Tuesday, December 11, 2012

kumpulan skripsi fisika PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK-PAIR-SHARE) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK-PAIR-SHARE) DALAM MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII
SEMESTER 2 DI SMP MUHAMMADIYAH
MATARAM TAHUN PELAJARAN
2009/2010




ABSTRAK: Masalah yang dihadapi oleh guru IPA fisika di SMP Muhammadiyah Mataram adalah kesulitan siswa dalam memahami materi dengan penggunaan model pembelajaran yang belum mengaktifkan siswa secara penuh. Selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran kelompok yang konvensional. Model pembelajaran seperti ini menyebabkan kurangnya keterlibatan seluruh siswa keterlibatan seluruh siswa dalam aktivitas pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kelas (PK). Penelitian kelas ini ditempuh dalam 2 siklus yang terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan pengajaran, evaluasi dan refleksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram tahun pelajaran 2009/2010. Tolok ukur keberhasilan penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar fisika siswa, yaitu ≥ 85% dari jumlah siswa memperoleh nilai ≥ 65. Pada siklus I persentase ketuntasan klasikal sebesar 83.33% dan skor rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 28.17 dengan kategori cukup aktif. Pada siklus II persentase ketuntasan klasikal sebesar 91.67% dan skor rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 34.77 dengan kategori sangat aktif. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan baik dari segi hasil belajar maupun aktivitas belajarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun pelajaran 2009/2010.

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dan Hasil Belajar



THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL TYPE TPS (THINK-PAIR-SHARE) TO INCREASE STUDENT
LEARNED RESULT OF VIII CLASS, SECOND
SEMESTER AT SMP MUHAMMADIYAH
MATARAM IN ACADEMIC
YEAR 2009/2010


YULI HARYANTI

ABSTRACT: The problems faced by science teachers of physics at SMP Muhammadiyah Mataram is the difficulty in understanding the material with the use of teaching models that have not enabled students fully. During this time teachers are still using the conventional model of group learning. The model of learning such as this led to a lack of involvement of all students involvement of all students in learning activities. This type of research is classroom reseach (PK). The study of this class be taken in 2 cycle consisting of the preparation phase, implementation of teaching, evaluation and reflection. The purpose of this research is to increase student learned result of VIII class, second semester at SMP Muhammadiyah Mataram in academic  year 2009/2010. Benchmark for the success of this research is to increase students' physics learning outcomes, ie ≥ 85% of the total number of students obtained a value ≥ 65. In the first cycle percentage classical completeness of 83.33% and the average score of 28.17 students' learning activities with the category quite active. In cycle II, the percentage of classical completeness of 91.67% and the average score of 34.77 students' learning activities with very active category. The results show an increase both in terms of learning outcomes and learning activities. It can be concluded that the implementation of cooperative learning model type TPS (Think-Pair-Share) can increase student learned result of VIII class, second semester at SMP Muhammadiyah Mataram in academic  year 2009/2010 .

Keywords: Cooperative Learning Tipe TPS and Learned result





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pesatnya perkembangan zaman dan adanya era globalisasi menuntut setiap manusia untuk siap menghadapi persaingan dengan manusia lain. Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap perkembangan dunia pendidikan, terutama perkembangan dalam bidang teknologi dan informasi, dimana pengetahuan tentang ilmu fisika yang sangat erat kaitannya dengan IPTEK sangat perlu untuk dikembangkan mulai dari tingkat dasar untuk dapat bersaing dan dapat bertahan dengan kondisi jaman yang selalu berkembang seiring berjalannya waktu, maka dalam proses pembelajaran harus dapat mengembangkan kemampuan siswa seutuhnya agar memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada.
Dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk bisa memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi siswa agar mencapai keberhasilan dalam belajar. Keberhasilan yang dimaksud adalah siswa dapat membangun konsep-konsep fisika dengan bahasanya sendiri, mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyelesaikan masalah-masalah fisika yang ia temukan.
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara yang dilakukan dengan guru bidang studi fisika di SMP Muhammadiyah Mataram, hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika pada kelas VIII semester 2 tahun pelajaran 2008/2009 masih sangat rendah, ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1: Data Nilai Akhir Mata Pelajaran Fisika Kelas VIII Semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009.
Jumlah Siswa
Total Nilai Akhir
Rata-Rata
Siswa Yang Tuntas
Siswa yang Tidak Tuntas
Ketuntasan Klasikal
26
1533
58,96
14
12
53,85%
Sumber: (Arsip Guru Fisika Kelas VIII SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009).

Tabel di atas menunjukan bahwa hasil belajar siswa masih banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebesar 65, sehingga ketuntasan klasikalnyapun belum tercapai.
Masalah yang dihadapi oleh siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram dalam proses belajar mengajar yaitu kesulitan siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru dengan menggunakan model pembelajaran yang belum mengaktifkan seluruh siswa. Selama ini guru masih menggunakan model pembelajaran kelompok yang konvensional. Model pembelajaran seperti ini menyebabkan keterlibatan seluruh siswa dalam aktivitas pembelajaran sangat kecil, karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi sementara yang memiliki kemampuan rendah hanya menonton saja (pasif). Hal ini berarti dalam suatu kelompok belajar masih banyak siswa yang tidak melakukan keterampilan kooperatif. Hal ini yang menyebabkan sebagian besar siswa terutama yang memiliki kemampuan rendah enggan berpikir, sehingga timbul perasaan jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran fisika. Akibat dari sikap siswa tersebut, maka hasil belajarnyapun kurang memuaskan, dalam arti tidak memenuhi batas tuntas yang ditetapkan sekolah.
Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain.
Dalam proses belajar mengajar melibatkan berbagai macam aktivitas yang harus dilakukan, terutama jika menginginkan hasil yang optimal. Salah satu cara yang dapat dipakai agar mendapatkan hasil yang optimal seperti yang diinginkan adalah memberi tekanan dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat dilaksanakan dengan memilih salah satu model pembelajaran yang tepat karena pemilihan model pembelajaran yang tepat pada hakikatnya merupakan salah satu upaya dalam mengoptimalkan hasil belajar siswa.
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berinteraksi satu sama lain adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Model pembelajaran kooperatif membantu siswa belajar mulai dari keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Ironisnya, model pembelajaran kooperatif belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang indonesia sangat membanggakan sifat gotong-royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Model Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang dapat membangun kepercayaan diri siswa dan mendorong partisipasi mereka dalam kelas adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share. Model Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share membantu siswa mengintepretasikan ide mereka bersama dan memperbaiki pemahaman. Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share cocok digunakan di SMP karena kondisi siswa SMP yang masih dalam masa remaja membuat mereka menyukai hal baru dan lebih terbuka dengan teman sebaya dalam memecahkan permasalahan yang mereka hadapi.
Dari permasalahan yang telah diuraikan diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan judul: “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII Semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010”.

1.2.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun pelajaran 2009/2010?.

1.3.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) tahun pelajaran 2009/2010.

1.4.Manfaat Penelitian
Secara garis besar hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:
1.4.1.  Manfaat penelitian secara Teoritis
Secara teoritis hendaknya hasil penelitian ini dapat menambah khasanah pengetahuan serta wawasan keilmuan bagi peneliti khususnya dan para pembaca pada umumnya.
1.4.2.  Manfaat penelitian secara Empiris/Praktis
Secara Empiris/Praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai:
1.      Bagi peneliti, peneliti memperoleh jawaban dari permasalahan yang ada dan memiliki pengalaman langsung dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share pada pembelajaran fisika.
2.      Bagi siswa, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar serta terbentuk sikap kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan suatu masalah.
3.      Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat memperoleh suatu variasi model pembelajaran yang lebih efektif dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 
4.      Bagi sekolah, penelitian ini secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta memperoleh masukan untuk proses pembelajaran berikutnya.

1.5.Definisi Operasional
Untuk menghindari pemahaman yang meluas, maka peneliti perlu memberikan penjelasan istilah terhadap judul penelitian ini. Adapun istilah yang perlu dijelaskan adalah:
1.      Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) adalah suatu model pembelajaran yang membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda untuk bekerja sama dalam memahami materi yang diajarkan.
2.      Think-Pair-Share (TPS) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari dua orang siswa (berpasangan) dalam satu kelompok untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain.
3.      Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses pembelajaran ditandai perubahan perilaku secara keseluruhan tidak hanya pada satu aspek potensi kemanusiaan saja karena turut serta dalam membentuk kepribadian seseorang.

1.6.Ruang Lingkup Penelitian
Untuk membatasi hal-hal yang akan dibahas dalam penelitian ini serta untuk memperlancar proses pelaksanaan penelitian, penulis membatasi ruang lingkup penelitian pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram tahun pelajaran 2009/2010 pada materi pokok Bunyi.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Anita Lie (dalam Isjoni, 2007) Model pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Cooperatif learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan aktivitas belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang minder dan tidak peduli pada yang lain. Model pembelajaran ini telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mata pelajaran dan berbagai usia (Isjoni, 2007)
Pada masa sekarang masyarakat pendidikan semakin menyadari pentingnya para siswa berlatih berpikir, memecahkan masalah, serta menggabungkan kemampuan dan keahlian sehingga tiga aspek yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor dapat tercapai dengan menggunakan model pembelajaran ini. Walaupun memang pendekatan ini akan berjalan dengan baik di kelas yang memiliki kemampuan merata, namun sebenarnya kelas dengan kemampuan siswa yang bervariasi lebih membutuhkan pendekatan ini. Karena dengan mencampurkan para siswa dengan kemampuan yang beragam tersebut, maka siswa yang kurang akan sangat terbantu dan termotivasi siswa yang lebih. Demikian juga siswa yang memiliki kemampuan lebih akan semakin terasah pengetahuan dan pemahamannya. Oleh sebab itu sistem kerja dalam pembelajaran ini harus terstruktur dan terencana dengan sebaik mungkin.
Cooperatif learning ini bukan bermaksud untuk menggantikan pendekatan kompetitif (persaingan). Nuansa kompetitif dalam kelas akan sangat baik bila diterapkan secara sehat. Pendekatan kooperatif ini adalah sebagai alternatif pilihan dalam mengisi kelemahan kompetisi. Kadang-kadang motivasi persaingan akan menjadi kurang sehat bila para murid saling menginginkan agar siswa lainnya tidak mampu, contohnya dalam soal yang diberikan guru. Sikap mental inilah yang dirasa perlu untuk mengalami improvement (perbaikan).
Dari beberapa definisi dan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) adalah salah satu model pembelajaran yang membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan yang berbeda untuk bekerja sama memahami materi yang diajarkan.
Prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif, antara lain: (Sanjaya, 2008)
1.      Prinsip ketergantungan positif (Positive interdependence)
Perlu disadari oleh setiap anggota kelompok bahwa keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.


2.      Tanggung jawab perseorangan (Individual Accountabillity)
Setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya. Setiap anggota harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya. Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan penilaian terhadap individu dan juga kelompok. Penilaian individu bisa berbeda, akan tetapi penilaian kelompok harus sama.
3.      Interaksi tatap muka (Face to Face Promotion Interaction)
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka, saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerjasama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota dan mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar kooperatif dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang sosial dan kemampuan akademik yang berbeda.
4.      Partisipasi dan komunikasi (Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi.




Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu: (Suprijono, 2009)
1.      Penjelasan materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama pada tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (Tim) pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2.      Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Pengelompokan dalam pembelajaran kooperatif learning bersifat heterogen. Anita Lie menjelaskan beberapa alasan lebih disukainya pengelompokan heterogen. Pertama, kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, agama, etnis dan gender. Terakhir, kelompok heterogen memudahkan pengelolaan kelas. Melalui pembelajaran dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar (sharing) informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membandingkan jawaban mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3.      Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan dengan tes atau kuis yang dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya.
4.      Pengakuan tim
Pengakuan tim (tim recognition) adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka .
Selanjutnya Jarolimek & Parker (dalam Isjoni 2007) mengatakan keunggulan yang diperoleh dalam pembelajaran kooperatif adalah:
1.      Saling ketergantungan yang positif
2.      Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu
3.      Siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas
4.      Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan
5.      Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru
6.      Memiliki banyak kesempatan untuk meng-ekspresikan pengalaman emosi dan menyenangkan.  

2.2.Model Pembelajaran Kooperatif TPS (Think-Pair-Share)
2.2.1.      Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif TPS (Think-Pair-Share)
Menurut David (dalam Ramadhan, 2009) model pembelajaran TPS (Think-Pair-Share) merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif. Tipe ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman. Tipe TPS (Think-Pair-Share) merupakan pembelajaran kooperatif yang memberi siswa banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
Dalam pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) siswa akan mengalami 3 tahap yaitu: (Febriana, 2009)
Tahap 1: Thinking (berpikir)
Pada tahap ini pembelajaran diawali dengan guru mengajukan pertanyaan atau isu terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh peserta didik. Guru memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan jawabannya.
Tahap 2: Pairing (berpasangan)
Pada tahap ini guru meminta siswa berpasang-pasangan. Memberi kesempatan kepada pasangan-pasangan itu untuk berdiskusi. Diharapkan diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkan melalui intersubjektif dengan pasangannya.

Tahap 3: Sharing (berbagi)
Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas. Dalam aktivitas ini diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengkonstruksian pengetahuan secara integratif.
2.2.2.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share)
Ada beberapa langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share), yaitu sebagai berikut:
a.       Menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa dan mempersiapkan siswa .
b.      Menyajikan materi, materi yang disajikan berupa pertanyaan atau isu kemudian meminta siswa untuk memikirkannya secara mandiri (Think).
c.       Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar, kelompok belajar ini beranggotakan dua orang siswa secara berpasangan.
d.      Membimbing kelompok bekerja atau belajar, artinya siswa diminta secara berpasangan sesuai dengan pasangan yang telah ditentukan untuk mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan (Pair).
e.       Setelah siswa mendiskusikan dengan teman kelompoknya maka beberapa pasangan kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan meminta pasangan kelompok lain untuk memberi tanggapan (Share).
Dari beberapa pendapat tentang TPS (Think-Pair-Share) di atas maka dapat disimpulkan bahwa TPS (Think-Pair-Share) adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang  terdiri dari dua orang siswa (berpasangan) dalam satu kelompok untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain.
2.3.            Hasil Belajar Fisika
Menurut Djamarah dkk (2002) dalam aktivitas belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek dalam aktivitas pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah aktivitas belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik tidak saja dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Jika hanya fisik anak yang aktif akan tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan dalam dirinya, akan tetapi tidak semua perubahan dikategorikan belajar.
Bukti bahwa seseorang telah belajar ialah adanya hasil belajar yang ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti (Hamalik, 2008).
Menurut Suprijono (2009) Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:
1)      Informasi verbal yaitu kapabalitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
2)      Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
3)      Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4)      Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5)      Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.
Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Howard Kingsley membagi 3 macam hasil belajar (1) Keterampilan dan kebiasaan (2) Pengetahuan dan pengertian (3) Sikap dan cita-cita. Hasil belajar merupakan gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar (Sanjaya, 2005).
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses pembelajaran ditandai perubahan perilaku secara keseluruhan tidak hanya pada satu aspek potensi kemanusiaan saja karena turut serta dalam membentuk kepribadian seseorang.
Menurut Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK (2008) Penilaian hasil belajar memiliki fungsi dan tujuan antara lain:

1.      Fungsi Penilaian Hasil Belajar
a.       Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan pembelajaran. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi mata pelajaran.
b.      Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran, kegiatan atau pengalaman belajar siswa, strategi pembelajaran yang digunakan guru, media pembelajaran, dll.
c.       Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya.
2.      Tujuan Penilaian Hasil Belajar
a.       Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
b.      Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran disekolah, dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral, dan keterampilan yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
c.       Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya.
d.      Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Menurut Ahmadi (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah:
1.      Faktor raw input (yakni faktor murid/anak itu sendiri) adalah kondisi individu atau anak yang belajar itu sendiri. Faktor individu dapat dibagi menjadi dua bagian:
a.       Kondisi fisiologis, seperti kesehatan dan cacat tubuh.
b.      Kondisi psikologis, beberapa faktor psikologis yang dianggap utama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu: minat, kecerdasan, bakat, motivasi dan kemampuan-kemampuan kognitif.
2.      Faktor environmental input (yakni faktor lingkungan), dapat berupa lingkungan alami ataupun lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya, juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar, seperti suara mesin pabrik, hiruk pikuk lalu lintas dan lain-lain.
3.      Faktor instrumental input adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancangkan sesuai dengan hasil belajar diharapkan, dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware), seperti gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan dan sebagainya, maupun faktor-faktor lunak (software), seperti kurikulum, guru (pengajar), bahan/program yang harus dipelajari, pedoman-pedoman belajar dan sebagainya

2.5.Kerangka Berpikir


Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) merupakan salah satu cara belajar alternatif yang dapat digunakan dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa, karena model pembelajaran tipe ini akan memancing siswa untuk lebih aktif dan berpikir kritis, siswa diberikan kesempatan lebih banyak untuk mencari sendiri pemecahan masalah dengan bekerjasama dalam kelompok yang lebih kecil sehingga mereka lebih mudah memahami materi yang diberikan dan proses belajar yang selama ini biasanya didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi tidak terjadi lagi.

2.6.Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) diharapkan Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VIII Semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010”.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kelas (PK). Penelitian kelas adalah penelitian pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas untuk perbaikan. Penelitian kelas dilakukan oleh guru beserta pengamat (observer); mungkin temannya yang memiliki keahlian dalam bidang studi. Penelitian ini disebut juga penelitian praktis, karena dalam penelitian kelas ini tidak terjadi/dilakukan prosedur penelitian sebagaimana mestinya, seperti: menentukan populasi, memilih sampel, merumuskan hipotesis, menggunakan instrumen yang baik, memilih ukuran statistik yang tepat, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan secara umum. Dalam penelitian kelas, subjek yang menjadi objek penelitian adalah siswa di kelas tertentu (Ruseffendi, http://educare.e-fkipunla.net Generated).

3.2.Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Menurut Jonathan Sarwono dalam Afifudin, dkk (2009) Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif lebih lanjut mementingkan proses dibandingkan dengan hasil akhir. Sedangkan pendekatan kuantitatif lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut didefinisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Pendekatan ini pun lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik, bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengolah hasil belajar siswa, sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mengolah data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari hasil observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru.

3.3.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Mataram pada siswa kelas VIII semester 2 tahun pelajaran 2009/2010, selama 1 (satu) bulan mulai tanggal 5 Februari sampai dengan 5 maret 2010.

3.4.Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti merancang penelitiannya berdasarkan rancangan yang telah ditetapkan dalam PK (Penelitian Kelas). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) ini dilakukan oleh guru beserta pengamat (observer) dengan mengacu pada fase-fase yang ditetapkan pada penelitian kelas (PK). Penelitian ini dirancang dalam bentuk siklus yang akan dilaksanakan dalam  (empat) fase yaitu (1) persiapan, (2) pengajaran, (3) evaluasi dan (4) refleksi. Adapun penjelasan untuk masing-masing fase adalah sebagai berikut: (Ruseffendi, http://educare.e-fkipunla.net Generated).
Fase 1: Persiapan
Dalam fase ini, guru membuat persiapan pengajaran sekaligus membuat kesepakatan dengan pengamat mengenai apa-apa yang akan dilaksanakan dalam penelitian itu. Adapun hal-hal yang perlu dipersiapkan pada fase ini yaitu:
a.       Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi langkah-langkah aktivitas dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan dengan mengacu pada model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share).
b.      Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran, berupa LKS (Lembar Kerja Siswa) ataupun alat bantu pembelajaran (ABP).
c.       Mempersiapkan instrumen penelitian, seperti pedoman observasi beserta lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar dan instrumen asesmen untuk mengukur hasil belajar siswa.
Fase 2:  Pelaksanaan Pengajaran
Pada fase ini guru mengajar sesuai dengan apa yang sudah disepakati pada fase persiapan dan mengenai kejadian atau hal-hal yang terjadi selama mengajar sebaiknya didokumentasikan melalui pengamat atau guru itu sendiri dalam bentuk data hasil pengamatan dengan mengacu pada pedoman observasi aktivitas siswa maupun pedoman observasi aktivitas guru yang sudah ditetapkan dan sudah disepakati oleh guru dan observer pada fase persiapan.


Fase 3: Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada akhir siklus dengan memberikan tes yang dikerjakan secara individu untuk mengetahui pemahaman atau pengetahuan siswa terhadap materi yang telah dipelajari.

Fase 4:   Refleksi
Pada fase ini guru dan pengamat (observer) mendiskusikan hasil observasi mengenai kejadian-kejadian selama mengajar apakah sudah sesuai dengan kesepakatan pada fase persiapan dengan berpatokan pada pedoman observasi aktivitas siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dalam fase keempat ini mungkin ditemukan hal-hal yang belum baik sehingga diperlukan perlakuan ulang guna perbaikan proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Bila demikian dapat dilakukan penelitian putaran kedua (Siklus II) yang menekankan langkah-langkah perbaikan pada siklus I.

3.5.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui cara, yaitu:
3.5.1.      Data hasil observasi diperoleh dari lembar observasi yang berisikan deskripsi tingkah laku guru terhadap siswa dan aktivitas belajar siswa saat pembelajaran berlangsung.
3.5.2.      Data hasil belajar diperoleh dengan cara memberikan tes evaluasi kepada siswa. Tes dilakukan pada setiap akhir pelaksanaan penelitian (siklus) dengan bentuk soal pilihan ganda (tes obyektif). Siswa diberi tes hasil belajar yang diadakan secara individual dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada tiap siklus.
3.6.Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.6.1.      Lembar Observasi
Lembar observasi dalam pembelajaran digunakan untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
3.6.2.      Lembar Evaluasi Hasil Belajar
Lembar Tes hasil belajar ini berisikan soal-soal yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah soal berbentuk pilihan ganda. Tes ini dibuat guna mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam menguasai materi yang telah disampaikan dan berpedoman pada kurikulum yang digunakan di sekolah tempat penelitian berlangsung yaitu KTSP, sebelum soal-soal tersebut digunakan perlu dilakukan uji coba instrumen guna untuk mengetahui baik tidaknya butir soal yang diberikan yang meliputi: uji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, daya beda dan fungsi pengecoh. 
                                                                                   
3.7.   Teknik Analisis Data
Ada dua jenis data yang dianalisis, yaitu data hasil observasi dan data hasil tes. 
3.7.1.      Data Hasil Observasi Proses Belajar Mengajar (PBM)
Data hasil observasi terdiri dari dua jenis yaitu data aktivitas siswa dan data aktivitas guru.

3.7.1.1.      Data Aktivitas  Belajar Siswa
Data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran diperoleh melalui pengamatan langsung dalam setiap pertemuan kelas yang diamati oleh observer yang mengacu pada pedoman observasi yang berisikan 8 indikator, dalam tiap indikator terdiri dari 4 deskriptor.
Data aktivitas belajar siswa selama pembelajaran dianalisis dengan cara sebagai berikut:
1.      Menentukan skor yang diperoleh siswa, skor setiap individu tergantung banyaknya perilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah indikator yang diamati, deskriptor yang diamati sebanyak 4 (empat) macam deskriptor. Skor 5 diberikan jika semua deskriptor tampak, skor 4 diberikan jika 3 deskriptor yang tampak, skor 3 diberikan jika 2 deskriptor yang tampak, skor 2 diberikan jika 1 deskriptor yang tampak, dan skor 1 diberikan jika tidak ada deskriptor yang tampak.
2.      Menghitung skor aktivitas belajar siswa dengan rumus sebagai berikut:
 ............................................................................(3.1)
Keterangan:
M   = skor rata-rata aktivitas belajar siswa
Σ xi = jumlah skor aktivitas seluruh siswa
N   = banyak siswa
Kemudian hasil dari skor aktivitas siswa tersebut dibandingkan dengan hasil dari MI dan SDI yang dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:
MI   = Mean Ideal
SDI  = Standar Deviasi Ideal
Untuk menentukan standar keaktifan siswa dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

Berdasarkan pedoman observasi aktivitas siswa diketahui skor tertinggi adalah 40 dan skor terendah adalah 8, maka nilai MI = 24 dan SDI = 5,33 sehingga interval nilai data aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.1:     Pedoman Kategori Aktivitas Belajar Siswa Untuk   Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Semester 2 SMP Muhammadiyah Mataram yang Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) Tahun Pelajaran 2009/2010.
Interval Nilai
Kategori
34,66 ≤ M ≤ 40,00
Sangat Aktif
29,33 ≤ M < 34,66
Aktif
18,67 ≤ M < 29,33
Cukup Aktif
13,34 ≤ M < 18,67
Kurang Aktif
8 ≤ M < 13,34
Sangat Kurang Aktif

3.7.1.2.      Data Aktivitas Guru
Data aktivitas guru dalam proses pembelajaran diperoleh melalui pengamatan langsung dalam setiap pertemuan di kelas oleh observer yang mengacu pada pedoman observasi yang berisikan deskriptor-deskriptor dalam indikator perilaku guru. Deskriptor yang ada dalam pedoman observasi berjumlah 3 deskriptor dalam setiap indikator perilaku guru. Untuk mengetahui aktivitas guru prinsipnya sama dengan untuk mengetahui aktivitas siswa, skor 4 diberikan jika semua deskriptor tampak, skor 3 diberikan jika 2 deskriptor yang tampak, skor 2 diberikan jika 1 deskriptor yang tampak, dan skor 1 diberikan jika tidak ada deskriptor yang tampak. Perhitungan yang diberikan sama dengan perhitungan pada data aktivitas siswa, dengan kriteria sebagai berikut, BS (baik sekali), B (baik), C (cukup), K (kurang), dan KS (kurang sekali).
Berdasarkan lembar observasi aktivitas guru diketahui skor tertinggi adalah 48 dan skor terendah adalah 12 karena data aktivitas guru dihitung dengan menggunakan rumus yang sama dengan data aktivitas siswa, maka nilai MI = 30 dan nilai SDI = 6, sehingga diperoleh interval nilai data aktivitas guru dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 3.2: Pedoman Kategori Aktivitas Guru Untuk   Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Semester 2 SMP Muhammadiyah Mataram yang Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) Tahun Pelajaran 2009/2010.
Interval Nilai
Kategori
42 ≤ M ≤ 48
Baik Sekali
36 ≤ M < 42
Baik
24 ≤ M < 36
Cukup
18 ≤ M < 24
Kurang
12 ≤ M < 18
Kurang Sekali

3.7.2.      Data hasil Evaluasi Belajar Siswa
Setelah memperoleh data evaluasi hasil belajar siswa, maka data tersebut dianalisis dengan mencari ketuntasan belajar, kemudian dianalisis secara kuantitatif. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat digunakan kriteria yaitu sebagai berikut:
3.7.2.1.      Ketuntasan Individu
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dinyatakan tuntas secara individu apabila siswa mampu memperoleh nilai ≥ 65 sebagai standar ketuntasan belajar minimal.

3.7.2.2.      Ketuntasan Klasikal
Data tes hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan hasil belajar secara klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 keatas.
Dengan rumus ketuntasan belajar klasikal adalah: (Sudjana, 2008)
…………………………………..................(3.2)
Dimana:
KK   = Ketuntasan klasikal
X      = Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 keatas
Z       = Jumlah seluruh siswa
Ketuntasan belajar klasikal tercapai jika ≥ 85% siswa memperoleh skor minimal 65 yang akan terlihat pada hasil evaluasi tiap-tiap siklus.
3.8.   Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian ini adalah tercapainya hasil dan aktivitas belajar siswa dengan ketentuan sebagai berikut:

3.8.1.      Pencapaian Hasil Belajar Siswa

Penelitian ini dipandang berhasil jika telah tercapainya persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar ≥ 85 % dari jumlah siswa yang telah mengikuti evaluasi dengan perolehan nilai sebesar ≥ 65.
3.8.2.      Pencapaian aktivitas belajar siswa
Aktivitas belajar siswa minimal berkategori aktif yaitu apabila rata-rata skor aktivitas siswa (M) mencapai interval nilai 29,33 ≤ M < 34,66.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus dengan objek penelitian adalah Siswa Kelas VIII Semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010, hasil penelitian tiap-tiap siklus adalah sebagai berikut:
4.1.1.      Siklus I
1.      Tahap Persiapan
            Pada tahap persiapan ini peneliti membuat rencana pelaksanaan  pembelajaran (RPP) (lihat pada lampiran 2), LKS (Lembar Kerja Siswa) (lihat pada lampiran 3), alat bantu pembelajaran (ABP) dan mempersiapkan instrumen penelitian berupa pedoman observasi untuk mengamati aktivitas siswa (lihat pada lampiran 4) dan aktivitas guru (lihat lampiran 6) serta instrumen asesmen untuk mengukur hasil belajar siswa.
2.       Tahap Pelaksanaan Pengajaran
            Pelaksanaan pengajaran dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, tiga kali pertemuan untuk pembelajaran dan satu pertemuan untuk evaluasi, untuk mengamati proses pembelajaran guru didampingi oleh 2 orang observer yang akan mengamati aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung, sementara lembar observasi aktivitas siswa digunakan untuk menilai aktivitas siswa dan yang menjadi pengamatnya adalah guru itu sendiri.
a.       Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I
           Data lengkap mengenai aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) pada siklus I dapat dilihat pada lampiran 5.
           Berdasarkan hasil observasi siklus I selama tiga kali pertemuan skor rata-rata siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1: Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I
Siklus I
Banyak Siswa
Skor Total
Rata-Rata
Kategori
Pertemuan I
12
309
25,75
Cukup Aktif
Pertemuan II
12
343
28,58
Cukup Aktif
Pertemuan III
12
362
30,17
Aktif
Total Skor Rata-Rata
84,50
Cukup Aktif
Skor Rata-Rata Siklus I
28,17


           Berdasarkan data di atas maka dapat diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) secara umum dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran pada siklus I.
b.      Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I
           Data lengkap mengenai aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) pada siklus I dapat dilihat pada lampiran 7.
           Berdasarkan hasil observasi pada siklus I dari 3 kali pertemuan, skor rata-rata aktivitas guru dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2: Data Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I
Pertemuan
Pengamat
Skor Total
Skor Total Pengamat I dan II
Skor Rata-Rata Pengamat I dan II
Kategori
1
I
34
70
35
Cukup
II
36
2
I
37
74
37
Baik
II
37
3
I
40
81
40,5
Baik
II
41
Total Skor Rata-Rata Pengamat I dan II
112,5
Baik
Skor Rata-Rata Siklus I
37,50


           Berdasarkan hasil observasi dari para pengamat mengenai aktivitas guru pada siklus I, guru sudah cukup mampu menciptakan pembelajaran yang baik dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif serta memotivasi siswa untuk belajar, namun disisi lain masih terdapat kekurangan-kekurangan yang mesti diperbaiki untuk siklus selanjutnya.
3.       Tahap Evaluasi
            Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini:



Tabel 4.3: Data Hasil Evaluasi Siklus I
No.
Hasil Evaluasi
Keterangan
1.
Jumlah siswa yang ikut tes
12 siswa
2.
Jumlah Soal tes
25 nomor
3.
Jumlah Siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
10 siswa
4.
Jumlah siswa yang memperoleh nilai < 65
2 siswa
5.
Rata-rata nilai siswa
68.33
6.
Persentase Ketuntasan
83.33 %


            Hasil evaluasi siklus I menunjukan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 68.33 dan persentase siswa yang mendapat nilai ≥ 65 atau telah mencapai ketuntasan belajar adalah sebesar  83.33 %. Dari data hasil evaluasi belajar ini dapat disimpulkan bahwa ketuntasan klasikalnya belum tercapai karena hanya mencapai 83.33% saja, sementara ketuntasan klasikal itu dapat tercapai apabila persentase ketuntasan belajar siswa memperoleh ≥ 85 %. Pada siklus I ini masih ada 2 siswa yang masih belum tuntas secara maksimal, memang diakui bahwa keempat siswa tersebut adalah siswa yang cukup lamban dalam menerima pelajaran terutama pelajaran fisika, sehingga perlu adanya pendekatan-pendekatan khusus kepada siswa yang bersangkutan.
4.       Tahap Refleksi
            Pada tahap ini peneliti bersama observer (pengamat) mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam proses pembelajaran pada siklus I. Sebagai acuan dalam siklus ini adalah hasil observasi dan evaluasi. Hasil evaluasi ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran pada siklus berikutnya.
            Setelah diadakan pengamatan selama aktivitas pembelajaran di dalam kelas, selanjutnya diadakan refleksi atas segala aktivitas yang telah dilakukan, hasil refleksi adalah sebagai berikut:
1.      Dalam menyampaikan materi pelajaran guru masih mendominasi, menyebabkan  siswa tidak tergerak untuk terlibat secara aktif.
2.      Sebagian siswa masih terpengaruh dengan suasana kelas, apabila ada yang membuat keributan merekapun ikut-ikutan.
3.      Sebagian siswa masih suka mengganggu siswa lain ketika mengerjakan LKS
4.      Dalam diskusi kelompok guru kurang mendorong tukar pendapat antar siswa, sehingga kelompok terlihat pasif.
5.      Guru dalam menjelaskan materi pelajaran kurang dipahami oleh beberapa siswa, terutama siswa yang lamban dalam menyerap materi, sehingga ada siswa yang diam saja sewaktu diberi pertanyaan oleh guru.
6.      Dalam diskusi kelompok siswa yang pandai mendominasi kelompoknya, akibatnya siswa yang kurang pandai menjadi pasif dan menggantungkan jawabannya kepada siswa yang pandai saja..
7.      Setelah diadakan evaluasi pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 68.33. Untuk siswa yang mendapatkan nilai < 65 sebanyak 2 orang sedangkan yang mendapatkan nilai ≥ 65 yaitu sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 83.33%.
8.      Secara garis besar, pelaksanaan siklus I berlangsung cukup baik, walaupun belum mencapai ketuntasan klasikal. Untuk itu kegiatan pembelajaran pada siklus I perlu diulang agar kemampuan siswa dalam mengerjakan soal tentang Bunyi dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan perbaikan-perbaikan.
            Dari beberapa kekurangan diatas, guru berusaha untuk memperbaiki pola ajar yang terlebih dahulu disepakati dengan para observer tentang apa-apa saja yang perlu dipersiapkan maupun dilaksanakan pada siklus selanjutnya agar mencapai hasil yang benar-benar diharapkan. Langkah-langkah perbaikan yang dilaksanakan oleh guru untuk perbaikan pada siklus II adalah:
1.         Guru bertindak sebagai fasilitator dan meminimalisir perannya yang dapat membuat siswa terlihat pasif
2.         Guru menciptakan suasana kelas yang kondusif, sehingga tidak ada lagi siswa yang mengganggu temannya selama proses pembelajaran.
3.         Memberi pemahaman kepada siswa untuk tidak mengganggu siswa lain dalam mengerjakan LKS karena akan mengganggu konsentrasi dan mempengaruhi nilai siswa yang bersangkutan.
4.         Selalu memotivasi siswa untuk saling bertukar pikiran dalam mengerjakan tugas kelompoknya, karena merupakan salah satu aspek penilaian.
5.         Ketika menyampaikan materi pelajaran guru, guru sedikit memberikan penekanan pada materi-materi yang dianggap sulit oleh siswa terutama kepada siswa yang lamban dalam menerima materi.
6.         Menyarankan kepada siswa yang pandai untuk tidak mendominasi kelompoknya, namun diberi tugas untuk membimbing anggota kelompok yang masih mengalami kesulitan.

4.1.2.      Siklus II
1.      Tahap Persiapan
            Pada siklus II tahap persiapan hampir sama dengan persiapan yang dilakukan pada siklus I,  namun tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II ini merupakan hasil refleksi dari siklus I, ini bermaksud untuk memperbaiki atau melengkapi kekurangan maupun kelemahan yang telah dilaksanakan pada siklus I.
2.       Tahap Pelaksanaan Pengajaran
            Pada siklus II pelaksanaan pengajaran yang dilakukan sama dengan siklus I yaitu sebanyak 4 kali pertemuan dan perlakuan untuk tiap-tiap pertemuan pun hampir sama dengan yang dilakukan pada siklus I, hanya saja pada siklus II diadakan perbaikan-perbaikan mengenai hal-hal yang masih kurang yang dilaksanakan oleh peneliti berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pada siklus II diperoleh data hasil observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru sebagai berikut:
a.       Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
           Hasil observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) pada siklus II memperoleh kategori sangat aktif, karena seluruh siswa mampu melaksanakan sebagian besar deskriptor-deskriptor yang ada pada lembar observasi. Data lengkap mengenai aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 14. Hasil observasi siklus II dari 3 kali pertemuan dan skor rata-rata aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4: Data Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus II
Siklus II
Banyak Siswa
Skor Total
Rata-Rata
Kategori
Pertemuan I
12
394
32,83
Aktif
Pertemuan II
12
420
35,00
Sangat Aktif
Pertemuan III
12
438
36,50
Sangat Aktif
Total Skor Rata-Rata
104,33
Sangat Aktif
Skor Rata-Rata Siklus II
34,77


b.      Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus II
           Data lengkap mengenai aktivitas guru selama proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 15.
           Berdasarkan hasil observasi pada siklus II dari 3 kali pertemuan, skor
3.       Tahap Evaluasi
            Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6: Data Hasil Evaluasi Siklus II
No.
Hasil Evaluasi
Keterangan
1.
Jumlah siswa yang ikut tes
12 siswa
2.
Jumlah soal tes
24 nomor
3.
Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
11 siswa
4.
Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≤ 65
1
5.
Rata-rata nilai siswa
73,60
6.
Persentase ketuntasan
91,67 %


            Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa masih ada 1 siswa yang belum tuntas, dari hasil observasi memang siswa ini kurang cepat dalam menyerap materi, meskipun sudah dilakukan perbaikan-perbaikan untuk mengatasinya. Hasil evaluasi siklus II menunjukan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 73,60 dan persentase siswa yang mendapat nilai ≥ 65 adalah 91,67%. Dari data hasil evaluasi belajar ini dapat disimpulkan bahwa ketuntasan klasikalnya sudah tercapai dengan sangat baik, ini menunjukan bahwa dengan perbaikan-perbaikan yang dilakukan pada siklus II dapat menghasilkan peningkatan yang sangat signifikan terhadap hasil belajar siswa, sehingga penelitian berakhir pada siklus II.
4.       Refleksi
            Hasil refleksi atas pelaksanaan siklus II, dihasilkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Suasana kelas tertib, terkendali dan kondusif. Dengan demikian proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.
2.      Siswa bertambah terampil dalam menyelesaikan LKS secara individu maupun kelompok (Pasangan).
3.      Seluruh siswa aktif dalam melaksanakan kerja kelompok tanpa membedakan yang pandai dan yang kurang pandai.
4.      Siswa sudah memanfaatkan waktu dengan baik untuk berdiskusi dengan pasangannya.
5.      Keberanian siswa semakin tumbuh. Sebagian besar siswa mengacungkan jarinya terlebih dahulu untuk menjawab petanyaan.
6.      Siswa yang menjadi penyaji hasil diskusi tampak sungguh-sungguh dan percaya diri, sehingga kelompok lain menanggapinya dengan penuh perhatian.
            Siklus II dipandang sudah cukup baik, karena 91,67% siswa memperoleh nilai lebih dari 65 sehingga sudah mencapai ketuntasan klasikal. Berdasarkan temuan hasil refleksi dalam siklus II ini secara keseluruhan pembelajaran fisika dengan materi pokok Bunyi berlangsung dengan baik. Hasil belajar siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Mataram Tahun Pelajaran 2009/2010 pada materi pokok Bunyi dapat ditingkatkan. Hal ini tampak dari analisis hasil evaluasi yang telah dilakukan setelah pelaksanaan siklus II.

4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian, observasi proses belajar mengajar pada siklus I keaktifan siswa dan antusiasme siswa sudah mencapai kategori aktif dalam pembelajaran di kelas, namun siswa belum mampu melakukan keterampilan kooperatif, siswa masih terkesan bersifat individual dan belum sepenuhnya saling menghargai pendapat pasangannya masing-masing sehingga hasil belajarnya belum mendapatkan hasil yang memuaskan, disamping itu guru juga sudah melakukan pengajaran dengan cukup baik akan tetapi masih ada hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus II.
Dari hasil evaluasi siklus I menunjukkan bahwa persentase siswa yang tuntas belajar sebanyak 83.33%, dengan nilai rata-rata 68.33. Walaupun belum mencapai ketuntasan klasikal, namun nilai rata-rata siswa telah melebihi rata-rata hasil belajar tahun sebelumnya yaitu 58,96. Belum tercapainya ketuntasan klasikal tersebut hal ini disebabkan karena masih banyak kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam proses pembelajaran baik dari siswa maupun dari guru. Siswa belum dapat memanfaatkan kesempatan dalam berdiskusi dengan pasangannya dan belum terbiasa bekerja sama dengan pasangan sehingga tugasnya dipercayakan pada anak yang paling pandai dalam pasangannya.
            Hasil refleksi siklus I mengisyaratkan perbaikan pada pelaksanaan pengajaran pada siklus selanjutnya antara lain bahwa peran guru dalam mengorganisasikan aktivitas-aktivitas belajar siswa perlu dioptimalkan dan yang tidak kalah pentingnya guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan supaya siswa tidak mengalami kejenuhan dalam mengikuti pelajaran.
            Pada siklus II guru berupaya meningkatkan keterlibatan siswa dan membangkitkan respon siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil analisis data diperoleh bahwa hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal yaitu dengan persentase 91,67% dengan rata-rata 73,60. Hasil pengamatan pada siklus II ini menunjukkan peningkatan aktivitas siswa dalam aktivitas pembelajaran dan adanya perubahan positif yang cukup signifikan, terutama meningkatnya respon siswa pada mata pelajaran fisika khususnya konsep Bunyi. Pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil belajar siswa, peningkatan siswa tersebut dapat dilihat pada aspek daya ingat materi prasarat, pemahaman konsep dan prinsip, kemampuan berfikir dalam menjawab persoalan baik secara individu maupun berkelompok, kualitas diskusi, semangat belajar dan peran serta dalam kelompok. Hal tersebut menandakan meningkatnya keaktifan dan respon siswa, sehingga dapat membangkitkan minat dan pemahaman dalam belajar fisika. Berdasarkan analisis hasil penelitian di atas maka peneliti beserta observer merefleksi bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil evaluasi sudah mencapai standar ketuntasan klasikal bahkan lebih yaitu 91,67%, hal ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa mampu mencapai standar kriteria ketuntasan minimal (KKM), begitu pula dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa selalu terjadi peningkatan tiap pertemuannya dan pada akhir pertemuan pada siklus II seluruh siswa dapat melaksanakan semua deskriptor yang ada. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun disisi lain untuk kedepan guru harus tetap membuat gebrakan-gebrakan baru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) agar siswa tidak bosan dengan model pembelajaran yang diterapkan.
Dengan perolehan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan materi pokok Bunyi kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram tahun pelajaran 2009/2010.


BAB V
PENUTUP

5.1.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII semester 2 di SMP Muhammadiyah Mataram tahun pelajaran 2009/2010, karena dengan penerapan model pembelajaran ini siswa termotivasi untuk lebih berperan aktif serta timbul rasa kebersamaan siswa untuk saling mengisi kekurangan masing-masing dalam memahami materi yang dipelajari hal ini dapat dilihat dari analisis data aktivitas belajar siswa untuk setiap pertemuannya selalu mengalami peningkatan sehingga pada siklus II ketuntasan belajar siswa dapat tercapai yaitu sebesar 91,67 %.

5.2.      Saran
Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang hendak penulis berikan yaitu:
1.      Bagi Guru
·         Perlu adanya motivasi dari guru dalam meningkatkan keaktifan dan kesiapan belajar siswa, karena pada penelitian ini menunjukan hasil yang lebih baik, maka diharapkan agar menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) pada populasi yang lebih besar.
·         Dalam upaya meningkatkan aktivitas belajar mengajar dan situasi pembelajaran yang menyenangkan disarankan agar model pembelajaran dan penggunaan alat bantu pelajaran semaksimal mungkin dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
2.      Bagi Peneliti selanjutnya
Apabila ingin menerapkan model pembelajaran ini, agar disesuaikan dengan kondisi siswa dan sekolah tempat diadakan penelitian.
3.       Bagi SMP Muhammadiyah Mataram
Dapat dijadikan sebagai alternatif guna melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik pada mata pelajaran fisika maupun mata pelajaran yang lain.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar untuk Fakultas Tarbiyah. Bandung: Pustaka Setia.

Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK. 2008. Penilaian Hasil Belajar.  http://lpmpjogja.diknas.go.id/materi/fsp/2009-Pembekalan-Pengawas.pdf. Diakses pada tanggal 16 Juli 2010

Djamarah, Syaiful Bahri, dkk. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Febriana, Dini. 2009. “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII MTs NW Teros Tahun Ajaran 2008/2009 Pada Materi Pokok Himpunan”. Skripsi. Mataram: IKIP Mataram.

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.
Iskandar. 2009. Metodelogi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta.

Kanginan, Marthen. 2007. IPA Fisika Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.

Karim, Saeful, dkk. 2008. Belajar IPA Membuka Cakrawala Alam Sekitar untuk Kelas VIII SMP/MTS. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Ramadhan, Suci. 2009. ”Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII Semester II SMP N 14 Mataram pada Materi Pokok Persegi Panjang Tahun Pelajaran 2008/2009”. Skripsi. Mataram: IKIP Mataram

Ruseffendi. Penelitian Kelas. EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya http://educare.e-fkipunla.net Generated, diakses tanggal 18 January 2010.

Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tim Penyusun. 2006. Pedoman Penulisan Skripsi. Mataram: FPMIPA IKIP Mataram.

Tim Sains Fisika. 2004. Sains Fisika 2 Untuk SMP Kelas VIII. Semarang: Aneka Ilmu.



PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK-PAIR-SHARE) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!