Saturday, October 27, 2012

kumpulan skripsi ppkn STUDI TENTANG PERSEPSI GURU DAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DI SDN 5 PAOK PONDONG



STUDI TENTANG PERSEPSI GURU DAN ORANG TUA
TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DI SDN 5 PAOK PONDONG
DESA LENEK KECAMATAN AIKMEL
TAHUN PELAJARAN 2008/2009


I.         PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
           Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, yang berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejar kebutuhan lahiriah saja, seperti pangan, papan dan kesehatan akan tetapi kebutuhan batiniyah juga seperti pendidikan, rasa aman, bebas mengutarakan pendapat, oleh karena itu perlu adanya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keutuhan lahiriah dan batiniah, agar tercapai manusia Indonesia seutuhnya.
           Oleh karena itu masalah pendidikan sama sekali tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan manusia, pendidikan bagi kehidupan manusia adalah kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan manusia akan sulit untuk dapat hidup dan berkembnag sejalan dengan cita-cita untuk maju, sejahtera dan bahagia, bahkan maju mundurnya suatu negara ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara tersebut.
           Agar anak-anak didik dapat termotivasi dalam melakukan pembelajaran, para pendidik (guru) harus bisa menguasai kelas tersebut dan mengenal kriteria masing-masing peserta didiknya secara individual dari yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, rendah serta dari yang nakal hingga yang terbaik. Dengan demikian, peran guru dalam pembelajaran di sekolah relatif tinggi. Perannya itu terkait dengan peran siswa dalam belajar. Maksudnya di sini guru harus menjadi pendiidk peserta didiknya dengan tidak membeda-bedakan dalam menyikapi anak didik tersebut. Memberikan materi yang disesuaikan dengan kehidupannya sehari-hari, sehingga mereka bisa mengemangkan dan membangkitkan semangat belajarnya.
           Yang menjadi masalah di sini adalah peserta didik yang tidak mau peduli dengan aturan pendidikan. Pendidikan anak yang kurang terkontrolnya oleh orang tua sehingga anak-anak merasa bebas dalam pendidikan tanpa aturan yang kurang mendukung dalam kegiatan sekolah mereka.
1.2  Identifikasi Masalah
1.      Banyak nilai hasil belajar anak-anak didik sekarang rendah.
2.      Pendidikan anak yang kurang terkontrol.
3.      Rendahnya persepsi orang tua dalam pendidikan anak.
4.      Guru yang akan menjadikan semangat belajar peserta didik.
1.3  Pembatasan Masalah
Pendidikan anak yang kurang terkontrol harus diberikan motivasi yang kuat agar tidak sungkan untuk melakukan pengembangan diri, baik kepada orang tua maupun gurunya.
Guru sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari prinsip-prinsip belajar. Prinsip belajar yang terwujud dalam perilaku guru yang salah satunya yaitu perhatian dan motivasi. Di sini para pembelajar dapat mengimplikasikan apa yang akan diajarkan dengan cara mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing. Belajar akan menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental siswa dalam program kegiatan tertentu. Upaya pendidikan belajar yaitu “tertib hidup” yang merupakan kerjasama sekolah dan luar sekolah.
1.4  Rumusan Masalah
1.      Mengapa nilai hasil belajar anak-anak didik sekarang banyak yang rendah?
2.      Bagaimana cara guru mengontrol belajar anak didiknya dengan baik?
3.      Apa kendala orang tua sehingga pendidikan anak-anak terabaikan?
4.      Apa yang akan dilakukan guru untuk memotivasi anak didiknya?



1.5  Tujuan Penelitian
           Untuk meningkatkan nilai hasil belajar anak-anak  didik, para pendidik mempunyai peran yang tinggi dalam melakukan pembelajaran guna untuk memotivasi peserta didiknya baik itu berupa perhatian, motivasi dan hal lain yang dapat membangkitkan semangat belajarnya. Karena perhatian di sini mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar, tanpa adanya perhatian dan motivasi tidak akan mungkin terjadi belajar.
           Peserta didik juga harus diberikan suatu pembelajaran yang bisa mencerminkan kehidupannya sehari-hari, baik itu terhadap orang tua atau lingkungan sekitarnya, sehingga untuk hari-hari yang akan datang mereka mudah untuk memilah-milah pendidikan yang diterimanya, serta mereka bisa mengatur aturan-aturan yang berlaku, baik itu di rumah maupun di sekolahnya.
1.6  Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teori
            Setelah melakukan pembelajaran yang penuh motivasi, perhatian serta bimbingan yang sangat memuaskan yang terkait dengan kehidupannya sehari-hari, maka siswa akan merasa lega dengan apa yang diterimanya. Siswa dapat melakukan aturan-aturan sekolah yang berlaku meskipun itu secara bertahap-tahap tapi mereka mampu untuk memanfaatkan sedemikian pelajaran/didikan yang diterimanya untuk dikembangkanl baik di rumah maupun di sekolah.
2.      Manfaat Praktis
            Secara praktis dapat digunakan sebagai informasi bagi pelaksanaan pendidikan secara umum bagi para guru yang ada di bagian timur Lombok Timur, untuk memberikan bagaimana cara memotivasi dan memperhatikan anak didik, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah dalam proses belajar mengajar.


II.      KAJIAN PUSTAKA
2.1  Landasan Teoritik (Kajian Pustaka)
           Guru adalah pendidik, penggerak dan sekaligus pembimbing perjalanan belajar anak bangsa (siswa), maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa, sehingga siswa tidak lengah dalam waktu yang sebenarnya digunakan.
           Teori ini dapat dikaitkan dengan pendapat para ahli yaitu menurut Monks yang menyatakan bahwa kekuatan motivasi terebut harus dipelihara, diperkuat, dan diperkembangkan dengan program pendidian.
Dari siswa, motivasi tersebut perlu dihidupkan terus untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan dijadikan dampak pengiring, yang selanjutnya menimbulkan program belajar sepanjang hayat, sebagai perwujudan emansipasi kemandirian tersebut terwujud dalam cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, kemampuan siswa mengatasi kondisi lingkungan negatif dan dinamika siswa dalam belajar.
           Kita lihat pendapat menurut Dewa Ketut Sukardi bahwa belajar itu ada faktor yang mempengaruhinya yaitu dapat digolongkan dalam beberapa golongan sebagai berikut :
a.       Faktor internal adalah faktor yang menyangkut diri sendiri, termasuk fisik maupun non fisik (mental atau psikofisiknya), yang cenderung menentukan berhasil tidaknya seseorang.
b.      Faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari unsur alamiahnya.
Kedua faktor tersebut menjadi sangat berarti bagi pengembangan diri seorang murid, baik itu dalam konsep pengembangan diri secara jasmaniah maupun dalam konteks psikologisnya.
           Faktor internal maupun faktor eksternal adalah sesuatu yang selalu menyertai proses perkembangan pada diri siswa, sehingga dengan dua unsur tersebut, maka sebagai seorang guru harus dapat secara langsung memberikan tindakan yang sesuai jika hal-hal tidak sewajarnya terjadi pada seorang anak didik. Hal tersebut perlu guna membina dan membimbing mereka, sebagai para pendidik juga tidak lepas untuk mewarnai kegiatan belajar siswa seperti halnya sebagai berikut:
1.      Adanya minat, dalam mempelajari suatu pelajaran akan berlangsung baik apabila dilandasi dengan adanya minat, maka besar kemungkinan daya tarik seseorang akan materi pelajarannya akan berkurang dan cenderung membuat anak cepat jenuh. Minat adalah intensif pada suatu objek yang dianggap penting (Kartini Kartona, 1980: 80).
2.      Motif, tanpa adanya nuansa motif dalam diri individu maka untuk mengharapkan anak tersebut memiliki kepribadian yang kurang teguh, karena denga motif seseorang anka akan menemukan jati diri dan prinsip belajar, pada saat itulah seorang anak akan dapta menempuh hasil belajar yang diinginkan. Motif menurut Soemardi Soeryabrata adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melaksanakan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai tujuan (1973: 83).
3.      Ingatan, ingatan merupakan dasar yang sangat baik dan berguna bagi dinamis dan produktifnya seseorang. Ingatan adalah kesanggupan untuk menerima lancarnya pemahaman anak terhadap materi pelajaran.
Dengan ingatan, anak akan mudah menelaah dan bahkan menggabungkan pemahamannya akan ilmu pengetahuan yang diterimanya sehingga besar kemungkinan jika anka tersebut memiliki daya ingatan yang baik akan menjadi generasi penerus bangsa yang menyimpan dan memproduksi kesan-kesan (Soemardi Soeryabrata, 1975: 35)
           Dengan faktor eksternal, memiliki beberapa bahasan yaitu; ruang belajar, dan lingkungan uraian-uraian tentang hal di atas adalah sebagai berikut :
1.      Ruang belajar
Ruang tempat belajar, baik di rumah maupun di sekolah mempunyai peran penting dalam membentuk suasana belajar yang kondusif (baik) oleh karena itu ruang belajar harus ditata sedemikian luas dari individu yang bersangkutan, misalnya, ruang belajar dan lingkungan alamiahnya (Dewa Ketut Sukardi, 1983: 53).
2.      Lingkungan
Untuk dapat belajar dengan baik diperlukan lingkungan hidup yang dapat merangsang suasana belajar. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi suasana belajar seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung (Dewa Ketut Sukardi, 1983: 56).
           Menurut Sudirman, AM, disamping dua faktor di atas yang teprenting lagi adalah yang dalam tugasnya harus memenuhi syarat:
1.      Merasa terpanggil
2.      Mencintai dan menyayangi anak didik, dan
3.      Sadar akan tanggung jawab yang harus diemban (1998: 139).
-          Merasa terpanggil bahwa seorang guru peka dengan situasi dan perkembangan pada anak didik, sehingga ketika ada masalah, seorang guru masih bisa menyempatkan waktunya untuk membantu menyelesaikan problem tersebut.
-          Mencintai dan menyayangi anak dalam pengertiannya adalah seorang guru harus dapat berlaku sebagai orang tua sehingga proses didik dapat berlangsung secara optimal.
-          Sadar akan tanggungjawab yang diemban adalah manifestasi dari sikap loyalitas dan dedikasi terhadap sebuah pekerjaan, adanya rasa bersalah ketika melanggar pekerjaan sebagai bagian dari sikap tersebut.
           Orang tua merupakan pendidik awal yang dikenal anak-anak sebelum menjadi pelajar di lingkungan sekolah. Sebagai orang tua, besar kemungkinannya tidak akan mampu memberikan didikan kepada anaknya hanya di rumah saja akan tetapi sebagian besar orang tua akan berpikir bahwa belajar di sekolah menjadi pola umum kehidupan warga masyarakat.
           Dewasa ini keinginan hidup lebih baik telah dimiliki oleh warga masyarakat. Belajar telah dijadikan alat hidup. Wajib belajar sembilan tahun merupakan kebutuhan hidup. Oleh karena itu warga masyrakat mendambakan agar anak-anaknya memperoleh tempat belajar di sekolah yang baik.
           Teori ini terkait dengan pendapat para ahli menurut (Husen, 1988: 41), kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar” yaitu masyarakat yang menghendaki pendidikan masa seumur hidup”.
Bertolak dari pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam konsepsi pendidikan seumur hidup dan konsepsi belajar serta kenyataan proses pembelajaran, maka peningkatan penerapan cara belajar siswa aktif merupakan kebutuhan yang harus segera terpenuhi.
           Orang tua juga hendaknya harus mengerti akan sikap dan kelakuan anak-anaknya, karena itu merupakan suatu peningkatan dan kelemahan hasil belajar yang sudah dilakukan di sekolahnya, karena prestasi anak juga terkadang bisa rendah bisa meningkat dikarenakan faktor lingkungan rumah yang terkait di sana yaitu salah satunya orang tua.
Kurangnya perhatian orang tua, sehingga anak-anak tidak begitu peduli dengan kegiatan sekolahnya. Terkadang juga orang tua terlalu keras kepada anaknya untuk diperintahkan belajar, sehingga dengan ketidakpedulian, kekerasan; anak-anak akan merasa tidak bersemangat lagi untuk melakukan kegiatan sekolah.
2.2  Kerangka Berpikir


 

·         Teacher Centered Learning
            Dalam proposal ini saya mengangkat judul tentang persepsi guru dan orang tua terhadap pendidikan anak SD secara umum di Lotim bagian timur. Dengan demikian uraian daripada persepsi tersebut sebagai berikut:
Persepsi; yang mencakup kemampuan memilah-milahkan (mendeskriminasikan) hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
Misalnya; pemilihan warna dan angka.
            Guru merupakan pendidik yang mempunyai peranan penting dalam memilih bahan belajar.
Pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.      Apakah sesuai isi bahan belajar dengan sasaran belajar? Jika tidak, adakah bahan pengganti yang sederajat dengan program?
2.      Bagaimana tingkatan kesukaran bahan belajar bagi siswa? Jika bahan belajar tergolong sukar, maka guru perlu “membuat mudah” bahan tersebut bagi siswa.
3.      Guru dapat menunjuk bahan prasyarat, menambah waktu belajar, dan menggunakan berbagai sumber lain.
·         Dengan Media
            Secara singkat dapat dikemukakan bahwa guru dapta membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar di luar sekolah. Pemanfaatan tersebut bermaksud meningkatkan kegiatan belajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat (Woolkfolk dan Nicolich, 1984: 307-338).
            Guru adalah subjek pembelajar siswa yang berhubungan langsung dengan ssiwa.
Guru dapat menggolong-golongkan motivasi belaja siswa tersebut kemudian guru melakukan penguatan-penguatan pada motivasi instrumental, motivasi sosial, motivasi berprestasi, dan motivasi intrinsik siswa.
            Guru memiliki peranan penting dalam acara pembelajaran yaitu:
1.      Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap dan menyeluruh.
2.      Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.
3.      Bertindak sebagai guru yang mendidik.
4.      Meningkatkan proresionalitas keguruan.
·         Dengan Metode
            Metode yang akan dibuat harus disesuaikan dengan keadaan, baik itu cara belajar siswa, penerimaannya, agar sebagai pendidik tidak terfokus pada satu gaya mengajar. Pada setiap pertemuan paling tidak para pendidik setidaknya memiliki beberapa variasi mengajar agar siswa yang diajarkan tidak merasa jenuh.
·         Karakteristik Siswa
            Dalam mengajar, para guru tidak hanya memberi pelajaran dan mengawasi murid saja, akan tetapi sebagai para pendidik haruslah teliti akan karakteristik siswa. Agar dalaml mengajar, guru tidak kaku dalam menyikapi peserta didiknya. Dan penerimaan siswapun akan positif karena para pendidik mengajar sesuai dengan karakteristik siswa.
·         Siswa Pasif
            Dalam lingkungan pendidikan, banyak sekali kita ketahui siswa yang tidak begitu aktif dalam kegiatan-kegiatan sekolahnya. Hal ini terjadi kemungkinan karena kurangnya pergaulan, kurangnya informasi, sehingga siswa menjadi pasif. Dengan demikian para guru harus menerapkan proses belajar mengajar yang sesuai.
·         Penerapan CTL dalam proses pembelajaran
            Dalam mengajar, guru hendaklah mampu mengkomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai cara agar setiap anak dapat menyerap dan memahami untuk kemudian hari digunakan pada saat diperlukan. Agar proses belajar dapat berjalan dengan semestinya dan agar murid dapat memperoleh hasil belajar yang baik, sekiranya guru mengetahui karakteristik mereka.
            Di sekolah yang tradisional, sekolah bertugas terutama untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan kepada anak, yang diutamakan ialah perkembangan intelektual. Menurut anggapan orang tuapun anak itu dikirim ke sekolah agar menjadi pandai.
            Pembentukan intelektual memang penting. Anak pandai disukai oleh guru dan orang tua. Akan tetapi karena segi pendidikan itu terlalu diutamakan, segi-segi lainnya kurang mendapat perhatian. Konsepsi tentang pengajaran kemudian diubah dan sekolah yang modern lebih memperhatikan seluruh pribadi anak itu, baik mengenai segi jasmani, emosi, sosial maupun mengenai segi intelektualnya.
            Pendidikan merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap ketahanan di bidang sosial budaya. Pendidikan bersifat mengubah secara tertib ke arah tujuan yang dikehendaki.
Pendidikan dalam arti luas adalah usaha untuk mendewasakan manusia agar dapat mengembangkan potensinya serta berperan secara penuh dalam menumbuhkan kehidupan sosial sesuai dengan tuntutan zaman. Untuk itu diperlukan suatu sistem pendidikan yang mampu membawa masyarakat ke arah pencapaian tujuannya.
            Disamping pentingnya peranan guru terhadap anak didik, tidak kalah pentingnya lagi didikan orang tua di saat anak-anaknya berada di rumah, mereka sangat membutuhkan perhatian. Motivasi dari orang tuanya baik itu berupa perhatian dalam belajar, dalam kegiatan kesehariannya dan tidak lepas lagi dari dukungan orang tua yang akan menyemangati anaknya untuk belajar dan belajar semoga sukses.
·         Hasil belajar
     Sehubungan dengan penerapan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran yang termotivasi, penuh perhatian, pengawasan yang sesuai dan didikan yang baik, proses belajar siswa akan lebih bervariasi ditambah lagi dengan motivasi, perhatian dan pengawasan dari lingkungan rumah, maka siswa akan lebih semangat untuk belajar dan berkembang dengan proses belajar mengajar yang memuaskan.
2.3  Hipotesis
           Hipotesis adalah anggapan sementara yang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Sehubungan dengan ini, seorang ahli mengatakan bahwa “Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti” (Suharsimi Arikunto, 1983: 54). Pendapat lain mengatakan, “Hipotesis adalah pernyataan yang masih lunak kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya” (Sutrisno Hadi, 1977: 257).


III.   METODE PENELITIAN
3.1  Desain Penelitian
           Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif naratif dan pendekatan kualitatif yang merupakan suatu rangkaian atau proses penjaringan data atau informasi yang bersifat sewajarnya mengenai suatu masalah dalam kondisi aspek atau informasi dapat berbentuk gejala yang sedang berlangsung reproduksi ingatan dan nilai.
3.2  Variabel Penelitian
           “Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian atau penelitian” (Suharsimi Arikunto, 1981: 93)
Untuk memperjelas dan mempertegas variabel yang akan diteliti kiranya lebih lanjut perlu diklasifikasikan sebagai berikut:
1.      Variabel bebas
            Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau variabel penyebab (Suharsimi Arikunto, 1991: 3).
            Berdasarkan pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan variabel bebas adalah suatu obyek penelitian yang menjadi penyebab yang dapat mempengaruhi obyek yang akan diteliti, oleh karena itu, yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah tentang studi persepsi guru dengan orang tua.
2.      Variabel terikat
            Menurut pendapat Suharsimi Arikunto, bahwa yang dimaksud dengan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat. Maka yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendidikan anak didik.
3.3  Populasi dan Sampel
1.      Populasi Penelitian
            Setiap aspek yang diselidiki disebut dengan populasi penelitian, sedangkan individu sebagai pendukung gejala tersebut disebut dengan subjek penelitian. “Populasi adalah kesimpulan dari individu dengan kualitas serta cita-cita yang telah ditetapkan” (Moh. Nlasir, 1983: 325)
            Populasi adalah himpunan individu atau obyek yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas (Moh. Pabundi Tika, 1997: 33).
            Dengan demikian, sesuai dengan pandangan di atas, yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah anak didik secara umum di kalangan semua sekolah tahun ajaran 2008-2009.
2.      Sampel Penelitain
            Sampel adalah “jumlah subyek atau orang yang mewakili sejumlah populasi” (Suharsimi Arikunto, 1997: 291). Sementara ahli lain berpendapat bahwa “Sebagian dari individu yang diselidiki itu disebut sampel” (Ida Bagus Netra, 1974: 10).
            Jadi sesuai dengan pandangan di atas, sampel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah anka didik yaitu perwakilan dari salah satu sekolah yang sudah diteliti.
3.4  Teknik Pengumpulan Data
           Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan secara langsung, baik dari informasi dari siswa itu sendiri dengan menggunakan dan melihat secara langsung hasil belajar siswa setelah menggambarkan (deskriptif) pada hal-hal bimbingan yang penuh perhatian dan motivasi yang terkait dengan studi persepsi guru dan ornag tua terhadap pendidikan anak didik.
           Instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 1985: 110). Instrumen adalah kemampuan untuk meningkatkan pendidikan anak didik yang disesuaikan dengan persepsi guru dan orang lain.




3.5  Teknik Analisis Data
           Metode analisis data yang digunakan adalah bentuk analisis statistik karena dengan analisis inilah dat ayagn ada akan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai tujuan akhir dari penelitian.
           Rumus yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah chi kuadrat yaitu:
Keterangan :    x2 = chi kuadrat
                         Fo = frekuensi observasi
                         Fh = frekuensi harapan
Menurut (Suharsimi Arikunto, 1990: 278)
           Ada beberapa alasan peneliti sehingga memilih analisis data tersebut:
a.       Untuk mencari perbedaan antara kedua yang diteliti yaitu variabel x dan y.
b.      Rumus tersebut dianggap praktis dan efisien dalam pengujian (analisis data yang mempunyai dua variabel) (Anas Sudijono, 1990: 124).



DAFTAR PUSTAKA

Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. PT. Asdi Mahasatya. Jakarta.
Anderson, 1987. Pemilihan dan Pengembnagan Media untuk Pembelajaran. Cetakan Pertama, CV. Rajawali. Jakarta.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pengajaran. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Moh. Nasir. 1983. Metode Penelitian. Tarsito. Bandung.
Sumantri Mulyani, Syaudih Nana. 2003. Perkembangan Peserta Didik. Cetakan ke delapan: 2003. Universitas Terbuka. Jakarta.
Akhadiah Sabarti. 1985. Pendidikan Kewiraan. Karunia. Universitas Terbuka. Jakarta.
Suharsimi Arikunto. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Bandung.
Sutrisno Hadi, 1981. Statistik. Jilid 2, Y. UGM. Yogyakarta.


STUDI TENTANG PERSEPSI GURU DAN ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DI SDN 5 PAOK PONDONG

0 comments:

Post a Comment