TRADISI UPACARA SELAMATAN LAUT DI DESA TANJUNG LUAR
DITINJAU DARI PELAKSANAAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan limpahan rahmat dan
taufik-Nya lah, sehingga penyusunan proposal yang berjudul “TRADISI UPACARA
SELAMATAN LAUT DI DESA TANJUNG LUAR DITINJAU DARI CARA PELAKSANAANNYA” dapat
terselesaikan tepta pada waktunya. Namun terlepas dari itu semua, bila dalam
penyusunan proposal ini terdapat kekurangan dan kekeliruan, itu semua tidak ada
lain dikarenakan kehilafan dari penulis.
Akhirnya
peneliti meminta kepada para pembaca atas saran dan kritik dan tegur sapa yang
membangun agar tulisan yang akan dating lebih sempurna dan semoga tulisan ini
bermanfaat bagi pecinta ilmu maupun peneliti lain selanjutnya.
Pancor,
17 Juli 2008
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kebudayaan daerah yang memiliki
ciri tersendiri pada suatu kelompok masyarakat pendukungnya, mempunyai arti
penting dlama pengembangan kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah dapat
dijadikan sebagai sumber yang dapat memperkaya khasanah kebudayaan nasioanl dan
dapat sebagai penyaring dari pengaruh kebudayaan asing. Karena itu kebudayaan
daerah perlu dikembangkan dan dilestarikan dan disesuaikan dengan tuntutan
pembangunan, yang selaras dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Apa yang dikemukakan dalam
penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut adalah sebagai landasan
konstitusional yang perlu dijabarkan lebih lanjut. Salah satu upaya yang harus
dilakukan adalah melakukan penggalian dan inventarisasi serta pengkajian
khasanah tradisi dan kebudayaan lama dan asli oleh berbagai daerah satu atau
suku bangsa yang ada di seluruh wilayah Indonesia.
Pada pasal 32 Undang-Undang Dasar
1945 dapat diartikan bahwa kebudayaan Nasional tersebut merupakan perwujudan dari
kebudayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari puncak-puncak tradisi atau
kebudayaan di daerah-daerah di seluruh tanah air Indonesia.
Masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat yang majemuk. Penduduknya tersebar di kepulauan nusantara yang
terpisah-pisah oleh letak geografisnya telah membentuk kelompok. Kelompok
sosial yang masing-masing kelompok dan sedang mengembnagkan tradisi dan
kebudayan setempat. Sementara itu kebudayaan bangsa yang bersifat nasional
masih dalam taraf perkembangan dna pertumbuhan. Dalam usaha memajukan
kebudayaan yang bersifat nasional sudah barang tentu tidak akan terlepas dari
sumbernya yakni kebudayaan daerah dan tradisi daerah yang justru akan
memberikan warna dan kepribadian kebudayaan bangsa Indonesia yang dikembangkan.
Dalam rangka pengembangan dan
pertumbuhan kebudayaan Nasional yang utuh tanpa mengabaikan perkembangan
kebudayaan dan tradisi daerah serta suku bangsa yang ikut memperkaya kebudayaan
Nasional. Pulau Lombok yang termasuk salah satu pulau di propinsi NTB memiliki
berbagai budaya dan tradisi yang perlu dikembangkan dan dilestarikan, dimana
kebudayaan yang telah menjadi tradisi masyarakat Lombok khususnya daerah
Tanjung Luar yang memiliki tradisi upacara selamatan laut yang diselenggarakan
setiap tahun. Tradisi ini diselenggarkana oleh masyarakat Tanjung Luar Lombok
Timur merupakan salah satu tradisi masyarakat yang telah menjadi budaya daerah
dari nenek moyang suku Sasak. Akan tetapi upacara selamtan laut tersebut saat
ini kurang diminati oleh para remaja dan masyarakat Sasak umumnya hanya
masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai Tanjung Luar saja yang
masih mempertahankannya. Keadaan tersebut sudah tentu tidak diinginkan.
Berdasarkan kenyataan tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat masalah
selamatan laut tersebut agar upacara selamatan laut di pantai Tanjung Luar
tidak punah dan dapat dikembangkan menjadi aset kebudayaan daerah yang dapta
dipasarkan kepada para wisatawan domestik maupun mancanegara.
Permasalahan di atas menarik untuk
diangkat dan digali disamping memiliki nilai-nilai historis yang tinggi juga
akan berdampak kepada pengembangan kebudayaan daerah yang dapat meningkatkan
aset sumber pembangunan yag nsedang dilaksanakan. Permasalahan tersebut
pengetahuan peneliti sampai saat inibelum ada yang menggalinya. Masalah
tersebut diangkat sebagai karya tulis yang berjudul upacara selamatan laut pada
masyarakat pantai Tanjung Luar.
B.
Identifikasi
1.
Bagaimana bentuk tradisi upacara selamatan laut
masyarakat pantai Tanjung Luar kecamatan Keruak?
2.
Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam
tradisi upacara selamatan laut pada masyarakat pantai Tanjung Luar kecamatan
Keruak?
3.
Bagaimana sejarah tradisi upacara selamatan laut
pada masyarakat pantai Tanjung Luar Kecamatan Keruak?
4.
Kapan saja diselenggarakannya tradisi upacara
selamatan laut pada masyarakat pantai Tanjung Luar Kecamatan Keruak.
C.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah tradisi upacara selamatan laut
pantai Tanjung Luar ditinjau dari cara pelaksanaannya?
2.
Nilai-nilai sosial apa saja yang terkandung pada
tradisi upacara selamatan laut?
D.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui sejarah upacara selamatan laut
pada masyarakat pantai Tanjung Luar Kecamatan Keruak.
2.
Untuk mengetahui nilai-nilai sosial budaya
upacara selamatan laut pada masyarakat pantai Tanjung Luar Kecamatan Keruak.
3.
Untuk mengetahui wujud upacara selamatan laut
pada masyarakat pantai Tanjung Luar Kecamatan Keruak.
E.
Manfaat
1.
Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada ilmuan yang akan
meneliti bidang pendidikan. Disamping itu penelitian ini diharapkan dapat
memberikan motivasi dan dorongan kepada peneliti lain guna mengembangkan
penelitian lanjutan yang belum terungkap dalam penelitian ini agar penelitian
lebih lengkap.
2.
Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat dimanfaatkan bagi pihak yang terkait untuk digunakan sebagai bahan acuan
dalam mengembangkan tradisi masyarakat Sasak.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A.
Tradisi Upacara Laut Masyarakat Pantai
Tanjung Luar
1.
Pengertian Tradisi Selamatan Laut
Masyarakat Pantai Tanjung Luar
Tradisi
adalah suatu kebiasaan yang telah berlaku di masyarakat secara turun menurun.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa “tradisi adalah segala
sesuatu (seperti adat, kepercayaan, kebiasaan, ajaran, dan sebagainya) yang
turun menurun dari nenek moyang” (Purwadarminto, 1994: 1088). Ahli lain
mengemukakan bahwa “tradisi adalah kebiasaan dan kepercayaan serta adat
istiadat yang diterima secara turun menurun dari nenek moyangnya” (Surono,
1995: 78). Berdasrakan kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
tradisi adalah kebiasaan, kepercayaan dan adat istiadat yang diwariskan secara
turun menurun dari nenek moyangnya.
Sementara
itu pengertian selamatan dikemukakan ahli bahwa “selamatan adalah doa, upacara
untuk meminta selamat” (Purwadarminto, 1984: 893). Ahli lain mengemukakan bahwa
“selamatan adalah do’a, suatu upacara tasyakuran untuk minta selamat” (Surono,
1981: 45). Dengan demikian yang dimaksudkan dengan upacara selamatan laut
masyarakat adalah kebiasaan, kepercayaan dan adat istiadat untuk melakukan
upacara ritual dengan melakukan do’a yang dilaksanakan di laut pantai Tanjung
Luar oleh masyarakat pantai Tanjung Luar.
2.
Pelaksanaan Singkat Tradisi Selamatan
Laut Masyarakat Pantai Tanjung Luar
Nenek
moyang bangsa Indonesia memang mayarakat yang religius dan memiliki berbagai
tradisi yang kuat dan sangat diyakininya sampai turun menurun setiap kejadian
yang di luar batas kemampuan manusia selalu dilakukan suatu upaara tradisional
dengan maksud menghindari terulang kembalinya kejadian yang menyedihkan.
Masyarakat Jawa terkenal dengan selamatan laut kidul dengan maksud memberikan
persembahan kepada Ratu laut kidul agar tidak mengganggu aktivitasnya dalam
mencari nafkah di laut. Sedangkan masyarakat pantai Tanjung Luar memiliki
tradisi upacara selamatan laut Tanjung Luar.
Upacara
selamatan laut masyarakat pantai Tanjung Luar tersebut merupakan tradisi
upacara yang telah diwarisi dari nenek moyangnya dengan maksud agar aktivitas
pencahariannya tidak menemui rintangan, uapcara selamatan laut Tanjung Luar
diadakan setiap tahun sekali dan kadang-kadang dua kali tergantung situasi dan
permintaan dari penguasa/pemerintah.
Tradisi
upacara selamatan laut Tanjung Luar berupa upacara untuk melakukan persembahan
kepada Datuk Laut yang menguasai lautan tempat masyarakat pantai Tanjung Luar
mencari penghidupan. Upacara Ritual ini sangat diyakini oleh masyarakat pantai
Tanjung Luar dan apabila tidak dilakukan, maka mereka akan menerima akibatnya.
Konon apabila dalam satu tahun tersebut tidak dilakukan tradisi selamatan laut,
maka apabila pejabat datang ke tempat teresbut maka pejabat yang datang itu
akan kurang wibawanya.
Tradisi
upacara selamatan laut masyarakat pantai Tanjung Luar ini merupakan upacara
adat kebiasaan nenek moyangnya dalam mendekatkan diri kepada sang pencipta di
kala mereka sedang krisis, baik krisis ekonomi maupun krisis mental
spiritualnya.
Memang
nenek moyang bangsa Indonesia ini merupakan masyarakat yang religius
sebagaimana telah dikemukakan di atas. Sebagai masyarakat pantai mereka
memiliki tradisi upacara yang berbeda-beda akan tetapi tujuannya adalah sama
yakni medekatkan diri kepada yang Maha Tinggi.
Tradisi
upacara selamatan laut masyarakat Tanjung Luar ini bermula ketika terjadi
kekosongan atau kekeringan isi laut yakni kurangnya tangkapan ikan di laut.
Mereka melakukan selamatan agar hasil tangkapan mereka berhasil dengan
memuaskan yang telah dilakukan sejak nenek moyang mereka.
Upacara
dipimpin oleh para penguasa adat (dukun) dan tuan guru yang duduk pada sebuah
panggung yang telah dibuatnya sebelujnya dan masyarakat yang hadir di tempat
tersebut dari jauh harus berjalan duduk (ngesot) untuk menuju ke aeal upacara
yang dipimpin oleh pemuka kelompknya. Baru kemudian dilakukan pengarahan ari
tuan guru atau alim ulama yang hadir yang dilanjutkan dengan penyembelihan
seekor sapi yang kepalanya diangkut ke tengah laut yang diiringi oleh rombongan
ketua adat dan para tuan guru serta alim ulama yang hadir dengan kapal yang
disediakan.
Kepala
sapi tersebut dibuang ke laut baru masyarakat mulai masuk ke laut beramai-ramai
dengan iringan kesenian tradisional yang ada seperti gendang belek, cilokak,
rudat, klentang, jangger, dan sebagainya. Mereka beramai-ramai menangkap ikan
di luat.
Sebelum
sapi disembelih atau upacara adat dilakukan biasanya keadaan laut pantai
Tanjung Luar tersebut bergelombang besar. Kadang-kadang tinggi gelombang sampai
4 meter lebih.
Akan
tetapi begitu kepala sapi yang diarak dengan sampan yang diiringi dengan
kesenian yang ada bersama alim ulama dan pemuka adat melepaskan ke tengah laut,
maka gelombang laut hilang dan seakan-akan tidak pernah terjadi gelombang, laut
tenang dan airnya seperti telaga, barulah para nelayan dan masyarakat banyak
yang ikut upacara turun ke laut beramai-ramai menangkap ikan (tuturan
informan).
B.
Kerangka Berfikir
Tradisi selamatan laut masyarakan
pantai Tanjung Luar adalah suatu tradisi kebudayaan yang memiliki nilai yang
sangat tinggi dan sakral disampaikan dalam bentuk kelompok atau selamatan
massal dan dimanfaatkan sebagai pemanjatan do’a kepada yang Maha Esa agar
diberikan keselamatan dan rezeki yang murah dan terbebas dari gangguan dalam
mencari ikan laut sebagai mata pencaharian pokok pada masyarakat Tanjung Luar.
Dimana dalam tradisi upacara selamatan laut itu mengandung nilai-nlai
masyarakat yang tinggi diantaranya:
a.
Sosial dan budaya
b.
Spritual dan agama
c.
Mental dan moral
d.
Ekonomi
e.
Budaya
Sebagai bagian dari kebudayaan yang
memiliki historis dan nilai yang sakral menunjukkan gejala-gejala kurangnya
diketahui oleh kalayak dan kepunahan. Hal ini sangat disayangkan, oleh karena
itu perlu pelestarian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh berbagai
pihak, seperti dilakukannya inventarisasi tradisi selamatan laut masyarakat
pantai untuk ketertibannya. Pada masyarakat suku Sasak yang berada di pantai Tanjung Luar khususnya dan Lombok umumnya
diharpakan untuk tidak merasa enggan untuk ikut melestarikan tradisi selamatan
laut tersebut. Supaya tradisi selamatan laut masyarakat pantai Tanjung Luar
dapat dipertahankan keberadaannya, dalam fungsinya sebagai media hiburan,
pendidikan informal, dan media pemasaran pariwisata. Disamping itu juga dapat
dilestarikan melalui budaya dan tradisi pada generasi muda.
Setiap anggota masyarakat pendukung
tradisi selamatan laut masyarakat Tanjung Luar harus berbangga dengan adanya
tradisi upacara selamatan laut tersebut karena merupakan tradisi yang
diwariskan oleh nenek moyangnya dengan maksud agar aktivitas pencahariannya
tidak menemui rintangan.
C.
Definisi Operasional Variabel
1.
Ruang Lingkup Operasional
Sasaran penelitian ini adalah tradisi selamatan laut
masyarakat pantai Tanjung Luar kecamatan Keruak Lombok Timur. Ditentukan
sebagai subjek dan objek penelitian adalah: objek penelitian adalah tradisi
selamatan laut masyarakat pantai Tanjung Luar, sedangkan objek penelitian ini
adalah seluruh masyarakat pantai yang mengetahui tentang tradisi selamatan laut
di Tanjung Luar.
2.
Variabel Penelitian
Variabel merupakan istilah yang tetap ada dalam
setiap jenis penelitian, variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 1998: 92).
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Pengertian Metode Penelitian
Metode penelitian ialah strategi
umum yang dianut dalam pengumpulan data yang diperoleh guna menjawab persoalan
yang dihadapi (Donald Ary, 1982: 30). Dalam kamus umum Bahasa Indonesia
ditegaskan, kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “methodus” yang
berarti “cara atau jalan” (Koentjaraningrat, 1977: 16).
Dalam kaitannya dengan penelitian
ini maka metode merupakan jalan atau cara yang diperlukan dalam penelitian
untuk mencapai tujuan kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan dan
sekaligus menjawab pertanyaan yang ada dalam penelitian.
Metode penelitian adalah cara yang
digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Menurut Jalaudin
Ahmad “maka metode penelitian dikategorikan dalam lima macam yaitu; historis,
deskriptif, korelatif, normatif, dan eksperimen” (1979: 30).
Dari pendapat di atas, maka dalam
penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan
pendekatan survey. Menurut Iscca dan Nichail, “Metode deskriptif bertujuan
melukiskan secara sistematis fakta dan karakteristik populasi tertentu secara
faktualdan cermat”. Menurut Jalaludin Ahmad sendiri “penelitian deskriptif
sendiri hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa, penelitian ini tidak
mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat
prediksi (1989: 34).
Suharsimi Arikutno menekankan “pada
umumnya pendekatan deskriptif merupakan penelitian non-hiptesis, sehingga dalam
langkah kegiata ntidak perlu merumuskan hipotesis. Sehubungan dengan penelitian
deskriptif sering dibedakan atas dua jenis yaitu menggunakan proses sifat dan
proes analisis.”
“Pendekatan adalah metode atau cara mengadakan suatu
penelitian seperti halnya eksperimen atau non eksperimen. Tetapi di smaping itu
juga menunjukkan jenis atau tipe penelitian yang diambil, sipandang dari segi
tujuan misalnya eksplorasi deskriptif atau historis” (Suharsimi Arikunto, 1999:
20).
Pendekatan
akan menentukan variabel atau subjek penelitian dan sekaligus menentukan subjek
penelitian atau sumber di mana kita akan memperole hdata. Selanjutnya Arikunto
menjelaskan variabel yaitu hal-hal yang menjadi objek penelitian yang menunjukkan
variasi, baik secara kauntitatif maupun secara kualitatif. Dari istilah
variabel itu terkandung makna “variabel”. Variabel disebut juga dengan istilah
“ubahan”, karena dapat berubah, bervariasi (1998: 2).
Survey menurut Jacob Verenden Brest
yaitu “suatu metode yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar variabel
mengenai sejumlah besar individu mengenai alat pengukur wawancara” (1984: 44).
Selanjutnya J.V. Chalir
berpendapat, “survey adalah suatu studi ekstensif dan luas yang dipolakan untuk
mencapai serta memperoleh informasi ekslusif” (Kartini Kartono, 1996: 6).
Survey dalam hal ini adalah suatu cara yang ditempuh untuk memperoleh data atau
informasi yang dilakukan melalui wawancara. Sedangkan survey menurut Suharsimi
Arikunto: “Suatu riset atau penelitian adalah suatu kegiatan yang menuntut
adanya tiga persyaratan yaitu secara sistematis, berencana, dan mengikuti
prosedur ilmiah. Dengan demikian maka survey dapat dilakukan secara pribadi
maupun kelompok, jadi bukanlah hanya bermaksud mengetahui status gejala, tetapi
juga bermaksud menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan
standar yang dipilih atau ditentukan. Di samping itu juga untuk membuktikan
atau membenarkan suatu hpotesis” (1988: 60-63).
Jadi studi survey adalah salah satu
pendekatan penelitian yang pada umumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang
luas dan banyak. Menurut Van daica bahwa “survey merupakan bagian dari studi
deskriptif yang bertujuan untuk mencapai kedudukan (status), fenomena (gejala)
dan menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang
sudah ditentukan. Yang termasuk study survey: survey sekolah, job analisis.
Analisis dokumen, public opinion survey dan komunikasi” (dalam Suharsimi
Arikunto, 1993: 93).
Berdasarkan penjelasan ahli di
atas, dapat disimpulkan bahwa metode survey merupakan bagian dari studi
deskriptif yang bertujuan untuk mencapai kedudukan (status), fenomena (gejala),
dan menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yag
nsudah ditentukan. Yang termasuk studi survey: survey sekolah, job analisis,
analisis dokumen, public opinion survey dan komunikasi. Dengan demikian, studi
survey dapta dijadikan studi pendahuluan. Oleh akrean itu dalam hal ini penulis
menggunakan metode deskriptif data dengan pendekatan survey dalam penelitian
ini. Penelitian juga akan menerangkan dan menjelaskan masalah yang menjadi
variabel dalam penelitian yakni tradisi selamatan laut masyarakat pantai
Tanjung Luar.
B.
Desain Penelitian
1.
Jenis Pendekatan
Pendekatan-pendekatna
naratif-historis, hal ini sengaja dipilih karena akan lebih mampu untuk
mengungkapkan sejarah tradisi selamatan laut masyarakat pantai Tanjung Luar
Desa Keruak Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur – NTB. Disamping itu juga
menggunakan pendekatan eksplorasi. Data-data yang telah dikumpulkan dari
berbagai sumber informasi/informan diseleksi dan diuraikan ke dalam hubungannya
sehingga membentuk tulisan yang bersifat deskriptif analiti.
2.
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis
yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi
lainnya.
C.
Populasi dan Sampel
Dalam penelitian subjek yang
dikenakan peneliti biasanya dilakukan terhadap sampel. Sampel merupakan bagian
atau wakil dari populasi. Sehubungan dengan hal ini, ahli mengemukakan bahwa
“jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka disebut penelitian
sampel. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Suharismi
Arikunto, 1985: 92).
Sala hsatu syarat utama dari sampel
yang baik adalah bahwa sampel itu harus mencerminkan ciri-ciri atau sifat-sifat
yang terdapat pada populasi. Dengan kata lain, sampel yang baik adalah sampel
yang representatif atau mencerminkan populasi. Untuk memenuhi syarat ini, harus
diperhatikan prosedur atau teknik pengambilan sampel.
Penelitian ini menggunakan sampel
dengan pengambilan sampel dengan teknik sampling bertujuan (purposive
sampling). Penggunana teknik purposive sampling tersebut dengan kriteria:
a.
Kepala desa
b.
Pemuka masyarakat/kepala adat
c.
Pemuka agama dan alim ualama
d.
Umur di atas 55 tahun
e.
Tokoh masyarakat yang mengetahui banyak tentang
masalah yang diteliti
D.
Metode Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan beberapa alat yakni: wawancara,
obsrevasi dan pencatatan dokumen.
1.
Wawancara
Wawancara
merupakan suatu alat bantu pengumpul data dengan melakukan tanya jawab langsung
terhadap subjek penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan wawancara
dimaksudkan untuk digunakan pengumpulan data dan informasi dari rsponden atau
informan terpilih dalam rangka pengumpulan data masalah penelitian. Penggunaan
teknik wawancara secara mendalam terhadap informan yang terpilih.
Di
dalam kegiatan peneliti, cara untuk memperoleh data dikenakan sebagai metode
pengumpulan data. Contoh metode pengumpulan data yaitu wawancara, observasi
quisioner, dan dokumentasi.” Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data
kita gunakan wawancara, maka di dalam pelaksanaan pekerjaan wawancara ini,
pewawancara alat bantu itu berupa ancar-ancar pertanyaan yag nakan ditanyakan
sebagai catatan serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima secara
ancar-ancar yang disebut pedoman wawancara, mak disebut instrumen pengumpulan
data. Dengan demikian maka dalam penggunana metode wawancara, instrumennya
adalah pedoman wawancara. Selanjutnya Suharsimi Arikunto menjelaskan,
“instrumen adalah alat pada waktu menggunakan suatu metode. Sedangkan instrumen
penelitiannya itu adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
pengumpulan data, agar pekerjaannya lebih mudah atau lebih baik dalam arti
lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga bahan lebih mudah diolah” (1998:
137).
“Interview
atau wawancara itu adalah suatu percakapan, tanya jawab antara dua orang atua
lebih yang duduk berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu waktu
tertentu (interview sama dengan berbicang-bincang/tanya jawab). Asal kata
interview adalah tanya jawab lisan, dengan maksud untuk dipublikasikan”
(Kartini Kartono, 1990: 181).
Selanjutnya
Suharsimi mengemukakan “interview sering disebut dengan wawancara atau
quisioner lisan”. Interview adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh
pewawanacara (interviewer) untuk memperoleh dari wawancara (1998: 145). Jadi
interview atau wawancara ialah suatu metode untuk memperoleh data dengan jalan
mengadakan hubungan secara langsung dengan responden atau informan yang
dilakukan dengan tanya jawab.
2.
Observasi
Observasi
adalah alat pengumpul data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek
peneliti. Penggunaan observasi dalam penelitian ini dimaksudkan adalah
mengunjungi langsung ke tempat penelitian dengan melakukan pengamatan ke
lapangan. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kelengkapan data hasil
penelitian yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara.
3.
Pencatatan Dokumentasi
Disamping
metode wawancara dengan teknik sampling pada penelitian ini juga menggunakan
teknik dokumenter. Teknik ini dilakukan dengan mengadakan pencatatan.
Pencatatan buku-buku sumber yang relevan dengan penelitian, teori-teori
pendidikan kayak, nilai budaya dan sebagainya.
Pencatatan
dokumentasi sering dikenal dengan studi kepustakaan adalah mencari bahan-bahan
pustaka dan dokumen yang ada kaitannya dengan masalah sebagai rujukan untuk
tabulasi dan analisis data.
E.
Analisis Data
Setelah data terkumpul, maka ada
proses pemilihan data dan kemudian dianalisis dan diinterprestasikan dengan
teliti, ulet dan cakap sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang objektif.
Analisis data adalah kegiatan untuk memaparkan data, sehingga diperoleh suatu
kebenaran atau ketidakbenaran dari suatu referensi. Batasan lain mengungkapkan
bahwa analisis data merupakan proses yang merinci usaha secara formal untuk
menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data. Sebagai
usaha untuk memberikan pada tema dan ide (Moleong, 2000: 103).
DAFTAR PUSTAKA
Suharsimi
Arikunto, 1985. Manajemen. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Poerwadarminto,
1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Surono,
1991. Kamus ACIBI. Solo: Tiga Serangkai.


0 komentar
Poskan Komentar