Friday, October 19, 2012

kumpulan skripsi fisika lengkap PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA POKOK BAHASAN GETARAN DAN GELOMBANG UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA POKOK BAHASAN GETARAN DAN GELOMBANG UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII
DI SMPN 2 KEDIRI TAHUN PELAJARAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah pendidikan yang utama di Indonesia adalah sangat rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang pendidikan. Setelah dilakukan usaha perbaikan dalam bidang pendidikan, semakin disadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan yang mendasar. Salah satu kekurangan tersebut adalah terletak pada inti kegiatan pendidikan itu sendiri yaitu pada proses belajar mengajar yang melibatkan anak didik dan pendidik.
Proses belajar mengajar pada intinya tertumpu pada suatu persoalan yaitu bagaimana guru melibatkan siswa agar terjadi proses belajar yang efektif untuk mencapai hasil sesuai dengan tujuan. Hal ini menuntut guru untuk lebih kreatif memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa.
Pada proses pembelajaran fisika selama ini umumnya guru masih menggunakan model pembelajaran yang bersifat ekspositori yaitu siswa cenderung menghafal contoh-contoh yang diberikan oleh guru tanpa terjadi pembentukan konsep yang benar pada struktur kognitif siswa. Hal ini juga akan berdampak pada perilaku siswa yang kurang percaya diri baik dalam bertanya, menyampaikan ide maupun dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi. Bagi siswa, belajar fisika hanya dilakukan pada saat akan  menghadapi ulangan atau ujian dan terlepas dari masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga pelajaran fisika dirasakan tidak bermanfaat, tidak menarik, dan membosankan.
Permasalahan inilah yang pada akhirnya akan berdampak pada aktivitas siswa selama proses belajar mengajar sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa menjadi rendah. Sebagai gambaran situasi tersebut, berdasarkan dari hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi fisika berikut ini diuraikan tentang perolehan nilai ulangan harian siswa kelas VIIIA semester I tahun pelajaran 2009/2010 dapat dilihat pada tabel 1.1
Tabel 1.1   Tabel Nilai Rata – Rata Ulangan Harian Mata Pelajaran Fisika Semester I Kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri Tahun Pelajaran 2009/2010
No
Ulangan Harian
Nila rata – rata
1
Gaya
3,93
2
Hukum Newton
4,35
3
Usaha dan Energi
4,07
                   Sumber data : Arsip guru fisika Kelas VIIIA  semester I
Dari data di atas diketahui bahwa nilai rata – rata ulangan harian fisika masih sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan pemilihan model pembelajaran yang tepat. Siswa SMP Negeri 2 Kediri pada umumya belum memiliki interaksi yang bersifat konstruktivisme dimana beberapa bentuk kondisi belajar yang sesuai dengan filosofi "constructivism" antara lain: diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua peserta didik mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan penelitian sederhana, demonstrasi dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang peserta didik untuk mempertajam gagasannya (Griya 2001). Demonstrasi yang dimaksud disini adalah cara yang digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menumbuhkan dan menghidupkan gairah belajar. Tujuan dari penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar ialah Untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu. Sedangkan guru hanya sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme pada pokok bahasan getaran dan gelombang untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diangkat beberapa rumusan masalah antara lain:
1.      Bagaimana peningkatan aktivitas belajar dengan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan getaran dan gelombang siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010 ?.
2.      Bagaimana peningkatan prestasi belajar dengan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan getaran dan gelombang siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010 ?


1.3.Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dengan penerapan     model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan getaran dan gelombang kelas VIIIA  SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010.
2.      Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan getaran dan gelombang kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010.
1.4. Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang berharga dalam memperkaya khsanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan khususnya dalam menggunakan model pembelajaran konstruktivisme dengan upaya meningkatkan pretasi belajar siswa bidang studi fisika.
2.      Manfaat Praktis
1)      Bagi siswa: memacu minat siswa serta  mendorong siswa agar lebih aktif dalam belajar serta sebagai pengalaman langsung bagi mereka tentang pelaksanaan model pembelajaran konstruktivisme.
2)      Bagi guru: menambah sumbangan pemikiran dalam rangka perbaikan model pembelajaran agar lebih bervariasi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
3)      Bagi sekolah: Sebagai sumbangan nyata bagi program pembelajaran di SMP Negeri 2 Kediri, sekaligus menambah koleksi buku bacaan dan pengetahuan baru tentang model pembelajaran.
4)      Bagi peneliti: dapat memperoleh pengalaman langsung dalam  menerapkan model pembelajaran konstruktivisme.
1.5.Definisi Operasional
1.      Penerapan adalah suatu proses dalam pembelajaran.
2.      Konstruktivisme adalah suatu pembelajaran yang memandang bahwa pengetahuan itu dibangun sendiri secara aktif dalam diri setiap individu dengan cara mengkaitkan pembelajaran dengan pengalaman nyata atu hasil interaksi dengan lingkungannya.
3.      Aktivitas belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap.
4.      Prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa setelah melakukan aktivitas belajar.
1.6.Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian yang bertujuan untuk membatasi penelitian dan untuk memperlancar proses pelaksanaan yang dilakukan, yaitu:
1.      Batasan Masalah
Adapun yang menjadi batasan masalah pada penelitian ini adalah:
a.       Aktivitas belajar siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010 dengan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan Getaran dan Gelombang.
b.      Prestasi belajar siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010 dengan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan Getaran dan Gelombang.
2.      Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kediri Jl. Wisata Banyumulek Kec. Kediri Lombok Barat.
.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Landasan Teori
1.      Proses Belajar dan Mengajar
Winataputra (2008) mengemukakan bahwa,  belajar memiliki tiga atribut pokok yaitu:
a.       Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
b.      Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
c.       Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Menurut Hamalik (2001), Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan modifikasi atau memperteguh tingkah laku atau kepribadian melalui pengalaman. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melakukan perubahan kelakuan. Pendapat lain mengatakan “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003).
Selanjutnya menurut Sardiman (2006), belajar dapat dilihat dalam arti luas maupun sempit/khusus. Dalam pengertian luas belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya.
Pengajaran fisika yang dilaksanakan oleh guru hendaknya benar-benar menjamin terjadinya kegiatan belajar bagi siswa, untuk menjamin terjadinya kegiata belajar pada siswa, guru perlu mengusahakann situasi atau proses yang memungkinkan siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, karena pada dasarnya proses belajar adalah berbuat, berkreasi, menjalani, mengalami. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran guru hendaknya mampu menjamin terjadinya pemahaman siswa melalui kegiatannya sendiri, bukan semata-mata akibat informasi verbal guru. Dalam hal ini diharapkan bukan peran guru yang mendominasi, artinya bahwa ada peran rekan kelas mereka dalam perubahan tingkah laku dalam hal ini adalah diharapkan meningkatnya prestasi belajar siswa.
Menurut Sudjana (2004), belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yaitu tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Tujuan intruksional pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri siswa. Dengan mengetahui tercapainya tujuan instruksional, dapat diambil tindakan perbaikan pengajaran dan perbaikan siswa yang bersangkutan. Sedangakan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku siswa, yang mencakup kognitif, afektif dan psikomotoris. Penilaian proses belajar mengajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. (Sudjana, 2004) menyebutkan fungsi penilaian yaitu : 1) alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional; 2) umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar; 3) dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada orang tuanya.
Sehingga secara umum proses belajar merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan sekelompok orang atau individu baik secara sadar ataupun tidak yang terorganisir dengan baik, di dalamnya ada interaksi pengajar dan yang diajar dalam rangka terjadinya perubahan tingkah laku pada individu tersebut.
2.      Aktivitas Belajar Siswa
Menurut Hamalik (2003), aktivitas belajar adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai pengetahuan, keterampilan, nilai dan si­kap. Hal ini sejalan dengan fungsi dan tugas guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran. Guru hendaknya mampu menciptakan pembelajaran yang dapat mengikut sertakan siswa secara aktif baik sebagai individu ataupun sebagai kelompok.
               Menurut Sardiman (2006), aktivitas belajar siswa dapat digolongkan sebagai berikut:
a.       Aktivitas visual (visual activities), yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
b.      Aktivitas lisan (oral activities), seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.       Aktivitas mendengarkan (listening activities), sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.      Aktivitas menulis (writing activities), seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e.       Aktivitas menggambar (drawing activities), misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f.       Aktivitas gerak (motor activities), yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
g.      Aktivitas metal (metal activities), sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.      Aktivitas emosional (emotional activities), seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersamangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Hamalik (2003), mengungkapkan bahwa penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, karena:
1.      Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.
2.      Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral.
3.      Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa.
4.      Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.
5.      Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis.
6.      Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru.
7.      Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis.
8.      Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar yang optimal. Untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih model atau metode pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan siswa, dimana siswa bukan hanya sebagai pendengar dari ceramah guru namun siswa berperan aktif dalam proses belajar-mengajar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu diamana anak belajar sambil bekerja, memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di masyarakat.
3.      Prestasi Belajar
a.       Pengertian Prestasi Belajar
Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie,” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Apabila dikaitkan dengan belajar, maka prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. (Abdullah, 2008)
Menurut Slameto (2003), prestasi belajar merupakan suatu perubahan yang dicapai seseorang setelah mengikuti proses belajar. Perubahan itu meliputi perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Hamalik (2003) mengungkapkan bahwa hasil belajar akan tampak pada perubahan dalam aspek-aspek tingkah laku manusia. Aspek-aspek tersebut antara lain: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan social, jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri siswa sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Ahmadi dan Supriyono (2004) mengungkapkan,  prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.
Yang tergolong faktor internal adalah:
1)      Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh, dan sebagainya.
2)      Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan  maupun yang diperoleh terdiri atas:
a)      Faktor intelektif yang meliputi : faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat., faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki.
b)      Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
3)      Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Yang tergolong faktor eksternal, ialah:
a)      Faktor sosial yang terdiri dari atas:lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat; lingkungan kelompok;
b)      Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
c)      Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fisilitas belajar dan iklim.
4.      Konstruktivisme
a.       Pengertian Konstruktivisme
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, perlu adanya penyempurnaan proses belajar mengajar. Untuk menciptakan suasana belajar agar siswa lebih aktif guru menggunakan berbagai macam model pembelajaran  yang diyakini memiliki dampak positif terhadap hasil belajar, salah satunya yaitu konstruktivisme.
Konstruktivisme adalah perkataan bahasa Inggris yaitu "Constructivism" dan berasal dari kata " Construct " yang artinya membina. Konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran manusia. Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang bermula dari pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam memori atau struktur kognitif pelajar kemudian dalam kegiatan belajar mengajar, baru diproses dan diserap untuk dijadikan sebagian struktur kognitif di dalam pikiran pelajar (Zulwali,2007).
Menurut para penganut konstruktif, pengetahuan dibina secara aktif oleh seseorang yang berpikir. Seseorang tidak akan menyerap pengetahuan dengan pasif. Untuk membangun suatu pengetahuan baru, peserta didik akan menyesuaikan informasi baru atau pengetahuan yang disampaikan guru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimilikinya melalui berinteraksi sosial dengan peserta didik lain atau dengan gurunya seperti tanya jawab dan diskusi (Yulaelawati, 2004).
Konstruktivisme berfokus pada: bagaimana orang menyusun arti, baik dari sudut pandang mereka sendiri, maupun dari interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, individu-individu membangun struktur kognitif mereka sendiri, persis seperti mereka mengintepretasikan pengalaman-pengalamannya pada situasi tertentu (Suciptoardi, 2007).
Menurut Budiningsih (2004), pembelajaran konstruktivisme menekankan peran utama dalam pembelajaran adalah aktivitas siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendidri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikain, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah suatu pembelajaran yang memandang bahwa pengetahuan itu dibangun sendiri secara aktif dalam diri setiap individu melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
b.      Model Pembelajaran konstruktivisme
Menurut Depdiknas (2004), model merupakan suatu konsep untuk mengajar suatu materi dalam mencapai tujuan tertentu. Joyce & Weil dalam Santyasa (2007), mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran (Sudrajat, 2008).
Model pembelajaran konstruktivisme telah mendapatkan perhatian yang besar dikalangan peneliti pendidikan sains. Daya tarik dari model konstruktivisme ini adalah pada kesederhanaanya. Model pembelajaran konstruktivisme memperlihatkan bahwa pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang sudah diketahui orang sebelumnya.  Karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru harus memperoleh, atau sampai pada, persamaan pemahaman dengan murid (Mulyasa, 2006).
Dalam belajar sains, proses konstruktif menghendaki partisifasi aktif dari siswa, sehinggga disini peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator belajar siswa (Sutarno, 2003).
      Adapun fungsi dan peranan guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran adalah menyiapkan kondisi yang kondusif pada saat proses belajar dengan menyajikan problem-problem yang menantang, berupaya untuk menggali dan memahami pengetahuan awal siswa dan menggunakannya sebagai rujukan dalam merancang dan mengimplementasikan dalam pembelajaran. Selain itu juga guru berusaha untuk merangsang dan memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengemukakan gagasan dan argumentasi agar siswa menjadi orang yang kritis dan aktif membangun pengetahuannya.
Menurut Hidayat (2003), ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme adalah keaktifan dan keterlibatan siswa belajar dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal dan gaya belajar masing-masing dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu warga belajar apabila warga belajar mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar.
( Rusdy, 2009) menjelaskan, Belajar menurut model konstruktivis merupakan proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pikirannya. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman pengalaman yang telah dimilikinya. Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1)      Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki sehingga dapat membentuk pengetahuan siswa.
2)      Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua pengerjaan tugas atau masalah harus sama misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3)      Mengintegrasikan pembelajaran dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep fisika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4)      Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
5)      Memanfaatkan berbagai media pembelajaran termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih aktif.
6)      Melibatkan siswa secara emosional dan sosial dengan mengadakan demonstrasi atau eksperimen, diskusi sehingga pembelajaran menjadi menarik.
Nanang Wahid (2009) mengemukakan, Secara garis besar, prinsip-prisip konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar
5.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.      Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.      Mencari dan menilai pendapat siswa
8.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Adapun tahapan belajar-mengajar konstruktivism menurut (Mulyasa, 2004) adalah sebagai berikut:
a.       Apersepsi yaitu: pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik dengan memberikan suatu pertanyaan atau masalah tertentu yang dapat membangun pengetahuan
peserta didik, memotivasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik misalnya mengadakan demonstrasi singkat atau menunjukkan gambar-gambar.
b.      Eksplorasi yaitu: materi atau keterampilan baru dikenalkan kemudian mengkaitkan materi baru ini dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik. Pada tahap ini peserta didik diperlihatkan langkah kerja untuk melakukan eksperimen membimbing proses eksperimen.
c.       Diskusi dan penjelasan konsep yaitu: melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru dan melibatkan siswa secara aktif dalam problem solving serta meletakkan penekanan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek kegiatan/kehidupan di dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini peserta didik diajak untuk diskusi dan merencanakan penyelidikan/eksperimen, menjawab beberapa permasalahan selama penyelidikan/eksperimen dan hasil eksperimen didiskusikan.
d.      Pengembangan dan aplikasi yaitu: Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, peserta didik melaporkan hasil eksperimen dan menyajikan dalam diskusi kelas serta membrikan penguatan, penegasan dan penerapan terhadap setiap jawaban dan menarik kesimpulan dari diskusi tersebut.
e.       Penilaian formatif yaitu: mngembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik dan menggunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan dari peserta didik atas model yang digunakan.
2.2  Kerangka Berpikir
Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dan keterampilan dalam memilih, melaksanakan, dan menentukan model pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran yang dapat membuat siswa belajar secara efektif dan efisien sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara maksimal. Selain itu juga, guru harus kreatif menciptakan proses kegiatan belajar mengajar yang tidak lagi bersifat ekspositori yaitu siswa cenderung menghafal contoh-contoh yang diberikan oleh guru tanpa terjadi pembentukan konsep yang benar pada struktur kognitif siswa. Hal ini akan berdampak pada perilaku siswa yang kurang percaya diri baik dalam bertanya, menyampaikan ide maupun dalam proses pemecahan masalah yang dihadapi. Pemilihan dan penentuan metode atau model yang digunakan oleh guru akan berdampak pada tinggi rendahnya aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran yang mengakibatkan akan berdampak pula pada prestasi belajar.
Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan langsung siswa belajar diantaranya menggunakan model pembelajaran konstruktivisme yang dikemas dalam nuansa yang menarik untuk  membangkitkan minat dan membuat siswa lebih aktif dalam belajar. Karena model pembelajaran ini menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan aktif belajar. Guru hanya bersifat sebagai fasilitator pembelajaran. Materi pembelajaran terintegrasi, menggunakan pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan pembelajaran. Siswa terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga suasana belajar akan menjadi menarik, karena siswa telah diajak untuk belajar.
Melalui model pembelajaran Konstruktivisme, siswa diarahkan untuk membangun pengetahuannya sendiri secara aktif dengan cara mengaitkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengalaman nyata. Dengan penyelidikan dan penemuannya sendiri, siswa diharapkan lebih mengingat dan memahami materi yang diajarkan, khususnya pada materi getaran dan gelombang. Sehingga prestasi siswa dapat ditingkatkan.
Dengan demikian penerapan model pembelajaran konstruktivisme diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa khususnya dalam materi getaran dan gelombang.
2.3  Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Model pembelajaran konstruktivisme dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar fisika pada pokok bahasan getaran dan gelombang pada siswa kelas VIIIA  SMP Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010”.



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1   Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), yang pada hakekatnya merupakan bentuk kajian yang dilakukan oleh pelaku tindakan  pada saat mengajar di kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.
3.2  Tempat dan Waktu Penelitian
  1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIIA SMP Negeri 2 Kediri tahun    pelajaran 2009/2010.
  1. Waktu Penelitian
 Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 april  sampai 4 juni.
3.3  Rancangan Penelitian
Dalam menerapkan model pembelajaran konstruktivisme ini digunakan tindakan berulang atau siklus. Pada penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Seperti yang terlihat pada skema dibawah ini:
Adapun kegiatan tiap tahap untuk masing-masing siklus dirinci sebagai berikut:
1.      Siklus I
a.       Perencanaan, kegiatan yang dilakukan pada tahap perencaaan ini adalah:
1)      Membuat skenario pembelajaran.
2)      Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan media pembelajaran yang sesuai.
3)      Membuat lembar observasi.
4)      Menyiapkan soal tes  hasil tes.
b.      Pelaksanaan tindakan, dengan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.
Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1)       Tahap Apersepsi meliputi:
a)      Guru menyampaikan materi pelajaran yang akan dipelajari
b)      Guru menyampaikan manfaat mempelajari materi tersebut.
c)      Guru mengaitkan materi yang dipelajari dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2)      Tahap Eksplorasi meliputi:
a) Guru mendemonstarsikan cara kerja alat sebelum siswa melakukan kegiatan eksperimen.
b) Guru memberikan LKS kepada masing-masing kelompok sehingga siswa dihadapkan pada masalah yang tertuang dalam LKS.
c) Guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk berdiskusi.
3)      Tahap Diskusi dan Penjelasan konsep meliputi
a)      Memberikan kesempatan kepada setiap perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya
b)      Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi hasil kerja kelompok yang tampil sehingga di temukan suatu konsep.
c)      Guru Memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya maupun menjawab permasalahan yang muncul dari kelompok lain.
4)      Tahap Pengembangan dan Aplikasi meliputi:
a)      Guru memberikan penegasan, penguatan dan pembenaran terhadap jawaban kelompok yang presentasi.
b)      Memberikan kesempatan siswa bertanya.
c)      Mengarahkan siswa membuat kesimpulan materi yang telah dipelajari.
d)     Memberikan tugas rumah untuk mengerjakan soal latihan yang ada pada buku paket.
c.       Observasi dan evaluasi
Kegiatan observasi dilakukukan secara kontinu setiap kali pembelajaran berlangsung dalam pelaksanaan tindakan dengan mengamati kegiatan guru dan aktivitas siswa. Observasi terhadap aktivitas siswa dilakukan dengan mengamati perilaku siswa pada saat mengikuti proses belajar mengajar atau pada saat berdiskusi dalam kelompok. Semua aktivitas yang tampak dicatat dalam lembar observasi sesuai dengan deskriptor yang muncul. Sedangkan evaluasi dilakukan setelah akhir setiap siklus dengan memberikan tes soal pilihan ganda yang dikerjakan secara individual sesuai dengan skenario yang disusun.
d.      Refleksi
Refleksi dilakukan pada akhir siklus. Pada tahap ini, peneliti bersama guru mengkaji pelaksanaan dan hasil yang diperoleh dalam pemberian tindakan tiap siklusnya. Sebagai acuan dalam refleksi ini adalah hasil observasi dan evaluasi. Hasil ini digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki serta menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus selanjutnya.
  1. Siklus II
Adapun langkah kegiatan yang dilakukan untuk siklus II hampir sama seperti siklus I yang terdiri dari 4 tahapan kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanakan tindakan, observasi, dan evaluasi serta refleksi, tetapi pada siklus II tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan tergantung pada hasil refleksi siklus I.
3.4  Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data prestasi belajar siswa, data kegiatan guru dan data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Data prestasi belajar siswa dikumpulkan dengan memberikan tes kemampuan siswa. Sedangkan data aktivitas belajar siswa dan kegiatan guru dalam proses belajar mengajar dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.

3.5  Instrumen Penelitian
Data-data dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan dua instrumen penelitian yaitu :
1.      Lembar observasi.
Tujuan penelitian ini menggunakan lembar observasi dalam pengambilan data antara lain:
a.       Memperoleh data aktivitas belajar siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
b.      Mengetahui kesesuaian antara skenario pembelajaran dengan pelaksanaan di kelas.
Adapun indikator-indikator untuk mengetahui aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar antara lain :
a.       Kesiapan siswa dalam mengikuti dan menerima materi pelajaran
b.      Interaksi siswa dengan guru
c.       Interaksi siswa dengan siswa
d.      Kerjasama kelompok
e.       Keterampilan siswa dalam Eksperimen
f.       Partisipasi dalam kegiatan pembelajaran




2.      Tes hasil belajar
Instrumen penelitian ini disusun oleh peneliti yang berpedoman pada kurikulum dan buku paket fisika. Tes hasil belajar ini menggunakan soal pilihan ganda.
Untuk mengetahui baik tidaknya butir soal yang diberikan, perlu melakukan penganalisisan butir soal, yang meliputi :
a)      Validitas
Suatu instrumen dikatakan telah memiliki validitas (kesahihan atau ketepatan) yang baik jika instrumen tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya hendak diukur. Validitas suatu item soal sangat perlu diketahui, karena apabila diketahui validitasnya maka diperoleh gambaran yang jelas apakah soal itu dapat digunakan atau tidak. Rumusan yang digunakan adalah Korelasi Point Biserial yaitu :
= koefisien korelasi point biserial (validitas tes)
MP   =  mean skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang   
           dicari validitasnya
Mt = rerata skor total
St   = Standar deviasi dari skor total
p     = proposi subyek yang menjawab benar
q     = proposi siswa yang menjawab salah (q = 1-p)
b)      Reliabilitas
Dalam bidang psikologi dan pendidikan, reliabilitas instrumen diartikan sebagai keajegan (consistency) hasil instrumen tersebut. Semua tes akan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Reliabilitas tes menggunakan rumus Kuder Richardson 20 (KR-20) yaitu :
  
Keterangan :
r11  = Reliabilitas tes secara keseluruhan
S    = standar deviasi dari tes
n    = Banyaknya item
p    = Proposi subyek yang menjawab item dengan benar
q    = Proposi subyek yang menjawab  item dengan salah (q = 1-p)
∑pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q. (Arikunto, 2005)
3.6  Teknik Analisis Data
1.      Data Aktivitas Belajar Siswa
            Setelah diperoleh data dari lembar observasi siswa maka data aktivitas siswa akan dianalisis dengan cara berikut :
a.         Menentukan skor aktivitas siswa secara klasikal untuk masing-masing deskriptor, yaitu :
Skor 5 diberikan jika semua (4) deskriptor yang nampak
Skor 4 diberikan jika 3 deskriptor yang nampak
Skor 3 diberikan jika 2 deskriptor yang nampak
Skor 2 diberikan jika 1 deskriptor yang nampak
Skor 1 diberikan jika tidak ada deskriptor yang nampak
b.      Menghitung Aktivitas belajar siswa dengan rumus:

                        Keterangan:           M = Rata-rata skor aktivitas belajar siswa
Σ xi = Jumlah skor aktivitas siswa
                                                       N = Banyak siswa
c.       Menentukan Mi rerata (Mean) ideal dan SDi simpangan baku ideal dengan rumus sebagai berikut:
 (Skor tertinggi + Skor terendah)
(Skor tertinggi – Skor terendah)
                              Keterangan:           Mi  = Rerata(Mean Ideal)
                                 SDi = Standar depiasi ideal
d.       Menentukan kriteria aktivitas siswa
Untuk menentukan standar keaktifan siswa dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
MI + 2 SDI ≤ M ≤ MI + 3 SDI                     sangat aktif
MI + 1 SDI ≤ M < MI + 2 SDI                     aktif
MI 1 SDI ≤ M < MI + 1 SDI                     cukup aktif
MI 2 SDI ≤ M < MI 1 SDI                      kurang aktif
MI 3 SDI ≤ M < MI 2 SDI                      sangat kurang aktif
                                          (Nurkencana,1990 dalam Siti Nuraini 2009)
Berdasarkan lembar observasi aktivitas siswa diketahui skor tertinggi adalah 30 dan skor terendah adalah 6, maka nilai MI = 18 dan SDI = 4 sehingga nilai data aktivitas siswa dapat dilihat pada table berikut ini.
Tabel 3.1 : Pedoman Kategori Aktivitas Belajar Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kediri Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Konstruktivisme Tahun Pelajaran 2009/2010.
Interval Nilai
Kategori
26 ≤ M ≤ 30
Sangat Aktif
22 ≤ M < 26
Aktif
14 ≤ M < 22
Cukup Aktif
10 ≤ M < 14
Kurang Aktif
6 ≤ M < 10
Sangat Kurang Aktif




2.      Data aktivitas Guru
Untuk mengetahui aktivitas guru prinsipnya sama dengan untuk mengetahui aktivitas siswa,  Skor 4 diberikan jika 3 deskriptor nampak, Skor 3 diberikan jika 2 deskriptor nampak, Skor 2 diberikan jika 1 deskriptor nampak, Skor 1 diberikan jika tidak ada deskriptor nampak yang dilakukan oleh siswa. Perhitungan yang diberikan sama dengan perhitungan pada data aktivitas siswa, dengan kriteria sebagai berikut: BS ( baik sekali), B (baik), C (cukup), K (kurang), KS (kurang Sekali).
Berdasarkan lembar observasi aktivitas guru diketahui skor tertinggi adalah 40 dan skor terendah adalah 10. Karena data aktivitas guru dihitung menggunakan rumus yang sama dengan data aktivitas siswa, maka nilai MI = 25 dan niali SDI = 5, sehingga diperoleh data aktivitas guru yang dapat dilihat oada tabel di bawah ini.
Tabel 3.2 : Pedoman Kategori Aktivitas Guru Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Kediri Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Konstruktivisme Tahun Pelajaran 2009/2010.
Interval Nilai
Kategori
35 ≤ M ≤ 40
Baik Sekali
30 ≤ M < 35
Baik
20 ≤ M < 30
Cukup
15 ≤ M < 20
Kurang
10 ≤ M < 15
Kurang Sekali

3.      Data Tes Hasil Belajar
Setelah memperoleh data tes hasil belajar, maka data tersebut dianalisa dengan mencari ketuntasan belajar dan daya serap, kemudian dianalisa secara kuantitatif.

a.       Ketuntasan Individu

Setiap individu dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas apabila memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan nilai 6,0. Nilai ketuntasan minimal sebesar 6,0 dipilih karena sesuai dengan kemampuan individu, hal ini sesuai dengan standar ketuntasan belajar minimal yang diterapkan oleh sekolah tempat peneliti melakukan penelitian.

b.      Ketuntasan Klasikal

Data tes hasil belajar proses pembelajaran dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan hasil belajar secara klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 60 ke atas. Dengan rumus ketuntasan belajar klasikal adalah:
KK = x 100%
Dimana:
KK      =            Ketuntasan Klasikal
X  =     Jumlah siswa yang memperoleh nilai 60 ke atas
Z  =     Jumlah seluruh siswa (Nurkencana:1999)
Ketuntasan belajar klasikal tercapai jika ≥ 85% siswa memperoleh skor minimal 60 yang akan terlihat pada hasil evaluasi tiap – tiap siklus.       



















PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME PADA POKOK BAHASAN GETARAN DAN GELOMBANG UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 2 KEDIRI TAHUN PELAJARAN

0 comments:

Post a Comment