Monday, December 10, 2012

kumpulan skripsi geografi UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL


UPAYA MENINGKATKAN  PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII
 MTs N 1 MATARAM DENGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL  PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU
 TAHUN AJARAN 2010/2011




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 14 Tahun 2005 diamanatkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
   Strategi pengembangan pendidikan nasional diarahkan pada 4 sasaran pokok yaitu: peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu pendidikan, relevansi dan efisiensi pendidikan. Dari ke empat sasaran tersebut masalah peningkatan mutu pendidikan adalah masalah yang perlu mendapat prioritas bagi penyelenggaraan pendidikan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan cara melakukan inovasi dalam pembelajaran.
   Selama ini guru mengalami banyak kendala dalam pelajaran IPS Terpadu salah satu faktornya adalah pembelajaran yang digunakan oleh guru masih dominan menggunakan pembelajaran klasikal. Padahal hakikatnya dalam setiap siswa berbeda secara individu baik dalam prestasi belajarnya maupun kemampuan potensialnya. Menurut (Djamarah, 2010:1), bahwa paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya  yaitu aspek intelektual, psikologis dan biologis. Perbedaan tersebut berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa, karenanya perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Perbedaan anak didik secara individu tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pembelajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individu. Salah satu bentuk pemikiran untuk menangani persoalan tersebut adalah prinsip pendekatan individualisasi. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. (Djamarah, 2010:55). Prinsip pendekatan individual tertuang dalam suatu pembelajaran individual yang mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran.
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu, guru membantu siswa menghadapi kesukaran. Dari gambaran di atas, jelas dibutuhkan sistem pembelajaran IPS terpadu yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa juga memperhatikan perkembangan tingkah laku dan perbedaan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu cara yang memungkinkan adalah dengan mengembangkan pembelajaran melalui pembelajaran individual.
Aktivitas siswa merupakan bentuk respon terhadap pendekatan belajar mengajar yang diterapkan oleh guru atau pendidik, misalnya guru berperan sebagai pemberi dorongan, motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang sangat diperlukan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan sendiri didukung oleh sarana dan prasarana yang telah disediakan sekolah untuk menunjang aktivitas belajar dan pembelajaran.
Motivasi belajar pada dasarnya ada di dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, pelaksanaan belajar mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa. (Dimyati, 2009 : 97)
Berdasarkan pengamatan langsung di MTs N 1 Mataram pada saat melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL) bahwa sebagian siswa-siswi kelas VIII MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 kurang mengerti dalam menyelesaikan soal-soal dalam mata pelajaran IPS Terpadu. Sebagai tindak lanjut peneliti tertarik untuk memberikan tindakan melalui penerapan pembelajaran individual pada siswa kelas VIII3 karena prestasi belajar siswa kelas tersebut lebih rendah dibanding kelas-kelas lain. Hal ini berdasarkan hasil observasi peneliti melalui wawancara langsung dengan guru mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011. Serta akan diterapkan pada pokok materi Penyimpangan sosial yang oleh peneliti pokok materi ini dianggap lebih mudah diserap oleh siswa dan diharapkan nantinya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul penelitian Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII MTsN 1 Mataram Dengan Penerapan Pembelajaran Individual Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Tahun Ajaran 2010/2011”.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a.       Apakah dengan penerapan pembelajaran individual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011?
b.      Apakah dengan penerapan pembelajaran individual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1  Mataram Tahun Ajaran 2010/2011?.
C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
a.       Meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
b.      Meningkatkan  prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
2.       Adapun manfaat penelitian yang diperoleh adalah :
a.       Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
D.    Asumsi Penelitian
Asumsi merupakan kerangka awal atau acuan yang akan memandu cara-cara berfikir di dalam suatu penelitian baik usaha untuk melihat kedudukan suatu masalah. Oleh karena itu, asumsi tentang suatu masalah dapat dinyatakan sebagai suatu keharusan dalam pelaksanaan penelitian, yang dapat membawa pemikiran dalam perspektif keilmuan (teori) yang berkembang. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi sehubungan dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan batasan asumsi itu sendiri  sebagai tolak ukur untuk melangkah lebih lanjut.
Asumsi dapat diartikan sebagai “suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti” (Arikunto, S. 2006 : 59). Dengan demikian suatu masalah yang diyakini kebenarannya merupakan suatu asumsi bagi peneliti sebelum dilakukan dengan hasil penelitian. Dilain pihak, asumsi juga diartikan sebagai “ hasil abstraksi pemikiran yang oleh peneliti dianggap benar dan dijadikan sebagai pijakan untuk mengkaji satu atau beberapa gejala” (Danim, 2002 : 13).
Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi adalah suatu pemikiran yang diyakini oleh peneliti tentang kebenaran suatu fakta sebagai dasar untuk mengkaji suatu gejala. Sementara itu, kebenaran suatu fakta yang ada tidak perlu dibuktikan lagi. Dengan demikian, asumsi merupakan pijakan awal bagi seorang peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan lebih jauh.
Adapun asumsi yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Ada peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS Terpadu dengan penerapan pembelajaran individual
b.      Penerapan pembelajaran individual dapat diterapkan pada proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
E.     Hipotesis Penelitian
Menurut Suharsimi (2006:52), hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Adapun kegunaan dari hipotesis yaitu untuk menguji kebenaran dari jawaban permasalahan yang diteliti, apakah terbukti atau tidak.

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran individual dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Teori Belajar dan Pembelajaran
1.  Teori belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini yang dipentingkan pendidikan intelektual. Kepada anak-anak diberikan bermacam-macam pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal. Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat social, susila, dan emosional”. (Aqib Zainal, 2003:42).
Sering dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti yang luas. Peranan guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (direction and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang social ekonominya dan lain sebagainya. Kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indicator suksesnya pelaksanaan pembelajaran. (Sagala, 2010:62).
Beberapa ahli mengemukakan pandangannya tentang belajar, dikutip dalam Dimyati (2009:9) yaitu:
a.    Belajar menurut pandangan Skinner
               Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu prilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menjadi menurun.
Dalam proses belajar ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a)      Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon antar pelajar
b)      Respon si pelajar
c)      Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut
b.   Belajar Menurut Pandangan Gagne
               Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting yaitu kondisi eksternal, internal dan hasil belajar



c.    Belajar Menurut Pandangan Piaget
               Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan sehingga fungsi inteleknya semakin berkembang.
d.   Belajar Menurut Pandangan Rogers
               Rogers tidak sependapat dengan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurutnya praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
               Sagala (2010:39) dikenal ada 3 rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi yaitu:
a)      Teori Disiplin Mental
Sebelum abab ke-20 telah berkembang beberapa teori belajar yaitu teori disiplin mental, teori pengembangan alamiah (Natural Unfoldment) atau “Self Actualization”, dan teori apersepsi. Hingga sekarang teori-teori ini masih dirasakan pengaruhnya di sekolah-sekolah. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperiment, ini berarti dasar oriantasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Teori disiplin mental (Plato, Aristoteles) menganggap bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih.
b)       Teori Behaviorisme
      Rumpun teori ini disebut karena sangat menekankan prilaku atau tingkah laku yang diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpum ini bersifat molecular, karena memandang individu terdiri atas unsure-unsur seperti halnya molekul-molekul. Ada beberapa cirri dari rumpun teori ini yaitu : (1) mengutamakan unsure-unsur atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan reaksi atau respon, dan (5) menekankan pentingnya latihan (Syaodih Sukmadinata, 2003:168).
c)      Teori Cognitive Gestal-Filed
      Teori kognitif, dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif, teori ini berbeda dengan behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respon. Psikologi Gestalt dipandang sebagai anak dari aliran strukturalisme, pada tahun 1912 sebagai reaksi terhadap aliran strukturalisme dalam psikologi (structural psychology) yaitu system psikologi yang dikaitkan dengan William Max  Wundt (1832-1920). Bapak psikologi eksperimen dan Edwart Bradferb Tichner. Aliran structural ini memandang pengalaman manusia dari sudut pengalaman pribadi. Sedangka psikologi Gestalt memandang kejiwaan manusia terikat kepada pengamatan yang berwujud kepada bentuk menyeluruh.       
2.   Pembelajaran
Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari sesuatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Pembelajaran menurut Dimyati (2009:297) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan  sumber belajar. Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986:195) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.  (Sagala, 2010:61)
Menurut Aqib (2003:41) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, mental, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.   
 Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Suatu sistem pembelajaran memiliki tiga ciri utama yaitu memiliki rencana khusus, saling ketergantungan antara tujuan yag hendak dicapai dan prosedur (Aqib, 2003:42). Pembelajaran tidak mengabaikan karakteristik pembelajaran dan prinsip-prinsip belajar. Oleh karena itu guru dituntut untuk memusatkan perhatian, mengelola, menganalisis dan mengoptimalkan hal-hal berkaitan dengan:
a.       Perhatian dan motivasi
b.       Keaktifan siswa
c.       Optimalisasi ketertiban siswa
d.      Melakukan pengulangan-pengulangan belajar
e.       Pemberian tugas agar siswa bertanggung jawab
f.       Memberikan balikan dan penguatan terhadap siswa
g.      Mengelola proses belajar sesuai dengan perbedaan individual siswa.
 Guru profesional memerlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa berkebiasaan belajar sepanjang hayat.
  1. Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan dan dikerjakan berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. (Hamid, Apollo 2002:511).
Setiap usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang tentu mengharapkan hasil dari apa yang diusahakannya. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak tentu saja mengharapkan hasil dari usahanya itu. Hasil dari usaha belajar itulah yang disebut dengan prestasi belajar, baik secara keseluruhan maupun secara kelompok dalam mata pelajaran tertentu. Dengan demikian kegiatan belajar merupakan sarana-sarana yang harus dikerjakan oleh setiap anak untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan.
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing- masing sejalan dengan filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang “suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan intruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai”. (Djamarah, 2010:105).
Belajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik (Djamarah, 2010:1) sedangkan (Sagala, 2010:50) mengemukakan belajar adalah perubahan prilaku dan pribadi, namun apa sesungguhnya yang dipelajari dan bagaimana manifestasinya masih tetap merupakan permasalahan yang mengandung interpretasi paling fundamental mengenai hal ini. Dengan demikian inti dari belajar yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dilihat dari psikologi adalah adanya perubahan kematangan bagi anak didik sebagai akibat belajar sedangkan dilihat dari proses adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan pendidik sebagai proses pembelajaran dan perubahan tampak pada perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat  dipahami mengenai makna prestasi dan belajar. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas sedangkan belajar adalah pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan pada diri individu yakni perubahan tingkah laku. Dengan demikian diambil pengertian bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
  1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dari beberapa pendapat di atas, maka prinsipnya ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu:
            a. Faktor Internal
Yakni faktor yang berasal dari dalam individu yang meliputi:
a)      Faktor jasmani
Siswa yang sehat/normal tidak akan sama prestasinya dengan siswa yang sakit/cacat
b)      Faktor rohani (intelegensi, bakat, minat, motivasi belajar )
Siswa yang intelegensinya tinggi, tidak akan sama prestasi belajarnya dengan siswa yang intelegensinya rendah
            b. Faktor Eksternal
Yakni faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi:
a)      Faktor lingkungan
Proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik manakala faktor lingkungan tidak mendukung.
b)      Faktor sekolah
Sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar.
Hal ini senada dengan pendapat Winkel (1994:176) bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal siswa meliputi motivasi belajar, konsentrasi, perasaan, sikap dan kondisi fisik. Sedangkan faktor eksternal siswa meliputi sekolah tempat belajar, pribadi guru, hubungan sosial, dan juga iklim tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dari uraian di atas, maka penerapan pendekatan pembelajaran   individual merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang berasal dari lingkungan sekolah dan sengaja dibuat oleh guru untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
  1. Aktivitas Belajar
Keaktivan merupakan pendekatan belajar mengajar yang berpusat pada aktivitas siswa, misalnya para guru berperan sebagai pemberi dorongan, motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang sangat diperlukan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan sendiri. melalui belajar aktif maka hasil belajar yang di dapat dicapai menjadi utuh, lengkap, tuntas, optimal serta proporsional.
Dinyatakan aktif dalam proses belajar mengajar jika siswa tersebut mempunyai:
a.       Keterampilan bertanya
b.      Keterampilan mengamati
c.       Keterampilan mengklasifikasi
d.      Keterampilan mengkomunikasikan
Belajar merupakan kegiatan yang lahir dari adanya interaksi antara individu dan lingkungannya yang akan menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu tersebut ke arah yang lebih baik. perubahan tingkah laku yang dimaksud tidak hanya mencakup aspek-aspek kognitif tetapi juga aspek psikomotoriknya. Agar dapat mendorong terjadinya proses belajar, maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana seorang guru dapat menciptakan suasana yang dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan belajarnya.
Pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dalam belajar sangat besar nilainya. dalam hal ini Hamalik (2001:112) mengungkapkan beberapa alasannya:
a.       Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
b.      Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
c.       Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa.
d.      Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri..
e.       Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
f.       Mempererat hubungan sekolah dengan masyarakat dan hubungan guru dengan orangtua siswa.
g.      Pengajaran dilaksanakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan pemikiran kritis.
h.      Pengajaran di sekolah menjadi lebih hidup sebagaimana keaktivan dalam kehudupan di masyarakat.
Belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada. faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan.
b.      Belajar memerlukan latihan.
c.       Belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan memperoleh kepuasan.
d.      Pengalaman masa lampau.
e.       Faktor kesiapan belajar.
f.       Faktor minat dan usaha.
g.      Faktor-faktor fisiologi.
h.      Faktor intelegensi.
  1. Motivasi Belajar
   Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
     Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
         Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik:
1.      Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.      Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
  Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.      Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.      Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
7.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9.      Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10.  Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Dimyati, 2009 :94).
  1. Pembelajaran Individual
Individu berarti pribadi, orang perseorang, person orang (nya) dan individual berarti perseorangan, tersendiri, bersifat pribadi, person. Setiap individu selalu bervariasi. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasannya dan lain sebagainya. Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda (Djamarah, 2010:62). Dari beberapa pengertian di atas dalam kaitannya dengan pembelajaran maka yang dimaksud dengan individu adalah siswa atau peserta didik yang melakukan kegiatan belajar atau mengikuti proses pendidikan yang memiliki ciri yang bervariasi.  Menurut Dimiyati (2009:161) pembelajaran secara individu adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu/siswa.
Hal ini sependapat dengan Sagala (2010:184) bahwa pembelajaran secara individual tampak pada perilaku atau kegiatan guru dalam mengajar yang menitikberatkan pada pemberian bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing siswa secara individual. Susunan dari tujuan belajar didesain untuk belajar mandiri harus yang disesuaikan dengan karakteristik individual dan kebutuhan siswa, jadi pada pembelajaran individual ini guru akan memberikan kesempatan dan keleluasan kepada masing-masing individu siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Mengenai karakteristik pembelajaran individual (Dimiyati, 2009:162) mengungkapkan sebagai berikut:
a.       Tujuan Pengajaran
Adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah (i) pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri (ii) pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal
b.      Siswa dalam Pembelajaran Individual
Kedudukan siswa dalam pembelajaran bersifat sentral dan merupakan pusat pelayanan pembelajaran. Siswa akan memiliki keleluasaan berupa:
a)      Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan tersendiri
b)      Kebebasan menggunakan waktu belajar
c)      Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar yang telah ditetapkan
d)     Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar
e)      Siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta;
f)       Siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajar sendiri.


c.        Guru Sebagai Pembelajar
Kedudukan guru dalam kegiatan pembelajar bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa :
a)      Perencanaan kegiatan belajar
b)      Pengorganisasian kegiatan belajar
c)      Penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa dan
d)     Fasilitas yang mempermudah belajar.
d.      Program Pembelajaran
Program pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif bila mempertimbangkan hal-hal berikut:
a)      Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa
b)      Tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa
c)      Prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa dan
d)      Kemampuan guru dalam evaluasi dimengerti siswa
e.        Orientasi dan Tekanan Utama Pelaksanaan
Program pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada setiap siswa agar ia dapat belajar mandiri. Dalam pelaksanaannya guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar dan rekan diskusi.
·   Pembelajaran individual memiliki kebaikan sebagai berikut:
a.       Materi dan sumber untuk tujuan instruksional umum dapat disesuaikan dengan kemampuan dan latar belakang siswa.
b.      Lebih mementingkan individual bila ada masalah / kesulitan yang dihadapi.
c.       Memungkinkan siswa belajar dengan kemampuan dan kecepatan sendiri.
d.      Umpan balik lebih konsisten dengan kebutuhan.
·        Adapun kelemahan dari pembelajaran individual adalah sebagai berikut:
a.       Tidak menghemat tenaga, pikiran, waktu, biaya dan lain-lain.
b.      Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan murid karena hidup tiap murid tidak sama.
c.       Dalam waktu yang sama memberikan pembelajaran kepada murid yang berbeda-beda.
d.      Guru harus memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kepribadian murid.
·        Implikasi individual terhadap pembelajaran
Adapun implikasi prinsip individual terhadap proses pembelajaran antara lain:
a.       Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sebagai karakteristik.
b.      Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyampaikan pesan pembelajaran.
c.       Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama, (Suharsimi, 2010:3). Pada hakekatnya merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih meningkat. Jenis penelitian mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk peningkatan dan perbaikan dalam bentuk profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas atau implementasi berbagai program di sekolahnya yang mengkaji berbagai indikator  keberhasilan proses dan hasil implementasi dari berbagai program sekolah.
Perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu di dalam penelitian tindakan kelas dikenal adanya siklus pelaksanaan berupa pola perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi dan revisi (perencanaan ulang) pada siklus selanjutnya sampai mencapai target yang diinginkan.

2.     Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana dilakukan suatu penelitian. Lokasi penelitian dalam hal ini adalah bertempat di sekolah MTsN 1 Mataram. Adapun batas-batas umum dari MTsN 1 Mataram adalah sebagai berikut :  
a.       Sebelah utara berbatasan dengan perumahan Dinas Depag
b.      Sebelah selatan berbatasan dengan perumahan warga
c.       Sebelah barat berbatasan dengan SMKN 2 Mataram
d.      Sebelah timur berbatasan dengan MAN 2 Mataram.
Objek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIII3 MTsN I Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 38 orang siswa.
B.     Metode Penentuan Subyek Penelitian
1.    Populasi
         Populasi merupakan seluruh subyek penelitian. Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009 : 118) populasi adalah jumlah keseluruhan subyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan menurut Sudjana (2005 : 74) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
        Adapun yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN I Mataram tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah orang.
2.    Sampel
         Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006 : 87). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang lebih besar. Sedangkan menurut Sugiyono (2003 : 56) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.
Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII3 MTsN I Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 38 orang siswa.
C.    Metode Pengumpulan Data
     Dalam setiap penelitian apapun selalu dihadapkan dengan metode pengumpulan data yang digunakan. Metode pengumpulan data ini merupakan salah satu factor  yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Penelitian disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih tehnik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan tehnik dan alat pengumpul data memungkinkan diperolehnya data yang obyektif  (S. Margono, 2002 : 158).
1.      Tehnik Observasi
        Dalam penelitian ini menggunakan metode atau tehnik yang dinamakan tehnik pengukuran. Tehnik pengukuran adalah alat pengumpul data yang bermaksud mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif (S. Margono, 2002 : 170). Dalam tehnik pengukuran ini, alat yang digunakan adalah berupa pemberian tes.
2.      Tes
      Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat menjadikan skor angka (S. Margono, 2002 : 170). Adapun jenis tes yang umumnya dikenal dan digunakan sebagai alat pengukuran adalah tes lisan dan tes tertulis. Sejalan dengan itu pada penelitian ini lebih menghkususkan pada penggunaan tes tertulis.
      Tes tertulis yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula (S. Margono, 2002 : 170). Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes essay atau tes uraian (essay test) dan tes obyektif.
D.    Jenis Dan Sumber Data
1.      Jenis Data
     Mengetahui jenis data adalah hal yang mutlak dalam penelitian. Hal ini cukup beralasan karena dengan mengetahui data tersebut peneliti dapat mencari alternatif metode apa yang paling cocok sehubungan dengan jenis data yang tersedia. Menurut Sugiyono (2003 : 14) “Data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring)”.
2.      Sumber Data
        Menurut Surahmad (1998 : 134) “sumber data menurut sifatnya digolongkan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer adalah sumber yang memberikan data langsung dari tangan pertama. Sedangkan sumber data skunder adalah sumber yang dikutip dari sumber lain”.
         Berdasarkan keterangan tersebut, maka sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang diperoleh langsung dari responden melalui tes yang dijawab oleh siswa sebagai responden.
E.     Identifikasi Dan Definisi Operasional Variabel
1.      Identifikasi Variabel
            Agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran tentang variable-variabel penelitian, maka perlu ditetapkan variable-variabel penelitian terlebih dahulu.  Variabel merupakan objek penelitian (Arikunto, 2006:108). Variabel yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu satu variabel bebas adalah kondisi atau karaktekristik yang dimanipulasi untuk menerangkan dalam penelitian ini yaitu pembelajaran individual, sedangkan yang menjadi variabel terikatnya yaitu aktivitas dan prestasi belajar siswa.


2.      Definisi Operasional Variabel
            Untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
a)      Aktivitas
              Menurut Hamid Apollo, (2002 : 23) kata aktivitas mempunyai arti sebagai berikut : keaktifan, kegiatan, kerja atau menjadi salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian pada perkantoran, sekolah dan perusahaan atau tempat bekerja. Dengan demikian, kata aktivitas menurut peneliti mempunyai maksud, suatu kegiatan yang dapat dilaksanakan secara dinamis atau terus menerus untuk mendapatkan hasil yang diharapkan atau yang menjadi tujuan bersama.
b)     Motivasi
Motivasi belajar pada dasarnya ada di dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, pelaksanaan belajar mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar.
c)      Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan dan dikerjakan berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. (Hamid, Apollo 2002:511). Setiap usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang tentu mengharapkan hasilnya. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak tentu saja mengharapkan hasil dari usahanya itu. Hasil dari usaha belajar itulah yang disebut dengan prestasi belajar.
d)     Pembelajaran Individual
Individu berarti pribadi, orang perseorang, person orang (nya) dan individual berarti perseorangan, tersendiri, bersifat pribadi, person. Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda (Djamarah, 2010:62). Dari pengertian di atas dalam kaitannya dengan pembelajaran maka yang dimaksud dengan individu adalah siswa atau peserta didik yang melakukan kegiatan belajar atau mengikuti proses pendidikan yang memiliki ciri yang bervariasi.
F.     Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi. Secara rinci rancangan penelitian setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:




   Siklus I
1.      Perencanaan
Perencanaan merupakan kegiatan yang dilakukan pada siklus I dalam penerapan pembelajaran individual. Hal yang dapat dipersiapkan sebagai berikut:
Peneliti mensosialisasikan pengajaran dengan penerapan pembelajaran individual pada guru IPS Terpadu dengan cara:
1)                  Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2)                  Menyiapkan lembar observasi
3)                  Menyusun alat evaluasi
4)                  Merencanakan analisis hasil tes.
2.      Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan semua hal yang telah direncanakan pada tahap perencanaan dan direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam tindakan ini adalah sebagai berikut :
a.       Self Intruction (berinteraksi sendiri), siswa dibimbing untuk merencanakan kegiatan belajar, menetapkan tujuan belajar, dan membuat program belajar
b.      Independent Study (belajar mandiri), siswa dituntut untuk melaksanaan belajar dan mengemukakan kriteria keberhasilan belajarnya
c.       Individualized Prescribed Intruction, artinya siswa melaksanakan suatu yang telah ditentukan
d.      Self Packet Learning (membuat paket belajar sendiri), siswa dibimbing untuk membuat paket belajar sendiri dalam bentuk ringkasan atau modul
e.       Siswa mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar dengan kriteria soal test yang ditentukan oleh guru sesuai dengan materi pembelajaran.
3.      Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi, dimana pada tahap ini peneliti dan siswa diobservasi oleh guru bidang studi tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, apakah pembelajaran telah sesuai dengan skenario yang dibuat atau tidak.
Pada akhir setiap siklus dilakukan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari. Soal evaluasinya dalam bentuk tes essay yaitu sejenis tes kemampuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan. Sasaran evaluasi adalah siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar.
4.      Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama guru akan mengkaji pelaksanaan dan hasil yang telah diperoleh dalam pemberian tindakan tiap siklus. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah hasil observasi dan evaluasi. Dari hasil observasi dan evaluasi siklus I, peneliti dan guru mengidentifikasi kekurangan yang muncul untuk melakukan dan penyempurnaan pada siklus berikutnya.
            Siklus II
Siklus II dilakukan apabila pembelajaran pada siklus I belum berhasil mencapai ketuntasan belajar dan proses belajar-mengajar belum sesuai dengan apa yang diharapkan, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada siklus I, hanya saja siklus II dilakukan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I.

G.     Analisa Data
1.Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa dianalisis sebagai berikut:
Menghitung skor aktivitas siswa dengan rumus
 
Dengan:
A =         Rata-rata skor aktivitas siswa
X =         Skor setiap deskriptor aktivitas siswa
i   =         Banyaknya diskriptor
Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut:
MI = (skor tertinggi + skor terendah)
SDI = ( skor tertinggi - skor terendah)
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal.
Tabel 3.2. Kriteria Untuk Aktivitas Belajar Siswa
Kriteria
Kategori
Mi + 1,5SDi ≤ A
Sangat Tinggi
Mi + 0,5SDi ≤ A < Mi + 1,5SDi
Tinggi
Mi – 0,5 SDi ≤ A < Mi + 0,5SDi
Cukup
Mi – 1,5 ≤ A < Mi – 0,5 SDi
Kurang
A < Mi – 1,5SDi
Sangat kurang
                                                               (Nurkencana, 1999:100)
2.Data aktivitas guru
Setiap indikator prilaku guru pada penilaiannya mengikuti aturan sebagai berikut:
BS (baik sekali)     : Jika semua (4) diskriptor yang nampak
B (baik)                 : Jika ada (3) diskriptor yang nampak
C (cukup)              : Jika ada (2) diskriptor yang nampak
K (kurang)             : Jika ada (1) diskriptor yang nampak
Yang dimaksud nampak adalah ada terlihat kegiatan guru selama mengajar di kelas yang sesuai dengan skenario yang telah disiapkan diawal pelajaran. Kaitan antara aktivitas guru dengan hasil evaluasi siswa yaitu makin banyak diskriptor perilaku yang nampak dalam proses mengajar maka semakin berhasil guru itu dalam menerapkan ilmu-ilmunya sehingga siswa menjadi senang dan tingkat pemahaman siswa meningkat.
Menghitung skor aktivitas guru dengan rumus
Dengan:
A =      Rata-rata skor aktivitas guru
X =      Skor setiap deskriptor aktivitas guru
i   =      Banyaknya diskriptor
Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut:
MI = (skor tertinggi + skor terendah)
SDI = (skor tertinggi + skor terendah)
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal
Tabel 3.3. Tabel Kriteria Untuk Aktivitas Guru
Kriteria
Kategori
Mi + 1,5SDi ≤ A
Sangat Tinggi
Mi + 0,5SDi ≤ A < Mi + 1,5SDi
Tinggi
Mi – 0,5 SDi ≤ A < Mi + 0,5SDi
Cukup
Mi – 1,5 ≤ A < Mi – 0,5 SDi
Kurang
A < Mi – 1,5SDi
Sangat kurang
                                                          (Nurkencana,1999:100)
3.Data Prestasi Belajar Siswa
          Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif deskriptif, yaitu dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
KK = Ketuntasan klasikal
X = Jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai minimal 70
Z = Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes. (Sugiyono, 2003:97).


DAFTAR PUSTAKA

Ali , Mohamad, 1983. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, Cet. VIII, 1992
Aqib, Zainal. 2003. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Insan Cendekia: Surabaya.
Arifin (1991). Proses Komunikasi Antara Pendidik dan Anak Didik. Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara: Jakarta.
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Chalijah Hasan, Dimensi-Dimensi Psikiologi Pendidikan. Al-Ikhlas, Surabaya, Cet. VII, 1990.
Dimyati, Mujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri, Zain Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta: Jakarta.
Hamid, Farida. 2002. Kamus Ilmiah Popular Lengkap. Apollo: Surabaya.
Hamalik, Oemar. 2001. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Iskandar, 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan Dan Social (Kuantitatif Dan Kualitatif). Jakarta : Gaung Persada Pres.

Nurkencana, 1999.  Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet. V, 1991.
Sagala, M Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta: Bandung
Sugiyono, 2003. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
S. Margono, 2002. Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta
Sri Kartanto, dkk. 2006. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Untuk Kelas VIII. Penerbit CV. Teguh Karya : Surakarta.



UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII MTs N 1 MATARAM DENGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU

0 comments:

Post a Comment