Saturday, December 1, 2012

Kumpulan skripsi Matematika dan Mipa PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA TERHADAP KEMAMPUAN MENENTUKAN RUMUS SUKU KE-N BARISAN BILANGAN PADA SISWA KELAS III SMPN



PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA TERHADAP KEMAMPUAN MENENTUKAN RUMUS SUKU KE-N BARISAN BILANGAN PADA SISWA KELAS III SMPN 1 MONTONG GADING TAHUN PELAJARAN 2007/2008




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, karena dianugerahkan akal dan pikiran, sehingga membawa perubahan menuju ke arah kemajuan. Kemampuan berpikir manusia merupakan salah satu kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kelebihan tersebut juga manusia telah mampu mengarahkan dirinya untuk berinteraksi secara positif dengan sesamanya maupun dengan lingkugnannya. Dengan modal akal dan pikirannya manusia sejak lahir berupaya untuk merubah kehidupannya menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih maju yang pada hakekatnya semua itu identik dengan upaya pendidikan.
            Bagi bangsa Indonesia wujud pendidikan yang dilaksanakan bersumber pada kebudayaan bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.
            Untuk mewujudkan pembangunan ansional yang merata, matrial dan spiritual, khususnya bidang pendidikan, maka diperlukan pendidikan dan penyempurnaan penyelenggaraan suatu sistem pendidikan nasional, yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan masyarakat dan perkembangan kebutuhan pembangunan.
            Salah satu penyebab keberhasilan pendidikan ditentukan oleh seberapa besar kontribusi tentang partisipasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Makin aktif peserta didik mengambil bagian dalam interaksi belajar mengajar, tujuan pendidikan akan lebih mudah tercapai. Untuk memudahkan tercapainya tujuan pendidikan maka pendidik harus mampu menciptakan suasana belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan harus mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar mengajar.
            Matematika sebagai salah satu ilmu memiliki objek dasar yang berupa fakta, konsep dan prinsip. Dari objek tersebut berkembang menjadi objek lainnya misalnya pola-pola, struktur-struktur yang ada dalam matematika. Pola pikir yang digunakan dalam matematika adalah pola pikir deduktif, bahkan suatu struktur yang lengkap adalah deduktif aksiomatik.
            Matematika sekolah adalah suatu unsur dari matematika yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Dengan demikian, maka pembelajaran matematika perlu diusahakan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Selain itu struktur sajian matematika sekolah tidak harus menggunakan pola pikir induktif, ini tidak berarti bahwa kemampuan deduktif dalam memahami objek abstrak boleh ditiadakan begitu saja.
            Di jenjang pendidikan dasar, tekanan pembelajaran matematika adalah number sence yang tidak hanya mengenal dan terampil melakukan operasi pada bilangan tetapi lebih dari itu dapat memanfaatkan pengetahuan tentang bilangan untuk berbagai bidang lain tanpa melakukan operasi hitung.
            Kenyataan riil yang ada di lapangan bahwa banyak kita jumpai peserta didik yang kurang berminat dalam pelajaran matematika, baik di sekolah dasar maupun di sekolah lanjutan, hal ini disebabkan karena mereka menganggap pelajaran amtematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan. Akibat dari hal tersebut maka setiap pokok bahasan yang akan disampaikan, siswa sulit memahaminya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka seorang guru/pendidik disarankan untuk memilih metode yang tepat dengan pokok bahasan yang akan disampaikan bahkan diupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh peserta didik.
            Pada sekolah lanjutan khususnya di SMP Negeri 1 Montong Gading banyak dijumpai kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam matematika, terutama pada pokok bahasan Barisan Bilangan. Siswa sangat sulit untuk menentukan rumus suku ke-n dari sederetan bilangan.
            Dampak dari hal tersebut di atas, maka hasil pembelajaran yang diharapkan kurang memenuhi syarat dan target yang diinginkan kurang memuaskan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka guru perlu meningkatkan kemampuannya dalam menguasai beberapa metode dalam belajar matematika termasuk pemberian lembar kerja siswa (LKS).
            Profesionalisme guru dalam tugasnya sangat penting, sehingga mampu memanfaatkan pengalaman-pengalaman siswa yang diperoleh atau didapat secara alamiah untuk mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu matematika. Jika pengalaman-pengalaman siswa sesuai dengan konsep-konsep dalam matematika maka peserta didik akan senang dalam mempelajari matematika, sehingga mereka dapat menggunakan pengalaman belajar matematikanya dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat dan berpikir logis.
            Dalam proses belajar mengajar peserta didik merupakan komponen input dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam pendidikan sehingga menjadi manusia yang berkualitas. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, artinya peserta didik merupakan tolok ukur keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
            Dengan memperhatikan permasalahan di atas, maka dipandang perlu untuk mengadakan sistem pengajaran yang lebih efektif dan efisien dengan salah satu cara memberikan berbagai tugas seperti pemberian lembar kerja siswa (LKS), sehingga kemungkinan untuk bermain sangat sedikit.
B.     Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka dapat diidentifikasi masalah dalam penelitian ini, dan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan atau memecahkan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kualitas penguasaan konsep matematika pada siswa?
2.      Bagaimana pengaruh penggunaan LKS dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa?
3.      Apakah dengan pemberian LKS sangat tepat digunakan dalam menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa?
4.      Apakah ada pengaruh pemberian LKS terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa?
5.      Bagaimana perbedaan pengaruh pemberian LKS dibandingkan dengan yang tidak diberi LKS terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa?
6.      Apakah dengan pemberian LKS prestasi belajar siswa pada pokok bahasan barisan bilangan akan meningkat?
7.      Apakah profesional guru dalam pembelajaran pokok bahasan barisan bilangan dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa?
C.    Batasan Masalah
            Pada identifikasi masalah di atas telah dikemukakan sejumlah masalah dan faktor-faktor yang diduga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa. Akan tetapi tidak semua untuk dapat diteliti, karena ada beberapa pertimbangan yang ada pada peneliti antara lain keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan yang dimiliki peneliti, maka dalam penelitian ini masalah yang akan diteliti adalah hal-hal sebagai berikut :
1.      Pembatasan Objek Penelitian
Objek penelitian ini terbatas pada masalah pengaruh penggunana lembar kerja siswa (LKS) terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan.
2.      Pembatasan Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini terbatas pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading Tahun Pelajaran 2007/2008.

D.    Rumusan Masalah
            Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kualitas kemampuan siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008 dalam menentukan rumus suku ke-n dengan menggunakan LKS?
2.      Apakah ada pengaruh penggunaan LKS terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008?
E.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat secara teoritis
a.       Hasil penelitian ini diharapkan dapat ditemukan pengaruh penggunaan lembar kerja siswa (LKS) terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan sehingga dapat mengembangkan konsep baru dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan.
b.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan dan motivasi kepada para peneliti lain untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih luas dan mendalam serta berusaha untuk mengungkapkan dan menentukan faktor-faktor lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.
2.      Manfaat secara praktis
a.       Informasi yang berhasil digali diharapkan berguna bagi pihak yang berkompeten terhadap pengembangan pendidikan khususnya di SMP Negeri 1 Montong Gading.
b.      Sebagai rumusan bagi guru atau calon guru yang mengajar masalah ini agar dapat dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan penelitian lanjutan.
c.       Agar guru mata pelajaran dapat mengaplikasikan hasil penelitian secara mendalam sehingga tujuan yang diinginkan akan lebih mudah tercapai dalam pengajaran khususnya dalam mengajar pokok bahasan barisan bilangan.

BAB II
LANDASAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A.    Landasan Teoritis
1.      Pengertian Kemampuan Menentukan Rumus Suku ke-n Barisan Bilangan
            Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kesanggupan. Menurut Purwadarminto bahwa “kemampuan adalah kesanggupan, kekuatan dan kecakapan” (1984: 628). Ahli lain mengemukakan bahwa “kemampuan adalah kecakapan dan keterampilan serta kesanggupan” (Lukman Ali, 1994: 56).
            Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kecakapan, kesanggupan dan keterampilan untuk melakukan sesuatu.
            Sementara itu barisan bilangan adalah bilangan-bilangan yang diurutkan dengan urutan tertentu (Muh. Nurdin, 1998: 32). Ahli lain mengemukakan bahwa “barisan bilangan atau barisan aritmatika adalah bilangan-bilangan yang diurutkan dengan ketentuan tertentu” (Sumadi, 1994: 47).
            Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa barisan bilangna adalah suatu kumpulan bilangan-bilangan yang disusun menurut urutan tertentu, urutan tertentu itu disebut beda.
            Berdasarkan pengertian dari masing-masing kata di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan menentukan rumus suku ke-n dari barisan bilangan adalah suatu kecakapan, atau kesanggupan, dan keterampilan untuk menentukan suku-suku yang belum diketahui dari suatu barisan bilangan yang diurutkan dengan urutan tertentu.
2.      Materi Pokok Bahasan Barisan Bilangan
            Materi pokok bahasan barisan bilangan yang diajarkan di kelas III sesuai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah sebagai berikut :
a.       Pengertian Barisan Bilangan
            Bilangan-bilangan yang diurutkan dengan pola (aturan) tertentu membnetuk suatu barisan bilangan. Misalnya barisan bilangan ganjil dan barisan bilangan genap.
            Barisan bilangan yang memebentuk suatu barisan bilangan disebut suku, sedangkan aturan atau pola yang membentuk suatu suku disebut beda.
Contoh:
Diberikan barisan bilangan: 1,3,5,7,9….., maka suku pertama adalah 1, suku kedua adalah 3, suku ketiga adalah 5 dan seterusnya, serta bedanya adalah 2 yaitu suku kedua dikurangi suku pertama, atau suku ketiga dikurangi suku kedua.
            Secara umum barisan bilangan dapat ditulis: U1, U2, U3, ……., Un, untuk beda ditulis b = U2 – U1 (Wahyudin Djumanta, 1994: 72).
b.      Menentukan Rumus Suku ke-n Barisan Bilangan
            Untuk menentukan rumus suku ke-n dari barisan bilangan dapat dilakukan dengan menentukan suku pertama dan beda dari barisan bilangan. Adapun rumus suku ke-n dari barisan bilangan menurut Wahyudin Djumanta adalah :
Un – a + (n-1) b, untuk a = suku pertama, b = beda dan Un = suku ke-n. (1994: 72)

Contoh:
Tentukan rumus suku ke-n dari barisan bilangan berikut:
a. 2,5,8,11……,Un                 b. 0,4,8,12,…….,Un
pembahasan :
a.       2,5,8,11,……,Un
suku pertama (a) = 2, dan beda (b) = U2 – U1 = 5-2 = 3
sehingga    Un = a + (n-1) b
                  Un = 2 + (n-1) 3
                  Un = 2 + 3n – 3
                  Un = 3n – 1 (rumus suku ke-n)
b.      0,4,8,12,…….,Un
suku pertama (a) = 0, dan beda (b) = U2-U1 = 8-4 = 4
sehingga    Un = a + (n-1) b
                  Un = 0 + (n-1) 4
                  Un = 0 + 4n-4
                  Un = 4n-n
                  Un = 4 (n-1) (rumus suku ke-n)
3.      Aspek-Aspek Kemampuan Menentukan Rumus Suku ke-n Barisan Bilangan
            Aspek-aspek kemampuan menentukan rumus suku ke-n dari barisan bilangan tercermin dari aspek-aspek hasil belajar pada pokok bahasan tersebut. Mengenai aspek-aspek hasil belajar secara umum terdiri dari aspek kognitif, aspek apektif dan aspek psikomotor. Adapun penjabaran masing-masing aspek adalah sebagai berikut:
a.       Aspek Kognitif
            Aspek kognitif menurut Bloom dapat diklasifikasikan menjadi 6 tingkatan yakni :
1.      Pengetahuan
Seseorang dikatakan memiliki pengetahuan jika ia mengenal kembali suatu prsoes, pola, struktur atau perangkat yang telah diberikan.
2.      Pemahaman
Seseorang dikatakan memiliki pemahaman kalau ia mengerti tentang segala ssuatu yang dikomunikasikan tanpa mengingatkannya dengan bahan atau gagasan lain.
3.      Penerapan
Suatu kemampuan menggunakan teori-teori yang pernah dipelajari ke dalam situasi yang konkrit.
4.      Analisis
Menjabarkan sesuatu ke dalam unsur-unsur, bagian-bagian atau komponen-komponen sedemikian rupa hingga tampak jelas huubngan yang satu dengan lainnya.
5.      Sintesis
Kemampuan untuk menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian sedemikian rupa sehingga membentuk suatu keseluruhan yang utuh.
6.      Evaluasi
Kemampuan untuk menetapkan nilai (harga) dari sesuatu untuk tujuan tertentu.

b.      Aspek Apektif (Sikap)
            Aspek apektif menurut Kratowhl diklasifikasikan menjadi 5 bagian yaitu :
1.      Menerima
Sesuatu kesepakatan seseorang terhadap suatu gejala atau perangsang tertentu.
2.      Merespon
Mengadakan tindakan balasan atau jawaban mereaksi terhadap perangsang atau gejala yang timbul.
3.      Menghargai
Mengembangkan suatu sikap bahwa suatu hal, tingkah laku atau suatu gagasan mempunyai nilai tertentu.
4.      Mengorganisasikan nilai
Pengaturan nilai-nilai, mengembangkan nilai yang berbeda, memperbiaki konflik antara nilai sehingga dapat ditetapkan suatu sistem nilai.
5.      Pembentukan watak
Merupakan pembinana moral seseorang yang ditunjukkan melalui tingkah laku yang konsisten sesuai dengan sistem nilai yang dianut.
c.       Aspek Psikomotor
            Aspek psikomotor menurut Elizabet Simpson diklasifikasikan menjadi 5 bagian yakni:
1.      Persepsi
Kegiatan psikomotor yang dilakukan dengan alat indra.
2.      Kesiapan
Maksudnya mengatur kesiapan diri sebelum melakukan suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan.
3.      Respon terarah
Bertindak dengan mengikuti prosedur tertentu.
4.      Bertindak manis
Menurut suatu kebiasaan melakukan suatu tindakan dengan kelancaran, kemudahan serta ketepatan tindakan untuk mencapai tujuan.
5.      Respon kompleks
Merupakan suatu tindakan yang didukung oleh suatu keahlian sehingga menunjukkan kemahiran/keterampilan tingkat tinggi.
4.      Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Prestasi Belajar Pokok Bahasan Barisan Bilangan
            Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika khususnya pada konsep barisan bilangan secara garis besar digolongkan menjadi dua bagian yakni:
a.       Faktor Intern
            Faktor intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang. Faktor ini meliputi :
1.      Inteligensi
Faktor ini merupakan perpaduan dari berbagai karakteristik manusia, yang mencakup kemampuan melihat hubungan yang kompleks, kemampuan menjalani semua proses yang terlibat dalam berfikir abstrak, kemampuan beradaptasi dalam pemecahan masalah serta kemampuan memperoleh pengalaman baru.
2.      Motivasi
Dorongan untuk melakukan sesuatu. Dorongan ini datang dari dalam individu itu (motivasi intrinsik) dan dorongan yang datang dari luar diri individu itu (motivasi ekstrinsik).
3.      Minat dan Bakat
Datang dari dalam individu untuk memperoleh sesuatu. Bakat adalah keterampilan seseorang yang memiliki/ditunjukkan dalam bidang tertentu.
4.      Kemampuan dan sikap
Kemampuan adalah kesanggupan individu untuk menerima/berbuat. Sikap adalah tingkah laku individu untuk menerima/berbuat.
b.      Faktor Ekstern
            Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri individu. Faktor ekstern meliputi:
1.      Lingkungan keluarga
Keadaan lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang, tanpa dukungan dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua prestasi belajar seseorang tidak akan tercapai secara optimal.
2.      Lingkungan sekolah
Keberadaan lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar. Keadaan dan situasi sekolah itu dapat mempengaruhi penerimaan/daya serap ilmu yang diberikan oleh bapak dan ibu guru.


3.      Lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar, karena pengaruh teman di sekitar lingkungan masyarakat yang setiap saat dapat mempengaruhi setiap individu.
            Menurut seorang ahli bahwa: “Agar anak didik memahami dan mengerti akan konsep (struktur) matematika seyogyanya diajarkan dengan urutan konsep murni, dilanjutkan dengan konsep notasi, dan akhirnya dengan konsep terapan, disamping itu untuk dapat mempelajari dengan baik struktur matematika representasinya (model) dimulai dengan benda-benda konkrit yang beraneka ragam” (Rusefendi, 1985: 72).
            Dengan pengertian bermain dalam belajar matematika menurut Dinner, anak atau peserta didik akan:
a.       Berkenalan dengan konsep matematika melalui benda-benda konkrit, hal ini terjadi tanpa disengaja.
b.      Menambah atau memperkaya pengalaman anak atau peserta didik.
c.       Tertanam konsep (struktur) matematika pada peserta didik dan hal ini sangat berpengaruh dengan bentuk dan jenis permainannya.
d.      Dapat menelaah sifat bersama atau dapat membedakan antara dua jenis benda.
e.       Mampu mengatakan representasi (model) terhadap suatu konsep dengan membuat simbol.
f.       Belajar mengorganisasikan konsep-konsep (struktur) matematika secara formal sehingga sampai pada aksioma, dalil-dalil dan teori.
            Menurut Brahmagupta pada abad ke-17, ahli aljabar hindu ini seperti yang dikutip oleh Prof. Drs. J. Sitorus dalam bukunya yang menyatakan bahwa aljabar hindu adalah aljabar sinkopasi atau aljabar dengan singkatan-singkatan penjelasan. Penjumlahan dilakukan menurut aljabar sinkopasi yaitu dengan pengurangan suatu bilangan yang diberi tanda titik di atasnya. Sedangkan ahli matematika dari Arab yaitu Al-Khawarizmi, ia menulis aturan-aturan berhitung misalnya aturan menentukan sisa suatu bilangan jika dibagi oleh bilangan sembilan, maka sisanya sama dengan sisa dari jumlah angka penyusun bilangan yang dibagi oleh sembilan. Dalam aljabar dia menyusun aturan untuk menentukan pendekatan akar suatu persamaan yang disebut aturan letak dua kali salah (1986: 75).
5.      Lembar Kerja Siswa (LKS)
a.       Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS)
            Lembar kerja siswa (LKS) adalah suatu medai belajar berupa sejumlah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam memecahkan suatu masalah dengan disertai petunjuk-petunjuk dalam mengerjakan soal.
            Menurut Rusefendi (1992: 243) bahwa “lembar kerja siswa (LKS) adalah merupakan alat bantu mengajar berupa serangkaian tugas/soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik secara perorangan maupun kelompok dengan disertai petunjuk dalam mengerjakan soal”
            Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa lembar kerja siswa (LKS) adalah media belajar berupa sejumlah rangkaian tugas yakni pertanyaan yang harus dijawab baik secara indiivdu maupun secara kelompok untuk didiskusikan dengan teman kelompoknya yang disertai dengan petunjuk cara penyelesaian soal dalam materi pokok bahasan barisan bilangan.
b.      Pentingnya Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
            Penggunaan lembar kerja siswa (LKS) dalam penyampaian materi suatu pokok bahasan dalam kegiatan belajar mengajar akan menumbuhkan perhatian, keinginan, minat, tekad, daya cipta, imajinasi dan kemampuan siswa. Guru hanya berperan sebagai pemberi dorongan, motivasi dan inspirasi yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri.
            Salah satu media belajar yang memungkinkan dapat meningkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar adalah media belajar lembar kerja siswa (LKS). Dengan penggunaan lembar kerja ssiwa akan memungkinkan secara aktif siswa terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, baik fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial. Dengan demikian penggunaan lembar kerja siswa akan termotivasi dalam memecahkan masalah dengan upaya sendiri dan tanggung jawab.
c.       Kelemahan Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
            Adapun kelemahan-kelemahan dari penggunaan lembar kerja siswa adalah sebagai berikut :
1.      Memerlukan waktu lama, sehingga materi pelajaran tidak dapat dituntaskan sesuai yang telah ditetapkan.
2.      Menambah biaya pendidikan karena membutuhkan kertas yang banyak untuk membuat lembar kerja siswa.
3.      Pekerjaan guru bertambah karena disamping harus membuat persiapan mengajar juga harus menyiapkan lembar kerja siswa sesuai dengan jumlah siswa yang dibutuhkan.
4.      Membuat lembar kerja siswa tidak mudah sehingga dalam membuat lembar kerja siswa tidak sesuai dengan materi dan materi pelajaran tidak akan tercapai.
B.     Kerangka Berpikir
            Berdasarkan kajian teoritis di atas, maka dapat disajikan kerangka berpikir untuk dapat mengetahui tata hubungan antar variabel dan dapat dijadikan dasar untuk perumusan hipotesis penelitian.
            Proses belajar akan lebih efektif secara optimal apabila peserta didik terlibat langsung secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar.
            Banyak usaha dan upaya yang dilakukan oleh guru matematika dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam menyampaikan materi barisan bilangan, salah satu diantaranya adalah penggunaan lembar kerja siswa, sehingga dapat diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
            Apabila dalam penyampaian materi barisan bilangan menggunakan lembar kerja siswa, maka peserta didik akan terangsang dalam belajarnya, sehingga guru hanya berfungsi sebagai pendorong.
            Sebaliknya apabila guru dalam menyampaikan materi barisan bilangan tidak menggunakan lembar kerja siswa, maka kebanyakan siswa tidak aktif dalam belajarnya sehingga prestasi belajar siswa kurang optimal.
            Dari uraian di atas, maka penggunaan lembar kerja siswa dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan rumus suku ke-n dari suatu barisan bilangan.
C.    Perumusan Hipotesis
            Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang perlu diuji kebenarannya secara empiris (Sumadi Suryabrata, 1985: 62).
            Berdasarkan pendapat, kajian teoritis dan kerangka berfikir di atas, maka dapat diajukan rumusan hipotesis sebagai jawaban sementara atas permasalahan ini sebagai berikut: “Ada pengaruh secara positif dan signifikan penggunaan lembar kerja siswa terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading Tahun Pelajaran 2007/2008”

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

            Metodologi penelitian merupakan bagian yang sangat penting dalam menyusun karya ilmiah, yang mempunyai tujuan yang jelas, serta disusun secara sistematis kronologis dengan metode yang tepat untuk mencapai kebenaran ilmiah. Sebuah sumber menyebutkan bahwa: “metode adalah cara teratur dan berpikir yang baik untuk mencapai suatu maksud” (Poerwadarminta, 1982: 189).
            Sehubungan dengan pentingnya meotde dalam penelitian ilmiah, maka pada pembahasan ini akan diuraikan tentang: (a) tujuan penelitian, (b) tempat dan waktu penelitian, (c) metode penelitian, (d) populasi dan sampel penelitian, (e) desain penelitian, (f) urutan eksperimen, (g) teknik pengumpulan data, dan (h) teknik analisa data.
A.    Tujuan Penelitian
            Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui tingkat kemampuan menentukan rumus suku ke-n pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008.
2.      Untuk mengetahui pengaruh penggunaan lembar kerja siswa terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008.

B.     Waktu dan Tempat Penelitian
            Penelitian ini bertempat di SMP Negeri 1 Montong Gading kecamatan Terara kabuapten Lombok Timur tahun pembelajaran 2007/2008.
            Adapun penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2004 sampai dengan bulan September 2004. data yang diperoleh atau yang dikumpulkan adalah data hasil tes prestasi belajar ulangan harian pada pokok bahasan barisan bilangan pada semester ganjil tahun pelajaran 2007/2008.
C.    Metode Penelitian
            Metode penelitian menyangkut alat dan teknik untuk melaksanakan penelitian. Hal yang demikian dapat dilihat dalam pemilihan metode yang tepat untuk meneliti suatu masalah atau objek penelitian apakah dieksperimenkan atau mengkaji objek yang telah terjadi secara wajar. Adapun perbedaan keadaan objek penelitian di lapangan, memungkinkan untuk menggunakan metode dan memilih metode yang berbeda pula. Sehubungan dengan hal ini Ridwan menyatakan bahwa: “pada umumnya dalam penelitian dikenal dua macam pendekatan yaitu metode eksperimen, apabila gejala yang diteliti ditimbulkan dengan sengaja oleh peneliti, dan metode eks post fakto, apabila gejala yang diteliti sudah ada secara wajar, artinya peneliti tidak lagi melakukan suatu perlakuan pada objek yang diteliti” (1993: 94).
            Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode eksperimen, karena gejala yang ditimbulkan diperlakukan dengan sengaja oleh peneliti.

D.    Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi Penelitian
            Apabila seseorang peneliti ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya adalah penelitian populasi (Suharsimi Arikunto, 1985: 90). Pendapat lain dikemukakan oleh IB. Netra bahwa: “seluruh individu yang menjadi subjek penelitian yang nantinya akan dikenai penelitian disebut penelitian populasi” (1974: 10).
            Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008.
            Adapun keadaan populasi penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 01:    Keadaan Populasi Penelitian di SMP Negeri 1 Montong Gading Tahun Pelajaran 2007/2008
No
Kelas
Siswa Laki-Laki
Siswa Perempuan
Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
III-A
III-B
III-C
III-D
III-E
16
17
15
17
17
18
18
19
20
18
34
35
34
37
35
Jumlah
82
93
175


2.      Sampel Penelitian
            Dalam penelitian pendidikan, subjek yang dikenai penelitian biasanya dilakukan terhadap sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi. Sehubungan dengan hal ini suatu pendapat yang menyatakan bahwa: “jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi maka penelitiannya disebut penelitian sampel. Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto, 1985: 92).
            Dalam penelitian ini, sesuai dengan pendapat ahli di atas, maka yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas III B dan III E dengan jumlah siswa masing-masing 35 orang siswa, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun teknik pengambilan sampelnya adalah dengan pengambilan secara acak.
E.     Desain Penelitian
            Penelitian ini menggunakan desain post-test group design dari model Solomon (dalam Suharsimi Arikunto, 1985: 279). Skema model tersebut adalah sebagai berikut :
            E:         X --------------   O1
            P:                                 O2
Dimana: E = kelompok eksperimen, P = kelompok kontrol, X = penggunaan LKS, O1 = hasil post-test kelompok eksperimen, O2 = hasil post-test kelompok kontrol.

F.     Urutan Eksperimen
            Adapun urutan-urutan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Identifikasi masalah
2.      Identifikasi variabel dan perumusan masalah
3.      Kajian teoirits dan perumusan hipotesis alternatif (Ha)
4.      Penyusunan rencana penelitian yang meliputi:
a.       Identifikasi variabel
b.      Memeilih desain penelitian
c.       Menentukan sampel penelitian
d.      Menentukan sampel pembanding
e.       Menyusun instrumen penelitian
f.       Uji coba instrumen penelitian
g.      Perumusan hipotesis nihil (Ho)
5.      Pelaksanaan penelitian yang meliputi:
a.       Memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen sesuai jadwal pelajaran yang ditetapkan.
b.      Pengontrolan jalannya eksperimen.
c.       Mengadakan post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
d.      Mengumpulkan data hasil penelitian.
e.       Analisis data hasil penelitian dengan tenik yang telah ditetapkan.
f.       Pembuatan laporan hasil penelitian.

G.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Identifikasi Variabel
            Variabel dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1980: 79). Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penelitian ini perlu diadakan identifikasi.
            Ada dua jenis variabel dalam penelitian ini yakni variabel bebas dan variabel terikat. Berdasarkan dengan hal ini seorang ahli berpendapat bahwa “varaibel yang mempengaruhi disebut variabel bebas (independent variable) diberi lambang X, dan variabel yang menjadi akibat, tergantung disebut variabel tidak bebas atau variabel terikat (dependent variable) diberi lambang Y” (Suharsimi Arikunto, 1985: 82).
a.       Variabel bebas (independent variable)
Variabel bebas adalah ciri-ciri tertentu yang menjadi penyebab dan umumnya terjadi pada waktu urutan terlebih dahulu. Berdasarkan pengertian ini maka yang menjadi variabel bebas adalah penggunaan lembar kerja siswa (LKS).
b.      Variable terikat (dependent variable)
Variabel terikat adalah ciri-ciri tertentu yang menjadi akibat pada umumnya terjadi pada urutan waktu kemudian. Berdasarkan pendapat ini maka yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan.
2.      Definisi Oprasional Variabel
            Ridwan (1985: 43) menjelaskan bahwa: “suatu definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan penelitian dalam mengukur suatu variabel atau manipulasinya. Suatu definisi operasional merupakan semacam buku pegangan yang berisi petunjuk bagi peneliti”
            Yang perlu dijelaskan dalam definisi operasional variabel ini adalah :
a.       Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Penggunaan lembar kerja siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga (bantu) mengajar dengan menggunakan lembar kerja siswa dalam menyampaikan materi barisan bilangan. Data yang diperoleh berupa data nominal.
b.      Kemampuan menentukan rumus ke-n barisa nbilangan
Kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil kerja siswa yang diperoleh dari hasil tes ulangan harian pada pokok bahasan barisan bilangan setelah diberikan lembar kerja siswa (LKS). Data yang diperoleh berupa data interval.
3.      Instrumen dan Teknik Pengukuran
            Metode penelitian adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan data sedangkan instrumen adalah alat yang digunakan dalam pengumpulan data (Suharsimi Arikunto, 1985: 110). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes dan dokumen. Pencatatan dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan segala macam dokumen baik tulisan, laporan-laporan dan lian sebagainya yang dapat memberikan informasi atau keterangan sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang ahli bahwa: “pencatatan dokumen atau recording document adalah suatu cara untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan segala cara untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan segala macam dokumen, serta cara mengadakan pencatatan-pencatatan sistematis, dalam hal ini yang dimaksudkan dokumen antara lain berbentuk tulisan, keterangan-keterangan, lembaran negara, bukti-bukti, undang-undang maupun benda-benda lainnya (IB. Netra, 1979: 73).
            Adapun instrumen yang lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes prestasi belajar pada pokok bahasan barisan bilangan dengan sub pokok bahasan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan yang terdiri dari 5 butir soal uraian. Adapun ke-5 butir soal tersebut dijabarkan sebagai berikut: (a) melengkapi suku-suku dari suatu barisan bilangan yakni soal nomor 1, (b) menentukan pola-pola dari suatu bilangan, soal nomor 2, (c) menentukan besarnya suku ke-n dari barisan bilangan, soal nomor 3, dan (d) menentukan rumus suku ke-n dari barisan bilangan, soal nomor 4 dan 5. Sedangkan sistem pengukurannya adalah untuk jawaban yang benar diberi skor 2 dan jawaban yang salah diberi skor 0, dengan demikian skor maksimal idealnya adalah 10 dan skor minimal idealnya adalah 0.
4.      Validitas dan Reliabilitas Instrumen
a.       Validitas Instrumen
            Berkenaan dengan validitas instrumen, seorang ahli mengatakan bahwa “suatu alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur itu  dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat” (Wayan Nurkencana dan PPN Sunartana, 1986: 127). Ahli lain mengatakan bahwa “valid atau kesahihan menunjukkan sejauhmana alat pengukur itu dapat mengukur apa yang hendak diukur” (Sumadi Suryabrata, 1985: 86).
            Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka validitas berarti ketepatan suatu alat ukur (instrumen) untuk mengukur apa yang hendak diukur. Validitas suatu alat ukur dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu validitas ramalan, validitas bandingan, validitas isi, validitas konstruksi, dan validitas susunan. Akan tetapi suatu alat ukur tidak harus memenuhi semua syarat validitas tersebut. Suatu alat ukur dikatakan valid paling tidak harus memenuhi validitas isi dan validitas susunan.
            Validitas ini dilakukan dengan membandingkan materi instrumen dengan analisis rasional terhadap aspek-aspek yang seharusnya digunakan.
            Sehubungan dengan hal ini seorang ahli mengataka nbahwa “validitas isi dan validitas susunan disebut juga validitas rasional sebab pengukurannya terhadap validitas tersebut didasarkan atas analisis rasional” (W. Nurkencana dan PPN Sunartana, 1986: 130).
            Karena soal yang dibuat konstruksi (logis) artinya kisi-kisi soal yang disusun dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, maka soal itu valid.
b.      Reliabilitas Instrumen
            Reliabilitas instrumen menunjukkan pengertian  suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Karena itu instrumen tersebut harus baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius yang mengarahkan seorang responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu” (Suharsimi Arikunto, 1985: 186).
            Jadi reliabilitas instrumen adalah ketetapan suaut alat ukur (tes) apabila alat ukur itu diteskan kepada subjek yang sama. Persyaratan bagi alat ukur (tes) yaitu validitas dan reliabilitas. Sebuah alat ukur (tes) mungkin reliabel tapi tidak valid. Sebaliknya sebuah alat ukur (tes) yang valid biasanya reliabel. Jadi tinggi rendahnya validitas suatu alat ukur menunjukkan tinggi rendahnya reliabiltias alat ukur tersebut.
            Untuk mengetahui reliabilitas instrumen digunakan rumus alpha sebagai berikut :
Keterangan :
R11 = Reliabilitas yang dicari
Sp2 = Jumlah varian total
k     = Banyaknya butir soal, dan n = Banyaknya peserta tes
(Suharsimi Arikunto, 1985: 168)
H.    Teknik Analisis Data
            Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai data dari masing-masing variabel serta untuk menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan analisis data.
            Pada bagian ini akan dibahas berturut-turut mengenai (1) deskripsi data, (2) teknik uji persyaratran analisis, dan (3) teknik uji hopotesis.

1.      Deskripsi Data
            Data yang diperoleh dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, statistik deskriptif ini meliputi penentuan skor maksimal ideal (SMi), harga rata-rata idal (Mi) dan standar deviasi ideal (SDi).
            Untuk menentukan harga Mi dan SDi adalah dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Mi = ½ (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)
SDi = 1/6 (skor maksimal ideal – skor minimal ideal)
(Dantes, 1983: 78)
            Berdasarkan harga Mi dan SDi, maka dibuat tabel konversi untuk pengkategorian masing-masing variabel sebagai berikut :
Mi + 1 SDi    sampai     Mi + 3 SDi = Tinggi
Mi – 1 SDi     sampai     < MI + 1 SDi = Sedang
Mi – 3 SDi     sampai     < Mi – 1 SDi = Rendah
(Wayan Nurkancana dan PPN Sumartana, 1986).
2.      Teknik Uji Persyaratan Analisis
            Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik parametrik. Teknik ini dipilih didasarkan atas tujuan penelitian di atas.
            Berdasarkan tujuan tersebut, maka teknik yang paling tepat digunakan adalah teknik analisis uji-t. Sesuai dengan teknik analisis yang dipilih tentu saja diimbangi dengan persyaratan analisis yang harus dipenuhi yaitu uji normalitas data dan uji homogenitas data.
            Dengan demikian persyaratan analisis yang perlu dibuktikan untuk data hasil penelitian adalah persyaratan normalitas data dan homogenitas data.
a.       Uji Normalitas Data
            Pengujian normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis dengan statistik berdistribusi normal atau tidak. Untuk itudigunakan rumus chi-kuadrat sebagai berikut :
           
Keterangan:
             X2 = nilai chi-kuadrat
             fo   = frekuensi observasi
             fh   = frekuensi harapan
             (Suharsimi Arikunto, 1985: 278).
Kriteria :
Data berdistribusi normal jika X2 hitung < X2 tabel, dan sebaliknya data tidak berdistribusi normal jika X2 hitung > X2 tabel pada taraf uji 95%.
b.      Uji Homogenitas Data
            Untuk menguji homogenitas data dalam penelitian ini digunakan teknik uji Bartlet. Teknik in idapat digunakan untuk membuktikan homogenitas data dari beberapa sampel yang akan dianalisis dan dapat menguji dua atau lebih kelompok sampel.
            Adapun rumus untuk teknik uji Bartlet tersebut adalah sebagai berikut :
            X2 = Ln 10 {B– S (Ni-1) log Si2}
Keterangan:
X2 = harga chi-kuadrat
Ln 10 = 2,3026 (bentuk logaritma asli dari bilangan 10)
B = satuan Bartlet
S = standar deviasi total
Ni = besarnya ukuran sampel
Untuk B = (log S2) S (Ni-1) dan S =
            (Sudjana, 1992: 263)
Kriteria :
            “Jika X2 hitung > X2 tabel (1-a) (k-1), dimana (1-a) (k-1) diperoleh dari daftar distribusi Chi-kuadrat, maka data yang diperoleh tidak homogen, dan sebaliknya jka X2 hitung < X2 tabel, maka data yang diperoleh berbentuk homogen pada taraf signifikansi 5% atau taraf kebenaran 95%.
3.      Teknik Uji Hipotesis
            Hipotesis merupakan teori sementara yang kebenarannya masih perlu diuji, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini masih harus diuji kebenarannya. Hipotesis yang dimaksud adalah hipotesis yang terdapat pada bab II yang berbunyi “Bahwa ada pengaruh secara positif dan signifikan penggunana lembar kerja siswa terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008” yang merupakan hipotesis alternatif (Ha).
            Sesuai dengan teknik analisis yang digunakan seperti yang disebutkan di atas, maka hipotesis yang diajukan (Ha) diubah menjadi hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada pengaruh secara positif dan signifikan penggunaan lembar kerja sisw terhadap kemampuan menentukan rumus suku ke-n barisan bilangan pada siswa kelas III SMP Negeri 1 Montong Gading tahun pelajaran 2007/2008”. Hal ini didasarkanj pada pendapat ahli yang menyatakan bahwa “dalam pengujian hipotesis Ha diubah menjadi hipotesis Ho, Ho merupakan hipotesis yang diuji, dan nantinya akan diterima atau ditolak tergantung pada kenyataannya” (Ridwan, 1990: 29). Pada halaman yang sama dikemukakan bahwa “Ho sering juga disebut hipotesis statistik, karena digunakan pada penelitian yang bresifat statistik, yakni diuji dalam perhitungan statistik” (Ridwan, 1990: 29).
            Untuk keperluan pengujian hipotesis digunakan uji statistik yakni teknik uji-t dengan rumus sebagai berikut :
           
            (Sudjana, 1992: 293)
Keterangan :
            t = t-hitung
             dan  = rata-rata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
            S = standar deviasi masing-masing kelompok.
            n1 dan n2= jumlah sampel kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
kriteria: Tolak Ho, jika t-hitung lebih besar dari t-tabel pada taraf kebenaran 95% dengan derajat kebebasan (dk = n1 + n2 -2) Sebaliknya Ho diterima jika t-hitung lebih kecil dari t-tabel pada taraf uji yang sama. Ho ditolak artinya Ha diterima (terbukti signikan).
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 1985. ProsedurPenelitian: Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
________________, 1985. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Djauzak Ahmad, 1994. Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT. Citra Pesona.
Djumanta, 1994. Matematika Untuk SLTP Kelas III. Jakarta: Multi Trus.
Netra Ida Bagus, 1974. Statistik Inferensial. Surabaya: Usaha Nasional.
Nurkancana Wayan, Sumartana, PPN, 1986. Evlauasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Rusefendi, 1987. Dasar-Dasar Matematika Modern utuk Guru. Bandung: Tarsito.
Ridwan, 1994. Metode Penelitian (Makalah). Selong: STKIP Hamzanwadi.
Poerwadarminta, 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudjatmiko Ponco, 2000. Pelajaran Matematika Untuk SLTP Kelas III. Surakarta: Tiga Serangkai, Pustaka Mandiri.
Sudjana, 1992. Metode Statistik. Bandung: Tarsito
Suryarata Sumadi, 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.


PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA TERHADAP KEMAMPUAN MENENTUKAN RUMUS SUKU KE-N BARISAN BILANGAN PADA SISWA KELAS III SMPN

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!