebut. Inspeksi terhadap sayuran segar bisanya dilakukan pada tempat-tempat berikut : Pelabuhan laut : Adair, Muroran, Tokyo, Kawasaki, Yokohama, Nagoya, Yokkaichi, Kobe, Osaka, Shimonoseki, Moji, Hakata, Kagoshima, Naha. Pelabuhan Udara : New Chitose Airport, New Tokyo International Airport (Narita Airport), Tokyo International Airport (Haneda Airport), Nagoya Airport (Komaki Airgoya Airport (Komaki Airport), Kansai International Airport, Fukuoda Airport (Itatuke Airport, Nagasaki Airport.
Grades Dan Standar Yang Dikehendaki Konsumen
Uraian secara lengkap untuk informasi ini, misalnya mengenai warna, ukuran (panjang dan besar) untuk wortel sangat terbatas. Untuk lobak, ada tigas jenis ukuran yang beredar di pasar Jepang. Yang pertama adalah yang disebut tipe 2L, yang mempunyai berat sekitar 1.3 kg per buah dan bisanya terdapat 8 buah untuk setiap ukuran 10 kg kardus. Tipe yang kedua adalah tipe L, beratnya berkisar antara 1.0 - 1.3 kg dan biasanya terdapat 10 buah dalam kardus yang sama. Yang ketiga adalah tipe M yang mempunyai kisaran berat antara 0.7 - 1.0 kg dan terdapat 12 buah dalam setiap kardus.

Tariff Rates
Sesuai dengan petunjuk dalam Tariff Rates Schedule, Japanese Finance Ministry, 1995, wartel dan lobak dari Indonesia dikenakan tarif sebesar 5 %.Bagi negara-negara yang tidak termasuk anggota WTO dikenakan tarif sebesar 10 %.

Prospek Ekspor Dari Indonesia
Mengingat produksi wortel di Indonesia sangat baik dan petani kita sudah berpengalaman dalam budidaya wortel, maka terbuka kemungkinan untuk mengarahkan ekspor wortel kita ke Jepang. Untuk itu memang harus dilakukan penelitian akan kriteria/karakteristik yang dikehendaki oleh konsumen Jepang. Khususnya pada saat ini, wortel dan lobak belum termasuk daftar sayuran yang dilarang untuk diimp sayuran yang dilarang untuk diimpor dari Indonesia, sehingga lebih mempermudah proses ekspor komoditi tersebut ke Jepang.
Pada tahun 1993, luas areal pertanaman wortel adalah 15.558 ha dimana hampir separuhnya ada di Jawa, dengan total produksi wortel segar sebesar 201.332 ton. Dari jumlah tersebut yang diekspor baru sejumlah 3.034 ton dengan nilai US$ 402.825. Daerah penghasil utama wortel adalah Jawa Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah dan Jawa Timur.


BAB IV
PENUTUP
      kesimpulan
Dengan memperhatikan bab III diatas penyusn dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan adalah sebagai berikut :
Wortel merupakan tanaman sayuran umabi semusim berbentuk semak. Sayuran ini dapat tumbuh sepanjang tahun, penghujan maupun kemarau. Wortel memiliki batang pendek yang hampir tidak tampak. Akarnya berupa akar tunggang yang berubah bentuk dan fungsi menjadi bulat dan memanjang yang selanjutnya dinamakan umbi. Bagian umbi inilah yang dimanfaatkan untuk konsumsi makanan sehari-hari. Tanaman wortel diperbanyak dengan bijinya, Biji untuk penanaman dikenal dengan istilah benih. Benih yang berkualitas tinggi merupakan langkah awal peningkatan produksi.
Pada tanaman wortel terdapat dua fase pertumbuhan. Pertumbuhan vegetatif berakhir pada saat wortel berumur 70 hari. Setelah umur tersebut wortel masuk pada masa kematangan (maturity). Pada masa tersebut karakter bentuk dan ukuran umbi mulai terbentuk pada tiap-tiap varietas, kadar gula meningkat, terbentuk karakter rasa dan aroma serta lapisan kulit menjadi lebih cerah. Pada varietas Newton dapat di panen pada umur 100 hari dan varietas nevis dapat di panen pada umur 105 hari.

Cara panen tanaman wortel adalah dengan jalan mencabut batangnya. Pencabutan dilakukan dengan hati-hati agar umbi tidak patah, lalu dimasukkan dalam keranjang. Dalam memasukkan dalam keranjang haruslah hati-hati agar wortel tidak saling berbenturan satu sama lain.
Menurut Kotler (2000), pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Hasil panen yang dihasilakn oleh PT. RIAN Divisi Jampit selanjutnya dipasarkan melalui PT.DIF Nusantara dengan system konsinyasi.
Manajemen Pemasaran PT. DIF Nusantara
Kegiatan pemasaran dilakukan oleh PT. DIF Nusantara yang berlokasi di Denpasar Bali. PT. DIF Nusantara merupakan anak perusahaan dari PT. JORO yang bergerak di bidang pemasaran hortikultura. Kegiatan pemasaran yang dilakukan PT. DIF Nusantara tidak terbatas pada penjualan sayuran saja melainkan juga beberapa jenis buah dan bunga seperti heliconia.
B.     kritik dan saran
Penyusun menyadari sepenuhnya bahawa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan kekurangan yang harus di perbaiki. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun baik dari dosen pembina mata kuliah ini atau yang bersangkutan maupun rekan-rekan mahasiswa akan kami terima dengan kerendahan hati dalam demi kesempunaan makalah yang akan datang..wslam


DAFTAR PUSTAKA
Agrobis, 2002. “Pengemasan Sayur Untuk Ekspor” No. 499 Minggu I Desember 2002.
George N. Agrios, 1996. “ Ilmu Penyakit Tumbuhan” Gajah Mada Universitas Press, Yogyakarta.
Laporan Bulanan Dinas pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Bondowoso Desember 2004
Nur Berlian dan Estu Rahayu, 2000. “ Wortel dan Lobak” Penebar Swadaya, Jakarta.
Philip Kotler, 2000. “Manajemen Pemasaran” PT. Prenhallindo, Jakarta.
Rukmana, Rahmat. 1995 Bertanam wortel. : Kanisius Yogyakarta,
Taufik, R. 2004. Laporan PKL Politeknik Negeri Jember


MANAJEMEN AGRIBISNIS TENTANG (AGRIBISNIS KOMODITAS TANAMAN WORTEL)

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!