Saturday, October 20, 2012

kumpulan skripsi ppkn EFEKTIVITAS PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL PADA MATA PELAJARAN PKn TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII DI SMPN 2 DONGGO


EFEKTIVITAS  PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL  PADA  
MATA PELAJARAN PKn TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI
BELAJAR SISWA KELAS VII DI SMPN 2 DONGGO  
TAHUN AJARAN 2012/2013


       I. Latar Belakang
Didalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 14 Tahun 2005 diamanatkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
   Strategi pengembangan pendidikan nasional diarahkan pada 4 sasaran pokok yaitu: peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu pendidikan, relevansi dan efisiensi pendidikan. Dari ke empat sasaran tersebut masalah peningkatan mutu pendidikan adalah masalah yang perlu mendapat prioritas bagi penyelenggaraan pendidikan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan cara melakukan inovasi dalam pembelajaran.
   Selama ini guru mengalami banyak kendala dalam pelajaran PKn salah satu faktornya adalah pembelajaran yang digunakan oleh guru masih dominan menggunakan pembelajaran klasikal. Padahal hakikatnya dalam setiap siswa berbeda secara individu baik dalam prestasi belajarnya maupun kemampuan potensialnya. “Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya  yaitu aspek intelektual, psikologis dan biologis. Perbedaan tersebut berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa, karenanya perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran” (Djamarah, 2010:1).  Perbedaan anak didik secara individu tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pembelajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individu. Salah satu bentuk pemikiran untuk menangani persoalan tersebut adalah prinsip pendekatan individualisasi.
Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya selalu melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Prinsip pendekatan individual tertuang dalam suatu pembelajaran individual yang mempunyai arti penting bagi kepentingan pengajaran (Djamarah, 2010:55).

Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu, guru membantu siswa menghadapi kesukaran. Dari gambaran di atas, jelas dibutuhkan sistem pembelajaran PKn yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa juga memperhatikan perkembangan tingkah laku dan perbedaan kemampuan siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu cara yang memungkinkan adalah dengan mengembangkan pembelajaran melalui pembelajaran individual.
Aktivitas siswa merupakan bentuk respon terhadap pendekatan belajar mengajar yang diterapkan oleh guru atau pendidik, misalnya guru berperan sebagai pemberi dorongan, motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang sangat diperlukan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan sendiri didukung oleh sarana dan prasarana yang telah disediakan sekolah untuk menunjang aktivitas belajar dan pembelajaran.
Motivasi belajar pada dasarnya ada di dalam diri siswa. Dalam kerangka pendidikan formal, motivasi belajar tersebut ada dalam jaringan rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, pelaksanaan belajar mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi kemandirian siswa, motivasi belajar semakin meningkat pada tercapainya hasil belajar. Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan, artinya terpengaruh oleh kondisi fisiologis dan kematangan psikologis siswa (Dimyati, 2009 : 97)

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul penelitian Efektivitas Penerapan Pembelajaran Individual Pada Mata Pelajaran PKn Terhadap Peningkatan Prestasi Belahar Siswa Kelas VII Di SMPN 2 Donggo Tahun Pelajaran 2011/2012”.
II.                Rumusan Masalah
      Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah penelitian ini adalah “Bagaimanakah efektivitas penerapan pembelajaran individual pada mata pelajaran PKn terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII di SMPN 2 Donggo  tahun pelajaran 2011/2012?”.
III.             Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Bagaimana efektivitas penerapan pembelajaran individual pada mata pelajaran PKn terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII di SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012”.
IV.             Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis.
        4.1 Manfaat Teoritis
a.       Secara teoritis penelitian ini akan memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pendidikan terutama masalah peningkatan prestasi belajar siswa
b.      Hasil penelitian diharapkan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan dibidang pengembangan pendidikan dan pembelajaran di sekolah terutama di SMPN 2 Donggo.
4.2  Manfaat Praktis
a.       Bagi siswa yaitu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn
b.      Bagi guru yaitu untuk memperkaya khasanah metode dan strategi dalam pembelajaran PKn, juga dapat memperbaiki metode pembelajaran yang selama ini digunakan, serta dapat menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan
c.       Bagi sekolah yaitu dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka memajukan dan meningkatkan prestasi sekolah yang dapat disampaikan dalam pembinaan guru
d.      Secara praktis penelitian ini diharapkan memberikan makna yang cukup berarti berbagai kalangan yang mempunyai kepedulian dan perhatian dibidang pendidikan dalam hubungan dengan pelaksanaan pendidikan pengajaran dalam menuju penyelenggaraan pendidikan nasional.

V.                Asumsi Penelitian
Asumsi merupakan kerangka awal atau acuan yang akan memandu cara-cara berfikir di dalam suatu penelitian baik usaha untuk melihat kedudukan suatu masalah. Oleh karena itu, asumsi tentang suatu masalah dapat dinyatakan sebagai suatu keharusan dalam pelaksanaan penelitian, yang dapat membawa pemikiran dalam perspektif keilmuan (teori) yang berkembang. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi sehubungan dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini, maka terlebih dahulu dikemukakan batasan asumsi itu sendiri  sebagai tolak ukur untuk melangkah lebih lanjut.
Asumsi dapat diartikan sebagai “suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti” (Arikunto, S. 2006: 59). Dengan demikian suatu masalah yang diyakini kebenarannya merupakan suatu asumsi bagi peneliti sebelum dilakukan dengan hasil penelitian. Dilain pihak, asumsi juga diartikan sebagai “ hasil abstraksi pemikiran yang oleh peneliti dianggap benar dan dijadikan sebagai pijakan untuk mengkaji satu atau beberapa gejala” (Danim, 2002:13).
Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa asumsi adalah suatu pemikiran yang diyakini oleh peneliti tentang kebenaran suatu fakta sebagai dasar untuk mengkaji suatu gejala. Sementara itu, kebenaran suatu fakta yang ada tidak perlu dibuktikan lagi. Dengan demikian, asumsi merupakan pijakan awal bagi seorang peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan lebih jauh.

Adapun rumusan asumsi dalam penelitian ini adalah Penerapan pembelajaran individual dapat mempengaruhi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII di SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012.
VI.             Hipotesis Penelitian
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Adapun kegunaan dari hipotesis yaitu untuk menguji kebenaran dari jawaban permasalahan yang diteliti, apakah terbukti atau tidak. (Suharsimi, 2006:52).
Menurut Winamo Surahmad, 1986, menyatakan bahwa " Hipotesis berarti suatu jawaban sementara yang dianggap benar terhadap kemungkinan untuk dijadikan jawaban yang benar".
Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran individual dapat mempengaruhi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas VII di SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012.
VII.          TINJAUAN PUSTAKA
  7.1 Teori Belajar dan Pembelajaran
          7.1.1 Teori belajar
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Disini yang dipentingkan pendidikan intelektual. Kepada anak-anak diberikan bermacam-macam pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal. Ahli pendidikan modern merumuskan perbuatan belajar sebagai berikut : “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat social, susila, dan emosional”. (Aqib Zainal, 2003:42).
Sering dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti yang luas. Peranan guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (direction and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang social ekonominya dan lain sebagainya. “Kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indicator suksesnya pelaksanaan pembelajaran” (Sagala, 2010:62).
“Beberapa ahli mengemukakan pandangannya tentang belajar”, dikutip dalam Dimyati (2009:9) yaitu:



a.    Belajar menurut pandangan Skinner
               Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu prilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menjadi menurun.
Dalam proses belajar ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a)      Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon antar pelajar
b)      Respon si pelajar
c)      Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut
b.   Belajar Menurut Pandangan Gagne
               Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen penting yaitu kondisi eksternal, internal dan hasil belajar
c.    Belajar Menurut Pandangan Piaget
               Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan sehingga fungsi inteleknya semakin berkembang.
d.   Belajar Menurut Pandangan Rogers
               Rogers tidak sependapat dengan praktek pendidikan di sekolah tahun 1960-an. Menurutnya praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.
         Secara garis besar dikenal ada 3 rumpun besar teori belajar menurut pandangan psikologi yaitu Teori Disiplin Mental, Teori Behaviorisme, dan Teori Cognitive Gestal-Filed (Sagala, 2010: 39).
a)      Teori Disiplin Mental
Sebelum abab ke-20 telah berkembang beberapa teori belajar yaitu teori disiplin mental, teori pengembangan alamiah (Natural Unfoldment) atau “Self Actualization”, dan teori apersepsi. Hingga sekarang teori-teori ini masih dirasakan pengaruhnya di sekolah-sekolah. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperiment, ini berarti dasar oriantasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Teori disiplin mental (Plato, Aristoteles) menganggap bahwa dalam belajar mental siswa didisiplinkan atau dilatih (Sagala, 2010:39).

b)       Teori Behaviorisme
Rumpun teori ini disebut karena sangat menekankan prilaku atau tingkah laku yang diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpum ini bersifat molecular, karena memandang individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Ada beberapa ciri dari rumpun teori ini yaitu :
mengutamakan unsure-unsur atau bagian-bagian kecil,
1)      bersifat mekanistis,
2)      menekankan peranan lingkungan,
3)      mementingkan pembentukan reaksi atau respon, dan
4)      menekankan pentingnya latihan (Syaodih Sukmadinata, 2003:168).

c)      Teori Cognitive Gestal-Filed
Teori kognitif, dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif, teori ini berbeda dengan behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respon. Psikologi Gestalt dipandang sebagai anak dari aliran strukturalisme, pada tahun 1912 sebagai reaksi terhadap aliran strukturalisme dalam psikologi (structural psychology) yaitu system psikologi yang dikaitkan dengan William Max  Wundt, 1832-1920 Bapak psikologi eksperimen dan Edwart Bradferb Tichner. Aliran structural ini memandang pengalaman manusia dari sudut pengalaman pribadi. Sedangka psikologi Gestalt memandang kejiwaan manusia terikat kepada pengamatan yang berwujud kepada bentuk menyeluruh (Sagala, 2010:45).


             7.1.2 Pembelajaran
Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari sesuatu kemampuan dan atau nilai yang baru. “Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan  sumber belajar” (Dimyati, 2009:297).
 Pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. “Konsep pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan” (Sagala, 2010:61).
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, mental, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Aqib, 2003:41).
 Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. “Suatu sistem pembelajaran memiliki tiga ciri utama yaitu memiliki rencana khusus, saling ketergantungan antara tujuan yag hendak dicapai dan prosedur” (Aqib, 2003:42). Pembelajaran tidak mengabaikan karakteristik pembelajaran dan prinsip-prinsip belajar. Oleh karena itu guru dituntut untuk memusatkan perhatian, mengelola, menganalisis dan mengoptimalkan hal-hal berkaitan dengan:
a.       Perhatian dan motivasi
b.       Keaktifan siswa
c.       Optimalisasi ketertiban siswa
d.      Melakukan pengulangan-pengulangan belajar
e.       Pemberian tugas agar siswa bertanggung jawab
f.       Memberikan balikan dan penguatan terhadap siswa
g.      Mengelola proses belajar sesuai dengan perbedaan individual siswa.
 Guru profesional memerlukan pengetahuan dan keterampilan pendekatan pembelajaran agar mampu mengelola berbagai pesan sehingga siswa berkebiasaan belajar sepanjang hayat.
7.2  Prestasi Belajar
“Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan dan dikerjakan berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar” (Hamid, Apollo 2002:511).
Setiap usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang tentu mengharapkan hasil dari apa yang diusahakannya. Demikian halnya dengan kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan oleh anak tentu saja mengharapkan hasil dari usahanya itu. Hasil dari usaha belajar itulah yang disebut dengan prestasi belajar, baik secara keseluruhan maupun secara kelompok dalam mata pelajaran tertentu. Dengan demikian kegiatan belajar merupakan sarana-sarana yang harus dikerjakan oleh setiap anak untuk memperoleh hasil belajar yang diharapkan.
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing- masing sejalan dengan filsafatnya. “Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan intruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai” (Djamarah, 2010:105).
“Belajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik” (Djamarah, 2010:1). “Belajar adalah perubahan prilaku dan pribadi, namun apa sesungguhnya yang dipelajari dan bagaimana manifestasinya masih tetap merupakan permasalahan yang mengandung interpretasi paling fundamental mengenai hal ini” (Sagala, 2010:50). Dengan demikian inti dari belajar yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dilihat dari psikologi adalah adanya perubahan kematangan bagi anak didik sebagai akibat belajar sedangkan dilihat dari proses adalah adanya interaksi antara peserta didik dengan pendidik sebagai proses pembelajaran dan perubahan tampak pada perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat  dipahami mengenai makna prestasi dan belajar. Prestasi pada dasarnya adalah hasil yang diperoleh dari suatu aktivitas sedangkan belajar adalah pada dasarnya adalah suatu proses yang mengakibatkan perubahan pada diri individu yakni perubahan tingkah laku. Dengan demikian diambil pengertian bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
7.3  Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dari beberapa pendapat di atas, maka prinsipnya ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu:
            a. Faktor Internal
Yakni faktor yang berasal dari dalam individu yang meliputi:
a)      Faktor jasmani
Siswa yang sehat/normal tidak akan sama prestasinya dengan siswa yang sakit/cacat
b)      Faktor rohani (intelegensi, bakat, minat, motivasi belajar )
Siswa yang intelegensinya tinggi, tidak akan sama prestasi belajarnya dengan siswa yang intelegensinya rendah
            b. Faktor Eksternal
Yakni faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi:
a)      Faktor lingkungan
Proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik manakala faktor lingkungan tidak mendukung.

b)      Faktor sekolah
Sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar.
“Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal siswa meliputi motivasi belajar, konsentrasi, perasaan, sikap dan kondisi fisik. Sedangkan faktor eksternal siswa meliputi sekolah tempat belajar, pribadi guru, hubungan sosial, dan juga iklim tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar” (Winkel, 1994:176).
Dari uraian di atas, maka penerapan pendekatan pembelajaran   individual merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa yang berasal dari lingkungan sekolah dan sengaja dibuat oleh guru untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
7.4  Aktivitas Belajar
Keaktivan merupakan pendekatan belajar mengajar yang berpusat pada aktivitas siswa, misalnya para guru berperan sebagai pemberi dorongan, motivasi, menggugah inisiatif dan inspirasi yang sangat diperlukan siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah dengan kemampuan sendiri. melalui belajar aktif maka hasil belajar yang di dapat dicapai menjadi utuh, lengkap, tuntas, optimal serta proporsional.
Dinyatakan aktif dalam proses belajar mengajar jika siswa tersebut mempunyai:

a.       Keterampilan bertanya
b.      Keterampilan mengamati
c.       Keterampilan mengklasifikasi
d.      Keterampilan mengkomunikasikan
Belajar merupakan kegiatan yang lahir dari adanya interaksi antara individu dan lingkungannya yang akan menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu tersebut ke arah yang lebih baik. perubahan tingkah laku yang dimaksud tidak hanya mencakup aspek-aspek kognitif tetapi juga aspek psikomotoriknya. Agar dapat mendorong terjadinya proses belajar, maka hal-hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana seorang guru dapat menciptakan suasana yang dapat memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan belajarnya.
Pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dalam belajar sangat besar nilainya. Dalam hal ini para ahli mengungkapkan beberapa alasannya:
a.       Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
b.      Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
c.       Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa.
d.      Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri..
e.       Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
f.       Mempererat hubungan sekolah dengan masyarakat dan hubungan guru dengan orangtua siswa.
g.      Pengajaran dilaksanakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan pemikiran kritis.
h.      Pengajaran di sekolah menjadi lebih hidup sebagaimana keaktivan dalam kehudupan di masyarakat (Hamalik, 2001:112).

Belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada. faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan.
b.      Belajar memerlukan latihan.
c.       Belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan memperoleh kepuasan.
d.      Pengalaman masa lampau.
e.       Faktor kesiapan belajar.
f.       Faktor minat dan usaha.
g.      Faktor-faktor fisiologi.
h.      Faktor intelegensi.

7.5  Motivasi Belajar
   Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
     Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
         Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik:
1.      Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2.      Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
  Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2.      Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.      Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6.      Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
7.      Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9.      Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10.  Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran (Dimyati, 2009 :94).
7.6  Pembelajaran Individual
Individu berarti pribadi, orang perseorang, person orang (nya) dan individual berarti perseorangan, tersendiri, bersifat pribadi, person. Setiap individu selalu bervariasi. Mereka belajar dengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Cara mengemukakan pendapat, berpakaian, daya serap, tingkat kecerdasannya dan lain sebagainya. Masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda (Djamarah, 2010:62). Dari beberapa pengertian di atas dalam kaitannya dengan pembelajaran maka yang dimaksud dengan individu adalah siswa atau peserta didik yang melakukan kegiatan belajar atau mengikuti proses pendidikan yang memiliki ciri yang bervariasi.  Menurut Dimiyati (2009:161) pembelajaran secara individu adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu/siswa.
Hal ini sependapat dengan ahli lain yang menyatakan bahwa pembelajaran secara individual tampak pada perilaku atau kegiatan guru dalam mengajar yang menitikberatkan pada pemberian bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing siswa secara individual. Susunan dari tujuan belajar didesain untuk belajar mandiri harus yang disesuaikan dengan karakteristik individual dan kebutuhan siswa, jadi pada pembelajaran individual ini guru akan memberikan kesempatan dan keleluasan kepada masing-masing individu siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki (Sagala, 2010:184).
Adapun karakteristik pembelajaran individual adalah sebagai berikut:
a.       Tujuan Pengajaran
Adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah (i) pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri (ii) pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal
b.      Siswa dalam Pembelajaran Individual
Kedudukan siswa dalam pembelajaran bersifat sentral dan merupakan pusat pelayanan pembelajaran. Siswa akan memiliki keleluasaan berupa:
a)      Keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan tersendiri
b)      Kebebasan menggunakan waktu belajar
c)      Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar yang telah ditetapkan
d)     Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar
e)      Siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta;
f)       Siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajar sendiri.
c.        Guru Sebagai Pembelajar
Kedudukan guru dalam kegiatan pembelajar bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa :
a)      Perencanaan kegiatan belajar
b)      Pengorganisasian kegiatan belajar
c)      Penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa dan
d)     Fasilitas yang mempermudah belajar.
d.      Program Pembelajaran
Program pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif bila mempertimbangkan hal-hal berikut:
a)      Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa
b)      Tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa
c)      Prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa dan
d)      Kemampuan guru dalam evaluasi dimengerti siswa
e.        Orientasi dan Tekanan Utama Pelaksanaan
Program pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada setiap siswa agar ia dapat belajar mandiri. Dalam pelaksanaannya guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar dan rekan diskusi.
·   Pembelajaran individual memiliki kebaikan sebagai berikut:
a.       Materi dan sumber untuk tujuan instruksional umum dapat disesuaikan dengan kemampuan dan latar belakang siswa.
b.      Lebih mementingkan individual bila ada masalah / kesulitan yang dihadapi.
c.       Memungkinkan siswa belajar dengan kemampuan dan kecepatan sendiri.
d.      Umpan balik lebih konsisten dengan kebutuhan.
·        Adapun kelemahan dari pembelajaran individual adalah sebagai berikut:
a.       Tidak menghemat tenaga, pikiran, waktu, biaya dan lain-lain.
b.      Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan murid karena hidup tiap murid tidak sama.
c.       Dalam waktu yang sama memberikan pembelajaran kepada murid yang berbeda-beda.
d.      Guru harus memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kepribadian murid.
·        Implikasi individual terhadap pembelajaran
Adapun implikasi prinsip individual terhadap proses pembelajaran antara lain:
a.       Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sebagai karakteristik.
b.      Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyampaikan pesan pembelajaran.
c.       Mengenali karakteristik setiap siswa sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang bersangkutan.


VIII.       METODE PENELITIAN
        8.1 Metode Yang Digunakan
            Sebagai langkah awal dalam melakukan suatu penelitian adalah membuat desain penelitian atau menentukan langkag-langkah dalam penelitian. Desain atau langkah pendekatan dalam tulisan ini sesuai dengan masalah yang akan dikaji dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai serta manfaatnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. “Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksud untuk mengumpulkan informasi mengenai segala yang ada menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan, dan tidak memerlukan administrasi atau pengontrolan terhadap suatu perlakuan” (Suharsimi Arikunto, 1989:34).
            “Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan juga deskriptif kuantitatif. Hal ini  disebabkan karena jenis data yang hendak di peroleh bersifat angka-angka dan juga berupa uraian-uraian seperti kendala yang dihadapi dan solusinya” (Hadari,1994:74).
Digunakannya pendekatan kualitatif karena dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dan manfaatnya serta masalah yang ingin diselesaikan yakni mencari efektivitas penerapan pembelajaran individual terhadap peningkatan prestasi belajar siswa yang kemudian akan dideskripsikan sesuai dengan tuntutan data yang diperoleh.
8.2  Metode Penentuan Subjek Penelitian
8.2.1  Populasi
         “Populasi merupakan seluruh subyek penelitian. Populasi adalah jumlah keseluruhan subyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian” Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009 : 118). “populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya” (Sudjana, 2005 : 74).
        Adapun yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 98 orang.
8.2.2  Sampel
         “Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti” (Arikunto, 2006 : 87). Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang lebih besar. Sedangkan ahli lain menyatakan bahwa sampel adalah “Sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (” Sugiyono, 2003 : 56).
“Sementara itu penentuan jumlah sampel tergantung pada besarnya populasi. Jika populasi kurang dari 100, dianjurkan agar semuanya dijadikan sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya besar lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung dari kemampuan peneliti” (Arikunto, 2006:112).
Mengingat jumlah populasi kurang dari 100 orang, maka yang menjadi sampel dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa SMPN 2 Donggo yang berjumlah 98 orang (tabel 1).
   8.3. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
            Lokasi penelitian merupakan tempat dimana dilakukan suatu penelitian. Lokasi penelitian dalam hal ini adalah bertempat di SMPN 2 Donggo Kabupaten Bima. Adapun batas-batas umum dari SMPN 2 Donggo adalah sebagai berikut : 
a.       Sebelah utara berbatasan dengan SDN 1 Sangari
b.      Sebelah selatan berbatasan dengan puskesmas mbawa
c.       Sebelah barat berbatasan dengan pemukiman penduduk
d.      Sebelah timur berbatasan dengan persawahan
Objek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 98 orang.
  8.4 Metode Pengumpulan Data    
“Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data yang diperlukan. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan suatu alat penelitian yang akurat, karena hasilnya sangat menentukan mutu dan penelitian” (Sugiyono, 2003: 137) Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
      8.4.1 Metode Tes
         Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat menjadikan skor angka (S. Margono, 2002 : 170). Adapun jenis tes yang umumnya dikenal dan digunakan sebagai alat pengukuran adalah tes lisan dan tes tertulis. Sejalan dengan itu pada penelitian ini lebih menghkususkan pada penggunaan tes tertulis.
        Dalam peneltian ini test hasil belajar yang digunakan adalah dalam bentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 20 soal yang diambil dari beberapa buku paket pedoman pada kurikulum dan disetujui oleh guru pendidikan kewarganegaraan (PKn). Instrument ini disusun guna mengetahui sejauhmana tingkat pemahaman siswa dalam menguasai materi yang telah disampaikan melalui penerapan pembelajaran individual di kelas VII SMPN 2 Donggo.
      
Contoh Soal Insturmen:
1.      Kepatuhan dan ketaatan menjalankan perintah agama dalam kehidupan sehari-hari bermanfaat untuk kehidupan dalam masyarakat yaitu…., 
a.       kemampuan menciptakan suasana yang aman, tenteram, tertib dan damai
b.      terpenuhinya kebutuhan secara rohani bagi setiap warga masyarakat
c.       terciptanya saling hormat-menghormati antar pemeluk beragama
d.      akan terwujud rasa persatuan dan kesatuan       
2.      Ungapkan oleh Aristoteles bahwa manusia merupakan mahluk’’Zooon Politicon’’,yang artinya manusia…..
a.       mahluk pribadi
b.       mahluk sosial
c.        mahluk yang sempurna
d.       mahluk yang lemah
3.      Salah satu sikap yang dapat mewujudkakan  hubungan sesama masyarakat,yaitu…..
a.       memiliki kepentingan yang sama dalam menciptakan kerukunan
b.      kepentinga berbeda-beda di pandukan menjadi satu kesepakatan
c.       adanya perselisihan yang berkepanjangan antara sesama warga
d.      mempunyai kepentingan yang berbeda walau terjadi beda pendapat
4.      Bentuk  pelanggaran terhadap  norma agama,antara lain…..
 a.  ikut mengankan jalannya peringatan hari besar agama lain
 b. saat bulan ramadhan tidak melaksanakan ibadah puasa.
 c. meminjamkan uang kepada orang lain dengan meminta imbalan
 d. pada hari minggu rutin pergi ke gereje karena sedang bepergian
5.      Peraturan hidup yang dianggap sebagai suara hati sanubari manusia sebagai insan ciptaan tuhan yang maha esa ,disebut…..
a.       norma agama
b.      norma kesusilaan
c.       c.norma  kesopanan
d.      norma hukum
6.      Masyarakat akan semakin teratur apabila kesadaran terhadap peraturan atau hukum yang berlaku semakin tinggi .untuk mempertinggi kesadaran hukum atau peraturan itu hendaknya…..
a.        kita harus memberi hukuman yang lebi berat bagi pelanggar hukum
b.      dibuatkan hukum yang sesuai dengan kehendak rakyat
c.       kita harus patuh terhadap hukum atau peraturan yang berlaku
d.      masyarakat harus lebih dulu ditatar dengan beberapa hukum
7.      Yang termasuk dalam hukum dasar yang tertulis di Negara  Indonesia,adalah
a.       undang-undang dasar 1945
b.      pembukaan uud 1945
c.       pancasila sebagai  dasar Negara
d.      proklamasi kemerdekaan
8.       Tumbuhnya kesadaran untuk patuh terhadap peraturan yang berlaku bagi warga Negara akan…
  a. dibentuknya badan-badan peradilan di Indonesia
b. terpenuhinyakebutuhan akan materiil dan spiritual
c. banyaknya orang yang tidak patuh terhadap hukum
d. terciptanya keseimbangan antara hak dan kewajiban
9.      Contoh sikap yang patuh terhadap aturan kehidupan sehari-hari ,antara lain….
a. berpakaian rapi,bersih,dan baru
b. membuang sampah pada tempatnya
  c.berdoa kepada tuhan setiap hari
  d.membatasi pergaulan takut salah
10.  Manfaat melaksanakan peraturan perundanan atau hukum yang berlaku dengan penuh kesadaran ,adalah
 a. mengurangin  tintack kejahatan dalam masyarakat
 b.meningkatkan kewibawaan para penegak hukum
 c.menciptakan ketertiban dan kedamaan masyarakat
 d.mengurangi beban yang diemban oleh aparat kepolisian
11.  Dalam upaya untuk mendapatkan karcis dengan cepat,hendaknya berbuat…..
 a. ikut antri sesuai urutan kedatangan
 b.langsung menuju ke depan loket
 c.minta tolong orang di depan sendiri
 d.menghubungi petugas yang kita kenal
12.  Perilaku yang tidak taat kepada peraturan yang berlaku,adalah…..
 a. tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum
 b.melaksanakan perbuatan dengan baik,serta bertanggung jawab
 c.menghindari huru hara,permusuhan,dan perkelahian pelajar
 d.menghindari perbuatan yang dapat menenangkan suasana
13.  Di lingkungan masyarakat,setiap warga mempunyai kewajiban untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban,seperti…..
 a. menerapkan pola hidup sederhana dalam segala kehidupannya
 b. membayar pajak dan retribusi sesuai dengan yang ditentukan
 c. melaksanakan segala kehendaknya yang diidam-idamkan
d. mempertahankan hak dan melaksanakan kewajibannya
14.  Kesadaran terhadap peraturan perundang-undang yang berlaku di masyarakat indonesia sangt bermanfaat dalam……. 
a. terhindar segala bentuk ancaman
b. menciptakan ketenteramanhidup
c. membina stabilitas nasional
d. membangun warga sadar hukum
15.   Kalau warga masyarakat sudah mengabaikan norma-norma masyarakat,maka akan terjadi…..
a. Homo sapiens
b. Homo homini lupus
c. Devide et impera
d. Ora et lobaro                             
        8.4.2 Metode Observasi
            Metode observasi adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung atau tidak langsung terhadap objek (Ali, 1982:40). Data yang diperoleh dalam observasi dicatat dengan system catatan observasi. Kegiatan pencatatan merupakan bagian dari pada kegiatan pengamatan.
            Metode observasi digunakan pada saat pelaksanaan proses pembelajaran berlangsung. Metode observasi untuk mendapatkan data tentang aktivitas tentang proses pembelajaran siswa kelas VII di SMPN 2 Donggoa tahun pelajara 2011/2012.
       8.4.3 Metode Dokumentasi
            Metode dokumentasi yaitu mencari suatu data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan lain-lain sebagainya” (Arikunto, 2006: 137). Data yang diperoleh dengan metode ini adalah jumlah siswa, sarana dan prasarana di SMPN 2 Donggo.
   8.5 Jenis Dan Sumber Data
      8.5.1 Jenis Data
            Data menurut jenisnya ada dua yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.        
      8.5.1.1  Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar.
      8.5.1.2 Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang             
                  diangkakan (scoring)” (Sugiyono, 2003:14).
            Berdasarkan pendapat di atas, maka jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif.             
    8.5.2 Sumber Data
     Ditinaju dari sifatnya sumber data ada dua yaitu:
        8.5.2.1 Sumber data primer
Data pirmer adalah sumber yang memberikan data langsung dari tangan      pertama.
        8.5.2.2 Sumber data sekunder     
Data sekunder adalah sumber yang dikutip dari sumber lain (Surakhmad     (2004:134).
         Berdasarkan pendapat di atas, yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah data hasil observasi, dan hasil tes, sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah data hasil-hasil dokumentasi.
8.6 Rancangan Penelitian
      Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi. Secara rinci rancangan penelitian setiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:
Siklus I
1.      Perencanaan
Perencanaan merupakan kegiatan yang dilakukan pada siklus I dalam penerapan pembelajaran individual. Hal yang dapat dipersiapkan sebagai berikut:
Peneliti mensosialisasikan pengajaran dengan penerapan pembelajaran individual pada guru IPS Terpadu dengan cara:
1)      Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2)      Menyiapkan lembar observasi
3)      Menyusun alat evaluasi
4)      Merencanakan analisis hasil tes.
2.      Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan semua hal yang telah direncanakan pada tahap perencanaan dan direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
3.      Observasi dan Evaluasi
Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi, dimana pada tahap ini peneliti dan siswa diobservasi oleh guru bidang studi tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, apakah pembelajaran telah sesuai dengan skenario yang dibuat atau tidak.
Pada akhir setiap siklus dilakukan evaluasi hasil belajar untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari. Soal evaluasinya dalam bentuk tes essay yaitu sejenis tes kemampuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan. Sasaran evaluasi adalah siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar.
4.      Refleksi
Pada tahap ini, peneliti bersama guru akan mengkaji pelaksanaan dan hasil yang telah diperoleh dalam pemberian tindakan tiap siklus. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah hasil observasi dan evaluasi. Dari hasil observasi dan evaluasi siklus I, peneliti dan guru mengidentifikasi kekurangan yang muncul untuk melakukan dan penyempurnaan pada siklus berikutnya.
            Siklus II
Siklus II dilakukan apabila pembelajaran pada siklus I belum berhasil mencapai ketuntasan belajar dan proses belajar-mengajar belum sesuai dengan apa yang diharapkan, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada siklus I, hanya saja siklus II dilakukan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I.  
8.7 Metode Analisis Data
1.Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa dianalisis sebagai berikut:
Menghitung skor aktivitas siswa dengan rumus
 
Dengan:
A =         Rata-rata skor aktivitas siswa
X =         Skor setiap deskriptor aktivitas siswa
i   =         Banyaknya diskriptor
Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut:
MI = (skor tertinggi + skor terendah)
SDI = ( skor tertinggi - skor terendah)
Keterangan:
MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal.
                                                            Data Prestasi Belajar Siswa
          Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara kuantitatif deskriptif, yaitu dengan rumus sebagai berikut:


Keterangan:
KK = Ketuntasan klasikal
X = Jumlah seluruh siswa yang memperoleh nilai minimal 65
Z = Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes. (Sugiyono, 2003:97).


EFEKTIVITAS PENERAPAN PEMBELAJARAN INDIVIDUAL PADA MATA PELAJARAN PKn TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VII DI SMPN 2 DONGGO

0 comments:

Post a Comment