Friday, December 7, 2012

kumpulan skripsi IPS PERANAN SOSIAL SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN


 PERANAN SOSIAL SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH
DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
DI DUSUN TINGGAR DESA SIKUR







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Pada era globalisasi dan modernisasi ini yang tengah melanda negara-negara sedang berkembang khususnya Bangsa Indoensia dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang, sehubungan dengan hal tersebut dalam rangka pembangunan seluruh masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sesuai dengan tujuan pendidikan seumur hidup, maka usaha pemerintah Indonesia dalam mencerdaskan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dengan melaksanakan pendidikan. Usaha tersebut tidak terbatas pada lapangan pendidikan formal saja tetapi lebih daripada itu, kegiatan pendidikan harus diusahakan secara formal dan non formal dalam masyarakat.
            Pendidikan adalah tuntutan dalam hidup anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntut segala kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat yang mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Hasbullah, 1996: 4).

            Menurut Soegarda Poerbakawatja H.A.H. Harahap (1982: 257) pendidikan dalam arti luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta keterampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan dalam bahasa Belanda cultuureoverdracht) kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah.
            Pada dasarnya pendidikan adalah merupakan sebuah sarana penting dalam kehidupan manusia, karena pendidikan dapat membawa manusia tidak berdaya pada permulaan hidupnya menjadi suatu pribadi yang mampu berdiri sendiri dan berinteraksi dalam kehidupan bersama-sama dengan orang lain secara konstruktif. Dalam hal ini pendidikan berarti pertolongan yang diberikan kepada seorang anak untuk membawanya ke tingkat dewasa.
            Pengertian tersebut didukung oleh pendapat (Oemar Hamalik, 2003: 3) bahwa: “pendidikan mempengaruhi peserta didik atau anak didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin atau mengembangkan pembawaan yang baik dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya atau dapat mencegah dari perbuatan yang buruk dalam kehidupan masyarakat.
            Apabila dilihat dari sudut perkembangan yang diamati oleh anak, pendidikan merupakan usaha yang senagaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara. Dengan kata lain pendidikan mempunyai peranan yang dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak didik untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, sedangkan masalah utama dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah rendahnya mutu lulusan, berbagai masalah telah dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan diantaranya mengadakan penyempurnaan kurikulum, penataran guru bidang studi berupa Pemantapan Kerja Guru (PKG) maupun Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMPBS) atau Sanggar Pemantapan Kerja Guru (SPKG).
            Tugas sekolah sebagai lembaga formal tidak hanya mengajarkan mata pelajaran saja, tetapi juga menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para siswa untuk mengembangkan dirinya semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dan situasi lingkungannya agar mutu lulusannya dapat optimal sesuai dengan diharapkan.
            Pada era otonomi daerah khususnya bidang sosial dan pendidikan, pelaksanaannya di lapangan masih memerlukan koordinasi dan sinkronisasi secara terus menerus antara pemerintah pusat dan daerah. Secara umum arah kebijakan pendidikan ke masa depan adalah mensukseskan terlaksanya otonomi daerah termasuk pendidikan serta desentralisasi. Dalam rangka otonomi daerah kewenangan pengolahan pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah diserahkan sepenuhnya ke daerah, maka diserahkan pula pegawai termasuk guru, anggaran, perlengkapan dan pendukung lainnya (Abdul Malik Fadjar, 2002: 2).
            Dengan demikian otonomi daerah di bidang sosial dan pendidikan pada hakekatnya adalah penyelenggaraan lembaga pendidikan atau sekolah dengan tujuan untuk mempercepat pengembangan sumber daya manusia serta mendorong meningkatkan tanggung jawab pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk itu di dalam penyelenggaraan pendidikan perlu dioptimalkan pemanfaatan sumber daya manusia yang terdapat di lingkungan sekolah dengan memberi peluang bagi pengembangan dan penerapan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
            Sementara itu kondisi pendidikan di Lombok Timur yang diibaratkan muka kusam dan dalam posisi terjepit oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur sehingga menarik perhatian banyak pihak. Dengan berkali-kali diadakan diskusi dan dialog mencari jalan pemecahannya, diantaranya melakukan sistem pendekatan baru yang dikenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah (MPMBS) dengan penekanan dengan memberikan nuansa keislaman dalam membangun dunia pendidikan di daerah ini     (H. Muhsipudin, 2004: 1).
            Barulah pada era reformasi orang-orang mulai sibuk melakukan diskusi dan dialog, baik tingkat pusat maupun tingkat daerah yang dilakukan oleh para pakar, akademis, pengamat praktisi bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ikut serta dalam mengambil bagian dalam membicarakan masalah rendahnya mutu pendidikan.
            Oleh karena itu, penuntasan program wajib belajar pendidikan 9 tahun diperpanjang setidaknya hingga tahun 2008/2009, itupun harus melalui berbagai macam cara dan salah satu cara strategis untuk meningkatkan angka transisi SD/MI ke SMP/MTs. Dengan cara ini membuka atau menambah jumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP), baik negeri maupun swasta. Untuk mendukung program pemerintah tersebut, maka Yayasan Pendidikan Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur bersama masyarakat merasa berkewajiban untuk mendirikan sebuah sekolah yaitu SMP Islam.
            Menyadari tentang kondisi pendidikan di Lombok Timur tersebut, maka para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda mendirikan sebuah Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan anak terlantar Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur tahun 2001 dengan Akta No. 11 Tanggal 6 April 2001, dan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat yang terbelakang mengenai pendidikan, oleh karena itu pengurus Yayasan pendidikan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama SMP Islam Al-Lathifiyah pada tanggal 18 Juli 2003. Dengan mendirikan SMP Islam tersebut semoga anak-anak di sekitar SMP Islam tidak lagi putus sekolah dan didukung oleh sumber murid yang cukup (SMP Islam, 2003).
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003).
            Dalam pelaksanaan pendidikan setelah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah tidak terlepas dari adanya kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak pengelola sekolah, khususnya kepada sekolah, yang terkait dengan kelangsungan proses belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh pengelola sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah antara lain keadaan dana yang masih kurang sehingga sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, sebab pada saat itu masih mengandalkan dana dari donatur-donatur yang sudah ditunjuk di sekitar lingkungan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur, tetapi tidak berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan (Wawancara dengan TGH. M. Aminulloh Abdullathif, 19 Februari 2007).
            Keadaan siswa pada awal penerimaan murid baru, cukup sulit dimana para pengelola sekolah atau Pengurus Yayasan bekerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat, dengan cara memberikan kesadaran tentang pentingnya pendidikan, dan di sisi lain setiap peringatan hari besar Islam ditampilkan siswa untuk membaca dakwah lewat dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab di depan jama’ah yang hadir pada acara tersebut, sehingga masyarakat terdorong untuk memasukkan anaknya di SMP Islam Al-Lathifiyah.
            Keadaan guru yang sangat terbatas di sekitar SMP Islam Al-Lathifiyah sehingga menyebabkan kepala sekolah berinisiatif untuk mencari guru dari luar wilayah SMP Islam. Pembangunan gedung khususnya gedung SMP Islam belum ada tapi untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar berlangsung di gedung bekas Madrasah Diniyah yang ruangnya tidak memenuhi stnadar kelas belajar serta perlengkapan-perlengkapan alat belajar masih sangat memprihatinkan seperti kuris, meja, ruang guru dan fasilitas-fasilitas yang menunjagn kelangsungan proses belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur (Wawancara dengan TGH. M. Aminulloh Abdullatif, 19 Februari 2007).
            Dari adanya rangkaian permasalahan tersebut di atas, maka peneliti dapat mengetahui tujuan dan harapan yang ingin dicapai oleh SMP Islam Al-Lathifiyah antara lain, misalnya: membangkitkan kesadaran dan mengembangkan prakarsa, peran serta dan swadaya masyarakat di dalam meningkatkan sumber daya manusia melalui pendidikan. Sedangkan tujuan utama yang ingin dicapai adalah membantu pemerintah dalam upaya pelaksanaan pendidikan wajib belajar 9 tahun.
B.     Identifikasi Masalah
            Berdasarkan penjelasan tersebut, maka beberapa identifikasi masalah yang timbul adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah sejarah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
2.      Bagaimanakan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Dusun Tinggar Desa Sikur?
3.      Bagaimanakah strategi yang dilakukan oleh masyarakat untuk menuntaskan wajib belajar 9 than di Dusun Tinggar Desa Sikur?
4.      Bagaimanakah kondisi sosial dan pendidikan masyarakat Dusun Tinggar Desa Sikur sehingga tidak mampu membiayai pendidikan anaknya?
5.      Kendala-kendala apa yang dihadapi SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur?
6.      Bagaimanakah kerjasama pengurus SMP Islam Al-Lathifiyah dengan pemerintah daerah dalam menunjang proses belajar mengajar?
7.      Bagaimanakah peranan masyarakat dalam mendukung proses belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur?
C.    Ruang Lingkup Penelitian
            Suatu penelitian yang terlalu luas belum dapat menjamin hasil yang baik apabila tidak disertai dengan kemampuan yang memadai. Mengingat keterbatasan waktu yang ada serta kemampuan yang dimiliki, maka perlu diberikan batasan terhadap masalah yang diteliti.
            Sesuai dengan judul ini, maka ruang lingkup penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1.      Obyek Penelitian
Uraian mengenai obyek penelitian sudah pasti tidak terlepas dari data-data mengenai akta pendirian, surat keptuusan serta sarana dan prasarana pendidikan di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar. Agar tampak gambaran yang lebih jelas tentang keberadaan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur, maka terkait dengan alasan karena berkenaan dengan tugas dari peneliti yaitu sebagai pendidik/guru tidak tetap di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Sikur, maka sangatlah perlu untuk diketahui sejarah dan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah ditinjau dari aspek sosial pendidikan.
2.      Subyek Penelitian
Masalah yang tidak dapat dipisahkan dengan obyek penelitian serta berkaitan satu sama lain adalah subyek penelitian. Adapun yang menjadi subyek penelitian ini adalah: SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur Kabupaten Lombok Timur NTB Tahun 2003 – 2006.
D.    Rumusan Masalah
            Kaitannya dengan latar belakang tersebut dapat diambil beberapa permasalahan antara lain :
1.      Bagiamana sejarah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur?
2.      Bagaimana strategi SMP Islam Al-Lathifiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Dusun Tinggar Desa Sikur?
3.      Bagaimana peranan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur dalam bidang soisal pendidikan?
E.     Tujuan Penelitian
            Berdasarkan permasalahan tersebut, dapat disimpulkan beberapa tujuan penelitian antara lain :
1.      Untuk mengetahui sejarah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur.
2.      Untuk mengetahui strategi SMP Islam Al-Lathifiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Dusun Tinggar Desa Sikur.
3.      Untuk mengetahui peranan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur dalam bidang sosial pendidikan.
F.     Manfaat Penelitian
            Berdasarkan tujuan penelitian, maka dapat disimpulkan beberapa manfaat antara lain :
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan acuan dan menjadi dasar pemikiran serta memberikan motivasi dan dorongan bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai SMP Islam Al-Lathifiyah yang berusaha mengungkapkan fakta-fakta yang belum dibahas agar penelitian ini lebih konprehensif.
2.      Manfaat Praktis
a.       Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan di dalam memecahkan masalah.
b.      Diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat bagi lembaga pendidikan pada umumnya dan mahasiswa STKIP Hamzanwadi Selong pada khususnya.


G.    Kajian Pustaka
            Sehubungan dengan judul proposal “Peran Sosial SMP Islam Al-Lathifiyah Dalam Pengembangan Pendidikan di Dusun Tinggar Desa Sikur” dikemukakan landasan teori dari :
1.      Sejarah dan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah
2.      Tinjauan aspek sosial dan pendidikan.
            Agar masing-masing kerangka teori tersebut tampak lebih jelas, maka diuraikan berikut ini satu persatu.
1.1.  Pengertian Sejarah
            Secara etimologis isitlah sejarah berasal dari bahasa Arab “Syajarah” yang berarti “pohon”. Kata yang bermakna pohon mengandung pengertian suatu percabangan geneologis yaitu suatu pohon keluarga yang menunjukkan pada gambaran silisah atau keturunan atau gambaran asal usul keturunan (Widja, 1999: 6)
            Sejarah merupakan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau yang dapat digunakan sebagai pedoman dan gambaran serta perbandingan kehidupan masa sekarang dengan masa yang akan datang. Suatu pendapat mengatakan bahwa : sejarah merupakan gambaran masa lampau yang dapat dijadikan pedoman dan perbandingan serta gambaran masa sekarang dan masa yang akan datang (Hariyanto, 1995: 121).
            Berdasarkan pendapat di atas, maka jelas bahwa sejarah akan sangat penting artinya bagi kehidupan seseorang sebagai warga negara yang baik. Hal tersebut karena sejarah merupakan kejadian yang benar-benar terjadi di masa yang telah lampau yang dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan masa sekarang dan masa yang akan datang. Tidak ada masa sekarang apabila tidak ada masa lampau dan tidak akan ada masa datang jika tidak ada masa sekarang.
            Bertitik tolak dari uraian tersebut, jelaslah bahwa sejarah sangat penting untuk dipahami, dimengerti dan diketahui oleh seluruh bangsa Indonesia. Oleh karena sejarah dapat dijadikan pedoman, bahan kajian serta dapat mengambil yang positif untuk perkembangan dan kemajuan dalam bidang pendidikan untuk mewujudkan kesejahteraan masayrakat dan tujuan pendidikan Nasional.
1.2.  Pengertian Peranan
            Menurut Lukman Ali dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata “peranan” berasal dari kata “peran” yang mengandung arti atau makan pemain atau perangkat tingkah laku yang diharapkan dan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat (Lukman Ali, 1995: 751). Peranan mengandung arti bagian yang dimainkan oleh seorang pelaku atau pemain yang berusaha bermain, baik dalam semua hal yang dibebankan kepadanya atau tindakan yang dilakukan olehh seorang dalam suatu revolusi atau perjuangan lainnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun pendidikan.
            Dari uraian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa SMP Islam Al-Lathifiyah merupakan pelaku atau pemain yang mempunyai pengaruh dalam mewujudkan tujuan pendidikan Nasional yaitu meningkatkan ketaqwaan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperluas kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-mansuia pembnagunan yang dapat membangun sendiri, serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
2.        Tinjauan Aspek Sosial dan Pendidikan
2.1.  Tinjauan Aspek Sosial
            Tinjauan merupakan melihat sesuatu yang jauh dari tempat ketinggian, datang dan pergi untuk melihat-lihat, menengok, memeriksa dan mengamati (Lukman Ali, 2000: 552). Sedangkan sosial adalah kegiatan yang ditujukan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dalam bidang kesejatheraan (Soerjono, 1990: 14). Sementara pendapat lain mengungkapkan bahwa sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat (Suarjono, 1990: 5). Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sosial adalah individu yang membutuhkan kawan dalam proses hubungan atau interaksi antara individu yang satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu kelompok atau masyarakat.
2.2.  Tinjauan Aspek Pendidikan
            Pada dasarnya pendidikan adalah merupakan suatu sarana penting dalam kehidupan manusia, karena pendidikan dapat membawa kehidupan manusia yang tidak berdaya pada permulaan hidupnya menjadi suatu pribadi yang mampu berdiri sendiri dan berinteraksi kehidupan bersama-sama orang lain secara konstruktif. Dalam hal ini pendidikan berarti pertolongan yang diberikan oleh barang siapa yang bertanggung jawab atas pertumbuhan anak untuk membawanya ke tingkat dewasa.
            Produk yang ingin dihasilkan oleh pendidikan adalah berupa lulusan yang memiliki kemampuan melaksanakan peranan-peranannya untuk masa yang akan datang. Peranan bertalian dengan jabatan dan pekerjaan tertentu yang bertalian dengan kegiatan pembangunan di masyarakat.
            Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkannya untuk berfungsi secara dekat dalam kehidupan masyarakat.
Adapun tujuan pendidikan itu adalah :
1)      Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan yang hendak dicapai dalam sistem pendidikan nasional. Selama dua puluh lima tahun terakhir ini, tujuan pendidikan nasional di negara kita telah mengalami perubahan yang sesuai dengan perkembangan pembangunan di tanah air.
2)      Tujuan Institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang hendak dicapai oleh suatu lembaga pendidikan atau satuan pendidikan tertentu. Tiap lembaga pendidikan memiliki tujuan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan karakteristik dan lembaga tersebut.
H.    Metode Penelitian
            Menurut Keontjaraningrat, metodos artinya cara tau jalan, sehubungan dengan upaya ilmiah, metode adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu bersangkutan (1990: 7).
Menurut Gilbert J. Garragham yang mengatakan metode sejarah adalah sekumpulan prinsip dan aturan yang sistematis. Dimaksudkan dengan memberikan bantuan secara afektif dalam mengumpulkan sumber, penelitian secara kritis terhadapnya. Kemudian menyajikan sebagai suatu sintesis biasanya dalam bentuk tertulis. Jadi Garragham menganggap metode sejarah sebagai seperangkat prinsip dan aturan yang dipatuhi oleh sejarawan (Aminuddin, 1993: 10).
            Menurut Moh. Nazir, metode sejarah adalah “Penyelidikan kritis terhadap keadaan-keadaan perkembangan serta pengalaman di masa lampau, serta menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut” (Nazir, 1988: 55).
            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif dan berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu (Husaini Usman dan Purnomo Detiady Akbar, 1995: 81).
            Ada sepuluh ciri-ciri metode penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :
1.       Sumber data berada dalam situasi yang wajar (natural setting) tidak dimanipulasikan oleh angket dan tidak dibuat-buat sebagai kelompok eksperimen.
2.       Laporannya sangat deskriptif (pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat).
3.       Peneliti sebagai instrumen penelitian (key instrument).
4.       Mencari makna, dipandang dari pikiran dan perasaan responden.
5.       Mementingkan data langsung (tangan langsung).
6.       Menggunakan triangulasi yaitu memeriksa kebenaran data yang diperoleh kepada pihak lain.
7.       Menonjolkan rincian yang kontekstual yaitu menguraikan sesuatu secara rinci tidak terkotak-kotak.
8.       Subyek yang diteliti dianggap berkedudukan yang sama dengan peneliti bahkan belajar kepada respondennya.
9.       Mengutamakan perspektif EMIC yaitu pendapat responden dari pada pendapat peneliti sendiri (etik).
10.   Mengutamakan proses dan produk.
(Husnaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, 1995: 2).
            Penelitian ini menggunakan jenis metode deskriptif naratif yang tergolong sebagai bagian dari penelitian kualitatif. Nawawi (1983: 63) menjelaskan bahwa deksriptif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki menggambarkan atau melakukan keadaan subyek penelitian. Sementara pendapat lain mengungkapkan metode deskriptif naratif merupakan metode yang menekankan usaha mengumpulkan dan menyusun naskah-naskah lengkap dari dokumen-dokumen sejarah atau menguraikan kejadian-kejadian dengan dimensi ruang dan waktu (Sartono, 1998: 35).
            Tujuan utama penelitian deskriptif naratif yaitu menggambarkan secar asistematis fakta dan karakteristik obyek atau subyek yang diteliti secara tepat (Sukardi, 2003: 71). Seperti halnya ilmu-ilmu lain, maka sejarah juga dikatakan sebagai ilmu dalam kedudukannya yaitu sebagai ilmu. Maka sejarah juga dituntut memiliki seperangkat aturan dan proses kerja yang disebut metode sejarah.
            Dalam penulisan suatu peristiwa atau penulisan sejarah (Historiografi), perlu diperhatikan langkah-langkah kerja sejarawan yaitu:
1.      Heuristik (Pengumpulan Data)
            Pengumpulan sumber sejarah menurut Louis Gostschalk (1981) mengemukakan bahwa bahan-bahan yang dapat dipakai untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi dana dialami oleh manusia pada masa lampau yakni pada peninggalan jejak (bukti konkrit) dan bukti abstrak.
            Dari sumber seajrahlah kita mendapatkan data, dengan data tersebut dapat diklasifikasikan dan diverifikasikan menjadi sebuah fakta. Fakta menurut Mas’ud Khasan Abdul Qatar dan Nawawi (1993: 75) menyatakan fakta adalah peristiwa, kejadian, bukti berita atau kenyataan.
            Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fakta adalah hal-hal yang sesungguhnya terjadi melalui penyelesaian dan pengkajian yang cermat dan akurat memperoleh hasil yang diinginkan. Agar hasil penelitian yang diperoleh lebih sistematis, faktual dan akurat maka peneliti dalam hal pengumpulan data menggunakan berbagai cara atau metode antara lain:
a.      Observasi
      Observasi adalah suatu pengamatan atau pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Observasi langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi dan tempat berlangsungnya peristiwa, sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan diselidiki (Sartono, Kartodirjo, 1990: 62).
      Oleh karena itu observasi merupakan alat pengumpul data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian, penulis dalam melakukan metode observasi ini melakukan dengan jalan langsung turun ke lapangan tanpa menerima dari orang dan dengan jalan bersama-sama dengan masyarakat atau lingkungan yang diteliti, sehingga penulis sedapat mungkin melihat situasi dan kondisi masyarakat maupun keadaan lingkungan yang diteliti tersebut.
b.      Wawancara
      Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara (interviewe) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Muhammad Ali, 1982: 93).
      Dalam penelitian menggunakan wawancara dimaksudkan untuk digunakan mengumpulkan data dan informasi terpilih dalam rangka pengumpulan data masalah penelitian. Penggunaan teknik wawancara ini disertai dengan pedoman wawancara disamping melakukan wawancara secara mendalam terhadap informasi yang dipilih.
      Suharsimi Arikunto (1998: 145) mengemukakan “interview” sering disebut wawancara atau “kuisioner lisan”. Interview adalah sebuah dialog yang dilakukan (interview) atau wawancara suatu metode untuk memperoleh data jalan untuk mengadakan hubungan secara langsung dengan responden atau informan yang dilakukan dengan tanya jawab. Metode wawancara mengumpulkan data diharapkan langsung tatap muka dengan responden itu sendiri.


c.       Dokumen
      Dokumen mempunyai arti sempit dan arti luas. Kumpulan data verbal yang berbentuk tulisan disebut dokumen dalam arti sempit. Dokumen dalam arti yang luas juga meliputi monumen, article, foto, TV dan sebagainya (Sartono, 1990: 46). Sementara menurut Suharsimi Arikunto (1998: 236) dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Pencatatan dokumentasi dikenal teknik kepustakaan adalah mencari bahan-bahan pustaka dan dokumen yang ada kaitannya dengan masalah penelitian sebagai rujukan dan tabulatasi data.
2.      Kritik Sumber
            Suatu usaha menyeleksi, menilai dan menguji sumber-sumber yang telah diperolehnya sebagai usaha mendapatkan sumber yang benar. Sumber yang benar diperlukan, yang mengandung data-data, informasi kesejarahan yang relevan dengan pokok persoalan hasil penelitian yang akan disusun, autentik, asli sehingga ini menyangkut kredibilitas sumber. Apabila sumber tersebut mengandung cacat, maka para peneliti membutuhkan bantuan ilmu bantu terlebih dahulu harus merenovasi, dalam arti meluruskan, membetulkan, dan memperbaikinya (Aminudin, 1993: 30).
            Keabsahan suatu sumber dapat dikritik melalui dua cara yaitu, kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern adalah suatu cara melakukan verivikasi atau pengkajian terhadap aspek-aspek luar dari sumber sejarah, sedangkan kritik intern adalah cara melakukan verifikasi atau pengujian terhadap aspek-aspek dalam adiri sumber sejarah.
3.      Interpretasi
            Interpretasi atau penapsiran sejarah seringkali disebut dengan analisis sejarah. Analisis berarti menguraikan, sedangkan sintesis berarti menyatukan. Oleh karena itu analisis dan sintesis, dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi (Kuntowijoyo, 1995: 100).
a.      Pengertian Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Bila ditinjau dari tujuan penelitian, analisis data mempunyai peranan penting karena pada prinsip pokok penelitian kualitatif adalah menentukan teori dari data (Lexy J. Moleong, 1999: 03).
b.      Cara Menganalisis Data
      Pada tahap ini peneliti mencari saling hubungan antara berbagai fakta yang telah ditemukan kemudian menafsirkannya (Aminudin Kasdi, 1993: 11). Untuk keperluan interpretasi dilakukan kegiatan analisis data. Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan mengumpulkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data tersebut.
      Dalam menganalisis data peneliti mengerjakan secara intensif yaitu peneliti setelah kembali dari lapangan peneliti tidak mengundurkan waktu menulis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, maupun dokumentasi yang dilakukan, kemudian ditelaah secara lebih mendalam. Seluruh bagian di atas merupakan potensi yang sama kuatnya dalam menghasilkan suatu kesimpulan atau permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian tersebut.
4.      Historiografi
            Historiografi adalah penulisan sejarah pada setiap tahap melalui rangkaian fakta yang telah ditafsirkan dan disajikan secara tertulis sebagai kisah atau sastra sejarah (Aminudin Kasdi, 1999: 11).
            Sementara pendapat lain mengungkapkan bahwa historiografi adalah kegiatan rekonstruksi masa lamapau yang berasaskan pada data yang telah diperoleh dengan prsoes pengujian dan analisis yang bertujuan untuk menciptakan kembali tatalitas dari fakta sejarah walaupun agak sulit lebih cenderung subyektif (Nawawi, 1983: 33).


BAB II
SEJARAH SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH DUSUN TINGGAR DESA SIKUR DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN PENDIDIKAN

A.    Latar Belakang Berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur
             Berawal dari tahun 2001 yaitu bantuan dari Yayasan Al-Baiti yang berasal dari Kerajaan Arab Saudi berupa gedung sebanyak 4 lokal dan 1 unit mushalla, maka oleh TGH. M. Aminollah Abdul Latihif berinisiatif mendirikan sebuah lembaga/yayasan yang diberi nama Yayasan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah dengan Akte Nomor: 11 tanggal 6 April 2001 yang bertujuan untuk dijadikan sebagai media dakwah/majelis taklim yang dibina oleh TGH. M. Aminollah Abdul Lathif. Kemudian pada tahun 2001 itu juga didirikan sebuah lembaga yang diberi nama Madrasah Diniyah Islamiyah Al-Lathifiyah dengan maksud untuk menampung anak-anak di sekitar lingkungan majelis taklim dan tenaga pengajarnya dari sekitar lingkungan Dusun Tinggar. Namun Madrasah Diniyah Islamiyah tersebut tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana karena hanya berjalan 3 (tiga) bulan. Sejak tidak aktifnya lagi Diniyah Islamiyah tersebut, terjadi kefakuman kegiatan sehingga gedung dan mushalla hasil bantuan Yayasan Al-Baiti tersebut kurang terurus bahkan pekarangannya dijadikan sebagai kebun pisang (Wawancara dengan Agus Hariadi, S.Pt., 27 Februari 2007).
            


             Melihat kondisi memprihatinkan, juga ada bebeapa hal yang sangat mendasar seperti :
1.      Di Desa Sikur khususnya wilayah bagian selatan angka putus sekolah masih sangat tinggi hingga mencapai 80%.
2.      Tingkat ekonomi masyarakat di wilayah Desa Sikur bagian selatan yang tergolong masih miskin sehingga masyarakat sangat kesulitan untuk membiayai anaknya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
3.      Jarak antara domisili anak yang ingin melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Sikur, MTs. NW Sikur dan SMPN 5 Sikur sangat jauh antara 3 sampai dengan 8 km.
4.      Sumber murid yang akan mendaftar dari beberapa SD/MI jarak tempuhnya relatif dekat seperti: SDN 1 Semaya, SDN 3 Sikur, SDN 6 Sikur, SDN 5 Sikur, MI NW Penyenggir, SDN 3 Semaya, SDN 4 Semaya.
             Dengan didukung oleh masyarakat dan sumber murid yang cukup besar ini, maka seorang tokoh pemuda yang berasal dari luar Dusun Tinggar yaitu Agus Hariadi, S.Pt, berinisiatif untuk mengusulkan idenya membuka sekolah formal yaitu Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Islam Dusun Tinggar, maka pada bulan Mei tahun 2003, Agus Hariadi, S.Pt, mengusulkan sebuah program pengembangan pendidikan umum bernuansa Islami kepada pimpinan yayasan (TGH. M. Aminollah Abdul Lathif) yang berwujud SLTP Islam, dengan maksud adapat menampung siswa-siswi tamatan SD/MI yang terancam tidak melanjutkan sekolah. Selanjutnya usulan tersebut segera direspon dan diterima positif oleh Agus Hariadi, S.Pt, segera melaksanakan rencana mulia tersebut. Sehingga pada bulan Juni 2003, pimpinan yayasan mengundang beberapa tokoh agama (H. Salman Ismail dan H. Hamdi Muhlis) dan tokoh masyarakat (Syaharuddin, H. Hasanudin, Mursip, BA, Sahabudin, Zaenudin, Mustafa, Amaq Muiasih, Amaq Abdussail, H. Fajar, Abdul Wahab, Amaq Harsul Hadi, Amaq Johariyah dan lain-lain) dalam rangka mensosialisasikan rencana program tersebut. Karena masyarakat trauma dengan gagalnya Madrasah Diniyah Islamiyah yang pernah didirikan dan hanya berjalan 3 (tiga) bulan pada tahun 2001, maka awal pertemuan tersebut tidak berhasil. Namun tokoh pemuda tersebut (Agus Hariadi, S.Pt.) tidak henti-hentinya dan secara terus menerus melakukan sosialisasi baik melalui pertemuan-pertemuan kecil maupun secara perorangan kepada beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat tersebut tentang pentingnya didirikan sebuah lembaga pendidikan formal di lingkungan jamaah majlis taklim Yayasan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar dan sekitarnya (Wawancara dengan H.  Hasanudin, 27 Februari 2007).
             Akhirnya pada tanggal 10 Juni 2003, diadakan musyawarah yang lebih besar dengan kembali mengundang para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda tersebut. Pada musyawarah ini, para tokoh agama dan tokoh masyarakat pada awalnya mengusulkan agar sekolah yang dibentuk adalah lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Departemen Agama yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tetapi tokoh pemuda (Agus Hariadi, S.Pt.) mencoba memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih jelas dan mendetail tentang visi dan misi alasan didirikannya sebuah sekolah umum bernuansa islami. Sehingga pada akhirnya dalam musyawarah tersebut dapat disepakati untuk mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar.
             Sehingga setelah melakukan kesepakatan yang kemudian menjadi ketetapan, maka pimpinan yayasan menerbitkan Surat Keputusan Pengurus Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur Nomor: 001/YPL/SK/VI/2003 tanggal 18 Juni 2003 tentang Pendirian Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Islam Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.
(Wawancara dengan Mursip, BA, Agus Hariadi, S.Pd, 29 Februari 2007)
B.     Berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur
             Setelah pimpinan yayasan menerbitkan Surat Kepuutsan tentang Pendirian SLTP Islam tersebut, maka pada tanggal 18 Juni 2003, SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar mulai membuka pendaftaran siswa baru yang pada saat itu jumlah siswa yang mendaftarkan diri sebanyak 26 orang yang berasal dari 3 (tiga) SD yaitu SDN 2 Sikur, SDN 5 Sikur dan SDN 1 Semaya serta tenaga guru sebanyak 17 orang. Tata Usaha sebanyak 1 orang, meskipun harus berjalan dengan fasilitas seadanya seperti: menempati gedung yang disediakan oleh Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah yang sebelumnya dimanfaatkan untuk Madrasah Diniyah, yang saat itu tidak dapat berjalan dan tidak diaktifkan kembali seperti : 3 (tiga) ruang kelas belajar, 1 (satu) ruang Kepala Sekolah yang digabung dengan ruang guru dan Tata Usaha serta 1 (satu) unit Mushalla.
a.       SMP Islam Al-Lathifiyah menggunakan meubeler dan alat pelajaran standar yang saat itu disediakan dalam jumlah yang sangat minim.
b.      Point a dan b tersebut diserahkan sepenuhnya kepada Kepala Sekolah pertama selaku perintis berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar untuk mengadakannya.
c.       SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar dimulai dengan: 1 (satu) ruang kelas I dengan jumlah siswa sebanyak 26 orang.
d.      Yang diterima menjadi siswa adalah yang memenuhi persyaratan masuk SMP Islam Al-Lathifiyah.
e.       Sebagai Kepala Sekolah (pimpinan) ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Yayasan Pendidikan Yatim dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Nomor: 002/YPL/VI/2003 yaitu Agus Hariadi, S.Pt.
f.       Biaya penyelenggaraan SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar sampai dengan Juni 2005 diserahkan sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar (Wawancara dengan Sahabudin, 2 Maret 2007).
             Adapun isi Surat Keputusan Pimpinan Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar Nomor: 001/YPL/VI/2003 tanggal 18 Juni 2003 tentang Pendirian SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur adalah sebagai berikut :


Pengurus Yayasan Pendidikan Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur.
Menimbang           :  Bahwa dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa sekaligus untuk mewujudkan harapan masyarakat akan pentingnya lembaga pendidikan umum yang bernuansa agama, maka dipandang perlu untuk mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah di Lingkungan Yayasan Pendidikan Al-Lathifiyah Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur.
Mengingat             :  1.   Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989;
2.   Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990;
3.   Keputusan Menpan Nomor 28 Tahun 1990
4.   Surat Keputusan bersama Mendikbud dan Kepala Nomor 25 Tahun 1993;
5.   AD dan ART Yayasan Pendidikan Al-Lathifiyah Tinggar Tahun 2001.
Memperhatikan    :  Rapat Dewan Pengurus Yayasan tanggal 18 Juni 2003.
Memutuskan         :
Menetapkan          :
Pertama                 :  Mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Daftar Nama Pendiri terlampir);
Kedua                    :  Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur;
Ketiga                     :  Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

             Beberapa bulan kemudian yaitu pada bulan Juni 2003 maka Pimpinan yayasan dan Kepala Sekolah pertama yaitu Agus Hariadi, S.Pt, mengusulkan kepada TGH. Fadli Fadil Thahir untuk meresmikan SLTP Islam Al-Lathifiyah Tinggar Desa Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur. Sehingga pada tanggal 22 Agustus 2003 SLTP Islam Al-Lathifiyah Tinggar diresmikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Propinsi Nusa Tenggara Barat yang menjabat pada saat itu adalah DR. Zaeni Aroni atas nama Gubernur Nusa Tenggara Barat bersama Pimpinan Yatofa yaitu TGH. M. Padli Fadil Thahir. (Wawancara dengan Agus Hariadi, S.Pt. tanggal 4 Maret 2007)
             Setelah SLTP Islam Al-Lathifiyah diresmikan yaitu pada tanggal 3 September 2003, Kepala Sekolah mengajukan Surat Permohonan Ijin Operasional kepada Bupati Lombok Timur melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur. Ijin operasional SLTP Islam Al-Lathifiyah. Kemudian dalam kurun waktu 2 (dua) bulan Kepala Seksi Kelembagaan bersama Pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur berkunjung ke SLTP Islam Al-Lathifiyah dalam rangka melakukan survey lapangan. Sejak survey lapangan tersebut dikeluarkan Ijin Operasional Nomor : 421/1906/PDK/2004 tanggal 14 April 2004 oleh Bupati Lombok Timur yaitu H. Ali Bin Dahlan. Berdasrakan Ijin Operasional yang dikeluarkan Bupati Lombok Timur ini, maka Kepala Sekolah langsung membuat Surat Usulan Terdaftar kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur sampai dengan memperoleh Nomor Induk Sekolah (NIS) : 20 012 0 dan Nomor Statistik Sekolah (NSS) Nomor 20 2 23 03 12 094. (Wawancara dengan Agus Hariadi, S.Pt, tanggal 4 Maret 2007)
  1. Lokasi SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar
            Sekolah Menengah Pertama (SMA) Islam Al-Lathifiyah Tinggar menempati bekas gedung Madrasah Diniyah Al-Lathifiyah Tinggar beserta tanah pekarangannya seluas 27 are dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah Utara       :  Jalan daerah jurusan Segire – Kantor Camat Sikur
Sebelah Selatan    :  Tanah milik Pemda Kabupaten Lombok Timur
Sebelah Timur      :  Sungai
Sebelah Barat       :  Perkampungan penduduk
            Sistem penggunana gedung beserta tanah pekarangan Madrasah Diniyah Al-Lathifiyah secara langsung tanpa melalui berita acara serah terima karena gedung dan tanah pekarangan tersebut merupakan milik Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar.
            Pada tahun 2003, seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan terbukti dengan antusias masyarakat untuk mendaftarkan anak-anaknya.


  1. Tujuan didirikannya SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar

            Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah Tinggar mengemban tugas seperti diamanatkan dalam Tujuan Pembangunan Nasional di bidang pendidikan yaitu :
“Meningkatkan harkat dan martabat manusia serta kualitas sumber daya manusia Indonesia dan memperluas serta meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan” (GBHN, 1993: 36)
            Serta sebagaimana yang tertera di dalam kurikulumnya, pada prinsipnya tujuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak terlepas kaitannya dengan Tujuan Pendidikan Nasional yaitu :
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beirman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Pasal 4, UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional)”

            Dari ketentuan di atas jelas bahwa didirikannya SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar bertujuan ikut serta dalam mengemban amanat Tujuan Pendidikan Nasional.
  1. Visi dan Misi SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar
            Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan atau gambaran masa depan yang diinginkan sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.
            Misi adalah suatu tindakan untuk mewujudkan atau memenuhi kepentingan yang terkait oleh visi dengan berbagai indikatornya. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah mengacu pada visi dan misi yaitu :
Visi    : Beriman dan berakhlak dalam meraih prestasi.
Misi   :  1.   Menerapkan dan menanamkan aktifitas dan prilaku islami sehingga peserta didik mampu beraktivitas (belajar) dan berprilaku islami dalam kehidupan sehari-hari.
              2.   Melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang efektif sehingga secara optimal dapat berkembnag meraih prestasi sesuai potensi yang dimiliki.
              3.   Melaksanakan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mendukung dan meningkatkan kreativitas dan disiplin peserta didik (Visi dan Misi SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar 2003/2004)
C.    Perkembangan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur dari tahun 2003 – 2006 di Dusun Tinggar Desa Sikur
             Dengan didukung oleh masyarakat dan sumber murid yang cukup besar ini dan dengan segala keterbatasna fasilitas, maka pada Tahun Pelajaran 2003/2004 mulai menerima siswa baru sebanyak 29 orang yang berasal dari sekitar wilayah beridrinya SMP Islam Al-Lathifiyah. Jumlah tenaga pengajar pada Tahun Pelajaran 2003/2004 ini sebanyak 17 orang yang berlatar belakang para sarjana pendidikan dan non pendidikan dari berbagai wilayah. Pada saat ini SMP Islam dipimpin oleh salah seorang pelopor/perintis berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah menjadi seorang Kepala Sekolah yaitu Agus Hariadi, S.Pt., sekaligus sebagai tenaga rutin dan tinggal/berdomisili langsung di salah satu ruangan kelas dengan maksud dapat mengontrol langsung perkembangan sekolah yang baru dirintis. (Wawancara dengan Mustafa, 5 Mei 2007)
             Pada Tahun Pelajaran 2003/2004 dengan segala keterbatasannya, baik sarana maupun prasarana pendukung pembelajaran maka dicoba segala bentuk kegiatan, baik Intrakurikuler maupun Ekstrakurikuler dengan tujuan memberikan daya tarik kepada masyakat sekitar pada umumnya dan siswa-siswi angkatan pertama pada khususnya dengan maksud memberikan motivasi belajar siswa dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan.
             Peranan Yayasan pada saat awal pendirian sekolah masih sangat kurang, sehingga Kepala Sekolah sebagai salah seorang perintis berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperjuangkan jalan proses belajar mengajar dengan melakukan koordinasi kesemua pihak terutama kepada instansi terkait.
a.      Sarana dan Prasarana Sekolah
            Kondisi fisik sekolah pada tahun 2003 sampai dengan 2006 keadaannya tidak berbeda jauh hanya dilakukan pembenahan-pembenahan ruang kelas dan kantor. Ruang kelas yang digunakan untuk belajar siswa sebanyak 3 (tiga) ruang kelas belajar permanen meskipun belum memenuhi standar kelas belajar karena kurang dari 3 m dan atapnya dari asbes. Sedangkan ruang kantor masih sifatnya bergabung antara ruang Kepala Sekolah, ruang Guru dan ruang Tata Usaha. Sedangkan Mushalla masih dalam keadaan baik yang dimanfaatkan untuk kegiatan majlis taklim dan kegiatan imtaq siswa.
            Akan tetapi sejak tahun 2004 SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar bersama masyarakat mulai membuat rencana pembangunan gedung sekolah dengan membangun pondasi gedung sebanyak 3 (tiga) lokal. Kemudian pada tahun 2005 SMP Islam Al-Lathifiyah mulai memperoleh dana bantuan dari Gubernur Nusa Tenggara Barat sebesar Rp. 25.000.000,- dan Bupati Lombok Timur sebesar Rp. 40.000.000,- dalam bentuk dana cash. Dana ini dipergunakan untuk melanjutkan pembangunan 3 ruang kelas yang pondasinya telah dibangun oleh masyarakat hingga mencapai 60%. Mulai tahun 2006 SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar membuat usulan untuk memperoleh dana bantuan dari DBEP-ADB untuk rehab dan peningkatan mutu yang pada tahun 2007 ini sedang berjalan pelaksanaannya (Wawanara dengan Agus Hariadi, S.Pt, tanggal 4 Maret 2007).
            Mulai tahun 2005 SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar memperoleh Dana Bantuan Sekolah (BOS) dalam rangka membantu operasional sekolah. Disamping itu juga pada tahun 2006 SMP Islam juga mendapat bantuan dana dalam rangka peningkatan mutu yaitu dalam bentuk bantuan media pembelajaran sebesar Rp. 15.000.000,- yang dipergunakan untuk membeli alat-alat praktik pembelajaran seperti: Alat-alat praktik IPA (Kerangka manusia, timbangan, stop watch dan lain-lain), IPS (peta, atlas, globe dan lain-lain), Matematika (kerangka kubus, balok dan lain-lain), olah raga (meja ping pong, bulu tangkis, kasti, lembing dan lain-lain) dan kesenian (rebana qaasidah, organ, ketipong dan lain-lain).
            Khusus masalah sarana prasarana berupa Perpustakaan dan Laboratorium sejak berdirinya SLTP Islam Al-Lathifiyah sampai dengan sekarang ini belum dapat disiapkan. Hal ini disebabkan masih kurangnya sumber dana yang diharapkan oleh pihak yayasan. (Wawancara dengan TGH. Aminollah AL, tanggal 10 Maret 2007)
b.      Kurikulum dan Kesiswaan
            Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (Fuad Hasan, 1995: 5).
            Kurikulum yang digunakan oleh SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar pada Tahun Pelajaran 2003/2004 sampai dengan 2005/2006 adalah Kurikulum 1994.
            Adapun perangkat bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar antara lain :
1.      Landasan Program dan Pengembangan
2.      Garis-Garis Besar Program Pengajaran
3.      Pedoman Pelaksanaan Penilaian
            Penerapan kurikulum ini sejak tahun 2003 sampai dengan 2006 masih tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan buku-buku pedoman guru, buku penunjang dan alat bantu pelajaran lainnya. Sehingga pada saat ini di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar masih menggunakan buku-buku yang disesuaikan dengan buku pegangan guru-guru mata pelajaran.
            Sedangkan untuk pelaksanaan proses belajar mengajar di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar pada Tahun Pelajaran 2003/2004 mengelola hanya satu kelas, sehingga sedikit dapat memberikan kemudahan dalam pengelolaan kelas. Pada saat ini siswa-siswi mulai bersemangat dalam mengikuti proses belajar mengajar, baik pagi hari untuk mengikuti kegiatan intrakurikuler maupun pada sore hari untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
            Untuk kegiatan tambahan pada sore hari, Kepala Sekolah yang menjabat pada saat itu terus berinisiatif dalam melakukan pembinaan, baik pembinaan di bidang agama Islam maupun pembinaan mental secara terjadwal meskipun pada saat itu tidak diprogramkan secara khusus.
            Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2003/2004 antara lain :
1.      Pembinaan pidato dengan menggunakan tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
2.      Pembinaan di bidang seni baca Al-Qur’an.
3.      Pembinaan Kepramukaan.
4.      Pembinaan Kuliah Tujuh Menit (Kultum).
            Kegiatan-kegiatan tersebut secara terpadu terus dilakukan, sehingga dapat memberikan hasil yang cukup memuaskan seperti :
1.      Untuk kegiatan pidato dalam tiga bahasa, siswa-siswi SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar telah mampu menunjukkan kemampuannya di depan pejabat pemerintah dan masyarakat yang hadir padasaat acara kenaikan kelas dan mampu memberikan daya tarik yang luar biasa kepada masyarakat sekitar.
2.      Untuk pembinaan di bidang seni baca Al-Qur’an hanya mampu berjalan tiga bulan, karena disebabkan oleh keterbatasan dana untuk memberikan honorer kepada Pembina.
3.      Untuk pembinaan kepramukaan dapat dilaksanakan secara rutin setiap bulan dan pada peringatan HUT RI tahun 2003 ikut serta dalam perkemahan umum di lapangan Gelora Sikur.
4.      Sedangkan untuk kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) dilaksanakan siswa-siswi setiap pagi sebelum masuk kelas secara bergiliran.
            Berdasarkan perkembangan siswa-siswi pada Tahun Pelajaran 2003/2004 tersebut, maka pada Tahun Pelajaran 2004/2005 jumlah siswa siswi yang mendaftarkan diri mulai bertambah sebanyak 35 orang. Dengan melihat perkembangan jumlah siswa tersebut, maka Bupati Lombok Timur mengeluarkan Ijin Operasional SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur dan langsung dikeluarkan Nomor Induk Sekolah (NIS) : 20 012 0 serta Nomor Statistik Sekolah (NSS) : 20 2 23 01 12 094.
            Dengan telah dikeluarkannya Ijin Operasional Sekolah, Nomor Induk Sekolah (NIS) dan Nomor Statistik Sekolah (NSS), maka Kepala Sekolah semakin meningkatkan inisiatifnya untuk berupaya melakukan peningkatan-peningkatan dalam rangka membantu kelancaran proses belajar mengajar dengan cara melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait maupun pihak-pihak yang peduli dengan pendidikan dan meningkatkan kerjasama dengan para tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pengembangan sekolah, sehingga pada Tahun Pelajaran 2004/2005 ini, pada tanggal 10 Desember 2004 terbentuklah Komite Sekolah SMP Islam Al-Lathifiyah berdasarkan Surat Keputusan Kepala SMP Islam Al-Lathifiyah Nomor : 02/SK/Kep-SMP Islam/VIII/2004 tentang Pembentukan Komite Sekolah SMP Islam Al-Lathifiyah Periode Tahun 2004 – 2007.
            Dengan terbentuknya Komite Sekolah, maka jumlah siswa-siswi yang mendaftar semakin meningkat sebanyak 36 orang dan semangat masyarakat untuk membantu pembangunan sekolah semakin tinggi. Hal ini terbukti masyarakta semakin peduli dengan perkembagan sekolah serta turut membantu dalam segala bentuk kegiatan sekolah.
            Akan tetapi mulai bulan September 2005 terjadi konflik di dalam tubuh yayasan, yang mengakibatkan penurunan kinerja Kepala Sekolah dan Dewan Guru, bahkan pada saat itu terjadi pemberhentian Kepala Sekolah lama sebagai perintis berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar secara sepihak disebabkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pengelolaan keuangan. Hal ini menimbulkan keresahan di masyarakat, sehingga beberapa orang tua wali memindahkan anaknya ke sekolah lain bahkan khsuusnya siswa kelas II banyak diantara siswa-siswi yang drop out atau berhenti dan tersisa tinggal 16 orang. Hal ini dipicu oleh orang tua atau masyarakat pada Tahun Pelajaran 2005/2006 enggan memasukkan anaknya sekolah di SMP Islam Al-Lathifiyah karena diakibatkan oleh ketidaksetujuan masyarakat melihat yayasan memberhentikan Kepala Sekolah lama.
            Berkat turun tangannya Kepala Sekolah lama untuk mensosialisasikan kembali permasalahan kepada masayrakat, maka dengan kesadarannya masyarakat sendiri mulai mendaftarkan anak-anaknya di SMP Islam Al-Lathifiyah hingga siswa baru yang terdaftar mencapai 35 orang.
            Sementara konflik internal yayasan terus berlanjut sampai dengan 2007, hal ini menimbulkan kekhawatiran yayasan untuk memperoleh siswa baru pada Tahun Pelajaran berikutnya, apalagi mantan Kepala Sekolah lama mengundurkan diri menjadi pengurus yayasan dan dewan guru pada bulan Februari 2007.
c.       Administrasi
            Masalah administrasi sekolah pada tahun 2003 masih sangat kurang disebabkan oleh keterbatasan tenaga karena pada saat itu segala bentuk tugas keadministrasian sekolah masih ditangani sendiri oleh Kepala Sekolah dan hanya terbatas pada administrasi kesiswaan. Kondisi ini masih terus berlanjut sampai dengan tahun 2005 dan secara bertahap kelengkapan administrasi terus ditingkatkan dan dibantu oleh 1 (satu) orang tenaga Tata Usaha yang diangkat langsung oleh Kepala Sekolah pada saat itu. Namun masalah kelengkapan administrasi ini semakin kurang diperhatikan sampai dengan tahun 2006 diakibatkan oleh terjadinya konflik Yayasan dan pergantian Kepala Sekolah dan tidak ada pegawai atau Tata Usaha yang profesional dan berbakat di bidang keadministrasian. (Wawancara dengan Jamhul Mutaqin, tanggal 7 Maret 2007)


BAB III
STRATEGI SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI DUSUN TINGGAR DESA SIKUR

A.    Tantangan dan Hambatan Serta Solusi dari Tahun 2003 – 2006
             SMP Islam Al-Lathifiyah dalam menghadapi pola baru manajemen pendidikan yaitu: Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) bersikap pro aktif, terlihat dari usaha yang dilakukan untuk mewujudkan visi dan misi sekolah tahun 2003-2006 antara lain :
1.      Penerimaan siswa baru (Input)
Syarat penerimaan siswa baru di SMP Islam Al-Lathifiyah adalah :
a.       Memiliki Surat Tanda Lulus (STL)
Setiap calon siswa-siswi yang mau melanjutkan ke SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar harus membawa persyaratan Surat Tanda Lulus sebagai bukti bahwa mereka telah lulus dari Sekolah Dasar.
b.      Mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil
Setiap calon siswa-siswi yang mau melanjutkan ke SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar harus mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil dengan menunjukkan Surat Keterangan Membaca Al-Qur’an.
2.      Hasil yang diharapkan (Output)
Dengan penyaringan penerimaan siswa-siswi baru yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil akan mempermudah dalam pengembangan akhlak islami sesuai dengan misi SMP Islam Al-Lathifiyah yaitu menerapkan dan menanamkan aktifitas dan prilaku islami sehingga pada gilirannya peserta didik mampu berafiliasi di tengah-tengah masyarakat secara islami.
3.      Proses belajar mengajar yang efektif
Pelaksanaan belajar mengajar harus efektif seperti: persiapan guru dalam melengkapi administrasi (Program Tahunan, Program Semester, Program Mingguan, RPP, Analisis dan lain sebagainya), buku-buku pegangan guru dan buku penunjang bagi siswa, alat-alat peraga atau praktik, kedisiplinan dalam penggunaan waktu belajar, pembinaan kerohanian maupun mental siswa serta menekankan pada pemberdayaan peserta didik, sehingga apa yang diajarkan kepada siswa dapat tertanam dan berfungsi sebagai muatan nrani dan dapat dihayati serta dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Kepemimpinan sekolah yang kuat
Kepala Sekolah memiliki peranan yang kaut dalam mengkoordinasikan, menggerakkan semua sumber daya pendidikan yang tersedia untuk mewujudkan visi dan misi serta target yang akan dicapai melalui program sekolah yang dilaksanakan secara konsekuen, seperti: kerjasama/kemitraan dengan Komite Sekolah dan lingkungan sekolah, koordinasi dengan wali murid, koordinasi dengan isntansi terkait sehingga dapat pengayom bagi siswa, pegawai, guru dan masyarakat di sekitar lingkungan SLTP Islam Al-Lathifiyah Tinggar, sehingga secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kesadaran masyarakat tentang pendidikan, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan sekolah.
5.      Lingkungan sekolah yang aman dan tertib
Proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan nyaman serta memperoleh hasil yang optimal apabila ditunjang dengan lingkungan sekolah yang bersih atau iklim belajar yang aman dan tertib. Oleh karena itu SMP Islam Al-Lathifiyah secara bertahap mengupayakan tentang kebersihan lingkungan, iklim sekolah yang nyaman, aman dan tertib secara berkesinambungan. Karena dengan kondisi lingkungan yang aman dan tertib ini, dapat memberikan daya tarik kepada masyarakat dan lebih khusus lagi dapat mendukung kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
6.      Tenaga kependidikan yang kompeten
Tenaga kependidikan khususnya guru adalah merupakan jiwa sekolah, sehingga Kepala Sekolah harus memperhatikan beberapa faktor mulai dari analisis kebutuhan yaitu dapat, perencanaan, pengembangan, hubungan kerja serta evaluasi. Hal ini terlihat dari :
a.       Banyak guru yang memperoleh kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
b.      Adanya kegiatan musyawarah guru bidang studi sejenis (MGBS).
Untuk menciptakan tenaga kependidikan yang kompeten, maka perlu dilakukan proses seleksi sejak pengangkatan seorang guru, sehingga dapat menyediakan suasana belajar yang mendukung dan menciptakan inisiatif dan kreativitas belajar siswa yang berkualitas. Hal ini di sebabkan karena tanggung jawab seorang pendidik sangat besar, maka tenaga pendidik harus mampu memelihara dan memotivasi dalam mendidik siswa tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga setelah ia dewasa mampu berdiri sendiri yang didasari dengan teori-teori pendidikan modern, sesuai dengan perkembangan jaman yang cenderung selalu berubah.
7.      Budaya profesionalisme
Menanamkan sikap dan prilaku yang didasari profesionalisme bagi warga asekolah, sehingga semua warga sekolah mempunyai sifat memiliki yang dapat meningkatkan tanggung jawab dalam melaskanakan tugas sehari-hari.
8.      Keterbukaan atau Transparansi
Untuk meningkatkan hubungan kerja bagi seluruh warga sekolah diperlukan keterbukaan atau transaparansi yang ditunjukkan dalam hal:
a.       Pengambilan keputusan
Dalam pengambilan sebuah keputusan, harus dilakukan secara demokratis berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Contoh:   Dalam pengambilan keputusan tentang perencanana, pelaksanaan atau pembagian tugas, evaluasi dan control proses bleajar mengajar maupun program-program lainnya.


b.      Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
Dalam melakukan perencanaan harus dilakukan secara matang dengan cara memprediksi dampak-dampak ke depan dari perencanaan tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah sehingga di dalam pelaksanaan dapat diaplikasikan secara mudah dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Penggunaan dana yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol.
Dalam penggunaan dana harus melibatkan semua pihak yang terkait berdasarkan musyawarah untuk mufakat dalam mencapai sebuah keterbukaan. Karena hal ini dapat mencegah terjadinya konflik-konflik internal dan dapat mendukung pelaksanaan angagaran secara transparan sehingga dapat mendukung kelancaran proses penggunaan dana sesuai dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).
9.      Komunikasi yang harmonis
Tercapainya komunikasi yang baik antara warga sekolah dengan masyarakat sangat menentukan keberhasilan dari suatu proses belajar mengajar, misalnya: dengan cara terus melakukan sosialisasi kepada orang tua dengan memanfaatkan steak holder di lingkungan masyarakat atau dengan cara melaksanakan program home visit. Segala bentuk kegiatan sekolah akan memperoleh hasil yang opitmal apabila mendapat dukungan dari seluruh warga sekolah dan masyarakat. Dengan adanya keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan sekolah.
10.  Evaluasi dan perbaikan
Evaluasi yang teratur ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik dalam menyerap materi pelajaran misalnya: dengan cara melaksanakan program evaluasi proses belajar mengajar di kelas, melaksanakan program pengayaan, karena pelaksanaan perbaikan secara terus menerus merupakan faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan program sekolah sesuai yang diharapkan oleh sekolah itu sendiri berdasarkan visi misinya.
11.  Peranan Komite Sekolah
Peranan Komite Sekolah sangat diperlukan, selainb erupa dukungan dana juga berfungsi sebagai alat kontrol dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Karena Komite Sekolah sebagai wakil orang tua/wali murid memiliki peran yang sangat penting dalam melakukan pendekatan-pendekatan kepada masyarakat untuk memotivasi kesadaran masayrakat dalam ikut serta memperhatikan pendidikan di sekitarnya sehingga dengan sendirinya pula dapat ikut serta dalam mencari sumber dana, melakukan perencanana, pelaksanaan, evaluasi dan kontrol perkembangan dan kemajuan sekolah.
12.  Akuntabilitas
Penyelenggaraan pendidikan harus dapat dipertanggungjawabkan terhadpa program yang telah dilaksanakan, untuk memperoleh penilaian tehradap target yang ingin dicapai. Pertanggungajwaban berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah, orang tua siswa dan masyarakat. Hal ini dapat ditunjukkan dengan cara memberikan informasi kepada orang tua/wali murid tentang perkembangan dan kemajuan proses belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah, misalnya: memberikan laporan kepada orang tua/wali murid tentang hasil atau prstasi belajar siswa setiap akhir semester.
a.      Tantangan
             Tantangan yang harus dihadapi oleh SMP Islam dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Dusun Tinggar yaitu prestasi harus yang dicapai sekolah baik di bidang prestasi akademik dan prestasi non akademik.
Adapun tantangan yang harus dihadapi antara lain :
    1. Prestasi Akademik
a.       Pada tahun 2006, rata-rata nilai pencapaian UAN minimal 5,0.
b.      Pada tahun 2006, 100% siswa SMP Al-Lathifiyah dapat membaca Al-Qur’an dengan tartil.
c.       Pada tahun 2006, 25% siswa SMP Islam Al-Lathifiyah dapat mengetik 10 jari.
d.      Pada tahun 2006, presentase lulusan yang dapat melanjutkan ke sekolah favorit minimal 25%.


    1. Prestasi Non Akademik

a.       Pada tahun 2006 memiliki team olah raga yang tanggung dan menjuarai turnamen oleh raga tingkat kabupaten dalam cabang sepak bola.
b.      Pada tahun 2006 memiliki team olah raga yang tanggung dan menjuarai turnamen olah raga tingkat kabupaten dalam cabang bola volley.
b.      Hambatan
             Hambatan-hambatan yang dihadapi SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar sejak tahun 2003 sampai dengan 2006 pada dasarnya sama, meskipun setiap tahun pelajaran mengalami sedikit peningkatan, baik di bidang sarana dan parasana sekolah maupun proses belajar mengajar. Namun peningkatan tersebut tidak bisa menjamin terjadinya peningkatan kualitas.
             Terhambatnya peningkatan kualitas di SMP Al-Lathifiyah sejak tahun 2003 sampai dengan 2006 diakibatkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
1.      Kesadaran masyarakat tentang pendidikan agak lamban, sehingga SMP Islam Al-Lathifiyah mengalami kesulitan dalam menjalin kemitraan yang lebih dekat dalam rangka membangun sekolah ke depan.
2.      Semangat belajar anak-anak masih rendah. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan.
3.      Ruang kelas yang terbatas dan dalam kondisi rusak berat sehingga proses belajar mengajar dilaksanakan kurang kondusif sehingga hasil yang dicapai kurang optimal.
4.      Ruang perpustakaan yang belum ada sehingga siswa belum dapat melakukan pengembangan pengkajian ilmu pengetahuan secara optimal.
5.      Ruang laboratorium yang belum ada sehingga pemanfaatannya belum optimal.
6.      Tidak adanya lapangan olah raga Khusus SMP Islam Al-Lathifiyah sehingga segala kegaitan olah raga dilaksanakan di halaman sekolah secara sederhana.
7.      Tidak adanya guru keterampilan mengetik sepuluh jari yang kompeten.
c.       Solusi
1.      Ruang kelas yang terbatas dan kondisi rusak berat, sehingga perlu penambahan ruang kelas baru dan merehab ruang kelas yang lama.
2.      Ruang perpustakaan belum ada, sehingga sangat dibutuhkan pembangunan ruang perpustakaan.
3.      Ruang Laboratorium IPA belum ada, sehingga sangat perlu juga pembangunan ruang laboratorium.
4.      Bekerjasama dengan lingkungan masyarakat sekitar untuk menyusun program pembangunan fasilitas belajar mengajar.


B.     Kegiatan Intrakurikuler (di dalam sekolah dari tahun 2003 – 2006)
             Untuk kegiatan intra kurikuler ini di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar sejak awal berdirinya sampai dengan 2006 sekarang ini masih menggunakan kurikulum 1994. Masih digunakannya kruikulum lama ini disebabkan karena keterbatasan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar mengajar.
             Bahkan pada awal berdirinya tahun 2003, buku yang digunakan siswa untuk belajar adalah buku-buku paket yang ditinggalkan oleh Program Paket B dan guru-guru bidang studi/mata pelajaran menggunakan buku-buku pegangan yang disesuaikan dengan buku-buku yang digunakan oleh sekolah lain dengan usaha sendiri.
             Mulai awal tahun 2004, Kepala Sekolah lama berinisiatif untuk membelikan buku-buku pegangan guru dan Lembar Kerja Siswa dengan cara dihutang. Hal ini disebabkan karena pada saat itu belum ada sumber dana yang jelas, sementara warga sekolah maupun masyarakat di sekitar lingkungan sekolah rata-rata dalam kondisi ekonomi yang sangat rendah. Selanjutnya secara bertahap kebutuhan sarana dan prasarana proses belajar mengajar ini ditingkatkan dengan cara mencari donator-donator yang berasal dari luar lingkungan sekolah seperti: para dermawan dan pemerintah. Dengan peningkatan kualitas dan kuantitas fasilitas pendukung proses belajar mengajar ini, maka pada UN Tahun Pelajaran 2005/2006 SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar dapat mencetak kelulusan 100% dengan nilai rata-rata di atas 6,0. (Wawancara dengan Agus Hariadi, S.Pt, tanggal 11 Maret 2007)
C.    Kegiatan Ekstrakurikuler (di luar sekolah dari tahun 2003 – 2006)
             Dalam hal ini SMP Islam Al-Lathifiyah melalui program ekstrakurikuler yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2003 sampai pertengahan 2005 antara lain kepramukaan dan olah raga berperan aktif ikut serta dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang sehat, bersih, tertib dan nyaman melalui kegiatan bakti pada masyarakat.
1.      Pramuka
a.       Melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat melalui kemah bakti yang dilaskanakan pada hari libur sekolah dan acara kegiatan lainnya.
b.      Ikut serta dalam memelihara lingkungan masyarakat yang bersih dan sehat.
2.      Olah raga
a.       Kerjasama dengan masayrakat untuk memasyarakatkan olah raga sepak bola dan bola volley.
b.      Menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat melalui kegiatan olah raga.
Namun kegiatan-kegiatan tersebut sejak terjadinya konflik intern yayasan mulai bulan September 2005, maka kegiatan-kegiatan mulai jarang dilaksanakan bahkan hampir tidak dilaksanakan lagi.




BAB IV
PERANAN SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH DUSUN TINGGAR DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN PENDIDIKAN DARI TAHUN 2003 – 2006

A.    Peranan SMP Islam Al-Lathifiyah Dalam Bidang Sosial di Dusun Tinggar
             Peranan adalah sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. (Gross, Masson dan Mc. Eacchern). Pada dasarnya pendidikan di sekolah merupakan bagian dari pendidikan dalam masyarakat, yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari  pendidikan dalam keluarga. Disamping itu kehidupan sekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.
             Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang membantu lingkungan masyarakat, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari lingkungan masyarakat. Sementara itu, dalam perkembangan kepribadian anak didik, peranan sekolah dengan manajemen sangat dibutuhkan.
             SMP Islam Al-Lathifiyah dalam hal sosial menganjurkan persaudaraan yaitu menekankan persaudaraan dengan semua implikasi. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan modal manajemen yang berbasis otonomi yang lebih besar kepada SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar untuk mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, siswa, tata usaha atau karyawan, orang tua siswa dan masyarakat. Hubungan timbal balik antar sekolah dengan masyarakat maupun masyarakat dengan sekolah bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian masing-masing dalam mewujudkan iklim sosial masyarakat yang harmonis.
             Sejak menjelang yaitu tahun 2003 berdirinya SMP Islam Dusun Tinggar Ketua Yayasan yaitu TGH. M. Aminollah Abdul Lathif bersama seorang Tokoh Pemuda yang berasal dari luar Dusun Tinggar yaitu Agus Hariadi, S.Pt, terus melakukan sosialisasi melalui pengajian-pengajian dan kunjungan-kunjungan ke rumah-rumah tokoh masyarakat dan orang tua calon siswa, dalam rangka meningkatkan kesadaran masayrakat tentang pentingnya pendidikan.
             Peranan SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar mulai terlihat sejak tahun 2004 yaitu terlihat dari sumbangan-sumbangan pemikiran yang diberikan kepada masyarakat sekitar dalam melakukan pembenahan-pembenahan sosial, pembinaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti meningkatnya frekuensi waktu kegiatan majlis taklim, menghidupkan kembali TPA-TPA, kegiatan gotong royong, bahkan lebih khusus lagi yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosialisasi tentang peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan secara insidentil. Peran sosial SMP Islam Dusun Tinggar ini terus digalakkan sampai tahun 2006. Dengan semakin digalakkannya  peran sosial sekolah ini, maka partisipasi masyarakat dalam membantu perkembnagan sekolah semakin meningkat. Hal ini terbukti dari keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan-kegiatan pembangunan sekolah dengan cara memberi sumbangan material maupun tenaga gotong royong. Peran sosial SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar semakin terus ditingkatkan seperti: membuat program-program sosial yang menyangkut bagaimana bisa menyantuni yatim piatu, fakir miskin dan anak terlantar.
Dalam perjalanan yayasan yatim piatu dan anak terlantar, Al-Lathifiyah selama + 4 tahun dapat dilihat dengan jelas terbukti di hidupkannya kembali majelis taklim (pengajian) satu kali dalam seminggu yang langsung dikelola oleh SMP Islam sendiri. Dan di bidang lain dengan melakukan perbaikan jalan menuju Dusun Tingkar dan langsung ke SMP Islam lewat pengajuan proposal yang langsung dibuat oleh Kepala SMP Islam Al-Lathifiyah dan langsung ditanggapi oleh pemerintah daerah khususnya PU (Pekerjaan Umum) dalam perbaikan jalan (Wawancara dengan Marzoan, 23 Oktober 2007).
             Dampak yang lain yaitu dengan semakin kuatnya persatuan antara kaum tua dan muda dalam meningkatkan kesejahteraan masayrakat di sekitar SMP Islam Al-Lathifiyah lewat pembagian infaq dan sadaqah bagi masyarakat Dusun Tinggar Desa Sikur (Wawancara dengan Ahmad Nursawal, SE, 24 Oktober 2007).
B.     Peranan SMP Islam Al-Lathifiyah Dalam Bidang Pendidikan di Dusun Tinggar
             Dilihat dari segi pendidikan, sekolah merupakan satu kesatuan hidup dalam menyediakan situasi belajar. Sebagai satu kesatuan hidup antara sekolah dan masyarakat dalam bidang pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan, SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan anak didik. Antara mereka sudah barang tentu terjadi saling interaksi, baik antara guru dengan murid maupun atnara murid dengan murid. Dalam intearksi ini membutuhkan suasana belajar yang kondusif, maka diperlukan suatu usaha-usaha untuk menciptakan situasi tersebut.
             Hubungan antara murid dengan murid juga menunjukkan suasana yang edukatif. Sesama murid saling berkawan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, saling mengajak dan diajak disiplin juga kreaatifitas di sekolah yang mengandung gejala antara lain adalah organisasi intra sekolah, pelajaran berolahraga, baris berbaris, kepramukaan, keterampilan dan sebagainya. (Wawancara dengan Agus Hariadi, S.Pt, tanggal 21 Maret 2007).
             Sementara waktu, berkenaan dengan sekolah menyediakan situasi belajar, dapat dilihat bahwa peserta didik sangat tergantung pada sekolah, baik dalam keadaan jasmaniyah maupun kemampuan-kemampuan intelektual, sosial dan moral. Sementara waktu peran pendidikan di SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar sebelum berdiri, angka transisi siswa tamat SD yang tidak melanjutkan sekolah cukup tinggi sampai mencapai 90% yaitu sebesar 126 orang dari 140 orang siswa-siswi yang tamat SD/MI. Namun setelah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar, angka putus sekolah tersebut semakin menurun. Jika kita melihat perkembangan jumlah siswa transisi yang melanjutkan sekolah sedikit demi sedikit dapat ditingkatkan, bahkan angka tersebut dapat berubah total pada sejak tahun 2006.
             Hal ini terbukti semua siswa transisi yang tamat SD semuanya melanjutkan sekolah ke jenjang SMP/MTs bahkan setelah pelulusan pertama/perdana sebagian besar siswa yang tamat di SMP Islam Al-Lathifiyah melanjutkan sekolah ke SMA/MA. Ini menunjukkan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah dalam bidang pendidikan di Dusun Tinggar cukup signifikan dalam menyadarkan masyarakat untuk terus memperjuangkan pendidikan anak-anaknya, baik pendidikan formal mupun non formal.
             Dari peranan tersebut juga memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk membangun pendidikan dengan cara memasukkan anak-anaknya yang putus sekolah melalui pendidikan luar sekolah, baik melalui program Kejar Paket B maupun Program Paket C, sehingga hampir semua anak-anak putus sekolah dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan mulai tahun 2006 di beberapa wilayah perkampungan yang menjadi sumber murid SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar mulai membuka lembaga-lembaga Pendidikan non formal seperti : TPA Darul Furqan Dusun Kemong yang beberapa tenaga gurunya berasal dari staf pengajar SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar. Dan juga para orang tua/wali murid semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan, sehingga mereka mulai berinisiatif untuk memasukkan anak-anaknya di sekolah yang lebih tinggi tanpa mau ketinggalan seperti: SMK, SMA dan MA. (L. Suhardiman, S.Ag, tanggal 20 Mei 2007)
            


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
             Untuk memperoleh gambaran secara singkat tentang masalah-masalah yang telah diuraikan dalam penelitian, maka pada bab tearkhir ini akan diuraikan pokok-pokok masalah yang penting berupa kesimpulan. Dengan kesimpulan ini akan dapat memudahkan para pembaca menangkap dan memahami inti permasalahannya sehingga akan tampak gambaran yang jelas.
             Oleh karena itu sejarah berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah merupakan tolak ukur pengembangan sekolah umum bernuansa islami sebagai wujdu tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdasarkan kehidupan bagnsa dan mengembangkan manusia Indonesai seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan khususnya di Kabupaten Lombok Timur.
             Strategi SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar dapat memberikan peluang kepada masyarakat untuk berkembang dan maju, karena didukung beberapa faktor antara lain: proses belajar mengajar berlangsung efektif, lingkungan sekolah yang aman dan tertib, kepemimpinan sekolah yang kuat, pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif, memiliki team work atau kebersamaan, kekompakan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, memiliki keterbukaan atau transparansi, komite sekolah yang profesional serta sangat ditentukan oleh kualtias kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler yang secara terus menerus ditingkatkan.
             Peranan SMP Islam Al-Lathifiyah mempunyai pandangan ke depan, ini tertuang dalam visi yakni beriman dan bertaqwa dalam meraih prestasi. Manajemen Pendidikan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan jawaban yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang dihadapi masayrakat di sekitar lingkungan SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar yaitu rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang satuan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Melalui otonomi sekolah yang dilaksanakan oleh SMP Islam Al-Lathifiyah Tinggar dapat mendorong semangat pengelola sekolah dalam pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah, baik kepala sekolah, guru, karyawan, orang tua siswa dan masayrakat untuk meningkatkan mutu pendidikan kebijakan Pendidikan Nasional.
B.     Saran-Saran
             Berbagai pengamatan dan analisa membuktikan bahwa tidak optimalnya peran sekolah di bidang sosial dan pendidikan mengakibatkan rendahnya mutu lulusan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah manajemen pendidikan. Kenyataannya bahwa manajemen pendidikan yang selama ini bersifat sentralistik telah menempatkan sekolah pada posisi marginal, kurang berdaya, kurang mandiri dan bahkan terpasung kreatifitasnya dan tetap secara terus menerus membangun strategi dalam peningkatan kualitas sekolah.
             Oleh karena itu untuk menjawab segala permaslahan yang mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan, maka sangat dibutuhkan peningkatan peran sekolah di bidang sosial dan pendidikan dengan ara merubah pola manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menjadi Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).
             Untuk lebih mempercepat proses peningkatan peran sekolah di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat hendaknya Kepala Sekolah harus memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpnan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan, inisiatif, prakarsa untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Sebagai tenaga kependidikan (guru) dituntut mempunyai koitmen yang tinggi, mampu dan sanggup menjalankan tugasnya degnan penuh tanggung jawab, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan sebagai fungsi kontrol penyelenggaraan pendidikan karena sekolah harus mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat khususnya orang tua siswa sebagai salah satu unsur yang berkepentingan dengan pendidikan, sekolah harus mampu menciptakan lingkungan iklim belajar yang aman dan tertib sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman, antara warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, tata usaha) dengan warga masyarakat harus memiliki komunikasi yang baik, sehingga dapat membentuk iklim kebersamaan, kompak. Dengan demikian berbagai kegiatan sekolah dapat dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Malik Fajar, 2002. Sambutan Materi Pendidikan nasional Pada Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Tanggal 2 Mei 2002.
Aminudin Kasdi, 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Surabaa: University Press IKIP Surabaya.
Handari Nawawi, 1983. Metode Penelitian di Bidang Sosial. Gajah Mada University Press.
Hasbullah, 1996. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Husiani Usman dan Purnomo Detiady Akbar, 1995. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Hariono, 1995. Mempelajari Sejarah Secara Efektif. Malang: Pustaka Jaya.
I. G. Widja, 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Semarang: Satya Wacana.
Kholid Narbuko, 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Koentjaraningrat, 1990. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lukman Ali, 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Pusat Pembinaan dan Pembangunan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka. Jakarta.
Lexy J. Moleong, 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja rosda Karya.
Moh. Aminuddin, 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah. Departemen Penerangan Kabupaten Lombok Timur.
Moh. Nazir, 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Muhsipuddin, 2004. Kilas Balik 100 Tahun Pendidikan di Lombok Timur, cetakan pertama. Pemda Tingkat II Lombok Timur.
Oemar Hamalik, 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto, 1998. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, edisi V. Jakarta: Rineka Cipta.
Sartono Kartodirjo, 1990. Metode Penggunaan Bahasa Dokumen. Jakarta: Gramedia.
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Soegarda Poerbakawatja dan H.A.H. Harapah, 1982. Enskiplopedi Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
Surat Keputusan Pengurus Yayasan Pendidikan Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Lathifiyah Tinggar No.: 001/YPL/VI/2003 tentang Pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Al-Lathifiyah Tinggar.



PEDOMAN WAWANCARA

1.      Apa latar belakang sehingga sangat perlu didirikan SMP Islam AL-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
2.      Siapa yang mempelopori beridirnya SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
3.      Bagaimanakah proses berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
4.      Bagaimanakah dukungan dari Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda serta Masyarakat dalam proses berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
5.      Kapan berdirinya SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
6.      Kapan SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur dan siapakah yang meresmikan?
7.      Kapan Ijin Operasional SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur oleh Bupati Lombok Timur?
8.      Kapan dikeluarkan Nomor Induk Sekolah (NIS) dan Nomor Statistik Sekolah (NSS) SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur oleh Kepala Dinas P dan K Kabupaten Lombok Timur?
9.      Kapan penerimaan murid pertama di SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
10.  Berapa jumlah siswa pertama kali yang diterima oleh SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
11.  Berapa jumlah Dewan Guru dan Pegawai yang direkrut pertama kali oleh SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
12.  Apakah yayasan menerbitkan Surat Keputusan tentang Pendirian SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
13.  Apakah yayasan menerbitkan Surat Keputusan tentang Pengangkatan Kepala Sekolah, Dewan Guru dan Pegawai SMP Islam Al-Lathifiyah di Dusun Tinggar Desa Sikur?
14.  Jelaskan tentang monografi SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur!
15.  Apa tujuan, visi dan misi SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur?
16.  Bagaimanakah perkembangan SMP Islam Al-Lathifiyah Dusun Tinggar Desa Sikur sejak tahun 2003 sampai dengan 2006 dalam hal:
a.       Sarana dan prasarana sekolah?
b.      Kurikulum dan kesiswaan?
c.       Adminsitrasi?
17.  Apa strategi SMP Islam Al-Lathifiyah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Dusun Tinggar Desa Sikur?
18.  Dalam peningkatan kualitas tersebut apakah tantangan, hambatan yang dihadapi dan bagaimana solusinya?
19.  Jelaskan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah bidang sosial di Dusun Tinggar Desa Sikur?
20.  Jelaskan peranan SMP Islam Al-Lathifiyah bidang pendidikan di Dusun Tinggar Desa Sikur?





PERANAN SOSIAL SMP ISLAM AL-LATHIFIYAH DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!