TINJAUAN PENERAPAN AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN SEBAGAI PENGUKUR PRESTASI
MANAJER PUSAT LABA PADA PT. COLUMBINDO PERDANA SUB CABANG DKI PUBAR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Persediaan
merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali atau
diproses lebih lanjut menjadi barang untuk dijual. Perusahaan dagang maupun
perusahaan industri pada umumnya mempunyai persediaan yang jumlah, jenis serta
masalahnya tidaklah selalu sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan
yang lainnya. Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa hampir pada semua
perusahaan, persediaan merupakan harta milik perusahaan yang cukup besar atau
bahkan terbesar jika dibandingkan dengan harta lancar lainnya. dan persediaan
juga merupakan elemen yang paling banyak menggunakan sumber keuangan perusahaan
yang perlu disediakan agar perusahaan dapat beroperasi secara layak sebagaimana
mestinya.
Begitu
pentingnya peranan persediaan dalam operasi perusahaan sehingga perlu diadakan
metode penilaian persediaan yang tepat untuk memperoleh hasil usaha yang sesuai
dengan periode pembukuannya. Selain itu manajemen perusahaan juga perlu
mempunyai sistem pengendalian intern yang baik yang dapat menjalin keamanan
persediaan milik perusahaan itu sendiri. Dengan adanya pengendalian intern maka
akan segera diketahui pada ketidakberesan dalam perusahaan. Disamping itu,
persediaan juga mempunyai aspek ganda yaitu disajikan dalam bentuk neraca atau
merupakan persediaan neraca sebagai aktiva perusahaan juga disajikan dalam
perhitungan rugi laba sebagai elemen harga pokok. Oleh karena itu kesalahan
dalam menentukan nilai persediaan, bukan saja akan mengakibatkan kesalahan
dalam pos neraca, akan tetapi juga dalam pos rugi laba perusahaan baik untuk
periode sekarang maupun untuk periode selanjutnya. Dan pada akhirnya, pembaca
laporan keuangan tersebut akan keliru atau salah dalam menafsirkan keadaan
posisi keuangan perusahaan tersebut.
Demikian
pula halnya pada PT. Vedem Putra Sakti dimana fungsi persediaan sangat
mempengaruhi terhadap operasi-operasinya. Kegagalan atas pencatatan persediaan
akan berakibat kerugian pula terhadap perusahaan.
Berdasarkan
uraian-uraian diatas, telah mendorong penulis untuk memilih masalah
pengendalian intern sebagai obyek penulisan skripsi, khususnya pada PT. Vedem
Putra Sakti dengan judul “PEMERIKSAAN
PENGENDALIAN INTERN PERSEDIAAN PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI”.
B. Perumusan Dan Pembatasan Masalah
Oleh
karena siklus akuntansi persediaan cukup luas jangkauannya maka penulis hanya
akan membahas mengenai persediaan barang dagang saja, yaitu teknik pemeriksaan
persediaan yang dilakukan oleh PT. Vedem Putra Sakti dari hasil produksi sampai
dengan penjualan ke konsumen.
Masalah-masalah
yang sering kali dihadapi dalam persediaan, dan yang perlu untuk kita bahas,
diantarannya yaitu :
1. Terhentinya proses produksi, karena
kurangnya persediaan bahan baku pada waktu dibutuhkan.
2. Kerusakan terhadap persediaan.
3. Penyelewengan dan pencurian yang kemungkinan
besar akan terjadi.
Masalah-masalah
itu menarik untuk dibahas lebih lanjut dan membutuhkan suatu penelitian khusus
untuk hal tersebut di atas.
C. Metode Penelitian
Dalam rangka
mempersiapkan penyusunan skripsi, metode penelitian yang digunakan untuk
mengumpulkan data, fakta dan keterangan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan
masalah yang akan dibahas, maka penulis melakukan penelitian dengan cara :
1. Penelitian
Perpustakaan (Library Research)
Didalam penelitian ini penulis
mempelajari masalah berdasarkan atau bersumberkan pada literatur, teori-teori
dan buku-buku yang berada dalam perpustakaan. Penelitian yang dilakukan ini,
dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan maupun data secara teoritis untuk
penyusunan skripsi ini.
2. Penelitian
Lapangan (Field Research)
Pada metode ini dilakukan riset
pada PT. Vedem Putra Sakti dan data-data diperoleh melalui :
a. Wawancara
(Interview)
Yaitu
mengadakan wawancara langsung kepada para pimpinan perusahaan serta staf yang
berkompeten dalam perusahaan untuk memperoleh data yang diperlukan oleh
penulis.
b. Observasi
Yaitu mengadakan pengamatan
secara langsung terhadap kegiatan pengembangan dan pengelolaan perusahaan,
sehingga dengan demikian data yang diperoleh akan lebih obyektif. Selanjutnya
dengan data yang diperoleh dari hasil library research dan field research
tersebut akan dipakai penulis sebagai bahan materi penulisan.
D. Sistematika Penulisan
Sebagaimana
gambaran umum dalam penyusunan skripsi ini sesuai dengan judul, penulis
menyusun pembabakannya dari ringkasan setiap isi, dan bab per bab yang dibagi
dalam lima bab yang diawali dari :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini
penulis menguraikan alasan pemilihan judul, perumusan dan pembatasan masalah, metode penelitian
data guna penyusunan skripsi ini dan sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Dalam bab
ini penulis menguraikan mengenai pengertian pengendalian intern, pengertian dan
penggolongan persediaan, evaluasi pengendalian intern dan pencatatan persediaan
kertas kerja pemeriksaan dan laporan pemeriksaan persediaan.
BAB III : TINJAUAN UMUM PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI
Dalam bab
ini penulis mencoba untuk menguraikan tentang sejarah berdirinya PT. Vedem
Putra Sakti, struktur organisasi dan uraian tugas dan bidang usaha perusahaan.
BAB IV : PEMERIKSAAN PENGENDALIAN INTERN
Dalam bab
ini penulis membahas tentang prosedur penerimaan dan pengeluaran persediaan,
evaluasi pengendalian intern persediaan, kertas kerja pemeriksaan serta laporan
persediaan.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
Pada bagian
ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari pembahasan yang
diuraikan diatas serta saran-saran yang dianggap perlu dalam usaha menuju
perbaikan dan kesempurnaan.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA
1. Sistem Pengendalian Manajemen
1.1. Pengertian Sistem Pengendalian Manajemen
Peranan manajemen dalam pengendalian disebut
“Pengendalian Manajemen” dan sistem yang digunakan seperti mengumpulkan dan
menganalisis informasi, mengevaluasi dan memanfaatkannya serta
tindakan-tindakan lain untuk melakukan pengendalian disebut sistem pengendalian
manajemen.
Sistem pengendalian
(control system) dalam organisasi berfungsi seperti otak pada pengemudi mobil
yang mengarahkan dan menuntun organisasi ke tujuan yang diinginkan.
Pengendalian manajemen mencakup sistem pengendalian manajemen yang terdiri dari
struktur penataan organisasi, wewenang, tanggungjawab dan konsepsi informasi
untuk memudahkan pelaksanaan pengendalian dan suatu proses atau seperangkat
tindakan yang dilakukan
untuk memastikan bahwa
organisasi bekerja untuk mencapai tujuannya.
1.2. Tahap-Tahap Sistem Pengendalian Manajemen
Proses pengendalian manajemen
melibatkan komunikasi informal dan interaksi antara manajer dengan karyawan,
untuk melengkapi pengendalian informal. Perusahaan juga mempunyai sistem
pengendalian formal yang meliputi tahap-tahap yang saling berkaitan sebagai
berikut :
a. Pemrograman
Pemograman
adalah proses memilih program tertentu untuk kegiatan-kegiatan organisasi
program menggambarkan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan organisasi dalam
rangka pelaksanaan strategi. Pada perusahaan yang berorientasi pada laba,
setiap produk atau lini produk (product line) merupakan program.
b.
Penganggaran (budgeting)
Anggaran operasi
sebenarnya adalah rencana
tindakan yang dinyatakan dalam satuan uang, pada proses penganggaran,
penyusunan dilakukan dengan mengumpulkan anggaran bagian dan divisi yang
merupakan tanggungjawab para managernya.
Proses
penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan negosiasi antara manajer pusat
pertanggungjawaban dengan atasannya untuk menerapkan apa yang harus dilakukan
manajer dan bagaimana caranya.
c. Operasi dan pengukuran
Selama
periode operasi aktual, pencatatan dilakukan terhadap sumber daya yang
digunakan, dinyatakan sebagai biaya dan pendapatan yang diperoleh. Catatan ini
dilakukan sedemikian hingga setiap data biaya dan pendapatan diklasifikasikan
menurut program dan pusat pertanggungjawaban data yang diklasifikasikan
digunakan sebagai dasar pemrograman yang akan datang. Untuk tujuan terakhir
data aktual dari hasil dilaporkan dengan cara yang memungkinkan perbandingan
dengan anggaran.
d. Pelaporan dan analisis
Sistem pengendalian manajemen
berfungsi sebagai alat komunikasi. Informasi yang
dikomunikasikan terdiri dari data akuntansi maupun non-akuntansi.
Pelaporan
juga digunakan sebagai alat pengendalian beberapa diturunkan dari analisis yang
mengembangkan rencana dan membandingkan hasil aktual dengan hasil yang
direncanakan. Berdasarkan laporan formal ini dan juga berdasarkan informasi
yang diterima lewat saluran non-formal, manajer memutuskan apa yang harus
dilakukan.
B. Akuntansi Pertanggungjawaban
1. Pengertian Akuntansi Pertanggungjawaban
Organisasi
dibentuk oleh para pemimpin tertinggi yang membagi kegiatan dan menetapkan
suatu hirarki para manajer yang mengatur lingkup kegiatan yang ditetapkan lebih
dahulu dan yang memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan. Akuntansi pertanggungjawaban
dipergunakan untuk mengartikan setiap unit kerja dalam organisasi yang dipimpin
oleh seorang manajer yang bertanggung jawab. Dalam kaitan ini satu organisasi
diumpamakan sebagai kumpulan beberapa
pusat pertanggungjawaban.
Keseluruhan
pusat pertanggungjawaban ini membentuk hirarki dalam organisasi tersebut. Pada
tingkat paling rendah bentuk pertanggungjawaban ini kita dapatkan sebagai
seksi, regulernya bergilir, serta unit-unit kerja lain. Sedangkan pada tingkat
yang lebih tinggi kita dapatkan dalam bentuk departemen-departemen ataupun
divisi-divisi yang biasanya merupakan kumpulan beberapa unit yang lebih kecil
dari organisasi tersebut ditambah dengan staff serta tenaga manajemen lainnya.
Akuntansi pertanggungjawaban memiliki daya tarik bagi kebanyakan pimpinan
karena dapat memudahkan pelimpahan (delegasi) pengambilan keputusan, sebagai
setiap manajer menengah diberi kekuasaan atas suatu bagian yang lebih kecil
(sub unit) bersama-sama dengan suatu wewenang dan hal lain akuntansi
pertanggungjawaban memberikan sarana-sarana dasar untuk mengadakan evaluasi
atas kemampuan setiap manajer sebagai pimpinan tertinggi akan mendapatkan
informasi yang kuat. Akuntansi pertanggungjawaban menekankan pertanggungjawaban
sampai ke pihak yang memiliki keterangan yang paling lengkap.
Pengertian
akuntansi pertanggungjawaban telah banyak dibahas dalam literatur khususnya
akuntansi manajemen. Beberapa pakar akuntansi lebih banyak menulis dibidang
akuntansi pertanggungjawaban sebagai berikut di bawah ini menurut Charles T.
Hongren :
“Akuntansi
pertanggungjawaban adalah suatu sistem akuntansi yang mengakui berbagai pusat
pertanggungjawaban pada keseluruhan organisasi
dan mencerminkan rencana dan tindakan setiap pusat itu dengan menetapkan
penghasilan dan biaya tertentu bagi pusat yang memiliki tanggungjawab yang
bersangkutan disebut juga akuntansi keuntungan atau akuntansi kegiatan”. (1993,
hlm. 307)
Menurut H.S. Hadibroto,
memberikan definisi sebagai berikut :
“Akuntansi
pertanggungjawaban adalah sistem akuntansi yang disesuaikan agar manajemen
dapat melakukan pengawasan efisiensi untuk sesuatu bagian tertentu ataupun
untuk petugas-petugas yang bertanggung jawab terhadap efisiensi biaya yang
menjadi tanggungjawab”. (1991, hlm. 6)
Berdasarkan
dari definisi di atas, maka penulis mencoba mengambil kesimpulan
bahwa akuntansi pertanggungjawaban adalah :
a. Suatu
sistem akuntansi yang
ada dalam suatu
organisasi berfungsi sebagai alat pengawasan manajemen.
b. Suatu sistem akuntansi yang menyusun
dan melaporkan pendapatan dan biaya untuk pusat pertanggungjawaban.
2. Fungsi Akuntansi Pertanggungjawaban
Akuntansi
pertanggungjawaban menurut fungsinya adalah sebagai alat penilaian kinerja dan
memberikan atau menghasilkan arus balik sehingga operasi diwaktu yang akan
datang dapat ditingkatkan.
a.
Penilaian Kinerja Pusat Pendapatan
Informasi akuntansi yang dipakai
sebagai ukuran kinerja manajer pusat pendapatan adalah pendapatan. Jika pusat
pendapatan hanya menjual produk atau jasanya kepada pihak luar perusahaan,
pengukuran pendapatan dilaksanakan dengan mudah, yaitu dengan cara mengalikan
kuantitas produk atau jasa yang dijual dengan harga jual yang dibebankan kepada
pelanggan. Untuk pengukuran kinerja pusat pendapatan, seluruh pendapatan baik yang
berasal dari transaksi penjualan produk atau jasa kepada pusat
pertanggungjawaban lain dalam perusahaan, dipakai sebagai tolok ukur kinerja
pusat pendapatan.
b.
Penilaian Kinerja Pusat Biaya
Informasi akuntansi yang dipakai
sebagai ukuran kinerja manajer pusat biaya adalah biaya. Masalah yang timbul
dalam penggunaan biaya sebagai ukuran kinerja manajer pusat biaya adalah :
1). Masalah
perilaku biaya
Seringkali
terdapat keracunan antara variabilitas dengan terkendalikan atau tidaknya suatu
biaya. Variabilitas biaya merupakan perilaku biaya dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan. Sedang terkendalikan atau tidaknya biaya
bersangkutan dengan hubungan biaya dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer
tertentu. Anggapan bahwa biaya variabel sebagai biaya terkendali dan biaya
tetap sebagai biaya tidak terkendalikan oleh manajer pusat laba adalah
pandangan yang salah. Dalam menentukan terkendalikan atau tidaknya biaya, perlu
dihubungkan antara biaya tertentu dengan wewenang yang dimiliki oleh manajer pusat
biaya tersebut.
2) Masalah hubungan biaya dengan pusat biaya
Dalam
hubungannya dengan pusat biaya, biaya dibagi menjadi dua : biaya langsung dan
biaya tidak langsung. Biaya langsung merupakan biaya yang manfaatnya hanya
dinikmati oleh pusat biaya tertentu. Biaya tidak langsung merupakan biaya yang
manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu pusat biaya. Dalam pengukuran kinerja
pusat biaya, biaya langsung maupun biaya tidak langsung yang diperhitungkan
sebagai ukuran kinerja harus berapa biaya terkendalikan oleh manajer pusat
biaya tersebut. Biaya terkendalikan adalah biaya langsung dan biaya tidak
langsung yang dapat
dipengaruhi secara signifikan
oleh manajer dengan wewenang yang dimilikinya.
3) Masalah jangka waktu
Dalam
jangka panjang, semua biaya pada dasarnya dapat dikembalikan oleh manajer
tertentu dalam organisasi perusahaan. Biaya kebijakan merupakan biaya
terkendalikan dalam jangka pendek. Namun perlu disadari bahwa ada beberapa
biaya yang memiliki tingkat terkendalikan untuk jangka pendek maupun jangka
panjang.
4) Masalah tanggungjawab ganda
Dalam
pengukuran kinerja manajer pusat biaya, yang berada dibawah wewenang lebih dari
satu manajer pusat biaya, digunakan untuk mengukur kinerja masing-masing
manajer pusat biaya yang terkait. Manajer pusat biaya penghasil jasa
bertanggung jawab atas dihasilkannya jasa dengan biaya yang minimum, sedangkan
manajer pusat biaya pemakai bertanggung jawab dalam meminimumkan penggunaan
jasa pusat penghasil jasa.
c.
Penilaian Kinerja Pusat Laba
Pusat
laba adalah pertanggungjawaban yang manajernya diberi wewenang untuk
mengendalikan perusahaan dan biaya pusat pertanggungjawaban tersebut. Karena
laba, yang merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, tidak dapat berdiri
sendiri sebagai ukuran kinerja pusat laba, maka laba perlu dihubungkan dengan
investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
d. Penilaian
Kinerja Pusat Investasi
Pusat investasi adalah pusat
pertanggungjawaban dalam suatu organisasi yang manajernya dinilai prestasinya
atas dasar laba yang diperoleh dihubungkan dengan investasinya. Sumber dana
yang dimiliki oleh suatu perusahaan biasanya terbatas, oleh karena itu
manajemen harus menilai apakah laba yang dihasilkan oleh suatu divisi dan suatu
perusahaan secara keseluruhan sepadan dengan investasinya. Pengukuran prestasi
pusat investasi mempunyai tujuan sebagai berikut :
1) Menyediakan alat evaluasi proyek investasi
masa lalu dan masa yang akan datang, baik secara individual maupun secara
keseluruhan.
2) Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi
manajer divisi dan manajer kantor pusat untuk membuat keputusan investasi yang
tepat bagi divisi dan perusahaan secara keseluruhan.
3) Memotivasi manager divisi agar selalu
memonitor aktiva, utang dan modal divisi yang digunakan sebagai dasar penentuan
besarnya investasi.
4) Mengukur prestasi manager pusat investasi dan
mengukur prestasi divisi sebagai suatu kesatuan ekonomi.
5) Sebagai dasar pemberian insentif pada setiap
manajer pusat investasi sesuai dengan prestasinya masing-masing.
3. Konsep Dasar Akuntansi Pertanggungjawaban
Konsep-konsep
di bawah ini adalah syarat untuk membentuk dan mempertahankan sistem akuntansi
pertanggungjawaban :
a. Akuntansi
pertanggungjawaban didasarkan atas pengelompokan tanggungjawab
(departemen-departemen) manajerial pada setiap tingkat dalam suatu organisasi
dengan tujuan membentuk anggaran bagi masing-masing departemen. Individu yang
mengepalai klasifikasi pertanggungjawaban harus bertanggung jawab dan
mempertanggungjawabkan biaya-biaya menurut biaya yang dapat atau tidak dapat
dikendalikan oleh kepala departemen ke departemen. Umumnya biaya-biaya yang
secara langsung dapat dibebankan ke departemen, kecuali biaya tetap, merupakan
biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer departemen tersebut.
b. Titik
awal dari sistem akuntansi pertanggungjawaban terletak pada bagian organisasi
dimana ruang lingkup wewenang telah ditentukan. Wewenang mendasari
pertanggungjawaban biaya tertentu dan dengan pertimbangan serta kerja sama
antara penyelia, kepala departemen, atau manajer, biaya tersebut dituangkan
dalam anggaran perusahaan.
c. Setiap
anggaran harus secara jelas menunjukan biaya yang terkendali oleh personal yang
bersangkutan. Bagan perkiraan harus disesuaikan supaya dilakukan pencatatan
atas beban terkendali atau yang ditanggungjawabi berdasarkan dalam cakupan
wewenang yang dilimpahkan.
4. Kegunaan Akuntansi
Pertanggungjawaban
Kegunaan
akuntansi pertanggungjawaban bagi manajemen adalah :
a.
Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
dasar penyusunan anggaran.
Proses
penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penetapan peran dalam usaha
pencapaian sasaran perusahaan. Dalam proses penyusunan anggaran diterapkan
siapa yang akan berperan dalam melaksanakan sebagian aktivitas pencapaian
sasaran perusahaan dan ditetapkan pula sumber daya yang disediakan untuk
memungkinkan manajer berperan dalam usaha pencapaian sasaran perusahaan
tersebut diukur dengan satuan moneter standar yang berupa informasi akuntansi.
Oleh karena itu, penyusunan anggaran hanya mungkin dilakukan jika tersedia
informasi akuntansi pertanggungjawaban, yang mengukur berbagai nilai sumber
daya yang disediakan bagi setiap manajer yang berperan dalam usaha pencapaian
sasaran yang telah ditetapkan dalam tahun anggaran. Dengan demikian, anggaran
yang berisi informasi akuntansi pertanggungjawaban yang mengukur nilai sumber
daya yang disediakan selama tahun anggaran bagi manajer yang diberi peran untuk
mencapai sasaran perusahaan. Dalam proses penyusunan anggaran, informasi
akuntansi pertanggungjawaban berfungsi sebagai alat pengiriman peran kepada
manajer yang diberi peran dalam pencapaian sasaran perusahaan.
b.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban sebagai penilaian kinerja manajer
pertanggungjawaban.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban merupakan informasi yang penting dalam proses
perencanaan dan pengendalian aktivitas organisasi, karena informasi tersebut
menekankan hubungan antara informasi dengan manajer yang bertanggung jawab
terhadap perencanaan dan realisasinya. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara
memberikan peran bagi setiap manajer untuk merencanakan pendapatan dan atau
biaya yang menjadi tanggung jawabnya, dan kemudian menyajikan informasi
realisasi pendapatan dan atau biaya tersebut menurut manajer yang bertanggung
jawab. Dengan demikian, informasi akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan
skor yang dibuat untuk melaksanakan peran manajer tersebut dalam mencapai
sasaran perusahaan.
c.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban sebagai pemotivasi manajer.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban merupakan bagian yang signifikan, sebagian
informasi akuntansi ini akan berdampak terhadap motivasi manajer melalui dua
jalur berikut ini :
-
Menimbulkan
pengaruh langsung terhadap motivasi manajer dengan mempengaruhi kemungkinan
usaha diberi penghargaan. Jika struktur penghargaan sebagian didasarkan atas
informasi akuntansi, maka manajer akan berkeyakinan bahwa kinerjanya yang
diukur dengan informasi akuntansi pertanggungjawaban (informasi masa lalu) akan
diberi penghargaan yang sebagian kinerja atas informasi akuntansi. Kemungkinan
kinerja akan memperoleh penghargaan ini yang memotivasi manajer untuk
meningkatkan usaha.
-
Secara
tidak langsung akuntansi pertanggungjawaban berdampak terhadap motivasi melalui
nilai penghargaan. Informasi akuntansi pertanggungjawaban (berupa informasi
masa lalu) yang digunakan untuk mengukur kinerja manajer. Jika struktur
penghargaan sebagian besar didasarkan atas informasi akuntansi, manajer akan
memperoleh kepuasan. Kepuasan atas penghargaan yang diterimanya dipengaruhi
oleh penilaian manajer atas kepantasan penghargaan tersebut. Tinggi rendahnya
kepuasan manajer atas penghargaan yang diterimanya berdampak atas tinggi
rendahnya nilai penghargaan. Faktor yang terakhir ini berdampak terhadap
motivasi manajer untuk berusaha.
d.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pengelolaan aktivitas. Manajemen
memerlukan pemisahan aktivitas penambahan dan bukan penambah nilai dan
identifikasi sumber daya yang dikonsumsi oleh kedua tipe aktivitas tersebut.
Dengan menyajikan informasi biaya yang dipisahkan ke dalam biaya penambah dan
bukan penambah nilai, manajemen dapat :
-
Memperoleh
informasi biaya bukan penambah nilai yang menggambarkan besarnya pemborosan
yang sekarang dialami oleh perusahaan dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
-
Memperoleh
biaya-biaya bukan penambah nilai yang memungkinkan mereka memusatkan
pengendalian mereka terhadap aktivitas bukan penambah nilai.
-
Memperoleh
informasi biaya-biaya penambah nilai yang memungkinkan mereka melakukan
penyempurnaan efisiensi aktivitas penambah nilai.
e.
Informasi
akuntansi pertanggungjawaban memungkinkan pemantauan efektivitas program
pengelolaan aktivitas manajemen memerlukan informasi biaya aktivitas untuk
memantau secara berkesinambungan program pengelolaan aktivitas. Dengan
menyajikan informasi biaya yang dipisahkan ke dalam biaya-biaya penambah dan
bukan penambah nilai dalam bentuk perbandingan dari periode ke periode,
manajemen dapat :
-
Memantau
efektivitas program pengelolaan efektivitas. Untuk mengurangi dan akhirnya
menghilangkan aktivitas bukan penambah nilai, diperlukan jangka waktu panjang,
yang hasilnya harus diwujudkan dalam bentuk pengurangan biaya. Oleh karena itu
dengan mengikuti perkembangan biaya-biaya bukan penambah nilai dari periode akuntansi
yang satu ke periode akuntansi yang lain, manajemen biaya-biaya bukan penambah
nilai dalam bentuk perbandingan antar periode akuntansi.
-
Merumuskan
keputusan-keputusan strategik. Program pengelolaan aktivitas memberikan
gambaran berapa penghematan biaya yang dapat dicapai dalam jangka waktu
tertentu. Berdasarkan informasi penghematan biaya yang diperoleh dari
pengelolaan aktivitas, manajemen dapat merumuskan keputusan strategik, seperti
penentuan harga jual produk, pemilihan teknologi manufaktur yang digunakan
untuk menjadikan aktivitas penambah nilai lebih efisien.
5. Keterbatasan
Akuntansi Pertanggungjawaban
Keterbatasan
informasi akuntansi pertanggungjawaban yaitu hanya digunakan untuk :
a. Penilaian
kinerja
Penilaian kinerja adalah
penentuan secara periodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian
organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya.
b. Penyusunan
anggaran
Penyusunan anggaran adalah
proses pembuatan rencana kerja untuk jangka waktu satu tahun yang dinyatakan
dalam satuan moneter dan satuan kuantitatif yang lain.
6. Pusat-Pusat Pertanggungjawaban
Pusat tanggungjawab pada dasarnya
diciptakan untuk mencapai suatu sasaran tertentu, baik sasaran tunggal ataupun
sasaran majemuk. Sasaran-sasaran tersebut sering pula kita sebut sebagai
obyektif yang harus kita capai. Dalam kaitan ini, dapat dimengerti apabila
sasaran dari masing-masing individu dalam tiap-tiap pusat tanggungjawab itu
harus diusulkan agar selaras, serasi dan seimbang dalam usaha mencapai sasaran
umum dari organisasi diputuskan dalam suatu proses perencanaan strategik yang
dalam hal ini diasumsikan telah ditetapkan sebelum awal proses pengendalian
manajemen dimulai.
a. Pusat Pendapatan (Revenue Center)
Pada pusat
pendapatan, tingkat keluaran kita ukur dalam bentuk nilai uang, tetapi tidak
ada usaha formal yang dilakukan untuk mengkaitkan masukan atau biaya dengan
keluaran yang dihasilkannya. Pusat pendapatan terutama banyak kita temui pada
organisasi pemasaran. Anggaran atau target penjualan telah dipersiapkan atau
direncanakan terlebih dahulu, dimana gunanya adalah untuk mengukur
transaksi-transaksi penjualan yang sudah dilakukan ataupun order-order
pembelian yang sudah tercatat dalam rangka kegiatan pusat pendapatan secara
keseluruhan dan juga untuk mencatat hasil kegiatan dari masing-masing wiraniaga
yang melaksanakan aktivitas tersebut.
Kemudian
hasil-hasil nyata dari seluruh kegiatan tersebut kita bandingkan dengan nilai
tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya suatu anggaran.
b.
Pusat Pengeluaran
Pusat
pengeluaran adalah pusat tanggungjawab, dimana masukan atau biayanya diukur
dalam satuan uang, akan tetapi keluarannya tidak kita ukur dalam satuan uang.
Secara umum ada dua macam pusat pengeluaran, yaitu pusat pengeluaran yang
besarnya dan pusat pengeluaran dimana nilai pengeluarannya itu kurang dapat
diukur (diskresioner).
1).
Pusat
Pembiayaan Terukur Atau Terencana (Engineered
Expenses Center)
Biaya-biaya
terukur ini biasanya dinyatakan sebagai biaya standar. Bila seseorang telah
menetapkan standar untuk suatu pusat pembiayaan tertentu, maka cara pengukuran
tentang besarnya keluaran atau hasil dari bagian tersebut dapat dilakukan
dengan cara mengalihkan kuantitas hasil fisiknya dengan biaya standar per
unitnya, sehubungan didapatkan biaya tertentu. Perhitungan biaya nyatanya anti
dipertimbangkan dengan nilai biaya standar tadi, apabila terdapat perbedaan
nilai maka perbedaan besarnya nilai tersebut akan dianalisis untuk menduga apa
yang menyebabkan perbedaan tersebut. Keberhasilan prestasi kerja para manajer
dari pusat pembiayaan dinilai atas dasar seberapa jauh mereka selalu sama, atau
bahkan berada di bawah tingkat biaya standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
2). Pusat Pembiayaan Diskresioner
(Tak Terukur)
Beberapa
unit organisasi menghasilkan keluaran yang tidak dapat diukur dengan besaran
nilai uang. Kebanyakan dari unit tersebut biasanya berupa besaran nilai uang.
Kebanyakan dari unit tersebut biasanya berupa unit staff administratif, unit
pembelian dan pengembangan produk serta beberapa unit dalam kegiatan pemasaran.
Usaha proses pengendalian untuk unit-unit pembiayaan diskresioner ini dimulai
dengan ditetapkannya suatu anggaran ataupun perencanaan tahunan yang telah
disetujui oleh pihak manajemen. Selanjutnya realisasi pembiayaan itu kita
bandingkan dengan nilai anggarannya. Oleh karena pada perbandingan tersebut
besarnya tingkat masukan itu tidak kita ukur dalam besaran nilai uang, maka
pada dasarnya upaya ini tidak dapat kita lakukan sebagai cara pengukuran
prestasi kerja yang lengkap dan oleh karena itu maka cara ini dapat kita pakai
sebagai dasar pengukuran yang menyeluruh tentang usaha penilaian para manajer
secara keseluruhan.
c. Pusat Laba (Profit Center)
Pusat
laba adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajer diukur berdasarkan
laba pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya. Dengan demikian baik masukan
diukur dengan nilai moneternya, yang artinya masukan diukur dalam bentuk biaya
dan keluaran diukur dalam pendapatan. Pusat laba pada umumnya terdapat pada
organisasi yang dibagi-bagi berdasarkan divisi-divisi penghasilan laba
(organisasi divisional). Manajer unit divisi ataupun manajer pusat laba
menentukan harga jual, strategi pemasaran serta kebijaksanaan produksi. Jumlah
investasi dalam unit ini hanya dapat diusulkan oleh manajer pusat laba,
sedangkan keputusan ditentukan oleh pimpinan tertinggi dari unit-unit pusat
laba yang ada.
d. Pusat Investasi (Investment Center)
Pusat
investasi adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya dapat mengawasi
revenue, biaya dan jumlah investasi atas harta yang ada pada pusat
pertanggungjawaban tersebut. Pada pusat pertanggungjawaban ini manajernya dapat
menentukan dan menetapkan jumlah piutang, kebijaksanaan persediaan, menetapkan
pembelian peralatan yang perlu untuk produksi dan pemasaran hasil produksinya.
7. Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban
Akuntansi
pertanggungjawaban menganggap bahwa pengendalian organisasi dapat meningkat
dengan cara menciptakan jaringan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dengan
struktur organisasi formal perusahaan. Struktur organisasi mencerminkan
pembagian hirarki wewenang dalam perusahaan. Melalui struktur organisasi,
manajemen melaksanakan pendelegasian wewenang untuk melaksanakan tugas khusus kepada manajemen yang lebih bawah, agar dapat
dicapai pembagian pekerjaan yang bermanfaat.
Jika
seorang manajer diberi wewenang untuk melaksanakan sesuatu, ia akan merasa
memiliki kekuasaan untuk secara resmi bertindak dalam lingkup wewenangnya dan
untuk mempengaruhi perilaku bawahannya. Namun wewenang yang diterima dari
manajer atas tersebut tidak ada artinya, jika wewenang tersebut tidak diterima
atau diakui adanya oleh bawahan manajer tersebut.
Sayangnya,
seringkali banyak perusahaan memiliki kelemahan dalam masalah pendelegasian
wewenang. Pembagian wewenang seringkali tumpang tindih (overlapping) dan
seringkali tanggungjawab yang dituntut tidak disertai dengan pendelegasian
wewenang yang memadai. Jika seseorang dibebani tanggungjawab yang tidak sepadan
dengan wewenang yang diperlukan untuk melaksanakan pertanggungjawaban tersebut,
akan ditimbulkan adalah frustasi dan keengganan.
Akuntansi
pertanggungjawaban membebankan tanggungjawab kepada manajer pusat
pertanggungjawaban dengan anggapan bahwa manajer tersebut seolah-olah merupakan
individu yang terpisah dari manajer lain. Pembebanan tanggungjawab
kadang-kadang mengabaikan fakta bahwa dalam organisasi terdapat pimpinan
kelompok formal dan non formal serta bahwa kinerja kelompoklah yang sebenarnya
diukur. Oleh karena itu, dalam perancangan sistem akuntansi
pertanggungjawaban, perlu
dipertimbangkan dinamika kelompok, yang merupakan kekuatan yang berpengaruh
terhadap kesediaan kelompok untuk menerima sasaran yang diterapkan.
Karena
pusat pertanggungjawaban merupakan dasar untuk seluruh sistem akuntansi
pertanggungjawaban, kerangka pusat seluruh sistem akuntansi pertanggungjawaban.
Kerangka pusat pertanggungjawaban harus dirancang secara seksama. Struktur
organisasi harus dianalisis mengenai kemungkinan adanya kelemahan dalam
delegasi wewenang yang terdapat di dalamnya. Jaringan pusat pertanggungjawaban
dapat menjadi alat efektif untuk mengendalikan organisasi, jika struktur
organisasi yang melandasinya disusun secara rasional.
C. Jenis Laba
1. Pengertian Pusat Laba
Bilamana prestasi keuangan dari suatu
pusat pertanggungjawaban diukur menurut
keuntungan, maka pusat pertanggungjawaban tersebut dinamakan “pusat laba”
(profit center). Dalam organisasi yang
besar, biasanya kegiatan-kegiatan fungsional utamanya seperti unit
pemasaran ataupun unit manufaktur dilaksanakan oleh unit organisasi tersendiri
yang terpisah. Apabila kegiatan-kegiatan fungsional itu dilaksanakan oleh
unit-unit kerja dalam lingkup satu organisasi sendiri, maka proses tersebut
kita sebut “divisionalisasi”. Secara umum maksud dari adanya proses
divisionalisasi adalah untuk mendelegasikan otorisasi kerja yang lebih besar
kepada para manajer operasional. Apabila manajer tersebut mempunyai
pertanggungjawaban keuntungan, akan lebih praktis agar wewenang pengambilan
keputusan yang meliputi pertimbangan-pertimbangan antara besarnya pendapatan
dan biaya didalam kegiatan unit kerja tersebut juga didelegasikan hingga
tingkat bawah.
2. Pengertian Dan Jenis-Jenis Laba
Dari
segi perhitungannya, Selamat Sinurya memberikan pengertian sebagai berikut :
“Selisih antara harga
penjualan dengan jumlah biaya atau harga jual pokok, seandainya harga penjualan
lebih besar dari jumlah biaya, maka selisihnya merupakan laba dan sebaliknya
seandainya jumlah penjualan lebih kecil dari biaya maka selisihnya merupakan
kerugian”. (1990, hlm. 1)
Jenis-jenis
laba menurut pengukuran tingkat laba untuk suatu pusat laba tertentu ada lima
jenis, yaitu :
a. Margin kontribusi
Laba kontribusi dihitung dengan cara mengurangkan biaya variabel dari
pendapatan yang diperoleh suatu divisi. Konsep ini bermanfaat untuk perencanaan
dan pembuatan keputusan laba suatu divisi dalam jangka pendek.
Contoh tabel menurut
Supriyono, BPEP Yogyakarta, Akuntansi Manajemen 2 Struktur Pengendalian
Manajemen dibawah ini :
Tabel 1
PT. BAWONO
Lapora
Perbandingan laba kontribusi divisi
Tahun 2001
(Dalam
Jutaan Rp)
|
|||
Keterangan
|
Divisi A
|
Divisi B
|
Total Perusahaan
|
Pendapaan
Biaya Variabel Divisi :
Terkendalikan
Tak
terkendalikan
|
40.000
16.000
4.000
|
60.000
30.000
6.000
|
100.000
46.000
10.000
|
Jumlah Biaya Variabel
|
20.000
|
36.000
|
56.000
|
Laba Kontribusi
Biaya Tetap :
Terkendalikan
Tak
Terkendalikan
|
20.000
|
24.000
|
44.000
5.000
10.000
|
Jumlah Biaya Tetap
|
15.000
|
||
Laba sebelum diperhitungkan biaya
KTR Pusat
Biaya Kantor Pusat
Laba bersih sebelum pajak
PPh 25%
|
29.000
9.000
20.000
5.000
|
||
Laba bersih sesudah PPh
|
15.000
|
||
Sumber : Supriyono, (2001, hlm. 84).
b. Laba terkendali divisi
Laba dihitung dengan cara
mengurangi pendapatan dengan biaya-biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer
divisi yang meliputi biaya variabel yang terkendali dan biaya tetap terkendali,
yang telah diuraikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 2
PT. BAWONO
Lapora
Perbandingan laba Terkendalikan divisi
Tahun 2001
(Dalam
Jutaan Rp)
|
|||
Keterangan
|
Divisi A
|
Divisi B
|
Total Perusahaan
|
Pendapaan
Biaya Terkendali Divisi :
- Variabel
- Tetap
|
40.000
16.000
2.000
|
60.000
30.000
2.000
|
100.000
46.000
5.000
|
Jumlah Biaya Terkendali
|
18.000
|
33.000
|
51.000
|
Laba Terkendali Divisi
Biaya Tak Terkendali Divisi :
- Variabel
- Tetap
|
22.000
|
27.000
|
49.000
10.000
10.000
|
Jumlah biaya tak terkendali
|
20.000
|
||
Laba sebelum diperhitungkan biaya
Kantor Pusat
Biaya Kantor Pusat
Laba bersih sebelum pajak
PPh 25%
|
29.000
9.000
20.000
5.000
|
||
Laba bersih sesudah PPh
|
15.000
|
||
Sumber : Supriyono, (2001, hlm. 84).
c. Laba langsung
Laba dapat dihitung
dengan mengurangi pendapatan divisi dengan semua biaya yang langsung terjadi
dalam divisi yang bersangkutan. Profitabilitas ini cocok digunakan untuk
menilai profitabilitas jangka panjang seperti contoh pada tabel dibawah ini.
Tabel 3
PT. BAWONO
Lapora
Perbandingan laba Langsung divisi
Tahun 2001
(Dalam
Jutaan Rp)
|
|||
Keterangan
|
Divisi A
|
Divisi B
|
Total Perusahaan
|
Pendapaan
Biaya Langsung divisi :
- Variabel terkendalikan
- Variabel tak terkendalikan
- Tetap terkendalikan
- Tetap tak terkendalikan
|
40.000
16.000
4.000
2.000
3.000
|
60.000
30.000
6.000
3.000
7.000
|
100.000
46.000
10.000
5.000
10.000
|
Jumlah biaya langsung
|
25.000
|
46.000
|
71.000
|
Laba langsung divisi
|
15.000
|
14.000
|
29.000
|
Biaya kantor pusat
Laba bersih sebelum pajak
PPh 25 %
|
9.000
20.000
5.000
|
||
Laba bersih sesudah PPh
|
15.000
|
||
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 85).
d. Laba bersih sebelum pajak
Dengan menghitung
pendapatan divisi dengan biaya langsung divisi dan biaya kantor pusat. Laba ini
mencerminkan prestasi ekonomi divisi, karena divisi menikmati fasilitas kantor
pusat, maka divisi mengalokasi biaya kantor pusat. Seperti contoh pada tabel
dibawah ini
Tabel 4
PT. BAWONO
Lapora
Bersih Divisi Sebelum PPh
Tahun 2001
(Dalam
Jutaan Rp)
|
|||
Keterangan
|
Divisi A
|
Divisi B
|
Total Perusahaan
|
Pendapaan
Biaya Divisi :
- Variabel terkendalikan
- Variabel tak terkendalikan
- Tetap terkendalikan
- Tetap tak terkendalikan
- Alokasi biaya Kantor Pusat
|
40.000
16.000
4.000
2.000
3.000
4.500
|
60.000
30.000
6.000
3.000
7.000
4.500
|
100.000
46.000
10.000
5.000
10.000
9.000
|
Jumlah biaya divisi
|
29.500
|
50.500
|
80.000
|
Laba Bersih divisi sebelum PPh
|
10.000
|
9.500
|
20.000
|
PPh 25 %
|
5.000
|
||
Laba bersih sesudah PPh
|
15.000
|
||
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 86)
e. Laba bersih sesudah pajak
Besar laba dihitung
melalui pengurangan laba bersih sebelum pajak dengan pajak penghasilan divisi.
Sebagai satu kesatuan ekonomi yang berdiri sendiri, laba divisi perlu
memperhitungkan pajak penghasilannya. Lihat pada contoh tabel dibawah ini :
Tabel 5
PT. BAWONO
Lapora
Bersih Divisi Sebelum PPh
Tahun 2001
(Dalam
Jutaan Rp)
|
|||
Keterangan
|
Divisi A
|
Divisi B
|
Total Perusahaan
|
Pendapaan
Biaya Divisi :
- Variabel terkendalikan
- Variabel tak terkendalikan
- Tetap terkendalikan
- Tetap tak terkendalikan
- Alokasi biaya Kantor Pusat
|
40.000
16.000
4.000
2.000
3.000
4.500
|
60.000
30.000
6.000
3.000
7.000
4.500
|
100.000
46.000
10.000
5.000
10.000
9.000
|
Jumlah biaya divisi
|
29.500
|
50.500
|
80.000
|
Laba Bersih divisi sebelum PPh
|
10.500
|
9.500
|
20.000
|
PPh 25 %
|
2.625
|
2.375
|
5.000
|
Laba bersih sesudah PPh
|
7.875
|
7.125
|
15.000
|
Sumber : Supriyono, (2001, hal, 87)
3. Komponen-Komponen Yang Menentukan Besarnya Laba
Komponen-komponen
yang dapat menentukan besarnya laba adalah :
a. Penyimpangan laba kotor
Penyimpangan antara realisasi penghasilan dan
biaya diluar usaha dibandingkan dengan anggaran penghasilan dan biaya diluar
usaha.
b. Biaya pemasaran
Biaya pemasaran adalah meliputi semua biaya
dalam rangka menyelenggarakan kegiatan pemasaran, yaitu :
-
Biaya untuk memperoleh
atau menimbulkan pesanan.
-
Biaya untuk memenuhi
atau melayani pesanan.
c. Biaya administrasi dan umum
Biaya administrasi dan umum adalah semua biaya
yang terjadi dan berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum, meliputi
biaya dalam rangka penentuan kebijaksanaan, perencanaan, pengarahan, dan
pengawasan terhadap kegiatan perusahaan secara keseluruhan.
4. Anggaran Laba Sebagai Alat Ukur Prestasi Manajer
Anggaran Laba adalah tanggungjawab
manajer yang dapat mengawasi pendapatan dan biaya sehingga anggaran pendapatan
dan anggaran biaya dapat digabungkan menjadi anggaran laba. Anggaran laba
merupakan suatu rencana laba tahunan, yang terdiri dari serangkaian angka-angka
proyeksi untuk tahun yang akan datang, disertai dengan skedul pendukungnya.
Suatu anggaran laba-rugi dapat dipergunakan perusahaan secara keseluruhan,
ataupun pusat laba untuk alokasi sumber daya dalam mencapai sasaran dan
pengkoordinasian kegiatan perusahaan dan divisi, bahan pengecekan terakhir atas
ketetapan anggaran biaya serta untuk penugasan tanggungjawab setiap manajer,
serta untuk penugasan tanggungjawab setiap manajer, serta penentuan kontribusi
terhadap perusahaan atau divisi dari segi prestasi keuangan. Anggaran laba rugi
dapat dipergunakan untuk hal-hal sebagai berikut :
a. Untuk perusahaan secara menyeluruh
dan untuk pusat laba secara khusus anggaran tersebut dapat digunakan yaitu :
- Untuk
mengalokasikan sumber daya yang ada di dalam perusahaan. Anggaran yang telah
disahkan merupakan dasar wewenang bagi orang yang mempunyai wewenang untuk
menggunakan sumber daya yang ada dalam perusahaan untuk mencapai sasaran
anggaran.
- Untuk
perencanaan dan pengkoordinasian dan kegiatan perusahaan dan divisi. Sebagai
contoh anggaran laba rugi dipakai sebagai dasar untuk memastikan bahwa
fasilitas produksi sesuai dengan ramalan penjualan dan tersedianya kas sesuai
dengan pengeluaran yang diperkirakan.
- Untuk
sasaran pemeriksaan yang terakhir untuk anggaran laba. Meskipun kerangka
anggaran telah disetujui oleh manajemen sebelumnya, akan tetapi perlu
pengkajian lebih lanjut yang berguna dalam penyempurnaan anggaran tersebut.
- Untuk
melihat tanggungjawab manajer yang memimpin pusat laba, yang dapat membandingkan
prestasi dengan rencana yang telah disusun, selanjutnya melihat sejauh mana
kontribusi yang telah disumbangkan.
b. Bagi manajemen puncak (top manajemen)
- Untuk
menilai prestasi ekonomi dan keuangan bagi perusahaan dimasa datang dan
melakukan tindakan koreksi terhadap apa yang telah tercapai.
- Untuk
merencanakan dan mengkoordinasikan secara menyeluruh.
- Berperan
serta dalam perencanaan divisi.
- Pengawasan
divisi.
Suatu sistem pengukuran dan penilaian
terhadap prestasi bagian-bagian di dalam perusahaan harus dimulai dengan
pertanyaan apa tujuan yang hendak dicapai oleh pusat laba, yaitu :
a. Menyediakan masukan bagi
keputusan-keputusan penting mengenai promosi mutasi, pemberhentian karyawan.
b. Mengidentifikasikan
kebutuhan-kebutuhan training dan pengembangan karyawan.
c. Sebagai pembanding prestasi antar
divisi.
d. Pengawasan divisi-divisi.
Adapun metode pengukuran prestasi
pusat laba dapat menggunakan dua cara yaitu :
pengukuran prestasi manajemen menekankan seberapa jauh manajer pusat
pertanggungjawaban telah bekerja. Sedangkan pengukuran prestasi ekonomi
menentukan seberapa jauh manajer telah dapat mengawasi pendapatan dan biaya.
Oleh karena itu, suatu laba merupakan kegiatan dari perusahaan sedangkan
transaksi-transaksi yang dilakukan dengan bagian-bagian lain dari perusahaan
tersebut tidak selalu sederhana, maka persoalan-persoalan yang timbul juga
berbeda-beda dengan organisasi-organisasi yang berdiri sendiri. Ada tiga jenis
permasalahan dalam pengukuran tingkat laba secara umum, yaitu :
a. Harga transfer
Harga transfer adalah nilai dari barang dan jasa yang
ditransfer oleh suatu pusat pertanggungjawaban lainnya. Sebagai contoh, biaya
yang dipindahkan dari pusat biaya listrik ke pusat biaya produksi merupakan
harga transfer.
b. Pendapatan bersama
Pengukuran tingkat pendapatan yang dihasilkan oleh suatu
pusat laba dapat dilakukan secara langsung tetapi ada juga kondisi-kondisi
dengan dua atau lebih pusat laba bekerja sama dalam menghasilkan peningkatan
volume penjualan. Secara idealnya kedua unit patut mendapatkan penilaian.
c. Pembiayaan bersama
Barang atau jasa yang disediakan oleh pusat laba yang lain
dinilai dengan hari transfer jasa-jasa pelayanan yang disediakan oleh staff
unit ataupun biaya-biaya bersama lainnya, kalau memang akan dibebankan, harus
dibebankan kepada pusat-pusat laba atas dasar perhitungan yang dapat
mengabarkan tingkat penggunaan nyata jasa-jasa tersebut sejauh dimungkinkan.
Pusat laba dapat mengawasi pendapatan
dan biaya yang disatukan menjadi anggaran laba atau rugi. Adapun anggaran
laba-rugi adalah salah satu rencana laba tahunan yang terdiri dari serangkaian
angka-angka proyeksi keuangan untuk tahun yang akan datang. Dalam anggaran laba
ini dapat diketahui prestasi manager atau divisi terhadap perusahaan setelah
dibandingkan antara rencana dan realisasi. Ada dua hal yang perlu diperhatikan
dalam anggaran laba ini :
a. Penggunaannya dipakai sebagai alat
pengukur manajerial, sangat bervariasi di perusahaan dapat berupa suatu
komitmen, sampai dengan perkiraan terbaik mengenai apa yang akan terjadi dengan
sedikit tanggungjawab atas timbulnya perkiraan ini.
b. Besarnya tanggungjawab yang
disebabkan kepada manajer yang disebabkan kepada manajer pusat laba untuk
mencapai hasil yang telah ditetapkan dilihat dari anggaran laba. Besarnya
tanggungjawab tersebut berbeda menurut pertimbangan masing-masing perusahaan.
C. Tujuan Penerapan Akuntansi Pertanggungjawaban Sebagai Pengukuran Prestasi Manajer Pusat Laba
Pusat
laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi wewenang untuk mengendalikan pendapatan
dan biaya, tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran kinerja pusat laba, maka
laba perlu dihubungkan dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba
tersebut. Dengan demikian, untuk mengukur kinerja pusat laba, umumnya digunakan
dua ukuran yang menghubungkan laba yang diperoleh pusat laba dengan investasi
yang digunakan untuk menghasilkan laba : kembalian investasi (Return on
Investment atau seringkali disingkat dengan ROI) dan Residual Income (sering
disingkat RI).
Kembalian
investasi dihitung dengan membagi laba dengan investasi. Residual Income
dihitung dengan mengurangi laba dengan beban modal (merupakan persentase beban
modal x investasi). Laba yang dihasilkan pusat laba ditentukan oleh komponen
utama : pendapatan dan biaya. Sebagai ukuran kinerja, laba yang digunakan
adalah laba yang komponennya secara signifikan dapat dipengaruhi oleh manajer
pusat laba dengan menggunakan wewenang yang ia miliki. Dengan demikian timbul
kebutuhan penentuan pendapatan dan biaya terkendali yang secara signifikan
dapat dipengaruhi oleh manajer pusat laba.
Dalam pengukuran
kinerja pusat laba, diperlukan investasi yang akan dipakai sebagai
penyebut dalam rumus perhitungan kembalian investasi atau dipakai sebagai dasar
untuk menghitung beban modal dalam perhitungan Residual Income. Informasi
investasi atau beban modal dalam perhitungan Residual Income disebut investment
base.
Dalam
pengukuran kinerja manajer pusat laba tersedia dua alternatif untuk
memperhitungkan nilai aktiva tetap kedalam investment base harga perolehan atau
nilai buku tertentu. Jika nilai buku dipakai untuk memperhitungkan nilai aktiva
tetap dalam investment base, setiap tahun nilai buku akan semakin menurun
dengan adanya biaya depresiasi, yang mengakibatkan investment semakin mengecil.
Akibatnya ukuran kinerja kembalian investasi dan Residual Income secara konstan
memperlihatkan kenaikan profitabilitas, padahal sebenarnya tidak terjadi
perubahan profitabilitas dalam tahun-tahun selama umur ekonomis aktiva tetap.
Di
lain pihak, jika harga perolehan aktiva tetap (gross book value) digunakan
untuk menghitung nilai aktiva tetap dalam investment base, setiap tahun nilai
aktiva tetap dalam investment base, akan sama jumlahnya, sebagai kembalian
investasi dan Residual Income yang memperhitungkan harga perolehan aktiva tetap
dalam investment base selalu akan mencerminkan kembalian yang lebih rendah dari
kembalian sesungguhnya. Jika nilai aktiva tetap yang diperhitungkan kedalam
investment base adalah sebesar harga perolehannya manajer pusat laba akan
termotivasi untuk menghentikan pemakaian aktiva tetap, meskipun aktiva
tetapmasih memiliki manfaat, karena investment base pusat laba tersebut akan
berkurang sebesar harga pokok aktiva tetap.
Sewa
guna usaha merupakan alternatif pembelanjaan aktiva tetap, yang memungkinkan
suatu divisi sebagai komponen aktiva, namun hanya memanfaatkan aktiva tetap
milik perusahaan lain dalam bisnis sewa guna usaha (leasing company) dengan
membayar biaya sewa guna usaha (leasing expense). Dampak sewa guna usaha
terhadap pengukuran kinerja pusat laba adalah :
a. Unsur aktiva tetap dalam investment base
menjadi kurang.
b. Unsur biaya depresiasi dalam perhitungan
laba menjadi berkurang, namun diimbangi dengan tambahan biaya sebagai akibat
dari sewa guna usaha.
Dengan
demikian, selama perubahan kedua unsur tersebut berdampak kenaikan ukuran
kinerja manajer pusat laba kembalian investasi atau Residual Income bertambah,
alternatif pembelanjaan aktiva tetap melalui sewa guna usaha akan menarik bagi
manajer pusat laba.
1.
Manfaat Kembalian Investasi Sebagai
Pengukur Kinerja
Kembalian investasi
sebagai pengukur kinerja pusat laba memiliki tiga manfaat berikut ini :
a. Kembalian investasi mendorong manajer
pusat laba menaruh perhatian yang seksama terhadap hubungan antara pendapatan
penjualan, biaya, dan investasi.
b. Kembalian investasi mendorong manajer
pusat laba melaksanakan efisiensi biaya.
c. Kembalian investasi mencegah manajer
pusat laba melakukan investasi yang berlebihan didalam pusat laba yang
dipimpinnya.
2.
Kelemahan Kembalian Investasi Sebagai
Pengukur Kinerja
Kembalian
investasi sebagai pengukur
kinerja pusat laba memiliki tiga
kelemahan :
a. Kembalian investasi tidak mendorong
manajer pusat laba untuk melakukan investasi dalam proyek yang akan berakibat
menurunkan kembalian investasi pusat laba, meskipun proyek tersebut menaikan
profitabilitas perusahaan sebagai keseluruhan.
b. Kembalian investasi mengakibatkan
manajer pusat laba memusatkan perhatiannya kepada sasaran jangka panjang.
c. Kembalian investasi sebagai pengukur
kinerja pusat laba sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.
3.
Keunggulan Residual income sebagai
pengukur kinerja
Residual
Income memiliki keunggulan dengan kembalian investasi sebagai pengukur kinerja
manajer pusat laba.
a. Penggunaan Residual Income sebagai
pengukur kinerja pusat laba mengakibatkan semua pusat laba memiliki sasaran
laba yang sama untuk investasi yang sebanding.
b. Residual Income dengan menggunakan
tarif beban modal yang berbeda untuk aktiva yang memiliki risiko yang berbeda.
4.
Kelemahan Residual Income
Sebagai tolok ukur kinerja pusat
laba, Residual Income memiliki kelemahan sebagai berikut :
a. Seperti halnya dengan kembalian
investasi, Residual Income juga hanya mendorong manajer pusat laba memusatkan
orientasinya ke tujuan jangka pendek, karena laba dan komponen yang digunakan
untuk menghitung laba hanya dibatasi dengan periode akuntansi yang tidak lebih
dari satu tahun kalender.
b. Seperti halnya dengan kembalian
investasi, Residual Income sebagai pengukur kinerja pusat laba sangat
dipengaruhi oleh metode depresiasi aktiva tetap.
c. Tidak seperti halnya dengan kembalian
investasi yang berupa ratio atau prosentasi, Residual Income berupa angka
absolut, yang tidak dapat digunakan membandingkan kemampuan berbagai pusat laba
dalam menghasilkan laba.
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
1. Sejarah Singkat Perusahaan
Sekitar tahun 50-an, bisnis barang-barang elektronik telah
mulai berkembang di Indonesia. Situasi yang baik tercium cepat oleh keluarga
Leo dan langsung dimanfaatkan dengan membuka sarana jual beli secara kontan
barang-barang elektronika di Medan. Tidak terbatas supplier dari luar negeri
namun para supplier domestikpun dirangkul untuk bekerjasama, sehingga
terjalinlah suatu relasi bisnis yang luas.
Tidak
hanya berhenti disitu, para anggota keluarga Leo terutama Leo Chandra terus
mencari celah-celah lain sekecil apapun. Lewat kejelian dan ketajaman hidung
bisnis, mereka merasakan kebutuhan barang konsumsi semakin meningkat sementara
daya beli masyarakat terbatas dan cenderung golongan menengah ke bawah.
Beranjak dari dasar pemikiran tersebut, dengan dukungan penuh dari Djaya
Gunawan (Komisaris Aktif) rekan seperjuangan semasa kuliah di Medan, Leo
Chandra berdua mencari input-input mengenai bisnis angsuran. Akhirnya pada
tanggal 28 Pebruari 1982 bersepakat Leo Chandra, Djaya Gunawan bersama beberapa
orang yang kemudian tergabung dalam dewan komisaris untuk menancapkan tonggak
baru di Bidang Kredit di bawah nama PT. COLUMBINDO DHARMA PERTIWI (kemudian
berganti dengan nama PT. COLUMBINDO PERDANA, diputuskan kemudian, Leo Chandra
bertindak selaku Presiden Direktur, dan Djaya Gunawan selaku Direktur Keuangan.
Di
lokasi yang beralamat di Jl. Hayam Wuruk 11-00 berdirilah gedung bersejarah
Columbia, di atas tanah seluas kurang lebih 75 M2.
Gedung
inilah yang melahirkan kreatifitas-kreatifitas perusahaan yang kemudian
dituangkan dalam bentuk nyata. Namun sebagai tahun pertama, kegiatan perusahaan
membutuhkan pengorbanan penuh, tidak saja dalam bentuk materi, tetapi juga
tenaga, pikiran dan waktu. Bahkan tidak jarang banyak akibat rasa kurang puas
terhadap pelayanan yang diberikan.
Melimpahnya
order-order permohonan perusahaan untuk lebih meningkatkan mutu kerja.
Kesadaran akan kebutuhan penanganan bidang pemasaran secara lebih serius
menemukan perwujudannya pada bulan Oktober 1982 dengan masuknya Djunaedi Wijaya, seorang ahli di bidang
pemasaran. Tenaga-tenaga operasional dididik dan dilatih baik moral maupun
mental. Keahlian kerja ditingkatkan menuju efisiensi dan efektifitas. Upaya ini
ternyata tidak percuma, terbukti jumlah omzet yang dicapai hingga akhir tahun
berkisar 200 juta. Suatu angka yang cukup langka untuk jumlah personil yang
cuma 8 (delapan) orang.
Tahun
1983 ditandai dengan kehadiran Columbia untuk berpartisipasi dalam Pekan Raya
Jakarta (PRJ) dan tercatat sebagai pelopor perusahaan kredit yang ikut dalam
kegiatan pameran tersebut. Orderpun kian membengkak.
Bahkan tidak
sedikit yang harus antri menunggu giliran mengajukan permohonan kredit maupun
membayar angsuran. Menyadari lahan baru yang demikian cerah, bermunculan pula
perusahaan sejenis. Columbia menyadari sepenuhnya untuk mempertahankan
eksistensinya, perlu dimiliki nilai-nilai bisnis baik budaya korporasi yang
baik dan sistem pelayanan yang
memuaskan. Tanpa semua itu, secara pelan tapi pasti perusahaan akan gugur. Hal
demikian mendorong Columbia melebarkan sayap pelayanannya. Oktober 1983,
diresmikan cabang pertama di Jl. Nur Said, Bandung, gebrakan pertama ini
ternyata membawa hembusan angin yang cukup sejuk, terbukti dengan naik-naiknya
omzet menjadi 2-3 milyar setahun.
Hingga
Desember 1987, tercatat Columbia memiliki 2 (dua) cabang di DKI Jakarta dan 8
(delapan) di luar DKI Jakarta. Namun seperti layaknya orang tua, kantor pusat
tak henti-hentinya memperhatikan dan mengajari cara berjalan yang benar. Hal
ini dimaksudkan agar jangan menyimpang dari arah yang dituju. Meski seluruh
cabang diberikan porsi yang sama, tidak semua cabang tumbuh sama suburnya. Sama
persis seperti pertumbuhan anak, yang kadang-kadang terkendala oleh beberapa
faktor seperti kasih sayang gizi, pendidikan, pengaruh lingkungan, dan
lain-lain.
Sebagai
contoh cabang Hayam Wuruk misalnya, yang berlokasi di Jl. Mangga Besar 42 S,
berkali-kali harus ditambah infus untuk menyambung hidupnya, sambil terus menerus
diberikan perhatian intensif untuk meningkatkan kemandiriannya. Bagaimanapun
parahnya, sejauh cabang itu memiliki kemauan untuk bangkit, infus tidak akan
dicabut. Perusahaan menyadari sepenuhnya kegagalan yang dialami cabang
merupakan tanggung jawab bersama dan merupakan satu resiko kreatifitas
perusahaan. Hingga kini PT. Columbia Perdana mempunyai 56 cabang di 23
Propinsi.
2. Struktur
BM = Melakukan pendelegasian, kontrol terhadap
ABM-MRK, ABM-HRD, ABM Credit A/R, dan betj kepada pimpinan perusahaan.
Sekretaris = Wakil BM di bidang kesekretariatan
Kasir kas cabang = Media pembayaran dan penerimaan dari kantor
pusat untuk biaya operasional cabang.
Koord. Inspektur = Melakukan analisa dan penyidikan atau
klasifikasi atas permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan piutang
sewa-beli.
ABM-MRK = Melakukan perencanaan atas penjualan kas atau
sewa beli yang diakui sebagai penjualan cabang setiap bulan. ABM-MRK membawahi
kinerja atas penjualan sales force dan sales showroom.
ADM-MRK = Melakukan pencatatan rekapitulasi dan
melaporkan hasil penjualan baik sales force atau S. Showroom kepada
kompartement marketing di kantor pusat.
KAPOS = Kepala Pos melakukan pengawasan dan
perencanaan atas penjualan S. Force dan S., Showrrom KAPOS mempunyai target penjualan sebesar Rp.
30 juta – Rp. 600 juta dengan membawahi tiga group S. Force dan S. Showroom.
SPV.SF = Melakukan supervisi, melakukan pengawasan,
memotivasi jajaran sales force atas penjualan atau map order yang diperoleh.
AST. SPV.SF = Membantu SPV.SF dalam melaksanakan tugasnya
atau sebagai wakil SPV. SF apabila berhalangan.
SF = Melakukan penjualan dengan mendatangi rumah
(door to door).
SPV. SR = Melakukan supervisi, kontrol atas penjualan
dan stock showroom, serta melakukan kegiatan-kegiatan penjualan-penjualan
secara stategis.
ABM-HRD = Bertanggung jawab atas kontrol, distribusi
serta melakukan tugas-tugas operasional untuk mendukung semua aktivitas cabang.
Staff Umum = Melakukan koordinasi atas pemakaian kendaraan
operasional dan melakukan pengawasan atas perbaikan dari kendaraan operasional
tersebut.
OB (Office Boy) = Melakukan tugas-tugas keseharian.
Driver = Melakukan tugas sebagai supir kendaraan
operasional.
AMB Credit A/R = Melakukan pengawasan strategis serta
melakukan analisa atas kegiatan-kegiatan perusahaan yang berhubungan langsung
dengan arus kas serta pengembalian kredit atau tunggakan.
CA = Menjaga kontrol atas arus kas, melakukan
laporan keuangan dan menjaga aset-aset perusahaan.
Staff Acc. = Membantu CA dalam melaksanakan tugas-tugas
yang diberikan.
Kasir kas
Perantara = Menerima uang hasil penagihan (collection)
serta melakukan perantara penyetoran atas hasil collection tersebut.
KPKC = Melakukan pengendalian dan pengawasan atas
kredit konsumen, serta piutang sewa beli, serta collection dan tunggakan.
Divisi survey = Melakukan survey atau screening atas map
order yang didapat oleh bagian penjualan.
Divisi A/R = Melakukan pendistribusian atas
kwitansi-kwitansi atau kartu piutang untuk tujuan penagihan.
Divisi collection = Melakukan
penagihan atas acuan kwitansi yang telah diturunkan oleh bagian A/R.
3. Bidang Usaha /Kegiatan Perusahaan
Bidang usaha dilakukan oleh Pt.
Columbindo Perdana ini adalah penjualan barang elektronik dan furnitur secara
luas maupun secara kredit atau sewa beli.
DAFTAR PUSTAKA
Basu Swastha, Manajemen Penjualan.
edisi ke-3, Yogyakarta: BPFE, 1993.
Cushing, Barry E., Terj. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi
Perusahaan, edisi ke –3, oleh Ruchyat Kosasih, Jakarta : Penerbit Erlangga,
1991..
Horngren, Charles T.,Terj. Pengantar Akuntansi Manajemen, edisi ke-6, Jilid I,
Alih Bahasa Frederikson Saragih, Jakarta : Penerbit Erlangga, 1993.
J. Supranto, M. A., Metode Riset dan
Aplikasinya dalam Pemasaran, edisi ke-6, Penerbit PT. Rineka Cipta,
Jakarta, 1997.
Kotler, Philip dan Gary Armstrong.
Terj. Dasar-Dasar Pemasaran, edisi ke-6, Jilid I, Alih Bahasa Willhelmus
W. Bakowatun, Jakarta: Intermedia, 1997.
Laporan Tahunan 1998 PT. United
Tractors Tbk, Penerbit PT. United
Tractors Tbk., Jakarta, 1998.
Siegel, Joel G. dan Joe K. Shim., Kamus Istilah
Akuntansi, edisi I, II, III, Penerbit PT. Elex Media Komputindo, Jakarta,
1994.
Sofyan Syafri Harahap, Budgeting : Perencanaan
Untuk Membantu Manajemen, cetakan kesatu, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1995.
Usry, Milton F., dan Adolph Matz.
Terj. Akuntansi Biaya : Perencanaan dan Pengendalian, edisi ke-10, oleh
Alfonsus Sirait dan Hermawan Wibowo, Jakarta : Penerbit Erlangga, 1997.
Willson, James D., dan John B.
Campbell. Terj. Controllership: Tugas Akuntan Manajemen, edisi ke-3,
oleh Gunawan Hutauruk, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1995.


0 komentar
Poskan Komentar