Friday, October 19, 2012

kumpulan skripsi geografi FAKTOR KENDALA GURU IPS GEOGRAFI DALAM MENGHADAPI PROGRAM SERTIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN


FAKTOR KENDALA GURU IPS GEOGRAFI DALAM MENGHADAPI PROGRAM SERTIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN
DI MTs. BADRUSSALAM NW SEKARBELA KOTA MATARAM
TAHUN 2010-2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       LATAR BELAKANG
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inivatif. Hal tersebut lebih berfokul lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Tujuan pendidikan nasional adalah bertujuan mengembangkan kemampuan dan berbentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI NO. 20 tahun 2003).
  Salah satu usaha dalam rangka mensukseskan pendidikan tersbut adalah penyempurnaan kurikulum. Demikian perkembangan kurikulum dari waktu-kewaktu selalu mengalami penyempurnaan seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Pada dasarnya penyempurnaan itu bertujuan agar anak didik tidak terbelakang dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. Landasan pengembangan adalah UU NO.20 tahun 2003 tentang sistem penddikan nasional, PP NO.19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP), peraturan mentri pendidikan nasional RI NO.23 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan  dasar dan menengah dan peraturan mentri pendidikan nasional RI NO.24 tahun 2006 tentang pelaksanaan mentri pendidikan nasional NO.22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, maka dengan sendirinya sistem pendidikan pun mengalami perubahan karena kesejahteraan bangsa tidak lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial dan kredibilitas. Oleh Karena itu tuntutan untuk terus-menerus memutakhirkan pengetahuan menjadi keharusan. mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja,sebab perubahan global sudah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat ahli berikut ini:
Agar pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif sesuai dengan standar mutu nasional dan internasional, kurikulum perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis computer. Hal itu harus dilakukukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan,tehnologi,seni dan tuntutan desentralisasi (depdiknas, 2004:2),
Dalam konteks desentralisasi dan seriring dengan perwujudan pemetaan hasil pendidikan yang bermutu, diperlukan standar kompetensi mata pelajaran yang memuat kompetensi bahan kajian yang dapat dipertanggung jawabkan dalam konteks lokal, nasional dan global. Kurikulum yang dibutuhkan dimasa yang akan datang yaitu kurikulum yang berbasi competensi.
Berkaitan dengan hal itu, segala upaya pemerintah dalam rangka tercapainya tujuan pendidikan nasional harus dibarengi dengan kualitas SDM para pendidik (guru), yaitu guru yang profesional. UU RI NO.20/2003 tentang pendidiakn nasional (UUSPN), UU RI NO.14/2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP) menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, ia dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana/diploma (SI/D4) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran “(Depdiknas, 2006:1).
    Dalam buku panduan pelaksanaan sertifikasi guru dijelaskan beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai agen pembelajaran antara lain; kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut dalam prakteknya merupakan satu kesatuan yang utuh, seperti yang dijelaskan pada uraian berikut:
 sebagai guru yang kompeten, harus memiliki (1) pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, (2) penguasa bidang studi, baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan, (3) kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang menddik dan, (4) kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelanjutan (2006:4). 
Jika disimak pemaparan diatas, kompetensi tersebut merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan refrensi kriteria yang efektif dan/atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaannya pada suatu situasi. Apabila ditelusuri lebih jauh, maka akan merupakan sebuah kendala bagi seorang guru apabila prasyarat sebagai seorang guru professional diberlakukan.
Dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 diantaranya mengamanatkan pada Pemerintah Negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya dalam Undang Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mangamanatkan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Oleh karena itu Departemen Pendidikan Nasional Indonesia sebagai pelaksana teknis dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut harus dapat melaksanakan melalui program-program yang dapat menyentuh langsung pada cita-cita tersebut melalui unit-unit teknisnya yang tersebar merata di seluruh wilayah RI tersebut.
Untuk melaksanakan tujuan tersebut ditemui berbagai masalah dan hambatan seperti masalah geografis. Tanah air kita yang terdiri dari beribu pulau besar dan kecil serta memiliki wilayah yang sangat luas. Kondisi geografis yang demikian berakibat tidak meratanya kesempatan memperoleh pendidikan yang layak dan juga karena penyebaran guru-guru baik pendidikan dasar maupun pendidikan lanjutan sehingga mutu pendidikanpun kurang merata. Di kota-kota besar guru berlebih sedangkan di desa-desa terutama di daerah terpencil dan pedalaman sangat kekurangan guru.
Sementara bahwa rendahnya mutu pendidikan (sains) di Indonesia disebabkan bukan hanya oleh faktor mutu proses pembelajaranya tapi oleh banyak faktor lain di antaranya faktor pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan (manajemen), pembiayaan, dan lain sebagainya (Sukarjo,2004). Oleh karena itu peran guru terhadap masalah mutu pendidikan mempunyai posisi yang sangat setrategis dan sangat penting.


1.2.       RUMUSAN MASALAH
Meskipun sudah beberapa kali mengikuti pelaksanaan program sertifsikasi, guru IPS Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela masih saja belum lulus sertifikasi, oleh sebab itu maka dalam hal ini, peneliti akan melaksanakan penelitian dan mencari tahu kenapa hal ini bisa terjadi.
Berdasarkan uraian-uraian diatas maka permasalahan-permasalahan yang akan diamati dalam penelitian ini adalah “Apakah ada kendala-kendala mendasar guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela”.

1.3.       TUJUAN DAN MANFAAf PENELITIAN
1.3.1.  Tujuan penelitian:
Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)        untuk mengetahui kendala-kendala mendasar guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela kota mataram Tahun Ajaran 2010/2011;
2)        untuk mengetahui proses pelaksanaan sertifikasi guru;
3)        penelitian ini sebagai persyaratan untuk bahan menyusun skripsi demi mencapai sarjana strata satu (S-1) dalam program studi geografi.
1.3.2.      Manfaat penelitian:
 Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kendala-kendala mendasar para guru dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan khusus para Guru IPS Geografi.
2.  Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pihak sekolah dalam rangka pembinaan selanjutnya sehingga akan dapat mengurangi kendala-kendala yang dihadapi para guru dalam program sertifikasi tenaga kependidikan.
3. Hasil penelitian ini dapat di sebagi bahan pertimbangan bagi dinas terkait dalam rangka pembinaan yang berhubungan dengan program sertifikasi tenaga kependidikan bagi para guru.
4. hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para guru, khususnya guru bidang studi geografi untuk menjadikannya sebagai acuan/pembelajaran dalam melaksanakan program sertifikasi selanjutnya.

1.3.       ASUMSI
Asumsi adalah “sebuah titik tolak pemikiran yang kebenaranya diterima oleh penyelidik (Winarno Surkahmad, 2002:107). Asumsi merupakan “atribut yang dapat menunjukkan rambu-rambu pemikiran seorang peneliti tentang cara pandangnya terhadap masala yang menjadi kajiannya “(Aruan D.M., 2000:15). Asumsi dalam sebuah penelitian sangat penting artinya karena dapat dipergunakan sebagai sarana dalam masalah yang akan dijadikan objek penelitian. Selain itu, asumsi juga dapat dipergnakan untuk mempertegas masalah yang menjadi fokus perhatian peneliti.
Sehubungan dengan arti penting asumsi itu dalam suatu penelitian, maka asumsi yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)           program sertifikasi tenaga kependidikan merupakan hal baru dalam dunia kependidikan;
2)           syarat-syarat menjadi guru professional diyakini terdapat kendala-kendala mendasar dalam pelaksanaannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    PENGERTIAN SERTIFIKASI
 Menurut kamus basar bahasa Indonesia, sertifikasi berasal dari sertifikat yang artinya surat tanda atau surat ketrangan (pernyataan tertulis) atau tercetak dari oarng yang berwenang yang dapat digunakansebagai bukti suatu kejadian atau perbuatan (1998:829). Dalam pnelitan ini yang dimaksud dengan sertifikasi guru adalah upaya peningkatan guru dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru, sehingga diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pndidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bagi guru yang memiliki sertifikasimpendidik. Tunjangan tersebut berlaku baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus non-pegawai sipil (swasta).

2.2.    DASAR HUKUM (KEBIJAKAN) SERTIFIKASI
 Adapun dasar hukum (kebijkan) sertifikasi guru adalah UU RI NO.20/2003 tentang sistem penidikan nasional (UUSPN) UU RI.NO.19/2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD), dan peraturan pemerintah RI NO.14/2005 tentang standar nasional pendidikan (SNP) menyatakan guru adalah pendidik profesional, untuk itu ia dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal sarjana/diploma IV (SI/D4) yang relevan dan menguasai komponen sebagai agen pembelajaran.
Sertifikasi Guru bertujuan untuk.
1.    Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2.    Peningkatan proses dan mutu hasil pendidikan, dan
3.    Peningkatan profesional guru.
Adapun manfaat sertifikasi guru dapat dirinci sebagai berikut.
1.    Melindungi profesi guru dari praktik-yang tidak komponen, yang dapat merusak citra profesi guru.
2.    Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidik yang tidak berkualitas dan tidak professional.
3.    Menjaga lembaga penyelenggara pendiikan tenaga kependiikan (LPTK) dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku (Depdiknas, 2006:2).

2.3.    SYARAT-SYARAT SERTIFIKASI
Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal SI/D4 dibuktikan dengan ijazah dan persyaratan relevansi mengacu pada jenjang pendidikan yang dimiliki  dan mata pelajaran yang dibina misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan SI/D4 jurusan/program studi PGSD/psikologi/pendidikan lainnya, sedangkan Guru matematika SMP, MTs, SMA, MA dan SMK dipersyartkan lulusan SI/D4/jurusan/program studi matematika atau pendidikan matematika. Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetnsi padagogik, kompetensi professional  komptensi profesonal dan kompetensi sosial dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Untuk lebih jelasnya, berikut persyaratan sertifikasi.
1.    persyaratan peserta uji sertifikasi bagi guru dalam jabatan. Persyaratan peserta uji sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah berijaza SI/D4.
2.    Cakupan dan instrumen sertifikasi. Sertifikasi guru berbentuk uji kompetensi, yang terdiri atas dua tahap, yaitu ts ulis dan tes kinerja yang dibarengi dengan self appraisal dan fortoflio serta peer appraisal (penilaian atasan). Materi tes tulis, tes kinerja dan self appraisal yang dipadukan dengan portofolio didasarka pada indicator esensial kompetensi guru sebagai agen pmbelajaran.
Di beberpa Negara, sertifikasi guru telah diberlakukan secara ketat, misalnya di amerika serikat, inggris dan autralia (wang, dkk.2003). sementara didenmark baru mulai dirintis bengan sungggh-sungguh sejak 2003. Di samping itu, ada beberapa Negara yang tidak melakukan sertifikasi  guru, tetapi melkukan kendali mutu dengan mengontrol secara ketat terhadap proses pendidikan dan kelulusan di lembaga penghasil guru misalnya di korea selatan dan singapura. Namun semua itu mengarah pada tujuan yang sam yaitu berupaya agar dihasilkan guru yang bermutu.
Menurut pendapat seorang ahli, ada beberapa fungsi guru berkaitan dengan pmbelajaran yaitu sebagai berikut.
1.    Pengabilan inisiatif, pengara dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan. Hal ini berarti guru turut serta mmikirkan kegitan-kegiatan pendiikan yang direncanakan serta nilain ya.
2.    Wakil masyrakat yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota masyarakat guru harus mencerminkan suasana dan keauan masyarakat dalam arti yang banyak.
3.    Orang yang ahli dalm guru mata pelajaran. Guru bertanggung jawab untuk mewariskan kebudayan kpada generasi muda yang berupa pengetahuan.
4.    Penegah disiplin guru harus  menjaga agar tercapai suatu disiplin.
5.    Penerjemah kepada masyarakat artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkmbamgan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat guru berparan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa dalam masalah-masalah pendidikan (usman T. 2000:12).

2.4.    GURU PROFESIONAL
Sorang guru yang mendidik banyak siswa dan siswi di sekolah harus memiliki kompetensi. kompentensi yang harus dimiliki diantaranya adalah : kompetensi kepribadian, pedagogic, professional, dan sosial. Keempat jenis kompetensi guru beserta subkompetensi dan indicator esensialnya diuraikan sebagai berikut.
1.    KompetensiPribadi
Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Sebagai seorang model guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya: (1) kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya; (2) kemampuan untuk menghormati dan menghargai antarumat beragama; (3) kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat; (4) mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru misalnya sopan santun dan tata karma dan; (5) bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.
Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.  Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya).Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000:225-226)  menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).
Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan.Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi (1) pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, (2) pengetahuan tentang budaya dan tradisi, (3) pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) pengetahuan tentang estetika, (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, (6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, (7) setia terhadap harkat dan martabat manusia. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab dan mampu menilai diri pribadi. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan personal guru, mencakup (1) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya, (2) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, (3) kepribadian, nilai, sikap hidup ditampilkan dalam upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa.Berdasarkan uraian di atas, kompetensi kepribadian guru tercermin dari indikator (1) sikap, dan (2) keteladanan.
2.     kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyesuaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting. Oleh sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut: (1) kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran; (2) pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar; (3) kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya; (4) kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran; (5) kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar; (6) kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran; (7) kemampuan dalam menyusun program pembelajaran; (8) kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan dan; (9) kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.
Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.
Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi profesional guru mencakup kemampuan dalam hal (1) mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan baik filosofis, psikologis, dan sebagainya, (2) mengerti dan menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku peserta didik, (3) mampu menangani mata pelajaran atau bidang studi yang ditugaskan kepadanya, (4) mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai, (5) mampu menggunakan berbagai alat pelajaran dan media serta fasilitas belajar lain, (6) mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pengajaran, (7) mampu melaksanakan evaluasi belajar dan (8) mampu menumbuhkan motivasi peserta didik.
Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini  atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi profesional mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang subject matter (bidang studi)  yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi yaitu menguasai konsep teoretik, maupun memilih metode yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi profesional meliputi (1) pengembangan profesi, pemahaman wawasan, dan penguasaan bahan kajian akademik.Pengembangan profesi meliputi (1) mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan penelitian ilmiah (action research), (10) menemukan teknologi tepat guna, (11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13) mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi, dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.Pemahaman wawasan meliputi (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah.Penguasaan bahan kajian akademik meliputi (1) memahami struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa.Berdasarkan uraian di atas, kompetensi profesional guru tercermin dari indikator (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan.
3.     Kompetensi Sosial kemasyarakatan
Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial, meliputi: (1) kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional; (2) kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan; (3) kemampuan untuk menjalin kerja sama baik secara individual maupun secara kelompok.
Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial.
Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, menjelaskan kompetensi sosial guru adalah salah satu daya atau kemampuan guru untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang baik serta kemampuan untuk mendidik, membimbing masyarakat dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang.
Untuk dapat melaksanakan peran sosial kemasyarakatan, guru harus memiliki kompetensi (1) aspek normatif kependidikan, yaitu untuk menjadi guru yang baik tidak cukup digantungkan kepada bakat, kecerdasan, dan kecakapan saja, tetapi juga harus beritikad baik sehingga hal ini bertautan dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya, (2) pertimbangan sebelum memilih jabatan guru, dan (3) mempunyai program yang menjurus untuk meningkatkan kemajuan masyarakat dan kemajuan pendidikan. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.Berdasarkan uraian di atas, kompetensi sosial guru tercermin melalui indikator (1) interaksi guru dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi guru dengan masyarakat.
4.    Kompetensi Pedagogik
Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”.  Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.
a. Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran
Menurut Joni (1984:12), kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan: (1) merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran, (2) merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar, (3) merencanakan pengelolaan kelas, (4) merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan (5) merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi (1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6)  mampu menyusun perangkat penilaian, (7) mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.
  b. Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kem ahiran dan keterampilan  teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.Yutmini (1992:13)  mengemukakan, persyaratan kemampuan yang harus di miliki guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar meliputi kemampuan: (1) menggunakan metode belajar, media pelajaran, dan bahan latihan yang sesuai dengan tujuan pelajaran, (2) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan perlengkapan pengajaran, (3) berkomunikasi dengan siswa, (4) mendemonstrasikan berbagai metode mengajar, dan (5) melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar.
Hal serupa dikemukakan oleh Harahap (1982:32) yang menyatakan, kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan: (1) memotivasi siswa belajar sejak saat membuka sampai menutup pelajaran, (2) mengarahkan tujuan pengajaran, (3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan pengajaran, (4) melakukan pemantapan belajar, (5) menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar, (6) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan, (7) memperbaiki program belajar mengajar, dan (8) melaksanakan hasil penilaian belajar.Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa.
Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi melaksanakan proses belajar mengajar meliputi (1) membuka pelajaran, (2) menyajikan materi, (3) menggunakan media dan metode, (4) menggunakan alat peraga, (5) menggunakan bahasa yang komunikatif, (6) memotivasi siswa, (7) mengorganisasi kegiatan, (8) berinteraksi dengan siswa secara komunikatif, (9) menyimpulkan pelajaran, (10) memberikan umpan balik, (11) melaksanakan penilaian, dan (12) menggunakan waktu.Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.
  c. Kompetensi Melaksanakan Penilaian Proses Belajar Mengajar
Menurut Sutisna (1993:212), penilaian proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan.
Commite dalam Wirawan (2002:22) menjelaskan, evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap upaya manusia, evaluasi yang baik akan menyebarkan pemahaman dan perbaikan pendidikan, sedangkan evaluasi yang salah akan merugikan pendidikan.Tujuan utama melaksanakan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga tindak lanjut hasil belajar akan dapat diupayakan dan dilaksanakan. Dengan demikian, melaksanakan penilaian proses belajar mengajar merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa.

Depdiknas (2004:9) mengemukakan  kompetensi penilaian belajar peserta didik, meliputi:
(1)   mampu memilih soal berdasarkan tingkat kesukaran,
(2)   mampu memilih soal berdasarkan tingkat pembeda,
(3)  mampu memperbaiki soal yang tidak valid,
(4)  mampu memeriksa jawab,
(5)  mampu mengklasifikasi hasil-hasil penilaian,
(6)  mampu mengolah dan menganalisis hasil penilaian,
(7)  mampu membuat interpretasi kecenderungan hasil penilaian,
(8)  mampu menentukan korelasi soal berdasarkan hasil penilaian,
(9)  mampu mengidentifikasi tingkat variasi hasil penilaian,
(10) mampu menyimpulkan  dari hasil penilaian secara jelas dan logis,
(11) mampu menyusun program tindak lanjut hasil penilaian,
(12) mengklasifikasi kemampuan siswa
(13) mampu mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian,
(14) mampu melaksanakan tindak lanjut,
(15) mampu mengevaluasi hasil tindak lanjut,  dan
(16) mampu menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian.
   Berdasarkan uraian di atas kompetensi pedagogik tercermin dari indicator:
(1)   kemampuan merencanakan program belajar mengajar,
(2) kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan
(3) kemampuan melakukan penilaian.
2.5.    PERSYARATAN SERTIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN
Ada dua macam pelaksanaan sertifikasi guru, yaitu:
a)  Melalui penilaian portofolio bagi guru dalam jabatan dan,
b)  Melalui pendidikan profesi bagi calon guru.Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melaluipenilaianportofolio.
Penilaian portofolio merupakan pegakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian  terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:  Kualifikasi akademik,  Pendidikandan pelatihan,
 Pengalaman mengajar,  Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,  Penilaian dari atasan dan pengawas,  Prestasi akademik, Karya pengembangan profesi,  Keikutsertaan dalam forum ilmiah, Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan social,  Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Guru yang memiliki nilaiportofolio di atas batas minimal dinyatakan lulus penilian portofolio dan berhak menerima sertifikat pendidik. Guru yang hasil penilaian portofolio memperoleh niai kurang sedikit dari batas minimal diberi kesempatan untuk melengkapi portofolio. Setelah lengkap, guru dinyatakan lulus dan berhak menerima sertifikatpendidik.
           Guru yang nilainya jauh di bawah batas minimal wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru yang akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Mendiknas. Pada akhir diklat dilakukan ujian dengan materi ujian mencakup 4 kompetensi guru. Yang lulus langsung mendapatkan sertifikat pendidik dan yang tak lulus diberi kesempatan mengulang materi diklat yang belum lulus sebanyak dua kali kesempatan. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Jadi portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dlam betuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkanrekam jejak profesionalitas guru selama mengajar. Sebagai peserta sertfiikasi, apa yang harus Dilakukan guru dengan portofolio yang dimiliki?
Portofolio yang sudah didokumentasikan guru dirangkum dalam suatu format  instrument portofolio. Instrument tersebut sudah disiapkan dan akan didistribusikan kepada guru melaui Dinas Kabupaten/Kota.
2.5.1. kualifikasi akademik
1. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal
Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/ Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah menengah pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), guru sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA), guru sekolah dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK*), sebagai berikut.
a.        Kualifikasi Akademik Guru PAUD/TK/RA
Guru pada PAUD/TK/RA harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

b.        Kualifikasi Akademik Guru SD/MI
Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
c.         Kualifikasi Akademik Guru SMP/MTs
Guru pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
d.        Kualifikasi Akademik Guru SMA/MA
Guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
e.         Kualifikasi Akademik Guru SDLB/SMPLB/SMALB
Guru pada SDLB/SMPLB/SMALB, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
f.         Kualifikasi Akademik Guru SMK/MAK
Guru pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi.
2. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan
Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya.
 2.5.2. pendidikan dan pelatihan
         Tujuan dari Diklat guru melalui PSRP adalah :
1. Meningkatkan kemampuan guru pendidikan dasar maupun pendidikan lanjutan dalam cara mengajar danpenguasaan materi pengajaran, terutama bagi mereka yang tertinggal dalam menerima Diklat kompetensi keguaruan pada khususnya dan pada umumnya para guru yang ingin tahu dan menjadi seharusnya guru dalam mengajar yang profesiona untuk dalam mencapai standar mengajar.
2. Meningkatkan mutu pendidikan di pendidikan dasar maupun pendidikan lanjutan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan profesional guru di sekolahnya.
3. Memperluas kesempatan meningkatkan mutu profesional guru sekolah pendidikan dasar maupun lanjutan yang belum mengikuti program Diklat tatap muka baik oleh LPMP maupun lembaga lain.
Manfaat dari Diklat guru melalui PSRP adalah sebagai berikut.
1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang ragam pendekatan Diklat Guru  melalui PSRP.
2. Memberikan sumbangan pemikiran terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan.
3. Sebagai bahan pertimbangan dan bahan masukan serta acuan bagi penyusunan penetuan program dan pendekatan Diklat guru.
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi para widyaiswara dan penyusun program diklat guru
5. Memberikan gambaran implementasi Pendekatan Diklat Guru dengan PSRP
6. Memberikan wacana/pemikiran bagi para penjaminan mutu pendidikan tentang peningkatan mutu pendidikan dengan meningkatkan kesetandaran kompetensi guru melalui diklat dengan PSRP
Di dalam Diklat dengan media radio dalam bentuk PSRP maka kurikulum, strategi, evaluasi diklat, jadwal, peserta, dan media pendukung dirancang sedemikian rupa, dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Kurikulum Diklat Guru
Kurikulum Diklat guru melalui PSRP adalah sama dengan kurikulum Diklat guru tatap muka. Dimana kurikulum ini dibuat sesuai atau berdasarkan analisis kebutuhan peserta Diklat yaitu kebutuhan guru. Kurikulum Diklat ini yang selanjutnya akan dijabarkan menjadi garis-garis besar program pembelajaran Diklat(GBPP). Pada dewasa ini kebutuhan guru mengacu pada Permendiknas No.16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yaitu : (1) Kompetensi pedagogik, (2) Kompetensi kepribadian, (3) Kompetensi sosial, dan (4) Kompetensi profesional
2. Strategi Diklat
Agar Diklat menarik perhatian para guru untuk ikut berpartisipasi dalam program tersebut, maka peserta diklat disiapkan brosur. Brosur dengan dilampiri formulir pendaftaran dikirim ke sekolah melalaui kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan setempat. Para guru yang akan ikut menjadi peserta harus menjadi kelompok belajar di KKG atau MGMP masing-masing dengan mengisi formulir yang dikirim ke kantor UPT Dinas Pendidikan Kecamatan, setelah mendaftar akan diberi nomor registrasi sebagai keabsahan menjadi anggota kelompok belajar. Guru-guru yang mempunyai nomor registrasi Diklat melalui PSRP berhak mengikuti ujian pada setiap akhir paket atau enam bulan sekali. Dimana para peserta Diklat yang telah mengikuti ujian dan memenuhi standar minimal lulus akan dinyatakan lulus dengan sertifikat Diklat tersebut. Kegiatan kelompok kerja adalah membaca buku bahan penyerta dan mendengarkan siaran radio yang diiringi dengan diskusi selama lebih kurang 60 menit.
Mendengarkan secara berkelompok sangat dianjurkan agar setelah siaran dapat mengadakan diskusi tentang materi pelajaran yang disiarkan. Kegiatan ini dapat dilakukan di kelompok kerja baik melalui KKG/MGMP di Sekolah/Kecamatan/Kabupaten pada setiap hari senin jam 14.00 sampai dengan jam 15.00. Dimana waktu program siaran radio pendidikan RRI Kalimantan Barat diprogramkan pada waktu tersebut sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.
3. Peserta Diklat
Diklat keguruan dalam meningkatkan kompetensi guru dengan melalui PSRP dengan peserta meliputi : semua guru yang tidak terikut dalam Diklat tatap keguaruan baik yang diadakan LPMP maupun lembaga lain pada program Diklat yang sama
4. Bahan Pembelajaran Diklat
Yang menjadi bahan pembelajaran dalam Diklat guru melalui PSRP adalah modul 4 (empat) kompetensi guru yang disipakan oleh lembaga yang mempunyai program diklat tersebut seperti LPMP bekerja sama dengan Dinas Pendidikan atau Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat
5. Evaluasi Diklat
Pada setiap akhir paket para peserta mengikuti ujian atau penilaian yang dilaksanakan secara serentak seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang dikoordinir oleh Dinas Pendidikan setempat. Pengawasan terhadap pelaksanaan penilaian ini dilakukan oleh pengawas sekolah setempat, sedang pengawasan kinerja dan mutu dilakukan oleh LPMP dengan menurunkan widyaiswaranya sebagai perancang akademik dan pelaksana serta evaluai Diklat bersama dengan tenaga staf. Untuk menjaga validasi soal-soal ujian maka soal-soal tersebut LPMP bekerja sama dengan lembaga yang kompeten dalam menyusun soal bersama ahli materi, dan soal-soal tersebut diujicobakan lebih dahulu sebelum disebarkan.

1.5.3.       pengalaman mengajar
pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru  dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu,sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang(dapat dari pemerintah dan/ masyarakat kelompok masyarakat penyelanggaraan pendidikan ). Bukti fisik  dari komponen ini  dapat berupa surat  keputusan /surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.
1.5.4.       perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
perencanaan pembelajaran yaitu : persiapan mengolah pembelajaran yang akan di laksanakan  dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaan pembelajaran ini paling tidak menurut perumusan tujuan/kompetensi pemilihan dan pengorganisasikan materi,pemilihan sumber/ media pembelajaran,scenario pembelajaran,dan peneliaian hasil belejar.bukti fisik dari subkomponen ini berupa dokumen perencanaan pembelajaran (RP/RPP/SP) yang di ketahui )disahkan oleh atasan.pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengolah pembelajaran di kelas.kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (pengecepan kesiapan kelas dan apersepsi)untuk lebih jelasnya berkait hal-hal yang berkitan dengan perencanaan dalam pelaksanaan pembelajaran.
1.        Perencanaan
       Merancang pembelajaran termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan.subkmpetensi ini memiliki indikator esensial memahami landasan kependidikan  menerapkan teori belajar dan pembelajaran menentukan strategi pembelajaran   berdasakan karateristik peserta didik,kompotensi yang ingin di capai dan materi ajar serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang di pilih.
        Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan materi pembalajaran. Materi pembelajran tersebut disusun dalam KD dan indikator yang mengandung ide-ide pokok sesuai dengan kompetensi dan tujuan pembelajaran. KD dan indikator tersebut harus jalan skope dan sekuensi. Skope adalah ruang lingkup dan batasan-batasan keluasan setiap pokok dan sub pokok bahasan, sedangkan sekuensi adalah urusan logis dari setiap pokok dan sub pokok bahasan.  
2.        Pelaksanaan
       Pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara pesrta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dalam diri individu maupn faktor eksternal yang datang dari lingkungan.dalm pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya pelakanaan pembelajaran mencakup tiga hal yaitu pre tes, proses dan pos tes. Ketiga hal tersebut berikut penjelasannya.
a.     Pre tes (tes awal)
                                 Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan dilaksanaan. Oleh karena itu pre tes memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pre tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut: 
(a)     Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajarkarena dengan pre tes mak pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka jawab/kerjakan;
(b)     Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proes pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membadingkan hasil predengan pos tes;
(c)      Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki pesera didik mengenai bahan ajaran yang akan dijadikan topic dalam proses pembelajaran;
(d)Untuk mengetahui dari mana seharusnya proses pembelajaran dimulai, tujuan-tujuan yang telah dikuasai peserta didik, dan tujuan-tujuan mana yang perlu mendapat penekanan dan perhatian khusus.
b.     Proses
                                      Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan inti dalam pelaksanaan proses pembelajaran yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui pokok bahasan. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan aktif karena apabila seluruh peserta didik etrlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosial.
                                      Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya se9bagian besar tujuh puluh lima persen peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri.
c.     Post tes
                                      Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran diakhiri denga post tes. Sama halnya dengan pre tes, pos tes juga memiliki banyak kegunaan, terutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran. Fungsi post tes antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
(a)      Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok . hal inindapat diketahui dengan membandingkan antara hasil pre tes dan pos tes.
(b)     Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh pesrta didik serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya. Sehubungan dengan kompetensi dan tujuan yang belum dikuasai ini, apabila sebagian besar belum menguasainya maka perlu dilakukan pembelajaran kembali (remedial teching).
(c)      Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap komponen-komponen-komponen modul, dan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik terhadap pperencanaan pelaksanaan maupun evaluasi.
1.5.5.       penilaian dari atasan dan pengawasan
penilaian dari atasan dan pengawasan yaitu penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan sosial yang meliputi aspek-aspek ketaatan menjalankan agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, etos kerja, inivasi dan kreatifitas, kemampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerja sama menggunakan format nilai atasan.
Cakupan dan instrument sertifikasi. Sertifikasi guru berbentuk uji kompetensi yang terdiri atas dua tahap yaitu tes tulis dan tes kinerja yang dibarengi dengan self apparaisal dan fortofolio serta peer apparaisal yang dipadukan dengan portofolio, didasarkan pada indicator esensial kompetensi guru sebagai agen pembelajaran.
1.5.6.       prestasi akademik
prestasi akademik adalah prestasi yang dicapai guru utamanya yang terkait dengan bidang keahlian yang mendapat pengakuan dari lembaga-panitia penyelenggara baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional maupun internasional. Komponen ini meliputi meliputi lomba dan karya akademik (juara lomba atau penemuan karya monumental di bidang pendidikan atau non pendidikan dan pembimbingan teman sejawat dan atau siswa (stukturtur guru inti, tutor atau pembibing bukti fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/atau panitia penyelenggara.

1.5.7.       karya pengembangan profesi
karya pengembanganprofesi adalah suatu karya yang menunjukkan adanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru. Kompetensi ini meliputi buku yang dibublikasikan pada tingkat kabupaten/kota,  provinsi atau nasional, artikel yang dimuat dalam media jurnal/ majalah /bulletin yang tidak terakreditasi, dan internasinal; menjadi reviewer, buku, penulis, soal EBSTANAS/UN; modul atau buku cetak local (kabupaten/kota) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama satu semester; media atau alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu maupun kelompok) karya seni (patung, rupa, tari, lukis sastra) bukti fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dan pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut.
1.5.8.       keikutsertaan dalam forum ilmiah
keikutsertan dalam forum ilmiah adalah partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan kabupaten, kabupaten/kota, provinsi nasional maupun internasinal baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa makalah dan sertifikat/piagam bagi nara sumber dan sertifikat/piagam bagi peserta.
1.5.9.       pengalaman menjadi pengurus organisasi
pengalaman menjadi pengurus organisasi adalah pengalaman guru menjadi pengurus dan bukan hanya sebagai anggota disuatu organisasi kependidikan dan sosial. Pengurus organisasi dibidang kependidikan antara lain: pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua jurusan , kepala lab, kepala bengkel kepala studio, ketua organisasi, guru bidang studi, asosiasi profesi dan Pembina kegiatan ekstra kurikuler. Sedangka pengurus dibidang sosial antara lain menjabat ketua RW, ketua RT, ketua LKMD dan Pembina kegiatan keagamaan. Bukti fisik yang dilampirkan adalah sifat keputusan atau surat keterangandipihak yang berwenang. 
1.5.10.   penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
  penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi criteria-kriteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/geografis), kualitatif (komoitmenetos kerja) dan relevansi (dalam bidang) baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotocopy, sertifikat, piagam atau surat keterangan.

2.6.   KOMPETENSI GURU IPS DALAM PROSES PEMBELAJARAN
  2.6.1.  kompetensi utama
                            Salah satu ciri sebagai profesi, guru harus memiliki kompetensi, sebagaimana dituntut oleh disiplin ilmu pendidikan (pedagogi) yang harus dikuasainya. Dalam hal kompetensi ini, Direktorat Tenaga Kependidikan telah memberikan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perbuatan secara profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
   Pada tahun 70-an, Direktorat Tenaga Teknis dan Pendidikan Guru (Dikgutentis) merumuskan sepuluhkompetensi guru, yakni:
(1) memiliki kerpibadian sebagai guru,
(2) menguasai landasan kependidikan,
(3)  menguasai bahan pelajaran,
(4)  menyusun program pengajaran,
(5)  melaksanakan proses belajar mengajar,
(6)  melaksanakan proses penilaian pendidikan,
(7)  melaksanakan bimbingan,
(8)  melaksanakan administrasi sekolah,
(9) menjalin kerja sama dan interaksidengan guru sejawat dan masyarakat, (10) melaksanakan penelitian sederhana.
         Pada tahun 2003, Direktorat Tenaga Kependidikan (nama baru Dikgutentis)
telah mengeluarkan Standar Kompetensi Guru (SKG), yang terdiri atas tiga
komponen yang saling kait mengait, yaitu:
(1)  pengelolaan pembelajaran,
(2)  pengembangan potensi, dan
(3) penguasaan akademik, yang dibungkus oleh aspek sikap dan kepribadian sebagai guru.
       Ketiga komponen kompetensi tersebut dijabarkan menjadi tujuh kompetensi dasar, yaitu
(1)  penyusunan rencanapembelajaran,
                      (2)  pelaksanaan interaksi belajar mengajar,
                (3)  peniliaianprestasi belajar peserta didik,
                (4)  pelaksanaan tindak lanjut hasilpenilaian prestasi belajar peserta didik,
                      (5)  pengembangan profesi,
              (6)  pemahaman wawasan kependidikan, dan
               (7) penguasaan bahan kajian akademik(sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).
                         Ketujuh kompetensi dasar guru tersebut dapat diukur dengan seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Sebagai perbandingan, Australia Barat dikenal memiliki ’Competency Frameworkfor Teachers’. Kompetensi standar di Australia Barat ini meliputi lima dimensi, yakni;
(1) facilitating student learning,
(2) assessing student learning outcomes,
(3) engaging in professional learning,
(4) participatingto curriculum and program initiatives in outcome focused environment, dan
(5) forming partnerships within the school community.
                                    kata lain, lima bidang kompetensi dasar guru di Australia Barat adalah sebagai berkut.
 (1)  memfasilitasi pembelajaran siswa,
(2)   menilai hasil belajar siswa,
 (3)  melibatkan dalam pembelajaran profesional,
(4) berperan serta untuk pengembangan program dankurikulum dalam lingkungan yang berfokus kepada hasil belajar,
(5)  membangunkebersamaan dalam masyarakat sekolah.
Lima dimensi tersebut memiliki indikator yang berbeda untuk tiga jenjang guru, yakni phase 1 (level 1),phase 2 (level 2), dan phase 3 (level 3). Jika dibandingkan dengan lima dimensi kompetensi di Australia Barat tersebut, maka tampakla bahwa sepuluh kompetensi dasar menurut Dikgutentis agaknya jauh lebih lengkap, karena sudah mencakup kompetensi membangunkerjasama dengan sejawat dan masyarakat. Bahkan mencakup kemampuan mengadakan penelitian sederhana, misalnya mengadakan penelitian tindakankelas atau classroom action research. Dalam hal ini, tujuh kompetensi dasar menurut Dit Tendik belum mencakup kompetensi membangun kerja sama dengan sejawat dan masyarakat.
Posisi guru sebagai salah satu profesi memang harus diakui dalam kehidupan masyarakat. Guru harus diakui sebagai profesi yang sejajar sama tinggi dan duduk sama rendah dengan profesi-profesi lainnya, seperti dokter, hakim,jaksa, akuntan, desainer interior, arsitektur, dan masih banyak yanglainnya.Sebagai profesi, guru memenuhi kelima ciri atau karakteristik yang melekat pada guru, yaitu:
(1) memiliki fungsi dan signifikansi sosial bagi masyarakat, dirasakan manfaatnya  bagimasyarakat
(2)  menuntut keterampilantertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang  cukup yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan,
(3) memiliki kompetensi yang didukung oleh suatu disiplin ilmu tertentu (a
systematic body of knowledge),
(4)   memiliki kode etik yang dijadikan sebagaisatu pedoman perilaku anggota beserta  sanksi yang jelas dan tegas terhadappelanggar kode etik tersebut,
(5) sebagai  konsekuensi dari layanan dan  prestasi yang diberikan kepada masyarakat,maka,nggota,profesi,secara,perorangan atau kelompok berhak memperoleh imbalan finansial atau  material.
Salah satu ciri guru sebagai profesi yang amat penting adalah guru harus
memiliki kemampuan sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Jika dibandingkan dengan competency framework for teachers di Australia Barat, sepuluh kompetensi guru menurut Dikgutentis sebenarnya lebih lengkap,karena terdapat kompetensi membangun kerjasama dengan sejawat dan masyarakat, serta mengadakan penelitian sederhana, yang kedua kompetensi tersebut tidak ada dalam tujuh kompetensi dasar guru yang diterbitkan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan.
Pencanangan guru sebagai profesi sebagai salah satu agenda seratus hari
Kabinet Indonesia Bersatu memang amat fokus dan mendasar. Yang lebih dari hanya sekedar pencanangan adalah praktiknya, yakni implikasi dan konsekuensi dari pencanangan itu yang memang sedang ditunggu-tunggu oleh masyarakat guru di Indonesia, misalnya lahirnya UU Guru, sertifikasi guru, uji kompetensi guru, dan last but not least adalah gaji guru. Insyaallah.
1.        Aspek akademik
        Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang guru pada sekolah harus mendala terutama meliputi hal-hal Beberapa hal yang perlu diketahui seoang Guru dalam kegiatannya sebagai pendidik,bangsa,yaitu:
(a)            Pengetahuan tentang pedagogical; yakni memahami permasalahan secara  mendalam, sehingga siswa dapat terbantu memahami permasalahan mereka.
(b)           Pengetahuan tentang perkembangan siswa, agar terbentuk pengalaman belajar yang,produktif. Pengetahuan tentang perbedaan siswa dalam hal budaya, inteligensi serta gayabelajar.
(c)           Pengetahuan akan kemampuan agar murid dapat belajar secara efektif, termotivasi  untukterlibat dalam kegiatan belajar. Kemampuan untuk memvariasikan strategi belajar,sesuai,tujuan,yang,akan,dicapai.
(d)           Pengetahuan akan sumber kurikulum, termasuk bagaimana mengajak murid  mengekspresikan ide-ide mereka dan me­nyusun informasi serta menyelesaikan masalah.
(e)            Pengetahuan berinteraksi dengan murid, sesama Guru serta orang tua.
      Pengetahuan dan kemampuan untuk mengintrospeksi diri.
Idealnya, kegiatan sehari-hari para Guru tidak dapat dipisahkan dengan  pengembangan  profesionalisme mereka sendiri. Dalam kegiatan belajar-mengajar,baik,pertanyaan,maupun,masalah,selalu,timbul.Untuk mengatasinya, Guru akan menggunakan teori dan mengadakan penelitian untuk mendapatkan solusi. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan profesional bukan hanya aktivitas yang terbatas dalam suatu event tertentu, akan tetapi lebih pada kegiatan,berkelanjutan.
              Oleh karena itu, pengembangan profesional dapat diterapkan di mana saja. Hingga pada akhirnya, seorang Guru akan menjadi seorang pencerminan sejati, yang tak bosan belajar, bukan hanya sekedar event formal yang terorganisir. Sampai saat ini, penghargaan atas prestasi Guru dipandang sebagai salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan kinerja seorang Guru. Kesejahteraan Guru memang tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini merupakan sebuah bentuk penghargaan bagi para Guru yang berprestasi sehingga dapat memacu semangat guru untuk memberikan kontribusi,pada,sekolah. Bukan jaminan, memberikan penghargaan dengan bentuk kenaikan gaji dapat menjamin seorang Guru akan lebih baik. Akan tetapi, memberikan penghargaan pada Guru dapat membantu sekolah meraih ekspetasi yang lebih tinggi dan juga menjaga agar para Guru tetap berkomitmen pada sekolah tempat mereka mengajar.
2.        Aspek professional (jelaskan)
Beberapa jenis kemampuan yang perlu dimiliki oleh guru IPS pada sekolah diatas  bukan hanya dalam tataran teori tapi juga praktek. Dalam hal ini secara rinci guru-guru diharapkan mampu mempraktekan hal-hal seperti apa? jelaskan
3.        Aspek kepribadian (jelaskan)
Seorang guru IPS harus memiliki kepribadian yang baik terutama meliputi hal sebagai berikut:
      a)  memiliki dan mengembangkan jiwa pendidik
     b)  mengembangan sifat-sifat terpuji
 2.6.2. kompetensi pendukung.
 1. kemampuan membangun hubungan/komunikasi
           Pengetahuan teori dan praktek tersbut ditunjukkan dalam suatu cara yang baik yang meliputi:
(a)      Mengutamakan kerja kolektif sesame guru dan warga sekolah lainya dalam menanamkan nilai-nilai ke-tuhanan;
(b)     Membangun lingkungan kerja yang sehat bersahabat (healli relationship)
(c)      Membangun jalanya program dan kebijakan sekolah serta berpartisipasi didalamnya;
(d)     Menjaga komunikasi dengan orang tua siswa dan masyarakat;
(e)      Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat di sekolah;
(f)      Menjaga kerahasiaan dan kejujuran;
(g)     Mengikuti peraturan dan prosedur yang berlaku dalam sekolah;
(h)     Menerima tanggung jawab yang diberikan.
 2. kemampuan dalam kepemimpinan (leadership)
      Aspek kemampuan dalam kepemimpinan yang perlu dimiliki oleh guru IPS di sekolah meliputi:
(a)   Mendorong anak didik untuk tidak bergantung pada orang lain dalam belajar;
(b)   Menunjukkan kemampuan dalam berpartisipasi dan fleksibel;
(c)   Focus pada pelajaran dan pembelajaran;
(d)  Menunjukan sikap adil, tidak memihak atau mengistimewakan seorang anak lebih dari anak yang lain;
(e)   Member dukungan dan bantuan kepada guru yang menghadapi masalah;
(f)    Mewujudkan perilaku yang sopan dan bertanggung jawab;
(g)  Mengakui, menghargai dan member dukungan terhadap perbedaan pandangan dan sikap dalam kelompok dan individu;
(h)  Mengolahsumber-sumber yang ada secara efektif dan benar.
2.        kemampuan dalam mengembangan diri
Guru IPS yang baik adalah yang mampu mengembangkan kemampuan profesionalismenya secara turun temurun (ongoing self-development). Kemampuan mengembangan tersebut dibuktikan dengan antara lain:
(a)   mengambil inisiatif dalam mengembangkan kemampuan diri tampa perlu menunggu intruksi atasan;
(b)   menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari metode mengajar terkini;
(c)   melakukan refleksi dan riset sederhana terhadap metode pengajaran sendiri;
(d)  mengikuti pelatihan-pelatihan atau pertemuan-pertemuan formal tentang pendidikanIPS khususnya;
(e)  melakukan dialog-dialog informal untuk berbagi pengalaman dengan sesama guru
(f)   member bantuan baik secara langsung maupun tertulis kepada guru-guru lain;
(g)  mendorong sesame guru dan tenaga kepndidikan lainnya untuk melakukan kerja kolektif dalam memberi masukan bagi perbaikan pengajaran dan praktek di sekolah. 





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.  Metode Yang Digunakan
Metode yang digunakan untuk memecahkan masalah ini adalah metode penelitian deskripsitif dengan pendekatan kualitatif. Secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat gambaran ( deskripsi ) melalui situasi-situasi atau kejadian-kejadian ( Suryabrata, 2002 : 19 ). Dalam karya yang lain juga dinyatakan bahwa penelitan deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberi gejala-gejala fakta atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akuarat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu ( Riyanto, 2001S : 23 ). Dengan demikian, tujuan metode penelitian ini adalah menggunakan ( mendeskripsikan ) secara fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara fatual dan akurat.
Adapun desain yang digunakan dalam metode deskriptif ini adalah penelitian kualitatif, yakni penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya pelaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain. Oleh karena itu, ada dua pemikiran kritis pada umumnya muncul dari keberadaan bentuk penelitian tindakan yaitu ide yang muncul dari suatu group dan adanya komitmen dan penelitian terhadap peningkatan subyek yang diteliti menjadi lebih baik (Sukandi, 2003 : 112). Ide itu muncul berkaitan bagaimana pengembangan pekerjaan dilihat dari sisi peneliti , sedangkan komitmen yang muncul adalah bagaimana memperbaiki subjek yang diteliti.Bermula dari keadaan yang ada kemudian ditingkatkan memjadi lebih baik sesuai dengan harapan.
Rancangan pada dasarnya merencanakan suatu kegiatan sebelum dilasanakan. Kegiatan merencanakan itu mencangkup komponen-komponen penelitian yang diperlukan. Menurut Margono ( 2003 : 100 ) rencana penelitian merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan yang matang hal-hal yang akan dilakukan, sedangkan Nasir ( 1999 : 12 ) menyatakan bahwa desain penelitian adalah  semua proses yang diperlukan dalam rencana dan pelasanaan penelitian.

Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian diisyaratkan ada rencana ( desain ) penelitian sebagai landasan berpijak, serta dapat disajikan dasar penelitian baik oleh peneliti itu sendiri maupun orang lain terhadap kegiatan penelitian. Dengan demikian, desain penelitian bertujuan untuk memberikan tanggung jawab terhadap semua langkah yang akan diambil. Desain tersebut dapat disusun secara berbeda-beda tergantung pada penelitian.

3.2.   Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela, yang beralamatkan di Desa Sekarbela Kecamatan Sekarbela Kota Mataram. Penelitian ini dilakukan pada guru IPS georafi yang terdiri dari 3 orang

guru, Pengambilan subjek penelitian didasarkan dari hasil observasi awal yang dilakukan Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela di mana proses belajar peserta didik kelas VII, VIII, dan VIII belum optimal, ditandai dengan banyak peserta didik yang pasif dalam proses pembelajaran. Proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru, guru cenderung lebih banyak ceramah dalam menyampaikan materinya.
MTs. Badrussalam NW ini berada ditengah-tengah perkampungan Desa Sekarbela Kecamatan Sekarbela Kota Mataram yaitu sebagai berikut.
1.        Sebelah timur berbatasan dengan perkampungan;
2.        Sebelah barat berbatasan dengan perkampungan;
3.        Sebelah utara berbatasan dengan perkampungan;
4.        Sebelah selatan berbatasan dengan perkampungan.

3.3.    Penentuan Subjek Penelitian
Seorang Peneliti harus mampu menentukan subjek penelitian Karena dari mereka akan memberikan informasi tentang objek atau masalah yang ia teliti.  Mengingat pentingnya subjek penelitian maka untuk menentukanya ada beberapa cara yang dapat ditempuh, namun demikian terlebih dahulu harus diketahui makna populasi dan sampel secara teoritis untuk menentukan subjek penelitian.
Populasi mengandung arti totalitas dari semua nilai mengenai subjek, objek, individu  atau  peristiwa  sebagai  hasil  mengukur atau menghitung baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif dari   karakteristik   tertentu
mengenai kesimpulan objek yang lengkap dan yang jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya ( Sadjana, 2002 : 6 ) pendapat lain menyatakan bahwa ‘’ Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang sama ‘’ ( Sugiono, 2000 : 55 ) . Sedangkan menurut Arikunto ( 2002 : 108 ), populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan semua subjek, objek, individu atau peristiwa yang lengkap jelas dan diamati yang memiliki sifat-sifat serta memenuhi syarat-syarat tertentu dalam suatu penelitian. Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru IPS geografi   Di MTs.Badrussalam NW Sekarbela Tahun Pelajaran 2010-2011, dengan jumlah 4 orang guru IPS geografi Di MTs. Badrussalam NW Sekarbela Desa Sekarbela Kecamatan Sekarbela Kota Mataram.
Subjek penelitian ini merupakan informasi atau orang yang dimamfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian ( Arikunto, 2002 : 107 ) . Jadi seorang informan harus mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian. Dalam penelitian ini informan yaitu guru-guru IPS geografi dan siswa kelas VII, VIII, dan VIIII. Namun tidak menutup kemungkinan informan yang diteliti menunjuk informan lain untuk memberikan informasi atau untuk melengkapi informasi.

3.4.  Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk penngumpulan data adalah metode dokumentasi, metode wawancara dan metode observasi
3.4.1.      Metode Dokumentasi
                              Dalam buku metode penelitian dijelaskan bahwa Dokumentasi adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan jalan mengumpulkan segala macam dokumen serta mengadakan pencatatan yang sistematis ( Sugiono, 1999: 77 ). Sedangkan menurut pendapat lain mengatakan bahwa Dokumentasi adalah suatu cara untuk mencari data-data  atau hal-hal yang berupa catatan transkrip ( Arikunto, 2001: 197 ).
                                     Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Dokumentasi adalah suatu cara untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mencatat keterangan-keterangan yang terdapat dalam dokumen seperti raport, catatan-catatan khusus dari para guru yang terkait dengan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi untuk memperoleh data aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran geografi dan kendala-kendala yang dihadapi guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan Di MTs.Badrussalam NW Sekarbela Tahun Pelajaran 2010-2011.



3.4.2.      Metode Wawancara
Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, dan percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang memberikan jawaban. Pelaksanaan wawancara dilakukan dengan pertanyaan tersetruktur yang ditujukan kepada guru mata pelajaran geografi. Wawancara digunakan untuk memperoleh keterangan tentang kejadian yang tidak dapat diamati sendiri secara langsung oleh peneliti. Wawancara juga digunakan untuk menggali kendala-kendala yang dihadapi guru IPS geografi. Dari uraian tentang  wawancara di atas dapat dipahami bahwa wawancara dapat digunakan sebagai metode untuk mengumpulkan data tentang pendapat guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan.

3.4.3.      Metode Observasi
Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan langsung secara sistimatis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1980: 36). Pendapat lain mengatakan observasi adalah suatu penyelidikan yang dilakukan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indra (terutama mata terhadap kejadian-kejadian yang langsung ditangkap pada kejadian itu terjadi) (Bimo, 1980 : 54) ,metode observasi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat secara langsung pada lokasi yang diteliti. Adapun yang diobservasi dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi para guru, dengan demikian data yang akan diperoleh melalui metode ini merupakan realita dilapangan.

3.5.  Jenis Dan Sumber Data
3.5.1   Jenis Data
 Sebagaimana tujuan pendidikan adalah menemukan bagaimanakah kendala-kendala mendasar guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan Di MTs.Badrussalam NW Sekarbela tahun ajaran 2010-2011. Menurut para ahli bahwa jenis penelitian ini dapat dibagi menjadi dua macam antara lain:
1.    Jenis data kualitatif adalah jenis data yang digambarkan dengan kata-kata atau gambar,biasanya dengan nilai. Misalnya baik-buruk, tinggi-rendah dan sebagainya
2.    Jenis data kuantitatif yaitu nilai dari perubahan yang dinyatakan dalam rangka angka-angka ( numetik data ) ( Arikunto, 1994 : 89 )
Dari pendapat tersebut maka jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dengan alasan bahwa data kualitatif dapat menunjukkan kendala-kendala mendasar guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan.


3.5.2 Sumber Data
                          Menurut Nana Sudjana, ( 1996 : 78 ), sumber data penelitian dapat dibagi menjadi  dua yaitu data primer dan data skunder yang antara lain:
a.    Data primer adalah data utama atau data yang diperoleh secara langsung dari tangan pertama di lapangan. Jadi dalam penelitian ini, data primer adalah data yang bersumber pada objek yang diteliti atau data yang diperoleh secara langsung.
b.     Data skunder adalah sumber data yang dikutip dari sumber lain yang mendukung proyek penelitian ( Arikunto, 1998 : 80 ). Jadi data skunder adalah data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan dokumentasi-dokumentasi, arsip, dan lain-lain . Data skunder ini merupakan data penunjang atau pelengkap dari data primer.
                 Jadi dalam penelitian ini data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan menggunakan data primer, karena semua data yang diambil langsung  atau asli dari subjek yang diteliti dan data skunder sebagai data pelengkap. Untuk lebih jelasnya sebagaimana dinyatakan dalam suatu pendapat bahwa’’ pengumpulan data yang diambil oleh peneliti dari responden disebut sumber data primer, sedangkan pengumpulan data melalui tangan kedua disebut sumber data skunder” ( Nazir,1998 : 108 ).
3.6.   Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel
3.6.1  Identifikasi fariabel
                           Menurut pendapat seorang ahli bahwa operasional variable adalah “ suatu ruang lingkup kajian yang dikaji dalam penelitian” ( Sutrisno Hadi, 1993 : 24 )
1.    Variabel bebas ( indevenden ) yaitu variable yang dapat mempengaruhi variable terikat ( Zainal arifin, 1983 : 35 ).
2.    Variabel terikat ( devenden ) yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas
( Zainal arifin, 1983 : 35 )variabel terikat dalam hal ini diberlakukan meningkatkan aktifitas belajar siswa.
2.6.2.    Definisi Operasional Variabel
                           Definisi oprasional yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.        Metode pengajaran adalah metode atau cara atau teknik yang mutlak harus dimiliki, karena dengan pemilikan metode dasar mengajar ini guru mengoptimalkan peranannya di kelas ( Syaiful Bahri dkk, 2000 : 99 )
2.        Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informasi dengan berbagai pengalaman pengambilan kesimpulan dan pemecahan masalah ( Uzer Usman, 2002 : 94 )
2.6.3.  Teknik Analisis Data
                                   Analisis data menurut Bogdan dan Baklin ( dalam Moleong, 2004 : 348 ) adalah upaya yang  dilakukan dengan jalan dengan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi kesatuan yang dapat dikelola, menetralisasikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan perlu dipelajari, dam memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
                                     Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang dipergunakan adalah perpaduan antara teknik analisis data kualitatif yang dikuantitatifkan Karena data yang diperoleh dari hasil metode pengumpulan data akan dibulatkan kriteria berupa data kuantitatif. Teknik analisis data kualitatif menurut Seiddel ( dalam Moleong , 2004 : 248 ) adalah ( 1 ) reduksi data, ( 2 )display data, ( 3  )verify data atau penarikan kesimpulan . Ketiga teknik analisis data akan dipakai dalam penelitian ini.
1.        Reduksi data adalah proser penyederhanaan yang dilakukan melalui selekai, memfokuskan dan mengabstrasikan data mentah menjadi informasi yang bermakna. Data-data yang diperoleh dipilih dan dipilah berdasrkan kelompoknya, kemudian dipaparkan dan diambil mana yang berkaitan dengan fokus penelitian.
2.        Display data adalah menyajikan data sesuai dengan katagori dalam bentuk matrik atau gtafik sehingga sehingga data yang terkumpul dapat memberikan gambaran secara menyeluruh tentang apa yang menjadi fokus penelitian . Display ini bertujuan untuk mempermudah data yang telah didapat untuk dianalisis berdasarkan fokus penelitian yang ditetapkan.
3.        Verifikasi data atau penarikan kesimpulan adalah pengambilan intisari dari sajian datayang telah diorganisasikan tersebur ke dalam bentuk pertanyaan kalimat yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas.
4.        Kriteria penelitian dalam melakukan penelitian tentang kendala-kendala mendasar guru IPS geografi dalam menghadapi program sertifikasi tenaga kependidikan didasarkan atas tiga kriteria yaitu partisipasi individu, cara mengemukakan argument dan cara memecahkan suatu masalah.
                



FAKTOR KENDALA GURU IPS GEOGRAFI DALAM MENGHADAPI PROGRAM SERTIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN

0 comments:

Post a Comment