Sunday, December 9, 2012

kumpulan skripsi geografi UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN INQUIRY DISCOVERY


UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN  INQUIRY DISCOVERY PADA SISWA SMP NEGERI 2 DONGGO KELAS VIII-A
TAHUN AJARAN 2011



BAB I
PENDAHULUAN
     A. Latar belakang
Pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan pembelajaran diartikan sebagai yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran masih sering di temui kecendrungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebkan kecendrungan   siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Selama ini proses pembelajaran yang ditemui masih secara konvensional seperti Drill yaitu metode latihan yang hanya memberikan tugas sebagai bahan pembelajaran tanpa melakukan suatu pendekatan atau pengawasan atau bahkan ceramah. Pristiwa ini menekankan pada pencapaian tekstual semata dari pada mengembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang dicapai tidak seperti yang diharapkan.
Pelajaran diharapkan mampu memberikan kompetensi kepada siswa dalam hal; (1) berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif, dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran geografi, (2) berpartisispasi secara aktif dan tanggung jawab (3) berkembang secara positif (4) berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi Informasi dan Komonikasi. Di samping itu pembelajaran geografi befungsi untuk  membentuk  karakter anak didik yang cerdas dan trampil. (Sulaimi, 2004 : 18).
Berdasarkan penjelasan di atas, maka proses pembelajara geografi harus dapat membantu siswa dalam mengembangkan potensi yang di milikinya, baik fungsi kognitif, afektif, maupun potensi psikomotorik agar menjadi anak didik yang mampu memahami, maupun menyikapi isu-isu penting tentang geografi. Untuk mengembangkan proses pembelajaran yang mengarah pada pencapaian kompetensi tersebut, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan mampu mengembangkan kreatifitasnya sehingga dalam proses pembelajaran terjadi interaksi positif antara siswa dengan guru, siswa denga siswa, dan siswa dengan lingkungannya, namun perlu disadari bahwa untuk mengembangkan proses pembelajaran sebagaimana yang di terapkan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 2 Donggo ditemukan masalah yang dihadapi siswa kelas VIII-A dalam proses pembelajarn Geografi  antaran lain: (1) rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, (2) adanya anggapan yang keliru dari siswa terhadap mata pelajaran geografi ,(3)  siswa tidak mau bertanya mengemukakan pendapat pada saat proses pembelajaran berlangsung, (4) rendahnya kreativitas siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, (5) rendahnya daya nalar siswa hal ini terlihat ketika menjelaskan tentang seuatu baik secara lisan maupun tulisan dan (6) rendahnya minat baca siswa. 
Hal-hal tersebut mengindikasikan bahwa proses pembelajaran yang telah berlangsung selama ini kurang memberi makna pada diri siswa. Rendahnya aktivitas belajar siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: (a) kreativitas bertanya rendah, (b) metode pembelajaran yang disampaikan oleh guru kurang sesuai dengan konsep yang disampaikan,dan  (c) rendahnya  rendahnya minat baca siswa. Mengapa hal itu bisa terjadi? permasalahan ini tidak berasal dari siswa, tetapi juga kurangnya kemampuan dan kreativitas guru dalam memgembangkan pembelajaran. disamping itu juga guru lebih sering memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah. hal ini juga dikemukakan oleh Mukhtar Buchari (kompas, 28 februari 2003) bahwa banyak guru di sekolah selama ini hanya memberikan kemampuan menghafal dan bukan kemampuan berpikir secara kreatif, sehingga hasil pendidikan tidak mempunyai makna. Menurut Cholisin (Depdiknas, 2003 : 03): menyatakan bahwa hasil pembelajaran akan bermakna bagi siswa jika proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk menemukan sendiri untuk memecahkan dan merefleksikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Agar keaktifan dan hasi pembelajaran memberi makna bagi siswa, dan guru memposisikan siswa sebagai insan yang harus diperdayakan. Untuk itu penulis mencoba akan mengadakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan metode pembelajaran inquiry Discovery yang dapat  memberikan pengalaman langsung melalui praktek empirik guna meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
B.     Rumusan Masalah
         Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana upaya meningkatkan keaktifan belajar geografi  menggunakan pembelajaran Inquiry Discovery pada siswa kelas VIII –A SMP Negeri 2 Donggo?
2.      Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar geografi menggunakan pembelajaran Inquiry Discovery pada siswa kelas VIII-A SMP Negeri 2 Donggo?
C.    Tujuan Dan Manfaat Penilitian
1.       Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Meningkatkan keaktifan belajar geografi menggunakan metode pembelajaran Inquiri Discovery pada siswa kelas VIII- A SMP Negeri 2 Donggo.
b.      Meningkatkan hasil belajar georafi menggunakan metode pembelajaran Inquiry Discovery  pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Donggo.


2.       Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
      Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak yang terkait yaitu:
a.       Bagi guru
    Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, guru akan mendapatkan masukan tentang upaya untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar georafi siswa yang sudah ada ke arah yang lebih baik. Disamping itu, berdasarkan pengalaman pratek penelitian kelas ini guru akan terdorong untuk melakukan tindakan kelas yang akan bermanfaat bagi perbaikan kualitas pembelajaran di sekolah.
b.      Bagi siswa
Siswa akan mendapatkan pelajaran yang lebih bermakna dan lebih bermotivasi untuk belajar secara aktif. Sehingga mereka akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan yang lebih bermakna dan merangsang kemampuan berpikir siswa dalam mengidentifikasikan dan memecahkan masalah yang ada sehingga membantu dalam menguasai pelajaran dilingkungan  sekitarnya serta dapa diterapkan dalam kehidupannya dilingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
c.       Bagi penulis
  Penelitian ini akan bermanfaat bagi peneliti karena dengan menjadi mitra sekolah menengah pertama (SMP), penulis dapat lebih memahami permasalahan-permasalahan pembelajaran di sekolah.

d.      Bagi sekolah
Hasil peneltian ini diharapakan dapat memberikan solusi atau alternatif untuk memecahkan masalah rendahnya keaktifan dan hasil belajar geografi siswa kelas VIII- A SMP Negeri 2 Donggo sesuai dengan tuntutan kurikulum.
D.    Hipotesis Tindakan
            Menurut Suharsimi (2006:52), hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Adapun kegunaan dari hipotesis yaitu untuk menguji kebenaran dari jawaban permasalahan yang diteliti, apakah terbukti atau tidak.
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Metode pembelajaran Inquiry Discovery dapat mengaktifkan siswa  Kelas VIII-A dalam pembelajaran Geografi di SMP Negeri 2 Donggo
2.    Metode Inquiry Discovery dapat meningkatkan siswa Kelas VIII-A dalam pembelajaran Geografi di SMP Negeri 2 Donggo.
 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Pengertian keaktifan
Menurut Winkel (1991:38) menjelaskan bahwa “bahwa belajar adalah suatu proses dari seorang individu yang berupaya untuk mencapai dan pemperoleh suatu bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap” hampir senada dengan Winkel, Abdurrahman (1999:03) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu keaktivitas psikis mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan itu bersifat relatif konstan, menetap, dan berbekas. Lebih lanjut (Sudirman, 2000:140) bependapat tercapainya tujuan belajar atau hasil pengajaran itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar.
   Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merukan proses yang ditandai dengan adanya perubahan individu, perubahan tersebut menyangkut aspek kepribadian baik fisik maupun psikis, seprti: nilai sikap, keterampilan, kecakapan atau kebiasaan. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan telah berlangsung proses belajar. Dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa dapat mencari dan menemukan sendiri hal-hal yang dibutuhkannya.


B.     Macam-Macam keaktifan belajar
Paul D. Diedrich (Hamalik, 2003:13) membagi belajar kedalam delapan kelompok, yaitu:
1.    Kegiatan visual: membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, mengamati demostarasi, dan pameran, menagamati orang kerja dan bermain.
2.    Kegiatan moral mengemukakan suatu fakta atau prinsip, memberikan saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi, dan interprestasi.
3.    Kegiatan mendengarkan: mendengarkan penayajian bahan, mendengarkan percakapan, mendengarkan permainan, dan mendengarkan radio.
4.    Kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memberikan karangan, bahan-bahan copi, membuat outline atau rangkuman, mengerjakan teks, dan mengisi angket.
5.    Kegiatan menggambar: membuat grafik, chart, diagram, dan pola.
6.    Kegiatan motorik: melakukan kegiatan percobaan, memiliki alat-alat pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, dan menarik.
7.    Kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-fakor, melihat hubungan dan membuat keputusan.
8.    Kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, dan lain-lain.

Raka Joni (Djamarah, 2000:45) membagi aktifitas belajar menjadi tiga tingkatan yaitu aktivitas rendah, sedang, dan tinggi. Yang termasuk dalam aktivitas rendah adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, dan menyimpulkan. Sedangkan yang termasuk ke dalam aktivitas belajar sedang adalah meramalkan, menilai, mensintesis, menganalisis, dan menerapkan. Dan yang termasuk dalam aktivitas belajar tinggi adalah merumuskan masalah, mengkaji nilai, mengajukan hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data serta memecahkan masalah.
            Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas  belajar terdiri dari aktivitas fisik dan aktivitas mental peserta didik (siswa). Aktivitas fisik tanpa didikung oleh aktivitas mental tidak akan menjadi aktivitas belajar karena tidak akan menghasilkan perubahan tingkah laku peserta didik (siswa) itu sendiri. Aktivitas belajar siswa (peserta didik) bertingkat artinya ada aktivitas belajarnya tinggi, sedang, dan rendah. Aktivitas belajar bertingkat juga dapat diartikan bahwa aktivitas belajar sedang seseorang tidak selalu tetap namun dapat berubah-ubah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan  pembelajaran guru hendaknya lebih melibatkan siswa secara aktif, baik secara jasmani maupun mental. Adapun aktivitas yang dilakukan siswa hendaknya melibatkan aktivitas visual, aktivitas lisan, aktivitas mendengar, aktivitas menulis, dan aktivitas gerak.
Dalam penelitian ini, aktivitas siswa akan dilihat dari indikator berikut:
·      Keaktifan siswa dalam bertanya; keaktifan siswa dalam bertanya ini akan dilihat dari kaitan antara pertanyaan yang diajukan siswa dalam materi pelajaran.
·      Keaktivan siswa dalam memberikan tanggapan; hal ini akan dilihat dari keaktifan siswa dalam memberikan tanggapan atas pertanyaan temannya.
·      Menyimak penjelasan atau petunjuk guru; hal ini akan dilihat dari siswa bertanya apa bila merasa belum jelas dengan keterangan guru, siswa melihat kearah guru, siswa dapat menyimpulkan penjelasan guru
·      Membaca materi pelajaran; hal ini akan dilihat dari siswa membaca materi yang sedang dibahas atau yang diperintahkan oleh guru untuk dibaca.
·      Mengerjakan tugas yang diberikan sesuai dengan petunjuk guru; hal ini akan dilihat dari segi kerja siswa, apakah tugas yang ia kerjakan sesuai dengan petujuk guru atau tidak.
·      Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas; hal ini aka dilihat dari kemampuan siswa dalam menemukan sumber-sumber lain selain dari yang sudah diberikan guru. Dan kemampuan siswa menampilkan sesuatu yang berbeda dari teman-temanya yang lain.
·      Mengumpulkan tugas yang diberikan tepat pada waktunya; hal ini akan dilihat apakah siswa megumpulkan tugas yang diberikan tepat pada waktunya yang di tentukan guru.

C.    Pengertian hasil belajar
Setiap kegiatan atau usaha yang dilakukan perlu diadakan penelitian untuk mengetaui sejauhmana keberhasilan yang dicapai sehingga dapat diketahui apakah tujuan tersebut sudah tercapai atau belum. Tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan tersebut dengan istilah hasil atau prestasi. Menurut Congeleci (1985:50) hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan tujuan dan sasaran belajar, kemampuan berprestasi merupakan suatu proses belajar mengajar. Pada tahap ini siswa dapat membuktikan keberhasialan belajarnya. Kemampuan berprestasi tersebut dipengaruhi oleh proses penerimaa,pengaktifa, pengelolahan, penyimpana, seta pemanggilan untuk pembuktian kesan dan pengalaman. Bila proses-proses tidak baik maka siswa dapat berprestasi kurang atau dapat juga gagal berprestasi (Mudjiono, 1999 :  23).
Nasution (1975 : 185) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan maksimal yang telah dicapai dalam suatu usaha yang menghasilakan pengetahuan atau nilai kecakapan sedangkan Nurkencana (1980:210) berpendapat bahwa hasil belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh individu setelah yang bersangkutan menaglami suatu proses pembelajaran, sedangkan Indra (1975:212) juga mengatakan hasil belajar adalah suatu usaha untuk memperoleh kebiasaan, pengetahuan, sikap sehingga bisa mengatasi kesulitan dan penyusuaian dengan kondisi baru.
Perbuatan merupakan proses belajar yang telah terjadi dan hasil dapat dikelompokan dalam dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu; (1) pengetahuan tentang fakta, (2) pengetahuan tentang prosedur, (3) pengetahuan tentang konsep, dan (4) pengetahuan tentang prinsip-prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori yaitu : (1) keterampilan berpikir atau keterampilan kognitif, (2) ketrampilan untuk bertindak atau ketrampilan motorik, (3) ketrampilan bereaksi atau bersikap, dan (4) keterampilan berinteraksi. Hamalik (2003:5) menyatakan bahwa hasil belajaran adalah “tingkah laku yang timbul, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbul pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional, dan perubahan jasmani”.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh dan dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dimana hasil tersebut merupakan perubahan-perubahan pada siswa (subyek didik). Perubahan-perubahan tersebut meliputi aspek kongnitif , aspek afektif, dan aspek psikomotorik.  
D.    Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utma yaitu dalam diri siswa (faktor intern) dan faktor yang datang dari luar siswa (faktor ekstern) atau faktor lingkungan (Sudjana, 1989:37) dua faktor yang mempengaruhi hasil balajar tersebut harus sedemikian rupa diusahakan untuk mempertinggi hasil belajar siswa. Sudjana (1989:38) menyatakan bahwa faktor intern tersebut terdiri atas:
a.    Kemampuan yang dimiliki oleh siswa (intelegensi), faktor kemampuan siswa besar pengaruhnya dterhadap hasil belajar yang di capai eloh siswa.
b.    Motivasi
c.    Minat dan perhatian
d.   Sikap dan kebiasaan belajar
e.    Ketekunan
f.     Faktor fisik dan psikis
Sedangkan factor yang berasal dari luar (faktor ekstern) terdiri dari
a.    Proses pembelajaran
b.    Suasana pembelajaran
c.    Lingkungan pembelajaran yang meliputi lingkungan fisik seperti susuna dan sekolah, kondisi sosial ekonomi keluarga.
Menurut Winkel (1991:08) faktor intern siswa meliputi, motivasi belajar, konsebtrasi, perasaan sikap dan kondisi fisik, sedangka faktor ekternal daat meliputi sekolah tempat belajar, pribadi guru, struktur hubungan sosial dan iklim sekolah atau tempat berlangsung proses belajar mengajar.

E.     Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran
Menurut Purwadarminta (Sudjana, 2005:72) metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, metode adalah “ cara kerja yang sistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan “(Moeliono, dkk, 1990:217).
Berdasarkan ketiga pegertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengandung unsur prosedur yang tersusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan.dengan demikian bahwa unsur-unsur metode mencakup prosedur, sestimatik, logis terencana, dan kegiatan untuk mencapai tujuan. prinsip-prinsip metode pembelajaran yang digunakan adalah:
1.      Dengan menyajikan (telling)
2.      Dengan mengerjakan (doing)
3.      Dengan menunjukan (showing).
Pedoman dari metode yang dapat menjamin prinsip-prinsip tersebut, antara lain dapat dilihat kombinasi dari beberapa alternative sebagaai berikut: (a) metode kuliah, (b) metode role playing, (c) metode inquiry discovery, (d) metode case study, (e) widia wisata, dan (f) seminar.
Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pendidikan khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran pelajaran kepada siswa (Syah, 1995:17). metode pembelajaran perlu diterapkan dalam proses pembelajaran agar aspek kognitif siswa dapat berkembang dan berfungsi seoptimal mungkin. penggunaan metode yang tepat akan dapat menemukan efektivitas dan efesiensi pembelajaran. pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dengan metode-metode yang berpusat pada siswa, serta lebih menekankan pada interaksi penggunaan metode yang berveriasi akan sangat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
F.     Metode Pembelajaran Inquiry Discovery
Salah satu metode pembelajaran yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode pembelajaran Inquiry Discovery, hal itu di sebabkan karena (a) merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara siswa aktif, (b) dengan menemukan sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak mudah dilupakan siswa, (c) pegertian ditemukan sendiri merupakan pegertian yang betul-betul dikuasai dan mudah dimudahkan atau distranfer dalam situasi lain, (d) dengan menggunakan metode penemuan siswa belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan di kembangkan sendiri, (e) dengan metode penemuan ini juga, siswa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
Inquiry Discovery berasal dari bahasa inggris “Inquiry dan Discovery”, yang secara harfiah berarti penyelidikan dan penemuan. Carin dan Sund (Mulyasa, 2005:196) mengemukakan inquiry adalah the process of investigating a problem.  Adapun piaget mengemukakan bahwa metode Inquiry merupakan metode yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan melihat jawaban sendiri, serta hubungan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan siswa lain (Mulyasa, 2005:198).
Inquiry Discovery merupakan metode pembelajaran yang berusaha meletakan dasar  dan mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul  ditempatkan sebagai subjek. Peranan guru adalah sebagai pembimbing dan fasilitator belajar. tugas utama guru adalah memiliki masalah yang perlu dilontarkan kepada siswa untuk dipecahkan oleh siswa sendiri.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat  seperangkat fakta-fakta, tapi hasil menemukan sendiri, guru harus selalu merancang kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkan. belajar dengan penemuan mempunyai banyak keuntungan. pembelajaran Inquiry memacu keinginan siswa untuk mengetahui, motivasi untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabanya. siswa jugaa belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi.
Pengajaran inquiry merupakan metode pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. metode pembelajaran inquiry dapat dilaksanakan dan berhasil di dalam kelas dengan indikator atau syarat-syarat sebagai berikut: (a) guru harus terampil memilih persoalan yang relavan untuk diajuhkan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa, (b) guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan belajar yang menyenangkan, (c) adanya fasilitator dan sumber belajar yang cukup, (d) adanya kebebaasn siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi, (e) partisipasi siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan (f) guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
Sund  dan Trowbrigde (Mulyasan, 2005:200), mengemukakan tiga macam motede Inquiry sebagai berikut:
1.    Inquiry terpimpin (Guide inquiry); siswa memperoleh pedoman sesuai dengan yang ditetapkan. pedoman-pedoman tersebut berupa pertanyaan yang membimbing.
2.    Inquiry bebas (free Inquiry); pada inquiry bebas siswa melakukan penelitian sendiri baagaikan seorng ilmuwan.
3.    Inquiry bebas yang dimoditifikasi (modifien free Inquiry); pada inquiry ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian siswa meminta untuk memecahkan masalah tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
Agar interaksi belajar mengajar antara siswa dengan guru dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan dan perencanaan yang saksama. Adapun tahap-tahap atau langkah-langkah pembelajaran inquiry sebagai berikut:
1.    Merumuskan masalah untuk dipecahkan siswa.
2.    Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istila hipotesi.
3.    Siswa mencari dan mengumpulkan informasi, data, fakta yang diperluhkan untuk menjawab permasalahan/hipotesis melalui observasi.
4.    Menganalisa dan mengajukan dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, dan karya lainnya/menari kesimpulan jawaban atau generalisasi.
5.    Mengkomonikasikan atau mengajukan jawaban hasil karya pada pembaca, teman sekalas, atau audiens yang lain/mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru (Nurhadi, 2004:121).
Proses pembelajaran Inquiry menuntut guru bertindak sebagai fasilitator dan menyuluh kelompok, siswa didorong untuk mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan. Metode Inquiery dapat berhasil bila guru memperhatikan kriteria sebagai berikut:
a.     Mendefinisikan secara jelas topik Inquiry yang dianggap bermanfaat bagi siswa.
b.    Membentuk kelompok-kelompok dengan memperhatikan keseimbangan akademik dan aspek sosial.
c.     Menjelaskan tugas dan menyediakan balikan kepada kelompok dengan cara yang responsive dan tepat waktu.
d.    Intervensi untuk meyakinkan terjadinya interaksi pribadi secara sehat dan terdapat dalam pelaksanaan tugas.
e.     Melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan kelompok dan hasil yang dicapai.
Pelaksnaan metode pembelajaran inqury kelompok di dalam suatu kelas dilaksanakan oleh kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang siswa,dan tiap anggota melakukan peran tertentu, yakni sebagai berikut:
1.      Pemimpin kelompok bertanggung jawab memulai diskusi, mengiapkan kelompok untuk mengerjakan tugas dan melengkapi tugas-tugas.
2.      Pencatat (rekorder), membuat dan memelihara catatan, karya tulis, dan materi tulisan kelompok yang dibuat pada waktu berdiskusi maupun membagikan kepada anggota kelompok serta membuat daftar tentang (check list) dan daftar hadir anggota.
3.      Pemantau diskusi (discussion monitor);  berupa memastikan bahwa diskusi berlangsung lancar dan semua pendapat dicantumkan dan dibahas dalam diskusi.
4.      Pendorong (prompter); memelihara mentl berdiskusi para anggotanya dengan teknik menggunakan daftar tentang partisipasi terhadap semua anggota kelompok
5.      Pembuat rangkuman (summariser); selama berlangsungnya diskusi pada waktu menarik kesimpulan pada setiap pertemuan inquiry, perangkum merangkum butir-butir pokok yang muncul dan mengikuti tugas-tugas spesifik baik yang lengkap maupun yang belum dilengkapi, mengundang pertanyaan-pertanyaan dari kelompok untuk mengklarifikasikan kedudukan kemajuan-kemajuan dan tujuan kelompok
6.      Pengacara (advocate); bertugas melakukan dan memberikan pendapat bandingan terhadap argument yang akan disampaikan dalam diskusi terhadap pendapat yang diajukan oleh kelompok lainnya.
Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. pembelajaran dengan metode penemuan (discovery) lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar. cara mengajar dengan metode penemuan (discovery) menempuh langkah-langkah berikut:
a.     Adanya masalah yang dipecahkan
b.    Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa
c.     Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh siswa melaui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d.    Harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan.
e.     Suasana kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya alur bebas pikiran siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
f.     Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data.
g.    Guru harus memberikan jawaban demgan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi yang diperlukan siswa.
Ada tiga komponen yang dianggap esensial bagi keberhasilan pelaksanaan metode pembelajaran Inquiry, yaitu:
1.    Fungsi-fungsi spesifik yang harus dilakukan di dalam kelompok.
2.    Peran-peran khusus bagi setiap anggota kelompok harus ditujukan
3.    Suasana emosional yang efektif dan bermakna harus dibangun dan dipelihara.
Setiap langkah dalam proses Inquiry hendaknya berlangsung secara efektif karena itu siswa harus mengetahui cara untuk mencapai gerakan ke arah pembuatan keputusan kelompok. Ada tujuh fungsi yang harus difokuskan di dalam setiap kelompok yang berhasil. fungsi-fungsi tersebut dapat ditugaskan pada seluruh anggota kelompok, namun sebaliknya ditugaskan kepada seluruh anggota kelompok mendapatkan peran khusus dan melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi-fungsi khusus tersebut, sehingga setiap anggota kelompok merasa memiliki dan bertanggung jawab melaksanakannya.
Fungsi-fungsi dalam kelompok Inquiry sebagai berikut:
1.    Membuat garis besar fokus inquiry, yang meliputi materi yang diusulkan dan proporsi berhubungan dengan topik.
2.    Menilai diskusi.
3.    Mendorong partisipasi aktif semua anggota kelompok secara jelas dan seimbang.
4.    Menjamin kelangsungan diskusi pada arah yang benar.
5.    Membuat rangkuman.
6.    Menjaga agar tidak terjerumus pada satu sudut saja
7.    Menguji informasi yang disampaikan dan digunakan pemikiran rasional.
Peran guru dalam pelaksanaan metode pembelajaran Inquiry adalah sebagai konselor, pembina dan pengarah. guru harus senantiasa siap memberikan bantuan pada kelompok dalam melaksanakan interaksi, mengungkapkan argumentasi, mengumpulkan bukti dan mengarahkan diskusi serta mendorong siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya atau memecahkan sendiri di dalam kelompoknya, bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang mereka hadapi. Siswa akan mendapatkan keuntungan jika mereka dapat “melihat” dan “melakukan” sesuatu tidak hanya mendengarkan ceramah atau pelajaran guru. guru dapat membantu uru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lainnya untuk  kemajuan kelompok dan suasana emosional pada pertenuan-pertemuan tersebut, bila perlu memberikan umpan balik sesuai dengan situasi  pertemuan itu.
Jadi jelas bahwa metode pembelajaran Inquiry Discovery yang ditetapkan di sekolah-sekolah akan menghasilkann kerja sama yang baik, sikap saling menghargai, interaksi sosial yang baik dan keteraturan melakukan kerja kelompok sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi dan hasil belajar.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), yang pada hakekatnya merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru pada saat mengajar di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang telah dilakukan (Madya, 2006:03).
B.      Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana melakukan suatu penelitian. Lokasi Penelitiann dalam hal ini adalah bertempat di sekolah SMP Negeri 2 Donggo. Adapun batas-batas umum dari SMP Negeri 2 Donggo adalah sebagai berikut:
1.      Sebelah utara berbatasan dengan permukiman penduduk
2.      Sebelah selatan berbatasan dengan persawahan
3.      Sebelah barat berbatasan dengan persawahan
4.      Sebelah timur berbatasan dengan jln. Raya Lintas Sila
C.     Metode Penentuan Subyek Penelitian
1.   Populasi
               Populasi merupakan seluruh subyek penelitian. Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009:118) populasi adalah jumlah keseluruhan subyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan menurut Sudjana (2005:74) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
              Adapun yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Donggo tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 120 orang.
2.   Sampel
               Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:87). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang lebih besar. Sedangkan menurut Sugiyono (2003:56) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.
Sementara itu penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi kurang dari 100, dianjurkan agar semuanya dijadikan sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya besar lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung dari kemampuan peneliti (Arikunto, 2006:112). Karena jumlah populasi lebih dari 100 orang, maka pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yaitu sebesar 30% dengan jumlah siswa 40 0rang.
D.    Metode Pengumpulan Data
           Dalam setiap penelitian apapun selalu dihadapkan dengan metode pengumpulan data yang digunakan. Metode pengumpulan data ini merupakan salah satu factor  yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Penelitian disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih tehnik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan tehnik dan alat pengumpul data memungkinkan diperolehnya data yang obyektif  (S. Margono, 2002:158).
1.      Tehnik Observasi
              Dalam penelitian ini menggunakan metode atau tehnik yang dinamakan tehnik pengukuran. Tehnik pengukuran adalah alat pengumpul data yang bermaksud mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif (S. Margono, 2002:170). Dalam tehnik pengukuran ini, alat yang digunakan adalah berupa pemberian tes.
2.      Tes
              Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat menjadikan skor angka (S. Margono, 2002:170). Adapun jenis tes yang umumnya dikenal dan digunakan sebagai alat pengukuran adalah tes lisan dan tes tertulis. Sejalan dengan itu pada penelitian ini lebih mengkhususkan pada penggunaan tes tertulis.
             Tes tertulis yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula (S. Margono, 2002:170). Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes essay atau tes uraian (essay test) dan tes obyektif.
E.     Jenis Dan Sumber Data
1.      Jenis Data
             Mengetahui jenis data adalah hal yang mutlak dalam penelitian. Hal ini cukup beralasan karena dengan mengetahui data tersebut peneliti dapat mencari alternatif metode apa yang paling cocok sehubungan dengan jenis data yang tersedia. Menurut Sugiyono (2003:14) “Data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring)”.
              Berdasarkan penjelasan di atas, maka jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif.
2.      Sumber Data
              Menurut Surahmad (1998:134) “sumber data menurut sifatnya digolongkan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer adalah sumber yang memberikan data langsung dari tangan pertama. Sedangkan sumber data skunder adalah sumber yang dikutip dari sumber lain”.
                Berdasarkan keterangan tersebut, maka sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang diperoleh langsung dari responden melalui tes yang dijawab oleh siswa sebagai responden.
F.     Identifikasi Dan Definisi Operasional Variabel
1.      Identifikasi Variabel
             Agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran tentang variable-variabel penelitian, maka perlu ditetapkan variable-variabel penelitian terlebih dahulu.  Variabel merupakan objek penelitian (Arikunto, 2006:108). Variabel yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu satu variabel bebas adalah kondisi atau karaktekristik yang dimanipulasi untuk menerangkan dalam penelitian ini yaitu metode inquiry disvovery sedangkan yang menjadi variabel terikatnya yaitu keaktifan dan hasil belajar siswa.
2.      Definisi Operasional Variabel
           Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
a)      Keaktifan
      Menurut Winkel (1991:38) menjelaskan bahwa “bahwa belajar adalah suatu proses dari seorang individu yang berupaya untuk mencapai dan pemperoleh suatu bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap”.hampir senada dengan Winkel,           


b)     Hasil Belajar
Setiap kegiatan atau usaha yang dilakukan perlu diadakan penelitian untuk mengetaui sejauhmana keberhasilan yang dicapai sehingga dapat diketahui apakah tujuan tersebut sudah tercapai atau belum. Tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan tersebut dengan istilah hasil atau prestasi. Menurut Congeleci (1985:50) hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan tujuan dan sasaran belajar, kemampuan berprestasi merupakan suatu proses belajar mengajar. Pada tahap ini siswa dapat membuktikan keberhasialan belajarnya.
c)   Metode Pembelajaran
Menurut Purwadarminta (Sudjana, 2005:72) metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, metode adalah “ cara kerja yang sistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan “(Moeliono, dkk, 1990:217).
d)      Inquiry Discovery
Inquiry Discovery berasal dari bahasa inggris “Inquiry dan Discovery”, yang secara harfiah berarti penyelidikan dan penemuan. Carin dan Sund (Mulyasa, 2005:196) mengemukakan inquiry adalah the process of investigating a problem.  Adapun piaget mengemukakan bahwa metode Inquiry merupakan metode yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan melihat jawaban sendiri, serta hubungan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan siswa lain (Mulyasa, 2005:198).
G.    Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observas dan refleksi. Secara rinci rancangan penelitian setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:
   Siklus I
1.      Tahap Perencanaan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a.    Membuat skenario pembelajaran
b.    Membuat LKS metode Inquiry Discovery
c.    Menyiapkan lembar observasi
d.   Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 orang
e.    Menyusun tes hasil belajar
f.     Merencanakaan analisis hasil tes
2.      Tahap Pelaksanaan Tindakan
kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah pelaksanaan tindakan dengan mengunakan metode inquiry discovery pada pembelajaran geografi di kelas VIII-A SMP Negeri 2 Donggo untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1)        Tahap pendahuluan dengan rincian sebagai berikut:
(a)      Guru menenangkan situasi kelas dilanjutkan dengan mengadakan absen kelas kehadiran siswa;
(b)     Dengan metode Tanya jawab guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang dipelajari;
2)        Tahap pengembangan dengan merincian sebagai berikut:
(a)      Guru membagi LKS pada masing-masing kelompok;
(b)     Siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan LKS untuk menemukan konsep-konsep yang terkandung dalam materi yang akan dipelajari;
(c)      Melakukan Tanya jawab antara siswa yang dipandu oleh guru sekaligus langsung mengklarifikasikan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa sehingga terjadi persamaan persepsi tentang konsep yang terkandung dalam materi yang dipelajari.
3)        Tahap penerapan dengan rincian sebagai berikut:
(a)      Setelah ditemukan konsep yang terkandung dalam materi yang dipelajari, guru selanjutnya memberi kesempatan kepads siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS dengan waktu yang telah ditentukan, siswa diharapkan tidak bekerja sama secara individual tidak menutup kemungkinan mereka saling menukar pikiran dengan anggota yang lain dalam kelompok;
(b)     Setelah selesai mengerjakan LKS maka setiap siswa saling memeriksa jawaban mereka;
(c)      Setelah semua kelompok diperiksa selesai mengerjakan LKS pada lembar jawaban, guru bersama siswa membahas soal-soal latihan yang telah dikerjakan dengan metode Tanya jawab;
(d)     Memberikan tes evaluasi pada akhir pelajaran.  
3.      Tahap observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan Selama berlangsungya pelaksanaan tindakan. observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan mengamati perilaku siswa pada saat berdiskusi dalam kelompoknya untuk menyelesaikan LKS yang diberikan guru.sedangkan aktivitas guru dilakukan dengan mengamati perilaku guru pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.sema aktivitas yang tampak dicatat dalam lembar observasi sesuai dengan descriptor yang muncul.
4.      Tahap Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama guru mengkaji kekurangan dari tindakan yang diberikan. Hal ini dilakukan dengan melihat hasil evaluasi yang dicatat siswa pada siklus I. jika refleksi ini menunjukan bahwa tindakan siklus I memperoleh hasil yang belum optimal, maka dilakukan siklus II dengan memberi tindakan. hasil refleksi siklus I ini digunakan sebagai dasar menyusun perencanaan dan penerapan tindakan pada siklus II.
Siklus II
Siklus II dilakukan apabila pembelajaran pada siklus I belum berhasil mencapai ketuntasan belajar dan proses belajar-mengajar belum sesuai dengan apa yang diharapkan, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada siklus I, hanya saja siklus II dilakukan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I.
H.    Teknik Analisa Data
Keseluruhan data yang diperoleh dalam penelitian, selanjutnya di analisis secara kuantitatif, sebagaimana dikemukakan Muhajir (1990) dilakukan berdasarkan analisis perbandingan yang terhimpun atau yang disimpulkan secara induktif datar konseptual dengan memperhatikan tahapan reduksi data, pengorganisasian data interpretasi. Data hasil keseluruhan siklus disusun dan ditabulasikan sesuai dengan tingkat ketercapaian indicator kinerja yang telah ditetapkan sebagai acuan untuk memberikan makna terhadap apa yang telah dicapai dalam pelaksanaan tindakan, dengan kata lain proses analisa data diperoleh dari lapangan pada prinsipnya dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.


Untuk mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif deskriptif, yaitu dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
KK = Ketuntasan klasikal
X = Jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai minimal 65
Z = Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes. (Sugiyono, 2003:97).



DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono, 1999. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Abu Ahmadi, 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV. Pustaka Setia
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Buchari, Muhtar, 2003. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Kompas
Cholisin, 2003.  Paradigm Baru dan Pengembangan Dalam KBK (Makalah). Jakarta : Dirjen Pendamen
Depdiknas, 2003. Pembelaran Tuntas. Jakarta : Ditjen Pendasmen, Direktorat Pendidikan Lanjut Pertama
Dimyati dan Mudjiono, 1999.  Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, S, B. dan Zainal Aswan, 1995 Strateg Belajar Mengajar.  Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik, Oemar, 2003. Proses Belajar Mengajar.  Jakarta : PT. Bumi Aksara

Iskandar, 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan Dan Social (Kuantitatif Dan Kualitatif). Jakarta : Gaung Persada Pres.

Sugiyono, 2003. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
S. Margono, 2002. Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta
Mulyasa , E, 2004.  Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Purwadarminta, 2005. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Nasution, F, 1975.  Pengantar Psikologi Pendidikan.  Malang : Lembaga Penerbit IKIP  Malang
Winkel, 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia





UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN INQUIRY DISCOVERY

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!