Tuesday, October 23, 2012

kumpulan skripsi fisika PENERAPAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA


PENERAPAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN
AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA
SISWA KELAS X DI MAN 2 MATARAM


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi sekarang ini, fisika memegang peranan penting. Dengan bantuan fisika, semua ilmu pengetahuan menjadi lebih sempurna. Oleh karena itu, pelajaran fisika diajarkanmulai pendidikan menengah bahkan sampai perguruan tinggi. Selain itu, fisika mendapat prioritas utama untuk dikembangkan karena fisika merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Fisika itu sulit, begitu kesan yang sering beredar di antara sebagian besar siswa dari sekolah menengah pertama hingga menengah atas, bahkan mahasiswapun sering memiliki kesan serupa. Kesan ini diyakini sebagai salah satu penyebab kurangnya minat sebagian besar siswa pada pelajaran fisika.Selain itu, para guru juga berkecendrungan menggunakan strategi pembelajaran konvensional yang dikenal dengan istilah seperti: pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered approach), Pembelajaran langsung (direct intruction), pembelajaran deduktif (deductive teaching), ceramah (axpository teaching) maupun whole class instruction (Tran Vui dalam Irzani, 2007: 3).
Pendekatan-pendekatan seperti inilah yang menyebabkan kadar keaktifan dan prestasi belajar siswa menjadi rendah dan kadangkala siswa menjadi bosan.
1
 
Pendekatan konstruktivis salah satu pendekatan yang memungkinkan tingginya aktivitas siswa serta pentingnya membangun sendiri pengetahuan siswa dalam belajar yakni menemukan masalah-masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa sebagai titik awalpembelajaran fisika untuk menunjukan bahwa fisika sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari, lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar (Trianto,2007:106).
Model pembelajaran yang dilandasikonstruktivismeyaitu model siklus belajar (Learning Cycle) merupakan salah satu model yang berpusat pada pebelajar (student centered)yang perlu dikedepankan, karena dapat menciptakan kesempatan untuk memberikan pengalaman fisik, interaksi sosial dan regulasi sendiri pada siswa (Nuryani dalam Sutarno, 2003: 156).
MAN 2 Mataram sebagai sekolah yang cukup memadai dilihat dari segi sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar yang baik, masih memerlukan penggunaan pendekatan pembelajaran yang dapat berpengaruh pada peningkatan belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi di MAN 2 Mataram pada tanggal 25 Maret 2011 khususnya dengan guru mata pelajaran fisika, bahwa penerapan pendekatan konstruktivisme dengan model siklus belajar belum pernah diterapkan akan tetapi guru cenderung menggunakan metode ceramah, sehingga pembelajaran siswa masih tergolong pasif, siswa hanya mendengar dan mencatat apa yang disampaikan guru tanpa mengerti lebih dahulu materi yang disampaikan. Sehingga hal tersebut berdampak kepada keragu-raguan siswa dalam mengajukan pertanyaan seputar materi yang disampaikan, dalam hal ini tentu mengakibatkan siswa kurang tertarik untuk mengulang pelajaran yang didapatkan di sekolah. Selain itu, materi yang diajarkan jarang dikaitkan dalam kehidupan nyata, sehingga siswa sering beranggapan kalau materi yang diajarkan itu tidak berguna dalam keseharian, akhirnya siswa kurang berperan aktif dan prestasi belajar siswa tergolong sangat rendah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel nilai rata-rata ujian siswa pada pokok bahasan gerak lurus dengan kriteria ketuntasan maksimal (KKM) 60.
Tabel 1.1
Nilai rata-rata ujian siswa kelas X semester ganjil Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram 2010-2011.

Kelas
Jumlah siswa
Nilai rata-rata
Jumlah siswa tuntas
Ketuntasan belajar
Keterangan
X
41
59,6
18
43,90%
Tidak tuntas
X
40
58,3
19
47,50%
Tidak tuntas
      Sumber: (Arsip guru fisika kelas X semester ganjil MAN 2 Mataram tahun                   ajaran 2010/2011).

Berdasarkan data tersebut menunjukkan nilai pada mata pelajaran fisika memiliki ketuntasan klasikal masih kurang, sementara siswa dikatakan tuntas belajar jika proposi jawaban benar siswa 60, dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya jika di kelas tersebut terdapat 85% siswa telah mencapai mencapi ketuntasan belajar individu.
      Adanya pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya mempengaruhi pemahaman siswa untuk dapat mencapai secara klasikal. Penggunaan pendekatan konstruktivisme dengan model siklus belajar merupakan metode yang tepat untuk mengatasi kesulitan siswa dalam belajar fisika. Oleh karena itu peneliti mengadakan penelitian yang berjudul ” Penerapan Pembelajaran KonstruktivismeDengan Model Siklus Belajar Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Prestasi Belajar Fisika SiswaKelas X Di MAN2 Mataram”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.Apakah pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapat meningkatkan aktivitas belajar fisika siswa kelas X di MAN 2 Mataram?.
2.Apakah pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas X di MAN 2 Mataram?.
C. Tujuan Penelitian
            Adapun tujuan penelitian ini adalah:
  1. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran konstruktivisme denganmodel siklus belajar terhadap aktivitas belajar fisikasiswa kelas X di MAN2 Mataram.
  2. Untuk mengetahui penerapan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X di MAN 2 Mataram?.



D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terdiri dari dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1.Manfaat Secara Teoritis
a.       Menambah khasanah keilmuan peneliti dan pembaca tentang pembelajaran konstruktivisme melalui siklus belajar.
b.      Menjadi bahan rujukan bagi peneliti berikutnya yang ingin mendalami tentang  pembelajaran konstruktivisme melalui siklus belajar.
2.Manfaat Secara Praktis
a.       Bagi siswa:
Penerapan pembelajaran konstruktivismemelalui model siklus belajar dihararapkan dapat merangsang motivasi, semangat belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
         b. Bagi guru:
 Penerapan pembelajaran konstruktivismemelalui model siklus belajar diharapkan dapat menjadi alternatif lain dalam mengelola proses belajar mengajar, sehingga siswa tidak merasa bosan dengan pelajaran yang disampaikan guru.
         c. Bagi sekolah
Penerapan pembelajaran konstruktivismemelalui model siklus belajar diharapkan sebagai alternatif lain dalam pemilihan metode di Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram
.
d.      Bagi peneliti
Penerapan pembelajaran konsrtuktivisme melalui model siklus belajar diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan, memperkaya wawasan strategi pembelajaran berikutnya di lapangan yang berguna bagi profesi peneliti di masa mendatang.
E. Lingkup Penelitian
1.   Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012.
2.   Subjek Penelitian.
Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Xu2 MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012.
3.   Objek Penelitian
Sebagai objek dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas Xdi MAN 2 Mataram.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Belajar dan Pembelajaran
1.Pengertian Belajardan Pembelajaran
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan (Hamalik, 2008: 36). Pendapat lain menyatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan untuk tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi di lingkungan.”(Slameto, 2003: 2).
Menurut Sudirman (2003: 2), belajar dapat dilihat dalam arti luas maupun sempit. Dalam pengertian luas, dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
Selain ahli di atas, ada juga beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang belajar dan pembelajaran yaitu:

7
 
1.      Menurut Skiner Dalam Mudjiono (2009: 7-9)
Belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Sehingga oleh Skiner dalam belajar ditemukan adanya hal sebagai berikut: Kesempatan terjadinya yang menimbulkan respon belajar, respon si pembelajar, dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.
Dalam menerapkan teori Skiner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting; pertama pilihan stimulas, kedua penggunaan penguatan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang tepat sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan kondisi operan.Adapun langkah-langkah pembelajaran berdasarkan kondisioning operan tersebut adalah: Mempelajari keadaan kelas, membuat daftar penguat positif, memilih dan menentukan ukuran tingkah laku yang dipelajari dan tingkat penguatannya, dan membuat program pembelajaran.
2.      Menurut Gadne Dalam Mudjiono (2009: 9)
Belajar adalah kegiatan yang kompleks dan terdiri dari tiga komponen penting; kondisi eksternal, kondisi internal dan hasil belajar. Sehingga belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dan lingkungannya. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang berupa informasi verba, keterampilan motorik sikap dan siasat kognitif, dan kelima hasil tersebut merupakan kapabilitas.
3.      Menurut Piaget Dalam Mudjiono (2009:9-12)
               Piaget berpendapat bahwa, pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Piaget juga menyarankan guru harus memperhatikan empat langkah pembelajaran yaitu: Menentukan topik, memilih dan mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tersebut, mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan perannya yang menunjang proses pemecahan masalah, menilai pelaksanaan kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi.
4.      Menurut Rogers Dalam Mudjiono (2009:13-16)
Menurut pendapatnya, praktik pendidikan menitik beratkan padasegi pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktik tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran. Dengan melihat hal tersebut, Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran. Prinsip pendidikan dan pembelajaran sebagai berikut:
1)   Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar.
2)   Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3)   Pengorganisasian bahan pelajaran berarti dan mengorganisasikan bahan dan ide baru, sebagai bahan yang bermakna bagi siswa.
4)   Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar  tentang proses-proses belajar, keterburukan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan melakukan perubahan diri terus-menerus.
5)   Belajar yang optimal akan terjadi, bila siswa berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar.
6)   Belajar mengalami (Exeriental Learning)  dapat terjadi, bila siswa mengevaluasi diri.
7)   Belajar mengalami tuntutan keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-sungguh.
            Berdasarkan uraian di atas, belajar adalah suatu proses atau serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang mengangkut unsur cipta, rasa dan karsa, rana kognitif, efektif, dan psikomotorik.
            Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan rancangan yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Aqib, 2003: 41). Sedangkan Menurut Hamalik (2008: 61), pembelajaran yang upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.


2.  Ciri-Ciri Belajar dan Pembelajaran
Menurut Djamarah  (2002,15-16), Ada beberapaperubahan tertentudalam ciri-ciri belajar
a.       Perubahan yang terjadi secara sadar.
Individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadiadanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya, ia menyadari bahwa pengetahuan, kecakapan dan kebiasaanya bertambah.
b.      Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan  ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya, jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan tidak menulis menjadi dapat menulis.
c.       Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Misalnya, perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam, tidak termasuk dalam pengertian belajar.
d.      Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya, kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang, melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.
e.       Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.
Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu tejadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya, seseorang yang belajar mengetik sebelumnya sudah menetapkan  apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik.
f.       Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Perubahan yang diperoleh individu setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya. Misalnya, jika seorang anak telah belajar naik sepeda, maka perubahan yang paling tampak adalah keterampilan naik sepeda itu. Akan tetapi, ia telah mengalami perubahan-perubahan lainnya seperti pemahaman tentangcara kerja sepeda, pengetahuan tentang jenis-jenis sepeda, alat-alat sepeda dan sebagainya.
Sedangkan menurut Hamalik (2008: 61), ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran yaitu:
1.      Rencana adalah penataan ketenangan, material, dan rancangan yang merupakan unsur-unsur pembelajaran dalam suatu rencana rencana khusus.
2.      Kesalingtergantungan (Interdepence), antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3.      Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem alami.
Berdasarkan pendapat di atas, pembelajaran adalah suatu kegiatan yang komplek dalam menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
B. Pembelajaran Konstruktivisme
     1. Pengertian Pembelajaran Konstruktivisme
Pembelajaran konstruktivisme menekankan pada pemikiran bahwa pengetahuan dibangun oleh siswa sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit).Pengetahuan bukan seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan mengambil makna dari pengalaman nyata. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks kesituasi lain dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Pembelajaran konstruktivisme meningkatkan kemampuan berpikir, kreatif dan kritis.Melatih siswa berfikir kritis untuk menyelesaikan masalah, menemukan ide dan mengambil keputusan. Hal ini dapat dilihat pada aktivitas-aktivitas berikut a. pembelajaran berpusat pada siswa, b. Aktivitas belajar berdasarkan ‘hands on and minds on’, c. Siswa dapat mengemukakan pendapatnya tentang suatu konsep, d. Siswa belajar dan bekerja kelompok, e. Siswa mengaplikasikan pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah (Sukardi, 2005: 26-27).
Menurut Mulyasa (2002: 160), pembelajaran konsrtuktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang diketahui orang sebelumnya. Oleh karena itu dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh atau sampai pada kesamaan pemahaman dengan siswa.Dalam konstruktivis, pembelajaran melibatkan pertukaran fikiran dan interpretasi.Wacana penyusaian pikiran ini dapat dilakukan antara siswa dengan guru atau antara sesama siswa.
Dalam Budiningsih (2004: 53) dijelaskan bahwa menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus selalu dilakukan oleh siswa, mereka harus melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Paradigma konstruktivisme memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan bimbingan,
Pembelajaran yang berlangsung selama ini banyak berpijak pada teori pembelajaran konvensional.Dimana gurumendominasi kegiatan pembelajaran melalui metode ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberi respon sesuai dengan materi yangdiceramahkan.Berbeda dengan bentuk pembelajaran di atas, pembelajaran konstruktivisme membantu siswa mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk srtuktur kognitif baru.
Berdasarkan beberapa pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih terfokus pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka dan bukan pula keputusan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Secara rinci perbedaan karakteristik pembelajaran konvensional dan pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 perbedaan karakteristik pembelajaran konvensional dan pembelajaran konstruktivisme
No
Pembelajaran konvensional
Pembelajaran konstruktivisme
1.
Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju keseluruhan dengan menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar.
Kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju kebagian-bagian dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas.
2.
Pembelajaran sangat taat kepada kurikulum yang telah ditetapkan.
Pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan buku teks dan buku kerja.
Kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4.
Siswa dipandang sebagai ”kertas kosong” yang dapat digoresi informasi.
Siswa dipandang sebagi pemikir-pemikir yang dapat memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5.
Penilaian hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
6.
Siswa-siswa biasanya bekerja sendiri, tanpa ada group process dalam belajar.
Siswa-siswa banyak belajar dan bekerja dalamgroup process.
(Budiningsih,2004: 57).                                        

Menurut Nuryani dalam Sutarno (2003) dikenal beberapa model pembelajaran yang dilandasi konstruktivisme yaitu model siklus belajar (learning cycle model), model pembelajaran generatif (generative learning model), model CLIS (Children Learning In Science). Masing-masing model tersebut memiliki kekhasan tersendiri, tetapi semuanya mengembangkan kemampuan struktur kognitif untuk membangun pengetahuan sendiri melalui berpikir rasional. Kekhasan model tersebut tampak pada tahapan (fase) kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Perbandingan fase-fase dari model-model tersebut dirangkum pada Tabel  di bawah ini:
2. Kelebihan dan Kekurangan
a. Kelebihan
Adapun kelebihan pembelajaran konstruktivisme sebagai berikut: 1). Guru sebagai penolong, pemudahcara dan perancang, 2). Menerapkan nilai kooperatif dan kolaboratif dalam diri murid, 3). Tidak menggunakan kaedah atau teknik tradisi seperti, arahan, menghafal, dan mengingat, 4). Penguasaan teknik lisan dan buku lisan.
b.   Kekurangan
Selain daripada kelebihan, pembelajaran konstruktivisme mempunyai kelemahan yang tersendiri yaitu: 1). siswa tidak dapat mengasimilasikan dan menyusun ide saintifik baru, 2) Ketidaksediaan murid untuk merancang strategi berfikir dan menilai sendiri teori pengajaran berdasarkan pengalaman sendiri, 3). Murid terpaksa mengenal ide-idealternatif dan memeriksa secara kritis sebelum mereka memahaminya (Mok Song Sang dalam Sukemo, 2006:5-6).
3.         Langkah-langkah konstruktivisme
Adapun langkah-langkah penerapan pembelajaran konstruktivisme menurut Aqib (2002:20) yaitu:
a.      Guru mendorong munculnya diskusi terhadap pengetahuan baru yang telah dimiliki siswa sebelumnya.
b.      Memotivasi untuk berpikirdengan cara mengaitkan materi yang sebelumnya dengan materi yang akan di sampaikan dan melakukan pemecahan masalah berdasarkan lebih dari satu jawaban yang benar.
c.       Melibatkan siswa dalam aktivitas belajar seperti main peran, simulasi, debat dan pemberian penjelasan kepada teman.
d.      Memanfaatkan keterampilan berpikir kritis dengan menganalisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi dan mengajukan hipotesi masalah  yang sedang dibahas.
e.       Guru menjelaskan kaitan informasi baru dengan pengalaman pribadi siswa atau kepengetahuan yang telah dimiliki siswa.
f.       Guru menggunakan segala informasi yang diperoleh pada situasi baru.
g.      Lakukan penilaian dengan berbagai cara.

C. Model Siklus Belajar
1. Pengertian Model Siklus Belajar
Siklus Belajar (Learning Cycle)adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan proses pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered).Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.(Dasna, 2005:32)
Model siklus belajar termasuk kependekatan konsrtuktivisme karena siswa sendiri yang mengkonstruksi pemahamannya. Terdapat tiga macam model siklus belajar yaitu:
a.       Siklus belajar deskriptif, pada model ini siswa menemukan dan mendeskripsikan  apa yang telah siswa dapatkan.
b.      Siklus belajar emprikal-abduktif, pada siswa juga menemukan sesuatu dengan mengeksplorasi, tetapi telah melangkah lebih jauh, yaitu dengan menciptakan  sebab-sebab yang mungkin ada pada pola tersebut.
c.       Siklus belajar hipotetikal-deduktif, siswa mengemukakan pertanyaan-pertanyaan sebab musabab yang dapat menimbulkan beberapa macam penjelasan (Adi,2009:1).



2.  Kelebihandan Kekurangan
a. Kelebihan
Dilihat dari dimensi guru, penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan ditinjau dari dimensi pebelajar, penerapan startegi ini memberi kelebihan sebagai berikut:
1). Meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.
2). Membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar.
3). Pembelajaran menjadi lebih bermakna.
b. Kekurangan
Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut:
1). Efektivitas pembelajaran rendah, jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2). Menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
3).Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
4). Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun
rencana dalam melaksanakanpembelajaran.
(Cohen dan Clough dalam Soebagio, 2000:163).

3. Langkah-Langkah Model Siklus Belajar
Siklus belajar pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application).
Menurut Dasna (2005) ada 5 fase dalam siklus belajar yaitu :
a.       Fase pendahuluan (engagement), kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian siswa, mendorong kemampuan berfikir, dan membantu siswa mengakses pengetahuan awal yang telah dimilikinya.
b.      Fase eksplorasi (exploration), pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja, baik secara mandiri maupun secara kelompok tanpa instruksi langsung dari guru.
c.       Fase penjelasan (explaination), kegiatan pada fase ini bertujuan untuk melengkapi atau menyempurnakan dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru akan menjelaskan konsep yang dipahaminya dengan kata-katanya sendiri, menunjukkan contoh yang berhubungan dengan konsep untuk melengkapi penjelasannya, serta bisa memperkenalkan istilah-istilah baru yang belum diketahui siswa.
d.      Fase penerapan konsep (elaboration), kegiatan fase ini mengarahkan siswa menerapkan konsep-konsep yang telah dipahami dan keterampilan yang dimiliki pada situasi baru. Fase ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang telah mereka ketahui.
e.       Fase evaluasi (evaluation), dimana pada kegiatan fase ini ada dua hal yang ingin diketahui yaitu pengalaman belajar yang telah diperoleh siswa dan refleksi untuk melakukan siklus lebih lanjut.
Pada tahap eksplorasi, pebelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain.Dari kegiatan ini diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005).
Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya, fase pengenalan konsep. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki pebelajar dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini pebelajar mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.Pada fase terakhir, yakni aplikasi konsep, pebelajar diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut.
Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena pebelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari.Implementasi siklus belajar dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), Pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Implementasi siklus belajar biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum memuaskan,maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaanya harus lebih baik dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.
Siklus belajar tiga fase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi lima fase dan enam fase, ditambahkan tahap engagement sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir siklus.Pada model ini tahap concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu siklus belajar lima fase sering dijuluki siklus belajar 5E (Engagement, Exploration,Explaination, Elaboration dan Evaluation) (Lorsbach,2002:173). Pada model siklus enam, ditambahkan tahap identifikasi tujuan pembelajaran pada awal kegiatan  (Johnston dalam Iskandar, 2005).  Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka  serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya.
Dalam faseengagement ini minat keingintahuan pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi. Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur. Pada explaination, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan kensep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka dan mengarahkan kegiatan diskusi.Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.
Pada fase elaboration(extention), siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving. Pada tahap akhir  evaluation, dilakukan evaluasi terhadap fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut. Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari.Berdasarkan uraian di atas, model siklus dapat diimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sains maupun sosial (Rahayu, 2005: 43).
Pengembangan fase-fase siklus belajar dari tiga fase menjadi lima atau enam fasepun masih tetap berkorespondensi dengan mental functioning dari piaget. Fase engagementdalam  siklus belajar 5E termasuk dalam proses asimilasi, sedangkan fase evaluationmasih merupakan proses organisasi.
Walaupun fase-fase siklus belajar dapat dijelaskan dengan teori Piaget, siklus belajar juga pada dasarnya lahir dari paradigma konstruktivisme belajar yang lain termasuk teori konstruktivisme sosial Vygostky dan teori belajar bermakna Ausubel ( Dasna, 2005).
Implementasi siklus belajar dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivisme yaitu:
1). Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir.Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.
2). Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu.
3). Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah (Hudojo, 2001:60).
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang beroreantasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri pebelajar menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pebelajar untuk menyelasaikan masalah-masalah yang dihadapi.
Dengan adanya pendekatan siklus belajar dapat menciptakan kesempatan untuk memberikan pengalaman fisik, interaksi sosial dan regulasi sendiri pada siswa. Dengan kata lain guru dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang mengintegrasikan ketiga tahap yang berperan dalam proses pembentukan konsep. Tahap eksplorasi memberikan pengalaman fisik dan interaksi sosial yang dapat mendorong siswa untuk bertanya tentang pemikiran mereka sendiri. Pengalaman fisik juga akan membantu menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan membimbing siswa untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari tahap eksplorasi dan pengenalan konsep. Selanjutnya tahap penerapan konsep, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan penerapan konsep sendiri dalam konteks yang baru (Jufri, 2000).
D. Aktivitas Belajar
Dalam diri masing-masing siswa terdapat “prinsip aktif” yakni keinginan berbuat dan bekerja sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, sistem pembelajaran dewasa ini sangat menekankan pada pendayagunaan asas aktivitas (keaktifan) dalam proses belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Aktivitas belajar menurut Hamalik (2002: 170) adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Oleh karena itu, guru yang bertindak sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran hendaknya mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengikutsertakan siswa secara aktif baik individu maupun kelompok dalam kegiatan pembelajaran.
Menurut Djamarah (2002: 38-45),ada beberapa aktivitas belajar yaitu sebagai berikut:
1.      Mendengarkan, adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar disekolah pasti aktivitasnya mendengarkan ketika seorang guru menggunakan metode ceramah, maka setiap siswaharus mendengar  apa yang pendidik sampaikan.
2.      Memandang, adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Aktivitas memandang dalam arti belajar adalah aktivitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif.
3.      Meraba, membau, dan mencincipi/mengecap adalah indera manusia yang dapat dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar. Artinya aktivitas meraba, membau, mengecap dapat memeberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar.
4.      Menulis dan mencatat, merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk sebagai aktivitas belajar adalah apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan dan tujuannya serta menggunakan seperangkat tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar.
5.      Membaca adalah aktivitas yang banyak dilakukan di sekolah dan perguruan tinggi. Membaca disini tidak mesti membaca buku belaka, tetapi juga membaca majalah, koran, tabloit, jurnal-jurnal hasil penelitian, catatan hasil belajar atau kuliah dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan studi.
6.      Membuat ikhtisar atau ringkasan atau menggarisbawahi, dapat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang.
7.      Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan merupakan suatu yang sangat perlu bagi seseorang dalam mempelajari materi yang relevan. Demikian pula gambar-gambar, peta-peta dan lain-lain dan dapat menjadi bahan ilustratif yang membantu pemahaman seseorang tentang  suatu hal.
8.      Menyusun paper atau kertas kerja, dalam menyusun paper harus sistematis dan metodologis, artinya menggunakan metode-metode tertentu dalam penggarapannya. Sistematis artinya menggunakan kerangka berpikir yang logis dalam kronologis.
9.      Mengingat, adalah gejala psikologis. Ingatan itu sendiri adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan (learning), menyimpan (relention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau. Jadi mengenai ingatan itu sendiri ada tiga fungsi yaitu memasukkan, menyimpan dan mengangkat lembali kealam sadar.
10.  Berpikir adalah, termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar sesuatu.
11.  Latihan atau praktek, adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat. Dalam hal ini belajar sambil berbuat adalah termasuk latihan.
Adapun penggunaan asas aktivitas belajar dalam pembelajaran seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2001: 175) antara lain:
1.      Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
2.      Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
3.      Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan siswa.
4.      Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
5.      Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
6.      Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru.
7.      Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis sertamenghindari verbalistik.
8.      Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
E. Prestasi Belajar
1.   Pengertian prestasi belajar
Kegiatan belajar adalah segala aktivitas yang dilakukan dengan sengaja oleh pesertadidik untuk mencapai tujuan belajar. Tujuan belajar berkaitan dengan perubahan-perubahan tingkahlaku peserta didik yang meliputi aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai-nilai dan aspirasi(Sudjana, 2000: 96).
Menurut Usman (2007: 5) belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Djamarah (1994: 24) mengemukakan prestasi adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan belajar seseorang sehingga dapat dinyatakan dalam bentuk angka (kuantitatif) ataupun dalam bentuk pernyataan (kualitatif) melalui proses penilaian dan pengukuran terhadap tingkah laku yang dihasilkan dari proses belajar mengajar.
a.       Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Slameto (2003: 54-60)
1).  Faktor Internal
                  Faktor ini terdapat dalam diri siswa antara lain:
a).  Faktor kesehatan yang berupa kesehatan jasmani dan kesehatan rohani.
b). Faktor intelegensi dan bakat (kemampuan yang dimiliki oleh siswa sejak lahir).
c). Faktor minat dan motivasi.
d). Faktor cara belajar.
2). Faktor Eksternal terdiri dari:
               Faktor eksternal ini berasal dari individu
a). Faktor keluarga, yaitu cara orang tua dalam mendidik, hubunganantara anggota keluarga, suasana rumah yang nyaman serta keadaan ekonomi keluarga.
b). Faktor sekolah, meliputi metode mengajar guru, kurikulum, relasi di sekolah, kelengkapan fasilitas belajar mengajar, disiplin sekolah.
c).  Faktor masyarakat, berupa teman bergaul serta hal yang terkait dengan kehidupan sosial masyarakat dimana siswa berada.
d).  Faktor lingkungan, sekitar berupa keadaan atau berupa suasana lingkungan tempat tinggal.
F. Kerangka Pikir
Dalamproses belajar mengajar fisika tidak terlepas dari metode pembelajaran, penggunaan metode dan strategi belajar yang salah akan  mempengaruhi hasil belajar siswa. Metode pembelajaran yang sering digunakan oleh guru adalah metode ceramah, hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode ceramah belum mencapai ketuntasan belajar seperti yang diharapkan. Untuk itu guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan suatu metode pembelajaran yang akan digunakan agar siswa berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
Salah satu alternatif yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan metode pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar. Pembelajaran dengan model siklus belajar mengajak siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan barunya dalam pengalaman bersama temannya dan memberi kesempatan siswa untuk menggunakan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Hal lain dari pentingnya pembelajaran ini, bahwa dalam proses belajar mengajar siswa diarahkan untuk belajar, berfikir, serta dituntut untuk aktif meminta bimbingan baik dari guru maupun orang lain guna menemukan pengetahuannya (materi pelajaran) dalam kontes situasi dengan dunia nyata.
Berdasarkan uraian diatas, maka pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar  dianggap perlu agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, membantu siswa mengembangkan sikap ilmiah dan memahami konsep atau isi pelajaran serta menekankan perlunya hubungan antara manusia sebagai tujuan dan hasil belajar, sehingga peningkatan belajar siswa dapat tercapai.
G.Hipotesis Tindakan
Adapun hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapatmeningkatkan aktivitas dan prestasi belajarfisikasiswa kelas X di MAN 2 Mataram.









BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yakni penelitian tindakan (action research)yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran (Suhardjono,2008:58).
Tujuan utama penelitian tindakan kelas (PTK) adalah untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran, mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme akademik dan menumbuhkan budaya akademik (Suhardjono, 2008: 61).
B. Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan penelitian yang digunakan ini adalah pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif untuk mengolah data prestasi belajar siswa dan pendekatan kualitatif untuk mengolah data aktivitas belajar siswa.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada siswa kelas X semester ganjil MAN 2 Mataram  tahun pelajaran 2011-2012.
 2.  Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Dếsembersemester ganjil tahun pelajaran 2011-2012 di MAN 2 Mataram.
34
 
D. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional pendidik dalam  proses belajat mengajar(Supardi, 2008: 106).
Ada beberapa para ahli yang mengemukakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) terdiri atas rangkaian yang dilakukan dalam siklus berulang (Arikunto, 2008: 52).
Daur ulang dalam penelitian tindakan kelas (PTK) diawali dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), dan melakukan refleksi (reflecting), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan), sebagaimana digambarkan sebagai berikut:


1.      Tahap Siklus Pertama
Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru (bersama peneliti apabila PTK-nya tidak dilakukan sendiri oleh guru) menentukan rancangan untuk siklus kedua.
Rincian kegiatan pada setiap tahapan adalah sebagai berikut:
a.       Perencanaan
Tahapan ini berupa menyusun tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut akan dilakukan.
 Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Dalam hal ini, hal-hal yang dilakukan peneliti adalah:
1). Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
2). Menyusun LKS.
3). Menyiapkan instrumen penelitian
a). Membuat lembar observasi
b). Mendesain alat evaluasi dan merencanakan analisis hasil tes.


b.      Tindakan
Pada tahap ini, rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran yang diterapkan. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan selama tiga siklus, pada setiap siklus akan diimplementasikan satu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dengan demikian, dalam pelaksanaan tindakan akan menerapkan tiga buah RPP yang telah disusun untuk masing-masing metode, yaitu RPP-1,RPP-2 dan RPP-3.
c.       Pengamatan (Observasi)
Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun, termasuk juga pengmatan secara cermat terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, presentasi, nilai tugas, dan lain-lain) atau data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan dan sebagainya.
d.      Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap  hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang dan pengamatan ulang, sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins dalam Arikunto, 2008: 102).
2.      Tahap Siklus Kedua
 Kegiataan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tindakan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.
Pertemuan siklus II guru lebih menguasai materi dan memahami metode yang akan diajarkan, mengkoordinir kelompok siswa dalam mengerjakan LKS, memberi penguatan atas jawaban siswa, membimbing siswa agar dapat membuat kesimpulan ke dalam bahasanya sendiri, memberi umpan balik pada siswa untuk memperkuat daya ingat siswa dan guru lebih aktif serta sabar dalam membimbing kelompok yang kurang aktif berdiskusi dengan anggota kelompoknya.
Siklus II dilaksanakan apabila siklus I tidak mencapai ketuntasan secara klasikal. Apabila pada pelaksanaan siklus II ini mencapai ketuntasan klasikal maka penelitian ini diakhiri.


E. Tehnik Pengumpulan Data
1.      Data observasi
Data observasi ini memuat kegiatan pembelajaran untuk setiap konsep yangdikaji, yang berisi lembar RPP dan lembar aktivitas siswa. Dalam lembar RPP memuat tentang rencana pembelajaran yang disusun oleh guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, sedangkan aktivitas siswa yaitu tentang kegiatan-kegiatan siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
2.      Data hasil observasi
Data hasil belajar siswa diperoleh dengan cara memberikan tes evaluasi yang diberikan pada akhir materi dan dilakukan pada setiap akhir siklus, tujuannya yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
F. Instrumen Penelitian
Suharsimi Arikunto (2006: 160) menerangkan bahwa penelitian adalah alat/fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam dalam mengumpulkandata agar pekerjaan lebih  mudah dan hasilnya lebih baik’dalam artilebih cermat’lengkap dan sistematik sehingga lebih mudah diolah. Instrumen yang  digunakandalam penelitian ini terdiri dari:
1.      Lembar Observasi
a). Keterlaksanaan RPP
Dimana lembar observasi ini memuat kegiatan pembelajaran untuk setiap konsep yang dikaji berisi lembar RPP.

b). Aktivitas siswa
Siswa berperan sebagai subjek yang menerima mata pelajaran yang diberikan oleh guru dan melakukan tes.
2.      Lembar Tes
Untuk mengetahui hasil belajar siswa digunakan instrumen berupa tes. Jenis tes yang digunakan adalah pilihan ganda yang terdiri dari 30 soal. Soal yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari soal yang telah terstandar (beberapa buku paket). Instrumen ini disusun oleh peneliti yang disetujui guru dengan pedoman pada kurikulum dan buku paket.
Soal tes sebelumnya dilakukan uji coba terhadap validitas dan reliabilitas. Adapun rumusnya yaitu :
a). tingkat kevaliditan ini dapat dihitung dengan korelasi product moment:
(3. 1)
Keterangan:
      = koefisien korelasi product moment
   =   jumlah skor butir soal
   =   jumlah skor total
N        =   jumlah responden
=   jumlah kuadrat skor butir soal
  =   jumlah kuadrat skor total soal
  =  jumlah hasil kali skor butir soal

Harga rrx yang diperoleh dikonsultasikan seharga kritik rtabel product moment pada taraf signifikan 5%. Jika harga rrxkritik product moment maka tes tersebut valid. (Suharsimi, 2006: 274).

b). ReliabilitasAlat Tes
Untuk mengetahui reliabilitas tes digunakan rumus KR 20 menggu nakan varians butir selanjutnya dianalisis menggunakan varians total. Adapun rumusnya yaitu sebagai berikut:
(3. 2)
Keterangan:
r11=Koefisien reliabilitas internal seluruh item
k = Banyaknya item
 = Jumlah hasil perkalian p dan q
p    =  Proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q    =Proporsi subjek yang menjawab item yang salah
S    =Standar deviasi dari tes.

Harga rhitung (nilai varians butir/varians total) yang diperoleh dikonsultasikan ke table harga kritik rProduct Moment. Pada taraf signifikan 5 %. Jika harga rhitung>rtabelharga kritik Product Moment, maka harga rhitung(nilai varians butir/varians total) tersebut reliabel (Riduwan, 2004: 274).
G. Analasisi Data
1.      Data hasil Observasi
Keterlaksanan RPP, dianalisis dengan menggunakan persentase(%) yaitu:
% PBM = x100%



Menurut Arikunto (2004) kriteria keterlaksanaan proses belajar mengajar yang gunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kriteria keterlaksanaan proses belajar mengajar
Nilai kriteria keterlaksanaan proses belajar mengajar
Keterangan
5 (lima) Baik Sekali
4 (empat) Baik
3 (tiga) Cukup
2 (dua) Kurang
1 (satu) Kurang Sekali
Jika mencapai 81-100%
Jika mencapai 61-80%
Jika mencapai 41-60%
Jika mencapai 21-40%
Jika mencapai kurang 21%

Data aktivitas siswa, dianalisis dengan menggunakan persentase (%), yaitu: Hasil observasi aktivitas belajar siswa akan dianalisis dengan
Keterangan: As = Skor rata-rata aktivitas belajar.
                        x   =  Skor masing-masing indikator
 i  =  Banyaknya indikator
Kemudian hasil tersebut di atas, dibandingkan dengan hasil dari MI dan SDI dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan: MI = Mean Ideal
SDI = Standar Deviasi Ideal
Untuk menentukan standar keaktivan siswa dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:

Berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa diketahui skor tertinggi adalah 35 dan skor terendah adalah 7, maka nilai MI = 21 dan SDI = 4,67.

Tabel 3.3 Pedoman Kategori Aktivitas Belajar Siswa Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X MAN 2 Mataram yang Menerapkan Pembelajaran Konstruktivisme dengan Model Siklus Belajar Tahun Pelajaran 2011-2012.
Interval Nilai
Kategori
30,34≤M≤35,01
Sangat Aktif
25,67≤M<30,34
Aktif
16,33≤M<25,67
Cukup Aktif
11,66≤M<16,33
Kurang Aktif
  6,99≤M<11,66
Sangat Kurang Aktif

2.      Data Hasil Tes
Sebelum dianalisis, terlebih dahulu dicari ketuntasan belajar siswa, kemudian dianalisis secara kuantitatif.
a). Ketuntasan Individu
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dinyatakan tuntas secara individu apabila siswa mampu memperoleh nilai ≥ 60 sebagai standar ketuntasan belajar minimal yang diterapkan oleh sekolah tempat penelitian diadakan.



b). Ketuntasan Klasikal
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah ketuntasan belajar dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan: KK = Ketuntasan belajar
   P = Banyaknya siswa yang memperoleh nilai ≥ 60
   N = Banyaknya siswa
Ketuntasan belajar tercapai jika KK ≥ 85% siswa yang mencapai
nilai≥60.
3.      Indikator Kerja
Adapun yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan ini adalah pencapaian aktivitas belajar siswa dengan ketentuan sebagai berikut:
a). Keberhasilan penelitian ini dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa. Berdasarkan pada teknik analisa data, maka dapat disimpulkan bahwa indikator keberhasilan ketuntasan belajar dalam penelitian ini didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu nilai tes/hasil belajar siswa  60 dan ketuntasan klasikalnya mencapai 85%.
b). Keberhasilan penelitian ini dilihat dari aktivitas belajar siswa. Penelitian dikatakan berhasil apabila aktivitas siswa secara klasikal minimal berkategori aktif dan aktivitas guru berkategori baik selama proses pembelajaran.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam I siklus dengan objek penelitian adalah siswa kelas Xu2 MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2010-2012. Dalam siklus ini, setiap tindakan diambil oleh peneliti harus dengan cermat tentang beberapa komponen penting yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.Sehingga dengan demikian pengertian siklus ini menurut Sutawidjaja (dalam Wilujeng, 2005 : 47) adalah suatu putaran atau tindakan yang terdiri dari perencanaan, pemberian tindakan, observasi (pengamatan) dan refleksi.
Siklus ini direncanakan 5 kali pertemuan untuk mempelajari pokok bahasan gerak lurus dengan sub pokok bahasannya gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan., hasil penelitian dalam siklus ini adalah sebagai berikut:
1.      Perencanaan (Plan).
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
a.       Menyiapkan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang materi GLB dan GLBB serta LKS
( lampiran 4 dan 6).
b.      Menyiapkan alat dan bahan untuk demonstrasi (lampiran 6).
c.       Menyusun lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran.
d.     
46
Menyusun pedoman observasi aktivitas siswa.
e.       Menyusun soal kognitif siswa.
2.      Pelaksanaan (action)
a.       Pertemuan Pertama
Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah perkenalan dengan seluruh siswa, kemudian peneliti melakukan kegiatan sosialisasi metode pembelajaran kontruktivisme dengan model siklus kepada siswa. Kegiatan ini dilakukan agar siswa dapat memahami langkah-langkah proses pembelajaran sehingga diharapkan siswa dapat berperan aktif dalam proses belajar mengajar di kelas dan mampu menunjukan prestasi belajar yang baik. Materi yang diajarkan pada siklus ini adalah GLB dan GLBB.
Pelaksanaan tindakan diawali dengan tahap pendahuluan, guru menanyakan kesiapan siswa memulai pembelajaran. Kemudian guru membagikan kelompok terdiri dari 5 siswa (menjadi 6 kelompok) dan menentukan posisi tempat duduk tiap-tiap kelompok. Selanjutnya guru memberikan gambaran mengenai gerak lurus dan besaran-besaran fisika pada gerak dengan kecepatan konstan (GLB). Guru meminta siswa memperhatikan contoh gerak dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pandangan fisika.
Pada tahap eksplorasi, siswa diminta untuk mengerjakan secara individu tentang permasalahan-permasalahan yang ada di dalam LKS dan soal-soal mengenai besaran-besaran dalam GLB.
Pada tahap eksplanasi, guru meminta siswa untuk memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk bertukar pikiran dari hasil diskusinya. Siswa diminta mendiskusikan dengan kelompoknya.Guru membantu jika ada kesulitan yang dialami siswa dan memberikan motivasi agar cepat dikerjakan dan didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing serta meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pendapat temannya.
Pada tahap elaborasi (penerapan konsep), siswa diminta menyebutkan contoh gerak dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pandangan fisika.
Pada tahap evaluasi, guru memberikan latihan lanjutan berupa tes evaluasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, mengajak siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi pada hari itu, menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan selanjutnya akan dibahas tentang kecepatan rata-rata dan analisis grafik dan mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari itu. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
b.      Pertemuan kedua
Pelaksanaan pembelajaran untuk pengulangan tindakan II diawali dengan tahap pendahuluan, guru mengucapkan salam dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pembelajaran kali ini yaitu siswa dapat mendefinisikan kecepatan, kelajuan kecepatan rata-rata, kecepatan sesaat, percepatan rata-rata, percepatan sesaat, menganalisis grafik GLB, melakukan percobaan GLB dengan menggunakan kereta atau mobil mainan dan perhitungannya. Selanjutnya guru mengingatkan pelajaran sebelumnya mengenai besaran-besaran dalam gerak lurus serta mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari pada pertemuan pertama.
Pada tahap eksplorasi, guru membagikan LKS dan menyuruh siswa melakukan demonstrasi sesuai dengan perintah yang ada pada LKS,mengamati segala kegiatan siswa tanpa memberikan arahan langsung kepada siswa, dan mengerjakan soal-soal latihan.
Pada tahap eksplanasi, guru meminta siswa untuk memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk bertukar pikiran dari hasil diskusinya. Siswa diminta mendiskusikan dengan kelompoknya, memberikan motivasi agar cepat dikerjakan dan didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing serta meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pendapat temannya, serta guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan memberikan nilai afektif.
Pada tahapelaborasi (penerapan konsep), siswa diminta menyebutkan alat untuk mengukur kelajuan dan kecepatan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap evaluasi, guru memberikan latihan lanjutan berupa tes evaluasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, mengajak siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi pada hari itu, menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan selanjutnya akan dibahas tentang gerak lurus berubah beraturan dan mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari itu.
Pada kegiatan penutup guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja yang baik, memberikan tugas rumah berupa latihan soal serta menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.  
c.       Pertemuan ketiga
Pelaksanaan pembelajaran untuk pengulangan tindakan IIIdiawali dengan tahap pendahuluan, guru mengucapkan salam dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pembelajaran kali ini yaitu siswa dapat menganalisis besaran-besaran fisika pada gerak lurus berubah beraturan dengan percepatan konstan (GLBB), menganalisis grafik GLBB dan perhitungannya. Selanjutnya guru mengingatkan pelajaran sebelumnya mengenai besaran-besaran dalam gerak lurus serta mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari pada pertemuan pertama.
Pada tahap eksplorasi, guru membagikan LKS dan menyuruh siswa melakukan demonstrasi sesuai dengan perintah yang ada pada LKS, mengamati segala kegiatan siswa tanpa memberikan arahan langsung kepada siswa, dan mengerjakan soal-soal latihan.
Pada tahap eksplanasi, guru meminta siswa untuk memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk bertukar pikiran dari hasil diskusinya. Siswa diminta mendiskusikan dengan kelompoknya. Guru berkeliling ke setiap kelompok dan mengamati segala kegiatan siswa tanpa memberikan arahan langsung, membantu jika ada kesulitan yang dialami siswa dan memberikan motivasi agar cepat dikerjakan dan didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing serta meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pendapat temannya.
Pada tahapelaborasi (penerapan konsep), siswa diminta menyebutkan alat untuk mengukur percepatan dan contoh GLBB dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap evaluasi, guru memberikan latihan lanjutan berupa tes evaluasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, mengajak siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi pada hari itu, menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan selanjutnya akan dibahas tentang gerak lurus berubah beraturandan mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari itu.
Pada kegiatan penutup guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja yang baik, memberikan tugas rumah berupa latihan soal serta menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
d.      Pertemuan keempat.
Pelaksanaanpembelajaran untuk pengulangan tindakan IV dilaksanakan. diawali dengan tahap pendahuluan, guru mengucapkan salam dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pembelajaran kali ini yaitu siswa dapat menganalisis gerak jatuh bebas, vertikal ke bawah, vertikal ke atas gerak vertikal naik turun, melakukan per dengan menggunakan kereta atau mobil mainan dan perhitungannya. Selanjutnya guru mengingatkan pelajaran sebelumnya mengenai besarandan persamaan dalam gerak lurus berubah beraturan serta mengingatkan bahwa posisi tempat duduk tiap kelompok seperti hari pada pertemuan pertama.
Pada tahap eksplorasi, guru membagikan LKS dan menyuruh siswa melakukan demonstrasi sesuai dengan perintah yang ada pada LKS, mengamati segala kegiatan siswa tanpa memberikan arahan langsung kepada siswa, dan mengerjakan soal-soal latihan.
Pada tahap eksplanasi, guru meminta siswa untuk memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk bertukar pikiran dari hasil diskusinya. Siswa diminta mendiskusikan dengan kelompoknya, memberikan motivasi agar cepat dikerjakan dan didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing serta meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain memberikan tanggapan atausanggahan terhadap pendapat temannya, serta guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan memberikan nilai afektif.
Pada tahap elaborasi (penerapan konsep), siswa diminta menyebutkan contoh GLBB dalam kehidupan sehari-hari seperti gerak jatuh bebas, gerak vertikal ke bawah, gerak vertikal ke atas, gerak vertikal naik turun.
Pada tahap evaluasi, guru memberikan latihan lanjutan berupa tes evaluasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, mengajak siswa untuk membuat kesimpulan tentang materi pada hari itu, menginformasikan kepada siswa bahwa pada pertemuan terakhirdiadakan ujian mulai dari GLB sampai GLBB.
Pada kegiatan penutup guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja yang baik, memberikan tugas rumah berupa latihan-latihan soal serta menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.  
e.       Pertemuan kelima
Pada pertemuan kelima (terakhir), peneliti mengadakan tes. Tes dilakukan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan dengan menggunakan pembelajaran kontruktivis dengan model siklus belajar. Sebelum melaksanakan tes, peneliti memberikan pengarahan terlebih dahulu yaitu mengumumkan waktu yang digunakan untuk tes dan siswa tidak boleh bekerja sama ataupun menyontek pekerjaan teman dengan buku pelajaran fisika dikumpulkan di depan. Bentuk tes dapat dilihat pada lampiran . Peneliti bersama guru fisika mengawasi jalannya tes.  Sehingga siswa benar-benar mengerjakan soal sesuai dengan kemampuannya, tanpa adanya kecurangan yang dilakukan oleh siswa.  Dengan dilaksanakannya tes akhir ini, maka kegiatan siklus ini selesai.
3.      Pengamatan / observation
Berdasarkan hasil pengamatanketerlaksanaan pembelajaran dan aktivitas siswa  selama proses pembelajaran berlangsung.
a.       Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Tabel 4.1: Data Hasil Observasi Keterlaksanaan pembelajaran.
Pertemuan ke-
Skor total
Skor
rata-rata
Kategori
1
13
76,5
Baik
2
15
88,24
Baik sekali
3
15
88,24
Baik sekali
4
16
94,12
Baik sekali
Total skor rata-rata
347,1


Skor rata-rata

86,78

Baik Sekali


Berdasarkan hasil observasi dari pengamat mengenai kegiatan guru, guru sudah cukup mampu menciptakan pembelajaran untuk memotivasi siswa untuk belajar dan kegiatan guru pada tiap pertemuannya selalu mengalami peningkatan dengan demikian keterlaksanaan  pembelajaran dapat terlaksana sangat baik, untuk lebih jelasnyalihat(lampiran 5).
Adapun pengamatan keterlaksanaan pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut:
1)      Pada tahap pendahuluan semua siswa memahami dan memperhatikan penjelasan guru.
2)      Pada tahap eksplorasi, terlihat semua siswa melakukan perintah sesuai yang ada pada LKS.
3)      Pada tahap eksplanasi, siswa mempresentasikan hasil diskusi serta meminta tanggapan atau sanggahan terhadap pendapat temannya serta siswa sangat aktif bertanya pada kelompok yang presentasi.
4)      Pada tahap elaborasi (penerapan konsep), siswa menyebutkan contoh dari sub pokok bahasan yang dibahas.
5)      Pada tahap evaluasi, siswa membuat kesimpulan tentang materi pada hari itu, dan mengerjakan latihan berupa tes evaluasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan.
b.      Hasil Observasi Aktivitas Siswa.
Berdasarkan Hasil observasi selama empat kali pertemuan skor rata-rata siswa dapat dilihat pada tabel: 
Tabel 4.2 Data hasil observasi aktivitas siswa
Pertemuan
Banyak Siswa
(N)
Skor Total
Rata-Rata
Kategori
I dan II
31
827
26,68
Aktif
III dan IV
31
902
29,10
Aktif
Skor rata-rata                                                            27,89
Aktif

Berdasarkan tabel di atas hasil observasi aktivitas siswa mengalami peningkatan dari tiap pertemuan, dimana semua siswa bisa melaksanakan deskriptor yang ada. Data lengkap mengenai aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dapat dilihat pada (lampiran1).
Adapun aktivitas siswa diamati oleh pengamat selama proses pembelajaran sebagai berikut:
1)      Pada tahap pendahuluan, siswa memahami rencana pembelajaran yang disampaikan.
2)      Terlihat siswa berdiskusi dengan kelompoknya tanpa memberikan arahan langsung dari guru dan sebagian bertanya pada tahap eksplorasi dan eksplanasi.
3)      Siswa aktif dalam mempresentasikan hasil diskusi.
4.      Evaluasi
Berdasarkan data hasil evaluasi yang telah dilaksanakan diperoleh data seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3: Data Hasil Evaluasi
No
Hasil Evaluasi
Keterangan
1
Jumlah siswa yang ikut tes
30 siswa
2
Jumlah soal tes
20 nomor
3
Jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥ 60
27 siswa
4
Jumlah siswa yang tidak tuntas
3 siswa
5
Rata-rata nilai siswa
67,5
6
Persentasi Ketuntasan
90%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang mengikuti evaluasi sebanyak 30 orang dari jumlah keseluruhan 31 orang. Jumlah soal 20 nomor dari jumlah keseluruhan 30 nomor yang telah diujicobakan, 20 yang valid dan 10 soal yang tidak valid. Dalam Perhitungan kevaliditannya dimana nilai koefisien korelasi product moment  atau rxyharus dibandingkan dengan rtabel, jika rhitung > dari rtabel maka soal dikatakan valid dan jika rhitung < rtabel maka soal dikatakan tidak valid. Untuk lebih jelasnya lihat pada (lampiran 11).
Hasil evaluasi ini menunjukan bahwa nilai rata-rata siswa adalah 67,5 dan persentasi siswa yang mendapat nilai ≥ 60 adalah 90%, hal ini sesuai pada (lampiran 14).
a.    Prestasi belajar
Di tinjau dari nilai rata-rata ujian siswa semester ganjil tahun 2010 bahwa kelas Xu2 nilai rata-rata 58,3 yang ketuntasan belajar 47,50%  dengan keterangan tidak tuntas, setelah dilakukan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar diketahui adanya peningkatan prestasi belajar siswa hal ini terlihat dari rata-rata siswa mencapai 67,5 dengan presentasi ketuntasan 90%. Data prestasi belajar dapat dilihat pada (lampiran 14).
b.      Ketuntasan siswa.
Di tinjau dari nilai rata-rata ujian siswa semester ganjil tahun 2010 bahwa kelas Xu2 hanya 19 orang jumlah siswa yang tuntas dari 40 siswa, dengan KKM60, setelah dilakukan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar mengalami peningkatan dari 30 siswa yang tuntas 27 siswa dan sisanya 3 orang tidak tuntas.
Berdasarkan data hasil evaluasi belajar ini dapat disimpulkan bahwa ketuntasan klasikalnya sudah tercapai dengan sangat baik, walaupun masih ada 3 orang dari keseluruhan siswa yang masih mendapat nilai di bawah < 60, hal ini disebabkan karena ketiga siswa ini memang memiliki kemampuan dibawah teman-temannya. Oleh sebab itu penelitian ini dihentikan karena sudah mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan yaitu ≥ 85%.
5.      Refleksi
Refleksi merupakan bagian terpenting dalam penelitian kelas. Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Pada tahap ini peneliti bersama observer (pengamat) mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam proses pembelajaran, sebagai acuan adalah hasil observasi dan evaluasi.
Setelah diadakan pengamatan selama kegiatan pembelajaran di dalam kelas, selanjutnya diadakan refleksi atas segala kegiatan yang dilakukan. Dalam kegiatan penelitian ini hasil refleksi adalah sebagai berikut:
a.    Suasana kelas tertib, terkendali dan kondusif, dengan demikian proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.
b.   Siswa sangat terampil dalam menyelasaikan LKS berkelompok.
c.    Guru memberikan bimbingan pada saat diskusi sehingga suasana kelas kondusif dan terkendali.
d.   Sebagian besar siswa mengacungkan tangannya terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan.
e.    Siswa yang menjadi penyaji hasil diskusi dengan sungguh-sungguh dan percaya diri, sehingga kelompok lain menanggapi dengan penuh perhatian.
Berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan dalam proses pembelajaran dengan materi pokok gerak lurus, hasil belajar fisika siswa di kelasXu2 MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012 berlangsung dengan baik, hal ini tampak dari analisis hasil evaluasi yang telah dilakukan.
B.     Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan dalam I siklus dengan prosedur penelitian yang telah ditetapkan dari awal, mulai dari persiapan, pelaksanaan/pengajaran, evaluasi dan refleksi.
Tahap perencanaan yaitu menyiapkan rencana pembelajaran, lembar observasi untuk mencatat pelaksanaan pembelajaran dan aktivitas siswa sebagai bahan diskusi, menyusun soal evaluasi dan merencanakan hasil analisis yang selengkapanya dapat dilihat pada lampiran-lampiran.
Berdasarkan hasil penelitian, hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran tiap pertemuannya mengalami peningkatan, pada pertemuan I rata-rata 76,5% dengan kategori baik, pada pertemuan II rata-rata mengalami persentasi 88,24% dengan kategori baik sekali, pada pertemuan III rata-rata 88,24 % dengan kategori baik sekali dan IV mengalami peningkatan yaitu sebesar 94,12% dengan kategori baik sekali, sehingga rata-rata persentasi pertemuan I,II,III dan IV sebesar 86,78% dengan kategori baik sekali. Hal ini disebabkan karena guru sudah mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal sehingga mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik, dimana guru membimbing siswa  untuk tidak langsung memberikan kata kunci melainkan memberikan pertanyaan/pernyataan, siswa juga banyak mengajukan pertanyaan antar teman maupun pada guru.
Hasil observasi aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar memperoleh kategori aktif, karena seluruh siswa mampu melaksanakan sebagian besar deskriptor yang ada pada lembar observasi terutama pada pertemuan ke-II.
Pada pertemuan I dan II diperoleh rata-rata sebesar 26,68% dengan kategori aktif, sedangkan pada pertemuan ke-III dan IV diperoleh rata-rata sebesar 29,10% dengan kategori aktif, rata-rata persentasi pertemuan I, II, III, IV adalah 27,89%. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa aktivitas belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran konstruktivisme melaui model siklus belajar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, dilihat dari hasil observasi aktivitas belajar siswa yang mengalami peningkatan pada tiap pertemuannya.
Dari hasil analisis data diperoleh bahwa hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal yaitu dengan persentase 90% dengan rata-rata 67,5, ketercapaian ketuntasan ini disebabkan sebagian besar siswa mengacungkan tangannya baik dalam mengerjakan latihan maupun mempresentasikan hasil tugasnya, serta partisipasi siswa dalam menyimpulkan hasil belajar.
Berdasarkan analisis hasil penelitian di atas maka peneliti beserta observer merefleksi bahwa pembelajaran dengan model siklus belajar sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa, karena pada pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar, pengajaran dan pembelajaran berpusat pada siswa, dimana dalam hal ini guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa memperoleh pengetahuan dan menyelesaikan masalah yang ada, baik di LKS maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil evaluasi sudah mencapai standar ketuntasan klasikal, ini menunjukan bahwa seluruh siswa mapu mencapai standar kriteria ketuntasan minimal (KKM), begitu pula dengan hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran dan aktivitas siswa selalu terjadi peningkatan tiap pertemuannya dan pada akhir pertemuan karena siswa dapat melaksanakan semua deskriptor yang ada. Hal ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun di sisi lain untuk kedepan guru harus membuat gebrakan-gebrakan baru dalam menerapkan model pembelajaran dengan model siklus belajar ini, agar siswa tidak bosan dengan model pembelajaran yang diterapkan.
Penelitian ini pernah dilakukan oleh Mufrihun (2006), dengan judul penerapan model pembelajaran menggunakan model siklus belajar untuk meningkatkan hasil belajar fisika kelas X semeter II SMA N 2 Mataram Tahun ajaran 2005-2006 , dalam penelitian ini diperoleh hasil belajar siswa. Pada post test diperoleh nilai rata-rata 59,28, sedangkan pada post test 77,46. Analisis ketuntasan belajar siswa menunjukan bahwa dari 81 orang, hanya 27 siswa (23,33%) memperoleh skor < 75 dan 54 orang siswa (66,67) memperoleh skor ≥ 75, sedangkan pada penelitian ini diperoleh hasil belajar siswa  dengan rata-rata nilai 67,5 dengan persentase 90%.
Berdasarkan perolehan hasil belajar dari kedua penelitian di atas dapat di lihat adanya perbedaan hasil belajar yang diperoleh kedua peneliti, perolehan hasil belajar yang dilakukan oleh Mufrihun memperoleh nilai lebih kecil dari penelitian yang dilakukan sekarang, dilihat dari hasil belajar yang mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Dengan perolehan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dengan materi pokok gerak lurus kelas Xu2 semester ganjil di MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012.








                                                            BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis dalam penelitian, dapat disimpulkan bahwa:
1.      Pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapat meningkatkan aktivitas belajar fisika siswa kelas Xu2 MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012, dilihat dari aktivitas siswa pada tiap pertemuan mengalami peningkatan, pada pertemuan I dan II diperoleh total skor 26,68, sedangkan pada pertemuan III dan IV diperoleh 29,10, dengan skor rata-rata 27,89.
2.      Pembelajaran konstruktivisme dengan model siklus belajar dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas Xu2 MAN 2 Mataram tahun pelajaran 2011-2012, dilihat dari ketuntasan individu dan ketuntasan klasikalnya, dengan nilai rata-rata siswa 67,5 dengan persentasi ketuntasan 90%.
B.     Saran - saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.     
63
Dalam proses pembelajaran, khususnya kepada guru fisika MAN 2 Mataram diharapkan dengan metode pembelajaran konstruktivisme melalui siklus belajar dapat dijadikan metode pembelajaran selanjutnya khususnya kelas X.
2.      Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pembelajaran dengan model siklus belajar pada pokok bahasan atau pada materi yang lain yang penerapannya dilaksanakan sampai tercapai ketuntasan belajar yang diharapkan.



                                                DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Aqib Zainal. 2003. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran.Surabaya: Penerbit Insan Cendikia.

Budianingsih, A. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Dasna. 2005. Kajian Implementasi Modul Model Siklus Belajar Dalam Pembelajaran Kimia. Makalah Seminar Nasional dan Pembelajarannya. FMIPA UM-Dirjen Dikti 5 September 2005.

Dimyanti dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Hamalik. 2001. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Hamalik. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Hamalik. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakatra: Bumi Aksara.

Hudojo, H. 2001. Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivisme. Makalah Semlok Konstruktivisme sebagai Rangkaian Kegiatan Piloting JICA. FMIPA UM. 9 Juli 2001.

Irawati dan Yuhan. 2006. Akurasi Fisika untuk Kelas X Semester I: PT Sinergi Pustaka Indonesia.

Irzani. 2007. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Bantul: Media Grafindo Press.

Iskandar, S.M. 2005. Perkembangan dan Penelitian Daur Belajar. Makalah Semlok Pembelajaran Berbasis Konstruktivis. Jurusan Kimia UM. Juni 2005.

Jufri,W. 2000. Paradigma Pembelajaran Biologi di Sekolah Menengah Mataram: Universitas Mataram.

Kanginan, M. 2006. Fisika untuk SMA Kelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Lorsbach, A. W. 2002. The Learning Cycle as A tool for Planning Science Instruction. Di unduh dari(http://www.coe.ilstu.edu/scienceed/lorsbach/257lrcy.html). Pada tanggal 10 Desember 2010.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: remaja Rosda Karya.

Mufrihun. 2006. Penerapan Pendekatan Konstruktivis Menggunakan Model Siklus Belajar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas VII Semester II SMP N 2 Mataram Tahun Ajaran 2005/2006. FPMIPA Universitas Mataram.

Rahayu, S., Prayitno. 2005. Penggunaan Strategi Pembelajaran Learning Cycle-Cooperative Learning 5E (LCC-5E). Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. 5 September 2005.

Riduwan. 2004. Belajar Mudah untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang  Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudirman. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Sudjana, N. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Sinar Baru Algensindo.

Suhardjono. 2008. Metodelogi Penelitian Pedidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Suharsimi, Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukardi, A.2005. Aplikasi Teori Pembelajaran Konstruktivisme Dalam Bentuk Perisian Multi Media Bertajum Sistem Perundangan Di Malaysia. Diunduh darihttp://tutor.commy/tutor/dunia.asp.dunia pendidikan. Pada tanggal 20 Desember 2010.

Sukemo. 2006. Ilmu Pendidikan Konstruktivis. Diunduh darihttp://sukemo.com/menuju-ke/kelemahan-teori-konstruktivisme. Pada tanggal 27 April 2011.

Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional

Sutarno. 2003.Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Triaonto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Usman, Uzer. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung:Remaja Rosdakarya Offset.

Wilujeng, Asri Kanti. 2005. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika siswa Kelas II Semester II Madrasa Aliyah Negeri Pasuruan Menggunakan Pembelajaran kooperatif Model Jigsaw. Skripsi tidak diterbitakan. Malang. Universitas Negeri Malang.










PENERAPAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA

0 comments:

Post a Comment