Wednesday, October 31, 2012

kumpulan skripsi biologi PENGARUH METODE INQUIRY TERHADAP HASIL PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA


PENGARUH METODE INQUIRY TERHADAP HASIL PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA 

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang Masalah
Kecenderungan terakhir dalam pendidikan dewasa ini adalah pemusatan pada kemampuan belajar anak yang ditentukan oleh struktur dan perkembangan kognitif anak, kemampuan belajar dalam lingkungan sosialnya serta pola persepsi individualnya. Kecenderungan ini telah mendorong kembali perhatian pendidikan terhadap metode pembelajaran, karena kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh kualitas pengajaran.
Sains adalah suatu kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains berkaitan dengan cara memahami alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep, prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Kuslan dan Stone (1968: 2) mengatakan “The collected knowledge which is the product of science has a dynamic counterpart, the process of science. Science is simultaneously a kind of knowledge and a way of gaining and using that knowledge.” Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam pembelajaran sains, pada umumnya peran guru begitu dominan, sedangkan siswa cenderung pasif. Menurut pengamatan Cony semiawan (2000:21), menunjukkan bahwa guru merupakan aktor utama pendidikan di kelas. Fungsi edukatif terutama berkenaan dengan menyajikan, menjelaskan, mempertanggungjawabkan ”body of material” yang harus dibelajarkan. Guru menuntut pola perilaku dan sikap tertentu yang bercirikan prosedur di kelas yang merupakan akibat pengaruh dari luar diri siswa. Siswa secara umum masih bersifat pasif. Ia mendengarkan dan membuat catatan tentang penjelasan guru dalam mengikuti pembelajaran.
Sikap siswa yang cenderung pasif dalam lingkungan kelas ini menandakan kurangnya upaya guru untuk mengembangkan keterampilan proses sains siswa. Padahal keterampilan proses sains itu sendiri merupakan irama gerak atau tindakan dalam proses pembelajaran sains yang dapat menciptakan kondisi belajar siswa lebih aktif. Kebanyakan guru hanya memberikan pengetahuan, bukannya menyiapkan situasi yang menggiring anak untuk bertanya, menggiring anak untuk mengadakan eksperimen serta menemukan fakta dan konsep sains sendiri.
Moh Amien (1987: 165-166) menyatakan bahwa siswa tidak semata sebagai penerima informasi dan memecahkan permasalahan yang diberikan kepadanya, tetapi sebagai “manusia kreatif” yang kemampuan kreatifnya harus dikembangkan sepenuhnya melalui proses belajar mengajar (pendidikan). Kreativitas merupakan aspek terpenting dalam setiap interaksi manusia dan faktor penentu yang vital terhadap intelek, penyesuaian diri manusia atau keberhasilan dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu jalur utama untuk membentuk manusia kreatif adalah melalui pendidikan pada umumnya dan pendidikan IPA pada khususnya.
Kreativitas siswa di dalam belajar sains akan berhubungan dengan hasil belajar sains. Siswa yang kreatif akan mencari cara yang dapat mempermudah dalam memahami konsep-konsep sains, sehingga dapat memecahkan soal-soal sains secara cepat dan tepat. Namun sayangnya, banyak guru yang cenderung mengarahkan siswa pada proses berpikir konvergen bukannya berpikir divergen sehingga kreativitas siswa terhambat menyebabkan kreativitasnya kurang berkembang.
Salah satu tujuan pembelajaran sains yaitu untuk memberikan penguasaan konsep-konsep sains dan saling keterkaitannya, serta penerapannya baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam teknologi. Materi sains di sekolah dasar dijabarkan dalam bentuk konsep-konsep sains. Materi sains bersifat abstrak, diajarkan dalam bentuk sederhana daripada kenyataannya, bersifat berurutan dan berkembang sangat cepat. Dikarenakan sebagian besar konsep-konsep tersebut bersifat abstrak sehingga dalam mempelajari sains siswa dituntut mempunyai kemampuan yang tinggi dalam pemahamannya, dan hal inilah yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam menguasai konsep sains.
Dalam belajar, aktivitas jasmani dan rohani harus dihubungkan. Menurut Piaget (Nasution, 2000: 59), seorang anak berpikir sepanjang dia berbuat. Agar siswa berpikir sendiri, ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Berpikir pada taraf verbal baru timbul setelah anak berpikir pada taraf perbuatan. Namun sayangnya penggunaan variasi kegiatan yang bisa merangsang siswa untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka secara optimal masih jarang diberikan oleh guru. Pembelajaran Sains sebaiknya disajikan dengan kegiatan yang menyenangkan yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Indikator pembelajaran yang menyenangkan antara lain setelah proses pembelajaran dilakukan, mereka akan mengatakan bahwa Sains itu menyenangkan, mudah, saya menyukai dan menantikan pelajaran Sains pada pertemuan mendatang.
Karakter siswa dengan rasa ingin tahunya, menuntut untuk dilakukan pengembangan pembelajaran yang lebih bisa mewadahi potensi positif siswa tersebut. Sehingga pembelajaran sains nantinya dapat mengoptimalkan keaktifan siswa serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan proses sains siswa. Dengan demikian kreativitas serta penguasaan konsep sains siswa juga akan turut berkembang.
Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran sains, pada proses pembelajaran berkelanjutan guru dapat menerapkan metode inquiry dalam kegiatan pembelajaran, karena dengan penerapan pembelajaran ini siswa akan dituntut untuk berpikir kreatif dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman siswa terhadap pembelajaran akan melekat pada siswa, kita sering mendengar melakukan lebih baik dari pada mendengarkan karena dengan melakukan siswa akan terlibat langsung sehingga siswa akan paham betul apa yang dilakukannya, selain tak kalah pentingnya adalah adanya motivasi dari siswa maupun guru dalam proses pembelajaran serta dituntut adanya guru yang profesional sehingga dapat merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga jalannya proses pembelajaran akan terjadi interaksi yang aktif sehingga akan dapat meningkatkan daya atau kemampuan pada diri siswa.
Inquiry adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari  proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental  itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental emosional maupun pribadinya. (Sanjaya, 2005:119).
Pembelajaran sains di SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta, dalam pelaksanaan kesehariannya, dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan model pembelajaran dengan praktikum. Tetapi praktikum yang dilakukan pun masih terbatas pada kegiatan verifikatif saja. Dan pembelajaran yang dilakukan masih berorintasi pada materi  dan juga berorientasi pada guru. Hal yang tidak dapat dipungkiri juga, proses pembelajaran sains di SMP Pangudi luhur masih kurang dalam pengembangan kerampilan proses sains siswa. Banyak hambatan yang dialami guru maupun siswa di dalam kelas tersebut. Antara lain target penyelesaian materi yang harus dikejar guru sehingga perhatiannya cenderung bagaimana menyelesaikan materi tersebut tepat waktu dan materi telah tersampaikan semua serta nilai siswa yang bagus. Sehingga hasil dari proses pembelajaran adalah dititik beratkan pada aspek kecerdasan dan kemampuan siswa dalam mendapatkan nilai yang bagus pada mata pelajaran sains. Mengenai bagaimana siswa melakukan proses sains untuk mendapatkan fakta, pengetahuan, konsep masih kurang mendapat perhatian.   

                                                                                                                        
B.    Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut :
1.      Partisipasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sains yang masih kurang menuntut untuk diterapkannya proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memotivasi siswa untuk berperan aktif di dalam kelas.
2.      Kurang berkembangnya kreativitas siswa karena guru yang cenderung mengarahkan siswa pada proses berpikir konvergen bukannya berpikir divergen.
3.      Penggunaan variasi kegiatan yang bisa merangsang siswa untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri siswa secara optimal yang masih jarang diberikan oleh guru.
4.      Upaya pengembangan keterampilan proses sains siswa yang kurang mendapat perhatian.
5.      Kemampuan pemecahan masalah (problem solving) siswa yang cenderung diabaikan, sehingga mereka jarang sekali menemukan permasalahannya sendiri dalam proses pembelajaran di kelas.
C.    Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada pengaruh metode Inquiry terhadap kemampuan merancang percobaan dan penguasaan konsep pada siswa SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009.             
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah Metode Inquiry berpengaruh terhadap kemampuan merancang percobaan dan penguasaan konsep siswa?  
E.    Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode Inquiry terhadap kemampuan merancang percobaan dan penguasaan konsep siswa SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta.
F.     Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut :
1.      Bagi Guru
            Sebagai masukan di dalam menerapkan prinsip-prinsip metode pada pembelajaran sains.
2.      Bagi Siswa
a.       Dapat meningkatkan minat dan motivasi dalam belajar sains.
b.      Memperoleh petunjuk, membiasakan dan meningkatkan keterampilan proses sains sebagai salah satu langkah menanamkan sikap-sikap ilmiah.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori
1.      Hakekat Pembelajaran Sains
Albert Einstein, ahli fisika yang terkenal pada abad 20, seperti yang dikutip oleh Howe & Jones (1993: 6), mendefinisikan sains sebagai berikut:
Science is not just a collection of laws, a catalogue of unrelated facts. It is a creation of the human mind, with is freely invented ideas and concepts. Physical theories try to form a picture of reality and to establish its connection with the wide world of science impressions.
Hal ini berarti bahwa sains tidak akan pernah menjadi tubuh dari ilmu pengetahuan yang mati atau statis karena ide-ide dan teori-teori baru selalu muncul dan penemuan-penemuan baru selalu dibuat.
Beberapa konsep dalam sains datang dari pengalaman atau pengamatan langsung, hal ini sering disebut sebagai konsep konkrit. Sebagai contoh, seorang anak dapat secara langsung mengamati siklus hidup kupu-kupu. Tidak ada urutan logika atau langkah pengetahuan yang dalam dibutuhkan untuk mengerti perubahan siklus kupu-kupu yang menarik tersebut dari telur hingga menjadi dewasa. Anak juga dapat melihat bahwa kumbang juga memiliki perubahan siklus kehidupan yang serupa. Dalam hal ini anak dapat menyimpulkan bahwa semua insekta memiliki tahap larva dan pupa.
Konsep sains yang lain di samping melakukan pengalaman langsung juga membutuhkan pemikiran yang abstrak. Sebagai contoh adalah peristiwa tenggelam/terapung. Seseorang dapat mengamati bahwa beberapa benda terapung dan yang lainnya tenggelam ketika dimasukkan ke dalam air. Kesimpulan yang pasti tentang tenggelam dan terapung dapat dituliskan pada tingkat yang konkrit. Sebagai contoh, logam tenggelam, kayu terapung. Tetapi kesimpulan ini jelas dapat membuat pemahaman anak bisa keliru. Sebagai contoh, beberapa jenis kayu tenggelam, cangkir logam terapung, dan kapal terapung. Konsep tenggelam/terapung membutuhkan pemikiran abstrak yang membahas tentang kerapatan (berat per satuan volume) dari objek terhadap kerapatan cairan.
Belajar adalah proses yang aktif, yaitu proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan pada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Nana Sudjana, 1989: 28). Sedangkan mengajar bukan sekedar memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) yang dimiliki oleh guru kepada siswanya, tetapi lebih merupakan upaya bagaimana membelajarkan siswa. Dalam pembelajaran, siswa perlu didudukkan sebagai subyek, bukan sebagai obyek, yang dapat diperlakukan semaunya oleh guru. Sebagai subyek belajar, siswa merupakan pribadi yang utuh dan selalu berkembang. Sifat ingin tahu terhadap sesuatu yang baru bagi dirinya adalah modal belajar yang perlu sekali dikembangkan dan diperhatikan guru. Untuk itu diperlukan kondisi belajar yang banyak memberi peluang kepada siswa untuk dapat menggunakan segala potensi yang dimilikinya (Surachman, 2001: 13). Menurut Nasution (2000: 4) tujuan pembelajaran yang dilakukan bukan hanya penguasaan prinsip-prinsip yang fundamental saja, melainkan mengembangkan sikap yang positif terhadap belajar penelitian dan penemuan serta pemecahan masalah atas kemampuan sendiri. Menyajikan konsep-konsep yang fundamental saja tidak dengan sendirinya menimbulkan sikap yang demikian.
2.      Keterampilan Proses Sains
Cara berpikir dalam sains, adalah keterampilan-keterampilan proses. Keterampilan proses sains dibedakan dalam dua bagian besar, yaitu keterampilan dasar proses sains, dimulai dari observasi sampai dengan meramal, dan keterampilan terpadu proses sains, dari identifikasi variabel sampai dengan yang paling kompleks, yaitu eksperimen.
Keterampilan dasar proses sains adalah hal-hal yang dikerjakan ketika siswa mengerjakan sains, misalnya mengobservasi pengaruh suhu terhadap faktor redaman ayunan teredam. Dalam keterampilan terpadu proses sains, siswa dipandu untuk melakukan eksperimen melalui penggunaan seluruh keterampilan-keterampilan proses yang siswa miliki. Melalui eksperimen suatu pembelajaran sains dikatakan utuh, sebab eksperimen di laboratorium merupakan bagian integral dari konsep, prinsip dan hukum sains akan dipelajari.
Keterampilan proses sains merupakan irama gerak atau tindakan dalam proses pembelajaran sains yang dapat menciptakan kondisi belajar siswa lebih aktif. Keterampilan proses sains yang dimaksud adalah seperti yang dilakukan oleh para ahli dalam kerja ilmiahnya (Tedjo Susanto, 2000: 46). Hal serupa juga dikemukakan oleh Rezba mengenai pengertian keterampilan proses: “....science process skills are what people do when they do science”. Keterampilan proses sains dibagi menjadi 2 yaitu, Basic Science Process Skill dan Integrated Science Process Skill. Yang termasuk dalam Basic Science Process Skill adalah: mengobservasi, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, inferensi, dan prediksi (Rezba, 1995: 1). Sedangkan Integrated Science Process Skill terdiri atas identifikasi variabel, menyusun hipotesis, menganalisis, tabulasi data, dan mendesain dan melakukan percobaan. (Rezba, 1955: 117).
Ada 13 proses yang dapat diidentifikasi, 8 proses diantaranya merupakan proses dasar untuk tingkat sekolah dasar, dan 5 proses yang lain untuk sekolah menengah. Keterampilan proses sains yang dimaksud adalah Observing, Classifying, Measuring, Communicating, Infering, Predicting, Using Number, Using Space Time Realtionship, Formulatting Hypothesis, Controlling Variabels, Interpreting Data, Defining Operationally, Experimenting. (Tedjo Susanto, 2000: 15)
 Sedangkan menurut Cony Semiawan, (1992: 17-18), kemampuan-kemampuan atau keterampilan-ketrampilan mendasar tersebut antara lain:
-                Mengobservasi atau mengamati, termasuk di dalamnya: menghitung, mengukur, mengklasifikasikan, mencari hubungan ruang dan waktu
-                Membuat hipotesis
-                Merencanakan penelitian
-                Menentukan variabel
-                Menginterpretasi atau menafsirkan data
-                Menyusun kesimpulan
-                Mengkomunikasikan
Ada beberapa alasan mengapa ketrampilan proses sangat perlu dalam proses pembelajaran sehari-hari. Alasan pertama, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat sehingga tak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Alasan kedua, para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh yang konkret, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata. Untuk melaksanakan hal ini, tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi yang menggiring anak untuk bertanya, menggiring anak untuk mengadakan eksperimen serta menemukan fakta dan konsep sendiri. Alasan ketiga adalah penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Semua konsep yang ditemukan melalui penyelidikan ilmiah masih tetap terbuka untuk dipertanyakan, dipersoalkan dan diperbaiki. Jika kita hendak menanamkan sikap yang demikian pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap satu masalah. Alasan keempat, dalam proses pembelajaran mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik. Konsep di satu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus disatukaitkan (Cony Semiawan, 1992: 14-15).
Dengan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan proses, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian keterampilan-ketrampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep, penumbuhan dan pengembang sikap, dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses pembelajaran seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif.


3.      Metode Inquiry
Rasa ingin tahu tentang keadaan alam di sekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran, penglihatan dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa keinginantahuan manusia secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari keingintahuan itu. Dalam rangka itulah strategi inquiry dikembangkan.
Sampai sekarang metode inquiry, masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif.. Inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).
Alasan rasional penggunaan metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” Sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990).
Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains dan Matematika (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.
Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).
Inquiry artinya adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari  proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental  itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental emosional maupun pribadinya. (Sanjaya, 2005:119).
Model inkuiri didefinisikan oleh Piaget (Sund dan Trowbridge, 1973) sebagai: Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain.

             Kuslan Stone (Dahar,1991) mendefinisikan model inkuiri sebagai pengajaran di mana guru dan anak mempelajari peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala ilmiah dengan pendekatan dan jiwa para ilmuwan.
            Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digariskan secara jelas (Hamalik, 1991).
Wilson  (Trowbridge, 1990) menyatakan bahwa model inkuiri adalah sebuah model proses pengajaran yang berdasarkan atas teori belajar dan perilaku. Inkuiri merupakan suatu cara mengajar murid-murid bagaimana belajar dengan menggunakan keterampilan, proses, sikap, dan pengetahuan berpikir rasional (Bruce & Bruce, 1992). Senada dengan pendapat Bruce & Bruce , Cleaf (1991) menyatakan bahwa inkuiri adalah salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses. Inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa, yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi. Proses tersebut sama dengan prosedur yang digunakan oleh ilmuwan sosial yang menyelidiki masalah-masalah dan menemukan informasi.
Sementara itu, Trowbridge (1990) menjelaskan model inkuiri sebagai proses mendefinisikan dan menyelidiki masalah-masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, menemukan data, dan menggambarkan kesimpulan masalah-masalah tersebut. Lebih lanjut, Trowbridge mengatakan bahwa esensi dari pengajaran inkuiri adalah menata lingkungan/suasana belajar yang berfokus pada siswa dengan memberikan bimbingan secukupnya dalam menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmiah.
Senada dengan pendapat Trowbridge, Amien (1987) dan Roestiyah (1998) mengatakan bahwa inkuiri adalah suatu perluasan proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan pada proses discovery, inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, menumbuhkan sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa inkuiri  merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam model inkuiri ini siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain.



Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heurskein yang berarti saya menemukan.
   Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inquiry. Pertama, strategi inquiry menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiry menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari mata pelajaran itu sendiri.
   Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self believe). Dengan demikian, strategi pembelajaran inquiry menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inquiry.
Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inquiry adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inquiry siswa tak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal; namun sebaliknya, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai materi pelajaran.
Dalam penggunaan strategi pembelajaran inquiry terdapat prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru (Sanjaya, 2006).
1.      Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inquiry adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inquiry bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berpikir adalah sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, oleh sebab itu setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
2.      Prinsip Interaksi
Proses belajar pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan (directing) agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya berlangsung antar siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang; atau guru justru menanggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri.
3.      Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inquiry adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemmapuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inquiry sangat diperlukan. Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru menimpulkan ketidakpastian atau konflik konseptual dalam diri siswa. Konflik konseptual ini akan menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dalam diri siswa. Untuk menjawab rasa ingin tahunya, siswa harus memiliki banyak pengetahuan, yang dapat diperoleh dari berbagai macam sumber belajar. Artinya, dalam metode inquiry sebenarnya guru menciptakan curiosity siswa, yang meningkatkan motivasi belajarnya, dan guru kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut melalui berbagai macam sumber belajar. Tentu saja, peranan guru sangat penting dalam memilihkan sumber belajar yang tepat agar siswa tidak terlalu lama dalam keadaan "belum menemukan jawaban", karena hal ini dapat menurunkan kembali motivasinya.
4.      Prinsip belajar untuk berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksakan anak untuk berpikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.
5.      Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
4.      Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inquiry
            Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
                   a.      Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang reponsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Keberhasilan strategi pembelajaran inquiry sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah; tanpa kemauan dan  kemampuan itu tidak mungkin proses pembelajaran berjalan dengan lancar.
                  b.      Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah yang membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan maslaha itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inquiry, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam berinquiry adalah teka-teki yang menjadi masalah dalam berinquiry adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan.
                   c.      Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis  yang diajukan itu bersifat rasional dan logis.
                  d.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inquiry, menumpulkan data adalah merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
                   e.      Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
                   f.      Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan kepada siswa data mana yang relevan. (Sanjaya, 2007)
5.      Kegiatan Praktikum Berbasis Inkuiri
Praktikum adalah istilah yang biasa digunakan di Indonesia untuk menunjuk kegiatan yang dikerjakan di laboratorium. Untuk menunjuk hal yang sama, literatur US biasa menggunakan istilah kerja laboratorium (laboratory work), sedangkan literature UK dan negara-negara yang berafiliasi dengannya menggunakan istilah kerja praktik (practical work). Definisi kerja laboratorium, adalah suatu bentuk kerja praktik yang bertempat dalam lingkungan yang disesuaikan dengan tujuan dimana siswa/mahasiswa terlibat dalam pengalaman belajar yang terencana, berinteraksi dengan peralatan untuk mengobservasi dan memahami fenomena. Jadi laboratorium merupakan tempat belajar (Lazarowitz & Tamir, 1994).
Praktikum atau kegiatan belajar di dalam laboratorium dapat didikotomikan menjadi kegiatan praktikum yang bersifat verifikasi dan praktikum berbasis inquiry. Praktikum verifikatif adalah rangkaian kegiatan pengamatan/pengukuran, pengolahan data, dan penarikan kesimpulan yang bertujuan untuk membuktikan konsep atau hukum yang sudah diajarkan di kelas (atau sudah dimiliki siswa/mahasiswa). Sedangkan praktikum berbasis inquiry adalah kegiatan laboratorium yang memungkinkan siswa/mahasiswa untuk: (1) mengeksplorasi gejala dan menyatakan permasalahan, (2) mengusulkan hipotesis, (3) mendesain dan melaksanakan cara pengujian hipotesis, (4) mengorganisasikan dan menganalisis data yang diperoleh, (5) merumuskan kesimpulan (Lawson, 1995).
Model pembelajaran inquiry pertama kali dikembangkan oleh Richard Suchman (Joyce et al., 1992) dengan menganalisis metode yang biasa dikerjakan oleh peneliti, khususnya oleh ilmuwan fisika. Setelah ia mengidentifikasi elemen-elemen dalam proses inquiry yang biasa dilakukan oleh ilmuwan, kemudian Suchman mengimplementasikannya dalam model pembelajaran yang disebut dengan “inquiry training,” dan menunjukkan keefektifan model itu dalam pembelajaran di laboratorium. Pengembangan model inquiry ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme yang menyatakan bahwa setiap individu akan membangun pengetahuannya sendiri ketika berinteraksi dengan lingkungan (Lawson, 1995).
Tujuan umum dari inquiry, menurut Joyce et al. (1992), adalah untuk membantu siswa/mahasiswa mengembangkan ketrampilan yang diperlukan untuk membangkitkan pertanyaan yang muncul dari rasa keingintahuannya dan upaya mencari jawabannya sendiri. Metode inquiry memfasilitasi agar siswa/mahasiswa mempertanyakan mengapa peristiwa terjadi, kemudian berusaha mengumpulkan data dan mengolahnya, sehingga dengan caranya itu dapat menemukan jawaban yang bersifat sementara (tentative). Ini berarti metode inquiry dapat mengembangkan kemampuan untuk belajar (learning-to-learn).
Pengembangan kemampuan belajar ini sangat penting karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini tidak memungkinkan kita mengajarkan sains dengan menjejalkan semua fakta dan konsep kepada siswa/mahasiswa. Sebagai penggantinya kita harus memberdayakan siswa/mahasiswa agar mampu belajar, sehingga dengan bekal pemahaman terhadap sejumlah konsep dasar dan kecakapan berinquiry selanjutnya diharapkan siswa/mahasiswa dapat menemukan atau mengembangkan konsep sendiri.           
6.      Merancang ekpserimen
Merancang dan melakukan eksperimen merupakan satu dari ketrampilan proses yang terpenting dalam melakukan inkuiri. Ketika siswa mengemukakan pertanyaan mengenai fenomena yang spesifik, langkah selanjutnya dalam proses inkuiri  adalah mencari kemungkinan jawaban atau uji yang mungkin dilakukan. Banyak ketrampilan bereksperimen tidak berkembang yang sebenarnya merupakan bagian dari sikap keingintahuan siswa terhadap alam ini. Permainan yang dilakukan siswa melibatkan usaha mencari ide untuk melihat apa yang terjadi. Siswa memulai bereksperimen dengan dunia luar segera setelah dapat memanipulasi lingkungan dengan berbagai cara.
Di kelas, guru akan membantu siswa memperbaiki kemampuan bereksperimen. Hal terpenting bahwa siswa perlu pengembangan ketrampilan untuk merancang dan melaksanakan percobaan. Kebiasaan yang terjadi di kelas bahwa guru hanya memberikan petunjuk dalam melakukan percobaan. Hal ini tidak hanya akan mengambil kesempatan inkuiri siswa tetapi juga mengurangi kesempatan siswa untuk belajar menggunakan ketrampilan merancang percobaan.
Ketika mengenalkan eksperimen kepada siswa, guru seharusnya mengizinkan siswa untuk merancang percobaan sendiri tanpa masukan guru. Untuk mengembangkan pemahaman proses, penting untuk guru memberikan kesempatan siswa berpikir dan mengusahakan rancangan percobaan sendiri. Siswa berhak melakukan kesalahan, tetapi ada waktu dimana guru membimbing melalui refleksi dan analisis mengenai aspek merancang percobaan yang sudah dilakukan dan aspek yang belum dilakukan siswa. Selanjutnya guru mengizinkan siswa untuk memperbaiki rancangannya dan mencoba kembali. Pendekatan inkuiri ini memang membutuhkan banyak waktu. Memberikan kepada siswa semua jawaban dan rancangan, selain tidak memberikan kesempatan siswa untuk melakukan internalisasi proses juga tidak memberikan siswa pengalaman memperoleh ilmu.
Pada dasarnya, ada tiga tipe situasi dimana guru dapat menerapkan eksperimen dengan siswa, yaitu :
1.         Melihat semua fenomena yang terjadi di lingkungan sekeliling. Dalam situasi ini, siswa mengeksplore secara terbuka fenomena tanpa ada ide tertentu yang dimengerti dulu (hipotesis) atau hanya berupa rumusan masalah secara eksplisit. Siswa hanya berusaha melihat perbedaan dari suatu objek dan mengetahui apa yang terjadi
2.         Menjawab pertanyaan / permasalahan
Dalam kondisi ini, siswa mempunyai permasalahan sendiri. Siswa kemudian merancang percobaan untuk melihat bahwa mereka dapat mendapatkan hasil yang akan membantu dalam merumuskan jawaban permasalahan
3.         Menguji suatu teori
Di sini, siswa berpendapat mengenai suatu hal yang diamati. Untuk mengetahui kebenaran konsep, siswa merancang eksperimen.
(Jeffrey W. Blomm, 1998 : 231 – 233)
B.     Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Sulistiani (2005: 47) dengan judul “Implementasi Pendekatan Inquiry pada Mata Pelajaran Sains” diperoleh hasil bahwa penerapan pendekatan pembelajaran inquiry dapat (1) meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) meningkatkan keterampilan guru dalam pengelolaan pembelajaran di kelas, (3) mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, (4) meningkatkan respon siswa terhadap pembelajaran sehingga mendorong untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar serupa.
Penelitian yang dilakukan oleh Surtikanti, Adisendjaja & Fitriani (2001: 41) tentang “Penerapan Metode Penemuan (Discovery dan Inquiry) pada Kegiatan Laboratorium Biokimia di Jurusan Pendidikan Biologi” menunjukkan bahwa metode penemuan lebih baik dalam peningkatan pemahaman konsep dibandingkan metode konvensional. Hal ini meliputi keaktifan mahasiswa dalam bertanya.
C.    Kerangka Pikir
Pembelajaran sains tidak hanya memberikan teori pengetahuan saja, tetapi dituntut mampu mengembangkan siswa berkaitan dengan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan belajar mengajar yang menekan pada proses pembelajaran perlu didukung dengan metode mengajar yang sesuai. Metode mengajar tersebut mendukung keaktifan siswa dalam belajar. Siswa tidak hanya menerima materi pelajaran, tetapi menjadi penyelidik dan penemu dari pengetahuan baru yang akan dicari dan dipelajari itu.
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang terintegrasi dari kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dikenal sebagai metode ilmiah. Keterampilan proses yang dimaksud adalah merancang percobaan.
Melalui pembelajaran dengan metode pembelajaran inquiry siswa akan menjadi sosok yang aktif dalam melakukan pembelajaran itu sendiri. Kegiatan-kegiatan dalam strategi pembelajaran inquiry mengakomodasikan proses atau cara kerja ilmiah yang dapat dilakukan siswa dalam mempelajari pengetahuan baru.
Hal tersebut tentunya berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dalam hal ini prestasi kognitif. Karena siswa terlibat langsung saat pembelajaran dalam memperoleh konsep. Sehingga mereka dapat lebih lama menyimpan konsep yang dipelajari dalam struktur kognitifnya, dan mampu melihat relevansi dari konsep yang dipelajari. 
D.    Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berfikir tersebut, maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: “ada pengaruh penerapan metode inquiry terhadap hasil belajar sains siswa”.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Disain penelitian
            Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen, dengan disain berupa pretes-postes control group design. Format desain penelitian tersebut dapat digambarkan pada tabel berikut (Sumanto, 1995:133):
Tabel 1. Format Desain Pretes-Postes Control Group
Kelompok
Pretes
Treatment
Postes
Kontrol
O1
X1
O2
Eksperimen
O3
X2
O4

Perluasan dari desain di atas adalah seperti di bawah ini:
Tabel 2 Pretest-Postest Control Group Design
Kelompok
Pretes
Variabel
Postes
Eksperimen I
O1
X1
O2
Eksperimen II
O3
X2
O4
Kontrol
O5
X3
O6
Keterangan :
O1                   :    pretes kelompok eksperimen I
O2                    :    postes kelompok eksperimen I
O3                    :    pretes kelompok eksperimen II
O4                    :    postes kelompok eksperimen II
O3                    :    pretes kelompok kontrol
O4                    :    postes kelompok kontrol
X1                    : pembelajaran menggunakan metode inquiry dengan          pendekatan eksperimen
X2                    : pembelajaran menggunakan metode inquiry dengan      pendekatan eksplorasi 
            X3                    :    pembelajaran menggunakan metode konvensional

B.     Variabel Penelitian
1.           Variabel Bebas: penggunaan metode Inquiry dengan pendekatan eksperimen pada pembelajaran di kelompok eksperimen I, penggunaan metode Inquiry dengan pendekatan eksplorasi pada pembelajaran di kelompok eksperimen II, dan penggunaan metode Konvensional pada pembelajaran di kelompok kontrol  
2.           Variabel terikat: kemampuan merancang percobaan dan penguasaan konsep sains siswa.
C.    Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama Pangudi Luhur 2 Yogyakarta.
Waktu Penelitian: bulan Januari-Februari 2009
D.    Populasi dan Sampel Penelitian
1.           Populasi dalam penelitian ini adalah: kelas 1 semester 1 SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2008/2009 yang terdiri dari 4 kelas.
2.           Sampel dalam penelitian ini adalah: 2 kelas dari 4 kelas yang ada di SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta.
E.     Instrumentasi dan Teknik Pengumpulan Data
1.           Soal tes, untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum pemebelajaran (pretes), dan tes untuk mengetahui kemampuan siswa setelah pembelajaran (postes). Soal pretes dan postes diberikan baik kepada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
2.           Lembar Kerja Siswa, digunakan sebagai petunjuk dala melaksanakan pembelajaran agar aktifitas siswa lebih terarah.
3.           Lembar Penilaian Laporan Akhir Kegiatan Kelompok, sebagai alat untuk mengetahui kemampuan siswa dalam merancang percobaan pada materi pokok pemisahan campuran.
 
F.     Uji Coba Instrumen Penelitian
1.           Validitas soal
Soal yang digunakan dalam penelitian ini divalidasi secara logis dan empiris. Validasi logis dilakukan dengan cara membuat kisi-kisi soal. Sutrisno Hadi (1987: 112) menyatakan bahwa konsep validitas logis mengacu pada konstruksi teoritik tentang faktor-faktor yang hendak diukur oleh alat ukur. Instrumen mempunyai validitas logis yang valid atau sahih jika ada kecocokan antara soal dengan teori atau suatu definisi.
Validasi empiris dilakukan dengan cara mengujikan instrumen (soal) selain kepada selain sampel yang mempunyai karakteristik sampel, kemudian diolah dengan korelasi product moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut:
                        rxy =   S xy//[(Sy2)( Sy2)]
2.           Reliabilitas Soal
Suatu tes dikatakan reliabel (andal) jika dapat dipercaya, konsisten (stabil) dan produktif. Untuk menguji reliabilitas soal dalam penelitian ini digunakan uji KR 20 (Kuder Richardson) paket SPSS.
G.    Teknik Analisis Data
1.           Uji Normalitas Sebaran
Uji Normalitas sebaran bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan pada data pretes, postes kelas ekperimen dan kelas kontrol. Dalam penelitian ini, perhitungan dilakukan dengan menggunakan komputer paket SPSS.
2.           Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas varians bertujuan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil dari populasi memiliki perbedaan satu sama lain atau tidak.
3.           Uji Anava
Uji Anava digunakan untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis yang diajukan. Dalam penelitian ini digunakan analisis varians klasifikasi tunggal, dan prosedur pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan komputer paket SPSS.
4.           Analisis Deskriptif
Aspek-aspek kemampuan merancang percobaan sains siswa pada pembelajaran dengan metode Inquiry ini dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Adapun rumus yang digunakan untuk mendeksripsikan data penilaian aspek-aspek kemampuan merancang percobaan sains siswa adalah sebagai berikut:
p = f/n x 100%
Keterangan:
p = persentase
f = jumlah siswa yang memperoleh skor 0 dan 1
n = jumlah seluruh siswa











DAFTAR PUSTAKA
Amien, Moh. (1987). Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam dengan Menggunakan Metode “Discovery dan “Inquiry”. Jakarta: P2LPTK


Arikunto, Suharsimi . (2006). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.  


Bloom, Jeffrey W. (1998). Creating a Classroom Community of Young Scientists: A Desktop Companion. Toronto : Irwin Publishing


Carin & Sund. (1985). Teaching Science Through Discovery. Columbus : Charles E. Erril Publishing Company


Collete, Alfred T. (1973). Science Teaching in the Secondary School. Boston : Allyn & Bacon Inc.


Cony Semiawan. (1992). Pendekatan Ketrampilan Proses. Bagaimana Mengaktifkan siswa  dalam Belajar. Jakarta: Gramedia. 


Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004 SMA. Jakarta : Dirjen Pendidikan Menengah Umum


IGP Suryadarma, dkk. (1997). Diktat Kuliah Biologi Umum. Yogyakarta : Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta


Istamar Syamsuri, dkk. (2004). Biologi SMA Kelas X Semester 2. Jakarta : Erlangga


Isvasta Ekha. (1995). Dilema Pestisida Tragedi Revolusi Hijau. Yogyakarta : Kanisius


Lawson, Anton. E. (1995). Science Teaching and The Development of Thinking. USA: International Thomson Publishing.


Mohammad Ali. (1987). Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru


Nuryani, dkk. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : UPI


Nana Sudjana. (1989). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Baru Algesindo.


Nasution. (2000). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.


Oemar Hamalik. (1990). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru


Ratna Wilis Dahar & Liliasari. (1986). Buku Materi Pokok Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta : Depdiknas Universitas Terbuka

Rezba Richard J. Et all. (1995). Learning and Asessing Science Process Skill. USA: Kendal/Hunt Publishing. 


Roestiyah & Yumiati. (1991). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Bina Aksara Jakarta


Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara


Sumanto. (1990). Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta : ANDI OFFSET


Sund & Trowbridge. (1967). Teaching Science by Inquiry in The Secondary School . Columbus : Charles E. Merril Publishing Company


Sund, Robert. B & Trowbridge, Leslie. W. 1973. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Ohio: Charless E. Merril Publishing Company A Bell & Howell Company Columbus.


Surachman. (2001). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY.


Tedjo Susanto. (2000). Pendidikan Sains. Yogyakarta: FMIPA UNY.



PENGARUH METODE INQUIRY TERHADAP HASIL PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA PANGUDI LUHUR 2 YOGYAKARTA

0 comments:

Post a Comment