Friday, November 2, 2012

kumpulan skripsi bahasa indonesia MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGARANG CERPEN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SISWA KELAS VII



MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGARANG CERPEN
MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES
SISWA KELAS VII MTs NW REMPUNG TA. 2008/2009


 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
             Tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam TAP MPR Nomor 11/MPR RI 1993 adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, beradaptasi, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Somber daya alam yang banyak yang melimpah pada suatu negara belum merupakan jaminan bahwa negara tersebut akan makmur, bila pendidikan sumber daya manusianya ditelantarkan. Suatu negara yang mempunyai sumber daya alam yang banyak, bila tidak ditangani oleh sumber daya manusia yang berkualitas, pada suatu waktu akan mengalarni kekecewaan. Sejarah membuktikan bahwa negara yang miskin dengan sumber daya alam, tetapi kaya dengan sumber daya manusia yang berkualitas dapat menjadi negara yang kaya, makmur dan kuat.
             Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan togas besar dan ber angka waktu panjang karena masalahnya menyangkut masalah pendidikan bangsa. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia hares melalui proses pendidikan yang baik dan terarah. Sejarah jugs membuktikan bahwa Jepang yang kalah dalam perang dunia II dan menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, disamping kehilangan banyak tentara dan rakyat serta kehancuran fisik, bangunan dan pabrik, juga kehilangan banyak pakar dalam segala bidang, namun dalam waktu yang singkat Jepang dapat menjadi negara yang kuat, makmur dan kaya. Karena setelah selesai perang dunia II Jepang dalam program pembangunan memfokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan. Di negara kita upaya peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan sikap dan nilai-nilai. Pengembahgan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup (life-skill) melalui seperangkat kompetensi, agar siswa dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri dan berhasil di masa datang.
             Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua perubahan dapat memperoleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, Perubahah juga terjadi dengan cepat. Kemajuan diperlukan kemampuan untuk memperoleh dan memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif, kemampuan ini membutuhkan pemikiran antara lain berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran.
             Bertolak dari paradigma di atas dan mengingat tujuan pendidikan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa, maka guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan latar belakang dan sifat-sifatnya, kurikulum dengan segala komponennya berpadu dan berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut.
             Peran guru sangat besar dalam pengelolaan kelas, karena guru sebagai penanggung jawab kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar mengajar, guru harus penuhi syarat inisiatif dan kreatif dalam mengelola, kelas, karena gurulah yang mengetahui secara pasti situasi dan kondisi kelas terutama keadaan siswa dengan segala latar belakangnya.
             Ketentuan umum dan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mengatakan bahwa agar pembelajaran di kelas awal, yaitu kelas I, II dan III lebih bemakna bagi anak yang berada dalam perkembangan tahap usia dini di kelas, awal SD serta untuk mencapai hasil belajar yang maksimal maka kegiatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan proses.
             Pembelajaran proses merupakan pembelajaran terpadu melalui tema sebagai pemersatu dengan memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus yang bisa dikaitkan satu sama lain.
             Pembelajaran proses dimaksudkan untuk memberikan pengalaman bermakna karena anak dalam mengalami berbagai konsep yang mereka pelajari selalu melalui pengalaman langsung dan menghubungkan konsep lain yang telah dikuasainya.
             Berkaitan dengan pengetahuan tentang aturan-aturan dalam bahasa Indonesia maka pelajaran bahasa Indonesia merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang pengajar atau lembaga-lembaga pendidikan untuk membantu pembelajaran bahasa yang gagasan terakhirnya dilakukan pada, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa tersebut diantaranya ialah pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara dan sebagai penyimpanan tenaga kerja.
             Pendidikan merupakan wahana penting untuk membangun manusia yang pada gilirannya manusia hasil pendidikan akan menjadi sumber daya pembangunan. Oleh karena itu, kesalahan mendidik dapat berakibat fatal.
             Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsung lebih didorong oleh kemampuan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran.
             Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia seorang pengajar harus benar-benar menyadari bahwa yang menjadi tugas utamanya adalah pembentukan pemakai bahasa agar memiliki kemampuan berbahasa dengan baik. Artinya pemakai bahasa harus terampil menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, baik di dalam menyimak, berbicara, membaca, maupun menulis.
             Kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi akan tercapai apabila pemakai bahasa diberikan kesempatan lebih banyak untuk memahami teori, mempraktikkan teori dan berlatih menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
             Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, pemakai bahasa harus diberikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya untuk berlatih menggunakan bahasa Indonesia baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.
             Kemampuan berbahasa khusunya mengarang dirasakan sebagai suatu hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar bidang studi bahasa Indonesia dan sastra Indonesia pads tingkat sekolah dasar. Kondisi ini sangat wajar karena kemampuan berbahasa Indonesia mengarang dapat dijadikan barometer standar dalam mengukur tingkat kemampuan siswa dalam bidang studi lain, karena itu penelitian dan pengukuran hasil belajar siswa bidang studi bahasa Indonesia, bidang keterampilan mengarang harus dilakukan dengan lebih baik cermat dan sistematis. Berarti segala persiapan proses penilaian dan pengukuran hasil belajar dilakukan sesuai dengan tahap dan jenjang dilalui.
1.2  Rumusan Masalah
             Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:
1.2.1     Apakah pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran cerpen pada siswa kelas VII MTs. NW Rempung tahun pelajaran 2008/2009?
1.2.2     Bagaimanakah penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran mengarang cerpen siswa kelas VII MTs. NW Rempung tahun pelajaran 2008/2009?
1.2.3     Seberapa besar peningkatan kemampuan mengarang cerpen siswa kelas VII MTs. NW Rempung setelah pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses?
1.3  Tujuan Penelitian
             Setiap melakukan suatu tindakan harus memiliki tujuan yang jelas. Demikian pula penelitian ini, ada beberapa tujuan yang menjadi landasan penelitian ini adalah :
1.3.1     Mendiskripsikan peningkatan mutu pembelajaran cerpen menggunakan pendekatan keterampilan proses.
1.3.2     Mengetahui peningkatan kemampuan mengarang cerpen setelah dilakukan tindakan pads siswa kelas VII MTs NW Rempung.
1.3.3     Mengetahui besarnya peningkatan kemampuan mengarang cerpen siswa setelah belajar menggunakan pendekatan keterampilan proses.
1.4  Manfaat Penelitian
             Setiap penelitian dapat methberikan manfaat bagi penibaca/ peneliti itu sendiri.
Penelitian ini berharap mempunyai manfaat yaitu :
1.4.1     Bagi Guru
Dengan dilaksanakan penelitian ini guru (khususnya guru bahasa Indonesia) dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi dalam rangka meningkatkan pembelajaran di kelas, sehingga permasalahan yang dihadapi baik dari segi siswa, guru, materi pelajaran dan alat bantu pelajaran dapat diminimalkan.
1.4.2   Bagi Siswa
Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan mengarang cerita pendek (cerpen) dengan menuangkan ide-ide yang lebih baik dari sebelumnya dan juga siswa dapat menambahkan pengetahuan tentang karya sastra.


1.4.3   Bagi Sekolah
Secara umum keberhasilan yang dicapai siswa dan guru di atas akan mampu meningkatkan prestasi dan akan mengharumkan nama sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Kemampuan
             Kata "kemampuan" berasal dari kata "mampu" dan mendapatkan imbuhan yang berupa awalan ke- dan akhiran -an. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata mampu berarti; 1. (bisa, sanggup) melakukan sesuatu: dapat, ia tidak dapat membayar biaya pengobatan anaknya, 2. berada, kaya mempunyai harta berlebihan, mereka cukup mampu menyekolahkan anaknya keluar negeri (Alwi, dkk, 2003: 707-708).
             Sedangkan kata kemampuan berarti: 1. kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Kita berusaha dengan kekuatan. 2. kekayaan; karena kekayaan sudah memadai ia membeli sebuah rumah baru. Kemampuan adalah: pengetahuan tentang bahasa yang bersifat abstrak dan bersifat tidak sadar (Kridalasana, 2001: 105).
             Pemahaman terhadap karya sastra tergantung pada kesungguhan siswa menguasai atau mengetahui teori yang dapat mendukung pengembangan idenya, dan penghayatan yang dimaksud ialah siswa dapat mempraktekkan langsung apa yang akan diciptakan dalam hal ini karya sastra cerita pendek.
2.2  Pengertian Mengarang
             Mengarang merupakan suatu keterampilan berbahasa (language skill). Mengarang merupakan kemampuan yang kompleks yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan berbahasa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga Balai Pustaka. Jakarta, 2005 mengarang adalah :
1.      Menyusun, merangkai bunga dan sebagainya.
2.      Mencocokkan/mengikat permata dan intan: pandai emas itu sedang _ intan pada cincin.
3.      Menulis dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak dan sebagainya: ia sedang sibuk-sibuk baca buku cerita anak-anak, siapa yang _ lagu dan syair yang berjudul "Damai Tapi Gersang?"
2.3  Pengertian Cerpen
             Sebuah cerpen bukanlah novel yang diperpendek dan juga bukan bagian dari novel yang belum ditulis. Ada yang mengatakan bahwa cerpen merupakan fiksi yang dibaca selesai dalam sekali duduk dan ceritanya cukup membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Dengan kata lain, sebuah kesan tunggal dapat diperoleh dalam sebuah cerpen sekali dibaca, sebuah cerpen biasanya memiliki plot yang diarahkan pada insiden/peristiwa yang tunggal. Sebuah cerpen biasanya didasarkan pada insiden tunggal yang memiliki signifikasi besar bagi tokoh.
             Menurut Yudiono KS, bahwa cerita pendek (cerpen) adalah cerita yang bersumber pada persoalan kehidupan yang menjadi tema cerita. Sebagaimana sebuah fiksi, cerpen memiliki unsur intrinsik cerita seperti tema, alur, perwatakan, latar, ketegangan, sudut pandang, kesatuan dan gaya bahasa.
             Yang termasuk unsur intrinsik sebuah cerpen adalah :
a.       Tema: Suatu gagasan/ ide sentral yang menjadi pangkal tolak penyusunan karangan dan sekaligus menjadi sasaran karangan tersebut.
b.      Plot/alur: Rangkaian peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat, alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tatapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi.
c.       Penokohan: Bagaimana sifat-sifat tokoh digambarkan dalam cerita tersebut oleh pengarang. Penggambaran tokoh-tokoh dalam suatu cerita dapat menggunakan dua metode yaitu metode analitik dan dramatik.
d.      Latar (setting): keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra.
e.       Pusat Pengisahan (sudut pandang/point of view) yaitu cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya.
             Selain itu cerpen memiliki struktur cerita, susunan ceritanya tidaklah mutlak harus mengikuti suatu pola. Ada pengarang yang memakai pola struktur cerita, tradisional: pengenalan, pertikaian, penyelesaian, ada juga, yang memulai dengan pertikaian, perkenalan dan penyelesaian.
             Menurut kualitasnya, isi cerpen dibedakan atas cerpen series (bermutu sastra) dan cerpen populer. S.Tasrif (dalam Lubis, 1960 : 13-14), menyebutkan dengan istilah quality story dan commercial story. Jika keduanya, dibedakan maka menurut Tasrif, quality story adalah: cerita yang mempunyai harga, mensastraan, pekerjaan yang sungguh-sungguh dari pengarangnya dalam mencurahkan buah kalbu dan pikiran demi kualitas sastranya, sedangkan commercial story merupakan cerita yang dijual untuk mencari uang dan bercirikan plot yang kocak, bahasa romantis, menampilkan tma percintaan.
a.       Tema
            Istilah tema menurut Schrabac (dalam Aminuddin, 2004:91) berasal dari bahasa latin yang berarti tempat meletakkan suatu perangkat. Disebut demikian karena ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakan. Tarigan (1991: 125) mengatakan bahwa setiap fiksi haruslah mempunyai dasar-dasar atau tema yang merupakan sasaran tujuan.
Tema adalah: ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakan (Aminuddin, 2004: 92). Sejalan dengan pendapat ini, Brooke dan Werren (dalam Tarigan, 1991: 92) mengatakan bahwa tema adalah pandangan isu tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau dengan kata lain rangkaian nilai-nilai tertentu yang merupakan gagasan utama karya sastra.
Menurut Stanton (dalam Nurgiantoro, 2005: 70) mengartikan tema sebagai makna sebuah cerita yang secara khusus menerangkan sebagian besar unsurnya dengan ide utama (central ide) dan tujuan utama (central purpose).
Zulfahnur, dkk ( 1996 :25) mengatakan bahwa tema adalah emosional yang amat penting dari suatu cerita karena dengan dasar itu pengarang dapat membayangkan dalam fantasinya bagaimana cerita akan dibangun dan berakhir. Aminuddin (2004: 92) juga mengemukakan dalam upaya memahami tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah secara cermat, yaitu :
1.      Memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca.
2.      Memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca.
3.      Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa prosa fiksi yang dibaca.
4.      Memahami plot atau alur dalam prosa fiksi yang dibaca.
5.      Menghubungkan pokok pikiran yang satu dengan lainya yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita.
6.      Mengidentifikasi tujuang pengarang, memaparkan ceritanya dengan bertolak dari saran pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.
            Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tema merupakan apa yang menjadi persoalan pokok, persoalan yang menonjol, persoalan yang banyak menimbulkan konflik, ide utama dan tujuan utama di dalam sebuah cerpen.
b.      Plot/Alur
            Plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2004: 83).
Menurut Nurgiantoro (2005: 113) menemukan beberapa pengertian plot yang diungkapkan oleh Stanton dan Kenny. Stanton, plot berisi urutan kejadian namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan yang lain. Kenny mengemukakan plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa yaitu berdasarkan kaitan sebab akibat. Loban, dkk (dalam Aminuddin, 2004: 84) menggerakkan gerak tahapan alur seperti halnya gelombang-gelombang itu berawal dari :
a.       Ekposisi
b.      Komplikasi atau intrik-intrik awal yang akan bekembang menjadi konflik hingga menjadi konflik
c.       Klimaks
d.      Relevansi atau penyingkapan tabir suatu problem
e.       Denouement atau penyelesaian
c.       Latar/Setting
            Latar adalah latar belakang fisik, unsur tempat dan ruang dalam suatu cerita. Menurut Aminuddin (2004: 69) mengatakan latar adalah peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan psikologis.
Latar disebutkan juga landas, tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Abrams (dalam Nurgiantoro, 2005 : 216).
Nurgiantoro (2005 : 277) mengungkapkan unsur-unsur yang terdapat latar terdiri atas latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Latar tempat adalah suatu latar yang menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan pada karya fiksi. Latar waktu adalah suatu latar yang berhubungan dengan masalah kapan ter adinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Latar sosial adalah latar yang menyatakan pads hal-hal yang berhubungan dengan prilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
Menurut Jones (dalam Nurgiantoro, 2005: 97) mengatakan penokohan adalah penokohan tokoh di dalam karya sastra, dengan demikian dapat disimpulkan penokohan adalah cara yang digunakan pengarang dalam menampilkan dan mengembangkan watak tokoh atau perilaku cerita. Berikut pembedaan antara tokoh menurut Nurgiantoro (2005 : 176).
1.      Tokoh utama dan tokoh tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel/ cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian, sedangkan tokoh tambahan tidak begitu dipentingkan dalam cerita dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung maupun tidak langsung.
2.      Tokoh protagonis dan tokoh antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita, sedangkan tokoh penyebab terjadinya konflik disebut tokoh antagonis.
3.      Tokoh sederhana dan tokoh bulat
Tokoh sederhana dalam bentuknya yang asli adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, satu sifat watak tertentu saja, sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang kompleks berbeda halnya dengan tokoh sederhana, tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai sisi kehidupannya, sisi kepribadiaanya dan jadi dirinya.
4.      Tokoh Statis dan Tokoh berkembang
Tokoh statis memiliki sikap dan watak yang relatif tetap tak berkembang sejak kawal sampai akhir cerita, dipihak lain tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan dan perubahan peristiwa dan plot yang dikisahkan.
5.      Tokoh tipikal dan tokoh netral
Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualnya, dan lebih banyak ditonjolkan kualitas peker aan atau kebangsaannya. Sedangkan tokoh netral yaitu tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri, ia benar-benar merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensis dalam dunia fiksi.
            Dalam melukiskan tokoh-tokoh rekaan yang amat dikenalnya itu penuh Sudjiman (dalam Zulfahnur, 1996) pengarang menggunakan metode penokohan yaitu metode analisis, metode dramatis dan metode kontekstual.
Metode analisis memaparkan secara langsung sifat-sifat lahir (fisik) dan batin tokoh cerita. Metode dramatis adalah cars pelukisan dengan tidak langsung, dengan metode ini pembaca dapat menarik kesimpulan tentang watak-watak tokoh dengan dramatis. Metode kontekstual menggunakan bahasa yang mengacu pads tokoh untuk menggambarkan perwatakan.
d.      Point of View
            Panuti Sudjiman (dalam Zulfahnur, 1996: 35) mengatakan bahwa sudut pandang adalah tempat pencerita, dalam hubungannya dengan cerita, dari sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya. Sedangkan Tarigan (1991: 140) diungkapkan bahwa sudut pandang adalah hubungan yang terdapat antara sang pengarang dengan alam fiktif ceritanya atupun antara sang pengarang dengan pikiran perasaan para pembacanya.
Point of view menyarankan pada cara sebuah cerita dikisahkan, ia merupakan cara dan atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai saran untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam kepada pembacanya (Nurgiantoro, 2005 : 248).
Jadi sudut pandang merupakan posisi pencerita dalam membaca ceritanya ada kalanya dia bisa menjadi tokoh dalam cerita tersebut atau di luar penceritaan. Berikut perbedaan sudut pandang menurut Nurgiantoro (2005: 256)
a.       Sudut pandang personal ketiga “Dia”
Pengisahan cerita yang mempergunakan posisi penceritaan dalam membaca ceritanya ada kalanya dia bisa menjadi tokoh dalam cerita tersebut atau diluar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya ia, dia dan mereka.
b.      Sudut pandang personal pertama “Aku”
Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang personal pertama, first person point of view “Aku”. jadi gaya “aku” narator adalah seorang ikut terlibat dalam cerita.
c.       Sudut pandang campuran
Penggunaan sudut pandang yang bersifat campuran itu di dalam sebuah novel/cerpen, mungkin berupa penggunaan sudut pandang personal ketiga, dengan teknik "dia" maha tabu dan "dia" sebagai pengamat, personal pertama dengan teknik "aku" sebagai tokoh utama. dan "aku" tambahan sebagai saksi, bahkan dapat berapa campuran antara personal pertama dan ketiga, antara "aku" dan "dia" sekaligus.
d.      Amanat
Amanat adalah pesan atau ide yang disampaikan seorang pengarang kepada. pembaca. Menurut Zulfahnur (1996: 26) amanat itu diartikan sebagai pesan yang berupa ide, gagasan, ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikan/dikemukakan pengarang lewat cerita. Amanat pengarang ini dapat disampaikan secara implisit dan eksplisit di dalam karya. sastra. Implisit misalnya disyaratkan dalam tingkah laku tokoh-tokoh cerita. Eksplisit bila dalam tingkah atau akhir cerita pengarang menyampaikan pesan-pesan, saran, nasihat, pemikiran dan sebagainya. Umpamanya dalam salah asuhan, ketika itu Hanafi dan cucunya Syafi'i di rumah Hanafi, ia berkata "jangan terulang kembali riwayat salah asuhan".
e.       Gaya Bahasa
Unsur-unsur bahasa yang membangun atau menciptakan teknik bercerita yang khas dinamakan gaya bahasa (dalam Zulfahnur, 1991: 38). Bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat dalam seni lukis, keduanya merupakan unsur bahan, alat, saran yang diolah untuk dijadikan sebuah karya yang mengandung "nilai lebih" dari pada sekedar bahannya itu sendiri. Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra, di pihak lain sastra lebih dari sekedar bahasa, deretan kata, namun unsur "kelebihan" nya itu pun hanya dapat diungkapkan dan ditafsirkan melalui bahasa. Jika sastra dikatakan ingin menyampaikan sesuatu mendialogkan sesuatu. Sesuatu tersebut hanya dapat dikomunikasikan lewat sarana bahasa, bahasa dalam sastrapun mengemban fungsi utama, fungsi kemunikatif (Nurgiantoro, 2005: 272).
Sastra khusunya fiksi disamping sering disebut dunia dalam kemungkinan juga dikatakan sebagai dunia dalam kata. Hal itu disebabkan dunia yang diciptakan, dibangun, ditawarkan, diabstaksikan dan sekaligus ditafsirkan lewat kata-kata, lewat bahasa. Apapun yang dikatakan pengarang atau sebaliknya ditafsirkan oleh pembaca mau tidak mau harus menyangkut paut dengan bahasa. Struktur novel/cerita pendek dan segala sesuatu yang dikomunikasikan senantiasa, dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa, pengarang. Ada beberapa manfaat membaca cerpen, misalnya kita dapat mengenal watak atau karakter manusia, dan memperoleh gambaran bagaimana tokoh-tokohnya memecahkan masalah yang dihadapinya, membaca cerpen dapat dilakukan secara serius dan santai. Pembaca yang serius akan memperhatikan alur, watak tokoh, konflik yang dihadapi tokoh. Latar/tempat dan waktu terjadinya peristiwa secara mendalam. Adapun pembaca yang santai membaca cerpen dengan tujuan hanya sekedar mencari hiburan atau untuk mengisi waktu luang.
Cerpen akan semakin menarik untuk diikuti apabila didalamnya mengungkapkan hal-hal yang menarik atau mengesankan. Oleh karena itu, pengarang harus pandai dan jeli mengatur alur, konflik dan penokohan. Disamping itu cerpen akan memberikan pengaruh positif bila pernbacanya menemukan nilai-nilai yang diharapkan dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut dapat berupa :
1.      Nilai budaya, berkaitan dengan pemikiran kebiasaan dan hasil karya cipta manusia.
2.      Nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antara sesama manusia (kemasyarakatan).
3.      Nilai moral, berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakatnya.
2.4  Pendekatan
             Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita temui makna pendekatan sebagai berikut: 1) Pendekatan adalah proses, perbuatan, cara mendekati (rendah, berdamai, bersahabat). 2) Antara usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti. Metode-metode untuk mencapai pengertian tentang model penelitian.
2.5  Proses
             Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin "Processes" yang berarti berjalan ke depan. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah Any change in any object or organism, Particularity behavioral or psychological change. Proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan.
             Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu (Reber, 1988). Jika kita perhatikan ungkapan any in object or organism dalam definisi Chaplin di atas dan kata-kata “cara-cara atau langkahlangkah” (manners or operations) dalam definisi Reber tadi, istilah "tahapan perubahan" dapat kita pakai sebagai pedoman kata proses.
             Jadi proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan prilaku kognitif, efektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya (Muhibbin, 1999: 98).
2.6  Pendekatan Proses
             Pendekatan proses adalah pendekatan belajar yang dapat anda ajarkan kepada siswa untuk mempelajari bidang studi atau materi pelajaran yang sedang mereka tekuni, dari yang paling klasik sampai yang paling modern.
             Diantara pendekatan-pendekatan proses belajar yang dipandang representatif (mewakili) yang klasik dan modern itu ialah:
1.      Pendekatan Hukum Jost
            Menurut Robert (1988), salah satu asumsi penting yang mendasari hukum Jost adalah siswa yang lebih sering mempraktikkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ia tekuni.
2.      Pendekatan Ballard dan Clanchy
            Menurut Ballard dan Clanchy (1990), pendekatan proses belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan (attitude knowledge).
Ada 2 macam siswa dalam menyikapi ilmu pengetahuan yaitu:
1)      Sikap melestarikan apa yang sudah ada (conserting)
2)      Sikap memperluas (expending)
3.      Pendekatan Biggs
            Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan proses belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam 3 praktik (bentuk dasar) yakni :
1)      Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriyah)
2)      Pendekatan deep (mendalam)
3)      Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
Pengarangnya Muhibbinsyah, M.Ed, judul buku Psikologi Belajar, halaman 122-124.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Lokasi dan Subyek Penelitian
3.1.1        Lokasi Penelitian
             Penelitian mengambil lokasi penelitian di MTs. NW Rempung dengan alasan bahwa lokasi tersebut berdekatan dengan rumah peneliti sehingga tidak mengeluarkan banyak biaya.
3.1.2        Subyek Penelitian
             Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas VII MTs. NW Rempung tahun pembelajaran 2007/2008 dengan jumlah siswa 27 orang. Peneliti mengambil kelas VII dengan alasan karena peneliti menganggap bahwa kelas VII memiliki kemampuan yang kurang di dalam keterampilan mengarang cerpen.
3.2  Prosedur Penelitian
             Penelitian ini merupakanAtindakan kelas (PTK) dan penelitian ini terdiri dari 3 siklus yaitu siklus I, siklus II, dan siklus III. Setiap siklus terdiri atas 4 rangkaian tahapan yang dilakukan dalam siklus yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi/pengainatan dan tahap refleksi (Arikunto, dkk: 74).



3.2.1        Siklus I
a)      Tahapan Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan ini peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang ter adi selama tindakan berlangsung.
b)      Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini, rancangan strategi pembelajaran dan apa yang akan dilakukan di kelas dan luar kelas serta bagaimana skenario pembelajarannya seperti yang telah disusun pada perencanaan tindakan akan diterapkan terapkan dan dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kemampuan mengarang cerpen menggunakan pendekatan keterampilan proses.
c)      Tahap Observasi/ Pengamatan
Pala tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi. Pada tahap ini siswa diobservasi oleh observer yaitu peneliti dengan melakukan kolaborasi atau kerjasama dengan guru pamong atau guru bidang studi tentang perubahan sikap dan prestasi belajar siswa dalam pelaksanaan kegiatan mengarang cerpen menggunakan pendekatan keterampilan proses.
d)     Tahap Refleksi
Tahap ini merupakan tahap pemerosesan data yang diperoleh pada saat observasi, data yang diperoleh pada tahap ini selanjutnya ditaksirkan dan dijadikan masukan pada analisis data dengan mempertimbangkan bahwa segala pengalaman teori dan pengalaman instruksional di refleksi untuk menarik suatu kesimpulan.
3.2.2        Siklus II
             Pelaksanaan siklus II ini didasarkan pada hasil refleksi yang sudah dilakukan pads siklus I, mengulang tahapan-tahapan yang sudah tertera pads siklus I dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih balk.
3.2.3        Siklus III
             Pelaksanaan siklus III ini didasarkan pada hasil refleksi yang sudah dilakukan pada siklus II, mengulang tahapan-tahapan yang sudah tertera pada siklus II dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan sempuma.
3.3  Metode Pengumpulan Data
             Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.3.1        Metode observasi yaitu cara mengumpulkan atau dengan melakukan pengamatan terhadap sasaran secara cermat untuk menemukan, memperoleh, mendapatkan dan menetapkan data yang berupa aspek struktural cerpen yang berupa terra, plot, penokohan, latar dan pusat pengisahan.
Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan data pengamatan terhadap obyek penelitian. Observasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung.
-          Observasi langsung adalah mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan di dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan di dalam situasi buatan yang khusus diadakan.
-          Observasi tidak langsung adalah mengadakan pengamatan terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki dengan perantara sebuah alat. Pelaksanaannya dapat berlangsung di dalam situasi yang sebenarnya maupun didalam situasi buatan.
Menurut Donald Ary, dkk. bahwa ada lima langkah pendahuluan yang harus diambil pada waktu melakukan pengamatan langsung yaitu :
1.      Aspek tingkah laku yang akan diamati harus dipilih
2.      Tingkah laku yang masuk ke dalam kategori yang telah dipilih harus dirumuskan dengan jelas.
3.      Orang yang akan melakukan pengamatan hum dilatih.
4.      Suatu sistem untuk mengukur pengamatan harus dikembangkan
5.      Prosedur terperinci untuk mencatat tingkah laku harus dikembangkan (A. Furchan, 1982, 1982: 274).
Menurut Jehoda, dkk. (1989) bahwa observasi menjadi alat penyelidikan ilmiah apabila :
1.      Mengacu kepada tujuan-tujuan research yang telah drumuskan.
2.      Direncanakan secara siernatik.
3.      Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dengan proporsi yang lebih umum, tidak hanya untuk memenuhi rasa ingin tabu semata.
4.      Dapat dicek dan dikontrol validitas, reliabilitas dan ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.
3.3.2        Metode Tes
             Tes dilakukan pada setiap akhir tindakan, dimaksudkan untuk mengetahui daya serap siswa setelah diberikan tindakan tes berbentuk tulis, bersifat objektif yakni pilihan ganda. Metode tes sebagaimana yang dikemukakan Arikunto (1998 : 139), bahwa tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Tes ditinjau dari sasaran atau obyek yang akan dievaluasi, maka dibedakan adanya beberapa macam tes dan alat ukur lain, sebagaimana Suharsimi Arikunto mengemukakan bahwa ters ditinjau dari sasaran atau obyek yang akan dievaluasi dibedakan menjadi  tes keperibadian atau personality test, tes bakat atau aptitude test, tes intelegensi atau intelligence test, teknik proyeksi atau projective technique, tes minat atau measures of interest dan tes prestasi atau achievement test (Arikunto, 1998: 227).
             Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes prestasi atau achievement test, tes prestasi adalah tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu (Arikunto, 1998:140).
             Sedang menurut pembuatnya tes dibedakan menjadi 2 yaitu tes buatan guru dan tes terstandar. Suharsimi Arikunto lebih lanjut menjelaskan bahwa tes sebagai instrument pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1.      Tes buatan guru yang disusun oleh guru dengan prosedur tertentu, tapi belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri dan kebaikannya.
2.      Tes terstandar standardized (standardized test) yaitu tes yang biasanya sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin keampuhannya, tes standar adalah tes yang mengalami uji coba berkali-kali sehingga sudah dapat dikatakan cukup baik.
Di dalam setiap tes yang terstandar sudah dicantumkan;
Petunjuk pelaksanaan, waktu yang dibutuhkan, bahan yang masih tercakup, dan hal-hal lain, misalnya validitas dan reabilitas. (Arikunto, 1998 : 227). Dari pendapat di atas, maka dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes buatan guru.
3.4  Teknik Analisis Data
             Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif maka datanya menggunakan analisis desktiptif. Analisis deskriptif ini meliputi penentuan skor maksimal ideal (SMi), harga rata-rata ideal (Mi) dan simpangan baku atau standar deviasi ideal (SDi).
Angka-angka SMi, Mi dan SDi diperoleh dengan cara SMi = skor maksimal ideal + skor minimal ideal, Mi = ½  x SMi dan SDi = 1/6 x SMi.
Atas dasar inilah maka dibuat tabel guna mengkategorikan data yaitu sebagai berikut:
Mi + SDi       à      Mi +3SD           = Tinggi
Mi – SDi        à      < Mi + iSDi       = Sedang
Mi + iSDi      à      Mi +3SD           = Tinggi
Mi –1 SDi      à      <Mi + i SDi       = Sedang
Mi – 3SDi      à      <Mi – SDi =      Rendah
Rumus yang digunakan untuk mencari nilai rata-rata yaitu :
Keterangan :
M = Mean (rata-rata)
E = Jumlah skor keseluruhan siswa
N = Jumlah siswa
Rumus untuk mencari besar persentase ketercapaian keseluruhan siswa yaitu :
Keterangan :
IPK =   Indek Prestasi Kelompok
M     =   Nilai rata-rata (mean)
SMI =   Skor maksimal ideal (skor yang dicapai kalau semua soal dapat dijawab dengan benar)
Untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa jika dilihat indeks prestasi kelompok (IPK) dapat digunakan pedoman sebagai berikut :
90 - 100 = baik sekali
80 - 99    = baik
70 - 79    = sedang
< 70        = kurang, (Nurharyanto, 1992:13)



3.5  Indikator Keberhasilan
             Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dikatakan berhasil apabila indeks prestasi kelompok (IPK) mencapai 75% artinya kemampuan siswa di dalam mengarang cerpen mencapai 75% selain itu keberhasilan ini juga dilihat dari meningkatnya minat dan motivasi belajar siswa selama proses belajar berlangsung.



DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin, 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Fahri, Baiq. 2004 Skripsi. Nilai Moral dalam Cerpen Perang Karva Ahmad Hartono. Mataram: FKIP Mataram.
Hoerip, S. 1986. Cerita Pendek Indonesia I. Jakarta: Gramedia.
Intisari, Juli 1995. Naskah Cerita Pendek
Lexy J.Moleong, 1989. Metodoloei Penelitian Kualilafif. Remaja Karya CV. Bandung.
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rahmat Djoko 2003. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Riyanto, Yatim. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya; Giri Surya.
Tarigan, Henny Guntur, 1991. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung; Angkasa. Tim Penyusun PR Bahasa Indonesia PT Intan Pariwara.
Wardani I. Gak, dkk. 2002. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta, Universitas Terbuka Jakarta.



MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGARANG CERPEN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SISWA KELAS VII

0 comments:

Post a Comment


Get this widget!