Thursday, November 1, 2012

kumpulan skripsi bahasa indonesia PENGARUH KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT TERHADAP PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS X B SMAN 1 PUJUT TAHUN PELAJARAN 2008/2009


PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT TERHADAP PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS
X B SMAN 1 PUJUT TAHUN PELAJARAN 2008/2009



KATA PENGANTAR


Alhamdulillahirobbil’alamin skripsi dengan judul ”Pengaruh kemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar dalam memahami isi cerpen pada siswa kelas X B SMAN 1 Pujut Tahun Pelajaran 2008/2009” dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untul memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram.
Pertama, dalam kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada yang terhormat seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, khususnya Dra. Hj. Kusdiratin, S.U selaku Dosen Pembimbing I, dan Drs. Kaharuddin, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II, atas bimbingan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung mulai dari penyusunan proposal penelitian hingga terselesainya skripsi ini, sehingga apa yang dilakukan berjalan lancar dan Alhamdulillah dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Dalam penyusunan skripsi ini, begitu banyak persoalan, tantangan dan hambatan yang dihadapi. Akan tetapi, Alhamdulillahirobbil’alamin semua itu dapat dilewati berkat bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Tidak lupa disampaikan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa FKIP umumnya dan mahasiswa Bastrindo ’05 khususnya serta semua pihak yang telah memberikan saran dan masukan demi terselesainya penyusunan skripsi ini, semoga Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal.
 Akhirnya, diucapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kependidikan. Tidak lupa juga disampaikan ucapan maaf apabila ada kesalahan dalam tulisan ini dan mengharapkan masukan, saran dan kritik dari semua pihak guna mencapai kesempurnaan. 

Mataram,      Januari 2009
        

                                                        ABSTRAK

PENGARUH KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT TERHADAP
HASIL BELAJAR DALAM MEMAHAMI ISI CERPEN PADA SISWA KELAS X B SMA NEGERI 1 PUJUT TAHUN PELAJARAN 2008/2009


            Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kemampuan Membaca Cepat terhadap Hasil Belajar dalam Memahami Isi Cerpen pada Siswa Kelas X B SMAN Negeri 1 Pujut Tahun Pelajaran 2008/2009”. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah pengaruh lemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar siswa kelas X B SMAN 1 Pujut. Adapun tujuan penelitian adalah: untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh kemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar siswa kelas X B SMAN 1 Pujut. Manfaat penelitian tersebut salah satunya adalah sebagai masukan bagi siswa dalam meningkatkan hasil/prestasi belajar dengan membiasakan membaca cepat.  
            Membaca merupakan proses yang berkembang. Pada tahap awal membaca senagai pengenalan simbol huruf cetak yang terdapat pada sebuah wacana. Membaca merupakan suatu keterampilan proses yag dilakukan serrta digunakan oleh pembaca untuyk memperoleh pesan yang yag hendak disampaiakan penulis melalui media kata tulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif, yaitu suatu metode penelitian untuk memperoleh informasi mengenai suatu fenomena/kenyataan sosial dengan cara mendeskripsikan sejumlah variable terkait dengan masalah yang diteliti. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X B SMAN 1 Pujut. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kuesionear dan metode tes.  
 Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan, dapat dilihat bahwa nilai kecepatan membaca siswa rata-rata mencapai 64,4 atau 65. Sedangkan nilai pemahaman yang diperoleh rata-rata mencapai 69. Dengan memperhatikan hasil belajar siswa tersebut maka secara kuantitatif rata-rata nilai siswa 66,7. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca cepat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas X B SMA Negeri 1 Pujut.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pesatnya laju perkembangan teknologi dewasa ini, khususnya kemajuan mesin cetak berdampak pula pada perkembangan informasi. Manusia dapat mengakses berbagai informasi melalui internet secara cepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemajuan sains dan teknologi dapat dengan cepat dilipatgandakan dan disebarluaskan sesuai dengan informasi.
Soedarso (2002:18) mengemukakan bahwa  pesatnya kemajuan mesin cetak menyebabkan ledakan informasi. Akibatnya manusia menghadapi berbagai aspek dalam kehidupannya, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Ditinjau dari segi batas kemampuan, sebagai manusia tidaklah mungkin mampu membaca segala informasi berupa artikel atau buku-buku yang tebal setiap hari. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan catatan dan teknik membaca cepat untuk memahami dengan cepat isi bacaan dan dapat mengacu kembali beberapa waktu bila diperlukan (Guntur Tarigan, 2003:117).
Masalah pendidikan tidak pernah luput sorotan para pengamat pendidikan maupun tokoh pendidikan yang banyak menyoroti tentang rendahnya kualitas lulusan yang dihasilkan oleh lulusan pendidikan formal. Salah seorang pengamat pendidikan yaitu Dimyati (1996) mengemukakan bahwa masalah krusial yang dihadapi dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional adalah belum adanya kesatuan pandangan tentang paradigma yang dianut dalam sistem pendidikan nasional.
Hasil pengamatan dan penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kualitas output lulusan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan formal disebabkan oleh banyak faktor. Widiastomo (2001:21) mengemukakan:
”Rendahnya kualitas keluaran lembaga pendidikan Indonesia disebabkan oleh adanya inefisien eksternal maupun internal”. Secara ekternal rendahnya kualitas output pendidikan disebabkan oleh bkebijakan sistem pendidikan yang sentralistik. Kebijakan inilah yang dapat menghambat mutu pendidikan maupun kreativitas guru. Sementara secara internal praktik pembelajaran (proses belajar mengajar) masih banyak ditemui penggunaan metode tradisional atau konvensional, yang salah satu cirinya guru dianggap satu-satunya sumber pengetahuan.  

Proses pembelajaran dengan metode tradisional (konvensional) ini, berdasarkan pengamatan yang sering digunakan adalah metode ceramah, disertai dengan pemberian tugas tanpa bimbingan atau mungkin dengan mencatat buku paket di papan tulis sedangkan siswa menyalin pada buku tulisnya.
Model pembelajaran Bahasa Indonesia sebagaimana yang digambarkan oleh Widiastomo sangat terasa. Masalah umum yang sering dijumpai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain bagaimana mengembangkan pengertian atau pemahaman pengetahuan dalam diri siswa, serta bagaimana memilih atau menggunakan strategi pembelajaran yang cocok dengan materi yang diajarkan.
Rendahnya mutu lulusan nampak pada data nilai (angka) yang diperoleh siswa pada ujian nasional maupun pada ulangan umum semester, khusunya pada bidang pembelajaran Bahasa Indonesia. Sebagai contoh data dari SMA Negeri 1 Pujut, nilai UAN pada tahun 2006-2007 khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa kelas IPA yang berjumlah 98 yang mendapat 7,0 – 8,5 hanya 17 siswa, sedangkan rentang nilai terendah 4,28 dan tertinggi 8,50.
Membaca merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap individu yang sedang menjalani proses pembelajaran, tidak hanya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, melainkan pada semua mata pelajaran seperti Kewarganegaraan , Agama, Sejarah, Matematika, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris dan sebagainya.
Membaca adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Melalui membaca dapat diperoleh pengetahuan, bersantai dengan perasaan dan pikiran (Jurnal: 2001).
Membaca merupakan cara menjadikan diri lebih tahu jika dibandingkan dengan sebelum membaca. Tidak ada orang yang buta huruf  yang lebih pandai daripada orang yan tahu membaca dan tidak ada orang yang membaca lebih sedikit pandai daripada orang yang lebih banyak membaca (Pusara dalam Lumasre, 2008: 3).
Kegiatan membaca merupakan kegiatan menggunakan berbagai keterampilan, yaitu kegiatan mengamati, memahami dan memikirkan yang dapat menumbuhkan  pandangan dan sikap serta tindakan positif terhadap diri pembacanya.
Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah dan sederhana. Membaca dapat dilakukandengan berbagai cara serperti membaca diam, membaca nyaring, membaca telaah isi, membaca telaah bahasa, membaca kritis, membaca pemahaman juga terdapat hal-hal yang mempengauhi  keberhasilan kemampuan siswa dalam membaca (Tarigan, 1998:151).
Guru bahasa harus menyadari dan memahami bahwa membaca merupakan suatu keterampilan kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan, antara lain keterampilan membaca cepat dan membaca catatan.
Suatu hal yang tidak dapat diabaikan dalam membaca cepat dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah terjadinya salah pengertian dalam berkomunikasi. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang membudayanya penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Membudayakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebaiknya dimulai dari kalangan pelajar dengan jalan meningatkan kemampuan membaca cepat agar dapat memhami semua materi pembelajaran dengn cepat, khususnya pelajaran bahasa Indonesia. Kondisi yang seperti inilah yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya, khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian pengaruh dengan judul Pengaruh Kemampuan Membaca Cepat terhadap Hasil Belajar dalam Memahami Isi Cerpen Pada Siswa Kelas X B SMA Negeri 1 Pujut Tahun Pelajaran 2008/2009.

1.2   Pembatasan Masalah
Karena adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga, teori-teori, dan supaya penelitian ini dapat dilakukan secara lebih mendalam, maka tidak semua masalah yang telah dipaparkan dalam identifikasi masalah di atas akan diteliti. Untuk itu, maka peneliti memberikan batasan sebagai berikut :
  1. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Pujut.
  2. Kegiatan penelitian ini berfokus pada kemampuan membaca cepat siswa, mengetahui tingkat pemahamannnya serta pengaruhnya terhadap hasil/prestasi belajar siswa pada bidang studi bahasa Indonesia.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uaraian pada latar belakang masalah di atas, masalah-masalah pada  penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimanakah pengaruh kemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar dalam memahami isi cerpen pada siswa kelas X B di SMAN 1 Pujut ?

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh kemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar dalam memhami isi cerpen pada siswa kelas X B SMAN 1 Pujut.
        

1.5  Manfaat Penelitian
1)      Sebagai pengetahuan tentang pengaruh kecepatan  membaca terhadap hasil belajar siswa kelas X B.
2)      Sebagai bahan masukan bagi siswa dalam meningkatkan hasil belajar dengan membiasakan membaca cepat.
3)      Sebagai bahan pertimbangan guru dalam menggunakan atau memilih strategi pembelajaran yang tepat.

BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1    Landasan Teori
Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang berbeda dari beberapa pemakaian istilah dalam judul penelitian “ Pengaruh Kemampuan Membaca Cepat terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas X. B SMA negeri 1 Pujut tahun Pelajaran 2008/2009”, maka perlu ditegaskan beberapa istilah dalam tulisan ini, yaitu (1) Pengaruh; (2) Kemampuan Membaca; (3) Prestasi Belajar; dan (4) Siswa. 

2.1.1 Pengertian Pengaruh
Pengaruh adalah daya atau kekuatan yang ditimbulkan dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang (Maryati dalam Hariyati, 2008:8). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengaruh diartikan sebagai dampak yang terjadi di dalam suatu perbuatan seseorang.
Pengaruh yang dilaksudkan dalam penelitian ini  adalah pengaruh prestasi belajar bahasa indonesia siswa akibat kemampuan membaca cepat siswa.

2.1.2 Hakikat Membaca
Beberapa ahli mengemukakan definisi yang berbeda, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai persamaan persepsi tentang membaca yaitu merupakan sebuah proses. Menurut Anderson (dalam Tarigan 1998:7), membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi yang mencangkup pengubahan tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca  untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media tulis, (Tarigan, 1998 : 9).
Allen dan Vallete (dalam Tarigan, 1998:94) mengemukakan, “membaca merupakan proses yang berkembang (a developmental process). Pada tahap awal membaca sebagai pengenalan simbol huruf cetak (word recognitif) yang terdapat pada sebuah wacana. Dari membaca per huruf, per kata, per kalimat kemudian berlanjut membaca paragraf dan esay pendek”.
Menurut Hodgson (dalam Tarigan,1998:7),” membaca merupakan sutau keterampilan, proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata tulis.”
Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang aktif dan interaktif. Dengan pengetahuannya pembaca harus mengikuti jalan pemikiran penulis dan dengan daya kritisnya ditantang untuk dapat merespon, dengan jalan menyetujui atau tidak menyetujui gagasan atau ide yang dikemukakan oleh seorang penulis.
2.1.3 Jenis Membaca
Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan membaca, yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara. Setiap keterampilan berhubungan erat dengan keterampilan yang lain. Tarigan mengemukakan jenis membaca sebagai berikut: (1) membaca diam dan membaca nyaring, (2) membaca telaah isi, (3) membaca telaah bahasa, (4) membaca sastra. Membaca telaah isi meliputi: membaca teliti, membaca pemhaman, membaca kritis dan membaca ide (Tarigan, 1998:11-13).
Membaca teliti membutuhkan keterampilan: (1) survey yang tepat untuk memperhatikan organisasi atau pendekatan umum, (2) membaca secara seksama dan membaca ulang parafraf-paragraf untuk menemukan kalimat-kalimat judul dan perincian-perincian penting, (3) membantu ingatan, mencatat fakta serta ide yang penting dapat menanamkan kesan yang mendalam pada ingatan kita (Tarigan, 1998:14).
Membaca paragraf memerlukan pelatihan diri mengenal pokok pikiran dan mengenal pengembangan pokok pikiran tersebut. Membaca pemahaman adalah jenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar atau norma kesusastraan, resensi, kritik, drama tulis dan pola fiksi. Kemampuan membaca pemahaman merupakan dasar membca kritis. Membaca kritis (membaca interpretative) bertujuan: (1)memahami maksud penulis, (2) memahami organisasi daar tulisan, (3) menilai penyajian penulis atau pengarang, (4) menerapkan prinsip kritis pada bacaan sehari-hari, (5) meningkatkan minat baca, kemampuan baca dan berpikir kritis, (6) mengetahui prinsip pemilihan bahan bacaan.
Membaca telaah bahasa terdiri dari membaca bahasa (foreigen language reading) danmembaca sastra (literaty reading). Tujuan utama telaah bahasa adalah untuk memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata serta memahami isi dan menikmati keindahannya.
Pembaca yang baik adalah pembaca yang: (1) tahu mengapa ia membaca, (2) memahami apa yang dibaca, (3) mengenal media cetak,bentuk-bentuk kontemporer media cetak seperti paperback media grafika, majalah, surat kabar dan sebagainya, (4) menguasai kecepatan membaca dan beberapa hal seperti membaca sekilas, memetik secara kasar tiga atau empat hal dalam satu halaman untuk memperoleh gambaran umum bagian  sebagai satu keseluruhan. Membaca cepat untuk mencari hal tertentu yang diinginkan. Membaca cepat yang baik adalah 800-1000 kata per menit. Membaca demi kesenangan, yaitu membaca dengan melewati hal yang kurang menarik dan membaca dengan lambat pada hal yang menarik. Membaca demi kesenangan yang baik rata-rata 500-600 kata dalam satu menit. Disamping itu perlu diketahui tentang membaca serius. Membaca secara serius rata-rata 300-599 kata dalam satu menit, Salisbury (dalam Tarigan, 1998:117-119).



2.1.4 Membaca Cepat
Menurut Soedarso (2002:14) dalam membaca cepat terkandung pemahaman yang cepat pula. Pemahaman menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan kecepatan. Pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Menurut  Harry Sheffer (dalam Soedarso, 2002:13) pada umumnya orang yang membaca dapat mencapai kecepatan 350-500 kata per menit (kpm). Adapun membaca cepat yang baik menurut Soedarso (2002: 4-8) adalah:
1)               Meningggalkan kebiasaan membaca yang salah sejak kecil dan mengatasinya, seperti menggerakkan bibir diganti dengan diam, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan diganti dengan menggerakkan mata ke kiri da ke kanan, meninggalkan kebiasaan membaca dengan menunjukkan jari atau benda lain.
2)               Tidak melakukan regresi, yaitu kebiasaan kembali ke belakang untuk melihat kata atau frase yang baru dibaca.
3)               Melamun dapat diatasi dengn kosentrasi waktu membaca.
4)               Meninggalkan subvokalisasi, yaitu melafalkan kata-kata yang dibaca dalam batin, yang penting menangkap ide bukan mengingat simbol.
Cara mengukur kecepatan membaca (Sudarso, 2002: 14):
Menghitung jumlah kata dalam bacaan dapat dilakukan dengan jalan menghitung kata perbaris rata-rata dikalikan jumlah baris yang dibaca. Untuk menghitung kata perbaris rata-rata, hitung jumlah kata dalam lima baris sedudah itu dibagi lima hasilnya adalah kata perbaris kata-kata. Contoh:
Jumlah kata perbaris rata-rata : 11
Jumlah baris yang dibaca        : 60
Jumlah kata yang dibaca         : 11 x 60 = 660
Jika kita membaca 2 menit 10 detik, atau 130 detik maka kecepatan membaca kita adalah 660 kata/130 detik = 346 kata permenit. Menurut Sugiarto (2001)  faktor terakhir yang memhubungani siswa dalam membaca adalah penguasaan teknik membaca. Ada beberapa teknik membaca yang baik diantaranya teknik survey, reresite, review (SQ3R), scanning dan skimming.
Selanjutnya Miuecky dalam Sugiarto mengemukakan bahwa untuk melakukan membaca cepat sebuah  artikel maka:
1)         Membaca paragraf pertama dan kedua untuk mendapatkan overview dari sebuah artikel.
2)         Pada paragrapf tiga dan seterusnya mulailah tinggalkan bagian-bagian yang tidak diperlukan dan bacalah kalimat atau frase kunci untuk mendapatkan mind idea dan beberapa detail yang dibutuhkan.
3)         Bacalah seluruh paragraf  terakhir yang biasanya merupakan rangkuman dari artikel.

2.1.5 Membaca Terbimbing
Membaca terbimbing dalam peneitian ini merupakan cara membaca yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Materi tentang membaca terbimbing ini bertumpu pada pendapat ahli yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya maupun hasil penelitian sebelumnya. Membaca terbimbing dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)           Sebelum melakukan membaca, siswa harus mengetahui tujuan membaca (mengapa ia harus membaca), untuk mendapatkan informasi atau menikmati bacaan.
2)           Siswa mengetahui jenis bacaan yang akan dibaca, fiksi atau nonfiksi sehingga siswa dapat memilih cara yang tepat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
3)           Meninggalkan kebiasaan yang mengganggu kecepatan membaca.
4)           Lakukan scanning  bila diperlukan.
5)           Bacalah paragraf pertama dan kedua untuk mendapatkan overview dari artikel yang dibaca.
6)           Pada paragraf selanjutnya mulailah tinggalkan bagian yang tidak diperlukan, bacalah kalimat-kalimat  dan frase kunci untuk mendapatkan detail-detail yang dibutuhkan.
7)           Bacalah seluruh paragraf akhir yang biasanya merupakan simpulan atau rangkumannya.
8)           Lakukan membaca teliti/kritis saat diperlukan.
9)           Catatlah detail-detail yang dibutuhkan.
2.1.6  Pengaruh Membaca Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
 Kita semua memahami fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa resmi negara dan bahasa pengantar dalam lembaga pendidikan. Telah diuraikan pada bagian sebelumnya tentang pendapat para ahli dalam usaha meningkatkan pemahaman untuk menaikkan prestasi belajar.
Tarigan (1998:117-119) mengemukakan bahwa  pembaca yang baik adalah  pembaca yang mengetahui mengapa ia membaca, memahami yang dibaca, menguasai kecepatan membaca, membaca serius bahan yang penting, membaca cepat untuk mencari hal yang diinginkan. Soedarso mengemukakan bahwa membaca yang efisien adalah membaca untuk memahami suatu bacaan, perlu mengambil suatu langkah yang strategis seperti SQ3R, menemukan ide pokok, mengetahui ide pokok paragraph, membaca secara kritis, mengingat lebih lama dan membuat catatan. Dengan teknik membaca yang benar siswa dapat membaca dengan efisien.
Kemampuan membaca cepat sebagaimana yang tertera dalam judul, yang dimaksud adalah kemampuan membaca dengan cepat dalam memahami bahan bacaan. Yang diutamakan bukan kecepatannya melainkan pemahamannya. Dengan memberikan bimbingan membaca yang benar diharapkan siswa dapat dengan cepat memahami materi yang dibaca. Berdasarkan uraian di atas,  membaca terbimbing dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajar
Sebagai mana telah diuraikan pada  bagaian sebelumnya, dengan didukung oleh pendapat dan temuan para ahli antara lain Soedarso, dalam membaca cepat terkandung didalamnya pemahaman yang cepat pula. Membaca cepat yang benar (terbimbing) dapat membantu mempermudah pemahaman dalam belajar. Menurut Guntur Tarigan dengan membaca cepat dan efesien, dia akan mendapatkan apa yang dicarinya.
Joni (1991) menyatakan bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di kelas secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan secara optimal. Indikator-indikator kemampuan guru di kelas antara lain meliputi;
a.         Kemampuan Membuat Persiapan Mengajar dan Melaksanakan Evaluasi
Pengajaran merupakan suatu kegiatan atau upaya untuk membantu para siswa mengembangkan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Kegiatan pengajaran tidak sederhana seperti yang kita bayangkan tetapi cukup kompleks, karena itu kegitan ini membutuhkan perencanaan yang matang dan dibuat secara tertulis. Persiapan atau perencanaan merupkana langkah awal dar suatu kegitan berisi berbagai upaya mempersiapkan apa yang harus dilaksanakan. Oleh karena itu persiapan atau perncanaan adalah hal yang sangat penting dilakukan oleh seorang guru sebelum melakukan tugas pengajaran
Karti  (2003) menyatakan bahwa kesiapan guru dalam mengajar akan terlihat dalam perencanaan yang dibuat oleh guru, yang biasanya berwujud dalam satuan pelajaran. Hampir sama dengan pendapat di atas, Mursel dan Nasution (1995) menyatakan bahwa perencanaan adalah pemikiran artinya menggunakan prinsip-prinsip umum situasi-situasi yang khusus. Makin baik dipikirkan makin baik pula persiapan pelajaran. Dalam membuat suatu perencanaan harus diperhatikan situasi dan kondisi yang ada yaitu kemampuan guru, kemampuan siswa, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah, sehingga apa yang direncakan itu dapat dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2000) yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan guru dalam pengajaran adalah tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah guru rencanakan. Agar pelaksanaan pengajaran berjalan efisien dan efektif maka diperlukan perencanaan yang tersusun secara sistematis, dengan proses belajar mengajar yang lebih bermakna dan mengaktifkan siswa serta dirancang dalam suatu skenario yang jelas.  Ibrahim dan Syaodih (1996) menyatakan bahwa:
Apabila seorang guru akan mengajarkan setiap pokok bahasan kepada siswanya ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Untuk melihat apakah guru sudah siap untuk melaksanakan proses belajar mengajar dapat dilihat dari persiapan mengajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, penyusunan program pengajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran lebih lancar dan hasilnya lebih baik, karena dengan perencanaan atau persiapan guru dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik di kelas sebab apa yang dilaksanakannya sudah dipersiapkan lebih dahulu secara tertulis bukan materi yang muncul secara tiba-tiba.
Secara garis besar, perencanaan pengajaran mencakup kegiatan-kegiatan : merumuskan tujuan-tujuan apa yang dicapai, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapain tujuan tersebut, materi apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut. Menurut Usman (1992) dalam merencanakan suatu pelajaran hendaknya diperhatikan hubungan antara tujuan pengajaran, kegiatan belajar mengajar dan penilaian karena ketiga aspek ini saling berkaitan.
Karti, dkk (2003) menyebutkan bahwa komponen-komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pengajaran adalah ketepatan perumusan tujuan pembelajaran, kesesuaian bahan dengan tujuan pembelajaran, pemilihan metode yang akurat, pemakaian alat/media pembelajaran, pemilihan sumber belajar, dan pemakaian prosedur, jenis dan alat evaluasi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pendapat tersebut di atas mengisyaratkan bahwa di dalam membuat perencanaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara sistematis, artinya semua komponen yang ada di dalam perencanaan pengajaran mempunyai keterkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu tujuan pembelajaran khusus menjdi pedoman dalam memilih materi pelajaran, memilih metode pengajar, memilih media pembelajaran dan evaluasi, yang semuanya diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan.
Proses belajar mengajar merupakan bentuk komunikasi antara pendidik dan anak didik. Dalam komunikasi itu terdapat pembentukan dan pengalihan pengetahuan, sikap dan keterampilan dari guru kepada siswa. Pengetahuan dan keterampilan dalam penilaian akan sangat membantu tercapainya keefektifan proses belajar mengajar. Penilaian tidak hanya mengukur pembentukan dan pengalihan, tetapi menilai sampai seberapa jauh materi pelajaran dikuasai siswa, di samping menilai dirinya dan program yang dibuatnya. Karena guru merupakan jabatan profesional, pengetahuan dan keterampilan mengadakan atau melaksanakan penilaian mutlak diperlukan.
     Wijaya dan Ruslan (1992) memisahkan dua istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu penilaian dan pengukuran. Penilaian bertujuan untuk menemukan nilai prestasi kualitatif yang dicapai seorang atau kelompok setelah proses belajar mengajar. Pernyataannya dirumuskan dalam kata-kata atau huruf seperti baik, cukup, memuaskan (A,B atau C). Sedangkan pengukuran bertujuan untuk menemukan nilai prestasi kuantitatif yang dicapai seseorang atau kelompok setelah proses belajar mengajar. Pernyataannya dirumuskan dalam bentuk angka (7,8 dan 9).
Senada dengan pendapat di atas, Komariah (2005) menjelaskan ada dua istilah yang hampir sama tetapi berbeda yaitu penilaian dan pengukuran. Pengertian pengukuran terarah kepada tindakan atau proses untuk menentukan kuantitas sesuatu, karena itu biasanya diperlukan alat bantu. Sedangkan penilaian atau evaluasi terarah pada penentuan kualitas atau nilai sesuatu. Walaupun ada perbedaan kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena mempunyai hubungan yang erat. Pelaksanaan penilaian tersebut terlebih dahulu harus didasarkan atas pengukuran-pengukuran. Sebaliknya, pengukuran-pengukuran tidak akan berarti bila tidak dihubungkan dengan penilaian.
Penilaian tidak boleh dilakukan sekehendak hati guru tetapi evaluasi yang dilakukan harus dengan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksana sesuai dengan hasil kemajuan belajar yang ditunjukkan oleh anak didik. Dengan demikian evaluasi sesuatu tindakan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksanan untuk menentukan nilai sesuatu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Menurut Komariah (2005) evaluasi adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan sadar oleh guru dengan tujuan memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar anak didik dan memberikan masukan kepada guru mengenai yang dia lakukan dalam pengajaran.
Menurut Sudirman (1991) tujuan penilaian dalam proses belajar mengajar adalah: Mengambil keputusan tentang hasil belajar, memahami anak didik, dan memperbaiki serta mengembangkan program pengajaran. Pengambilan keputusan tentang hasil belajar merupakan suatu keharusan bagi seorang guru agar dapat mengetahui berhasil tidaknya anak didik dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian tujuan evaluasi adalah untuk memperbaiki cara belajar mengajar, mengadakan perbaikan dan pengayaan bagi anak didik, serta menempatkan anak didik pada situasi belajar mengajar yang lebih tepat sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya. Tujuan lainnya adalah untuk memperbaiki atau mendalami dan memperluas pelajaran, dan terakhir adalah untuk memberitahukan/melaporkan kepada orang tua/wali anak didik mengenai penentuan kenaikan kelas dan penentuan kelulusan anak.
Evaluasi mutlak dilakukan dan merupakan kewajiban bagi setiap guru. Karena pada akhirnya guru harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya ataupun kepada anak didik itu sendiri, bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai anak didik tentang materi dan keterampilan-keterampilan mengenai mata ajar yang telah diberikannya.
b.      Kemampuan Menggunakan Metode dan Media Pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak mampu berkonsentrasi untuk belajar dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberkan juga bermacam macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor intelinjensi memhubungani daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat atau lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki waktu yang bervariasi. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat agar perbedaan daya serap yang dialami siswa bisa diatasi. Dan salah satu strategis tersebut adalah pemilihan dan penggunaan metode dan media pembelajaran pembelajaran.
Roestiyah (2001) menyatakan bahwa guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar seara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi adalah harus menguasai teknik penyajian, atau biasanya disebut metode. Teknik penyajian pelajaran adalah alat atau cara yang harus dikuasai oleh guru untuk menyajikan materi pembelajaran kepada siswa dalam kelas, agar pelajaran yang diberikan itu dapat diterima dengan baik oleh siswa.. Dengan kata lain bahwa pengunaan metode adalah salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Terkait dengan hal tersebut di atas, maka guru dituntut untuk mampu menguasai dan memilih metode yang relevan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Djamarah dan Zain (dalam Lumasre, 2008:33) menyatakan bahwa metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh relavansi penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan. Pendapat tersebut di atas, semakin kita pahami bahwa penguasan metode secara baik dan disertai dengan pemilihan metode yang relavan dengan materi dan tujuan pembelajaran sangat diperlukan bagi guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Kegagalan pengajaran salah satunya seringkali disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif karena penentuan metode yang kurang relevan dengan sifat bahan dan tujuan pembelajaran. Itu berarti bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis di dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.
Agar pemilihan metode pengajaran itu tidak keliru ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Menurut Surakhmad (2002),  faktor itu adalah:
Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai kendalanya, fasilitas dengan berbagai kualitasnya, dan pribadi guru dengan kemampuan profesional yang berbeda-beda.
Disamping itu dalam memilih dan menggunakan metode tentu saja guru harus mempertimbangkan media yang tepat agar metode pembelajaran dapat berfungsi secara efektif. Media pembelajaran adalah alat bantu yang bisa memperjelas materi pembelajaran sehingga tidak terjadi verbalisme.
Sebagai alat bantu media mempunyai fungsi yaitu memberikan arah yang positip untuk melicinkan jalan mencapai tujuan Dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik Namun demikian penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut kemauan dan selera guru tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan kriteria  kriteria yang dapat menunjang tercapainya tujuan Kreteria tersebut antara lain;.Sesuai dengan metode dan tujuan yang ingin dicapai, tepat untuk mendukumg isi pelajaran yang bersifat fakta konsep prinsip generalisasi, praktis, luwes dan bertahan, guru terampil menggunakannya, dan pengelompokan sasaran.
c.       Kemampuan Menguasai Materi Pembelajaran
Kemampuan guru dalam menyajikan materi pelajaran secara baik juga menjadi penyebab terjadinya suasana kelas kondusif. Kalau guru yang tidak mampu menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa memiliki kesempatan untuk bermain-main pada waktu guru mengajar. Akibatnya adalah suasana kelas terganggu.
 Arikunto (1993) menjelaskan ada tiga faktor yang mempengaruhi penampilan guru dalam mengelola kelas, antara lain; pandangan guru yang bersangkutan terhadap profesi guru, bagaimana guru tersebut menyikapi tugasnya sebagai guru, dan seberapa kemampuan umum yang dimiliki oleh guru agar mendukung tugasnya sebagai guru.
Berdasarkan uraian di atas, maka penguasaan guru terhadap materi pembelajaran, akan membuat guru menjadi lebih percaya diri dihadapan siswa, sehingga dapat menarik minat siswa terhadap materi pembelajaran yang disampaikan guru. Dengan demikian guru diharapkan bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis dan berdasarkan prinsip didaktik metodik yang berdaya guna dan berhasil guna.

d.      Kemampuan Mengelola Kelas
Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Karena pengelolaan kelas merupakan masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pembelajran secara efisien dan memungkinkan mereka untuk belajar. Dengan demikian pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat mutlak bagi pembelajaran yang efektif.
Arikunto (1996) menyatakan pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.
Kegiatan pengelolaan kelas ini merupakan segala upaya yang dapat diperbuat oleh guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah dan Zain (2002) bahwa pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian pengelolaan kelas adalah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terciptanya proses belajar mengajar. Kondisi yang optimal dapat terjadi apabila guru mampu mengatur anak didik dan sarana pembelajaran dan mengendalikannya dalam suasana yang kondusif untuk pencapaian tujuan pembelajaran.
Pengelolaan kelas bertujuan menyediakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasanan disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa, sehingga melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti.
Arikunto (1996) mengatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak didik di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pendapat yang lengkap dan mendasar dikemukakan oleh Pidarta (1999) mengatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah: Membantu guru-guru mengerti sebab-sebab dasar problem perilaku, memungkinkan guru-guru mendiagnosis problem perilaku, membuat perilaku lebih dapat dipridiksi, dan memperbaiki kemampuan guru mengorganisir kelas.
Pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Karena dalam kelas itu terkumpul berbagai karakteristik yang bervariasi. Namun demikian guru tidak perlu merasa bosan mengelola kelas setiap kali mengajar. Karena gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan tidak mampunya guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi keguruan yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam rangka keberhasilan proses belajar mengajar.
Pidarta, (1995) mengatakan masalah-masalah pengelolaan kelas berhubungan dengan perilaku siswa adalah:
1)                Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok, klik-  klik, misalnya pertentangan jenis kelamin.
2)                Tidak ada standar perilaku dalam kelompok misalnya ribut, bercakap-cakap, pergi kesana-kemari, dan sebagainya.
3)                Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya.
4)                Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yang keliru.
5)                Mudah bereaksi negatif terganggu, misalnya didatangi  monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah, dan sebagainya.
6)                Moral rendah, permusuhan agresif, misalnya dalam lembga dengan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang dan sebagainya.
7)                Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, dan sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, maka guru dituntut untuk mampu mengatur siswa dengan baik dalam pembagian kelompok tidak mengelompokkan anak berdasarkan pintar dan bodoh, tetapi harus dicampur dalam satu kelompok ada yang pintar dan ada yang bodoh. Guru juga dituntut untuk berbuat adil dalam kelompok jangan sampai terjadi ada kelompok disayangi oleh guru dan ada kelompok yang kurang disenangi. Disiplin juga ditegakkan dalam kelompok, jangan sampai ada siswa yang diberi kebebasan dan ada pula siswa yang tidak diberi kebebasan. Karena semuanya itu menyebabkan suasana kelas tidak kondusif.
Hal penting yang harus mendapatkan perhatian dalam rangka pengelolaan kelas adalah upaya mengaktifkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa adalah salah satu komponen yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar, sebab siswa sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan ingin meraih cita-cita dan tujuan itu secara optimal. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu sebagai penuntun dan pembimbing untuk mengantarkan siswa ke arah  pencapaian tujuan yang diharapkan.
Dalam proses itu guru harus mampu mengorganisir setiap kegiatan belajar mengajar dan menghargai anak didiknya sebagai suatu subjek yang memiliki bekal dan kemampuan. Pengertian guru semacam ini sangat penting, agar guru tidak bersikap semena-semena sebagai seorang atasan, dan sekaligus agar guru tidak segan-segan memberikan dorongan kepada siswanya.
Sriyono (1992) menyatakan Guru hendaklah mencintai murid-muridnya sebagaimana orang tua memikirkan anak-anaknya. Karena itu tidak benar kalau guru memarahi anak didiknya bukan pada tempatnya, apalagi mencemohkan atau menghina mereka karena kekurangan dan kebodohan. Yang bodoh harus dibimbing, ditolong dan diarahkan dengan penuh rasa kasih sayang dan yang pandai/maju didorong terus agar lebih berhasil lagi.
Perwujudan hubungan guru dan siswa harus lebih banyak berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan dari guru, agar siswa merasa bergairah, memiliki semangat, potensi dan kemampuan yang dapat meningkatkan harga dirinya. Dengan demikian siswa diharapkan lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar. Hal ini sesuai dengan sistem pengajaran modern yang dikenal dengan cara belajar siswa aktif, yang menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif
Guru hendaknya tidak lagi mengajar segi kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa, tetapi guru hendaknya mengajar untuk membelajarkan siswa dalam konteks bagaimana belajar mencari, menemukan dan meresapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Atau dengan kata lain bagaimana kiat-kiat yang dapat dilakukan oleh guru dalam rangka mengaktifkan siswa dalam dalam proses belajar mengajar. Karena dengan demikian siswa dapat mengembangkan potensi atau bakat yang dia miliki menjadi kemampuan atau prestasi yang maksimal.
Proses melibatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan guru melalui bermacam-macam bentuk kegiatan, mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang mudah diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengar, menulis, meragamkan, menyuruh menyelesaikan soal. Sedangkan kegiatan psikis yang sulit diamati itu adalah mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan suatu konsep dengan konsep yang lain.
Namun demikian kegiatan tersebut harus dapat dipulangkan kepada suatu karakteristik yaitu keterlibatan intelektual, emosi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut terutama dapat dilakukan pada waktu kegiatan kognitif dalam pencapaian atau perolehan pengetahuan, pada saat siswa mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan, dan ketika siswa menghayati dan menginternalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap.
 Selanjutnya dalam kaitannya dengan penelitian ini maka indikator-indikator kinerja guru yang dimaksud, antara lain meliputi kemampuan guru sebagaimana dijelaskan Joni (1991), yaitu:
1). Kemampuan membuat persiapan mengajar dan melaksanakan evaluasi.
2).  Kemampuan menggunakan metode dan media pembelajaran
3).  Kemampuan menguasai materi pembelajaran
4).  Kemampuan mengelola kelas.

2.1.7 Pengertian Siswa
Dalam buku yang berjudul Penunjang Progran Pendidikan Nasional dan Pembinaan Kesiswaan Menuju Kemandirian Tahun 1992 oleh Soemarmo disebutkan bahwa, para siswa sesungguhnya merupakan potensi dasar dan vital dari generasi muda, yang pertumbuhan dan pengembangannya akan menentukan perkembangan dan kemajuan bangsa dan negara Imdonesia dimasa yang akan datang. Tentu saja para siswa tersebut adalah mereka yang sungguh-sungguh menjalankan fungsinya sebagai siswa yaitu mereka yang sungguh-sungguh belajar dengan baik dan tekun, berdisiplin, taat pada tata tertib sekolah serta berkesadaran bahwa usahanya adalah merupakan perwujudan partisipasinya terhadap pembangunan nasional. Sedangkan dalam Kamus Besar Kontemporer  oleh Salim menyebutkan siswa adalah orang yang menuntut ilmu di sekolah menengah atau di tempat-tempat kursus.
Secara sederhana, siswa adalah orang yang mengikuti suatu proses kegiatan belajar terutama di lembaga pendidikan yaitu sekolah dengan mengikuti segala peraturan dan tata tertib yang berlaku. Siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X B  di SMA Negeri 1 Pujut.

2.1.8 Prestasi /Hasil Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai setelah melakukan perbuatan belajar. Prestasi belajar merupakan nilai (angka) yang diperoleh siswa  setelah melakukan ulangan, tugas atau unjuk kerja yang dikembangkan sesuai dengan kurikulum dan gari-garis besar program pengajaran di SMA.
Menurut Nawawi (1989:100) prestasi belajar adalah  tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh  dari hasil tes sejumlah mteri pelajaran tertentu. Prestasi yang telah dicapai, sedangkan belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah prestasi yang telah dicapai oleh siswa dalam belajarnya Poerwodarminto (1980:768).
Seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (1989:45), pengertian prestasi belajar adalah proses verbal dari fakta ataupun proses tingkah laku secara fisik yang berupa memori atau ingatan yang bersifat mentalistik, ia juga menambahkan prestasi belajar adalah proses hubungan antara guru-siswa di dalam kelas  yang membawa implikasi terhadap pengembangan diri siswa secara bebas, pembentukan memori (ingatan) paada siswa dan pembentukan pemahaman pada siswa.
Seseorang akan berprestasi dalam belajar apabila ada keinginan untuk belajar. Mouly (dalam Lumasre, 2008:35) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang karena pengalaman. Pendapat serupa dikemukakan oleh Kimble dan Garmeizi (dalam Lumasre, 2001:35), belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative permanent terjadi dari prestasi pengalaman.
Menurut Reigeluth dalam Degeng (1989:14), dalam meningkatkan prestasi belajar perlu adanya perbaikan proses pembelajaran (metode pengajaran). Jadi kondisi pengajaran menentukan prestasi belajar siswa di kelas. Kondisi eksternal untuk belajar adalah  strategi pembelajaran yang ditentukan oleh guru untuk membelajarkan siswa. Siswa dikatakan belajar dalam kegiatan pembelajaran jika belajar yang terjadi lebih besar daripada yang dapat terjadi bila guru tidak melakukan kegiatan sama sekali.dengan demikian dapat dipastikan  bahwa proses pembelajaran sesungguhnya terjadi bila ada kegiatan yang dilakukan oleh guru. Logikanya, pada proses pembelajaran harus ada nilai tambah (peningkatan) pada prestasi belajar. Seseorang akan berprestasi dalam belajar bila pada dirinya ada keinginan  untuk belajar. Belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu dengan cara melihat, mengamati, memahami sesuatu. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa dalam proses pembelajaran dapat dlakukan dengan jalan membandingkan prestasi tes awal yang diperoleh siswa dengan prestasi tes akhir siswa setelah pembelajaran selesai. Bila prestasi tes khir skornya lebih tinggi dari skor tes awal berarti proses pembelajaran memberikan peningkatan pada prestasi belajar siswa. Perbedaan prestasi tes awal dan tes akhir menunjukkan skor yang nyata  sebagai akibat pembelajaran yang dilakukan (Prayitno, 1989:67).
Pada dasarnya belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan tersebut seperti pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu.
Hal ini telah dijelaskan oleh Nawawi (1989:102) yang memberikan batasan prestasi belajar dalam tiga tingkatan kemampuan, yaitu:
1)       Penguasaan materi pengetahuan berupa kemampuan menghafal, mengingat fakta-fakta yang terdapat dalam materi pelajaran, istilah-istilah, pengertian-pengertian, prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi yang bersifat teoritis.
2)       Pengertian dan pemahaman  tercermin dalam tiga bentuk tingkah laku, yaitu kemampuan menterjemahkan ke dalam bahasa sendiri, memahami suatu gagasan, kemampuan menafsirkan dan kemampuan menghubungkan  topik dengan contoh-contoh yang konkrit, diiringi dengan kemampuan menetapkan simpulannya.
3)       Penggunaan materi pengetahuan  berupa kemampuan mempergunakan hasil suatu gagasan/pendapat yang bersifat umum, prosedur dan metode, termasuk juga prinsip-prinsip teknik dalam situasi yang nyata.
Tiga tingkatan kemampuan yang lain sebagai hasil belajar yang lebih kompleks adalah analisis, sintesis dan evaluasi.. Secara luas, prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh skor/nilai, prestasi belajar dapat juga berupa bakat dan keahlian.

2.1.9 Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
  1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, artinya factor  kemampuan anak yang dibawa sejak lahir. Pada dasarnya setiap anak sudah dibekali dengan berbagai kemampuan, bakat dan potensi. Kemampuan yang bersifat bawaan ini tidak dapat dirubah, tetapi hanya dapat dihubungani atau dkembangkan menurut batas yang dimilikinya. Orang tua dan guru hanya dapat mengembangkan potensi yang ada dengan jalan memberikan rangsangan dan dorongan berupa bimbingan dan pendidikan secukupnya. Jadi bimbingan dan pendidikan  yang dilaksanakan keluarga maupun di sekolah hanya merupakan proses untuk mengembangkan potensi-potensi pada diri anak.

Keberhasilan belajar anak dihubungani oleh berbagai faktor, yaitu:
a.       Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan jasmani anak, misalnya kesehatan. Pelajar yang tidak sehat, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Begitu juga anak yang badannya lemah dan sering pusing tidak akan tahan lama dalam belajar. Dalam keadaan ini , apabila anak dipaksa  untuk belajar giat, anak tetap tidak dapat belajar dengan baik.
b.      Faktor Psikologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan rohaniah. Faktor ini mencakup intelegensi, perhatian, minat, bakat dan emosi. Intelegensi adalah faktor eksternal yang sangat besar hubungannya terhadap kemajuan belajar anak. Bilamana pembawaan intelegensi anak memang rendah, maka anak akan sukar mencapai hasil belajar yang baik. Selain faktor intelegensi atau kecerdasan, faktor lain misalnya cacat mental yang dibawa sejak lahir seperti idiot, embilisitas, debilitas. Anak-anak yang tergolong embisil adalah anak-anak yang kecenderungannya sama dengan anak-anak normal 3-7 tahun. Anak-anak tersebut biasanya mengalami hambatan yang besar dalam usaha belajarnya. Perhatian merupakan factor penting dalam usaha belajar anak. Untuk dapat menjamin  belajar yang baik, harus ada perhatian terhadap bahan yang dipelajari. Apabila pelajaran tidak menarik maka timbullah rasa bosan, malas dan belajarnya seperti dikejar-kejar, akibatnya hasil belajar menjadi menurun. 


  1. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, artinya segala hubungan yang datang dari luar diri anak baik sebagai hasil pendidikan maupun hasil pergaulan.usaha pendidikan adalah menciptakan situasi yang membuat anak mau dan mampu untuk belajar. Adapun yang termasuk factor eksternal adalah faktor keluarga. Faktor keluarga  memiliki hubungan  besar terhadap prestasi belajar anak dibandingkan faktor pendidikan yang lain. Hal ini disebabkan hubungan yang bersifat kodrati antara anak dan orang tua. Alam keluarga adalah pendidikan yang pertama dan terpenting sejak timbulnya adapt kemanusiaan hingga kini (Suwarno, 1977:65).

2.1.10 Pengertian Cerita Pendek
Cerita pendek yang disingkat cerpen (Inggris: short story) merupakam salah satu bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Cerpen, sesuai dengan namanya adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Edgar Allan Poe (dalam Burhan Nurgiantoro, 2007:10), yang sastrawan kenamaan dari Amerika itu, mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam-suatu hal yang kiranya tak mungkin dilkaukan untuk sebuah novel.
Panjang cerpen itu bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short short story), bahkan mungkin pendek sekali: berkisar antara 500-an kata, ada cerpen yang panjangnya cukupan (midle short story), serta ada cerpen yang panjang (long short story), yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata. Cerpen yang panjang yang terdiri dari puluhan ribu kata itu barangkali dapat disebut juga sebagai novelet.
Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang “kurang penting” yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak-jadi, secara implisit-dari sekedar apa yang diceritakan (Nurgiantoro, 2007:11).
Adapun unsur-unsur pembangun sebuah cerpen seperti: plot, tema, penokohan, latar, dan secara umum dapat dikaytakan bersifat kurang komleks daripada unsur-unsur novel. Tema cerpen hanya berisi satu tema berkaitan dengan kadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas. Penokohan: tokoh-tokoh dalam cerpen lebih lagi terbatas, baik yang menyangkut jumlah maupun data-data jati diri tokoh, khususnya yang berkaiatan dengan perwatakan, sehingga pembaca harus merekontruksi sendiri gambaran yang lebih lengkap tentang tokoh itu. Latar dalam cerpen tidak memerlukan detil-deti khusus tentang kadaan latar, misalnya yang menyangkut keadaan tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besar saja, asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan (Nurgiantoro, 2007:12-14).
2.2    Kerangka Berfikir
Dalam suatu kelas terdapat siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai. Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar (PBM) pada umumnya, sering dilakukan secara  klasikal dimana seluruh siswa dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok besar yang acapkali cara-cara mengajar guru tidak disesuaikan dengan kemampuan rat-rata siswa. Sehngga dengan demikian, siswa yang kurang pandai/lambat merasa tertinggal, dan siswa yang belajarnya cepat (pandai) terpaksa tertahan kemajuannya. Keadaan ini tentunya merupakan keadaan yang kurang menguntungkan bagi siswa yang pandai maupun siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang akhirnya berimbas pula kepada pencapaian hasil prestasi belajar siswa.
Agar anak yang lambat dapat dibantu, sedangkan anak yang cepat (pandai) kemampuannya bisa berkembang terus, maka anak yang pandai dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lambat, misalnya memberikan petunjuk cara mengerjakannya apabila temannya mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, usaha membantu siswa menanggulangi kesulitan belajar yang mereka hadapi khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan metode tutorial yakni kegiatan tutor sebaya yang diharapkan mampu membelajarkan siswa, serta memberikan motivasi dan pelayanan khusus pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Kegiatan tutor sebaya in dalam pembelajaran remidial ini merupakan usaha pencegahan atau merupakan usaha penyembuhan/perbaikan dari kesalahan atau kesulitan yang terjadi dalam proses belajar.
Adapun kerangka berfikir yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.             Jika kemampuan membaca cepat siswa diterapkan, maka akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang berbeda/hasil lebih tinggi.
2.             Jika kemampuan membaca cepat siswa tercapai maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar. 

2.3    Penelitian yang Relevan
Penelitian ini tidak terlepas dari penelitian terdahulu yang memberikan inspirasi kepada peneliti untuk mengetahui dan mencari solusi bagaimana pengaruh kemampuan membaca terhadap prestasi belajar siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya. Dalam PTK yang diteliti oleh Hariyanti (2008) ”Pengaruh Latar Belakang Keluarga Terhadap Kemampuan Membaca Siswa SLTP Negeri 1 Batukliang Kelas VII D Tahun Pelajaran 2007/2008” peneliti hanya menitikberatkan pada bagaimana pengaruh latar belakang keluarga terhadap kemampuan membaca siswa. Menurut hasil penelitiannya, siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang pekerjaan orang tua sebagai Buruh dan Tukang atau dengan kategori tingkat sosial-ekonomi rendah mendapatkan nilai membaca yang kurang. Sedangkan siswa yang berasal dari keluarga yang orang tuanya sebagai PNS atau dengan kategori tingkat sosial-ekonomi tinggi mendapat nilai membaca yang tinggi.
Dalam PTK yang diteliti oleh Srigede (2000) ”Upaya Meningkatkan kemampuan siswa kelas II. A SLTPN 3 Pujut dalam menyusun paragraf Deduktif dan Induktif”, peeliti hanya menitikberatkan pada bagaimana menyusun paragraf deduktif dan induktif secara umum saja tanpa menggunakan metode yang efektif pada siswa untuk menulis paragraf tersebut.  

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Seting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pujut kelas X B tahun pelajaran 2008/2009. Dengan jumlah siswa 45 orang, yang terdiri dari 21 orang siswa laki-laki dan 24 orang siswa perempuan.

3.2 Sasaran Penelitian
Adapun sasaran penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh kemampuan membaca cepat terhadap hasil belajar dalam memhami isi cerpen pada siswa kelas X B tahun pelajaran 2008/2009.

3.3  Populasi Penelitian
Populasi adalah seluruh individu yang menjadi subjek penelitian dan akan digeneralisasikan (Arikunto, 1983:109). Pendapat lain juga mengatakan populasi adalah seluruh penduduk yang diselidiki, populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi, 1986:46).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan populasi adalah subjek yang akan dikenai penelitian dan kenyataan yang diperoleh hendaknya digeneralisasikan. Dalam hal ini yang menjadi populasinya adalah seluruh siswa kelas X B SMA Negeri 1 Pujut yang berjumlah 45 orang. Karena jumlah populasi dalam penelitian tersebut berjumlah kurang dari 100 orang maka penelitian tersebut disebut penelitian populasi.

3.4 Prosedur Penelitian
                        Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peneliti menghubungi kepala sekolah SMAN 1 Pujut untuk menyampaikan maksud penelitiannya,
2. Peneliti memohon kesediaan waktu kepada para siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar pembelajaran di kelas dan memberikan penjelasan tentang maksud penelitian.
3. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar pembelajaran, peneliti terlebih dahulu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
4. Setelah menyusun RPP, proses belajar pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu pada RPP yang telah disusun.
5. Melaksanakan evaluasi sebagai kegiatan akhir penelitian berupa pemberian tes kepada siswa.

3.5 Instrument Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakna instrument pengumpulan data agar tidak mengalami kesulitan pada saat melakukan penelitian.
Instrument pengumpulan data adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data agar memudahkan pekerjaan dan hasil yang diperoleh lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2002: 136).
Ada dua macam instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner dan tes. Kuesioner digunakan unntuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan prestasi belajar. Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan kemampuan membaca cepat siswa.

3.6 Metode Pengumpulan Data
                        Agar memperoleh data yang relevan dan sesuai dengan tujuan penelitian, maka metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu (1) Metode Kuesioner, (2) Metode Tes.
         3.6.1 Metode Kuesioner
               Dalam penelitian ini digunakan metode kuesioner sebagai metode pokok. Pada metode kuesioner ini, peneliti menggunakan metode yang bersifat langsung dengan tipe pilihan. Alasan menggunakan metode tersebut, karena peneliti beranggapan bahwa dengan memberikan angket langsung kepada responden, maka dapat dikumpulkan data yang diharapkan secara langsung dan lengkap, sebab pertanyaan-pertanyaan telah disiapkan secara seksama dan disesuaikan dengan apa yang diperlukan dalam penelitian.
               Untuk mendapatkan hasil penelitian dari metode keusioner yang relevan, penulis mengambil beberapa langkah dalam pelaksanaannya sebagai berikut :
(1)   Kuesioner tersebut digunakan dalam bentuk pilihan bebas
(2)   Sasaran kuesioner tersebut adalah sebanyak 45 orang siswa kelas
X  B
(3)   Kuesioner tersebut dilaksanakan dengan jalan menemui sendiri siswa yang menjadi responden, sehingga penjelasan seperlunya dapat diberikan dan diterima secara langsung oleh responden serta meniadakan kemungkinan tidak kembalinya kuesioner yang dimaksud.
(4)   Data yang telah diperoleh dari kuesioner berfungsi untuk menguatkan pemahaman tentang prestasi belajar pada pelajaran Bahasa Indonesia.
               Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode kuosioner dalam penelitian ini adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mengajukan serangkaian pertanyaan tertulis kepada sejumlah individu/responden dan diminta untuk menjawabnya secara tertulis pula. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang prestasi belajar bahasa indonesia siswa. Semua pertanyaan dibuat dalam bentuk pilihan ganda lima item jawaban yaitu: Sangat Setuju (SS,  Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), dan  Sangat Tidak setuju (STS).
       3.6.2 Metode Tes
               Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode tes. Tes dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui  hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Tes adalah cara mengadakan penilaian yang berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang prestasi siswa tersebut (Nurkancana, 1986:25).
Menurut Kartawijaja (1978:35) dikemukakan bahwa tes sebagai alat evaluasi belajar merupakan komponen yang paling erat untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.. Dalam hal ini metode tes bertujuan untuk memperoleh data tentang kemampuan membaca cepat siswa kelas X B SMAN 1 Pujut. Tes yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 15 butir soal.

3.7  Analisis Data
                        Analisis data menurut Patton (1960:268) adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan kedalam suatu pola kategori dan satuan uraian dasar. Data hasil penelitian yang  terhimpun diklasifikasikan menjadi dua jenis data yaitu data kualitatif  dan data kuantitatif. Data kuantitatif berupa nilai tes siswa baik tes awal maupun tes akhir, dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik yaitu menggunakan teknik distribusi frekuensi (Sujana, 2003 :38).
                        Penghitungan Nilai Akhir kemampuan membaca cepat adalah sebagai berikut:
      Nilai Akhir = Nilai  Kecepatan Membaca + Nilai Pemahaman          
                                                              2


PENGARUH KEMAMPUAN MEMBACA CEPAT TERHADAP PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS X B SMAN 1 PUJUT TAHUN PELAJARAN 2008/2009

0 comments:

Post a Comment