PERANAN KEMAMPUAN MEMBACA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS
VIII SMPN 2 DONGGO TAHUN
PELAJARAN
2011/2012
MOTTO
Cucuran keringat
orang tua adalah hutangku
Membahagiakan
orang tuaku dan keluargaku adalah tujuan hidupku
Dan menjadi anak
yang soleh, berbakti dan berilmu adalah cita-citaku
PERSEMBAHAN
Skripsi ini ku persembahkan kepada:
v Ayahanda dan
ibunda tercinta (Arasyid dan Khadijah). Terima kasih atas semua hal terbaik dan
terindah yang selalu kalian hadirkan untuk anakda, untuk piluh dan airmata yang
telah menetes karena anakda. Walaupun Ananda berusaha menggantinya, tetap tidak
akan pernah cukup untuk membayar semuanya.
v Untuk kakak dan
adik-adik ku tersayang (syaifullah, sri Nurnaningsih, Mu’ari, dan Asmawati).
Terima kasih atas bantuan dan dukungan morilnya sehingga adiknda bisa
menyelesaikan kuliah.
v Untukkekasihkutercinta yang
telahbanyakmembantu, menerimadanmengertiakuapaadanya,
semogacintakitaakanberakhirdengankebahagiaan yang abadi.
v Untuksahabatku (Titiyanti,
Nurwahidah, Arinah) dan yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu,
persahabatan yang kitalewatiempat tahunbersamadalamsukadanduka, dan berkat
dukungan kalian semua sehingga skripsi ini dapat di selesaikan. Terima kasih atas
kebersamaan dan bantuannyaselamaini.
v Dosen-dosen yang
telah membina dan membimbingkudalammenyelesaikansusunanskripsiini.
v Untuk almamaterku
tercinta, UniversitasMuhammadiyah Mataram.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena
atas limpahan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penyusunan skripsi ini telah
dapat diselesaikan. Salawat serta
salam senantiasa penulis ucapkan kepada baginda Rasulullah SAW, karena atas
perjuangan, pertolongan dan pengorbanan-Nya sehingga sampai saat ini kita semua
masih dapat menikmati indahnya hasil perjuangan beliau. Skripsi ini disusun
sebagai tugas akhir dan
merupakan salah satu
persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak
lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormat yang
setinggi-tingginya kepada:
1.
Bapak
Drs. H. Mustamin, M.Si selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram.
2.
Bapak DR. H. Suwardie AH, SH. MPA selaku Dekan FKIP UM Mataram.
3.
Drs. Akhmad H. Mus., M. Hum selaku ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
4.
Dra.
Titin Untari, M.Pd selaku Dosen pembimbing
I yang telah penuh kesabaran, ketekunan, dengan memberikan bekal ilmu sehingga
dapat menyelesaikan skripsi ini.
5.
Ibu Nurmiwati, S.Pd, selaku Dosen Pembimbing II yang dengan ketulusan hati
banyak memberikan bimbingan.
6.
Bapak/Ibu
dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram yang telah memberikan bekal ilmu
kepada penulis selama proses perkuliahan.
Semoga Allah SWT memberikan balasan dan limpahan
keridhaan-Nya. Penulis menyadari skripsi ini masih belum sempurna
oleh karena itu, kritik dan masukan yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan
oleh penulis. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang berkompeten. Amin!!!
Mataram,..........2012
Penulis
ABSTRAK
Nining
Fauziatin, 2012 : Peranan Kemampuan
Membaca Terhadap Kemampuan Berbicara
Siswa Kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun
Pelajaran 2011/2012
Pembimbing I
: Dra.
TitinUntari, M.Pd
Pembimbing II
: Nurmiwati,
S.Pd
Adapun masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah
peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2
Donggo Tahun Pelajaran 2011/20112. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Gambaran secara jelas tentang peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan
berbicara siswa kelas VIII di SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian deskriptif, subjek
penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran
2011/2012. Penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika
populasi kurang dari 100, di anjurkan agar semuanya di jadikan sampel sehingga
penelitianya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika penelitiannya lebih
besar dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%. Karena jumlah
populasi lebih dari 100 orang maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini
adalah selurus siswa kelas VIIIA SMPN 2 Donggo yang berjumlah 37 siswa.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
Berdasarkan hasil analisis dapat diambil, antara lain : a). Peranan Kemampuan Membaca Terhadap Kemampuan Berbicara
Siswa Kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012 secara keseluruhan
tergolong sedang dengan rata-rata 7,5. (b). Orgentasi kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII
SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012, dilihat dari jumlah sampel 44 siswa
sebagai berikut : siswa yang kemampuan tinggi berjumlah 22 orang, Siswa yang
berkemampuan sedang berjumlah 17 orang, dan siswa yang berkemampuan rendah
berjumlah 5 orang.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan
kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara siswa kelas
VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012. dan dapat mempengaruhi siswa
dalam berfikir serta mengembangkan bakatnya. Hal ini dapat dilihat dalam tabel
hasil penelitian.
Kata Kunci : Membaca, Berbicara.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Pelajaran membaca dan berbicara di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) selama ini cenderung diabaikan,
disebabkan oleh adanya anggapan anggapan
yang salah terhadap pengajaran kemampuan membaca dan berbicara itu sendiri. Kebanyakan kita
sepakat bahwa pengajaran membaca dan
berbicara siswa itu telah berakhir ketika telah dapat membaca dan menulis, yaitu ketika selesainya
pengajaran membaca dan menulis permulaan, sekitar
kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Sehingga pada jenjang sekolah yang lebih tinggi,
pengajaran membaca dan berbicara tidak mendapat perhatian. Akibatnya kebiasaan membaca dan
berbicara yang buruk terus berkembang sampai orang menjadi dewasa.
Kemampuan membaca dan kemampuan herbicara
sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa para ahii memiliki teori dan
pelatihan, menyikapi masalah itu terutama siswa dalam mengembangkan kemampuan
dan kecermatan membaca serta kemampuan berbicaranya, untuk mengembangkan atau
menyampaikan beberapa masalah, penting mengingat kemampuan membaca dan
kemampuan berbicara telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari
saat ini.
Membaca dan berbicara yang baik dan benar akan
membantu proses pendidikan untuk mencapai tujuannya, maka kehadiran membaca dan
berbicara menentukan keberhasilan pendidikan sebab siswa, mudah memahami isi bacaan,
memahami tujuan berbicara. Dalam keadaan bagaimanapun membaca dan
berbicara bisa dilepas begitu saja karena merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia
yang tak dapat dipisahkan. Peranan membaca dan berbicara pada siswa sangat penting terutama untuk berpikir dan bernalar.
Membaca
dan berbicara itu sangat penting dalam pendidikan antata lain disebutkan bahwa
siswa diusahakan agar memiliki pengetahuan fungsional tentang bahasa dan
penggunaannya sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan komunikasi
dengan orang lain dan untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas maka peran
bahasa dalam membaca dan berbicara dirasakan sangat berfungsi sebagaimana
disebutkan ahli bahasa tentang fungsi bahasa yang menyebutkan bahwa :
a. Untuk menyatakan ekspresi
b. Sebagai
alat komunikasi
c. Alat untuk mengadakan
adaptasi social
d. Alat untuk mengadakan kontrol
sosial (Keraf, 1979:3)
Sebagai alat untuk mengadakan ekspresi bahasa secara
terbuka segala yang tersirat dalam hati,
sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan, dan unsur yang
mendorong dalam ekspresi adalah :
a. Agar menarik
perhatian orang lain
b. Keinginan untuk membebaskan
diri dari semua tekanan emosi
Sebenarnya fungsi yang dikembangkan diatas, tidak dapat
terpisah satu sama lain, dalam kenyataan sehari-hari sehingga untuk menetapkan
dimana yang satu mulai dan dimana yang satu berakhir sangatlah sulit. Pada
tahap permulaan waktu kecil belajar menyimak kemudian berkembang menjadi
belajar berbicara. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga seseorang menjadi
dewasa dan belajar membaca. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari
ekspresi komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi tidak diterima oleh orang
lain. Dengan komunikasi dapat menyampaikan apa yang dirasakan dan diketahui
kepada orang lain. Dengan komunikasi itu pula siswa belajar membaca dan
berbicara. Membaca dan berbicara merupakan saluran maksud, rnelahirkan perasaan
dan memungkinkan untuk kerja sama dengan semua orang , juga memungkinkan
manusia menganalisa masa lalunya untuk meniti hasil yang berguna masa kini dan
masa yang akan datang. Dalam pengalaman seharihari katakan dari sejak kecil
sehingga menjadi seorang dewasa membaca dan berbicara perseorangan mengalami
perkembangan dengan bertambahnya pengalaman seseorang. Bila kita bandingkan
membaca dan berbicara merupakan sistem keseluruhan dengan fungsi bahasa
bertahap-tahap secara individual, yaitu fungsi bahasa jauh lebih luas pada
waktu seseorang telah dewasa, maka dapat dibayangkan bahwa membaca dan
berbicara mengalami perkembangan dari zaman ke zaman dan perkembangan
intelektual itu sendiri.
Proses
membaca dan berbicara melibatkan faktor intelektual karena semua sepakat bahwa
membaca dan berbicara pada hakikatnya adalah sebuah proses berpikir,
sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ahli membaca(Edward L. Thoradike),
bahwa proses membaca itu tak ubahnya dengan proses ketika seorang sedang
berpikir dan bernalar. Dalam membaca dan berbicara ini terlibat aspek-aspek
berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan, membandingkan dan pada
akhirnya menerapkan apa yang terkandung dalam bacaan dan pembicaraa. Bukankah
in melibatkan cara-cara berpikir induktif, berpikir deduktif dan cara berpikir abstrak?
Untuk inilah dalam membaca dan berbicara diperlukan cara yang berupa kemampuan
intelektual yang tinggi. Jika dilihat dari aspek intelektual yang lainseperti
minat. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa adanya
korelasi yang tinggi antara minat terhadapbacaan dan kemampuan membaca dan
kemampuan berbicaranya (Nurhadi, 1995:13).
Seorang siswa yang mempunyai minat dan
perhatian yang tinggi terhadap bacaan tertentu, dapat dipastikan akan
memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap topik tersebut dibandingkan
dengan siswa yang kurang berminat terhadap topik tersebut. Demikian pila penelitian
hubungan antara tujuan membaca dan berbicara dengan perubahan gerak mata pada
waktu membaca dan berbicara. Dalam penelitian terlihat bahwa perbahan tujuan
membaca dan berbicara berakibat terjadinya perubahan dalam gerak mata, yang
nantinya akan berimplikasi pada kecepatan atau kemampuan membaca
dan kemampuan berbicara yang sedang berlangsung. Ini terbukti bahwa ada faktor
tujuan membaca dan berbicara yang mempengaruhi proses membaca dan berbicara.
Jika dilihat
dari faktor eksternal perbedaannya tidak banyak faktorfaktor eksternal
tertentu yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca dan berbicara antara lain
faktor penerangan, faktor sosial ekonomi, akan mempengaruhi hasil pembeda dan
berbicara.Penerangan yang kurang baik (jelek) kan mempengaruhi hasil pembaca
dan berbicara. Demikian juga latar belakang faktor sosial ekonomi, sosial
ekonomi yang tinggi akan mendapat kemudahan sarana membaca dan berbicara yang
memadai, sehingga terbentuk tradisi atau kebiasaan membaca dan berbicara.
Kebiasaan membaca dan berbicara ini yang akan mempengaruhi kemampuan siswa atau
seorang inilah yang dimaksudkan bahwa membaca dan berbicara itu adalah proses
yang kompleks.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
"Bagaimanakah Peranan Kemampuan Membaca Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa
Kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011-2012 ?"
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan
penelitian dalam penulisan proposal ini, peneliti ingin mengetahui gambaran secara
jelas tentang peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo
tahun pelajaran 2011-2012.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara
praktis sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi upaya peningkatan mutu
pembelajaran, terutama kemampuan siswa dalam membaca dan berbicara dan hasil
penelitian ini diharapkan bisa memberikan motivasi bagi peneliti lain yang
berminat untuk mengkaji lebih mendalam untuk mengungkapkan faktor-faktor yang
belum terungkap dalam penelitian ini.
1.4.2 Manfaat
Praktis
1. Hasil
penelitian ini dapat digunakan oleh guru sebagai acuan agar mampu meningkatkan
prestasi siswa secara optimal terutama dalam hal kemampuan membaca dan kemampuan
berbicara.
2. Hasil
penelitian ini diharapakan berguna bagi keluarga dalam memberikan dukungan agar
siswa mampu meningkatkan kemampuan membaca dan kemampuan berbicara siswa.
3. Hasil
penelitian ini diharapkan berguna bagi sekolahuntuk meningkatkan wawasan bagi
tenaga edukatif dalam meningkatkan profesional guru dan tenaga pendidik yang.
lain.
BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar
Dalam hal ini akan
diuraikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan peranan kemampuan membaca dan
kemampuan berbicara antara lain:
a. Kemampuan
Kemampuan adalah kesanggupan,
kecakapan, kekuatan (Partini, 1990: 869). Kernampuan dalam hal ini merupakan
kesangwepan siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan apa yang di perintahkan
oleh guru dan teman dan mendapatkan hasil yang lebih baik.
b. Membaca
Membaca adalah suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak
disampaikan. - Sedangkan kemampuan membaca adalah kemampuan orang dalam
memahami isi bacaan yang diukur dengan tes yang disediakan, dan kemampuan
membaca teknis adalah kemampuan dalam mengekspresikan bacaan supaya enak untuk
didengar yang diukur dengan merekam teks yang disediakan (Tarigan, 1979:7).
c. Berbicara
Berbicara merupakan instrumen
yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung, apakah sang
pembicara memahami atau tidak, baik bahan pembicaraan atau penyimaknya, apakah
dia tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak pada saat dia
mengkomunikasikan gagasannya, dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak
(Tarigan dalam Fatrnawati, 1997: 89).
2.2 Kemampuan Berbicara
Dalam hal ini
akan dijelaskan beberapa hal diantara pengertian kemampuan berbicara,
pentingnya kemampuan berbicara, aspek-aspelc
kemampuan berbicara dan faktor-faktor yang mempengaruhi
kemampuan berbicara.
2.2.1 Pengertian Kemampuan Berbicara
Secara
leksikal, kemampuan berasal dari kata "mampu" menurut Purwadarminta
berarti, kuasa, sanggup melakukan sesuatu. Kemampuan berarti kesanggupan
melakukan sesuatu berucap. Dalam hal ini kaitannya dengan kemampuan. membaca
dan berbicara (Purwadarminta, 1985:723). Makna leksikal kemampuan berbicara
yakni kemampuan dalam berkata atau berbicara. Tarigan dalam Fatmawati (1997:89)
mengemukakan bahwa . berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada
penyimak hampir secara langsung, apakah sang pembicara memahami atau tidak,
baik bahan pembicaraan atau penyimaknya, apakah dia tenang serta dapat
menyesuaikan diri atau tidak pada saat dia mengkomunikasikan gagasannya, dan
apakah dia waspadaserta antusias atau tidak. Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan atau katakata untuk
menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat serta sebagai alat untuk mengetahui
apakah pembicara mempersiapkan diri dengan baik dalam menyampaikan bahan
pembicaraan dihadapan para penyimaknya.
2.2.2 Pentingnya Kemampuan Berbicara
Kemampuan
berbicara mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kemampuan berbicara, siswa akan dapat menyampaikan ide, pikiran,
gagasan, dan perasaannya kepada orang lain. Atar (1992 dalam Fatmawati 1997:51)
mengemukakan bahwa : (1) diterima baik dalam pergaulan, disebabkan karena tidak
menyinggung perasaan lawan bicara. (2) mempunyai banyak sahabat sebab dapat
berkomunikasi dengan baik dan menarik (3) dapat menyumbangkan fikiran yang
berharga bagi teman-teman yang memerlukan berkat kepandaiannya menyampaikan
gagasan dan cara pemecahannya. (4) mempunyai kesempatan yang besar untuk
menjadi pemimpin memerlukan kemampuan berbicara dengan orang yang dipimpinnya.
(5) mempunyai peluang yang lebih sukses dalam mencari ilmu dan memberikan ilmu
kepada orang lain. (6) mempunyai kemampuan untuk sukses dalam menjalankan
pekerjaan yang ada kaitannya dengan orang lain karena kemampuannya berbicara
atau berkomunikasi. Berdasarkan
kenyataan sehari-hari,maka kemampuan berbicara sangat penting
untuk dimiliki seseorang. Dengan demikian, kemampuan berbicara harus
dipelajari sejak dini agar terampil berbicara sehingga apa yang disampaikan
dapat dimengerti oleh penyimak.
2.2.3 Aspek Kemampuan Berbicara
Untuk dapat
menjadi pembicara yang baik, selain harus memberikan kesan
yang penguasaan berbicara juga harus memperlihatkan keberanian dan
kegairahan serta berbicara dengan jelas dan tegas. (Arsyad dan Mukti 1988:103)
aspek-aspek keefektifan berbieara diantaranya adalah aspek aspek
kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan itu antara lain, ketepatan
sasaran, ketepatan berbicara, penenpatan tekanan pembicaraan atau
perwakilan kalimat. Aspek kebahasaan yaitu sikap yang wajar, pandangan,
kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerak gerik dan mimik, kenyaringan
suara, relevansi dan penguasaan topik.
Berdasarkan
paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek kemampuan berbicara
antara lain :
a. Ketepatan
Pengucapan
Ketepatan
pengucapan merupakan seluruh kegiatan yang dilakukan dalam memproduksi bunyi bahasa
yang meliputi artikulasi yaitu bagairnana posisi alat bicara seperti lidah,
gigi, bibir, dan langit-langit pada waktu membentuk bunyi, baik vokal maupun
konsonan. Kemampuan pengucapan atau
pelafalan terdiri dari keterampilan untuk mengucapkan bunyi segmental yakni
vokal dan konsonan dan bunyibunyi supramental berupa tekanan dan intonasinya.
(Datmodiharjo, 1982:48) menyatakan bahwa pengucapan bahasa dianggap baik
diantara kalimat-kalimatnya fungsional nada dan situasional sesuai dengan jenis
dan bentuknya, tekanan dan jedanya tepat, keteapatan pelafalan bunyibunyi
vokal dan konsonannya dan memiliki pola-pola intonasi yang tepat serta tekanan
kata-kata maupun kalimat dengan jelas dan pasti.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengucapan lagu bahasa dianggap baik apabila kalimat-kalimat yang diucapkan berfungsi nadanya
sesuai dengan situasinys, tekanan jeda juga harus tepat. (Muhajir, 1975:29)
mengemukakan bahwa kesalahan dalam mengucapkan konsonan dan vokal akan lain
pula artinya apa yang dikatakan pendapat tersebut jelas menyatakan bahwa
kesalahan dari pelafalan konsonan dan vokal akan menyebabkan maksud dari ucapan
itu; berbeda.
b.
Kemampuan Gramatikal
Kemampuan gramatikal adalah merupakan kemampuan untuk menguasai tata
bahasa yang berlaku dalam bahasa tersebut. Kemampuan tata bahasa antara lain
adalah kemampuan dalam struktur kata dan menyusunnya dalam bentuk struktur
kalimat yang benar. Pembicara yang baik harus menggunakan kalimat yang efektif
untuk mempermudah pendengar menangkap isi pembicaraan. Menyusun dan menggunakan
kalimat efektif
harus langsung mengenai sasaran sehingga mampu meninbulkan pengaruh, meninggalkan kesan atau akibat
bagi pendengarnya.
Dalam membaca kemampuan gramatikal sangat penting dikuasai seperti kemampuan memahami makna kata,
kemampuan memahami
kalimat dan lain sebagainya.
c.
Pembendaharaan Kata
Pembendaharaan kata merupakan
kesanggupan seseorang untuk mengartikan
kata-kata dalam bahasa yang memungkinkan seseorang tersebut memahami pembicaraan
orang lain. (Darmaji, 1985:26) menyatakan
bahwa kemampuan seseorang mengartikan kata-kata dalam bahasa akan memberikan peluang
untuk mengerti dan menggunakan bahasa
walaupun
secara bahasa jalan. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa bagi seseorang yang memiliki
banyak pengertian dari kata-kata bahasa
walaupun bersifat pasif, dalam arti kurang menggunakan kaidah yang tepat. Dengan demikian
penggunaan kosa kata sangat penting bagi seseorang untuk mampu berbicara.
d.
Kelancaran Berbicara
Kelancaran berbicara seseorang berhubungan
langsung dengan bunyi ataupun ujaran. Orang yang dilatih dengan baik akan mampu berbicara dengan cepat dan tepat
sehingga mereka akan lancar berbicaranya. Samsuri, (1991:97) mengatakan bahwa
orang yang terlatih dalam ilmu bunyi mempunyai pengetahuan dan kemahiran
menganalisis dan menghasillcan tiap bunyi bahasa karena ia telah tahu tentang
struktur dan fungsi peralatan ujar. Iapun
dapat menguraikan dengan setepattepatnya dan sesederhana pembentukan bunyi
bahasa sehingga ia sendiri maupun siapa saja yang trelatih dalam ilmu bunyi
dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu dengan baik atau betulmenggunakan alat-alat
ucapan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kefasehan
seseorang mengucapkan kata-kata dalam bahasa akan memperlancar orang tersebut
untuk berbicara dalam menyampaikan gagasa.n, fikiran, ide, dan juga
perasaannya.
e.
Penguasaan Topik
Dalam
pembicaraan formal selalu menuntut persiapan yang baik agar topik yang akan
dibicarakan betul-betul dikuasai oleh pembicara. Penguasaan topik yang baik
akan menumbuhkan keberaian kelancaraai. Dengan demikian, penguasaan topik
sangat penting bahkan. merupakan faktor utama dala.m berbicara; penguasaan
topik berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman. Jika pengetahuan dan
pengalaman luas maka dengan mudah menguasai topik pembicaraan yang disajikan.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
Faktor yang
mempengaruhi kemampuan membaca setidak-tidaknya ada dua hal yakni faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal
dari dalam diri individu itu sendiri. Untuk memperoleh kemampuan berbicara,
siswa harus mempunyai keinginan untuk belajar dan berlatih secara terus
menerus. Didalam belajar dan berlatih harus didukung oleh kemampuan, kemauan,
kekuatan, dan keuletan agar apa yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu.
Interaksi individu secara garis besarnya meliputi lmgkungan keluarga, sekolah
dan masyarakat.
2.3.1 Kemampuan Membaca
Dalam hal ini
akan dijelaskan beberapa hal diantaranya tentang kemapuan membaca dan tingkat
membaca kritis dan meningkatkan sikap kritis.
2.3.2 Pengertian Kemampuan Membaca
Membaca adalah
suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata
atau bahasa tulis.
Sedangkan kemampuan membaca
adalah kemampuan orang dalam memahami isi bacaan yang diukur dengan tes yang
disediakan, dan kemampuan membaca teknis adalah kemampuan dalam
mengekspresikari bacaan sehingga enak untuk didengar yang diukur dengan merekam
teks yang disediakan(Tarigan, 1979:7). Kemampuan membaca siswa harus ditu: ~ang
dengan kemampuan menguasai kebahasaan seperti : kosa kata, dan tata bahasa.
Dengan demikian dapat dipertegas bahwa kemampuan yang dikaitkan dengan membaca
adalah kemanpuan untuk merespon secara sadar susunan tertulis yang dihadapinya
atau yang disimulasikan. Respon yang ditampilkan adalah respon aktif. Respon
aktif ini berkaitan dengan pengelolaan terhadap tuturan tertulis. Dari beberapa
teori tentang kemampua membaca yang telah dijelaskan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa indikator yang dapat dijadikan acuan setiap siswa dapat
dikaitkan mahir membaca secara sukses harus memiliki ketentuan untuk memahami
hal-hal yang berkaitkan dengan kebahasaan dengan isi pesan.
2.3.3. Jenjang Kemampuan Membaca dan Tingkat Membaca Kritik
Dalam kenyataan sehari-hari
sering dijumpai hal-hal semacam ini seorang siswa sedang membaca sebuah buku.
Buku tersebut dibaca kata demikian, baris demi baris dan kalimat demi kalimat
apa yang tertulis lalu diingatnya sebagai sebuah ingatan. Informasi yang
tertulis dalam bacaan disimpan dalam ingatan, lalu dinyataka..n kembali bila
perlu persis dengan apa yang dikatan pengarangnya dengan kata lain setelah
selesai membaca, ia menyatakan kembali informasi tersebut secara tepat.
Oleh karena itu hanya berusaha
untuk mengingat, maka dalam proses. ini dia tidak melibatkan aspek berFkir
kritik. Panggilan hanya terbatas pada hal-hal yang secara ekplisit teriulis
daiam bacaan, pembaca hanya tahu apa yang dikatakan oleh pengarangnya d:.n
tidak ada satupun aktifitas mental berf kir yang mengikutinya. Pembaca hanya
memproduksikan kembali secara mental apa yang tertulis pengarang.
Berdasarkan penjelasan di atas
disimpulkan bahwa pada jenis membaca ini dapat disebut sebagai jenjang
kemampuan membaca yang paling rendah tingkatanya.Jenis mebaca pada jenjang yang
lain pembaca" tidak hanya puas pada tingkatan tahu atau ingat apa yang dikatakan
dalam buku. Tetapi ia
sadar bahwa bahan
bacaan itu tidak hanya berisi informasi yang perlu diingatkan saja, tetapi
perlu diolah dan dipahami. Setiap orang berbeda pandangana dari segi kemampuan
intelektual, sikap, bakat, minat, motivasi, tujuan membaca dan lain-lainnya.
Oleh karena itu jelas bahwa setiap orang mempunyai kemampuan membaca dan sikap
kritis berbeda. Untuk itu, sebagai tindak lanjut dari usaha meningkatkan sikap
kritis tersebut.Ada beber<apa aspek berpikir kritis yang dikuasai oleh
seorang pembaca, yang diharaplcan akan menjadi semacam sikap yang selalu
mempola untuk selalu berpikir kritis dalam membaca. Sikap-sikap kritis itu
meliputi kemampuan-kemampuan pembaca untuk :
1. Menginterprestasi
2. Menganaslisis secara kritis
3. Mengorganisasi secara kritis
4. Menilai secara kritis
5. Menerapkan konsep secara
kritis
Akan
tetapi, sebelumnya perlu diingat bahwa jenjang kemampuan membaca itu tidak
hanya sampai pada tingkat kritis. Secara fisik pr~,ses membaca itu hanya
berakhir pada tingkat membaca kritis. Namun, sebenarnya pembaca yang sudah
dikatakan berhasil apabila pembaca sudah mampu menerapkan hasil membacanya
dalam konteks kehidupan yang lebih luas, yaitu diluar konteks proses membaca..
Artinya mampu menerapkan hasil membacanya untuk kepentingan kehidupan
sehari-hari, minimal' menghubungkan dengan kepentingan sebagai bagian dari
kehidupan nyata. Bila seorang telah
mampu menerapkan kegiatan membaca semacam ini, dapat dikatakan sebagai pembaca
yang kritis sekaligus kreatif dalam memanfaatkan hasil membacanya.
2.3.4 Meningkatkan Sikap Kritis
Mengenai meningkatkan sikap
kritis dalam kemampuan membaca akan di uraikan tentang, kemampuan
menginterpretasi makna tersirat dan kemampuan mengaplikasikan konsep dalam
bacaan.
a. Kemampuan Menginterpretasi
Makna tersirat
Dalam sebuah
bacaan siswa bisa bersikap tidak ambil pusing dengan fakta atau informasi yang
terlulis dengan jelas. Informasi cukup diketahui saja bahkan ada kalanya
informsi itu ditelan secara mentah, dan diterima secara pasif.
b. Kemampuan
Mengaplikasikan Konsep dalam Bacaan
Seorang pernbaca yang kritis
tidak akan pernah berhenti sampai, pada aktifitas menggali makna yang tersirat
melalui pemahaman dan interpretasi secara kritis, tetapi harus mampu menerapkan
konsep-konsep yang ada dalam bacaan keadaan situasi baru yang bersifat
problematis.
2.4 Penelitian yang Relevan
Penelitian yang sejalan dengan
penelitian ini diantaranya yang pernah dilakukan oleh Haryono (1995).
Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca dan berbicara
ditinjau dari kemampuan guru mengajar. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa
kemampuari membaca
dan kemmpuan berbicara seseorang dipengaruhi oleh faktor kemampuan guru dalam
mengajar.
Sementara,
Haryadi (1996) dalam Dimiyanti (1998) mengadakan penelitian tentang kelancaran
dalam membaca dan berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
lingkungan terhadap kelancaran siswa dalam membaca dan berbicara. Hasil penelitian ini antara lain
menyimpulkan bahwa siswa yang tinggal dilingkungan yang dekat dengan
pendidikan lebih lancar membaca dan berbicaranya bila dibandingkan dengan siswa
yang berasal dari lingkungan yang jauh dari tempat atau lokasi pendidikan.
Hasil
penelitian tersebut memberikan dukungan serta motivasi dan relevansi kemampuan
membaca dan kemampuan berbicara bagi seseorang. Hal ini, memotivasi peneliti
untuk mengangkat masalah peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara
siswa kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011-2012.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian
3.1. Populasi
Populasi
adalah "Sebagai penentuan subjek itu dapat diartikan sebagai seluruh
penduduk yang dimaksud untuk diselidiki atau populasi dibatasi sebagai sejumlah
penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai suatu sifat yang sama
(Hadi, 1997: 220). Sedangkan menurut (Subagio
2000: 33) "Populasi adalah obyek
penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan mengumpulkan data : Dari kedua
pendapat para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa "populasi yaitu keseluruhan subjek atau individu
yang diselidiki sebagai sasaran untuk mendapatkan data".
Berdasarkan definisi populasi
tersebut di atas maka yang menjadi populasi penelitian ini
adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kecamatan Donggo
Tahun Pelajaran 2011/2012.
Tabel 01 : Populasi Siswa Kelas
VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pela aran 201112012
|
No.
|
Kelas
|
Jenis kelamin
|
Jumlah
|
|
|
|
|
L
|
P
|
|
|
1.
|
V111A
|
16
|
21
|
37
|
|
2.
|
VIII B
|
18
|
24
|
42
|
|
3.
|
VIII C
|
13
|
27
|
40
|
|
JumlahSiswa
|
_47
47
|
71
|
118
|
|
Tabel di atas merupakan data tentang keadaan siswa di SMPN 2 Kecamatan
Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.1.2 Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil
dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006: 87). Sedangkan dalam kamus besar
Bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang
lebih besar (Tim Penyusun, 1994 : 20 ). Sedangkan menurut Sugiyono sampel
adalah "Sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi"(2003: 56).
Sementara itu penentuan jumlah
sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi kurang dari 100,
dianjurkan agar semuanya dijadikan sampel sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya besar lebih dari 100, maka
dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung dari kemampuan
peneliti (Arikunto, 2006:112). Karena jumlah populasi lebih dari 100 orang,
maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII A
SMPN 2 Kecamatan Donggo yang berjumlah 37 Orang siswa.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah
"Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, dalam hal ini adalah proses
diperolehnya data dari sumber data yang dimaksud berasal dari subjek penelitian
(Subana dkk, 2005:56).
Untuk memperoleh data dalam
suatu penelitian diperlukan cara untuk mengumpulkan data.
Maka dalam penelitian ini ada bebe , rapa macam metode yang
digunakan yaitu metode observasi, metode tes, dan metode dokumentasi.
3.2.1 Metode Observasi
Metode observasi adalah
pengamatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis
mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala pesikis untuk kemudian
dilakukan pencatatan (Nazar, 211:1998).
Winarno, (121:1978) mengemukakan bahwa observasi adalah "metode
pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa
alat) pengamatan gejalagejala subjek yang akan diteliti, baik pengamatan itu
dilakukan dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi yang khusus
dilakukan".
Metode
observasi adalah pengamatan dan pencatatan langsung secar`a
sistimatis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki
(Sutina, 1980: 36). Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk
melihat secara langsung pada lokasi yang diteliti. Adapun yang diobservasi
dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kendala-kendala yang
dihadapi para guru, dengan demikian data yang akan diperoleh melalui metode ini
merupakan realita dilapangan.
Mencermati
pengertian di atas jelaslah bahwa observasi adalah cara untuk mengadakan
penelitian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung .
3.2.2 Metode Tes
Tes adalah
suatu alat atau prosedur yang sistematis clan objektif untuk memperoleh
data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan seseorang, dengan cara
yang boleh dikatakan tepat dan cepat (Arikunto, 1984: 35). Sedangkan menurut
(Nurkencana, 1986: 43) tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang
berbentuk suatu tugas atau serangkaiari tugas yang harus dikerjakan oleh anak
atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau
prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh
anak-anak lain atau standar yang ditetapkan. Dari dua pendapat pakar tersebut
di atas maka dapat disimpulkan tes adalah suatu alat yang digunakan oleh
pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam
memahami suatu materi yang diberikan oleh pengajar.
Tes yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian terbatas: Da1am tes uraian
terbatas ini peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal
yang ditanyakan, namun arah jawaban dibatasi, sehingga kebebasan tersebut
menjadi bebas yang terarah.
Tabe102:
Tes Kemampuan Membaca dan Berbicara
|
|
|
Objek Pengamatan
|
|||||||
|
No
|
Nama
|
Kemampuan
membaca
|
Kemampuan berbicara
|
||||||
|
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
4
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Sumber data)
Keterangan:
Aspek Penilaian Membaca
1.
Pemahaman isi
2.
Kelancaran
3.
Kesesuaian waktu
4.
Kemampuan menyampaikan kembali
Keterangan:
Aspek Penilaian Berbicara
1.
Intonasi
2.
Artikulasi
3.
Kesesuaian
dengan topik
4.
Penampilan
3.2.3 Metode
Dokumentasi
Metode
dokumentasi adalah metode pengumpulan data terhadap halhal atau variabel yang
berupa catatan, transkrip, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan
sebagainya (Suharsimi, 2002: 206). Metode ini digunakan untuk melengkapi data
yang belum diperoleh melalui metode wawancara dan observasi.
Ada beberapa
pendapat dari para ahli tentang arti dari dokumen, pendapat diantaranya
Suharsimi Arikunto, dalam buku psikologi penelitian karangan IB Netra (1974:
63) bahwa "Dokumen adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, majalah, buku, transkrip, surat kabar, notulen rapat, agenda dan
sebagainya".
Kedua pendapat
tersebut di atas, dapat penulis simpulkan bahwa metode dokumen dalam penelitian
adalah mencari data mengenai hal-hal variabel berupa catatan transkrip, buku,
surat kabar, majalah, notulen rapat dan lain sebagainya.
3.4 Metode Analisis Data
Analisis
data dalam suatu penelitian bertujuan untuk menyempitkan atau membatasi
penemuan-penemuan sehingga menjadi suatu data yang teratur serta menjadi
tersusun dan lebih berarti (Marzuki, 1974: 76).
Definisi di
atas metode analisis data dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk mengolah dan
mengumpulkan data secara terorganisir dan sistematis, sehingga diperoleh
penjelasan yang baik, maka dalam menganalisis data ini metode analisis yang
digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif adalah suatu
metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi,
suatu sistem pemikiran ataupun sua,tu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan
tujuan untuk membuat gambaran atau tulisan secara sistematis dan faktual serta
akurat mengenai fakta, sifat-sifat dan hubungan antara fenomena-fenomena yang
diselidiki. Sedangkan metode kuantitatif adalah suatu proses menemukan
pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan
keterangan mengenai apa yang ingin diketahui ( Margono, 2007:105).
1.
Mencari Kemampuan Individua.
a.
Menentukan skor maksimal ideal (SMI).
SMI
adalah skor tertinggi yang diperoleh oleh siswa, apabila semua soal yang diujikan
dij
awab dengan benar.
SMI = 100
b.
Menentukan Mean ideal (MI)
MI = = 50
c.
Menentukan Standar devisi soal (SDi)
d.
SDI =
2.
Mencari kemampuan kelompok
a.
Menentukan mean (nilai rata-rata siswa)
b.
Menentukan indeks prestasi komunikatif (IPK)
Keterangan :
M = Mean
(nilai rata-rata siswa)
Y-fx = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan nilai setiap individu
N =
Banyaknya individu (peserta didik)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Lokasi Penelitian
4.1.1
Profil
Sekolah
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Donggo
merupakan salah satu SMP Negeri di Kecamatan Donggo yang secara geografis
terletak di tengah-tengah permukiman penduduk di Desa Mbawa tepatnya berada di
jalan Lintas Sila Donggo dengan batasan-batasan sebagai berikut:
-
Sebelah Timur berbatasan dengan SDN Sangari
-
Sebelah Barat berbatasan dengan persawahan
-
Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Mangge
-
Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Sangari 2
4.1.2
Keadaan
Guru
Adapun jumlah
guru negeri dan guru tidak tetap (GTT) di SMPN 2 Donggo berdasarkan jenis
kelamin, jabatan dan pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Berdasarkan tabel di atas, bahwa guru yang mengajar di
SMPN 2 Donggo adalah 29 orang dengan perincian S1 sebanyak 27 orang dan tanpa
sarjana sebanyak 2 orang guru yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing
dan bisa menjalankan kode etik keguruan secara professional ketika proses
kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga bisa menghasilkan output atau
lulusan yang berkualitas yang bisa bersaing di era globalisasi.
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa jumlah siswa
SMPN 2 Donggo secara keseluruhan sebanyak 292 siswa dengan perincian laki-laki
sebanyak 147 orang dan perempuan 145 orang. SMPN 2 Donggo banyak yang
meminatinya hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa di sekolah tersebut.
4.1.4
Keadaan
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana dapat dikelompokan dalam faslitas
belajar dan alat penunjang belajar. Oleh karena itu dengan adanya sarana dan
prasarana ini dapat menunjang proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Tabel 4.3: Sarana dan prasarana SMPN 2 Donggo
|
No.
|
Nama Ruangan
|
Jumlah
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
|
Ruangan kepala sekolah
Ruangan teori
Ruangan guru
Ruangan TU
Ruangan UPTD
Ruangan perpustakaan
Ruangan laboratorium
Ruangan koperasi
Ruangan kantin
Gudang
WC Siswa
WC guru
Rumah penjaga
Musholla
|
1
9
1
1
1
1
1
1
1
1
2
4
1
1
|
Sumber
Data: SMPN 2 Donggo tahun 2011
Berdasarkan pada tabel di atas, jelas bahwa SMPN 2
Donggo memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai yang dapat menujang
kegiatan belajar mengajar. Hal ini terbukti dengan tersedianya semua ruangan
yang berkaitan dengan tuntutan kebutuhan sekolah mulai dari kebutuhan guru
sampai kebutuhan siswa. Disamping faktor guru, murud, dan pegawai faktor sarana
dan prasarana tidak kalah pentingnya dalam menunjang kelancaran proses belajar
mengajar, sebab sarana merupakan wadah untuk berlangsungnya porses
pembelajaran, alat peraga atau alat pelajaran merupakan faktor penunjang yang penting artinya untuk memperjelas pemahaman siswa
terhadap pelajarannya.
4.2 Hasil Penelitian
Penelitian
tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan di
SMPN 2 Donggo pada siswa kelas VIII yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa indonesia dengan kemampuan membaca
dan berbicara individual.
Dari hasil observasi diperoleh data kualitatif yang akan memberikan gambaran
tentang kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses belajar
mengajar dan hasil tes diperoleh data kuantitatif berupa prestasi belajar siswa
secara klasikal. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan
metode dan rumus yang telah ditetapkan sebelumnya.
Adapun rincian
pelaksanaan dan hasil penelitian peranan
kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan efektivitas dan prestasi belajar
siswa kelas VIII Semester I SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012 dapat
diuraikan dalam bagian-bagian berikut:
4.1.1
Hasil
Observasi
Berdasarkan hasil observasi, antusias
siswa dalam proses pembelajaran masih kurang. Sebagian besar siswa masih
malu-malu untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Selain itu juga siswa belum
bisa menyimpulkan sendiri materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini
disebabkan karena pendekatan langsung ke siswa pada saat pembelajaran masih
kurang. Sementara itu interaksi antara guru dengan siswa masih didominasi oleh
guru hal ini terlihat dari siswa yang pada umumnya belum berani menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh gurunya.
Interaksi siswa dengan siswa pada saat
proses pelaksanaan pembelajaran belum kelihatan kompak, hal ini terlihat dari
sebagian siswa yang belum serius dalam memperhatikan dan mengerjakan soal yang
diberikan oleh gurunya. Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi yang telah
disampaikan oleh guru masih sangat kurang. Hal ini membuktikan bahwa peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara
siswa belum efektif.
4.2
Analisis Data
Metode
analisis adalah suatu proses untuic mengetahui valid tidaknya suatu data.
Analisis data adalah suatu proses yang mencari usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang
disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan
hipotesis itu (Taylor dalam Maleong, 2005 : 103).
Adapun
tujuan analisis data adalah menyempitkan dan membatasi penemuan-penemuan
sehingga menjadi suatu data yang teratur serta tersusun dan lebih berarti
(Arikunto, 1995 : 135).
Penelitian ini menggunakan metode analisis
dengan pengukuran secara kualitatif. Metode analisis data adalah suatu
penelitian yang mencoba bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi. Sehubungan
dengan metode tersebut, maka penelitian ini dalam mengumpulkan data dengan
menggunakan tes. Adapun tes yang
sifatnya langsung, yaitu objek melakukan aktivitas, sedangkan subjek atau
peneliti mengamati dan memberikan penilaian dengan berpatokan pada
urutan-urutan yang ditetapkan. Jadi metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.
Deskriptif kuantitatif adalah
metode hitungan yang digunakan dalam bentuk angka yang menunjukan jumlah
kemampuan siswa
dan prosentasenya.Setelah data terkumpul, kemudian data
dianalisis. Data tersebut diolah dengan menggunakan langkah-langkah kerja
sebagai berikut:
Berdaasarkan tabel di
atas, hasil tes Kemampuan Membaca dari
44 siswa didapatkan skor tertinggi 32 dan skor terendah 16, Sedangkan kemampuan
Berbicara dari 44 siswa didapatkan skor
tertinggi 32 dan skor terendah 16, dengan demikian dikatakan bahwa kemampuan
membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara.
4 Pembahasan
Pelajaran
Membaca dan Pelajaran Berbicara di Sekoloah Menengah Pertama (SMP) Khususnya
SMPN 2 Donggo selama ini cenderung di abaikan, disebabkan oleh adanya
anggapan-anggapan yang slah terhadap pengajaran kemampuan membaca dan berbicara
itu sendiri. Kebanyakan kita sepakat bahwa pengajaran membaca dan berbicara
telah berakhir ketika telah dapat membaca dan menulis, yaitu ketika selesainya
pengajaran membaca dan menulis permulaan, sekitar kelas tiga sekolah dasar
(SD). Sehingga pada jenjang sekolah yang lebih tinggi , pengajaran membaca dan
berbicara tidak mendapat perhatian akibatnya kebiasaan membaca dan berbira yang
buruk terus berkembang sampai orang menjadi dewasa.
Membaca dan berbicara yang baik dan
benar akan membantu proses pendidikan untuk mencapai tujuannya, maka kehadiran
membaca dan berbicara menentukkan keberhasilan pendidikan sebab siswa, mudah
memahami isi bacaan, memahami tujuan berbicara. Dalam keadaan bagaimana pun
membaca dan berbicara bisa di lepas begitu saja karena
merupakan
bagian dari kebutuhan hidup manusia yang tak dapat dipisahkan. Peranan membaca
dan berbicara pada siswa khususnya di SMPN 2 Donggo yakni untuk berpikir dan
bernalar.
1.
Analisis
Data hasil Tes
Tabel
4.2 : Konversi skor mentah menjadi skor standar dari data hasil tes Kemampuan
Membaca terhadap Kemampuan Berbiraca Siswa Kelas VIII SMPN 2
Mencari
Nilai Rata-rata dilihat dari uji tabel 4.2 di atas,
maka di peroleh cara perhitunngan sebagai berikut :
Keterangan Rumus :
M = Rata-rata
∑x = Jumlah skor yang di peroleh.
∑n = Jumlah sampel
Standar Deviasi:
Untuk mencari standar
Deviasi dapat
di gunakan rumus sebagai berikut
dibulatkan menjadi 1,58
Keterangan
SD = Standar deviasi
N = Jumlah sampel
X = Jumlah skor standar yang dicapai
∑ = Jumlah nilai keseluruhan
Penjelasan
Dari tabel di atas
1.
Standar deviasi ideal
(Skor maksimal yaitu jumlah skor standar tertinggi diperoleh dari tes
2.
Skor maksimal yang
diperoleh dari
hasil tes siswa adalah 10
3.
Skor minimal adalah
jumlah skor standar terendah yang diperoleh dari tes
4.
Skor
Minimum yang diperoleh dari hasil tes siswa adalah 4
5.
Median adalah skor
tengah antara skor paling tinggi dan skor paling rendah yaitu skor yang
diperoleh peserta tes sejumlah 44 orang siswa, ini menunjukkan deretan angka :
(4,4,5,5,5,6,6,6,6,6,6,6,7,7,7,7,7,7,7,7,7,7,8,8,8,8,8,8,8,9,9,9,9,9,9,9,10,10,10,10,10,10,10,10)
6.
Skor maksimal ideal
adalah skor mentah yang dicapai apabila semua jumlah soal dapat dijawab dengan
benar. Skor maksimal ideal dapatdicari dengan menghitung jumlah serta
menghitung bobot masing-masingsoal. Skor maksimal ideal yang telah ditentukan
adalah : 100).
7.
Mean ideal atau
rata-rata ideal, dapat dicari dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SMI = Skor SDI)
dapat dicari dengan menggunakan rumus
Mencari kemampuan kelompok dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
1.
Tinggi = MI + SDI ke atas = 50 + 16, 67 = 66, 67 ke atas
2.
Sedang = MI ± SDI = 50 ± 16, 67 = 66,67 - 33,33 Sedang
3.
Rendah = MI - SDI ke
bawah = 50 -16, 67 = 33,33 ke bawah
Keterangan:
MI =Mean Ideal
SDI = Standar
Ideal
Dari analisis data
skor yang diperoleh dari hasil tes tersebut maka dapat ditemukan tingkat kemampuan
kelompok dan prestasi kemampuan keleompok sebagai berikut:
a. Kemampuan tinggi adalah sebanyak 22 siswa, yang terdiri dari 7 siswa yang mendapat nilai 8,
7 siswa yang mendapat nilai 9 dan 8 siswa yang mendapat nilai 10.
b. Kemampuan sedang adalah sebanyak 17 siswa, yang terdiri dari 7 siswa yang mendapat nilai 6 dan 10 siswa yang mendapat nilai 7.
c. Kemampuan rendah adalah sebanyak 5 anak, yang terdiri dari 2 siswa yang mendapat nilai 4 dan 3
siswa yang mendapat nilai 5.
Berdasarkan data tes diatas kita dapat mengetahui jumlah tingkat kemampuan dalam kelompok
yaitu kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah. Maka selanjutnya dapat dihitung presentase tingkat
kemampuan kelompok siswa dalam
kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara. Prosentasenya
adalah sebagai berikut:
Keterangan :
IPK = Indeks Prestasi Kelompok
M =
Mean (rata-rata)
SMI = Skor maksimal ideal
2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan Membaca
terhadap kemampuan berbicara
Berdasarkan
hasil penelitian yang diperoleh di SMPN 2 Donggo dengan jumlah sampel 44 siswa.
Dengan menggunakan Metode Observasi, Metode Tes, dan Metode Dokumentasi.
Sehingga Keberhasilan dalam proses belajar mengajar banyak faktor yang
mempengaruhinya, antara lain faktor psikologi, emahami, dan daya ingat untuk menyampaikan
kembali isi tes yang dibacanya. Dalam hal ini menurut beberapa guru bahwa
kurangnya peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa SMPN 2
DONGGO. Di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
a.
Kurangnya Membaca, akibat dari kurangnya membaca siswa
akhirnya kesulitan untuk berbicara
b.
Kurangnya memahami isi tes sehingga siswa kesulitan untuk
memyampaikan kembali isi tes tersebut, yang akhirnya siswa kesulitan untuk
berbicara
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa:
1. Peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa
pada
mata pelajaran Bahasa Indonesia
dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo tahun ajaran 2011/2012.
Hal ini terlihat dari hasil observasi belajar siswa yang menunjukkan
peningkatan aktivitas belajar siswa.
2. Peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara
pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo tahun ajaran 2011/2012.
Hal ini terlihat dari hasil evaluasi belajar siswa.
3. Materi
dan tujuan instruksional umum dapat disesuaikan dengan kemampuan dan
karakteristik siswa.
4. Umpan
balik lebih konsisten dengan kebutuhan.
5.2
Saran-Saran
Besdasarkan hasil penelitian
yang telah di lakukan maka penulis mengajukkan beberapa saran, antara lain :
1.
Bagi siswa diharapkan membiasakan diri
untuk menanyakan materi yang dianggap sulit dan belum dimengerti serta tanpa
ragu menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari guru maupun teman-temannya.
2.
Kepada
Pihak Pengajar Hendaknya
mempertimbangkan Pengaruh kemampuam membaca terhadap kemampuan brbicara
sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa nantinya.
3.
Diharapkan kepada guru agar
memperhatikan karakteristik anak didiknya dan memperlakukan sesuai
karakteristiknya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
4.
Pada
poengajaran mata pelajaran bahasa
indonesia, khususnya penerapan kemampuan membaca terhadap kemampuan
berbicara sebaiknya para guru menggunakan secara terus menerus.
5.
Penerapan
kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara perlu di lakukan terus menerus
dan lebih diprioritaskan pada mata pelajaran bahasa indonesia di SMPN 2
Kecematan Donggo ataupun di sekolah-sekolah lain. Hal ini di maksudkan agar
siswa terlatih untuk berbicara dan menemukan pengetahuan mereka sendiri, bisa
membaca, bisa menyampaikan kembali isi bacaan, kesesuaian waktu, ketepata
dengan topik. Siswa bukan hanya sekedar mendengar dan mencatat saja.
6.
Bagi peneliti untuk kedepannya
diharapkan dapat lebih profesional dalam menerapkan pembelajaran individual.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1984. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakiek. Jakarta: PT Rineka Cipta
Arsyad dan Mukti.
1988. Aspek-Aspek Berbicara. Yogyakarta: Cinta Pena.
Darmodiharjo. 1982. Bunyi Bahasa. Jakarta: RinekaCipta.
Dimiyati. 1998. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti.
Fatmawati. 1997. Kreatif Berbahasa. Yogyakarta:
Kanisus.
Haryono. 1995. Penelitian Kemampuan Membaca Praktek. Jakarta: RinekaCipta.
Hadi, Sutisno. 1997.
Metodologi Research. Jilid 1 Yogyakarta :Andi Offset.
Netra, IB. 1974. Psikologi.Yogyakarta:
SIC
Keraf, Gorys. 1979. Membaca sebagai suatu Keterampilan Berbahasa Indonesia.
Bandung: Angkasa
Margono, S. 2003. Metodologi
Research. Yogyakarta: FP UGM
Matzuki. 1974. Metodologi Riset. Yogyakarta:
FEUII.
Muhajir.1975. Evaluasi Pendidikan,
Bandung: Usaha Nasional.
Nazar, Muhammad.
1998. Metode Penelitian. Jakarta: Galin Indonesia.
Nurkencana, Wayan.
1986. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta
:RinekaCipta.
Nurhadi.1995. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung : CV Sinar Ilmu.
Purwadarminta, WJS. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: PN BalaiPustaka.
Partini.1990. Kreatif Berbahasa. Yogyakarta:
Usaha nasional.
Subagio.2000. Metode Penelitian dalam Teoridan Praktek. Jakarta: Rineka.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :Alfabeta, CV.
Samsuri, M. 1991. Burryi Bahasa. Jakarta:
Erlangga.
Sutisna; Oteng. (1993). Administrasi
Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional.
Bandung : Angkasa
Subana, Dkk. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar .Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Surachman, Winarno. 1978. Pengantar Perryelidikan Ilmiah. Yogyakarta: Kanisus
Walgito, Bimo.1980,
Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.


0 komentar
Poskan Komentar