Wednesday, December 5, 2012

kumpulan skripsi bahasa indonesia KEMAMPUAN MENGAPRESIASIKAN UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK CERPEN LAUT KARYA NGURAH PARSNA SISWA KELAS III MTs. NW SUKARARA


 KEMAMPUAN MENGAPRESIASIKAN UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK CERPEN LAUT KARYA NGURAH PARSNA
SISWA KELAS III MTs. NW SUKARARA
TAHUN PEMBELAJARAN 2007/2008






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
             Tujuan pengajaran sastra di SLTP ialah agar lulusan SLTP memiliki pengetahuan tentang sastra, maupun mengoperasikan sastra, bersikap positif terhadap nilai sastra dan dapat mengembangkan pengetahuan serta kemampuan bagi kepentingan lebih lanjut (Depdikbud, 1993: 2).
             Untuk mewujudkan harapan tersebut, telah dilakukan usaha pembinaan dan pengembangan kesusastraan nasional, diantaranya ialah pengajaran sastra Indonesia. Pembinaan dan pengembangan yang dimaksud untuk meningkatkan mutu pengajaran sastra sehingga mampu berfungsi sebagai sarana efektif dan efisien untuk membina murid agar dapat: 1) memiliki pengetahuan, kecakapan, memahami dan menghayati karya-karya sastra Indonesia, 2) Memiliki kepekaan emosional, imajinatif, dan estetis terhadap nilai-nilai artistis yang terwujud pada unsur-unsur intrinsik yang signifikan dalam karya sastra Indonesia, dan 3) emiliki kemampuan, keterampilan dalam menanggapi dan menilai secara kritis unsur artistik karya-karya sastra (Depdikbud, 1993: 3).
             Disamping fungsi di atas, diharapkan pula usaha membina dan mengembangkan pengajaran sastra Indonesia agar menjadi pengajaran sastra yang berkembang secara ekektif dan bermutu tinggi.
             Tak dapat disangkal bahwa apresiasi sastra di kalangan para pelajar kita masih merupakan masalah yang cukup rumit. Dikatakan demikian dalam hubungan dan pengakuan dan idealisasi kita bahwa para pelajar adalah bibit generasi pengembang kesusastraan yang baik, di samping sastra merupakan tempat atau wadah yang memberikan kesempatan kepada manusia terpelajar untuk berkontemplasi menemukan nilai-nilai dan menghayati hidup secara lebih intensif.
             Melalui kegiatan pengajaran sastra Indonesia di SLTP, guru dan masyarakat mengharapkan agar siswa memiliki wawasan yang memadai tentang sastra, bersikap positif terhadap sastra serta mampu mengembangkan wawasan, kemampuan dan sikap positifnya lebih lanjut.
             Berkaitan dengan hal itu, maka masalah kemampuan mengapresiasikan sastra para siswa SLTP sangat penting untuk diteliti atau ditelaah untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor penyebab timbulnya permasalahan sastra tersebut. Melalui usaha tersebut diharapkan dapat ditemukan langkah-langkah yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kemampuan para pelajar dalam mengapresiasikan sastra Indonesia lebih komprehensif.
1.2  Rumusan Masalah
             Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penelitian ini mempermasalahkan bagaimanakah kemampuan mengapresiasikan unsur ekstrinsik cerpen “Laut” karya Ngurah Parsna siswa kelas III MTs. NW Sukarara Tahun Pelajaran 2008/2009?
1.3  Tujuan Penelitian
             Tujuan penelitian pada dasarnya untuk menemukan jawaban permasalahan. Karena itu, tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan mengapresiasikan unsur ekstrinsik cerpen “Laut” karya Ngurah Parsna siswa kelas III MTs. NW Sukarara Tahun Pelajaran 2008/2009 dalam menentukan:
a.       Tema
b.      Alur
c.       Latar
d.      Penokohan
e.       Amanat
f.       Nilai pendidikan cerpen
1.4  Manfaat Penelitian
             Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pribadi peneliti maupun bagi pihak lain.
Adapun manfaat penelitian ini yaitu:
1.4.1        Bagi pribadi peneliti
a.       Meningkatkan keterampilan dalam menulis karya ilmiah.
b.      Meningkatkan penguasaan tentang apresiasi sastra.
c.       Menambah wawasan dan pengetahuan dalam sastra.


1.4.2        Bagi pihak lain
a.       Bagi guru, dapat meningkatkan upaya pembinaan dalam mengapresiasi sastra di sekolah.
b.      Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dalam mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran.
c.       Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat mengembangkan bakat dan minat membaca cerita pendek.


BAB II
LANDASAN TEORI
           
            Dalam setiap penelitian ilmiah, mutlak dperlukan adanya landasan teori, untuk menunjang dan mengarahkan sebuah penelitian dengan tidak terlepas dari keterbatasan dan kemampuan serta penalaran yang dimiliki oleh peneliti. Oleh karena itu penulis/peneliti merujuk pada pendapat beberapa ahli dan sastrawan atau penulis terkenal dengan teorinya yang dapat diterima oleh banyak orang.
            Menanggapi, menilai dan memahami sesuatu memerlukan suatu cara pendekatan atau metode tertentu yang bertolak dari suatu kerangka teori. Hasilnya sangat ditentukan dari sudut mana memandang karya itu. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode struktural.
            Metode struktural bertitik tolak dari suatu konsep bahwa karya sastra terbina oleh berbagai norma. Norma-norma itu merupakan kelompok yang satu sama lainnya sehingga merupakan suatu organisme (Wellek, 1956: 27), pendekatan struktural juga melihat sastra dalam hubungannya dengan struktur kebudayaan secara menyeluruh. Dengan demikian sebuah karya sastra terdiri dari struktur-struktur yang membentuk suatu organisasi yang sangat kompleks yang terdiri dari berbagai lapisan dengan aneka makna yang saling berkaitan.
            Strukturalisme merupakan upaya untuk menemukan relasi yang tersembunyi dari serangkaian obyek tertentu (Straus lane, 1970: 4). Dengan demikian, untuk memahami suatu karya sastra menurut metode struktural, pengamat atua peneliti harus melihat hubungan unsur-unsur secara menyeluruh. Bila menilai karya sastra dengan cara melepas unsur-unsurnya tanpa mengatakan kembali unsur-unsur yang dianalisis, penilaian akhirnya akan menghasilkan unsur-unsur yang pragmentaris (Hill, 1966: 6).
2.1  Konsep Dasar Struktural Sebuah Karya Sastra
             Burhan Nurgiyantoro (1995: 39) mengemukakan bahwa struktural karya sastra mengarah pada pengertian hubungan antar unsur (intrinsik) yang bersifat timbal balik, saling menentukan dan mempengaruhi yang secara bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Dengan demikian, setiap unsur baru mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya dengan unsur-unsur lain yang terkandung di dalamnya.
             Analisis karya sastra dalam hal ini, novel dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan, misalnya bagaimana keadaan peristiwa itu, plot, tokoh, penokohan, setting, latar, sudut pandang dan sebagainya.
             Sebagaimana pendapat Burhan (1995: 37) bahwa “analisis struktural tidak cukup dilakukan hanya sekedar mendata unsur tertentu sebuah roman, namun lebih penting adalah menunjukkan bagaimana hubungan antar unsur itu”
2.2  Analisis Struktur Karya Sastra
             Teeuw menjelaskan, analisis struktural bukanlah penjumlahan anasir-anasir karya sastra (Teeuw, 1988: 135). Pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, secara mendetail dan seteliti mungkin keterkaitan semua anasir dan aspek karya sastra secara bersama-sama yang menghasilkan makna menyeluruh.
             Dalam rangka menganalisis karya sastra, ada beberapa aliran pendekatan. Pendekatan itu antara lain adalah pendekatan analitis. Pendekatan ini bertautan dengan New Crtisme serta strukturalisme. Dengan pendekatan ini dilaksanakan telaah tentang adanya ambiugitas, paradoks maupun ironi dalam karya sasstra lewat telaah karakter, setting, plot dan tema serta gaya bahasa yang ada. Di samping itu juga analisis tentnag adanya pesan, himbauan, maupun nilai-nilai yang dipaparkan pengarangnya dengan bertolak dari unsur-unsur signifikan yang diolah pengarangnya (Aminuddin, 1987: 58).
             Perbedaan dalam berbagai macam bentuk dalam karya sastra fiksi pada dasarnya terletak pada kadar panjang pendeknya isi cerita, kompleksitas isi cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung cerita itu. Akan tetapi elemen-elemen yang dikandungnya, walaupun pada unsur-unsur tertentu terdapat perbedaan (Aminuddin, 1987: 66).
2.3  Kemampuan
             Pengertian kemampuan yang dikemukakan ahli adalah kesnggupan seseorang untuk menangkap makna dan arti sesuatu (Redjomudjahardjo, dalam Sripsi Nikmatullah, 2001: 7). Ahli lain mengungkapkan kemampuan adalah kesanggupan untuk menangkap dan mengambil makna dan arti sesuatu (Djago Tarigan, dalam Rahman, 1981: 321). Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kemampuan berarti kesanggupan seseorang untuk mengambil makna dan arti sesuatu.
2.4  Karya Sastra
             Teori berasal dari kata theoria (bahasa Latin). Secara etimologis teori berarti kontemplasi terhadap kosmos dan realitas. Pada tataran yang lebih luas, dalam hubungannya dengan dunia keilmuan, teori berarti perangkat pengertian, konsep, proposisi yang mempunyai korelasi, dan telah teruji kebenarannya. Teori tertentu dengan demikian lahir melalui ilmu tertentu. Dengan kalimat lain, tujuan akhir suatu ilmu adalah melahirkan sebuah teori. Meskipun demikian, sebuah teori, dengan tingkat keumuman yang tinggi dapat dimanfaatkan untuk memahami sejumlah disiplin yang berbeda. Strukturalisme, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk menganalisis ilmu humaniora, ilmu sosial, termasuk ilmu alamiah.
             Pada umumnya, teori ‘dipertentangkan’ dengan praktik. Setelah suatu ilmu pengetahuan berhasil untuk mengabstraksikan keseluruhan konsep ke dalam suatu rumusan ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, yaitu teori itu sendiri, maka teori tersebut mesti dioperasikan secara praktis, sehingga cabang-cabang ilmu pengetahuan sejenis dapat dipahami secara lebih rinci dan mendalam. Dalam aplikasi inilah sebuah teori dibuktikan kekbenarannya, objektivitasnya, sistematisasinya, dan keumumannya, sekaligus aspek-aspek pragmatisny. Sebaliknya, teori-teori yang tidak atau belum berhasil untuk diuji dalam praktik, dengan sendirinya belum bisa disebut sebagai teori yang valid.
             Pada dasarnya, teori dengan praktik, kumpulan konsep dengan kumpulan data penelitian, bersifat saling membantu, saling melengkapi. Seperti dijelaskan di atas, objek melahirkan teori, sebaliknya, teori memberikan berbagai kemudahan untuk memahami objek. Dengan dibantu oleh metode dan teknik, teori memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang secara lebih cepat. Meskipun demikian, dalam setiap penelitian teori mesti uji kembali keterandalannya. Teori bukanlah alat yang siap pakai, tidak ada teori yang lengkap, teori justru harus disempurnakan secara terus-menerus. Sebagai abstraksi, teori pada dasarnya dirumuskan secara sederhana, tetapi memiliki implikasi yang sangat kompleks.
             Teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Peradaban manusia melahirkan pengetahuan, yaitu berbagai pemahaman manusia terhadap gejala-gejala alam. Dengan ditemukannya metode dan teori, pengetahuan pada gilirannya berubah menjadi ilmu pengetahuan. Perubahan yang sangat pesat terjadi sejak abad ke-20, yang kemudian melahirkan teknologi informasi dan komunikasi modern yang sangat canggih. Dalam karya sastra, teori-teori yang dimaksudkan berawal dari strukturalisme dengan klimaks posturkturalisme.
             Istilah sastra berasal dari bahasa Sansekerta yang dibentuk dari akar kata “sas” yang artinya mengajarkan, mengarahkan atau memberi petunjuk. Sedangkan kata “tra” yang berarti alat atau sarana, maka kata sastra berarti alat atau sarana untuk memberi petunjuk (Djago Tarigan, 2005: 103).
             Menurut Rene Wellek, sastra adalah kegiatan kreatif sebuah karya seni yang bentuk dan ekspresinya imajinatif (dalam M. Irfan, 2001: 7).
             Dari batasan sastra di atas dapat disimpulkan bahwa sastra bersifat khayati maksudnya melalui daya imajinasinya, pengarang ingin mengungkapkan kenyataan-kenyataan hidup ini, menafsirkan menjadi kenyataan imajinatif, sehingga kehidupan lebih bermakna dan menarik bagi peminat. Sastra mengandung makna estetik (keindahan seni) sehingga karya sstra punya daya pesona tersendiri. Dan sastra juga memakai bahasa yang khas yaitu bahasa yang estetik.
2.5  Apresiasi
             Pengertian apresiasi menurut S. Efendi adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (dalam Aminuddin, 1991: 35).
2.6  Cerita Pendek
             Cerita pendek yaitu karya sastra yang singkat, padat, unsur ceritanya terpusat pada satu peristiwa pokok, sehingga jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan kesan tunggal (Jabrohim, 1994). Ahli lain mengemukakan cerita pendek merupakan cerita yang pendek dan merupakan kebulatan ide (Ayib Rosidi, dalam Rahman, 1981).
             Berdasarkan pengertian kata-kata tersebut, kemampuan mengapresiasi cerita pendek adalah kesanggupan siswa untuk menghargai cerpen khususnya isi pesan yang terkandung dalam karya sastra cerita pendek “Laut” karya Ngurah Parsna.
2.7  Unsur-Unsur Intrinsik Cerita Pendek
             Kebutuhan sebuah cerita pendek dapat dilihat dari unsur-unsur yang membnetuknya. Adapun unsur-unsur itu adalah: a. penokohan, b. latar, c. alur, d. tema, e. amanat.


a.       Penokohan/tokoh
            Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones, dalam Burhan Nurgiantoro, 1995).
            Penggunaan istilah-istilah karakter (character) sendiri dalam berbagai literatur bahasa Inggris menyaran pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditampilkan dan sebagai sikap, ketertarikan, keinginan, emosi, dan prinsip moral yang dimiliki oleh tokoh-tokoh tersebut (Robert Stanton, dalam Nurgiantoro, 1995). Menurut Aminudin (200), tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.
            Tokoh cerita (character) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti apa yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abrams, dalam Nurgiantoro, 1995).
b.      Latar
            Menurut Abrams, latar tersebut sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Stanton mengelompokkan latar, bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi, dan dapat diimajinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca cerita fiksi (Nurgiantoro, 1995). Ahli lain mengemukakan latar adalah peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiw, serta memiliki fungsi fisikal dan psikologis. (Arminddin, 2002)
c.       Alur
            Alur adalah urutan kejadian, dan kejadian-kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Stanto, dalam Nurgiantoro, 1995). Menurut Aminuddin (2002), alur adalah merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan alur adalah sebagai jalan atau gerak cerita yang di dalamnya memuat peristiwa yang menyangkut waktu, temapt, dan tokoh, semua itu mempunyai hubungan kausalitas.
d.      Tema
            Tema adalah ide sentral atau dasar cerita yang menjadi bahan pemikiran. Suatu tema cerita berhubungan dengan pengamalan jiwa manusia yang paling dalam dan mengesankan. Peristiwa yang menarik, menyentuh, dan menggugah rasa kemanusiaan pengarang, sehingga menimbulkan emosi cinta, kesedihan, ketakutan, belas kasih, mungkin pula merupakan pertimbangan moral antara baik dan buruk dari berbagai masalah kehidupan manusia (Stanto, dalam Nurgiantoro, 1995). Tema sebagai makna pokok sebuah karay fiksi tidak secara sengaja disembunyikan karena justru hal inilah yang ditawarkan kepada pembaca. Tema merupakan makna keseluruhan yang didukung cerita, dengan sendirinya akan tersembunyi dibalik cerita yang mendukung (Nurgiantoro, 1995).
e.       Amanat
            Amanat adalah maksud yang disampaikan pengarang atau himbauan yang hendak disampaikan pengarang (Herman J. Waluyo, 1987). Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca (Lukman Ali, dalam Rahman, 1995).
            Berdasarkan pengertian di atas, amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.
2.8  Tingkat Kemampuan Apresiasi Cerita Pendek
             Kemampuan mengapresiasi cerita pendek bagi peserta didik sangat penting artinya. Dengan kemampuan apresiasi cerita pendek yang tinggi peserta dapat memiliki kesanggupan untuk memahami, mengenal dan menghayati isi atau pesan yang terdapat atau terkandung dalam karya sastra cerita pendek tersebut. Selanjutnya peserta didik dapat memiliki perasaan yang peka terhadap kebudayaan bangsa, merasa puas dan menghayati karya seni serta berkembang nilai kemanuisaan yang terdapat dalam dirinya. Pemahaman dan kemampuan apresiasi siswa dengan menggeluti karya sastra secara terus menerus sehingga menimbulkan pemahaman, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan terhadap karya sastra yang dibaca dan didengarkan.


2.9  Unsur Ekstrinsik/Nilai Pendidikan
             Pada dasarnya hubunga nantara nilai dengan pendidikan merupakan dual hal yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Kalau kita merujuk pada pendapat Kniker bahwa nilai merupakan istilah yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan dalam gagasan pendidikan, nilai selalu ditempatkan sebagai inti dari proses dan tujuan pendidikan. (Mulyana, 2004: 105)
             Nilai pendidikan adalah nilai yang berfungsi untuk menyelidiki dan mengetahui hukum alam yang tidak lain adalah hukum Tuhan itu sendiri. Pengetahuan akan hukum alam mengakibatkan penguasaan atas ilmu pengetahuan dan teknologi akan membawa kemungkinan ada kemudahan manusia untuk menjalankan kehidupan dan membangun kebudayaannya. (Syamsuddin, 2001: 171)
             Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam masyarakat modern saat ini, baik dar isegi politik maupun dari segi ekonomi. Pembangunan masyarakat sangat tergantung pada kualitas individu-individu yang memiliki pemikiran rasional dan bertanggung jawab. Dalam hal ini pendidikan mengandung nilai yang sangat penting. Itu sebabnya pendidikan bukan saja penting bagi individu tetapi juga penting bagi kehidupan nasional.
2.10                        Bahasa Karya Sastra
             Pada umumnya orang beranggapan bahwa bahasa sastra berbeda dengan bahasa non-sastra. Bahasa yang dipergunakan bukan dalam (tujuan) penguapan sastra, namun “perbedaannya” itu sendiri tidaklah bersifat mutlak, atau bahkan sulut diidentifikasi. Bahasa sastra, bagaimanapun perlu diakui eksistensinya, keberadaannya, sebab tidak dapat disangkal lagi, ia menawarkan sebuah fenomena yang lain. Keberadaannya paling tidak perlu disejajarkan dengan ragam-ragam bahasa seperti dalam konteks sosiologi yang lain (Nurgiantoro, 1993: 2).
             Bahasa sastra menurut kaum formalis Rusia adalah bahasa mempunyai ciri deotomatisasi. Penyimpangan dari cara penuturan yang telah diusahakan dengan cara lain, cara baru, cara yang belum perna hdigunakan orang. sastra mengutamakan keaslian pengucapan, dan untuk memperoleh cara itu mungkin sampai pada penggunaan berbagai bentuk penyimpangan, deviasi (deviation) kebahasaan. Unsur kebaruan dan keaslian merupakan suatu hal yang menentukan nilai sebuah karya. Kaum formalis berpendapat bahwa adanya penyimpangan dari suatu yang wajar itu merupakan proses sastra yang mendasar (Teeuw, 1984: 131)
             Berdasarkan dua pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan betapa tidak mudahnya untuk mencirikan bahasa sastra walau kita sendiri mengakui eksistensinya. Pencirian yang dilakukan, bagaimanapun, haruslah mendasarkan atau mempertimbangkan konteks disamping juga ciri struktur kebahasaan.



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Metode Penelitian
             Metode penelitian sangat penting artinya dalam suatu penelitian. sebuah kebenaran atau pengertian yang diperoleh dalam penelitian ini sangat bergantung pada metode yang digunakan.
             Sehubungan dengan hal tersebut, seorang ahli mengatakan bahwa suatu penelitian tanpa menggunakan metode penelitian yang jelas dan pasti, maka nilai ilmiah dari pengetahuan yang diperoleh dapat diragukan (Ida Bagus Netra, 1974).
             Menurut Ridwan, apabila gejala yang diteliti ditimbulkan dengan sengaja, maka penelitian semacam itu disebut eksperimen. Sedangkan apabila gejala yang dianalisis sudah ada secara wajar, maka disebut ekspos fakto. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, penelitian ini termasuk jenis penelitian ekspos fakto. Peneliti mengkaji gejala yang sudah ada yakni kemampuan apresiasi cerpen dengan menyebarkan tes.
3.2  Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1        Populasi Penelitian
             Populasi adalah keseluruhan obyek yang dapat diteliti terdiri dari manusia, hewan-hewan, benda-benda, gejala-gejala, nilai tes atau peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian (Nawawi,1993).
             Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II MTs. NW Sukarara tahun pelajaran 2008-2009 yang berjumlah 101 orang.
3.2.2        Sampel Penelitian
             Dalam penelitian pendidikan, subyek yang dikenai penelitian biasanya dilakukan terhadap sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi. Sehubungan dengan hal tersebut, (Arikunto, 1985) mengatakan bahwa “jika hanya kita meneliti sebagian dari populasi, mak disebut dengan penelitian sampel, karena sampel adalah sebagian atau wakil yang diteliti”.
             Salah satu syarat yang utama dari sampel yang baik adalah sampel itu harus mencerminkan ciri-ciri atau sifat-sifat yang terdapat dalam populasi.
             Penelitian ini berpatokan kepada pendapat Arikunto yang apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih (1985: 35).
             Sesuai dengan pendapat di atas, maka diambil 100% populasi sebagai sampela. Dengan demikian siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini semua populasi dari jumlah 39 siswa, dengan demikian secara keseluruhan dijadikan sampel penelitian.


3.3  Teknik Pengumpulan Data
             Teknik pengumpulan data merupakan bagian yang terpenting dalam suatu penelitian, bahkan merupakan keharusan bagi seorang peneliti untuk memiliki teknik yang cocok untuk diterapkan di lapangan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
             Untuk memperoleh data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan tes.
3.3.1        Observasi
             Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (S. Margono, 1996). Menurut Suharsimi Arikunto (1992), observasi atau pengamatan meliputi kegiatan pemusatan terhadap suatu objek dengan menggunakan alat indera.
3.3.2        Tes
             Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 1992). Ahli lain mengungkapkan tes adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data yang sifatnya mengevaluasi hasil proses. (Husen Umar, 1992)
             Berdasarkan kedua pendapat tersebut, tes adalah alat untuk mengumpulkan data yang berisi pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mendapat informasi mengenai kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh siswa. Tes ini dilaksanakan dengan soal-soal tes yang diberikan secara langsung kepada siswa. adapun soal tersebut yaitu:
1.      Tokoh yang berperan sebagai pelaku utama dalam cerpen “Laut” adalah…
a. Rini                                       c. Ibu Riwanto
b. Roni                                      d. Riwanto
2.      Rokoh Riwanto dalam cerpen “Laut” memiliki watak…
a. ringan tangan                        c. teguh pendirian
b. jahat                                      d. pemarah
3.      Semua tokoh dalam cerpen “Laut” dilukiskan oleh pengarang secara…
a. jelas                                       c. samar-samar
b. tersembunyi                          d. terus terang
4.      Latar dapat diartikan sebagai…
a. tempat terjadinya suatu peristiwa
b. jalannya cerita
c. inti atau pokok cerita
d. gambaran watak para pelaku
5.      Cerpen “Laut” karya Ngurah Parsna memiliki latar di beberapa tempat kecuali…
a. di kota                                  c. di pelabuhan
b. di laut                                   d. di atas bis
6.      Rumahnya berada di sebuah perkampungan yang sederhana. Kehidupan warga kampung itu masih mencerminkan kekeluargaan. Riwanto sendiri tak pernah begitu lama di rumah. Sebab, setelah cuti paling banyak satu bulan, dia harus berlayar kembali paling sedikit tiga bulan dalam setiap pelayaran.
Latar penggalan cerita di atas adalah…
a. di dekat pasar                       c. di jalan kampung
b. di pertokoan                         d. di sebuah perkampungan
7.      Alur dapat diartikan sebagai…
a. jalannya cerita                       c. inti cerita
b. tempat terjadinya peristiwa  d. gambaran watak para pelaku
8.      Cerpen “Laut” menggunakan alur…
a. alur maju                               c. alur mundur
b. alur campuran                       d. a dan b benar
9.      Tahapan alur yang terdapat dalam cerpen “Laut” adalah sebagai berikut kecuali…
a. perkenalan – konflik – klimaks
b. konflik – klimaks – anti klimaks
c. klimaks – konflik – anti klimaks
d. perkenalan – konflik – klimaks – anti klimaks
10.  Tema dapat diartikan sebagai..
a. jalannya cerita                       c. watak para pelaku
b. pokok atau inti cerita            d. tempat terjadinya peristiwa
11.  Tema cerpen dapat diketahui setelah kita…
a. mengetahui pelaku-pelaku cerpen
b. membaca cerpen secara keseluruhan
c. mengetahui watak pelaku
d. mengetahui alur cerpen
12.  Tema dalam cerpen “Laut” karya Ngurah Parsna adalah…
a. kebersamaan akan mendatangkan kekuatan
b. kepahlawanan akan mendatangkan keberanian
c. kemandirian akan melahirkan rasa percaya diri
d. kesabaran akan mendatangkan kebahagiaan
13.  Pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karangannya disebut…
a. amanat                                  c. pesan
b. titipan                                   d. kesan
14.  Amanat yang ingin disampaikan pengarang dalam cerpen “Laut” karya Ngurah Parsna adalah…
a. hendaknya kita sabar dalam menghadapi segala cobaan
b. hidup hendaknya seperti yang dilakukan oleh tokoh Riwanto
c. hidup harus beragama agar lurus jalan hidupnya
d. hidup harus mementingkan kebersamaan
15.  Hal yang diharapkan oleh pengarang yang dapat miliki pembaca setelah membaca cerpen…
a. tema cerita                            c. isi cerita
b. amanat cerita                        d. jalan cerita
3.4  Teknik Analisa Data
             Data yang sudah dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data seperti yang disebutkan di atas, selanjutnya dianalisis secara statistik dengan dua cara:
3.4.1        Teknik Evaluasi Hasil Tes
             Menurut Lilik Hidayati (2005: 26) teknik evaluasi hasil tes yaitu teknik yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengapresiasi per unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen “Laut” dengan menggunakan rumus sebagai berikut :    
1)      Skor maksimal diperoleh dengan cara skor per nomor soal dikalikan dengan jumlah soal (2x15 = 30).
2)      Skor maksimal dibagi dengan jumlah soal per unsur akan menghasilkan nilai maksimal ( ).
       Dari kedua rumus di atas akan menurunkan rumus untuk memperoleh nilai total dari setiap siswa untuk seluruh soal dengan cara :
3)     
Keterangan :
2     = Skor per nomor soal
15   = jumlah soal
30   = skor maksimal
3     = jumlah soal per unsur
10   = nilai maksimal
Skor total = jumlah skor dari soal yang mampu dijawab siswa.
3.4.2        Menggunakan Rumus Distribusi Frekuensi
             Menurut Sujana (2003: 138) distribusi frekuensi yaitu rumus yang digunakan menghitung nilai rata-rata dengan cara menjumlahkan seluruh skor atau nilai yang diperoleh siswa dibagi dengan jumlah siswa.
Rumus tersebut sebagai berikut :
Keterangan :
          = mean atau  rata-rata
= jumlah seluruh skor atau nilai
N          = jumlah individu atau siswa
X          = frekuensi siswa yang memperoleh nilai 5-6




DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru. Algensindo.
Aminuddin, Drs. M.Pd. 1987. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Pustaka Jaya.
Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
A. Suhainiah, Suparno. 2001. Membangun Kompetensi Belajar. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Herman J. Waluyo. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hill, Knox C, 1966. Interprelating Literature. Chicahgo, Phonix Book: The University of Chicago Press.
Depdikbud, GBPP. 1993. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Irfan, M. 2001. Teori Sastra (Diktat). Selong: STKIP
Jabrohim. 1994. Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jajar, M. 1997. Teori Sastra. Bima: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Rahman, Abdul, H.A. dkk. 1981. Kemampuan Apresiasi Sastra. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, Djago. 2005. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Pustaka Jaya.
Umar, Husen. 1999. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Wellek, Rene, and Austin Waren, 1956. Theory of Literature. New York: A Harvest Book, Harcourt and Wared.


KEMAMPUAN MENGAPRESIASIKAN UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK CERPEN LAUT KARYA NGURAH PARSNA SISWA KELAS III MTs. NW SUKARARA

0 comments:

Post a Comment