UPAYA
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
KELAS VIII
MTs N 1 MATARAM DENGAN PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU
TAHUN AJARAN 2010/2011
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 14 Tahun
2005 diamanatkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Strategi pengembangan
pendidikan nasional diarahkan pada 4 sasaran pokok yaitu: peningkatan
kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu pendidikan, relevansi dan
efisiensi pendidikan. Dari ke empat sasaran tersebut masalah peningkatan mutu
pendidikan adalah masalah yang perlu mendapat prioritas bagi penyelenggaraan
pendidikan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas
pendidikan adalah dengan cara melakukan inovasi dalam pembelajaran.
Selama ini guru
mengalami banyak kendala dalam pelajaran IPS Terpadu salah satu faktornya
adalah pembelajaran yang digunakan oleh guru masih dominan menggunakan
pembelajaran klasikal. Padahal hakikatnya dalam setiap siswa berbeda secara
individu baik dalam prestasi belajarnya maupun kemampuan potensialnya. Menurut
(Djamarah, 2010:1), bahwa paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak
didik yang satu dengan yang lainnya
yaitu aspek intelektual, psikologis dan biologis. Perbedaan tersebut
berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa, karenanya perbedaan individu
perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Perbedaan anak didik
secara individu tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi
pembelajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individu.
Salah satu bentuk pemikiran untuk menangani persoalan tersebut adalah prinsip pendekatan
individualisasi. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi
kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan
individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan
pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu
melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. (Djamarah, 2010:55).
Prinsip pendekatan individual tertuang dalam suatu pembelajaran individual yang
mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran.
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru
yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing
individu, guru membantu siswa menghadapi kesukaran. Dari gambaran di atas,
jelas dibutuhkan sistem pembelajaran IPS terpadu yang mampu meningkatkan
prestasi belajar siswa juga memperhatikan perkembangan tingkah laku dan
perbedaan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu cara yang
memungkinkan adalah dengan mengembangkan pembelajaran melalui pembelajaran
individual.
Aktivitas siswa merupakan bentuk respon terhadap pendekatan belajar
mengajar yang diterapkan oleh guru atau pendidik, misalnya guru berperan
sebagai pemberi dorongan, motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang
sangat diperlukan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan
sendiri didukung oleh sarana dan prasarana yang telah disediakan sekolah untuk
menunjang aktivitas belajar dan pembelajaran.
Motivasi belajar pada dasarnya ada di dalam diri siswa. Dalam
kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan
rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar,
pelaksanaan belajar mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa.
Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar
semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan
segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi
fisiologis dan kematangan psikologis siswa. (Dimyati, 2009 : 97)
Berdasarkan pengamatan langsung di MTs N 1 Mataram pada saat
melakukan Program Pengalaman Lapangan (PPL) bahwa sebagian siswa-siswi kelas VIII
MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 kurang mengerti dalam menyelesaikan
soal-soal dalam mata pelajaran IPS Terpadu. Sebagai tindak lanjut peneliti
tertarik untuk memberikan tindakan melalui penerapan pembelajaran individual
pada siswa kelas VIII3 karena prestasi belajar siswa kelas tersebut
lebih rendah dibanding kelas-kelas lain. Hal ini berdasarkan hasil
observasi peneliti melalui wawancara langsung dengan guru mata pelajaran IPS Terpadu
kelas VIII MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011. Serta akan diterapkan pada
pokok materi Penyimpangan sosial yang oleh peneliti pokok materi ini dianggap
lebih mudah diserap oleh siswa dan diharapkan nantinya dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil
judul penelitian “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII MTsN
1 Mataram Dengan Penerapan Pembelajaran Individual Pada Mata Pelajaran IPS
Terpadu Tahun Ajaran 2010/2011”.
B.
Rumusan Masalah
Dari
uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a.
Apakah dengan penerapan pembelajaran individual dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3
MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011?
b.
Apakah dengan penerapan pembelajaran individual dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3
MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011?.
C.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
a.
Meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata
pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1 Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
b.
Meningkatkan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1
Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
2.
Adapun manfaat
penelitian yang diperoleh adalah :
a.
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas
belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1
Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
b.
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1
Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
D.
Asumsi Penelitian
Asumsi merupakan
kerangka awal atau acuan yang akan memandu cara-cara berfikir di dalam suatu penelitian
baik usaha untuk melihat kedudukan suatu masalah. Oleh karena itu, asumsi
tentang suatu masalah dapat dinyatakan sebagai suatu keharusan dalam
pelaksanaan penelitian, yang dapat membawa pemikiran dalam perspektif keilmuan
(teori) yang berkembang. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi sehubungan
dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini, maka terlebih
dahulu dikemukakan batasan asumsi itu sendiri
sebagai tolak ukur untuk melangkah lebih lanjut.
Asumsi dapat
diartikan sebagai “suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti” (Arikunto,
S. 2006 : 59). Dengan demikian suatu masalah yang diyakini kebenarannya
merupakan suatu asumsi bagi peneliti sebelum dilakukan dengan hasil penelitian.
Dilain pihak, asumsi juga diartikan sebagai “ hasil abstraksi pemikiran yang
oleh peneliti dianggap benar dan dijadikan sebagai pijakan untuk mengkaji satu
atau beberapa gejala” (Danim, 2002 : 13).
Berdasarkan kedua
pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi adalah suatu pemikiran yang
diyakini oleh peneliti tentang kebenaran suatu fakta sebagai dasar untuk
mengkaji suatu gejala. Sementara itu, kebenaran suatu fakta yang ada tidak
perlu dibuktikan lagi. Dengan demikian, asumsi merupakan pijakan awal bagi
seorang peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan lebih jauh.
Adapun asumsi yang
dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Ada peningkatan aktivitas belajar siswa dalam
pembelajaran IPS Terpadu dengan penerapan pembelajaran individual
b. Penerapan pembelajaran individual dapat
diterapkan pada proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar
siswa.
E.
Hipotesis Penelitian
Menurut Suharsimi (2006:52),
hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Adapun kegunaan dari hipotesis yaitu untuk menguji kebenaran dari jawaban
permasalahan yang diteliti, apakah terbukti atau tidak.
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
bahwa penerapan pembelajaran individual dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VIII3 MTsN 1
Mataram Tahun Ajaran 2010/2011.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Teori Belajar dan
Pembelajaran
1. Teori belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan
mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini yang dipentingkan pendidikan
intelektual. Kepada anak-anak diberikan bermacam-macam pelajaran untuk menambah
pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal. Ahli pendidikan
modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : “Belajar adalah suatu
bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam
cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku
yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru,
serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat social, susila, dan emosional”.
(Aqib Zainal, 2003:42).
Sering dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas
siswa dalam arti yang luas. Peranan guru bukan semata-mata memberikan
informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (direction
and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Pembelajaran
mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang
mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada
awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa
meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar
belakang social ekonominya dan lain sebagainya. Kesiapan guru untuk mengenal
karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan
belajar dan menjadi indicator suksesnya pelaksanaan pembelajaran. (Sagala, 2010:62).
Beberapa ahli mengemukakan pandangannya tentang belajar,
dikutip dalam Dimyati (2009:9) yaitu:
a.
Belajar menurut pandangan Skinner
Skinner
berpandangan bahwa belajar adalah suatu prilaku. Pada saat orang belajar, maka
responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya
menjadi menurun.
Dalam proses belajar ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a)
Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon
antar pelajar
b)
Respon si pelajar
c)
Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut
b.
Belajar Menurut Pandangan Gagne
Menurut
Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa
kapabilitas. setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap
dan nilai. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting yaitu
kondisi eksternal, internal dan hasil belajar
c.
Belajar Menurut Pandangan Piaget
Piaget
berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu melakukan
interaksi terus menerus dengan lingkungan sehingga fungsi inteleknya semakin
berkembang.
d.
Belajar Menurut Pandangan Rogers
Rogers
tidak sependapat dengan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurutnya
praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran bukan pada siswa yang
belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya
menghafalkan pelajaran.
Sagala
(2010:39) dikenal ada 3 rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi
yaitu:
a)
Teori Disiplin Mental
Sebelum abab ke-20 telah berkembang beberapa teori
belajar yaitu teori disiplin mental, teori pengembangan alamiah (Natural
Unfoldment) atau “Self Actualization”, dan teori apersepsi. Hingga
sekarang teori-teori ini masih dirasakan pengaruhnya di sekolah-sekolah. Teori
belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperiment, ini berarti dasar
oriantasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Teori disiplin mental (Plato,
Aristoteles) menganggap bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau
dilatih.
b)
Teori Behaviorisme
Rumpun
teori ini disebut karena sangat menekankan prilaku atau tingkah laku yang
diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpum ini bersifat molecular, karena
memandang individu terdiri atas unsure-unsur seperti halnya molekul-molekul.
Ada beberapa cirri dari rumpun teori ini yaitu : (1) mengutamakan unsure-unsur
atau bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan,
(4) mementingkan pembentukan reaksi atau respon, dan (5) menekankan pentingnya
latihan (Syaodih Sukmadinata, 2003:168).
c)
Teori Cognitive Gestal-Filed
Teori
kognitif, dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif, teori ini berbeda dengan
behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing)
dan bukan respon. Psikologi Gestalt dipandang sebagai anak dari aliran
strukturalisme, pada tahun 1912 sebagai reaksi terhadap aliran strukturalisme
dalam psikologi (structural psychology) yaitu system psikologi yang dikaitkan
dengan William Max Wundt (1832-1920).
Bapak psikologi eksperimen dan Edwart Bradferb Tichner. Aliran structural ini
memandang pengalaman manusia dari sudut pengalaman pribadi. Sedangka psikologi
Gestalt memandang kejiwaan manusia terikat kepada pengamatan yang berwujud
kepada bentuk menyeluruh.
2. Pembelajaran
Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang
dirancang untuk membantu seseorang mempelajari sesuatu kemampuan dan atau nilai
yang baru. Pembelajaran menurut Dimyati (2009:297) adalah kegiatan guru secara
terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif
yang menekankan pada penyediaan sumber
belajar. Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan
maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh
pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik
atau murid. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986:195) adalah suatu proses
dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut
serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau
menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset
khusus dari pendidikan. (Sagala, 2010:61)
Menurut Aqib (2003:41) pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, mental, fasilitas,
perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Dari beberapa
pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang
diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan dan memproses pengetahuan,
keterampilan dan sikap. Suatu sistem pembelajaran memiliki tiga ciri utama
yaitu memiliki rencana khusus, saling ketergantungan antara tujuan yag hendak
dicapai dan prosedur (Aqib, 2003:42). Pembelajaran tidak mengabaikan
karakteristik pembelajaran dan prinsip-prinsip belajar. Oleh karena itu guru
dituntut untuk memusatkan perhatian, mengelola, menganalisis dan mengoptimalkan
hal-hal berkaitan dengan:
a.
Perhatian dan motivasi
b.
Keaktifan siswa
c.
Optimalisasi ketertiban siswa
d.
Melakukan pengulangan-pengulangan belajar
e.
Pemberian tugas agar siswa bertanggung jawab
f.
Memberikan balikan dan penguatan terhadap siswa
g.
Mengelola proses belajar sesuai dengan perbedaan
individual siswa.
Guru
profesional memerlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran
agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa berkebiasaan belajar
sepanjang hayat.
- Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan dan
dikerjakan berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu
sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. (Hamid, Apollo 2002:511).
Setiap usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang tentu
mengharapkan hasil dari apa yang diusahakannya. Demikian halnya dengan
kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak tentu saja mengharapkan
hasil dari usahanya itu. Hasil dari usaha belajar itulah yang disebut dengan
prestasi belajar, baik secara keseluruhan maupun secara kelompok dalam mata
pelajaran tertentu. Dengan demikian kegiatan belajar merupakan sarana-sarana
yang harus dikerjakan oleh setiap anak untuk memperoleh hasil belajar yang
diharapkan.
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan
berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing- masing sejalan dengan
filsafatnya. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada
kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa
suatu proses belajar mengajar tentang “suatu bahan pengajaran dinyatakan
berhasil apabila tujuan intruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai”.
(Djamarah, 2010:105).
Belajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai
edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik (Djamarah,
2010:1) sedangkan (Sagala, 2010:50) mengemukakan belajar adalah perubahan
prilaku dan pribadi, namun apa sesungguhnya yang dipelajari dan bagaimana
manifestasinya masih tetap merupakan permasalahan yang mengandung interpretasi
paling fundamental mengenai hal ini. Dengan demikian inti dari belajar yang
dikemukakan oleh para ahli tersebut dilihat dari psikologi adalah adanya
perubahan kematangan bagi anak didik sebagai akibat belajar sedangkan dilihat
dari proses adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan pendidik
sebagai proses pembelajaran dan perubahan tampak pada perubahan tingkah laku
yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami mengenai makna prestasi dan belajar.
Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas
sedangkan belajar adalah pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan
perubahan pada diri individu yakni perubahan tingkah laku. Dengan demikian
diambil pengertian bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah diperoleh
berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai
hasil dari aktivitas dalam belajar.
- Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dari beberapa pendapat di atas, maka prinsipnya ada dua
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu:
a. Faktor Internal
Yakni faktor yang berasal dari dalam individu yang meliputi:
a)
Faktor jasmani
Siswa yang sehat/normal tidak akan sama prestasinya dengan siswa yang
sakit/cacat
b)
Faktor rohani (intelegensi, bakat, minat, motivasi
belajar )
Siswa yang intelegensinya tinggi, tidak akan sama prestasi belajarnya
dengan siswa yang intelegensinya rendah
b. Faktor Eksternal
Yakni faktor yang berasal dari luar individu yang
meliputi:
a)
Faktor lingkungan
Proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik manakala faktor
lingkungan tidak mendukung.
b)
Faktor sekolah
Sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran sehingga dapat
mempengaruhi prestasi belajar.
Hal ini senada dengan pendapat Winkel (1994:176) bahwa faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal siswa meliputi motivasi belajar, konsentrasi,
perasaan, sikap dan kondisi fisik. Sedangkan faktor eksternal siswa meliputi
sekolah tempat belajar, pribadi guru, hubungan sosial, dan juga iklim tempat
berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dari uraian di atas, maka penerapan
pendekatan pembelajaran individual
merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
yang berasal dari lingkungan sekolah dan sengaja dibuat oleh guru untuk
diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
- Aktivitas Belajar
Keaktivan merupakan pendekatan belajar mengajar yang berpusat
pada aktivitas siswa, misalnya para guru berperan sebagai pemberi dorongan,
motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang sangat diperlukan siswa untuk
menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan sendiri. melalui belajar
aktif maka hasil belajar yang di dapat dicapai menjadi utuh, lengkap, tuntas,
optimal serta proporsional.
Dinyatakan aktif dalam proses belajar mengajar jika siswa
tersebut mempunyai:
a.
Keterampilan bertanya
b.
Keterampilan mengamati
c.
Keterampilan mengklasifikasi
d.
Keterampilan mengkomunikasikan
Belajar merupakan kegiatan yang lahir dari adanya interaksi
antara individu dan lingkungannya yang akan menyebabkan terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri individu tersebut ke arah yang lebih baik. perubahan
tingkah laku yang dimaksud tidak hanya mencakup aspek-aspek kognitif tetapi
juga aspek psikomotoriknya. Agar dapat mendorong terjadinya proses belajar,
maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana seorang guru dapat
menciptakan suasana yang dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam
kegiatan belajarnya.
Pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
lebih aktif dalam belajar sangat besar nilainya. dalam hal ini Hamalik (2001:112)
mengungkapkan beberapa alasannya:
a.
Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung
mengalami sendiri.
b.
Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek
pribadi siswa secara integral.
c.
Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa.
d.
Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan
sendiri..
e.
Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar
menjadi demokratis.
f.
Mempererat hubungan sekolah dengan masyarakat dan
hubungan guru dengan orangtua siswa.
g.
Pengajaran dilaksanakan secara realistis dan konkret
sehingga mengembangkan pemahaman dan pemikiran kritis.
h.
Pengajaran di sekolah menjadi lebih hidup sebagaimana
keaktivan dalam kehudupan di masyarakat.
Belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
kondisional yang ada. faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan.
b.
Belajar memerlukan latihan.
c.
Belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil
dan memperoleh kepuasan.
d.
Pengalaman masa lampau.
e.
Faktor kesiapan belajar.
f.
Faktor minat dan usaha.
g.
Faktor-faktor fisiologi.
h.
Faktor intelegensi.
- Motivasi Belajar
Motivasi berpangkal
dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam
diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya
suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern
(kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di
dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Dari pengertian
yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam
motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi,
ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Namun pada
intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan
sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan,
menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan
tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan,
sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin
melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu
motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik:
1.
Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu
sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.
Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari
luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang
lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Ada beberapa strategi
yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai
berikut:
1.
Menjelaskan
tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan
belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai
Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas
tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.
Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.
Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.
Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.
Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.
Membangkitkan
dorongan kepada anak didik untuk belajar
7.
Membentuk
kebiasaan belajar yang baik
8.
Membantu
kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9.
Menggunakan
metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan
media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Dimyati, 2009 :94).
- Pembelajaran Individual
Individu berarti pribadi, orang perseorang, person orang
(nya) dan individual berarti perseorangan, tersendiri, bersifat pribadi,
person. Setiap individu selalu bervariasi. Mereka belajar dengan gaya yang
berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat,
berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasannya dan lain sebagainya.
Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda (Djamarah, 2010:62).
Dari beberapa pengertian di atas dalam kaitannya dengan pembelajaran maka yang
dimaksud dengan individu adalah siswa atau peserta didik yang melakukan
kegiatan belajar atau mengikuti proses pendidikan yang memiliki ciri yang bervariasi. Menurut Dimiyati (2009:161) pembelajaran
secara individu adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan
dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu/siswa.
Hal ini sependapat dengan Sagala (2010:184) bahwa
pembelajaran secara individual tampak pada perilaku atau kegiatan guru dalam
mengajar yang menitikberatkan pada pemberian bantuan dan bimbingan belajar
kepada masing-masing siswa secara individual. Susunan dari tujuan belajar
didesain untuk belajar mandiri harus yang disesuaikan dengan karakteristik
individual dan kebutuhan siswa, jadi pada pembelajaran individual ini guru akan
memberikan kesempatan dan keleluasan kepada masing-masing individu siswa untuk
dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Mengenai karakteristik pembelajaran individual (Dimiyati, 2009:162)
mengungkapkan sebagai berikut:
a.
Tujuan Pengajaran
Adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah (i)
pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan
sendiri (ii) pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal
b.
Siswa dalam Pembelajaran Individual
Kedudukan siswa dalam pembelajaran bersifat sentral
dan merupakan pusat pelayanan pembelajaran. Siswa akan memiliki keleluasaan
berupa:
a)
Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan tersendiri
b)
Kebebasan menggunakan waktu belajar
c)
Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan
intensitas belajar yang telah ditetapkan
d)
Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar
e)
Siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar
sendiri, serta;
f)
Siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program
belajar sendiri.
c.
Guru Sebagai
Pembelajar
Kedudukan guru dalam kegiatan pembelajar bersifat
membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa :
a)
Perencanaan kegiatan belajar
b)
Pengorganisasian kegiatan belajar
c)
Penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa dan
d)
Fasilitas yang mempermudah belajar.
d.
Program Pembelajaran
Program pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif
bila mempertimbangkan hal-hal berikut:
a)
Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa
b)
Tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa
c)
Prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa dan
d)
Kemampuan guru
dalam evaluasi dimengerti siswa
e.
Orientasi dan
Tekanan Utama Pelaksanaan
Program pembelajaran individual berorientasi pada
pemberian bantuan kepada setiap siswa agar ia dapat belajar mandiri. Dalam
pelaksanaannya guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis
kesukaran belajar dan rekan diskusi.
·
Pembelajaran individual memiliki kebaikan
sebagai berikut:
a.
Materi dan sumber untuk tujuan instruksional umum dapat
disesuaikan dengan kemampuan dan latar belakang siswa.
b.
Lebih mementingkan individual bila ada masalah /
kesulitan yang dihadapi.
c.
Memungkinkan siswa belajar dengan kemampuan dan
kecepatan sendiri.
d.
Umpan balik lebih konsisten dengan kebutuhan.
·
Adapun kelemahan dari pembelajaran individual
adalah sebagai berikut:
a.
Tidak menghemat tenaga, pikiran, waktu, biaya dan
lain-lain.
b.
Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan murid karena
hidup tiap murid tidak sama.
c.
Dalam waktu yang sama memberikan pembelajaran kepada
murid yang berbeda-beda.
d.
Guru harus memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri
dengan kepribadian murid.
·
Implikasi individual terhadap pembelajaran
Adapun implikasi prinsip individual terhadap proses
pembelajaran antara lain:
a.
Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan
dapat melayani kebutuhan siswa sebagai karakteristik.
b.
Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyampaikan
pesan pembelajaran.
c.
Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat
menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Metode Penelitian
1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (Classroom
Action Research) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar
berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas
secara bersama, (Suharsimi, 2010:3). Pada hakekatnya merupakan penelitian yang
dilakukan oleh guru dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan
memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih
meningkat. Jenis penelitian mampu menawarkan pendekatan dan prosedur baru yang
lebih menjanjikan dampak langsung dalam bentuk peningkatan dan perbaikan dalam
bentuk profesionalisme guru dalam mengelola proses belajar mengajar di kelas
atau implementasi berbagai program di sekolahnya yang mengkaji berbagai
indikator keberhasilan proses dan hasil
implementasi dari berbagai program sekolah.
Perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus
selama kegiatan penelitian dilakukan. Oleh karena itu di dalam penelitian
tindakan kelas dikenal adanya siklus pelaksanaan berupa pola perencanaan,
pelaksanaan, observasi, refleksi dan revisi (perencanaan ulang) pada siklus
selanjutnya sampai mencapai target yang diinginkan.
2.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana dilakukan suatu
penelitian. Lokasi penelitian dalam hal ini adalah bertempat di sekolah MTsN 1
Mataram. Adapun batas-batas umum dari MTsN 1 Mataram adalah sebagai berikut :
a.
Sebelah utara berbatasan dengan perumahan Dinas Depag
b.
Sebelah selatan berbatasan dengan perumahan warga
c.
Sebelah barat berbatasan dengan SMKN 2 Mataram
d.
Sebelah timur berbatasan dengan MAN 2 Mataram.
Objek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa
kelas VIII3 MTsN I Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 38
orang siswa.
B. Metode Penentuan Subyek Penelitian
1. Populasi
Populasi
merupakan seluruh subyek penelitian. Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009 : 118)
populasi adalah jumlah keseluruhan subyek penelitian yang dapat terdiri dari
manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau
peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di
dalam suatu penelitian. Sedangkan menurut Sudjana (2005 : 74) populasi adalah
totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran,
kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua
anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
Adapun yang
menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN I
Mataram tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006 :
87). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang
digunakan contoh dari bagian yang lebih besar. Sedangkan menurut Sugiyono (2003
: 56) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi”.
Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah
semua siswa kelas VIII3 MTsN I Mataram Tahun Ajaran 2010/2011 yang
berjumlah 38 orang siswa.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam setiap
penelitian apapun selalu dihadapkan dengan metode pengumpulan data yang
digunakan. Metode pengumpulan data ini merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam kegiatan
penelitian. Penelitian disamping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih tehnik dan alat
pengumpulan data yang relevan. Penggunaan tehnik dan alat pengumpul data
memungkinkan diperolehnya data yang obyektif (S. Margono, 2002 : 158).
1. Tehnik Observasi
Dalam penelitian
ini menggunakan metode atau tehnik yang dinamakan tehnik pengukuran. Tehnik
pengukuran adalah alat pengumpul data yang bermaksud mengumpulkan data yang
bersifat kuantitatif (S. Margono, 2002 : 170). Dalam tehnik pengukuran ini,
alat yang digunakan adalah berupa pemberian tes.
2. Tes
Tes ialah
seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud
untuk mendapat jawaban yang dapat menjadikan skor angka (S. Margono, 2002 :
170). Adapun jenis tes yang umumnya dikenal dan digunakan sebagai alat
pengukuran adalah tes lisan dan tes tertulis. Sejalan dengan itu pada
penelitian ini lebih menghkususkan pada penggunaan tes tertulis.
Tes tertulis
yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang
aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara
tertulis pula (S. Margono, 2002 : 170). Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes
essay atau tes uraian (essay test) dan tes obyektif.
D. Jenis Dan Sumber Data
1. Jenis Data
Mengetahui jenis
data adalah hal yang mutlak dalam penelitian. Hal ini cukup beralasan karena
dengan mengetahui data tersebut peneliti dapat mencari alternatif metode apa
yang paling cocok sehubungan dengan jenis data yang tersedia. Menurut Sugiyono
(2003 : 14) “Data penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu data
kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk
kalimat, kata atau gambar. Sedangkan data kuantitatif adalah data yang
berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan (scoring)”.
2. Sumber Data
Menurut Surahmad (1998 : 134) “sumber data
menurut sifatnya digolongkan menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber
data skunder. Sumber data primer adalah sumber yang memberikan data langsung
dari tangan pertama. Sedangkan sumber data skunder adalah sumber yang dikutip
dari sumber lain”.
Berdasarkan keterangan tersebut, maka
sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer
yang diperoleh langsung dari responden melalui tes yang dijawab oleh siswa
sebagai responden.
E. Identifikasi Dan Definisi Operasional
Variabel
1. Identifikasi Variabel
Agar tidak menimbulkan
kesimpangsiuran tentang variable-variabel penelitian, maka perlu ditetapkan
variable-variabel penelitian terlebih dahulu.
Variabel merupakan objek penelitian (Arikunto, 2006:108). Variabel yang
diamati dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu satu variabel
bebas adalah kondisi atau karaktekristik yang dimanipulasi untuk menerangkan
dalam penelitian ini yaitu pembelajaran individual, sedangkan yang menjadi
variabel terikatnya yaitu aktivitas dan prestasi belajar siswa.
2. Definisi Operasional Variabel
Untuk menghindari penafsiran
yang berbeda terhadap beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini,
maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :
a) Aktivitas
Menurut
Hamid Apollo, (2002 : 23) kata aktivitas mempunyai arti sebagai berikut :
keaktifan, kegiatan, kerja atau menjadi salah satu kegiatan kerja yang
dilaksanakan dalam tiap bagian pada perkantoran, sekolah dan perusahaan atau
tempat bekerja. Dengan demikian, kata aktivitas menurut peneliti mempunyai
maksud, suatu kegiatan yang dapat dilaksanakan secara dinamis atau terus
menerus untuk mendapatkan hasil yang diharapkan atau yang menjadi tujuan
bersama.
b) Motivasi
Motivasi belajar pada dasarnya ada di dalam diri siswa.
Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan
rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar,
pelaksanaan belajar mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa.
Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar
semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar.
c) Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan
dan dikerjakan berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. (Hamid, Apollo 2002:511). Setiap
usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang tentu mengharapkan hasilnya.
Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak tentu
saja mengharapkan hasil dari usahanya itu. Hasil dari usaha belajar itulah yang
disebut dengan prestasi belajar.
d) Pembelajaran Individual
Individu berarti pribadi, orang perseorang, person
orang (nya) dan individual berarti perseorangan, tersendiri, bersifat pribadi,
person. Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda
(Djamarah, 2010:62). Dari pengertian di atas dalam kaitannya dengan
pembelajaran maka yang dimaksud dengan individu adalah siswa atau peserta didik
yang melakukan kegiatan belajar atau mengikuti proses pendidikan yang memiliki
ciri yang bervariasi.
F.
Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan
dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi. Secara rinci rancangan penelitian
setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:
Siklus I
1.
Perencanaan
Perencanaan merupakan kegiatan yang dilakukan pada siklus I
dalam penerapan pembelajaran individual. Hal yang dapat dipersiapkan sebagai
berikut:
Peneliti mensosialisasikan pengajaran dengan penerapan
pembelajaran individual pada guru IPS Terpadu dengan cara:
1)
Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2)
Menyiapkan lembar observasi
3)
Menyusun alat evaluasi
4)
Merencanakan analisis hasil tes.
2.
Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan
semua hal yang telah direncanakan pada tahap perencanaan dan direalisasikan
dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam tindakan ini adalah sebagai
berikut :
a.
Self
Intruction (berinteraksi sendiri), siswa dibimbing untuk merencanakan
kegiatan belajar, menetapkan tujuan belajar, dan membuat program belajar
b.
Independent
Study (belajar mandiri), siswa dituntut untuk melaksanaan
belajar dan mengemukakan kriteria keberhasilan belajarnya
c.
Individualized
Prescribed Intruction, artinya siswa melaksanakan suatu
yang telah ditentukan
d.
Self
Packet Learning (membuat paket belajar sendiri), siswa
dibimbing untuk membuat paket belajar sendiri dalam bentuk ringkasan atau modul
e.
Siswa mengakhiri kegiatan belajar dalam
suatu unjuk hasil belajar dengan kriteria soal test yang ditentukan oleh guru
sesuai dengan materi pembelajaran.
3.
Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan lembar observasi, dimana pada tahap ini peneliti
dan siswa diobservasi oleh guru bidang studi tentang pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar, apakah pembelajaran telah sesuai dengan skenario yang dibuat
atau tidak.
Pada akhir setiap siklus dilakukan evaluasi hasil belajar
untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang
telah dipelajari. Soal evaluasinya dalam bentuk tes essay yaitu sejenis tes
kemampuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan. Sasaran
evaluasi adalah siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar.
4.
Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama guru akan mengkaji
pelaksanaan dan hasil yang telah diperoleh dalam pemberian tindakan tiap
siklus. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah hasil observasi dan evaluasi.
Dari hasil observasi dan evaluasi siklus I, peneliti dan guru mengidentifikasi
kekurangan yang muncul untuk melakukan dan penyempurnaan pada siklus
berikutnya.
Siklus II
Siklus II dilakukan apabila pembelajaran pada siklus I belum
berhasil mencapai ketuntasan belajar dan proses belajar-mengajar belum sesuai
dengan apa yang diharapkan, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam
siklus II pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada siklus I, hanya saja
siklus II dilakukan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I.
G.
Analisa
Data
1.Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa dianalisis sebagai berikut:
Menghitung skor aktivitas siswa dengan rumus
Dengan:
A = Rata-rata skor aktivitas
siswa
X = Skor setiap deskriptor
aktivitas siswa
i = Banyaknya diskriptor
Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut:
MI = (skor tertinggi + skor terendah)
SDI = ( skor tertinggi - skor terendah)
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal.
Tabel 3.2.
Kriteria Untuk Aktivitas Belajar Siswa
Kriteria
|
Kategori
|
Mi + 1,5SDi ≤ A
|
Sangat Tinggi
|
Mi + 0,5SDi ≤ A
< Mi + 1,5SDi
|
Tinggi
|
Mi – 0,5 SDi ≤ A
< Mi + 0,5SDi
|
Cukup
|
Mi – 1,5 ≤ A <
Mi – 0,5 SDi
|
Kurang
|
A < Mi – 1,5SDi
|
Sangat kurang
|
(Nurkencana, 1999:100)
2.Data aktivitas guru
Setiap indikator prilaku guru pada penilaiannya
mengikuti aturan sebagai berikut:
BS (baik sekali) :
Jika semua (4) diskriptor yang nampak
B (baik) :
Jika ada (3) diskriptor yang nampak
C (cukup) :
Jika ada (2) diskriptor yang nampak
K (kurang) :
Jika ada (1) diskriptor yang nampak
Yang dimaksud nampak adalah ada terlihat kegiatan guru
selama mengajar di kelas yang sesuai dengan skenario yang telah disiapkan
diawal pelajaran. Kaitan antara aktivitas guru dengan hasil evaluasi siswa
yaitu makin banyak diskriptor perilaku yang nampak dalam proses mengajar maka
semakin berhasil guru itu dalam menerapkan ilmu-ilmunya sehingga siswa menjadi
senang dan tingkat pemahaman siswa meningkat.
Menghitung skor aktivitas guru
dengan rumus
Dengan:
A = Rata-rata
skor aktivitas guru
X = Skor
setiap deskriptor aktivitas guru
i = Banyaknya diskriptor
Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut:
MI = (skor tertinggi + skor terendah)
SDI = (skor tertinggi + skor terendah)
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal
Tabel 3.3. Tabel Kriteria Untuk Aktivitas Guru
Kriteria
|
Kategori
|
Mi + 1,5SDi ≤ A
|
Sangat Tinggi
|
Mi + 0,5SDi ≤ A
< Mi + 1,5SDi
|
Tinggi
|
Mi – 0,5 SDi ≤ A
< Mi + 0,5SDi
|
Cukup
|
Mi – 1,5 ≤ A <
Mi – 0,5 SDi
|
Kurang
|
A < Mi – 1,5SDi
|
Sangat kurang
|
(Nurkencana,1999:100)
3.Data Prestasi Belajar Siswa
Untuk mengetahui prestasi belajar
siswa, hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif deskriptif, yaitu dengan
rumus sebagai berikut:
Keterangan:
KK = Ketuntasan
klasikal
X = Jumlah
seluruh siswa yang memperoleh nilai minimal 70
Z = Jumlah
seluruh siswa yang mengikuti tes. (Sugiyono, 2003:97).
DAFTAR PUSTAKA
Ali
, Mohamad, 1983. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, Cet.
VIII, 1992
Aqib,
Zainal. 2003. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Insan
Cendekia: Surabaya.
Arifin
(1991). Proses Komunikasi Antara Pendidik dan Anak Didik.
Jakarta: Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.
Arikunto,
Suharsimi, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara:
Jakarta.
Arikunto,
Suharsimi, dkk. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Chalijah
Hasan, Dimensi-Dimensi Psikiologi Pendidikan. Al-Ikhlas, Surabaya,
Cet. VII, 1990.
Dimyati,
Mujiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta.
Djamarah,
Syaiful Bahri, Zain Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar.
Rineka Cipta: Jakarta.
Hamid,
Farida. 2002. Kamus Ilmiah Popular Lengkap. Apollo: Surabaya.
Hamalik, Oemar. 2001. Pendekatan Baru Strategi Belajar Mengajar
Berdasarkan CBSA. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Iskandar, 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan Dan Social
(Kuantitatif Dan Kualitatif). Jakarta : Gaung Persada Pres.
Nurkencana, 1999. Evaluasi Pendidikan. Surabaya:
Usaha Nasional.
Ngalim
Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Remaja Rosdakarya,
Bandung, Cet. V, 1991.
Sagala,
M Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta: Bandung
Sugiyono,
2003.
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
S.
Margono, 2002. Metode Penelitian Pendidikan. Rineka Cipta Jakarta
Sri
Kartanto, dkk. 2006. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu Untuk Kelas
VIII. Penerbit CV. Teguh Karya : Surakarta.


0 komentar
Poskan Komentar