Thursday, December 20, 2012

skripsi bahasa indonesia PERANAN KEMAMPUAN MEMBACA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA


PERANAN KEMAMPUAN MEMBACA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS
VIII SMPN 2 DONGGO  TAHUN
PELAJARAN 2011/2012




MOTTO
Cucuran keringat orang tua adalah hutangku
Membahagiakan orang tuaku dan keluargaku adalah tujuan hidupku
Dan menjadi anak yang soleh, berbakti dan berilmu adalah cita-citaku


















PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan kepada:
v Ayahanda dan ibunda tercinta (Arasyid dan Khadijah). Terima kasih atas semua hal terbaik dan terindah yang selalu kalian hadirkan untuk anakda, untuk piluh dan airmata yang telah menetes karena anakda. Walaupun Ananda berusaha menggantinya, tetap tidak akan pernah cukup untuk membayar semuanya.
v Untuk kakak dan adik-adik ku tersayang (syaifullah, sri Nurnaningsih, Mu’ari, dan Asmawati). Terima kasih atas bantuan dan dukungan morilnya sehingga adiknda bisa menyelesaikan kuliah.
v Untukkekasihkutercinta yang telahbanyakmembantu, menerimadanmengertiakuapaadanya, semogacintakitaakanberakhirdengankebahagiaan yang abadi.
v Untuksahabatku (Titiyanti, Nurwahidah, Arinah) dan yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, persahabatan yang kitalewatiempat tahunbersamadalamsukadanduka, dan berkat dukungan kalian semua sehingga skripsi ini dapat di selesaikan. Terima kasih atas kebersamaan dan bantuannyaselamaini.
v Dosen-dosen yang telah membina dan membimbingkudalammenyelesaikansusunanskripsiini.
v Untuk almamaterku tercinta, UniversitasMuhammadiyah Mataram.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penyusunan skripsi ini telah dapat diselesaikan. Salawat serta salam senantiasa penulis ucapkan kepada baginda Rasulullah SAW, karena atas perjuangan, pertolongan dan pengorbanan-Nya sehingga sampai saat ini kita semua masih dapat menikmati indahnya hasil perjuangan beliau. Skripsi ini disusun  sebagai tugas akhir dan merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada:
1.      Bapak Drs. H. Mustamin, M.Si selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram.
2.      Bapak DR. H. Suwardie AH, SH. MPA selaku Dekan FKIP UM Mataram.
3.      Drs. Akhmad H. Mus., M. Hum selaku ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
4.      Dra. Titin Untari, M.Pd selaku Dosen pembimbing I yang telah penuh kesabaran, ketekunan, dengan memberikan bekal ilmu sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
5.      Ibu Nurmiwati, S.Pd, selaku Dosen Pembimbing II yang dengan ketulusan hati banyak memberikan bimbingan.     
6.      Bapak/Ibu dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram yang telah memberikan bekal ilmu kepada penulis selama proses perkuliahan.
Semoga Allah SWT memberikan balasan dan limpahan keridhaan-Nya. Penulis menyadari skripsi ini masih belum sempurna oleh karena itu, kritik dan masukan yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin!!!


  Mataram,..........2012

  Penulis



ABSTRAK

Nining Fauziatin, 2012 : Peranan Kemampuan Membaca Terhadap Kemampuan  Berbicara Siswa   Kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012

Pembimbing I           :  Dra. TitinUntari, M.Pd
Pembimbing II         :  Nurmiwati, S.Pd

Adapun masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/20112. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Gambaran secara jelas tentang peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII di SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian deskriptif, subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012. Penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi kurang dari 100, di anjurkan agar semuanya di jadikan sampel sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika penelitiannya lebih besar dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%. Karena jumlah populasi lebih dari 100 orang maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah selurus siswa kelas VIIIA SMPN 2 Donggo yang berjumlah 37 siswa.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis dapat diambil, antara lain : a). Peranan  Kemampuan Membaca Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012 secara keseluruhan tergolong sedang dengan rata-rata 7,5. (b). Orgentasi kemampuan membaca  terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012, dilihat dari jumlah sampel 44 siswa sebagai berikut : siswa yang kemampuan tinggi berjumlah 22 orang, Siswa yang berkemampuan sedang berjumlah 17 orang, dan siswa yang berkemampuan rendah berjumlah 5 orang.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012. dan dapat mempengaruhi siswa dalam berfikir serta mengembangkan bakatnya. Hal ini dapat dilihat dalam tabel hasil penelitian.


     Kata Kunci  : Membaca, Berbicara.





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelajaran membaca dan berbicara di Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama ini cenderung diabaikan, disebabkan oleh adanya anggapan­ anggapan yang salah terhadap pengajaran kemampuan membaca dan berbicara itu sendiri. Kebanyakan kita sepakat bahwa pengajaran membaca dan berbicara siswa itu telah berakhir ketika telah dapat membaca dan menulis, yaitu ketika selesainya pengajaran membaca dan menulis permulaan, sekitar kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Sehingga pada jenjang sekolah yang lebih tinggi, pengajaran membaca dan berbicara tidak mendapat perhatian. Akibatnya kebiasaan membaca dan berbicara yang buruk terus berkembang sampai orang menjadi dewasa.
Kemampuan membaca dan kemampuan herbicara sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa para ahii memiliki teori dan pelatihan, menyikapi masalah itu terutama siswa dalam mengembangkan kemampuan dan kecermatan membaca serta kemampuan berbicaranya, untuk mengembangkan atau menyampaikan beberapa masalah, penting mengingat kemampuan membaca dan kemampuan berbicara telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari saat ini.
Membaca dan berbicara yang baik dan benar akan membantu proses pendidikan untuk mencapai tujuannya, maka kehadiran membaca dan berbicara menentukan keberhasilan pendidikan sebab siswa, mudah memahami isi bacaan, memahami tujuan berbicara. Dalam keadaan bagaimanapun membaca dan berbicara bisa dilepas begitu saja karena merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia yang tak dapat dipisahkan. Peranan membaca dan berbicara pada siswa sangat penting terutama untuk berpikir dan bernalar.
Membaca dan berbicara itu sangat penting dalam pendidikan antata lain disebutkan bahwa siswa diusahakan agar memiliki pengetahuan fungsional tentang bahasa dan penggunaannya sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan komunikasi dengan orang lain dan untuk bersosialisasi dengan masyarakat luas maka peran bahasa dalam membaca dan berbicara dirasakan sangat berfungsi sebagaimana disebutkan ahli bahasa tentang fungsi bahasa yang menyebutkan bahwa :
a. Untuk menyatakan ekspresi
         b. Sebagai alat komunikasi
c. Alat untuk mengadakan adaptasi social
d. Alat untuk mengadakan kontrol sosial (Keraf, 1979:3)
Sebagai alat untuk mengadakan ekspresi bahasa secara terbuka segala yang tersirat dalam hati, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan, dan unsur yang mendorong dalam ekspresi adalah :
a. Agar menarik perhatian orang lain
b. Keinginan untuk membebaskan diri dari semua tekanan emosi
Sebenarnya fungsi yang dikembangkan diatas, tidak dapat terpisah satu sama lain, dalam kenyataan sehari-hari sehingga untuk menetapkan dimana yang satu mulai dan dimana yang satu berakhir sangatlah sulit. Pada tahap permulaan waktu kecil belajar menyimak kemudian berkembang menjadi belajar berbicara. Hal ini berlangsung terus menerus sehingga seseorang menjadi dewasa dan belajar membaca. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi tidak diterima oleh orang lain. Dengan komunikasi dapat menyampaikan apa yang dirasakan dan diketahui kepada orang lain. Dengan komunikasi itu pula siswa belajar membaca dan berbicara. Membaca dan berbicara merupakan saluran maksud, rnelahirkan perasaan dan memungkinkan untuk kerja sama dengan semua orang , juga memungkinkan manusia menganalisa masa lalunya untuk meniti hasil yang berguna masa kini dan masa yang akan datang. Dalam pengalaman sehari­hari katakan dari sejak kecil sehingga menjadi seorang dewasa membaca dan berbicara perseorangan mengalami perkembangan dengan bertambahnya pengalaman seseorang. Bila kita bandingkan membaca dan berbicara merupakan sistem keseluruhan dengan fungsi bahasa bertahap-tahap secara individual, yaitu fungsi bahasa jauh lebih luas pada waktu seseorang telah dewasa, maka dapat dibayangkan bahwa membaca dan berbicara mengalami perkembangan dari zaman ke zaman dan perkembangan intelektual itu sendiri.

Proses membaca dan berbicara melibatkan faktor intelektual karena semua sepakat bahwa membaca dan berbicara pada hakikatnya adalah sebuah proses berpikir, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ahli membaca(Edward L. Thoradike), bahwa proses membaca itu tak ubahnya dengan proses ketika seorang sedang berpikir dan bernalar. Dalam membaca dan berbicara ini terlibat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan, membandingkan dan pada akhirnya menerapkan apa yang terkandung dalam bacaan dan pembicaraa. Bukankah in melibatkan cara-cara berpikir induktif, berpikir deduktif dan cara berpikir abstrak? Untuk inilah dalam membaca dan berbicara diperlukan cara yang berupa kemampuan intelektual yang tinggi. Jika dilihat dari aspek intelektual yang lainseperti minat. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa adanya korelasi yang tinggi antara minat terhadapbacaan dan kemampuan membaca dan kemampuan berbicaranya (Nurhadi, 1995:13).
Seorang siswa yang mempunyai minat dan perhatian yang tinggi terhadap bacaan tertentu, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap topik tersebut dibandingkan dengan siswa yang kurang berminat terhadap topik tersebut. Demikian pila penelitian hubungan antara tujuan membaca dan berbicara dengan perubahan gerak mata pada waktu membaca dan berbicara. Dalam penelitian terlihat bahwa perbahan tujuan membaca dan berbicara berakibat terjadinya perubahan dalam gerak mata, yang nantinya akan berimplikasi pada kecepatan atau kemampuan membaca dan kemampuan berbicara yang sedang berlangsung. Ini terbukti bahwa ada faktor tujuan membaca dan berbicara yang mempengaruhi proses membaca dan berbicara.
Jika dilihat dari faktor eksternal perbedaannya tidak banyak faktor­faktor eksternal tertentu yang berpengaruh terhadap kemampuan membaca dan berbicara antara lain faktor penerangan, faktor sosial ekonomi, akan mempengaruhi hasil pembeda dan berbicara.Penerangan yang kurang baik (jelek) kan mempengaruhi hasil pembaca dan berbicara. Demikian juga latar belakang faktor sosial ekonomi, sosial ekonomi yang tinggi akan mendapat kemudahan sarana membaca dan berbicara yang memadai, sehingga terbentuk tradisi atau kebiasaan membaca dan berbicara. Kebiasaan membaca dan berbicara ini yang akan mempengaruhi kemampuan siswa atau seorang inilah yang dimaksudkan bahwa membaca dan berbicara itu adalah proses yang kompleks.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah "Bagaimanakah Peranan Kemampuan Membaca Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011-2012 ?"
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam penulisan proposal ini, peneliti ingin mengetahui gambaran secara jelas tentang peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo tahun pelajaran 2011-2012.



1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran, terutama kemampuan siswa dalam membaca dan berbicara dan hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan motivasi bagi peneliti lain yang berminat untuk mengkaji lebih mendalam untuk mengungkapkan faktor-faktor yang belum terungkap dalam penelitian ini.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru sebagai acuan agar mampu meningkatkan prestasi siswa secara optimal terutama dalam hal kemampuan membaca dan kemampuan berbicara.
2. Hasil penelitian ini diharapakan berguna bagi keluarga dalam memberikan dukungan agar siswa mampu meningkatkan kemampuan membaca dan kemampuan berbicara siswa.
3. Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi sekolahuntuk meningkatkan wawasan bagi tenaga edukatif dalam meningkatkan profesional guru dan tenaga pendidik yang. lain.



BAB 11
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar
Dalam hal ini akan diuraikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan peranan kemampuan membaca dan kemampuan berbicara antara lain:
a.       Kemampuan
Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Partini, 1990: 869). Kernampuan dalam hal ini merupakan kesangwepan siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan apa yang di perintahkan oleh guru dan teman dan mendapatkan hasil yang lebih baik.
b. Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan. - Sedangkan kemampuan membaca adalah kemampuan orang dalam memahami isi bacaan yang diukur dengan tes yang disediakan, dan kemampuan membaca teknis adalah kemampuan dalam mengekspresikan bacaan supaya enak untuk didengar yang diukur dengan merekam teks yang disediakan (Tarigan, 1979:7).


    c. Berbicara
Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung, apakah sang pembicara memahami atau tidak, baik bahan pembicaraan atau penyimaknya, apakah dia tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak pada saat dia mengkomunikasikan gagasannya, dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak (Tarigan dalam Fatrnawati, 1997: 89).
2.2 Kemampuan Berbicara
Dalam hal ini akan dijelaskan beberapa hal diantara pengertian kemampuan berbicara, pentingnya kemampuan berbicara, aspek-aspelc
kemampuan berbicara dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara.
2.2.1 Pengertian Kemampuan Berbicara
Secara leksikal, kemampuan berasal dari kata "mampu" menurut Purwadarminta berarti, kuasa, sanggup melakukan sesuatu. Kemampuan berarti kesanggupan melakukan sesuatu berucap. Dalam hal ini kaitannya dengan kemampuan. membaca dan berbicara (Purwadarminta, 1985:723). Makna leksikal kemampuan berbicara yakni kemampuan dalam berkata atau berbicara. Tarigan dalam Fatmawati (1997:89) mengemukakan bahwa . berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung, apakah sang pembicara memahami atau tidak, baik bahan pembicaraan atau penyimaknya, apakah dia tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak pada saat dia mengkomunikasikan gagasannya, dan apakah dia waspadaserta antusias atau tidak. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan atau kata­kata untuk menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat serta sebagai alat untuk mengetahui apakah pembicara mempersiapkan diri dengan baik dalam menyampaikan bahan pembicaraan dihadapan para penyimaknya.
2.2.2 Pentingnya Kemampuan Berbicara
Kemampuan berbicara mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuan berbicara, siswa akan dapat menyampaikan ide, pikiran, gagasan, dan perasaannya kepada orang lain. Atar (1992 dalam Fatmawati 1997:51) mengemukakan bahwa : (1) diterima baik dalam pergaulan, disebabkan karena tidak menyinggung perasaan lawan bicara. (2) mempunyai banyak sahabat sebab dapat berkomunikasi dengan baik dan menarik (3) dapat menyumbangkan fikiran yang berharga bagi teman-teman yang memerlukan berkat kepandaiannya menyampaikan gagasan dan cara pemecahannya. (4) mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi pemimpin memerlukan kemampuan berbicara dengan orang yang dipimpinnya. (5) mempunyai peluang yang lebih sukses dalam mencari ilmu dan memberikan ilmu kepada orang lain. (6) mempunyai kemampuan untuk sukses dalam menjalankan pekerjaan yang ada kaitannya dengan orang lain karena kemampuannya berbicara atau berkomunikasi. Berdasarkan kenyataan sehari-hari,maka kemampuan berbicara sangat penting untuk dimiliki seseorang. Dengan demikian, kemampuan berbicara harus dipelajari sejak dini agar terampil berbicara sehingga apa yang disampaikan dapat dimengerti oleh penyimak.
2.2.3 Aspek Kemampuan Berbicara
Untuk dapat menjadi pembicara yang baik, selain harus memberikan kesan yang penguasaan berbicara juga harus memperlihatkan keberanian dan kegairahan serta berbicara dengan jelas dan tegas. (Arsyad dan Mukti 1988:103) aspek-aspek keefektifan berbieara diantaranya adalah aspek­ aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan itu antara lain, ketepatan sasaran, ketepatan berbicara, penenpatan tekanan pembicaraan atau perwakilan kalimat. Aspek kebahasaan yaitu sikap yang wajar, pandangan, kesediaan menghargai pendapat orang lain, gerak gerik dan mimik, kenyaringan suara, relevansi dan penguasaan topik.
Berdasarkan paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek kemampuan berbicara antara lain :
a.       Ketepatan Pengucapan
Ketepatan pengucapan merupakan seluruh kegiatan yang dilakukan dalam memproduksi bunyi bahasa yang meliputi artikulasi yaitu bagairnana posisi alat bicara seperti lidah, gigi, bibir, dan langit-langit pada waktu membentuk bunyi, baik vokal maupun konsonan. Kemampuan pengucapan atau pelafalan terdiri dari keterampilan untuk mengucapkan bunyi segmental yakni vokal dan konsonan dan bunyi­bunyi supramental berupa tekanan dan intonasinya. (Datmodiharjo, 1982:48) menyatakan bahwa pengucapan bahasa dianggap baik diantara kalimat-kalimatnya fungsional nada dan situasional sesuai dengan jenis dan bentuknya, tekanan dan jedanya tepat, keteapatan pelafalan bunyi­bunyi vokal dan konsonannya dan memiliki pola-pola intonasi yang tepat serta tekanan kata-kata maupun kalimat dengan jelas dan pasti.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengucapan lagu bahasa dianggap baik apabila kalimat-kalimat yang diucapkan berfungsi nadanya sesuai dengan situasinys, tekanan jeda juga harus tepat. (Muhajir, 1975:29) mengemukakan bahwa kesalahan dalam mengucapkan konsonan dan vokal akan lain pula artinya apa yang dikatakan pendapat tersebut jelas menyatakan bahwa kesalahan dari pelafalan konsonan dan vokal akan menyebabkan maksud dari ucapan itu; berbeda.
b.      Kemampuan Gramatikal       
Kemampuan gramatikal adalah merupakan kemampuan untuk menguasai tata bahasa yang berlaku dalam bahasa tersebut. Kemampuan tata bahasa antara lain adalah kemampuan dalam struktur kata dan menyusunnya dalam bentuk struktur kalimat yang benar. Pembicara yang baik harus menggunakan kalimat yang efektif untuk mempermudah pendengar menangkap isi pembicaraan. Menyusun dan menggunakan kalimat efektif harus langsung mengenai sasaran sehingga mampu meninbulkan pengaruh, meninggalkan kesan atau akibat bagi pendengarnya. Dalam membaca kemampuan gramatikal sangat penting dikuasai seperti kemampuan memahami makna kata, kemampuan memahami kalimat dan lain sebagainya.
c.        Pembendaharaan Kata
Pembendaharaan kata merupakan kesanggupan seseorang untuk mengartikan kata-kata dalam bahasa yang memungkinkan seseorang tersebut memahami pembicaraan orang lain. (Darmaji, 1985:26) menyatakan bahwa kemampuan seseorang mengartikan kata-kata dalam bahasa akan memberikan peluang untuk mengerti dan menggunakan bahasa walaupun secara bahasa jalan. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa bagi seseorang yang   memiliki banyak pengertian dari kata-kata bahasa walaupun bersifat pasif, dalam arti kurang menggunakan kaidah yang tepat. Dengan demikian penggunaan kosa kata sangat penting bagi seseorang untuk mampu berbicara.
d.       Kelancaran Berbicara
Kelancaran berbicara seseorang berhubungan langsung dengan bunyi ataupun ujaran. Orang yang dilatih dengan baik akan mampu berbicara dengan cepat dan tepat sehingga mereka akan lancar berbicaranya. Samsuri, (1991:97) mengatakan bahwa orang yang terlatih dalam ilmu bunyi mempunyai pengetahuan dan kemahiran menganalisis dan menghasillcan tiap bunyi bahasa karena ia telah tahu tentang struktur dan fungsi peralatan ujar. Iapun dapat menguraikan dengan setepat­tepatnya dan sesederhana pembentukan bunyi bahasa sehingga ia sendiri maupun siapa saja yang trelatih dalam ilmu bunyi dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu dengan baik atau betulmenggunakan alat-alat ucapan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kefasehan seseorang mengucapkan kata-kata dalam bahasa akan memperlancar orang tersebut untuk berbicara dalam menyampaikan gagasa.n, fikiran, ide, dan juga perasaannya.
e.        Penguasaan Topik
Dalam pembicaraan formal selalu menuntut persiapan yang baik agar topik yang akan dibicarakan betul-betul dikuasai oleh pembicara. Penguasaan topik yang baik akan menumbuhkan keberaian kelancaraai. Dengan demikian, penguasaan topik sangat penting bahkan. merupakan faktor utama dala.m berbicara; penguasaan topik berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman. Jika pengetahuan dan pengalaman luas maka dengan mudah menguasai topik pembicaraan yang disajikan.
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca
Faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca setidak-tidaknya ada dua hal yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Untuk memperoleh kemampuan berbicara, siswa harus mempunyai keinginan untuk belajar dan berlatih secara terus menerus. Didalam belajar dan berlatih harus didukung oleh kemampuan, kemauan, kekuatan, dan keuletan agar apa yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu. Interaksi individu secara garis besarnya meliputi lmgkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
2.3.1 Kemampuan Membaca
Dalam hal ini akan dijelaskan beberapa hal diantaranya tentang kemapuan membaca dan tingkat membaca kritis dan meningkatkan sikap kritis.

2.3.2 Pengertian Kemampuan Membaca
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata atau bahasa tulis.
Sedangkan kemampuan membaca adalah kemampuan orang dalam memahami isi bacaan yang diukur dengan tes yang disediakan, dan kemampuan membaca teknis adalah kemampuan dalam mengekspresikari bacaan sehingga enak untuk didengar yang diukur dengan merekam teks yang disediakan(Tarigan, 1979:7). Kemampuan membaca siswa harus ditu: ~ang dengan kemampuan menguasai kebahasaan seperti : kosa kata, dan tata bahasa. Dengan demikian dapat dipertegas bahwa kemampuan yang dikaitkan dengan membaca adalah kemanpuan untuk merespon secara sadar susunan tertulis yang dihadapinya atau yang disimulasikan. Respon yang ditampilkan adalah respon aktif. Respon aktif ini berkaitan dengan pengelolaan terhadap tuturan tertulis. Dari beberapa teori tentang kemampua membaca yang telah dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa indikator yang dapat dijadikan acuan setiap siswa dapat dikaitkan mahir membaca secara sukses harus memiliki ketentuan untuk memahami hal-hal yang berkaitkan dengan kebahasaan dengan isi pesan.

2.3.3. Jenjang Kemampuan Membaca dan Tingkat Membaca Kritik
Dalam kenyataan sehari-hari sering dijumpai hal-hal semacam ini seorang siswa sedang membaca sebuah buku. Buku tersebut dibaca kata demikian, baris demi baris dan kalimat demi kalimat apa yang tertulis lalu diingatnya sebagai sebuah ingatan. Informasi yang tertulis dalam bacaan disimpan dalam ingatan, lalu dinyataka..n kembali bila perlu persis dengan apa yang dikatan pengarangnya dengan kata lain setelah selesai membaca, ia menyatakan kembali informasi tersebut secara tepat.
Oleh karena itu hanya berusaha untuk mengingat, maka dalam proses. ini dia tidak melibatkan aspek berFkir kritik. Panggilan hanya terbatas pada hal-hal yang secara ekplisit teriulis daiam bacaan, pembaca hanya tahu apa yang dikatakan oleh pengarangnya d:.n tidak ada satupun aktifitas mental berf kir yang mengikutinya. Pembaca hanya memproduksikan kembali secara mental apa yang tertulis pengarang.
Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa pada jenis membaca ini dapat disebut sebagai jenjang kemampuan membaca yang paling rendah tingkatanya.Jenis mebaca pada jenjang yang lain pembaca" tidak hanya puas pada tingkatan tahu atau ingat apa yang dikatakan dalam buku. Tetapi ia sadar bahwa bahan bacaan itu tidak hanya berisi informasi yang perlu diingatkan saja, tetapi perlu diolah dan dipahami. Setiap orang berbeda pandangana dari segi kemampuan intelektual, sikap, bakat, minat, motivasi, tujuan membaca dan lain-lainnya. Oleh karena itu jelas bahwa setiap orang mempunyai kemampuan membaca dan sikap kritis berbeda. Untuk itu, sebagai tindak lanjut dari usaha meningkatkan sikap kritis tersebut.Ada beber<apa aspek berpikir kritis yang dikuasai oleh seorang pembaca, yang diharaplcan akan menjadi semacam sikap yang selalu mempola untuk selalu berpikir kritis dalam membaca. Sikap-sikap kritis itu meliputi kemampuan-kemampuan pembaca untuk :
1. Menginterprestasi
2. Menganaslisis secara kritis
3. Mengorganisasi secara kritis
4. Menilai secara kritis
5. Menerapkan konsep secara kritis
Akan tetapi, sebelumnya perlu diingat bahwa jenjang kemampuan membaca itu tidak hanya sampai pada tingkat kritis. Secara fisik pr~,ses membaca itu hanya berakhir pada tingkat membaca kritis. Namun, sebenarnya pembaca yang sudah dikatakan berhasil apabila pembaca sudah mampu menerapkan hasil membacanya dalam konteks kehidupan yang lebih luas, yaitu diluar konteks proses membaca.. Artinya mampu menerapkan hasil membacanya untuk kepentingan kehidupan sehari-hari, minimal' menghubungkan dengan kepentingan sebagai bagian dari kehidupan nyata. Bila seorang telah mampu menerapkan kegiatan membaca semacam ini, dapat dikatakan sebagai pembaca yang kritis sekaligus kreatif dalam memanfaatkan hasil membacanya.
2.3.4 Meningkatkan Sikap Kritis
Mengenai meningkatkan sikap kritis dalam kemampuan membaca akan di uraikan tentang, kemampuan menginterpretasi makna tersirat dan kemampuan mengaplikasikan konsep dalam bacaan.
a.       Kemampuan Menginterpretasi Makna tersirat
Dalam sebuah bacaan siswa bisa bersikap tidak ambil pusing dengan fakta atau informasi yang terlulis dengan jelas. Informasi cukup diketahui saja bahkan ada kalanya informsi itu ditelan secara mentah, dan diterima secara pasif.
b.      Kemampuan Mengaplikasikan Konsep dalam Bacaan
Seorang pernbaca yang kritis tidak akan pernah berhenti sampai, pada aktifitas menggali makna yang tersirat melalui pemahaman dan interpretasi secara kritis, tetapi harus mampu menerapkan konsep-konsep yang ada dalam bacaan keadaan situasi baru yang bersifat problematis.
2.4 Penelitian yang Relevan
Penelitian yang sejalan dengan penelitian ini diantaranya yang pernah dilakukan oleh Haryono (1995). Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca dan berbicara ditinjau dari kemampuan guru mengajar. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kemampuari membaca dan kemmpuan berbicara seseorang dipengaruhi oleh faktor kemampuan guru dalam mengajar.
Sementara, Haryadi (1996) dalam Dimiyanti (1998) mengadakan penelitian tentang kelancaran dalam membaca dan berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kelancaran siswa dalam membaca dan berbicara. Hasil penelitian ini antara lain menyimpulkan bahwa siswa yang tinggal dilingkungan yang dekat dengan pendidikan lebih lancar membaca dan berbicaranya bila dibandingkan dengan siswa yang berasal dari lingkungan yang jauh dari tempat atau lokasi pendidikan.
Hasil penelitian tersebut memberikan dukungan serta motivasi dan relevansi kemampuan membaca dan kemampuan berbicara bagi seseorang. Hal ini, memotivasi peneliti untuk mengangkat masalah peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011-2012.    

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Subjek Penelitian
3.1. Populasi
Populasi adalah "Sebagai penentuan subjek itu dapat diartikan sebagai seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki atau populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai suatu sifat yang sama (Hadi, 1997: 220). Sedangkan menurut (Subagio 2000: 33) "Populasi adalah obyek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan mengumpulkan data : Dari kedua pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa "populasi yaitu keseluruhan subjek atau individu yang diselidiki sebagai sasaran untuk mendapatkan data".
Berdasarkan definisi populasi tersebut di atas maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012.
Tabel 01 : Populasi Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pela aran 201112012
No.
Kelas
Jenis kelamin
Jumlah


L
P

1.
V111A
16
21
37
2.
VIII B
18
24
42
3.
VIII C
13
27
40
JumlahSiswa
        _47
47
            71
        118

Tabel di atas merupakan data tentang keadaan siswa di SMPN 2 Kecamatan Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012.
3.1.2 Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006: 87). Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang lebih besar (Tim Penyusun, 1994 : 20 ). Sedangkan menurut Sugiyono sampel adalah "Sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi"(2003: 56).
Sementara itu penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi kurang dari 100, dianjurkan agar semuanya dijadikan sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya besar lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung dari kemampuan peneliti (Arikunto, 2006:112). Karena jumlah populasi lebih dari 100 orang, maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII A SMPN 2 Kecamatan Donggo yang berjumlah 37 Orang siswa.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah "Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, dalam hal ini adalah proses diperolehnya data dari sumber data yang dimaksud berasal dari subjek penelitian (Subana dkk, 2005:56).
Untuk memperoleh data dalam suatu penelitian diperlukan cara untuk mengumpulkan data. Maka dalam penelitian ini ada bebe , rapa macam metode yang digunakan yaitu metode observasi, metode tes, dan metode dokumentasi.
3.2.1 Metode Observasi
Metode observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala pesikis untuk kemudian dilakukan pencatatan (Nazar, 211:1998).
Winarno, (121:1978) mengemukakan bahwa observasi adalah "metode pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) pengamatan gejala­gejala subjek yang akan diteliti, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi yang khusus dilakukan".

Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan langsung secar`a
sistimatis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki (Sutina, 1980: 36). Metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat secara langsung pada lokasi yang diteliti. Adapun yang diobservasi dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi para guru, dengan demikian data yang akan diperoleh melalui metode ini merupakan realita dilapangan.
Mencermati pengertian di atas jelaslah bahwa observasi adalah cara untuk mengadakan penelitian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung .
3.2.2 Metode Tes
Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis clan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat (Arikunto, 1984: 35). Sedangkan menurut (Nurkencana, 1986: 43) tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaiari tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang ditetapkan. Dari dua pendapat pakar tersebut di atas maka dapat disimpulkan tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang diberikan oleh pengajar.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian terbatas: Da1am tes uraian terbatas ini peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal yang ditanyakan, namun arah jawaban dibatasi, sehingga kebebasan tersebut menjadi bebas yang terarah.
Tabe102: Tes Kemampuan Membaca dan Berbicara


Objek Pengamatan
No
Nama
Kemampuan membaca
Kemampuan berbicara


1
2
3
4
1
2
3
4
1











2



















3
4
5









(Sumber data)
Keterangan: Aspek Penilaian Membaca
1. Pemahaman isi
2. Kelancaran
3. Kesesuaian waktu
4. Kemampuan menyampaikan kembali
Keterangan: Aspek Penilaian Berbicara
1.      Intonasi
2.      Artikulasi
3.      Kesesuaian dengan topik
4.       Penampilan

3.2.3 Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data terhadap hal­hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Suharsimi, 2002: 206). Metode ini digunakan untuk melengkapi data yang belum diperoleh melalui metode wawancara dan observasi.
Ada beberapa pendapat dari para ahli tentang arti dari dokumen, pendapat diantaranya Suharsimi Arikunto, dalam buku psikologi penelitian karangan IB Netra (1974: 63) bahwa "Dokumen adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, majalah, buku, transkrip, surat kabar, notulen rapat, agenda dan sebagainya".
Kedua pendapat tersebut di atas, dapat penulis simpulkan bahwa metode dokumen dalam penelitian adalah mencari data mengenai hal-hal variabel berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat dan lain sebagainya.
3.4 Metode Analisis Data
Analisis data dalam suatu penelitian bertujuan untuk menyempitkan atau membatasi penemuan-penemuan sehingga menjadi suatu data yang teratur serta menjadi tersusun dan lebih berarti (Marzuki, 1974: 76).
Definisi di atas metode analisis data dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk mengolah dan mengumpulkan data secara terorganisir dan sistematis, sehingga diperoleh penjelasan yang baik, maka dalam menganalisis data ini metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun sua,tu kelas peristiwa pada masa sekarang dengan tujuan untuk membuat gambaran atau tulisan secara sistematis dan faktual serta akurat mengenai fakta, sifat-sifat dan hubungan antara fenomena-fenomena yang diselidiki. Sedangkan metode kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin diketahui ( Margono, 2007:105).
1.      Mencari Kemampuan Individua.
a.       Menentukan skor maksimal ideal (SMI).
 SMI adalah skor tertinggi yang diperoleh oleh siswa, apabila semua soal yang diujikan  dij awab dengan benar.
SMI = 100
b.      Menentukan Mean ideal (MI)
MI =  = 50
c.       Menentukan Standar devisi soal (SDi)
d.      SDI =
2.      Mencari kemampuan kelompok
a.       Menentukan mean (nilai rata-rata siswa)
b.      Menentukan indeks prestasi komunikatif (IPK)
Keterangan :
M           = Mean (nilai rata-rata siswa)
Y-fx         = Jumlah nilai total yang diperoleh dari hasil penjumlahan nilai   setiap individu
N            = Banyaknya individu (peserta didik)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Gambaran Lokasi Penelitian
4.1.1        Profil Sekolah
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Donggo merupakan salah satu SMP Negeri di Kecamatan Donggo yang secara geografis terletak di tengah-tengah permukiman penduduk di Desa Mbawa tepatnya berada di jalan Lintas Sila Donggo dengan batasan-batasan sebagai berikut:
-          Sebelah Timur berbatasan dengan SDN Sangari
-          Sebelah Barat berbatasan dengan persawahan
-          Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Mangge
-          Sebelah Utara berbatasan dengan Dusun Sangari 2
4.1.2        Keadaan Guru
Adapun jumlah guru negeri dan guru tidak tetap (GTT) di SMPN 2 Donggo berdasarkan jenis kelamin, jabatan dan pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Berdasarkan tabel di atas, bahwa guru yang mengajar di SMPN 2 Donggo adalah 29 orang dengan perincian S1 sebanyak 27 orang dan tanpa sarjana sebanyak 2 orang guru yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing dan bisa menjalankan kode etik keguruan secara professional ketika proses kegiatan belajar mengajar berlangsung sehingga bisa menghasilkan output atau lulusan yang berkualitas yang bisa bersaing di era globalisasi.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa jumlah siswa SMPN 2 Donggo secara keseluruhan sebanyak 292 siswa dengan perincian laki-laki sebanyak 147 orang dan perempuan 145 orang. SMPN 2 Donggo banyak yang meminatinya hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa di sekolah tersebut.
4.1.4   Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana dapat dikelompokan dalam faslitas belajar dan alat penunjang belajar. Oleh karena itu dengan adanya sarana dan prasarana ini dapat menunjang proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Tabel 4.3: Sarana dan prasarana SMPN 2 Donggo
No.
Nama Ruangan
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Ruangan kepala sekolah
Ruangan teori
Ruangan guru
Ruangan TU
Ruangan UPTD
Ruangan perpustakaan
Ruangan laboratorium
Ruangan koperasi
Ruangan kantin
Gudang
WC Siswa
WC guru
Rumah penjaga
Musholla
1
9
1
1
1
1
1
1
1
1
2
4
1
1
Sumber Data: SMPN 2 Donggo tahun 2011
Berdasarkan pada tabel di atas, jelas bahwa SMPN 2 Donggo memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai yang dapat menujang kegiatan belajar mengajar. Hal ini terbukti dengan tersedianya semua ruangan yang berkaitan dengan tuntutan kebutuhan sekolah mulai dari kebutuhan guru sampai kebutuhan siswa. Disamping faktor guru, murud, dan pegawai faktor sarana dan prasarana tidak kalah pentingnya dalam menunjang kelancaran proses belajar mengajar, sebab sarana merupakan wadah untuk berlangsungnya porses pembelajaran, alat peraga atau alat pelajaran merupakan faktor penunjang yang penting artinya untuk memperjelas pemahaman siswa terhadap pelajarannya.
4.2  Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini  dilaksanakan di SMPN 2 Donggo pada siswa kelas VIII yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa indonesia dengan kemampuan membaca dan berbicara individual. Dari hasil observasi diperoleh data kualitatif yang akan memberikan gambaran tentang kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses belajar mengajar dan hasil tes diperoleh data kuantitatif berupa prestasi belajar siswa secara klasikal. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode dan rumus yang telah ditetapkan sebelumnya.
Adapun rincian pelaksanaan dan hasil penelitian peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa pada  mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan efektivitas dan prestasi belajar siswa kelas VIII Semester I SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012 dapat diuraikan dalam bagian-bagian berikut:
4.1.1        Hasil Observasi
Berdasarkan hasil observasi, antusias siswa dalam proses pembelajaran masih kurang. Sebagian besar siswa masih malu-malu untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Selain itu juga siswa belum bisa menyimpulkan sendiri materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini disebabkan karena pendekatan langsung ke siswa pada saat pembelajaran masih kurang. Sementara itu interaksi antara guru dengan siswa masih didominasi oleh guru hal ini terlihat dari siswa yang pada umumnya belum berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan oleh gurunya.
Interaksi siswa dengan siswa pada saat proses pelaksanaan pembelajaran belum kelihatan kompak, hal ini terlihat dari sebagian siswa yang belum serius dalam memperhatikan dan mengerjakan soal yang diberikan oleh gurunya. Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi yang telah disampaikan oleh guru masih sangat kurang. Hal ini membuktikan bahwa peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa belum efektif.

4.2  Analisis Data
Metode analisis adalah suatu proses untuic mengetahui valid tidaknya suatu data. Analisis data adalah suatu proses yang mencari usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu (Taylor dalam Maleong, 2005 : 103).
Adapun tujuan analisis data adalah menyempitkan dan membatasi penemuan-penemuan sehingga menjadi suatu data yang teratur serta tersusun dan lebih berarti (Arikunto, 1995 : 135).
Penelitian ini menggunakan metode analisis dengan pengukuran secara kualitatif. Metode analisis data adalah suatu penelitian yang mencoba bagaimana dan mengapa fenomena itu terjadi. Sehubungan dengan metode tersebut, maka penelitian ini dalam mengumpulkan data dengan menggunakan tes. Adapun tes yang sifatnya langsung, yaitu objek melakukan aktivitas, sedangkan subjek atau peneliti mengamati dan memberikan penilaian dengan berpatokan pada urutan-urutan yang ditetapkan. Jadi metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif  kuantitatif. Deskriptif kuantitatif adalah metode hitungan yang digunakan dalam bentuk angka yang menunjukan jumlah kemampuan siswa

dan prosentasenya.Setelah data terkumpul, kemudian data dianalisis. Data tersebut diolah dengan menggunakan langkah-langkah kerja sebagai berikut:



                        Berdaasarkan tabel di atas, hasil tes Kemampuan Membaca  dari 44 siswa  didapatkan skor tertinggi 32  dan skor terendah 16, Sedangkan kemampuan Berbicara dari 44 siswa  didapatkan skor tertinggi 32 dan skor terendah 16, dengan demikian dikatakan bahwa kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan berbicara.
Pembahasan
            Pelajaran Membaca dan Pelajaran Berbicara di Sekoloah Menengah Pertama (SMP) Khususnya SMPN 2 Donggo selama ini cenderung di abaikan, disebabkan oleh adanya anggapan-anggapan yang slah terhadap pengajaran kemampuan membaca dan berbicara itu sendiri. Kebanyakan kita sepakat bahwa pengajaran membaca dan berbicara telah berakhir ketika telah dapat membaca dan menulis, yaitu ketika selesainya pengajaran membaca dan menulis permulaan, sekitar kelas tiga sekolah dasar (SD). Sehingga pada jenjang sekolah yang lebih tinggi , pengajaran membaca dan berbicara tidak mendapat perhatian akibatnya kebiasaan membaca dan berbira yang buruk terus berkembang sampai orang menjadi dewasa.
            Membaca dan berbicara yang baik dan benar akan membantu proses pendidikan untuk mencapai tujuannya, maka kehadiran membaca dan berbicara menentukkan keberhasilan pendidikan sebab siswa, mudah memahami isi bacaan, memahami tujuan berbicara. Dalam keadaan bagaimana pun membaca dan berbicara bisa di lepas begitu saja karena

merupakan bagian dari kebutuhan hidup manusia yang tak dapat dipisahkan. Peranan membaca dan berbicara pada siswa khususnya di SMPN 2 Donggo yakni untuk berpikir dan bernalar.
1.      Analisis Data hasil Tes
Tabel 4.2 : Konversi skor mentah menjadi skor standar dari data hasil tes Kemampuan Membaca terhadap Kemampuan Berbiraca Siswa Kelas VIII SMPN 2

Mencari Nilai Rata-rata dilihat dari uji tabel 4.2 di atas, maka di peroleh cara perhitunngan sebagai berikut :
Keterangan Rumus :
M      = Rata-rata
∑x     = Jumlah skor yang di peroleh.
∑n     = Jumlah sampel
Standar Deviasi:
Untuk mencari standar Deviasi dapat di gunakan  rumus sebagai berikut
dibulatkan menjadi 1,58
Keterangan
SD    = Standar deviasi
N      = Jumlah sampel
X      = Jumlah skor standar yang dicapai
       = Jumlah nilai keseluruhan
Penjelasan Dari tabel di atas
1.      Standar deviasi ideal (Skor maksimal yaitu jumlah skor standar tertinggi diperoleh dari tes
2.      Skor maksimal yang diperoleh dari hasil tes siswa adalah 10
3.      Skor minimal adalah jumlah skor standar terendah yang diperoleh dari tes
4.      Skor Minimum yang diperoleh dari hasil tes siswa adalah  4
5.      Median adalah skor tengah antara skor paling tinggi dan skor paling rendah yaitu skor yang diperoleh peserta tes sejumlah 44 orang siswa, ini menunjukkan deretan angka :
(4,4,5,5,5,6,6,6,6,6,6,6,7,7,7,7,7,7,7,7,7,7,8,8,8,8,8,8,8,9,9,9,9,9,9,9,10,10,10,10,10,10,10,10)

6.      Skor maksimal ideal adalah skor mentah yang dicapai apabila semua jumlah soal dapat dijawab dengan benar. Skor maksimal ideal dapatdicari dengan menghitung jumlah serta menghitung bobot masing-masingsoal. Skor maksimal ideal yang telah ditentukan adalah : 100).
7.      Mean ideal atau rata-rata ideal, dapat dicari dengan menggunakan rumus:

Keterangan:
MI     = Mean Ideal
SMI   = Skor SDI) dapat dicari dengan menggunakan rumus


Mencari kemampuan kelompok dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
1.      Tinggi = MI + SDI ke atas = 50 + 16, 67 = 66, 67 ke atas
2.      Sedang = MI ± SDI     = 50 ± 16, 67 = 66,67 - 33,33 Sedang
3.      Rendah = MI - SDI ke bawah = 50 -16, 67 = 33,33 ke bawah

Keterangan:
MI     =Mean Ideal
SDI    = Standar Ideal
Dari analisis data skor yang diperoleh dari hasil tes tersebut maka dapat ditemukan tingkat kemampuan kelompok dan prestasi kemampuan keleompok sebagai berikut:
a.       Kemampuan tinggi adalah sebanyak 22 siswa, yang terdiri dari 7 siswa yang mendapat nilai 8, 7 siswa yang mendapat nilai 9 dan 8 siswa yang mendapat nilai 10.
b.      Kemampuan sedang adalah sebanyak 17 siswa, yang terdiri dari 7 siswa yang mendapat nilai 6 dan 10 siswa yang mendapat nilai 7.
c.       Kemampuan rendah adalah sebanyak 5 anak, yang terdiri dari 2 siswa yang mendapat nilai 4 dan 3 siswa yang mendapat nilai 5.
Berdasarkan data tes diatas kita dapat mengetahui jumlah tingkat kemampuan dalam kelompok yaitu kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah. Maka selanjutnya dapat dihitung presentase tingkat kemampuan kelompok siswa dalam kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara. Prosentasenya adalah sebagai berikut:

Keterangan :
IPK     = Indeks Prestasi Kelompok
M         = Mean (rata-rata)
SMI     = Skor maksimal ideal
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Kemampuan Membaca terhadap kemampuan berbicara
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh di SMPN 2 Donggo dengan jumlah sampel 44 siswa. Dengan menggunakan Metode Observasi, Metode Tes, dan Metode Dokumentasi. Sehingga Keberhasilan dalam proses belajar mengajar banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor psikologi, emahami, dan daya ingat untuk menyampaikan kembali isi tes yang dibacanya. Dalam hal ini menurut beberapa guru bahwa kurangnya peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa SMPN 2 DONGGO. Di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
a.       Kurangnya Membaca, akibat dari kurangnya membaca siswa akhirnya kesulitan untuk berbicara
b.      Kurangnya memahami isi tes sehingga siswa kesulitan untuk memyampaikan kembali isi tes tersebut, yang akhirnya siswa kesulitan untuk berbicara



BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa:
1.      Peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo tahun ajaran 2011/2012. Hal ini terlihat dari hasil observasi belajar siswa yang menunjukkan peningkatan aktivitas belajar siswa.
2.      Peranan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Donggo tahun ajaran 2011/2012. Hal ini terlihat dari hasil evaluasi belajar siswa.
3.      Materi dan tujuan instruksional umum dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik siswa.
4.      Umpan balik lebih konsisten dengan kebutuhan.





5.2  Saran-Saran
Besdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan maka penulis mengajukkan beberapa saran, antara lain :
1.      Bagi siswa diharapkan membiasakan diri untuk menanyakan materi yang dianggap sulit dan belum dimengerti serta tanpa ragu menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari guru maupun teman-temannya.
2.      Kepada Pihak Pengajar  Hendaknya mempertimbangkan Pengaruh kemampuam membaca terhadap kemampuan brbicara sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa nantinya.
3.      Diharapkan kepada guru agar memperhatikan karakteristik anak didiknya dan memperlakukan sesuai karakteristiknya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
4.      Pada poengajaran mata pelajaran bahasa  indonesia, khususnya penerapan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara sebaiknya para guru menggunakan secara terus menerus.
5.      Penerapan kemampuan membaca terhadap kemampuan berbicara perlu di lakukan terus menerus dan lebih diprioritaskan pada mata pelajaran bahasa indonesia di SMPN 2 Kecematan Donggo ataupun di sekolah-sekolah lain. Hal ini di maksudkan agar siswa terlatih untuk berbicara dan menemukan pengetahuan mereka sendiri, bisa membaca, bisa menyampaikan kembali isi bacaan, kesesuaian waktu, ketepata dengan topik. Siswa bukan hanya sekedar mendengar dan mencatat saja.
6.      Bagi peneliti untuk kedepannya diharapkan dapat lebih profesional dalam menerapkan pembelajaran individual.


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1984. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakiek. Jakarta: PT Rineka Cipta

2002. Proseur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta: Rineka Cipta.
                      2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PSC.PTK.
Arsyad dan Mukti. 1988. Aspek-Aspek Berbicara. Yogyakarta: Cinta Pena.
Darmodiharjo. 1982. Bunyi Bahasa. Jakarta: RinekaCipta.
Dimiyati. 1998. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikti.

Fatmawati. 1997. Kreatif Berbahasa. Yogyakarta: Kanisus.
Haryono. 1995. Penelitian Kemampuan Membaca Praktek. Jakarta: RinekaCipta.

Hadi, Sutisno. 1997. Metodologi Research. Jilid 1 Yogyakarta :Andi Offset.
Netra, IB. 1974. Psikologi.Yogyakarta: SIC
Keraf, Gorys. 1979. Membaca sebagai suatu Keterampilan Berbahasa Indonesia. Bandung: Angkasa

Margono, S. 2003. Metodologi Research. Yogyakarta: FP UGM
Matzuki. 1974. Metodologi Riset. Yogyakarta: FEUII.
Muhajir.1975. Evaluasi Pendidikan, Bandung: Usaha Nasional.
Nazar, Muhammad. 1998. Metode Penelitian. Jakarta: Galin Indonesia.
Nurkencana, Wayan. 1986. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :RinekaCipta.
                      2008. Pengantar Statistic Pendidikan.Surabaya SIC.
Nurhadi.1995. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung : CV Sinar Ilmu.

Purwadarminta, WJS. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia Jakarta: PN BalaiPustaka.

Partini.1990. Kreatif Berbahasa. Yogyakarta: Usaha nasional.
Subagio.2000. Metode Penelitian dalam Teoridan Praktek. Jakarta: Rineka.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :Alfabeta, CV.
                       2003. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dan R dan D. Bandung: Alfabeta.
Samsuri, M. 1991. Burryi Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Sutisna; Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional. Bandung : Angkasa

Subana, Dkk. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar .Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Tarigan, Henry Guntur. 1994. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Surachman, Winarno. 1978. Pengantar Perryelidikan Ilmiah. Yogyakarta: Kanisus

Walgito, Bimo.1980, Evaluasi Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.






PERANAN KEMAMPUAN MEMBACA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!