PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP PENINGKATAN
KEMAMPUAN MENULIS KALIMAT BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SDN 1 PRINGGASELA
TAHUN PEMBELAJARAN 2008/2009
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan
suatu proses mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, serta mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia, proses pendidikan
yang dilakukan di sekolah merupakan kegiatan pendidikan belajar dan mengajar
untuk mencapai tujuan pendidikan adalah salah satu tanggung jawab dan beban
semua pihak yang bergerak dalam dunia pendidikan untuk merealisasikan
peningkatan mutu pendidikan. Salah satu usaha untuk meningkatkan mutu
pendidikan yaitu melalui kualitas pengajaran dari masing-masing mata pelajaran,
keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan tergantung dari
proses belajar yang dialmi oleh peserta didik, selain itu dalam proses belajar
dan mengajar dituntut suatu perencanaan yang cukup mantap dari guru.
“Seperti halnya dalam tujuan pendidikan nasional, nampak
bahwa faktor kecerdasan dan keterampilan merupakan bagian yang turut
diperhatikan dalam pendidikan, karena untuk membangun suatu bangsa dibutuhkan
manusia yang cerdas dan terampil” (Djamarah, 2000: 179).
Untuk menunjang maksud tersebut,
pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Terdapat banyak
faktor yang diperhatikan antara lain guru sebagai pengajar, siswa, metode serta
pendekatan yang digunakan dan alat peraga.
Pendidikan bagian dari aspek
kehidupan, maka terjadilah pengukuran dan penilaian, pendidikan adalah
bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama (Marimba, 1962: 19). Pendidikan juga merupakan usaha
meningkatkan diri dalam segala aspeknya, yang mencakup kegiatan pendidikan yang
melibatkan guru (pendidik), pendidikan formal maupun non formal serta informal.
“Keberhasilan pendidikan formal akan ditentukan oleh pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar yakni keterpaduan antara kegiatan para guru dengan
peserta didik, sehingga proses belajar mengajar tidak dapat terlepas dari
keseluruhan sistem pendidikan” (Soedjono dalam Sitmah, 2003: 1).
Pada dasarnya semua orang tidak
menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah
sesuatu yang tidak menyenangkan. Merasakan makanan yang sama terus menerus akan
menimbulkan kebosanan. Makan makanan yang bervariasi (bermacam-macam) akan
merangsang untuk dimakan. Demikian juga dalam proses belajar mengajar, jika
tidak menggunakan variasi, maka membosankan siswa, perhatian siswa akan
berkurang, mengantuk dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini
guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Guru harus memiliki tingkat penyesuaian
yang cocok dengan siswa. penyesuaian tersebut dirancang secara terpadu dengan
tujuan belajar bahasa Indonesia, salah satu tujuan utama program bahasa umumnya
adalah mempersiapkan siswa untuk melakukan interaksi yang bermakna dengan
bahasa yang alamiah. Agar interaksi dapat bermakna bagi siswa, perlu didesain
secara mendalam program pembelajaran bahasa Indonesia. Desain yang bertumpu
pada komunikatif, integratif, tematik yang didasari oleh aspek fleksibilitas,
siswa sebagai subjek, proses dan kontekstual yang tertuang dalam kurikulum.
Pengajaran bahasa
melibatka nguru, siswa, buku pengajaran dan alat bantu mengajar, sebagai guru
bahasa Indonesia kita harus mempunyai berbagai kemampuan, seperti kemampuan
berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kemampuan menggunakan berbagai
strategi mengajar serta mengetahui cara-cara siswa belajar, bahan yang akan
diajarkan dan alat bantu pengajaran yag ndapat menunjagn agar pengajaran kita
dapat berhasil dengan baik.
Pengetahuan kita
tentang alat bantu pengajaran akan sangat memudahkan pekerjaan kita dalam
merencanakan kegiatan-kegiatan dalam proses belajar mengajar, sebagai akibatnya
siswa kita sangat tertolong dalam berbagai hal seperti menangkap konsep yang
diajarkan, memantapkan pola-pola kalimat serta kosakata yang diulang
berkali-kali dengan brebagai cara dan dalam waktu cukup lama.
Pengulangan-pengulangan mengandung kebosanan yang pada gilirannya akan
menyebabkan siswa kehilangan minat untuk belajar, sedangkan minat adalah faktor
yang perlu dan harus ada, agar siswa mempunyai kegairahan dan semangat untuk
terus berlatih.
“Siswa dapat belajar dengan sangat baik jika berada dalam
kondisi ideal dengan kasih sayang, kehangatan, dorngan, dan dukungan. Bila hal
itu terus berlanjut keseangan dan kecepatan belajar dapat melekat erat dalam
diri siswa.” (Dryclen dan Von, 2000: 28).
Keberhasilan usaha seperti yang tergambar di atas, salah satunya
ditentukan oleh metode pembelajaran yang dibangun guru.
Salah satu tujuan
pendidikan yang harus dicapai sebagai hasil pendidikan adalah penguasaan
terhadap materi atau bahan pelajaran yang tela hdiajarkan oleh guru melalui
proses kegiatan belajar dan mengajar. Mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan
mata pelajaran pokok yang diajarkan pada sekolah dasar (SD) sampai sekolah
lanjutan tingkat atas (SLTA). Pengukuran bahasa Indonesia bertujuan sebagai
alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
budaya. Dengan demikian siswa menerapkan memiliki keterampilan berbahasa Indonesia
setelah tamat belajar dan menjadi warga negara yang cerdas dan terampil.
Dalam Garis-garis
Besar Program Pengajaran (GBPP), mata pelajaran bahasa Indonesia siswa dituntut
untuk menguasai kosakata bahasa Indonesia yang memadai. Karena tuntutan
tersebut, siswa membca buku-buku yang berbahasa Indonesia. Dengan demikian,
dalam proses belajar dan mengajar bahasa Indonesia di SD/MI membutuhkan media
sebagai alat pendukung. Dengan kata lain, guru bahasa Indonesia di SD/MI harus
mampu menyediakan dan menyiapkan media yang cocok untuk mata pelajaran bahasa
Indonesia agar dapat memperkecil tingkat kejenuhan siswa dalam belajar.
Berbicara mengenai
media pengajaran, kita tidak bisa lepas dengan fungsi, manfaat, serta peranan
media pengajaran sebagai alat untuk keperluan hiburan, untuk menyampaikan
informasi dan kemudian berakhir pada kegiatan pembelajaran.
Mengingat peranan
media pengajaran sangat menentukan dalam kegiatan belajar mengajar, terutama
dalam meningkatkan kemampuan dan minat belajar siswa, media memegang peranan
penting sebagai alat bantu untuk menciptakan situasi belajar yang lebih baik
dan efektif. setiap proses belajar dan mengajar ditandai oleh adanya beberapa
unsur seperti tujuan, bahan, metode, media dan evaluasi. Media merupakan unsur
yang tidak bisa lepas dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau
teknik untuk mengantarkan bahan pelajaran agar sampai pada tujuan.
Adapun manfaat media
gambar yang dikemukakan oleh Drs. Prof. Dr. S. Nasution, MA (1986):
1.
Menjelaskan pengertian-pengertian yang tak dapat
dijelaskan dengan kata-kata, satu gambar sama nilainya dengan seribu kata.
2.
Memperkaya isi bacaan.
3.
Membangkitkan minat untuk sesuatu yang baru yang
akan dipelajari.
4.
Memperbaiki pengertian-pengertian yang salah.
Media gambar adalah
sesuatu yang diwujudkan secara visual sebagai curahan perasaan atau pikiran,
misalnya gambar ilustrasi, foto, lukisan, kartun, poster, karikatur, chart,
grafik, bagan dan lain-lain. Media ini dapat merangsang timbulnya proses mental
pada diri siswa. Dengan kata lain, akan terjadi komunikasi antara siswa dengan
guru sehingga proses belajar dan mengajar berjalan dengan baik.
Media sebagai alat
bantu dalam proses belajar dan mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri bahwa guru yang menggunakannya dalam proses belajar dan mengajar
menganggap media tersebut hanya terbatas sebagai alat bantu semata yang boleh
diabaikan manakala media tersebut tidak ada. Akan tetapi, guru harus
memperhatikan media daam pengaruhnya yang sangat besar bagi tercapainya tujuan
pengajaran.
Tegasnya media
pengajaran merupakan suatu tindakan interaktif antara guru dengan siswa di
sekolah yang diselenggarakan dengan sistim komunikasi melalui berbagai alat
atau media yang berkaitan dengan proses belajar mengajar dalam rangka
meningkatkan kemampuan dan minat belajar siswa terutama pada pelajaran bahasa
Indonesia, misalnya: agar siswa dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat
bahasa Indonesia.
“Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu: (1)
keterampilan menyimak (listening skill), (2) keterampilan berbicara (speaking
skills), (3) keterampilan membaca (reading skills), (4) keterampilan
menulis (writing skills)” (Nida, 1957: 19; Harris, 1973: 9; Tarigan,
1981: 1)
Maka terlihat jelas
bahwa pokok bahasan menulis tidak bisa lepas dalam kurikulum bahasa Indonesia.
Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses
yang mendasari bahasa.
“Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil
seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.
Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak
latihan, melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan
berpikir” (Tarigan, 1980: 1, 1981: 2, Dawson [et.al], 1963: 27)
Kurikulum bahasa
Indonesia SD lebih menekankan kembali pengajaran bahasa Indonesia ke arah
keterampilan berbahasa siswa terutama kemampuan berbahasa tulis yag nsampai
saat ini masih dirasakan sangat kurang. Hal ini diupayakan dengan mengaitkan
bahasa dan bagian-bagiannya sebagai bahan pengajaran.
Keterampilan menulis
termasuk salah satu dari empat keterampilan berbahasa, oleh karenanya, tujuan
yang ingin dicapai dalam pelajaran keterampilan menulis tersebut tidak dapat
dipisahkan dari tujuan pengajaran bahasa Indonesia pada umumnya. Tentang tujuan
pengajaran bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan, Halim dalam Muhdali
(1998: 16) menjelaskan sebagai berikut:
“Tujuan pengajaran bahasa Indonesia di lembaga-lembaga
pendidikan kita adalah: (1) menjadikan anak didik kita manusia susila Indonesia
yang memiliki kepercayaan akan dasar dan filsafat negaranya, serta kebanggaan
atas bahasa dan sastra nasionalnya, dan (2) memberi anak didik kita penguasaan
atas pemakaian bahasa Indonesia”
Selanjutnya Hakim
dalam Muhdali menjelaskan tentang maksud penguasaan atas pemakaian bahasa,
yaitu: (1) kesanggupan memahami apa yang dikatakan atau yang dituliskan oleh
orang lain di dalam bahasa Indonesia, (2) kesanggupan memanfaatkan bahasa
Indonesia untuk menyatakan perasaan, pikiran dan keinginannya, baik secara
lisan maupun tulisan dengan tepat.
Pada sisi lain
ternyata keberadaan bahasa tulis itu lebih dominan jika dibandingkan dengan
bahasa lisan. Dalam hal ini Hastuti dalam Muhdali berpendapat:
Melalui
bahasa tulis ternyata kita lebih banyak menerima pengetahuan yang
bermacam-macam corak dan jenisnya dan mengenal komunikasi yang lebih luas
ternyata membutuhkan banyak bahas tulis daripada bahasa tutur atau bahasa
urutan (Hastuti dalam Muhdali, 1998: 19).
Keberadaan bahasa
tulis tidak dapat terlepas dari kemampuan atau keterampilan seseorang untuk
menulis. Bahkan dapat dikatakan bahwa adanya bahasa tulis tergantung pada
kemampuan menulis yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu, kemampuan
menulis harus dibudayakan pada siswa Sekolah Dasar (SD) karena kemampuan
tersebut merupakan bakat yang sangat berguna bagi masa depannya jika kelak
mereka terjun ke masyarakat atau meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih
tinggi.
Berdasarkan beberapa
pendapat para ahli di atas, penulis merasa terketuk untuk meneliti “Pengaruh
penggunaan media gambar terhadap peningkatan kemampuan menulis kalimat bahasa
Indonesia siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela tahun pelajaran 2008/2009”
1.2 Rumusan
Masalah
Bertolak pada latar
belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut:
1.
Adakah peningkatan kemampuan menulis kalimat
bahasa Indonesia siswa yang diajarkan dengan menggunakan media gambar dengan
siswa yang tidak menggunakan media gambar, siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela
tahun pembelajaran 2008/2009?
2.
Seberapa besar pengaruh penggunaan media gambar
terhadap peningkatan kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V
SDN No. 1 Pringgasela tahun pembelajaran 2008/2009?
3.
Apakah menulis kalimat menggunakan media gambar
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan menulis
kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela tahun pembelajaran
2008/2009?
1.3 Tujuan
Penelitian
Tujuan yang ingin
dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis
kalimat bahasa Indonesia siswa yang diajarkan dengan menggunakan media gambar
dengan siswa yang tidak menggunakan media gambar, siswa kelas V SDN No. 1
Pringgasela tahun pembelajaran 2008/2009.
2.
Mendeskripsikan seberapa besar pengaruh penggunaan
media gambar terhadap peningkatan kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia
siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela tahun pembelajaran 2008/2009?
3.
Mendeskripsikan apakah menulis kalimat
menggunakan media gambar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan
kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela
tahun pembelajaran 2008/2009?
1.4 Hipotesis
Penelitian
Hipotesis yang
dirumuskan dalam penelitian adalah bahwa ada pengaruh penggunaan media gambar
terhadap peningkatan kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V
SDN No. 1 Pringgasela tahun pembelajaran 2008/2009.
1.5 Manfaat
Penelitian
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat secara teori maupun secara praktis.
1.
Manfaat Teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan, khususnya dalam mengembangkan teori pengajaran bahasa Indonesia
tulis pada jenjang pendidikan dasar.
2.
Manfaat Praktis
a.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
dimanfaatkan oleh kepala sekolah tempat penelitian ini dilakukan untuk
digunakan sebagai pedoman dalam memberikan bimbingan kepada guru bahasa
Indonesia dalam meningkatkan kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia.
b.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
bagi para guru bahasa Indonesia kelas V dalam meningkatkan kemampuan menulis
kalimat bahasa Indonesia.
c.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
motivasi bagi para peneliti lain untuk mengembangkan penelitian lanjutan yang
lebih luas variabelnya dan mendalam telaahnya.
BAB
II
KAJIAN
TEORITIS
Pada
bab ini akan dipaparkan beberapa hal seperti: (1) deskripsi teoritis, (2)
penelitian yang relevan, dan (3) kerangka berfikir. Paparan tersebut akan
dibahas masing-masing.
2.1 Deskripsi
Teoritis
Bagian ini akan
membahas tentang media gambar dan menulis kalimat bahasa Indonesia.
2.1.1
Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa Latin
dan merupakan bentuk jamak dari kata median yang secara harfiah berarti
perantara atau pengantar, bahasa media itu merupakan wahana penyalur pesan atau
informasi belajar.
Beberapa pendapat para ahli mengenai
pengertian media sebagai berikut:
“Association for Education and Communication Technology (AECT)
mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk suatu proses
penyalur informasi”. Sedangkan Education Association (NEA) mendefinisikan
sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca ata
udibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan
belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektivitas program instruksional”
Dari definisi-definisi tersebut dapat
ditarik kesimpulan bahwa pengertian media gambar merupakan sesuatu yang
bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan
audien (siswa) sehingga dapta mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Penggunaan media secara kreatif akan memungkinkan audien (siswa) untuk belajar
lebih baik dan dapat meningkatkan performan mereka sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai.
Banyak alat bantu yang digunakan oleh
guru dalam menyajikan materi pelajaran, salah satu diantaranya adalah gambar.
Gambar dapat menerangi ruang kelas dan memberi banyak variasi dan minat
pelajaran bahasa (Coppen Sadiman, 1993: 25). Penggunaan gambar sangat penting
karena dapat memacu minat siswa untuk menjadikan kelas makin hidup.
Apabila media tersebut tidak bisa
menjalankan fungisnya sebagai penyalut pesan yang diharapkan maka ia tidak
efektif dalam arti tidak mampu mengkomunikasikan isi pesan yang ingin
disampaikan oleh sumber kepada sasaran yang ingin dicapainya. Oleh sebab itu
dalam mendesain pesan untuk suatu media harus diperhatikan ciri-ciri atau
karakteristik dari sasaran atau penerima pesan (umur, latar belakang sosial,
budaya, pendidikan, cacat badaniah dan sebagainya) dan kondisi belajar yaitu
faktor-faktor yang dapta merangsang atau mempengaruhi timbulnya kegiatan
belajar-mengajar, yang ingin dikatakan di sini adalah bahwa proses kegiatan
belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Dengan kata lain kegiatan
belajar melalui media terjadi bila ada komunikasi antara penerima pesan dengan
sumber lewat media tersebut.
Media yang dirancang dengan baik
dalam batasan tertentu dapat merangsang timbulnya semacam dialog internal dalam
diri siswa yang belajar, dengan kata lain terjadi komunikasi antara siswa
dengan sumber pesan atau guru. Bila demikian halnya, maka kita menyatakan bahwa
proses kegiatan belajar lancar, media berhasil membawakan pesan belajar bila
kemudian terjadi perubahan tingkah laku atau sikap belajar pada diri siswa.
Dalam salah satu artikelnya, Yusuf Hadi
Miarso (Badaruddin, 1998) memberikan batasan media pembelajaran tersebut
sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan siwa sehingga dapat mendorogn terjadinya proses belajar
pada diri siswa.
Alat bantu tertentu mendorong siswa
untuk aktif menggunakan bahasa dalam komunikasi. Siswa memperoleh informasi
dari gambar seperti, kosak ata baru, tata bahasa dan lain-lain. Semaua ini
disajikan oleh gambar, materi gambar sangat berguna dalam menyajikan kosakata
baru dan materi tata bahasa baru seperti menulis kalimat sesuai pola kalimat
yang benar (Yunus dalam Hamalik, 1994: 34).
Gambar memiliki banyak macam
kombinasi, seri dan gambar individu, gambar kombinasi merupakan gambar besar
yang mewujudkan pemandangan, misalnya: rumah sakit, pantai, kartun, sawah,
perkebunan dan sebagainya, dimana semua orang dapat dilihat mengerjakan
sesuatu. Gambar memungkinkan siswa dapat melihat tempat-tempat, orang dan
sebaliknya tidak dilihat dengan jelas karena jarak dan waktu, karena gambar
komunikasi tersebut sangat cocok untuk pengajaran kelompok di kelas dari
belajar sendiri.
Gambar seri atau rentetan peristiwa
berfungsi menceritakan suatu cerita, sedangkan gambar individu adalah gambar
objek orang, atau aktivitas seperti gambar dalam berbagai koran, majalah dan
poster. Mendapatkan gambar yang dimaksud
tentu tidak sulit, karena dalam berbagai majalah dan koran bisa didapatkan.
Atau guru dapat menggambar sendiri di papan tulis.
2.1.1.1
Fungsi Media
Pada mulanya media hanya berfungsi sebagai alat bantu visual
dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan
pengalaman visual kepada siswa antara lain untuk mendorong motivasi belajar,
memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak, dan mempertinggi daya serap atau
retensi belajar.
“Fungsi media dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru,
membangkitkan motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar, membawa pengaruh
psikologi terhadap siswa”. (Hamalik 1986)
Adapun fungsi media pembelajaran
menurut Edgar Dale, YD Finn, F. Hoban sebagai seberikut:
1.
Memberikan dasar pengalaman kongkrit.
2.
Mempertinggi perhatian anak.
3.
Memberikan realitas dan membentuk self activity.
4.
Memberikan hasil belajar yang permanen.
5.
Menambah perbendaharaan bahasa anak.
6.
Memberikan pengalaman.
Dari pendapat di atas dapat kita
mengambil kesimpula nbahwa fungsi media pembelajaran adalah (1) membantu
memudahkan belajar bagi siswa/mahasiswa dan membantu memudahkan mengajar bagi
guru/dosen, (2) memberikan pengalaman lebih nyata (yang abstrak dapat menjadi
kongkrit), (3) menarik perhatian siswa lebih besar (jalannya pelajaran tidak
membosankan), (4) semua indra murid dapat diaktifkan, kelemahan satu indra
dapat diimbangi oleh kekuatan indra lainnya (4) lebih menarik perhatian dan
minat murid dalam belajar, (6) dapat membangkitkan dunia teori dengan
realitanya.
2.1.2
Belajar/Pembelajaran
2.1.2.1
Pengertian Belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar
adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini yang
dipentingkan pendidikan intelektual. kepada anak-anak diberikan bermacam-macam
pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan
menghafal.
Ahli pendidikan modern merumuskan
perbuatan belajar sebagai berikut: “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan
atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah
laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu
misalnya dari tidak tahum enjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul
dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila, dan emosional”
Selanjutnya dalam kamus paedagogik
dikatakan bahwa belajar adalah berusaha memiliki pengetahuan atau kecakapan.
Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatannya. Ia baru dapta
melakukan sesuatu dari hanya dari proses belajar sebelumnya, tetapi harus
diingat juga bahwa belajar mempunyai hubungan yang erat dengan masa peka, yaitu
suatu masa dimana suatu fungsi maju dengan pesat untuk dikembangkan.
Dari definisi di atas, dapatlah
diambil kesimpulan bahwa, “berlajar adalah proses perubahan di dalam diri
manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia,
maka tidaklah dapat dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar”
Sedangkan pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran.
Sistem pendidikan, faktor dan kondisi
yang baru, baik yang berkenaan dengan sarana fisik maupun non-fisik sangat
berpengaruh dalam mencapai atua merupakan tujuan pendidikan. Untuk itu
diperlukan tenaga pengajar yang kemampuan dan kecakapan yang lebih memadai,
diperlukan kinerja dan sikap yang baru, peralatan yang lebih lengkap dan
administrasi yang lebih teratur.
2.1.2.2
Langkah-Langkah Belajar
Roger (dalam Dimyati dan Mudjiono,
2002: 17) mengemukakan saran tentang langkah-langkah pembelajaran yang perlu
dilakukan oleh guru. Saran pembelajaran yaitu: (1) guru memberi kepercayaan
kepada kelas agar kelas memilih belajar secara teratur, (2) guru dan siswa
membuat kontrak belajar, (3) guru menggunakan metode inkuiri/belajar menemukan
(discovery learning), (4) guru menggunakan metode simulasi, (5) guru
mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan
berpartisipasi dengan kelompok lain, (6) guru bertindak sebagai fasilitator
belajar, (7) sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram, agar tercipta
peluang bagi siswa untuk timbulnya kreativitas.
Keempat pandangan tentang belajar
tersebut merupakan bagian kecil dari pandangan yang ada. Untuk kepentingan
pembelajaran, para guru dan calon guru masih harus mempelajari sendiri dari
psikologi belajar.
2.1.2.3
Prinsip-Prinsip Belajar dan Pembelajaran
Banyak teori dan prisnip-prinsip
belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lainnya memiliki
persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat
beberapa prinsip yang relatif berlaku mum yang dapat kita pakai sebagai dasar
dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya
belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya.
Supaya belajar terjadi secara efektif
perlu diperhatikan bebrapa prinsip antara lain:
1.
Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan
kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik, motivasi intrinsik
dinilai lebih baik sebab berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu
sendiri.
2.
Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap
pelajaran erat kaitannya dengan motivasi.
3.
Aktivitas belajar it usendiri adalah aktivitas
bila pikiran perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran,
pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan metode dan media yang
bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.
4.
Umpan balik di dalam belajar sangat penting,
supaya siswa segera mengetahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Umpan
balik dari guru, sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan
mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.
5.
Perbedaan individual adalah individu tersendiri
yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan
melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing.
2.1.2.4
Peran Guru dalam Pembelajaran Menggunakan Media
Gambar
Peran adalah bagian dari tugas yang
harus dilaksanakan dan memberi pengaruh, fungsi dan kegunaan dalam bertindak.
Peran berarti mempunyai tugas atau jabatan untuk mengadakan suatu perbaikan ke
arah yang lebih menguntungkan dan menggembirakan sesuai tujuan yang telah
ditetapkan.
Lebih lanjut connel (1974) yang
dikutip oleh Made Pidarta (1997) menyebutkan bahwa peranan-peranan pendidik
atau guru mencakup: (1) sebagai pendidik yang memberi dorongan, supervisi,
pendisiplinan peserta didik, (2) sebagai model perilaku yang akan ditiru oleh
anak-anak, (3) sebagai pengajar dan pembimbing dalam proses belajar mengajar,
(4) sebagai pengajar yang selalu meningkatkan profesinya, khususnya
memperbaharui materi yag nakan diajarkan, (5) sebagai komunikator terhadap
orang tua siswa dan masyarakat, (6) sebagai tata usaha terhadap administrasi
kelas yang diajarkan, (7) sebagai anggota organisasi pendidikan.
Para gur udituntut agar mampu
menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup
kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan
zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien
yang meskipun sederhana dan bersajaha tetapi merupakan keharusan dalam upaya
mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Di samping mampu menggunakan
alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan
keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media
tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran, yang meliputi (Hamalik, 1994: 6).
1.
Media sebagai alat komunikasi guna lebih
mengefektifkan proses belajar mengajar.
2.
Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan.
3.
Seluk beluk proses belajar.
4.
Hubungan antara metode mengajar dan media
pendidikan.
5.
Nilai dan manfaat media pendidikan dalam
pengajaran.
6.
Pemilihan dan penggunana media pendidikan.
7.
Berbagai jensi alat dan teknik media pendidikan.
8.
Media pendidikan dalam setiap mata pelajaran.
9.
Usaha inovasi dalam media pendidikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar
demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di
sekolah pada khususnya.
Pengajaran dengan menggunakan media
gambar, tidak berpusat pada guru, tetapi pada siswa. Gambar merupakan salah
satu media yang tidak jarang digunakan oleh guru dalam memberikan pelajaran.
Hal tersebut karena media gambar memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan
dengan media lainnya. Dengan media gambar akan memberikan kemudahan kepada
siswa dalam apa yang dijelaskan guru, tanpa meminta guru menguraikan terlalu
banyak tentang suatu pokok bahasan. Penggunaan media gambar yang bervariasi
dapat menolong siswa untuk menangkap ide dalam cerita, tidak menimbulkan rasa
bosan, dan meningkatkan motivasi dalam belaajr, apalagi diberikan warna-warna
memperbanyak kosa kata, dan dapat melatih daya imajinasi siswa, sehingga dapat
dituangkan dalam bentuk tulisan. Untuk mencapai susunan yang diinginkan, media
gambar harus memiliki tiga aspek, aspek tersebut adalah aspek efisien, aspek
efektif dan aspek komunikatif.
2.1.2.5
Peran Siswa dalam Proses Pembelajaran
Menggunakan Media Gambar
Peran siswa dalam proses belajar dan
pembelajaran di kelas, menurut Breen dan Candlin menjabarkan peranan pembelajar
dalam kelas sebagai berikut:
Peran pembelajar sebagai negosiator antara dirinya, proses belajar,
dan objek pembelajaran muncul dari dan berinteraksi dengan peran negosiator
bersama di dalam kelompok, implikasinya bagi pembelajar adalah bahwa ia harus
menyambungkan sebisa mungkin dari yang dia peroleh, dengan demikian dia belajar
secara bebas.
Apa yang dimaksud dengan pembelajar
sebagai negosiator di sini adalah bahwa semua yang terlibat di dalam proses
tersebut harus mengakui bahwa pembelajar sudah memiliki preferensi bagaimana
seharusnya pengajaran itu. Peran ini akan mempengaruhi dan sekaligus
dipengaruhi oleh peran negosiator gabungan dengan kelompoknya sehingga mewarnai
prosedur dan aktivitas belajar secara keseluruhan.
Secara tidak langsung penggunaan
media gambar alam luar yang dibawa ke hadapan siswa di dalam kelas, sehingga
dengan media gambar siswa akan termotivasi untuk belajar. Dengan media gambar
siswa akan terpancing untuk membuat latihan-latihan pola kalimat.
Secara umum dapat dikatakan bahwa
media gambar dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. ahli
lain memaparkan pendapatnya pentingnya penggunaan meida gambar, antara lain:
1.
Media gambar dapat menimbulkan daya tarik pada
diri siswa. gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan membangkitkan
perhatian serta minat siswa.
2.
Mempermudah pengertian maksud suatu penjelasan
yang sifatnya abstrak, dapat dibantu dengan gambar sehingga siswa lebih mudah
memahami apa yang dimaksud.
3.
Membuat suasana interaksi guru dengan siswa
dalam suasana belajar yang menyenangkan (Dra. Suyatmi, 1987: 12).
Penggunaan media gambar mempunyai
pengertian proses atau cara menggunakan sejumlah gambar yang merupakan tiruan
manusia, binatang, tumbuhan dan sebagainya sebagai perantara untuk menciptakan
kondisi yang memungkinkan siswa menerima pengetahuan, keterampilan dan sikap.
2.1.3
Menulis Kalimat Bahasa Indonesia
2.1.3.1
P engertian Menulis
Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan (1986)
menjelaskan menulis merupakan suatu keterampilan berbahsa yang dipergunakan
untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Hal ini dapat juga diartikan sebagai
sarana komunikasi dalam mengungkapkan pikiran, perasaan dan kehendak pada orang
lain. Dengan kata lainnya menulis ialah menurunkan atau melukiskan
lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh
seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik
teresbut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.
2.1.3.2
Pengertian Kalimat
Banyak ahli memberikan definisi
kalimat. Menurut Keraf (dalam L. Mas’ud, 2005: 13) kalimat adalah satu bagian
ujaran yang didahului kessenyapan sedangkan intonasinya menunjukka nbahwa
bagian ujaran itu sudah lengkap (1969: 140) pendapat senada juga dikemukakan
oleh Nazir (1986: 335) kalimat adalah bentuk linguistik yang terdiri atas satu
kata atau lebih yang ditandai oleh lagu akhir selesai baik yang menurun maupun
menaik.
Menurut Tarigan, kalimat adalah satuan bahasa yang
secara relatif dapat berdiri sendiri yang mempunyai pola intonasi akhir dan
terdiri dari klausa. Berbeda dengan Purwardarminto, kalimat adalah sepatah kata
atua sekelompok kata yang merupakan suatu kesatuan yang mengutarakan suatu
pikiran atau perasaan.
Dari definisi yang diberikan para
ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah suatu bagian arus
ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya
menunjukka nbahwa bagian arus ujaran itu mengandung makna lengkap.
Dalam bahasa tulis, kalimat memiliki
dua ciri, yaitu ciri visual dan ciri idea, ciri-ciri visual, bahwa kalimat
dimulaidengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.) jika kalimat
itu kalimat berita, tanda seru (!) jika kalimat perintah, dan tanda tanya (?)
apabila kalimat tersebut kalimat tanya. Ciri idea, bahwa setiap kalimat
mengandung satu makna lengkap.
Pada prinsipnya fungsi utama ari
tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat
penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir. Juga dapat
menolong kita berpikir secara kritis. Juga dapat memudahkan kita merasakan dan
menikmati hubungan-hubungan, memperdalam daya tangga atau persepsi kit.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang
dikemukakan oleh D’Angelo (1980: 5 dalam Tarigan, 1992).
Yang paling penting diantara prinsip-prinsip yang dimaksudkan itu
adalah penemuan, susunan dan gaya. Secara singkat: belajar menulis adalah
berpikir dalam/dengan cara tertentu.
Seseorang dapat dikatakan menulis
dengan baik jika dapat mengungkapkan maksudnya dengan jelas sehingga orang lain
dapat memahami apa yang diungkapkan. Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan
Morsey (dalam Tarigan, 1992):
Tulisan dipergunakan oleh orang-orang terpelajar untuk merekam,
menyakinkan, melaporkan dan mempengaruhi orang lain, maksud dan tujuan tersebut
hanya bisa tercapai dengan baik oleh orang-orang (atau para penulis) yang dapat
menyusun pikirannya serta mengutarakannya dengan jelas (dan mudah dipahami);
kejelasan tersebut tergantung pada pikiran, susunan/organisasi, penggunaan
kata-kata dan struktur kalimat yang cerah.
Pendapat di atas menyatakan bahwa
seorang penulis yang baik sekurang-kurangnya harus memiliki kepekaan terhadap
keadaan sekitarnya agar tujuan penulisan dapat dipahami oleh pembaca. Dari
penulis diperlukan adanya suatu bentuk expresi gagasan yang berkesinambungan
dan mempunyai urutan logis dengan menggunakan kosa kata dan tata bahasa
tertentu sehingga dapat menggambarkan atau penyajian informasi latihan dan
prakti secara kontinyu.
Adapun ciri-ciri tulisan yang baik
adalah: (1) mencerminkan kemampuan sang penulis mempergunakan nada yang serasi,
(2) mencerminkan kemampuan sang penulis menyusun bahan-bahan yang tersedia
menjadi suatu keseluruhan yang utuh, (3) mencerminkan kemampuan sang penulis
untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar: memanfaatkan struktur
kalimat, bahasa, dan contoh-contoh sehingga maknanya sesuai dengan yang
diinginkan oleh sang penulis. Dengan demikian para pembaca tidak usaha
payah-payah bergumul memahami makna yang tersurat dan tersirat, (4) kemampuan
sang penulis untuk menulis secara meyakinkan: menarik minat pembaca terhadap
pokok pembicaraan serta mendemonstrasikan suatu pengertian yang masuk akal dan
cermat-teliti mengenai hal itu, (5) mampu menulis untuk mengkritik naskah
tulisannya yang pertama serta memperbaikinya, (6) mencerminkan kebanggaan sang
penulis dalam naskah atau manuskrip: kesediaan mempergunakan ejaan dan tanda
baca secara seksama, memeriksa makna kata dan hubungan ketatabahasaan dalam
kalimat-kalimat sebelum menyajikannya kepada pembaca, penulis yang baik
menyadari benar-benar bahwa hal-hal kecil seperti itu dapat memberi akibat yang
kurang baik terhadap karyanya.
2.2 Penelitian
yang Relevan
Memberikan hasil
penelitian yang relevan dimaksudkan untuk memperoleh dukungan serta memperkuat
teori yang dijelaskan, baik oleh para ahli maupun kesimpulan yang telah dilakukan
peneliti terdahulu.
Penelitian yang
dilakukan Lukman (1998) mengangkat permasalahan seberapa banyak kosakata yang
dikuasai oleh siswa dan bagaimana karangan mereka jika dipadukan dengan gambar,
sementara tujuannya adalah untuk mengetahui kosakata yang dikuasia oleh siswa
dan hasil karangan mereka jika dipadu dengan media gambar.
Penelitian ini
menggunakan rancangan oks-post fakto dan menggunakan sampel mahasiswa semester
VII program sudi pendidikan Bahasa Indonesia STKIP HAMZANWADI Selong. Dalam hal
ini, instrumen dipakai untuk menjaring data adalah tes mengarang dengan
menampilkan rangkaian gambar (gambar seri). Adapun hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa tingkat penguasaan kosa kata (menggunakan gambar) mempunyai
korelasi yang signifikan terhadap kemampuan menulis.
2.3 Kerangka
Berpikir
Pada bagian ini akan
diuraikan kerangka berpikir sebagai berikut: media gambar merupakan media yang
mampu membangkitkan motivasi belajar siswa dan dapat meningkatkan prestasi
mereka dalam pengajaran keterampilan menulis.
Untuk membantu siswa
dalam proses belajar mengajar keterampilan menulis, dperlukan media yang dapat
mempermudah siswa untuk memahami suatu kemampuan melalui bahasa Indonesia.
Salah satu media yang dapat digunakan adalah media gambar. Ada beberapa alasan,
karena : (1) media gambar merupakan media yang efektif, efisien dan
komunikatif, (2) media gambar merupakan media yang praktis dan ekonomi karena
mudah dalam penerapannya, (3) dengan media gambar dapat meneliti dan
mempertajam imajinasi sehingga dapat diuraikan dalam bentuk tulisan, (4) media
gambar dapat menarik perhatian siswa sehingga ada ketertarikan dalam menulis,
(5) media gambar mudah diperoleh sehingga mudah dipersiapkan dalam proses
belajar mengajar. Dengan demikian secara teoritis media gambar ini dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kalimat bahasa Indonesia dan
meningkatkan prestasi siswa.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
Metodologi
penelitian merupakan bagian penting dalam penyusunan karya ilmiah, dimana karya
ilmiah tersebut mempunyai tujuan yang jelas serta disusun secara sistematis
dengan metode yang tepat untuk mencapai kebenaran ilmiah. Dengan demikian,
metodologi penelitian merupakan persyaratan mutlak dalam menyusun karya ilmiah.
Sehubungan
dengan pentingnya metode dalam penelitian ilmiah, maka pada bab ini akan
diuraikan tentang (1) rancangan penelitian, (2) populasi dan sampel penelitian,
(3) instrumen penelitian, (4) teknik pengumpulan data, dan (5) teknik analisis
data.
3.1 Racangan
Penelitian
Penelitian sebagai suatu
kegiatan yang bertujuan mempunyai kaitan erat dengan metode. Metode penelitian
berkaitan dengan alat dan teknik pelaksanaan penelitian. Penelitian dan metode
selalu dikaitkan dengan masalah atau objek yang dikaji. Adanya perbedaan objek
penelitian di lapangan, memungkinkan bagi penggunaan atau pemilihan metode yang
berbeda pula. Sehubungan dengan hal tersebut, Ridwan (1993: 25) menyatakan
bahwa pada umumnya dikenal ada dua macam pendekatan dalam penelitian yakni
eksperimen apabila gejala yang diteliti itu timbul dengan sengaja, dan metode
eks-post fakto apabila gejala yang diteliti memang ada secara wajar.
Penelitian ini
menggunakan rancangan eksperimen dengan Ramdomized Control-Group. Dalam
rancangan ini subjek yang berjumlah 30 orang yang terdiri dari 15 orang siswa
laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Pengambilan sampelnya dilakukan secara
acak (random sampling), satu kelompok ditetapkan menjadi kelompok
eksperimen, kelompok ini dikenai perlakuan khusus. dalam hal ini kelompok
eksperimen diajarkan menggunakan media gambar, sementara kelompok kontrol
diajarkan menggunakan metode tradisional. Kelompok ini tidak dimanipulasi atau
berjalan sesuai yang berlaku saat ini. Kedua kelompok ini dikenai pengukuran
yang sama.
Selanjutnya, keadaan
objek penelitian ini sengaja ditimbulkan, artinya peneliti perlu memperlakukan
subjek penelitian untuk menimbulkan gejala yang diinginkan, dengan demikian
metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Alasan menggunakan metode ini
karena ingin mengetahui pengaruh penggunaan media gambar terhadap peningkatan
kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia siswa Kelas V SDN No. 1 Pringgasela.
3.2 Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi adalah
keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua eelemen
yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian
populasi (Arikunto, 2006: 131). Dinamakan penelitian sampel apabila kita
bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.
Dari paparan tersebut,
disimpulkan bahwa populasi merupakan individu yang dikenai penelitian. Atas
dasar paparan tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela tahun pembelajaran 2008/2009 berjumlah 30
orang yang terdiri dari 15 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan.
Sehubungan dengan jumlah populasinya kurang dari seratus (100 orang), maka
peneliti menetapkan semua populasi yang dijadikan sampel penelitian.
3.3 Variabel
Penelitian
Untuk menghindari
adanya pengaruh faktor luar dan memudahkan interpretasi dalam penelitian ini,
digunakan satu variabel bebas yaitu pengaruh penggunaan media gambar dan satu
variabel terikat, peningkatan kemampuan menulis kalimat bahasa Indonesia.
Berdasarkan
variabel-variabel penelitian tersebut, dapat digambarkan rancangan analisis
yang digunakan yaitu rancangan analisis varians 1 jalur sebagai berikut:
Tabel 3.1
Rancangan Analisis Varians 1 Jalur
|
No
|
Penggunaan
pembelajaran terhadap group eksperimen dan group kotnrol
|
|
|
|
Group
eksperimen diajarkan menggunakan media gambar (A1)
|
Group
kontrol diajarkan menggunakan metode tradisional (A2)
|
Rancangan yang
diterapkan adalah kelompok acak, rancangan analisis varians 1 jalur. Penelitian
ini mempunyai beberapa karakteristik, sebagai berikut:
1.
Mempunyai dua kelompok subjek yakni: (a)
kelompok eksperimen, dan (b) kelompok kontrol.
2.
Kedua kelompok dibandingkan dengan mengukur
variabel bebas.
3.
Pengukuran terhadap variabel terikat kedua
kelompok dilakukan pada waktu yang sama dengan tes yang sama pula.
4.
Kedua kelompok diuji pada waktu yang bersamaan.
5.
Kelompok eksperimen dimanipulasi dengan
memberikan perlakuan khusus. dalam hal ini, kelompok eksperimen diajarkan
menggunakan media gambar, sementara kelompok kontrol diajarkan metode
tradisional.
Penelitian ini bermaksud mencari
bukti empiris apakah variabel bebas mempengaruhi variabel terikat dan
selanjutnya mengidentifikasi signifikansi dari pengaruh tersebut.
3.4 Instrumen
Penelitian
Instrumen penelitian
ini berupa tes. Jenis tes yang dipakai adalah tes subjektif dalam bentuk
membuat kalimat. Tes subjektif merupakan jenis tes yang memiliki nilai
subjektifitas tinggi, dimana setiap penilai akan memberikan nilai yang relatif.
Beberapa alasan yang membuat penulis menggunakan tes subjektif antara lain: (1)
penggunaan tes essay atau tes subjektif dapat dengan mudah memberikan
kesempatan kepada anak-anak untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan
pikirannya sendiri, (2) bentuk tes ini sangat cocok untuk mengukur atau menilai
hasil dari pada suatu proses belajar yang kompleks, yang sukar diukur dengan
mempergunakan tes objektif, (3) bentuk membuat kalimat dengan menggunakan
gambar memberikan kualitas tinggi, (4) di dalam tes subjektif memungkinkan
siswa menunjukkan apa yang dikuasainya secara maksimal, mengorganisir bahwa
pikirannya, serta kreatifiitasnya dalam mendekati masalah dan kemampuan
mengekspresikan diri secara tertulis dengan teratur, (5) bentuk membuat kalimat
dengan menggunakan gambar dapat mengukur hasil belajar yang bervariasi, berawal
dari masalah yang sederhana, meningkat ke masalah yang lebih kompleks.
3.5 Teknik
Pengumpulan Data
Data penilaian ini
diperoleh dari satu jenis instrumen yakni tes. Tes ini digunakan untuk
menjaring data yang diambil dari materi dalam buku teks bahsa Indonesia kelas V
untuk siswa Sekolah Dasar (SD) yang sudah disesuaikan dengan kurikulum untuk
dijawab oleh siswa berdasrkan materi yang dibenarkan.
Selanjutnya
pengadministrasian tes tersebut menempuh prosedur sebagai berikut: (1) tes
dibagikan kepada siswa yang menjadi sampel penelitian, kemudian mereka diminta
menjawab soal yang diberikan untuk menjawab soal telah selesai (60 menit), (2)
sebelum mereka mengumpulkan jawbannya, (3) akhirnya peneliti mengecek lembar
jawaban, apakah sesuai dengan jumlah sampel atau sebaliknya, dan (4) peneliti
mengoreksi dan memberikan skor sepuluh (10) sehingga skor tertinggi yang
diperoleh (100) dan skor terendah (0) dan selanjutnya diadakan proses analisis
dta.
3.6 Teknik
Analisis Data
Dalam teknik analisis
data akan dibahas (1) teknik deskripsi data, (2) teknik uji persyaratan
analisis, dan (3) teknik uji hipotesis
3.6.1
Teknik Deskripsi Data
Teknik anlaisis data adalah suatu
cara yang digunakan untuk mengolah dan menyusun data yang terkumpul sehingga
dapta menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Sebelum data hasil penelitian ini diolah terlebih dahulu diadakna
pengujian normalitas data dan pengujian hipotesis dengan memakai analisis
statistik.
3.6.2
Teknik Uji Persyaratan Analisis
Teknik anlaisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi dan korelasi linier
sederhana. Penggunaan teknik tersebut berdasarkan atas tujuan penelitian ini.
Untuk teknik pengujian ini, persyaratan utama adalah persyaratan linieritas dan
normalitas data. Dengan demikian, uji persyaratan yang harus dibuktikan sebagai
data hasil penelitian ini adalah persyaratan linieritas disamping normalitas
data.
Sesuai dengan teknik analisis yang
dipilih, maka harus diimbangi dengan persyaratan analisis yang harus bisa
dipenuhi. Dalam analisis regresi dan korelasi linier sederhana, teknik analisis
ebagai persyaratan harus dipeuhi secara linieritas dan normalitas. Dengan
demikian, persyaratan analisis perlu dibuktikan untuk data hasil penelitian ini
adalah persyaratan linieritas dan normalitas data yakni uji linieritas antara
masing-masing variabel terikat dan normalitas data dari semua variabel
penelitian.
1.
Uji Linieritas
Uji linieritas data dilakukan
apabila F-hitung lebih kecil dari F-tabel, maka Ho linieritas harus diterima,
sebaliknya, jika F-hitung lebih besar dari F-tabel, maka Ho harus ditolak,
artinya data berhubungan tidak linier.
Uji linieritas data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah garis regresi dimana akan membandingkan antara
regresi linier dengan regresi kuadrat. Rumus yang digunakan dalam kaitannya
dengan uji linieritas dikutip dari Nurhiyantoro (1996: 77) adalah sebagai
berikut:
Pada tahap berikutnya dihitugn skor
deviasinya, dimana siswa atau responden dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok
kemampuan, yaitu:
1)
Kelompok siswa yang mempunyai kemampuan tinggi
dengan rumus:
M + 1 SD
2)
Kelompok siswa yang mempunyai kemampuan rendah
dengan rumus:
M – 1 SD
Cara mencapai taraf kemampuan
menulis pada siswa kelas V SDN No. 1 Pringgasela tahun pelajaran 2008/2008
sebagai berikut:
Sedangkan standar mencari deviasi
data berkelompok penulis menggunakan rumus sebagai berikut:
Deviasi standar
untuk data kelompok dapat dicari dengan menggunakan rumus:
2.
Uji Normalitas
Teknik uji normalitas data digunakan
apabila teknik normalitas tes dari Kolmograf-simirnov yang menghasilkan nilai
ke-sx. Dalam uji dokumentasi ini, sebaran data yang digunakan adalah teknik
chi-kuadrat dengan rumus dikutip dari Nurgiyantoro (1996: 67) sebagai berikut:
Dimana:
Fo = frekuensi
hasil pengamatan
Fe = frekuensi
harapan
3.6.3
Teknik Uji Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban
sementara yang kebenarannya masih perlu diuji secara empiris. Arikunto (2006:
71) menyatakan hawa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang sebenarnya masih perlu diuji secara empiris. Atas dasar
definisi teresbut, maka hipotesis yag ndiajukan dalam penelitian ini masih harus
diuji kebenarannya. Hipotesis tersebut diajukan dalam bentuk hipotesis
alternatif verbal direksional.
Untuk mengetahui yang diajukan
diterima atau ditolak, maka data dianalisis dengan teknik regresi sederhana.
Pemilihan teknik tersebut didasarkan pada tujuan penelitian yang hendak
dicapai. Rumus yang dipakai untuk mengkorelasikan kedua variabel adalah rumus
korelasi product moment yang dikutip dari Arikunto (1985: 78) sebagai berikut:
Dimana:
r
= koefisien korelasi
N
= jumlah sampel
x
= nilai mentah variabel x
y
= nilai mentah variabel y
Apabila koefisien korelasi telah
ditemukan, maka dilakukan pengujian hipotesis dengan ketentuan: Tolak Ho jika
t-hitung lebih besar (>) t-tabel pada taraf uji 0,05 dan derajat kebebasan
tertentu. Sebaliknya, Ho tidak ditolak apabila t-hitung lebih kecil (<)
t-tabel. Apabila Ho ditolak berarti terdapat korelasi yang signifikan dan jika
terjadi sebaliknya, maka Ho tidak ditolak berarti terbukti signifikan.


1 komentar
penulisnya siapa ini?
Poskan Komentar