UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI MENGGUNAKAN
METODE PEMBELAJARAN INQUIRY DISCOVERY
PADA SISWA SMP NEGERI 2 DONGGO KELAS VIII-A
TAHUN AJARAN 2011
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pelaksanaan
pembelajaran di dalam kelas merupakan salah satu tugas utama guru, dan
pembelajaran diartikan sebagai yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam
proses pembelajaran masih sering di temui kecendrungan meminimalkan
keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebkan kecendrungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka
lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari dan menemukan sendiri
pengetahuan, keterampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Selama
ini proses pembelajaran yang ditemui masih secara konvensional seperti Drill yaitu metode latihan yang hanya
memberikan tugas sebagai bahan pembelajaran tanpa melakukan suatu pendekatan
atau pengawasan atau bahkan ceramah. Pristiwa ini menekankan pada pencapaian
tekstual semata dari pada mengembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa
seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang dicapai tidak seperti yang
diharapkan.
Pelajaran
diharapkan mampu memberikan kompetensi kepada siswa dalam hal; (1) berpikir secara
kritis, rasional, dan kreatif, dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan
pembelajaran geografi, (2) berpartisispasi secara aktif dan tanggung jawab (3)
berkembang secara positif (4) berinteraksi secara langsung maupun tidak
langsung dengan memanfaatkan teknologi Informasi dan Komonikasi. Di samping itu
pembelajaran geografi befungsi untuk membentuk
karakter anak didik yang cerdas dan trampil. (Sulaimi, 2004 : 18).
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka proses pembelajara geografi harus dapat membantu siswa
dalam mengembangkan potensi yang di milikinya, baik fungsi kognitif, afektif,
maupun potensi psikomotorik agar menjadi anak didik yang mampu memahami, maupun
menyikapi isu-isu penting tentang geografi. Untuk mengembangkan proses
pembelajaran yang mengarah pada pencapaian kompetensi tersebut, maka guru
dituntut untuk memiliki kemampuan dan mampu mengembangkan kreatifitasnya
sehingga dalam proses pembelajaran terjadi interaksi positif antara siswa
dengan guru, siswa denga siswa, dan siswa dengan lingkungannya, namun perlu
disadari bahwa untuk mengembangkan proses pembelajaran sebagaimana yang di
terapkan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 2 Donggo ditemukan
masalah yang dihadapi siswa kelas VIII-A dalam proses pembelajarn Geografi antaran lain: (1) rendahnya partisipasi siswa dalam
proses pembelajaran, (2) adanya anggapan yang keliru dari siswa terhadap mata
pelajaran geografi ,(3) siswa tidak mau
bertanya mengemukakan pendapat pada saat proses pembelajaran berlangsung, (4) rendahnya
kreativitas siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, (5) rendahnya
daya nalar siswa hal ini terlihat ketika menjelaskan tentang seuatu baik secara
lisan maupun tulisan dan (6) rendahnya minat baca siswa.
Hal-hal
tersebut mengindikasikan bahwa proses pembelajaran yang telah
berlangsung selama ini kurang memberi makna pada diri siswa. Rendahnya
aktivitas belajar siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya: (a)
kreativitas bertanya rendah, (b) metode pembelajaran yang disampaikan oleh guru
kurang sesuai dengan konsep yang disampaikan,dan (c) rendahnya
rendahnya minat baca siswa. Mengapa hal itu bisa terjadi? permasalahan
ini tidak berasal dari siswa, tetapi juga kurangnya kemampuan dan kreativitas
guru dalam memgembangkan pembelajaran. disamping itu juga guru lebih sering
memposisikan siswa sebagai pendengar ceramah. hal ini juga dikemukakan oleh Mukhtar
Buchari (kompas, 28 februari 2003) bahwa banyak guru di sekolah selama ini
hanya memberikan kemampuan menghafal dan bukan kemampuan berpikir secara
kreatif, sehingga hasil pendidikan tidak mempunyai makna. Menurut Cholisin
(Depdiknas, 2003 : 03): menyatakan bahwa hasil pembelajaran akan bermakna bagi
siswa jika proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk
menemukan sendiri untuk memecahkan dan merefleksikan masalah dalam kehidupan
sehari-hari.
Agar keaktifan dan hasi pembelajaran memberi makna bagi
siswa, dan guru memposisikan siswa sebagai insan yang harus diperdayakan. Untuk
itu penulis mencoba akan mengadakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK)
dengan menggunakan metode pembelajaran inquiry Discovery yang dapat memberikan
pengalaman langsung melalui praktek empirik guna meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimana
upaya meningkatkan keaktifan belajar geografi
menggunakan pembelajaran Inquiry Discovery pada siswa kelas VIII –A SMP Negeri 2 Donggo?
2.
Bagaimana
upaya meningkatkan hasil belajar geografi menggunakan pembelajaran Inquiry Discovery pada siswa kelas
VIII-A SMP Negeri 2 Donggo?
C.
Tujuan Dan
Manfaat Penilitian
1. Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Meningkatkan
keaktifan belajar geografi menggunakan metode pembelajaran Inquiri Discovery pada siswa kelas VIII- A SMP Negeri 2 Donggo.
b.
Meningkatkan
hasil belajar georafi menggunakan metode pembelajaran Inquiry Discovery pada siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Donggo.
2.
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak yang terkait
yaitu:
a.
Bagi
guru
Dengan
dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, guru akan mendapatkan masukan tentang
upaya untuk meningkatkan keaktifan
dan hasil belajar georafi siswa yang sudah ada ke arah yang lebih baik. Disamping itu, berdasarkan
pengalaman pratek penelitian kelas ini guru akan terdorong untuk melakukan
tindakan kelas yang akan bermanfaat bagi perbaikan kualitas pembelajaran di
sekolah.
b.
Bagi
siswa
Siswa akan mendapatkan pelajaran yang lebih bermakna dan
lebih bermotivasi untuk belajar secara aktif. Sehingga mereka akan lebih banyak
mendapatkan pengetahuan yang lebih bermakna dan merangsang kemampuan berpikir
siswa dalam mengidentifikasikan dan memecahkan masalah yang ada sehingga
membantu dalam menguasai pelajaran dilingkungan
sekitarnya serta dapa diterapkan dalam kehidupannya dilingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
c.
Bagi
penulis
Penelitian
ini akan bermanfaat bagi peneliti karena dengan menjadi mitra sekolah menengah
pertama (SMP), penulis dapat lebih memahami permasalahan-permasalahan pembelajaran di
sekolah.
d.
Bagi
sekolah
Hasil peneltian ini diharapakan dapat memberikan solusi
atau alternatif untuk memecahkan masalah rendahnya keaktifan dan hasil belajar
geografi siswa kelas VIII- A SMP Negeri 2 Donggo sesuai dengan tuntutan kurikulum.
D. Hipotesis Tindakan
Menurut
Suharsimi (2006:52), hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang
bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data
yang terkumpul. Adapun kegunaan dari hipotesis yaitu untuk menguji kebenaran
dari jawaban permasalahan yang diteliti, apakah terbukti atau tidak.
Adapun
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode
pembelajaran Inquiry Discovery dapat
mengaktifkan siswa Kelas VIII-A dalam
pembelajaran Geografi di SMP Negeri 2 Donggo
2. Metode
Inquiry Discovery dapat meningkatkan
siswa Kelas VIII-A dalam pembelajaran Geografi di SMP Negeri 2 Donggo.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian keaktifan
Menurut Winkel (1991:38) menjelaskan bahwa “bahwa belajar adalah suatu proses
dari seorang individu yang berupaya untuk mencapai dan pemperoleh suatu bentuk perubahan
tingkah laku yang relatif menetap” hampir senada dengan Winkel, Abdurrahman (1999:03) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu keaktivitas psikis
mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan itu bersifat relatif konstan,
menetap, dan berbekas. Lebih lanjut (Sudirman, 2000:140) bependapat tercapainya tujuan belajar atau hasil
pengajaran itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar.
Berdasarkan beberapa
pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa belajar merukan proses yang ditandai dengan adanya perubahan individu, perubahan tersebut menyangkut
aspek kepribadian baik fisik maupun psikis, seprti: nilai sikap, keterampilan,
kecakapan atau kebiasaan. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam
diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan telah berlangsung proses belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa dapat mencari dan menemukan sendiri
hal-hal yang dibutuhkannya.
B. Macam-Macam
keaktifan belajar
Paul D. Diedrich (Hamalik, 2003:13) membagi belajar kedalam delapan kelompok, yaitu:
1. Kegiatan visual: membaca, melihat gambar, mengamati
eksperimen, mengamati demostarasi, dan pameran, menagamati orang kerja dan
bermain.
2. Kegiatan moral mengemukakan suatu fakta atau prinsip,
memberikan saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi, dan
interprestasi.
3. Kegiatan mendengarkan: mendengarkan penayajian bahan,
mendengarkan percakapan, mendengarkan permainan, dan mendengarkan
radio.
4. Kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan,
memberikan karangan, bahan-bahan copi, membuat outline atau rangkuman,
mengerjakan teks, dan mengisi angket.
5. Kegiatan menggambar: membuat grafik, chart, diagram, dan
pola.
6. Kegiatan motorik: melakukan kegiatan percobaan, memiliki
alat-alat pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, dan menarik.
7. Kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisis faktor-fakor, melihat hubungan dan membuat keputusan.
8. Kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, dan
lain-lain.
Raka Joni (Djamarah, 2000:45) membagi aktifitas belajar menjadi tiga tingkatan yaitu
aktivitas rendah, sedang, dan tinggi. Yang termasuk dalam aktivitas rendah
adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, dan menyimpulkan.
Sedangkan yang termasuk ke dalam aktivitas belajar sedang adalah meramalkan, menilai, mensintesis, menganalisis, dan menerapkan. Dan yang termasuk
dalam aktivitas belajar tinggi adalah merumuskan masalah, mengkaji nilai,
mengajukan hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data serta memecahkan masalah.
Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar terdiri dari aktivitas fisik dan
aktivitas mental peserta didik (siswa). Aktivitas fisik tanpa didikung oleh
aktivitas mental tidak akan menjadi aktivitas belajar karena tidak akan
menghasilkan perubahan tingkah laku peserta didik (siswa) itu sendiri.
Aktivitas belajar siswa (peserta didik) bertingkat artinya ada aktivitas
belajarnya tinggi, sedang, dan rendah. Aktivitas belajar bertingkat juga dapat
diartikan bahwa aktivitas belajar sedang seseorang tidak selalu tetap namun
dapat berubah-ubah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran guru hendaknya lebih melibatkan
siswa secara aktif, baik secara jasmani maupun mental. Adapun aktivitas yang dilakukan siswa
hendaknya melibatkan aktivitas visual, aktivitas lisan, aktivitas mendengar, aktivitas
menulis, dan aktivitas gerak.
Dalam penelitian ini, aktivitas siswa akan dilihat dari indikator berikut:
·
Keaktifan siswa
dalam bertanya; keaktifan siswa dalam bertanya ini akan dilihat dari kaitan
antara pertanyaan yang diajukan siswa dalam materi pelajaran.
·
Keaktivan siswa
dalam memberikan tanggapan; hal ini akan dilihat dari keaktifan siswa dalam
memberikan tanggapan atas pertanyaan temannya.
·
Menyimak penjelasan
atau petunjuk guru; hal ini akan dilihat dari siswa bertanya apa bila merasa
belum jelas dengan keterangan guru, siswa melihat kearah guru, siswa dapat
menyimpulkan penjelasan guru
·
Membaca materi
pelajaran; hal ini akan dilihat dari siswa membaca materi yang sedang dibahas
atau yang diperintahkan oleh guru untuk dibaca.
·
Mengerjakan tugas
yang diberikan sesuai dengan petunjuk guru; hal ini akan dilihat dari segi
kerja siswa, apakah tugas yang ia kerjakan sesuai dengan petujuk guru atau
tidak.
·
Keaktifan siswa
dalam mengerjakan tugas; hal ini aka dilihat dari kemampuan siswa dalam
menemukan sumber-sumber lain selain dari yang sudah diberikan guru. Dan
kemampuan siswa menampilkan sesuatu yang berbeda dari teman-temanya yang lain.
·
Mengumpulkan tugas
yang diberikan tepat pada waktunya; hal ini akan dilihat apakah siswa
megumpulkan tugas yang diberikan tepat pada waktunya yang di tentukan guru.
C. Pengertian
hasil belajar
Setiap kegiatan atau usaha yang dilakukan perlu diadakan
penelitian untuk mengetaui sejauhmana keberhasilan yang dicapai sehingga dapat
diketahui apakah tujuan tersebut sudah tercapai atau belum. Tingkat
keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan tersebut dengan istilah hasil
atau prestasi. Menurut Congeleci (1985:50)
hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan
tujuan dan sasaran belajar, kemampuan berprestasi merupakan suatu proses
belajar mengajar. Pada tahap ini siswa dapat membuktikan keberhasialan belajarnya. Kemampuan
berprestasi tersebut dipengaruhi oleh proses penerimaa,pengaktifa,
pengelolahan, penyimpana, seta pemanggilan untuk pembuktian kesan dan
pengalaman. Bila proses-proses tidak baik maka siswa dapat berprestasi kurang
atau dapat juga gagal berprestasi (Mudjiono, 1999 : 23).
Nasution (1975 : 185) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan
maksimal yang telah dicapai dalam suatu usaha yang menghasilakan pengetahuan
atau nilai kecakapan sedangkan Nurkencana (1980:210) berpendapat bahwa hasil belajar adalah hasil belajar
yang dicapai oleh individu setelah yang bersangkutan menaglami suatu proses
pembelajaran, sedangkan Indra (1975:212) juga mengatakan hasil belajar adalah suatu usaha untuk
memperoleh kebiasaan, pengetahuan, sikap sehingga bisa mengatasi kesulitan dan
penyusuaian dengan kondisi baru.
Perbuatan merupakan proses belajar yang
telah terjadi dan hasil dapat dikelompokan dalam dua
macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu; (1) pengetahuan tentang fakta, (2) pengetahuan tentang
prosedur, (3) pengetahuan tentang konsep, dan (4) pengetahuan tentang
prinsip-prinsip. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori yaitu : (1)
keterampilan berpikir atau keterampilan kognitif, (2) ketrampilan untuk bertindak atau ketrampilan motorik, (3) ketrampilan bereaksi atau bersikap, dan (4) keterampilan
berinteraksi. Hamalik (2003:5) menyatakan bahwa hasil belajaran adalah “tingkah laku
yang timbul, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbul
pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan, perkembangan
sifat-sifat sosial, emosional, dan perubahan jasmani”.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah hasil yang diperoleh dan dicapai oleh siswa setelah mengikuti
proses pembelajaran dimana hasil tersebut merupakan perubahan-perubahan pada siswa
(subyek didik). Perubahan-perubahan tersebut meliputi aspek kongnitif , aspek
afektif, dan aspek psikomotorik.
D. Faktor
yang mempengaruhi hasil belajar
Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utma yaitu dalam
diri siswa (faktor intern) dan faktor yang datang dari luar siswa (faktor
ekstern) atau faktor lingkungan (Sudjana, 1989:37) dua faktor yang mempengaruhi hasil balajar tersebut
harus sedemikian rupa diusahakan untuk mempertinggi hasil belajar siswa.
Sudjana (1989:38)
menyatakan bahwa faktor intern tersebut terdiri atas:
a.
Kemampuan
yang dimiliki oleh siswa (intelegensi), faktor kemampuan siswa besar
pengaruhnya dterhadap hasil belajar yang di capai eloh siswa.
b.
Motivasi
c.
Minat dan perhatian
d.
Sikap
dan kebiasaan belajar
e.
Ketekunan
f.
Faktor
fisik dan psikis
Sedangkan factor yang berasal dari luar (faktor ekstern)
terdiri dari
a.
Proses
pembelajaran
b.
Suasana
pembelajaran
c.
Lingkungan
pembelajaran yang meliputi lingkungan fisik seperti susuna dan sekolah, kondisi
sosial ekonomi keluarga.
Menurut Winkel (1991:08) faktor intern siswa meliputi, motivasi belajar,
konsebtrasi, perasaan sikap dan kondisi fisik, sedangka faktor ekternal daat
meliputi sekolah tempat belajar, pribadi guru, struktur hubungan sosial dan
iklim sekolah atau tempat berlangsung proses belajar mengajar.
E. Tinjauan Tentang Metode Pembelajaran
Menurut
Purwadarminta (Sudjana, 2005:72) metode adalah cara yang telah teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut kamus besar
bahasa Indonesia, metode adalah “ cara kerja yang sistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan “(Moeliono, dkk,
1990:217).
Berdasarkan
ketiga pegertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode mengandung
unsur prosedur yang tersusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam
suatu rencana kegiatan untuk mencapai tujuan.dengan demikian bahwa unsur-unsur
metode mencakup prosedur, sestimatik, logis terencana, dan kegiatan untuk
mencapai tujuan. prinsip-prinsip metode pembelajaran yang digunakan adalah:
1. Dengan
menyajikan (telling)
2. Dengan
mengerjakan (doing)
3. Dengan
menunjukan (showing).
Pedoman
dari metode yang dapat menjamin prinsip-prinsip tersebut, antara lain dapat
dilihat kombinasi dari beberapa alternative sebagaai berikut: (a) metode kuliah,
(b) metode role playing, (c) metode inquiry discovery, (d) metode case study, (e) widia wisata, dan (f)
seminar.
Metode
mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pendidikan
khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran pelajaran kepada siswa (Syah,
1995:17). metode pembelajaran perlu diterapkan dalam proses pembelajaran agar
aspek kognitif siswa dapat berkembang dan berfungsi seoptimal mungkin.
penggunaan metode yang tepat akan dapat menemukan efektivitas dan efesiensi
pembelajaran. pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dengan metode-metode
yang berpusat pada siswa, serta lebih menekankan pada interaksi penggunaan
metode yang berveriasi akan sangat membantu siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
F. Metode
Pembelajaran Inquiry Discovery
Salah
satu metode pembelajaran yang akhir-akhir ini banyak digunakan di
sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode pembelajaran Inquiry Discovery, hal itu di sebabkan karena (a) merupakan suatu
cara untuk mengembangkan cara siswa aktif, (b) dengan menemukan sendiri, maka hasil
yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak mudah dilupakan
siswa, (c) pegertian ditemukan sendiri merupakan pegertian yang betul-betul
dikuasai dan mudah dimudahkan atau distranfer dalam situasi lain, (d) dengan
menggunakan metode penemuan siswa belajar menguasai salah satu metode ilmiah
yang akan di kembangkan sendiri, (e) dengan metode penemuan ini juga, siswa
belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri,
kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
Inquiry Discovery
berasal dari bahasa inggris “Inquiry
dan Discovery”, yang secara harfiah
berarti penyelidikan dan penemuan. Carin dan Sund (Mulyasa, 2005:196) mengemukakan
inquiry adalah the process of investigating a problem. Adapun piaget mengemukakan bahwa metode Inquiry merupakan metode yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas
agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
dan melihat jawaban sendiri, serta hubungan penemuan yang satu dengan penemuan
yang lain, membandingkan apa yang ditemukan siswa lain (Mulyasa, 2005:198).
Inquiry
Discovery merupakan metode
pembelajaran yang berusaha meletakan dasar
dan mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek. Peranan guru
adalah sebagai pembimbing dan fasilitator belajar. tugas utama guru adalah
memiliki masalah yang perlu dilontarkan kepada siswa untuk dipecahkan oleh
siswa sendiri.
Pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tapi hasil menemukan
sendiri, guru harus selalu merancang kegiatan menemukan apapun materi yang
diajarkan. belajar dengan penemuan mempunyai banyak keuntungan. pembelajaran Inquiry memacu keinginan siswa untuk
mengetahui, motivasi untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan
jawabanya. siswa jugaa belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki
keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan
menangani informasi.
Pengajaran
inquiry merupakan metode pembelajaran
yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk
pembelajaran bermakna. metode pembelajaran inquiry dapat dilaksanakan dan
berhasil di dalam kelas dengan indikator atau syarat-syarat sebagai berikut:
(a) guru harus terampil memilih persoalan yang relavan untuk diajuhkan kepada
kelas (persoalan bersumber dari bahan yang menantang siswa/problematik) dan
sesuai dengan daya nalar siswa, (b) guru harus terampil menumbuhkan motivasi
belajar siswa dan menciptakan belajar yang menyenangkan, (c) adanya fasilitator
dan sumber belajar yang cukup, (d) adanya kebebaasn siswa untuk berpendapat,
berkarya, berdiskusi, (e) partisipasi siswa dalam setiap kegiatan belajar, dan
(f) guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.
Sund dan Trowbrigde (Mulyasan, 2005:200),
mengemukakan tiga macam motede Inquiry sebagai berikut:
1.
Inquiry
terpimpin (Guide inquiry); siswa
memperoleh pedoman sesuai dengan yang ditetapkan. pedoman-pedoman tersebut
berupa pertanyaan yang membimbing.
2.
Inquiry
bebas (free Inquiry); pada inquiry
bebas siswa melakukan penelitian sendiri baagaikan seorng ilmuwan.
3.
Inquiry bebas yang dimoditifikasi (modifien free Inquiry); pada inquiry ini
guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian siswa meminta untuk memecahkan
masalah tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
Agar
interaksi belajar mengajar antara siswa dengan guru dapat berjalan dengan baik,
maka diperlukan dan perencanaan yang saksama. Adapun tahap-tahap atau
langkah-langkah pembelajaran inquiry sebagai
berikut:
1. Merumuskan
masalah untuk dipecahkan siswa.
2. Menetapkan
jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istila hipotesi.
3. Siswa
mencari dan mengumpulkan informasi, data, fakta yang diperluhkan untuk menjawab
permasalahan/hipotesis melalui observasi.
4. Menganalisa
dan mengajukan dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, dan karya lainnya/menari
kesimpulan jawaban atau generalisasi.
5. Mengkomonikasikan
atau mengajukan jawaban hasil karya pada pembaca, teman sekalas, atau audiens
yang lain/mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru
(Nurhadi, 2004:121).
Proses
pembelajaran Inquiry menuntut guru
bertindak sebagai fasilitator dan menyuluh kelompok, siswa didorong untuk
mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan. Metode Inquiery dapat berhasil bila guru
memperhatikan kriteria sebagai berikut:
a.
Mendefinisikan secara jelas topik Inquiry yang dianggap bermanfaat bagi
siswa.
b.
Membentuk kelompok-kelompok dengan
memperhatikan keseimbangan akademik dan aspek sosial.
c.
Menjelaskan tugas dan menyediakan
balikan kepada kelompok dengan cara yang responsive dan tepat waktu.
d.
Intervensi untuk meyakinkan terjadinya
interaksi pribadi secara sehat dan terdapat dalam pelaksanaan tugas.
e.
Melakukan evaluasi dengan berbagai cara
untuk menilai kemajuan kelompok dan hasil yang dicapai.
Pelaksnaan
metode pembelajaran inqury kelompok di dalam suatu kelas dilaksanakan oleh
kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari lima orang siswa,dan tiap
anggota melakukan peran tertentu, yakni sebagai berikut:
1.
Pemimpin
kelompok bertanggung jawab memulai diskusi, mengiapkan kelompok untuk
mengerjakan tugas dan melengkapi tugas-tugas.
2.
Pencatat
(rekorder), membuat dan memelihara catatan, karya tulis, dan materi tulisan
kelompok yang dibuat pada waktu berdiskusi maupun membagikan kepada anggota
kelompok serta membuat daftar tentang (check list) dan daftar hadir anggota.
3.
Pemantau
diskusi (discussion monitor); berupa
memastikan bahwa diskusi berlangsung lancar dan semua pendapat dicantumkan dan
dibahas dalam diskusi.
4.
Pendorong
(prompter); memelihara mentl berdiskusi para anggotanya dengan teknik
menggunakan daftar tentang partisipasi terhadap semua anggota kelompok
5.
Pembuat
rangkuman (summariser); selama berlangsungnya diskusi pada waktu menarik
kesimpulan pada setiap pertemuan inquiry, perangkum merangkum butir-butir pokok
yang muncul dan mengikuti tugas-tugas spesifik baik yang lengkap maupun yang
belum dilengkapi, mengundang pertanyaan-pertanyaan dari kelompok untuk
mengklarifikasikan kedudukan kemajuan-kemajuan dan tujuan kelompok
6.
Pengacara
(advocate); bertugas melakukan dan memberikan pendapat bandingan terhadap
argument yang akan disampaikan dalam diskusi terhadap pendapat yang diajukan
oleh kelompok lainnya.
Penemuan
(discovery) merupakan metode yang
lebih menekankan pada pengalaman langsung. pembelajaran dengan metode penemuan (discovery) lebih mengutamakan proses
dari pada hasil belajar. cara mengajar dengan metode penemuan (discovery) menempuh langkah-langkah
berikut:
a.
Adanya masalah yang dipecahkan
b.
Sesuai dengan tingkat perkembangan
kognitif siswa
c.
Konsep atau prinsip yang harus ditemukan
oleh siswa melaui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d.
Harus tersedia alat dan bahan yang
diperlukan.
e.
Suasana kelas diatur sedemikian rupa
sehingga memudahkan terlibatnya alur bebas pikiran siswa dalam kegiatan belajar
mengajar.
f.
Guru harus memberikan kesempatan kepada
siswa untuk mengumpulkan data.
g.
Guru harus memberikan jawaban demgan
cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi yang diperlukan siswa.
Ada
tiga komponen yang dianggap esensial bagi keberhasilan pelaksanaan metode
pembelajaran Inquiry, yaitu:
1.
Fungsi-fungsi spesifik yang harus
dilakukan di dalam kelompok.
2.
Peran-peran khusus bagi setiap anggota
kelompok harus ditujukan
3.
Suasana emosional yang efektif dan
bermakna harus dibangun dan dipelihara.
Setiap
langkah dalam proses Inquiry hendaknya
berlangsung secara efektif karena itu siswa harus mengetahui cara untuk
mencapai gerakan ke arah pembuatan keputusan kelompok. Ada tujuh fungsi yang
harus difokuskan di dalam setiap kelompok yang berhasil. fungsi-fungsi tersebut
dapat ditugaskan pada seluruh anggota kelompok, namun sebaliknya ditugaskan
kepada seluruh anggota kelompok mendapatkan peran khusus dan melaksanakan tugas
sesuai dengan fungsi-fungsi khusus tersebut, sehingga setiap anggota kelompok merasa
memiliki dan bertanggung jawab melaksanakannya.
Fungsi-fungsi
dalam kelompok Inquiry sebagai
berikut:
1.
Membuat garis besar fokus inquiry, yang meliputi materi yang
diusulkan dan proporsi berhubungan dengan topik.
2.
Menilai diskusi.
3.
Mendorong partisipasi aktif semua
anggota kelompok secara jelas dan seimbang.
4.
Menjamin kelangsungan diskusi pada arah
yang benar.
5.
Membuat rangkuman.
6.
Menjaga agar tidak terjerumus pada satu
sudut saja
7.
Menguji informasi yang disampaikan dan
digunakan pemikiran rasional.
Peran
guru dalam pelaksanaan metode pembelajaran Inquiry
adalah sebagai konselor, pembina dan pengarah. guru harus senantiasa siap memberikan
bantuan pada kelompok dalam melaksanakan interaksi, mengungkapkan argumentasi,
mengumpulkan bukti dan mengarahkan diskusi serta mendorong siswa untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya atau memecahkan sendiri di dalam
kelompoknya, bukan mengajarkan mereka jawaban dari masalah yang mereka hadapi. Siswa
akan mendapatkan keuntungan jika mereka dapat “melihat” dan “melakukan” sesuatu
tidak hanya mendengarkan ceramah atau pelajaran guru. guru dapat membantu uru
berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lainnya untuk kemajuan kelompok dan suasana emosional pada
pertenuan-pertemuan tersebut, bila perlu memberikan umpan balik sesuai dengan
situasi pertemuan itu.
Jadi
jelas bahwa metode pembelajaran Inquiry
Discovery yang ditetapkan di sekolah-sekolah akan menghasilkann kerja sama
yang baik, sikap saling menghargai, interaksi sosial yang baik dan keteraturan
melakukan kerja kelompok sehingga dapat membantu siswa dalam meningkatkan
prestasi dan hasil belajar.
BAB
III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research),
yang pada hakekatnya merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru pada saat
mengajar di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang
telah dilakukan (Madya, 2006:03).
B.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi
penelitian merupakan tempat dimana melakukan suatu penelitian. Lokasi Penelitiann
dalam hal ini adalah bertempat di sekolah SMP Negeri 2 Donggo. Adapun
batas-batas umum dari SMP Negeri 2 Donggo adalah sebagai berikut:
1. Sebelah
utara berbatasan dengan permukiman penduduk
2. Sebelah
selatan berbatasan dengan persawahan
3. Sebelah
barat berbatasan dengan persawahan
4. Sebelah
timur berbatasan dengan jln. Raya Lintas Sila
C.
Metode Penentuan Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi merupakan seluruh subyek
penelitian. Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009:118) populasi adalah jumlah
keseluruhan subyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda,
hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa
sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu
penelitian. Sedangkan menurut Sudjana (2005:74) populasi adalah totalitas semua
nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun
kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang
lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
Adapun
yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri
2 Donggo tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 120 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian atau
wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:87). Sedangkan dalam kamus
besar bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian
yang lebih besar. Sedangkan menurut Sugiyono (2003:56) sampel adalah “sebagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.
Sementara
itu penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi
kurang dari 100, dianjurkan agar semuanya dijadikan sampel sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya besar lebih dari 100,
maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung dari
kemampuan peneliti (Arikunto, 2006:112). Karena jumlah populasi lebih dari 100
orang, maka pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagian dari populasi yaitu sebesar 30% dengan jumlah siswa 40 0rang.
D.
Metode
Pengumpulan Data
Dalam
setiap penelitian apapun selalu dihadapkan dengan metode pengumpulan data yang
digunakan. Metode pengumpulan data ini merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam kegiatan
penelitian. Penelitian disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih tehnik dan alat
pengumpulan data yang relevan. Penggunaan tehnik dan alat pengumpul data
memungkinkan diperolehnya data yang obyektif
(S. Margono, 2002:158).
1.
Tehnik
Observasi
Dalam
penelitian ini menggunakan metode atau tehnik yang dinamakan tehnik pengukuran.
Tehnik pengukuran adalah alat pengumpul data yang bermaksud mengumpulkan data
yang bersifat kuantitatif (S. Margono, 2002:170). Dalam tehnik pengukuran ini,
alat yang digunakan adalah berupa pemberian tes.
2.
Tes
Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli)
yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat
menjadikan skor angka (S. Margono, 2002:170). Adapun jenis tes yang umumnya
dikenal dan digunakan sebagai alat pengukuran adalah tes lisan dan tes
tertulis. Sejalan dengan itu pada penelitian ini lebih mengkhususkan pada
penggunaan tes tertulis.
Tes
tertulis yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang
aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara
tertulis pula (S. Margono, 2002:170). Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes
essay atau tes uraian (essay test) dan tes obyektif.
E.
Jenis
Dan Sumber Data
1. Jenis Data
Mengetahui jenis data adalah hal yang mutlak dalam penelitian. Hal ini
cukup beralasan karena dengan mengetahui data tersebut peneliti dapat mencari
alternatif metode apa yang paling cocok sehubungan dengan jenis data yang
tersedia. Menurut Sugiyono (2003:14) “Data penelitian dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah
data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif
adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan
(scoring)”.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data kuantitatif.
2.
Sumber
Data
Menurut Surahmad (1998:134) “sumber data
menurut sifatnya digolongkan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber
data skunder. Sumber data primer adalah sumber yang memberikan data langsung
dari tangan pertama. Sedangkan sumber data skunder adalah sumber yang dikutip
dari sumber lain”.
Berdasarkan
keterangan tersebut, maka sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah sumber data primer yang diperoleh langsung dari responden melalui tes
yang dijawab oleh siswa sebagai responden.
F.
Identifikasi
Dan Definisi Operasional Variabel
1.
Identifikasi
Variabel
Agar tidak menimbulkan
kesimpangsiuran tentang variable-variabel penelitian, maka perlu ditetapkan
variable-variabel penelitian terlebih dahulu.
Variabel merupakan objek penelitian (Arikunto, 2006:108). Variabel yang
diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu satu variabel
bebas adalah kondisi atau karaktekristik yang dimanipulasi untuk menerangkan
dalam penelitian ini yaitu metode inquiry
disvovery sedangkan yang menjadi variabel terikatnya yaitu keaktifan dan hasil
belajar siswa.
2.
Definisi
Operasional Variabel
Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap beberapa istilah yang digunakan
dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
a)
Keaktifan
Menurut
Winkel (1991:38)
menjelaskan bahwa “bahwa belajar adalah suatu proses dari seorang individu yang berupaya untuk mencapai dan pemperoleh suatu
bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap”.hampir senada dengan
Winkel,
b)
Hasil
Belajar
Setiap kegiatan atau usaha yang dilakukan perlu diadakan
penelitian untuk mengetaui sejauhmana keberhasilan yang dicapai sehingga dapat
diketahui apakah tujuan tersebut sudah tercapai atau belum. Tingkat
keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan tersebut dengan istilah hasil
atau prestasi. Menurut Congeleci (1985:50)
hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan
tujuan dan sasaran belajar, kemampuan berprestasi merupakan suatu proses
belajar mengajar. Pada tahap ini siswa dapat membuktikan keberhasialan belajarnya.
c)
Metode
Pembelajaran
Menurut Purwadarminta (Sudjana,
2005:72) metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk
mencapai suatu maksud. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, metode
adalah “ cara kerja yang sistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan
guna mencapai tujuan yang ditemukan “(Moeliono, dkk, 1990:217).
d) Inquiry
Discovery
Inquiry Discovery
berasal dari bahasa inggris “Inquiry
dan Discovery”, yang secara harfiah
berarti penyelidikan dan penemuan. Carin dan Sund (Mulyasa, 2005:196)
mengemukakan inquiry adalah the process of investigating a problem. Adapun piaget mengemukakan bahwa metode Inquiry merupakan metode yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas
agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, dan melihat jawaban sendiri, serta hubungan penemuan
yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan siswa
lain (Mulyasa, 2005:198).
G.
Rancangan
Penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri
dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observas dan refleksi.
Secara rinci rancangan penelitian setiap siklus dapat dijabarkan sebagai
berikut:
Siklus I
1.
Tahap
Perencanaan
Kegiatan
yang dilaksanakan pada tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut:
a. Membuat
skenario pembelajaran
b. Membuat
LKS metode Inquiry Discovery
c. Menyiapkan
lembar observasi
d. Membagi
siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 orang
e. Menyusun
tes hasil belajar
f. Merencanakaan
analisis hasil tes
2.
Tahap
Pelaksanaan Tindakan
kegiatan yang
dilaksanakan pada tahap ini adalah pelaksanaan tindakan dengan mengunakan
metode inquiry discovery pada
pembelajaran geografi di kelas VIII-A SMP Negeri 2 Donggo untuk meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.
Langkah-langkah yang
dilakukan pada tahap ini adalah:
1)
Tahap pendahuluan dengan rincian sebagai
berikut:
(a) Guru
menenangkan situasi kelas dilanjutkan dengan mengadakan absen kelas kehadiran
siswa;
(b) Dengan
metode Tanya jawab guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang
dipelajari;
2)
Tahap pengembangan dengan merincian
sebagai berikut:
(a) Guru
membagi LKS pada masing-masing kelompok;
(b) Siswa
diberi kesempatan untuk mendiskusikan LKS untuk menemukan konsep-konsep yang
terkandung dalam materi yang akan dipelajari;
(c) Melakukan
Tanya jawab antara siswa yang dipandu oleh guru sekaligus langsung
mengklarifikasikan kesalahan-kesalahan yang dialami oleh siswa sehingga terjadi
persamaan persepsi tentang konsep yang terkandung dalam materi yang dipelajari.
3)
Tahap penerapan dengan rincian sebagai
berikut:
(a) Setelah
ditemukan konsep yang terkandung dalam materi yang dipelajari, guru selanjutnya
memberi kesempatan kepads siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS
dengan waktu yang telah ditentukan, siswa diharapkan tidak bekerja sama secara
individual tidak menutup kemungkinan mereka saling menukar pikiran dengan
anggota yang lain dalam kelompok;
(b) Setelah
selesai mengerjakan LKS maka setiap siswa saling memeriksa jawaban mereka;
(c) Setelah
semua kelompok diperiksa selesai mengerjakan LKS pada lembar jawaban, guru
bersama siswa membahas soal-soal latihan yang telah dikerjakan dengan metode
Tanya jawab;
(d) Memberikan
tes evaluasi pada akhir pelajaran.
3.
Tahap
observasi
Kegiatan observasi
dilaksanakan Selama berlangsungya pelaksanaan tindakan. observasi terhadap
aktivitas siswa dilakukan dengan mengamati perilaku siswa pada saat berdiskusi
dalam kelompoknya untuk menyelesaikan LKS yang diberikan guru.sedangkan
aktivitas guru dilakukan dengan mengamati perilaku guru pada saat kegiatan
pembelajaran berlangsung.sema aktivitas yang tampak dicatat dalam lembar
observasi sesuai dengan descriptor yang muncul.
4.
Tahap
Refleksi
Pada tahap ini peneliti
bersama guru mengkaji kekurangan dari tindakan yang diberikan. Hal ini
dilakukan dengan melihat hasil evaluasi yang dicatat siswa pada siklus I. jika
refleksi ini menunjukan bahwa tindakan siklus I memperoleh hasil yang belum optimal,
maka dilakukan siklus II dengan memberi tindakan. hasil refleksi siklus I ini
digunakan sebagai dasar menyusun perencanaan dan penerapan tindakan pada siklus
II.
Siklus II
Siklus
II dilakukan apabila pembelajaran pada siklus I belum berhasil mencapai
ketuntasan belajar dan proses belajar-mengajar belum sesuai dengan apa yang
diharapkan, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II pada
dasarnya sama dengan langkah-langkah pada siklus I, hanya saja siklus II
dilakukan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I.
H.
Teknik
Analisa Data
Keseluruhan
data yang diperoleh dalam penelitian, selanjutnya di analisis secara kuantitatif,
sebagaimana dikemukakan Muhajir (1990) dilakukan berdasarkan analisis
perbandingan yang terhimpun atau yang disimpulkan secara induktif datar
konseptual dengan memperhatikan tahapan reduksi data, pengorganisasian data
interpretasi. Data hasil keseluruhan siklus disusun dan ditabulasikan sesuai
dengan tingkat ketercapaian indicator kinerja yang telah ditetapkan sebagai
acuan untuk memberikan makna terhadap apa yang telah dicapai dalam pelaksanaan
tindakan, dengan kata lain proses analisa data diperoleh dari lapangan pada
prinsipnya dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.
Untuk
mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif
deskriptif, yaitu dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
KK
= Ketuntasan klasikal
X
= Jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai minimal 65
Z
= Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes. (Sugiyono, 2003:97).
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono, 1999. Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar.
Jakarta : PT. Rineka Cipta
Abu Ahmadi, 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV. Pustaka Setia
Arikunto,
Suharsimi, dkk. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto,
Suharsimi, dkk. 2006. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Buchari,
Muhtar, 2003. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Kompas
Cholisin,
2003. Paradigm Baru dan Pengembangan
Dalam KBK (Makalah). Jakarta : Dirjen Pendamen
Depdiknas,
2003. Pembelaran Tuntas. Jakarta : Ditjen Pendasmen, Direktorat
Pendidikan Lanjut Pertama
Dimyati
dan Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta
: Rineka Cipta
Djamarah,
S, B. dan Zainal Aswan, 1995 Strateg Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta
Hamalik,
Oemar, 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Iskandar,
2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan Dan Social (Kuantitatif Dan
Kualitatif). Jakarta : Gaung Persada Pres.
Sugiyono,
2003.
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
S.
Margono, 2002. Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta
Mulyasa
, E, 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung
: PT. Remaja Rosdakarya
Purwadarminta,
2005. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Nasution,
F, 1975. Pengantar Psikologi Pendidikan. Malang : Lembaga Penerbit IKIP Malang
Winkel,
1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Gramedia


0 komentar
Poskan Komentar