Monday, October 29, 2012

kumpulan skripsi bahasa indonesia PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT MELALUI MEDIA AUDIO PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 DONGGO KABUPATEN BIMA TAHUN PELAJARAN 2011/2012


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT  MELALUI MEDIA AUDIO PADA SISWA KELAS VII  SMP NEGERI 2 DONGGO KABUPATEN BIMA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lain. Untuk menjalin hubungan tersebut diperlukan suatu alat komunikasi. Alat komunikasi yang utama bagi manusia adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan ide, pikiran, dan pesan kepada orang lain sehingga terjadi komunikasi. Agar komunikasi berjalan dengan baik, diperlukan penguasaan keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa dalam bahasa Inggris disebut language arts atau language skills. Istilah art berarti seni atau kiat dan dipergunakan untuk melukiskan sesuatu yang bersifat personal, kreatif, dan original. Sebaliknya kata skill dipakai untuk menyatakan sesuatu yang bersifat mekanis, eksak, impersonal (Tarigan 1994:10).
Menurut Tarigan ( 1994:2 ) keterampilan berbahasa ( language arts, language skills) mencakup empat segi, yaitu menyimak (listening skill), berbicara (speaking skill), membaca (reading skill), dan menulis (writing skill). Menyimak merupakan keterampilan berbahasa awal yang dikuasai oleh manusia. Kemampuan menyimak menjadi dasar bagi kemampuan berbahasa lain. Pada awal kehidupan manusia lebih dulu belajar menyimak, setelah itu belajar berbicara, kemudian, membaca, dan menulis. Kemampuan menyimak akan berpengaruh pada kemampuan berbahasa lain. Sebagaimana Tarigan (1994:3) menyatakan bahwa dengan meningkatkan kemampuan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
Menyimak selalu digunakan dalam kehidupan manusia karena manusia selalu dituntut untuk menyimak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam keluarga, manusia selalu dituntut untuk menyimak. Pemerolehan bahasa seorang anak juga berawal dari menyimak ujaran di lingkungan keluarga. Dalam pergaulan di masyarakat, kegiatan menyimak lebih banyak dilakukan daripada kegiatan berbahasa yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Rivers (dalam Sutari, dkk. 1997:8), kebanyakan orang dewasa menggunakan 45% waktunya untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% untuk menulis. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa kemampuan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan masyarakat.
Mulai tahun 2006 telah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang merupakan perangkat dan perencanaan yang berorientasi pada pembelajaran berbasis kompetensi serta hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah KTSP yang bertujuan pada pendidikan dasar yaitu meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih maju (Muslich 2007:29).
Sesuai dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bahasa Indonesia kelas VII SMP N 2 Donggo mengenai isi dan bahan pengajaran, yaitu bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang  ingin disampaikan oleh guru kepada siswa, materi pengajaran bahasa dan sastra Indonesia juga diarahkan dan dititikberatkan pada fungsi bahasa itu sendiri. Isi dan bahan juga harus menunjang pada pencapaian tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, ruang lingkup mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia juga menyangkut segi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami, mengapresiasi sastra dan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai bahan penelitian adalah satu yang sesuai dengan standar kompetensi SMP N 2 Donggo kelas VII yaitu menyimak cerita rakyat.
Peran penting penguasaan kemampuan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan guru. Keberhasilan siswa dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Berdasarkan hal–hal tersebut kemampuan menyimak perlu dikuasai secara baik.
Sebuah keterampilan akan dikuasai dengan baik jika dibelajarkan dan dilatihkan. Demikian pula halnya dengan kemampuan  menyimak perlu dibelajarkan. Pembelajaran menyimak yang baik dan kontinu sangat dibutuhkan mengingat pentingnya peran menyimak dalam kehidupan. Perhatian untuk keterampilan ini harus sama dengan keterampilan berbahasa yang lain. Namun, bagaimanakah realitas pembelajaran menyimak di dunia pendidikan sekarang khususnya di Sekolah Menengah Pertama? Hal inilah yang perlu dikaji kembali.
Pembelajaran menyimak menjadi bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan bahwa ruang lingkup bahan kajian mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia meliputi aspek– aspek kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra. Aspek kemampuan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis yang berkaitan dengan ragam bahasa nonsastra. Adapun aspek kemampuan bersastra juga mencakup keempat keterampilan berbahasa tersebut, tetapi berkaitan dengan ragam sastra. Perhatian terhadap aspek berbahasa baik sastra maupun nonsastra adalah sama dan dibelajarkan secara terpadu.
Berdasarkan teori pembelajaran menyimak dilaksanakan secara terpadu dan mendapat perhatian yang sama dengan keterampilan berbahasa lain. Namun, dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama, hal tersebut belum terlaksana dengan baik. Pembelajaran menyimak masih kurang mendapat perhatian dan seringkali diremehkan oleh siswa maupun guru. Mereka beranggapan bahwa semua orang yang normal pasti dapat menyimak dan kemampuan menyimak akan dikuasai oleh siswa secara otomatis. Pandangan seperti ini seharusnya dihilangkan. Kemampuan menyimak untuk memperoleh pemahaman terhadap wacana lisan tidak akan terbentuk secara otomatis atau hanya dengan perintah supaya mendengarkan saja (Subyantoro dan Hartono 2003:1).
Dalam kenyataan yang terjadi di kelas, guru menghadapi siswa yang sulit memahami materi pelajaran yang sudah dijelaskan. Salah satu faktor yang diindikasikan menjadi penyebabnya adalah sebagian siswa didik masih mengalami kesulitan dalam menyimak. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran menyimak yang benar dan latihan yang kontinu karena suatu keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan (Tarigan, 1994:2).
Tarigan (dalam Sutari, dkk. 1997 : 117–118) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkan pembelajaran menyimak belum terlaksana dengan baik, yaitu: (1) pelajaran menyimak relatif baru dinyatakan dalam kurikulum sekolah, (2) teori, prinsip, dan generalisasi mengenai menyimak belum banyak diungkapkan, (3) pemahaman terhadap apa dan bagaimana menyimak itu masih minim, (4) buku teks dan buku pegangan guru dalam pembelajaran menyimak sangat langka, (5) guru–guru bahasa Indonesia kurang berpengalaman dalam melaksanakan pengajaran menyimak, (6) bahan pengajaran menyimak sangat kurang, (7) guru–guru bahasa Indonesia belum terampil menyusun bahan pengajaran menyimak, dan (8) jumlah murid per kelas terlalu besar.
Alasan–alasan yang menyebabkan pembelajaran menyimak belum terlaksana dengan baik tersebut bersifat umum, baik untuk pembelajaran menyimak bahasa dan sastra. Kompleksitas hambatan dalam pembelajaran menyimak pada setiap sekolah tidak selalu sama. Pada sekolah tertentu hambatan tersebut dapat diminimalkan, tetapi di sekolah lain dapat lebih kompleks. Hambatan pada setiap kelas pun dimungkinkan berbeda.
Hambatan-hambatan tersebut semakin bertambah dalam pembelajaran sastra karena adanya anggapan bahwa pembelajaran sastra kurang bermanfaat bagi kehidupan siswa. Metode yang digunakan dalam pembelajaran sastra kurang bervariasi sehingga menyebabkan kebosanan pada siswa. Selain itu, guru cenderung kurang memotivasi siswa untuk belajar sastra dan media untuk pembelajaran sastra kurang mencukupi kebutuhan serta siswa belum mempunyai budaya untuk belajar sastra.
Berdasarkan identifikasi masalah  pada tanggal 7 agustus 2010 di SMP Negeri 2 Donggo Kabupaten Bima, hambatan dalam pembelajaran menyimak cerita rakyat yang ditemukan pada objek penelitian adalah (1) pemahaman siswa terhadap keterampilan menyimak masih kurang, (2) siswa merasa kurang mendapatkan manfaat dari belajar menyimak ceita rakyat, sehingga kurang termotivasi untuk belajar, (3) media pembelajaran menyimak cerita rakyat kurang mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif, (4) teknik pembelajaran menyimak yang kurang bervariasi, (5) jumlah siswa terlalu besar, dan (6) kondisi ruang belajar yang belum menunjang pembelajaran menyimak. Hal-hal tersebut menyebabkan kemampuan  menyimak siswa kelas VII SMP N 2 Donggo masih rendah. Sehingga pada saat proses pembelajaran menyimak cerita rakyat terdapat siswa yang bermasa bodoh, menyepelekan materi yang disampaikan, mengganggu teman, bergurau, dan berbicara dengan temannya. Kurang berhasilnya pembelajaran menyimak cerita rakyat juga dapat dilihat melalui rendahnya hasil evaluasi siswa kelas VII yang dimana jumlah siswa di kelas tersebut sebanyak 25 orang siswa hanya 17 orang yang memperoleh nilai tuntas.
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang muncul sangatlah kompleks sehingga perlu dibatasi. Pembatasan masalah ini bertujuan agar pembahasan tidak terlalu meluas. Permasalahan yang akan menjadi bahan penelitian adalah kemampuan menyimak cerita rakyat yang masih rendah. Hal ini disebabkan media pembelajaran yang kurang mencukupi dan belum digunakan secara efektif.
Usaha untuk meningkatkan kemampuan menyimak memerlukan metode yang efektif dan efisien. Selain itu, diperlukan pula media pembelajaran yang tepat sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang diharapkan. Dalam proses belajar mengajar, media memiliki peran yang sangat penting untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.
Penggunaan media audio dalam pembelajaran menyimak cerita rakyat diharapkan membangkitkan rasa ingin tahu dan minat siswa serta memotivasi untuk belajar. Media audio ini juga diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dan informasi yang disampaikan. Dengan demikian, pemakaian media audio diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Donggo.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka  rumusan masalah pada penelitian ini yaitu: “Bagaimanakah kemampuan menyimak cerita rakyat melalui media audio pada siswa SMP Negeri 2 Donggo Kabupaten Bima Tahun Pelajaran 2011/2012?”
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menyimak cerita rakyat melalui media audio pada siswa kelas VII SMP N 2 Donggo Kabupaten Bima Tahun Pelajaran 2011/2012.

1.4   Manfaat  Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Untuk memberikan masukan bagi teori pembelajaran menyimak dan dipahami sebagai bahan penelitian lebih lanjut. Pemanfaatan media pembelajaran mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media audio, pembelajaran menjadi lebih variatif dan menarik, khususnya pada pembelajaran menyimak cerita rakyat.
  1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :
a.    Bagi guru, penelitian ini memberikan masukan untuk menggunakan media yang tepat dan variatif bagi pembelajaran menyimak. Selain itu, supaya guru menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan.
b.    Bagi siswa, yaitu dapat membantu dalam mengatasi kesulitan pembelajaran menyimak cerita rakyat,  memotivasi siswa untuk belajar, serta melatih dan membiasakan siswa untuk melakukan kegiatan menyimak secara intensif dan efektif.
c.    Bagi sekolah, yaitu sebagai referensi bagi sekolah tentang pentingnya media pembelajaran.Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi sekolah agar sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran yang berperan sangat penting dalam pembelajaran.
d.   Bagi peneliti, yaitu penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi penelitian lanjutan yang berhubungan dengan keaktifan siswa dan memberikan masukan jika kelak peneliti menjadi seorang pengajar agar dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik bagi siswa.


BAB II
KONSEP DASAR
2.1  Konsep Dasar
2.1.1        Kemampuan
Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Kamus Besar Bahasa Indonesi:869). Kemampuan dalam hal ini merupakan kesanggupan siswa dalam melaksanakan dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru dengan benar dan mendapatkan hasil yang lebih baik.
2.1.2        Menyimak
Menyimak adalah kegiatan mendengarkan lambang–lambang lisan yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi dan interpretasi untuk memperoleh pesan, informasi, memahami makna komunikasi, dan merespons yang terkandung dalam lambang lisan yang disimak. (Tarigan, 2008:29).
2.1.3        Cerita rakyat
Cerita rakyat merupakan sebagian dari kebudayaan rakyat yang disebarkan dan diwariskan secara turun-temurun dengan variasi yang berbeda-beda, baik lisan maupun tertulis dengan tujuan tertentu untuk menjadi suatu ciri khas kelompok masyarakat pendukungnya. (Cullinan dalam Mustakim,2009:51).


2.1.4        Media audio
Media Audio adalah  media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses  belajar (Wina sanjaya, 2008:216). Pada dasarnya semua jenis tujuan belajar dapat dicapai dengan menggunakan media audio. Namun media ini lebih bersifat auditif, maka tujuan yang sifatnya mengharapkan keterampilan motorik, akan sulit menggunakan media ini. Media audio akan lebih cocok mencapai tujuan yang bersifat kognitif yang berupa data dan fakta atau mungkin konsep dan tujuan yang berhubungan dengan sikap (afektif).
2.2  Keterampilan Menyimak
2.2.1        Hakikat Menyimak
Hakikat menyimak berhubungan dengan mendengar dan mendengarkan, Subyantoro dan Hartono (2003:1–2) menyatakan bahwa mendengar adalah peristiwa tertangkapnya rangsangan bunyi oleh panca indera pendengaran yang terjadi pada waktu kita dalam keadaan sadar akan adanya rangsangan tersebut, sedangkan mendengarkan adalah kegiatan mendengar yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian terhadap apa yang didengar, sementara itu menyimak pengertiannya sama dengan mendengarkan tetapi dalam menyimak intensitas perhatian terhadap apa yang disimak lebih ditekankan lagi.
Dari pengertian menyimak yang dikemukakan Subyantoro dan Hartono (2003) terlihat bahwa kegiatan mendengar dan mendengarkan tercakup dalam kegiatan menyimak. Selain itu, menyimak memiliki tingkatan lebih tinggi dari mendengar dan mendengarkan.
Hakikat menyimak dikemukakan oleh beberapa tokoh. Anderson (dalam Tarigan 1994 : 28) menyatakan bahwa menyimak adalah proses besar mendegarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang– lambang lisan. Menyimak dapat pula bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi (Russell & Russell; Anderson dalam Tarigan 1994:28). Sedangkan Tarigan (1994:28) menyatakan bahwa menyimak merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Pengertian menyimak menurut Akhadiah (dalam Sutari, dkk. 1998:19) ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Kemampuan menyimak dapat diartikan pula sebagai koordinasi komponen–komponen kemampuan baik kemampuan mempersepsi, menganalisis maupun menyintesis (Http//www.Ialf.edu/kipbipa /papers/ Iim Rahmina.doc.).
Tarigan (1991:4) menyatakan bahwa menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994:94) disebutkan bahwa menyimak adalah mendengarkan (memperhatikan) baik–baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan lambang–lambang lisan yang dilakukan dengan sengaja, penuh perhatian disertai pemahaman, apresiasi dan interpretasi untuk memperoleh pesan, informasi, memahami makna komunikasi, dan merespons yang terkandung dalam lambang lisan yang disimak.
2.2.2        Tujuan Menyimak
Menurut Logan (dalam Tarigan 1994:56) tujuan menyimak beraneka ragam antara lain sebagai berikut.
1. Menyimak untuk belajar, yaitu menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara
2. Menyimak untuk memperoleh keindahan audial, yaitu menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama dalam bidang seni).
3. Menyimak untuk mengevaluasi, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat menilai apa-apa yang disimak itu (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain)
4. Menyimak untuk mengapresiasi simakan, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (pembacaan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, perdebatan)
5. Menyimak untuk mengkomunikasikan ide-idenya sendiri, yaitu menyimak dengan maksud agar si penyimak dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.
6. Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi, yaitu menyimak dengan maksud dan tujuan agar si penyimak dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat mana bunyi yang membedakan arti (distingtif) dan mana bunyi yang tidak membedakan arti. Biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli (native speaker)
7. Menyimak untuk memecahkan masalah secara secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga
8. Menyimak untuk meyakinkan, yaitu menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini diragukan oleh si penyimak ragukan; dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasif.

Berdasarkan tujuan–tujuan menyimak, maka menyimak yang dilaksanakan dalam penelitian bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dari materi yang diperdengarkan. Selain itu, bertujuan untuk mengapresiasi materi simakan.
2.2.3        Manfaat Menyimak
Menurut Setiawan (dalam Darmawan 2001:11–12) manfaat menyimak sebagai berikut.
1.      Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan sebab menyimak memiliki nilai informatif yaitu memberikan masukan–masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.
2.      Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan             dan khazanah ilmu kita.
3.      Memperkaya kosakata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata–kata yang digunakan lebih variatif.
4.      Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan obyektif.
5.      Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
6.      Meningkatkan citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus dan bahasanya. Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sikap apresiatif, sikap menghargai karya atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera estetis kita.
7.      Menggugah kreativitas dan semangat mencipta kita untuk menghasilkan ujaran–ujaran dan tulisan–tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan ide–ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.

Semua manfaat tersebut diharapkan diperoleh dalam kegiatan menyimak. Namun, dalam penelitian ini manfaat utama yang diperoleh adalah menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan serta meningkatkan dan menumbuhkan sikap apresiatif. Hal ini dikarenakan menyimak yang dilaksanakan adalah menyimak cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan salah satu karya sastra yang perlu diapresiasi dan diambil nilai-nilainya.
2.3  Cerita Rakyat
2.3.1 Hakikat Cerita Rakyat
Cerita rakyat disebut juga Floklore (Cullinan dalam Mustakim,2009:51). Foklor berasal dari kata folk dan lore. Menurut Alan Dundes (dalam James Danandjaja, 1997:1) folk adalah sekelompok orang yang memilki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan oleh kelompok-kelompok lainnya. Istilah lore merupakan Tradisi folk yang berarti sebagian kebudayan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai gerak Isyarat atau alat bantu mengingat. Jika folk adalah mengingat ,lore adalah tradisinya.
Foklor adalah kebudayan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk tulisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (James Danandjaja, 1997:2).
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan sebagian dari kebudayaan rakyat yang disebarkan dan diwariskan secara turun-temurun dengan variasi yang berbeda-beda, baik lisan maupun tertulis dengan tujuan tertentu untuk menjadi suatu ciri khas kelompok masyarakat pendukungnya.
2.3.2 Jenis-jenis Cerita rakyat
Menurut Mustakim (2008:52-56). Jenis cerita rakyat dikelompokkan atas isi cerita dan pada tokoh cerita yang di tampilkan.Yang terbagi atas :
1.      Fabel
Fabel, adalah cerita yang pelakunya adalah binatang yang merupakan  symbol perilaku manusia. Biasanya cerita itu memiliki ajaran moral yang sangat eksplisit dan bahasa yang sederhana, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak.

2.      Legenda
Legenda, adalah cerita tentang kejadian suatu tempat atau sesuatu nama tempat yang dianggap mempunyai makna bagi kehidupan manusia.
3.      Mite
Mite, adalah jenis cerita yang tokoh-tokohnya dianggap keramat.
4.      Sage
Sage adalah cerita rakyat yang menceritakan sejarah kesuksesan para tokoh-tokohnya. Sementara William R. Bascom (dalam Danandjaja ,1984:50) membagi cerita prosa menjadi tiga seperti di bawah ini:
1.      Mite
Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang dan terjadi pada masa lampau.
2.      Legenda
Legenda adalah cerita yang menurut pengarangnya merupakan peristiwa – peristiwa yang benar-benar ada dan nyata. Serta ditokohi manusia-manusia yang mempunyai sifat luar biasa.
           3. Dongeng
Dongeng adalah cerita rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, bersifat  khayal dan tidak terikat waktu maupun tempat tokoh ceritanya adalah manusia, binatang, dan makhluk halus.
    Berdasarkan pendapat di atas dapat simpulkan bahwa jenis – jenis cerita rakya terdiri atas: fable adalah adalah Cerita yang Pelakunya adalah binatang yang merupakan  symbol perilaku manusia. Biasanya cerita itu memiliki ajaran moral yang sangat eksplisit dan bahasa yang sederhana, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak. ,legenda adalah cerita tentang kejadian suatu tempat atau sesuatu nama tempat peristiwa yang benar-benar ada dan nyata yang dianggap mempunyai makna bagi kehidupan manusia. Serta ditokohi manusia-manusia yang mempunyai sifat luar biasa, Mite adalah jenis cerita yang tokoh-tokohnya dianggap keramat, Sage adalah cerita rakyat yang menceritakan sejarah kesuksesan para tokoh-tokohnya.
2.3.3 Unsur-Unsur Cerita Rakyat
Cerita rakyat terdiri atas unsur-unsur pembangun cerita rakyat, antara lain: alur, tokoh dan perwatakan, latar, tema dan amanat. Berikut pembahasan masing-masing unsur.
1.      Tokoh dan perwatakan
Cullinan (dalam mustakim, 2008:101) mengatakan bahwa tokoh cerita adalah pelaku cerita. Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998:4) mengatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Demikian  juga diungkapkan oleh Aminudin (dalam Siswanto 2008:142) yang menyatakan tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.
Tokoh-tokoh dalam cerita perlu digambarkan ciri-ciri lahir dan sifat batinnya agar watak juga dikenal oleh pembaca. Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 2005:20).
Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh bawahan. Tokoh utama adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh utama dibedakan menjadi dua, yaitu.
a.  Tokoh utama protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.
b.  Tokoh utama antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh utama. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a.  Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b.  Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c.   Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja. 
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Penokohan yaitu penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh yang membedakan dengan tokoh yang lain.
2.      Latar atau setting
Cullinan (dalam mustakim, 2008:101) mengatakan bahwa setting adalah waktu dan tempat terjadinya cerita.  Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjiman (dalam Septiningsih, dkk. 1998:5)mengatakan bahwa latar adalah keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Secara sederhana Suharianto (2005:22) mengatakan latar disebut juga setting yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita.
Abrams (dalam Siswanto 2008:149) mengemukakan latar cerita adalah tempat umum (generale locale), waktu kesejarahan (historical time) dan kebiasaan masyarakat (social circumtances) dalam setiap episode atau bagianbagian tempat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat, waktu dalam cerita, dan suasana terjadinya peristiwa dalam karya sastra.Dalam penelitian ini karya sastra yang dimaksud adalah cerita rakyat.

3.      Tema dan amanat
  Tema adalah pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Secara sederhana Stanton (dalam Septiningsih, dkk. 1998:5) menyebut bahwa tema adalah arti pusat yang terdapat dalam cerita. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu (Suharianto 2005:17).
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya (Aminudin dalam Siswanto 2008:161).
Dari uraian pendapat tentang tema di atas, dapat disimpulkan bahwa tema adalah  gagasan pokok yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya atau pokok permasalahan yang mendominasi suatu karya karya sastra.
Tema suatu karya sastra dapat tersurat dan dapat pula tersirat. Jadi,tema tersebut dapat langsung diketahui tanpa penghayatan atau melalui penghayatan.
Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra; pesan yang ingin  disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto 2008:162). Di dalam  karya sastra modern amanat ini biasanya tersirat, di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat. Jadi, amanat merupakan gagasan yang mendasari karya sastra baik tersirat maupun tersurat dalam karya sastra.
4.      Alur atau plot
Luxemburg (dalam Septiningsih, dkk. 1998:4) mengatakan bahwa alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku. Sedangkan menurut Suharianto (2005:18) plot yakni cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat, dan utuh.
Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Abrams dalam Siswanto 2008:159). Sudjiman (dalam Siswanto 2008:159) menyatakan bahwa alur adalah peristiwa yang diurutkan membangun tulang punggung cerita.
Adapun macam-macam alur terbagi atas:
a)      Alur maju adalah jalinan peristiwa dari masa lalu ke masa kini.
b)      Alur mundur adalah jalinan peristiwa dari masa kini ke masa lalu.
c)      Alur campuran adalah gabungan dari alur maju dan alur mundur secara bersama-sama.
Dan secara umum alur terbagi kedalam bagian-bagian berikut:
a)      Pengenalan situasi yaitu memperkenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antar tokoh.
b)      Pengungkapan peristiwa yaitu mengungkap peristiwa yang menimbulkan berbagai masalah.
c)      Menuju adanya konflik yaitu terjadi peningkatan perhatian ataupun keterlibatan situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.
d)     Klimaks yaitu pada bagian ini dapat ditentukan perubahan nasib beberapa tokoh.
e)      Penyelesaian yaitu sebagai akhir cerita dan berisi penjelasan tentang nasib para tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak.
Dari beberapa pendapat tentang alur di atas, dapat disimpulkan bahwa alur adalah peristiwa-peristiwa yang terjalin dengan urutan yang baik dan membentuk sebuah cerita. Dalam alur terdapat serangkaian peristiwa dari awal sampai akhir.
2.4  Media Audio
2.4.1 Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan  ( Sadiman, dkk,2009 :6).
Banyak batasan yang di berikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan komunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.Gagne (dalam sadiman,dkk,2009 : 6) menyatakan  bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.Sementara Arief S. Sadiman ,dkk.,(2009:7) menyatakan media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang  pikiran , perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Istilah media sangat populer dalam komunikasi. Proses belajar mengajar pada  dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran (Rahadi 2003:9).
Degeng, (dalam Abduh,2007:2) menyatakan Pembelajaran adalah uapaya untuk membelajarkan siswa. Hal senada juga diungkapkan oleh Hamalik (dalam Abduh, 2007:2) menyatakan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.
2.4.2 Media Audio
   Media Audio adalah media atau bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara) yang dapat merangsang pikiran dan perasaan pendengar sehingga terjadi proses  belajar (Wina sanjaya, 2008:216).
Pada dasarnya semua jenis tujuan belajar dapat dicapai dengan menggunakan media audio. Namun media ini lebih bersifat auditif, maka tujuan yang sifatnya mengharapkan keterampilan motorik, akan sulit menggunakan media ini. Media audio akan lebih cocok mencapai tujuan yang bersifat kognitif yang berupa data dan fakta atau mungkin konsep dan tujuan yang berhubungan dengan sikap (afektif).
Beberapa media audio yang banyak dimasyarakat dan dapat digunakan dalam pembelajaran yaitu:
1)   Radio
     Sebagai suatu media, radio mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan media lain, yaitu:
(a)      Harganya relatif murah dan variasi programnya lebih banyak dari pada TV
(b)     Sifatnya mudah dipindahkan. Radio dapat dipindah-pindahkan dari satu ruang ke ruang lain dengan mudah.
(c)      Jika digunakan bersama-sama dengan alat perekam radio bias mengatasi problem jadwal karena program dapat direkam dan diputar lagi sesuka hati.
(d)     Radio dapat mengembangkan daya imajinasi anak.
(e)      Dapat merangsang partisipasi aktif pendengar.
(f)      Radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata yang digunakan, pada bunyi dan artinya.(terutama ini amat berguna bagi program sastra/puisi)
(g)     Siaran lewat suara terbukti amat tepat /cocok untuk mengajarkan music, dan bahasa.
(h)     Radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauan luas.
2)   Alat perekam pita magnetik
Alat perekam pita magnetik (magnetic tape recording) atau lazimnya orang menyebut tape recorder adalah salah satu media pendidikan yang tidak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.
Beberapa kelebihan alat perekam sebagai media pendidikan diuraikan dibawah ini:
(a)      Alat perekam pita magnetic mempunyai fungsi ganda yang efektif sekali, untuk merekam, menampilkan rekaman dan menghapusnya. Playback dapat segera dilakukan setelah rekaman selesai pada mesin yang sama.
(b)     Pita rekaman dapat diputar berulang-ulang tanpa mempengaruhi volume.
(c)      Rekaman dapat dihapus secara otomatis dan pitanya bias dipakai lagi.
(d)     Pita rekaman dapat digunakan sesuai jadwal yang ada. Guru dapat secara langsung mengontrolnya.
(e)      Program kaset dapat menyajikan kegiatan-kegiatan/hal-hal di luar sekolah.
(f)      Program kaset memberikan efisiensi dalam pengajaran bahasa.
Media audio yang digunakan dalam penelitian ini adalah Alat perekam pita magnetic atau tape recorder dengan alat bantu speaker (sound system). Media tape recorder merupakan media audio yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Media ini mampu menggugah perasaan dan pikiran siswa, memudahkan pemakaian materi dan menarik minat siswa untuk belajar.
Penggunaan media audio dalam proses pembelajaran menyimak cerita rakyat diharapkan dapat mempertinggi proses dan hasil pembelajaran sehingga kompetensi ini benar-benar dikuasai siswa. Selain itu, menjadikan proses pembelajaran lebih bervariasi dan menarik.
2.5   Peranan Media Pembelajaran audio Dalam Meningkatkan Kemampuan Menyimak
Pengajaran sebagai upaya terencana dalam membina pengetahuan sikap dan keterampilan para siswa melalui interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru pada hakikatnya mempelajari lambang-lambang verbal dan visual, agar diperoleh makna yang terkandung didalamnya. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Oleh karena itu pengajaran dikatakan efektif apabila penerima pesan (siswa) dapat memahami makna yang dipesankan oleh guru sebagai lingkungan belajar
Kemampuan menyimak sangat penting dalam kehidupan seseorang.. Menyimak merupakan keterampilan berbahasa awal yang dikuasai oleh manusia. Kemampuan menyimak menjadi dasar bagi keterampilan berbahasa lain. Pada awal kehidupan manusia lebih dulu belajar menyimak, setelah itu belajar berbicara, kemudian, membaca, dan menulis. Penguasaan kemampuan menyimak akan berpengaruh pada keterampilan berbahasa lain. Sebagaimana Tarigan (1994 : 3) menyatakan bahwa dengan meningkatkan kemampuan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
Peran penting penguasaan kemampuan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan guru. Keberhasilan siswa dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Berdasarkan hal–hal tersebut kemampuan menyimak perlu dikuasai secara baik.
Sebuah keterampilan akan dikuasai dengan baik jika dibelajarkan dan dilatihkan. Demikian pula halnya dengan kemampuan menyimak perlu dibelajarkan. Pembelajaran menyimak yang baik dan kontinu sangat dibutuhkan mengingat pentingnya peran menyimak dalam kehidupan. Perhatian untuk keterampilan ini harus sama dengan keterampilan berbahasa yang lain.
Oleh karena itu dalam proses pembelajaran kemampuan menyimak cerita rakyat di sekolah dasar guru diharapkan mampu untuk mengetahui dan memahami kondisi anak yang dihadapinya. Siswa  dalam mengikuti proses pembelajaran tentunya tidak memiliki kemampuan dan daya nalar yang sama sehingga terkadang anak mengalami masalah dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat berpengaruh pada minat dan hasil belajar anak.
Di dalam kelas sering kita jumpai anak yang memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran hanya dengan mendengarkan apa yang diuraikan guru, akan tetapi memerlukan alat bantu yang dapat memperjelas bunyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat di tangkap oleh telinga, sehingga dengan kondisi demikian jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi siswa, dimana siswa akan merasa bosan dalam belajar serta akan menurunkan minat dan motivasinya dalam belajar. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut, tentunya seoang guru perlu mengupayakan bagaimana menggunakan dan memanfaatkan media yang sesuai dalam meningkatkan kemampuan menyimak cerita rakyat siswa di Sekolah Menengah Pertama.
Sudjana ,dkk (1990 : 2) mengemukakan peranan media pembelajaran dalam proses belajar siswa yaitu :
1)   Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2)   Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkan menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
3)   Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru  tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
4)   Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guu, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati dan lain-lain.

Hal ini sejalan dengan pendapat Kemp dan Dayton (dalam  Wina Sanjaya,2006:210) media memiliki kontribusi yang sangat penting terhadap proses  pembelajaran. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
2)      Pembelajaran dapat lebih menarik
3)      Pembelajaran menjadi lebih interaktif
4)      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
5)      Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
6)      Proses pembelajaran dapat berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan
7)      Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
8)      Peran guru berubah kearah yang positif, artinya guru tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber belajar.
Dari uraian dan pendapat beberapa para ahli, dapat disimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media audio dalam proses belajar mengajar sebagai berikut :
1)        Media audio dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2)        Media audio dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri  sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Dalam hubungan dengan keterampilan menyimak cerita rakyat, media audio sangat berperan dalam meningkatkan minat siswa disekolah dasar, adapun peranan media audio dalam pembelajaran keterampilan menyimak cerita rakyat di sekolah dasar yaitu :
1)        Dapat memperjelas penyampaian pesan  kepada siswa, karena dapat memperjelas bunyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat ditangkap oleh telinga.
2)        Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa tertarik untuk menyimak, mengamati, mendengarkan dan melakukan apa yang didengarkan dan ditampilkan guru dalam bentuk bacaan, sehingga sedikit demi sedikit dapat membangun dan meningkatkan keterampilan menyimak cerita rakyat di sekolah dasar.











BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Metode Penelitian
      Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “Methodos” sambungan kata depan meto yang artinya menuju, melaui, mengikuti sesudah dan kata benda hodos yang artinya jalan, perjalanan, cara, arah (Anton Bakker, 1996: 10). Metode secara harfiah diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena (gejala-gejala) kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen, dan sebagainya (Muhibbin Syah, 2004: 201).
     Istilah metode juga berarti suatu jalan atau cara yang teratur dan terikir baik, untuk mencapai suatu maksud (W.J.S Poerwadarminta, 1986: 648) atau merupakan seperangkat atauran atau prosedur kerja (Sudijio, 1993:10). Metode memegang peranan penting atau sangat esensial karena metode merupakan suatu cara yang teratur dan terpikir, untuk mencapai tujuan, 1995: 652).
3.2  Metode Penentuan Subjek Penelitian
3.2.1        Populasi
Populasi merupakan seluruh subjek penelitian. Nawawi (2003) dalam Iskandar (2009 : 118) populasi adalah jumlah keseluruhan subjek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. Sedangkan menurut Sudjana (2005 : 74) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.  Adapun yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII  SMPN 2 Donggo tahun pelajaran 2011/2012.

3.2.2        Sampel
     Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2006 : 87). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampel adalah suatu yang digunakan contoh dari bagian yang lebih besar. Sedangkan menurut Sugiyono (2003 : 56) sampel adalah “sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”
             Sampel dalam penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas VIIA  SMPN 2 Donggo yang berjumlah 25 0rang siswa.

3.3  Metode Pengumpulan Data
   Salah satu kegiatan penting dalam penelitian adalah pengumpulan data yang diperlukan. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan suatu alat penelitian yang akurat, karena hasilnya sangat menentukan mutssu dan penelitian. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
3.3.1        Tes
        Tes ialah seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapat jawaban yang dapat menjadikan skor angka (S. Margono, 2002 : 170). Adapun jenis tes yang umumnya dikenal dan digunakan sebagai alat pengukuran adalah tes lisan dan tes tertulis. Sejalan dengan itu pada penelitian ini lebih menghkususkan pada penggunaan tes tertulis.
Tes tertulis yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis pula (S. Margono, 2002 : 170). Tes tertulis ada dua bentuk yaitu tes essay atau tes uraian (essay test) dan tes obyektif.
3.3.2        Observasi
    Observasi adalah cara pengumpulan data dengan mengadakan pencatatan mengenai kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran (Arikonto, 2006:229). Dalam penelitian ini menggunakan metode atau tehnik yang dinamakan tehnik pengukuran. Tehnik pengukuran adalah alat pengumpul data yang bermaksud mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif (S. Margono, 2002 : 170). Dalam tehnik pengukuran ini, alat yang digunakan adalah berupa pemberian tes.
3.3.3        Dokumentasi
    Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai variabel atau hal-hal yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, leger, agenda dan lain-lain sebagainya (Arikunto, 1997; 188). Data yang diperoleh dengan metode ini adalah jumlah siswa, saarana dan prasarana di SMPN 2 Donggo.
3.4  Rancangan Penelitian
          Kashiani kasbolah (1999) dan Kemmis dan Mc.Taggart (1988) mengatakan bahwa; pelaksanaan tindakan diawali pratindakan. Berdasarkan pratindakan tersebut dilakukan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi secara berdaur ulang. Penelitian ini dilakukan tiga siklus yang digambarkan sebagai berikut:




Bagan: Skema Alur PTK Yang Diadaptasi Model Kemmis dan Taggart (1988)
Pratindakan
Rencana tindakan
Pelaksanaan Tindakan
Observasi
Refleksi
Siklus I
 




Refleksi
Rencana Tindakan
Pelaksanaan Tindakan
Observasi
                                                                                   
Refleksi
Observasi
Pelaksanaan Tindakan
Rencana Tindakan
Siklus II
Siklus III
Berhasil
Kesimpulann
Laporan
 





Berdasarkan gambar tentang desain pelaksanaan tindakan  penelitian, maka tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Tahap Pratindakan
1.      Mengadakan konsultasi dengan kepala sekolah dalam hal pelaksanaan penelitian
2.      Melakukan diskusi dengan pihak guru kelas VII  dan teman sejawat (observer) untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan pembelajaran menyimak cerita rakyat dengan menggunakan media audio.
1.    Prosedur Tindakan Pada Siklus I
a.       Perencanaan
       Pada tahap ini, peneliti membuat rencana pembelajaran yang matang untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan oleh peneliti. Dalam siklus pertama, peneliti mempersiapkan proses pembelajaran keterampilan menyimak cerita rakyat tanpa melalui media dengan langkah-langkah (1) menyusun rencana pembelajaran yang berhubungan dengan keterampilan menyimak cerita rakyat melalui media audio; (2) menyiapkan teks cerita rakyat yang akan dibacakan; (3) menyusun instrumen tes dan nontes. Instrumen tes yaitu soal esai beserta penilaiannya. Instrumen nontes yaitu berupa lembar observasi, lembar wawancara, jurnal, dan dokumentasi.; (4) melakukan kolaborasi dengan guru kelas dan teman sejawat. Sebelumnya peneliti terlebih dahulu membicarakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dengan guru kelas. Di samping itu, peneliti juga membutuhkan informasi tentang keadaan kelas, karena peneliti bukanlah pengajar di kelas itu.
b.      Tindakan
            Langkah tindakan ini merupakan pelaksanaan dari rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan oleh peneliti. Tindakan yang dilakukan dalam pembelajaran menyimak cerita rakyat tanpa melalui media audio pada siklus I sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan dalam tahap ini terdiri atas:
(a)  Pendahuluan atau persiapan
Langkah awal tahap ini adalah guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran dan memberikan apersepsi berupa kegiatan tanya jawab tentang cerita rakyat yang pernah diketahui oleh siswa. Tujuan kegiatan apersepsi ini adalah untuk menggali pengalaman siswa tentang cerita rakyat. Kemudian guru memberikan penjelasan mengenai kegiatan belajar mengajar yang hendak dilaksanakan yaitu menyimak cerita rakyat tanpa melalui media audio. Di samping itu, guru juga menyampaikan manfaat pembelajaran. Hal ini dilakukan sebagai upaya menumbuhkan minat belajar siswa agar mulai dari awal pembelajaran siswa memiliki motivasi belajar terlebih dahulu.
(b)  Inti atau pelaksanaan
Pada tahap ini, guru memberikan penjelasan tentang menyimak cerita rakyat agar mudah dipahami siswa. Siswa diminta menyimak cerita rakyat berjudul Putri Mandalika  yang dibacakan. Selama kegiatan menyimak berlangsung, guru meminta siswa untuk melakukan pengamatan dan diperkenankan menulis nama-nama tokoh cerita dan bagian-bagian yang dianggap penting. Setelah selesai menyimak, kegiatan selanjutnya adalah siswa secara individu mengerjakan soal esai yang diberikan oleh guru berkaitan dengan cerita rakyat yang telah dibacakan sebelumnya. Siswa diberi pertanyaan mengenai nama-nama tokoh, watak tokoh, latar cerita, tema atau amanat, dan isi cerita rakyat tersebut. Guru menyuruh siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk dinilai. Kemudian guru meminta beberapa perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas secara bergiliran dengan siswa lain. Setelah itu, siswa yang lain dapat memberikan masukan maupun sanggahan kepada siswa yang maju.
(c)  Penutup atau akhir
Guru bersama siswa melaksanakan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Pada akhir pembelajaran, guru memberikan tugas lanjutan yang bertujuan mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan siswa dalam menyimak cerita rakyat setelah proses pembelajaran di kelas.
c.       Observasi
Peneliti mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung yaitu observasi tentang keaktifan dan keantusiasan siswa. Hasil kerja siswa diobservasi di luar jam pelajaran berdasarkan pertanyaan dalam soal esai yang diberikan oleh guru.
d.      Refleksi
Peneliti menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan hasil  kerja siswa. Analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan sejauh mana siswa antusias terhadap kegiatan menyimak cerita rakyat tanpa melalui media audio. Analisa hasil kerja siswa dilakukan dengan menentukan rata-rata nilai kelas. Hasil analisa digunakan sebagai kajian dan bahan pembanding terhadap hasil siklus kedua.
2.    Prosedur Tindakan Pada Siklus II
Siklus kedua ini dilakukan sebagai usaha peningkatan kemampuan siswa dalam menyimak cerita rakyat melalui media audio. Hasil pembelajaran pada siklus kedua ini diharapkan lebih baik dibanding dengan hasil pembelajaran pada siklus pertama. Siklus kedua ini juga melalui langkah-langkah yang sama dengan siklus pertama.
a.    Perencanaan
Pada siklus kedua ini, peneliti membuat rencana pembelajaran yang bagian-bagiannya sama dengan rencana pembelajaran siklus pertama. Peneliti juga kembali melakukan diskusi dengan guru kelas tentang kegiatan apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang harus diperbaiki.
b.   Tindakan
Langkah awal tahap ini hampir sama pada tindakan pada siklus pertama. Setelah apersepsi, siswa mendengarkan pemutaran tape recorder  yang berisi cerita rakyat yang berjudul Putri Mandalika. Kemudian siswa menjawab soal-soal esai yang diberikan oleh guru. Guru menyuruh siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya untuk dinilai. Kemudian guru meminta beberapa perwakilan siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas secara bergiliran dengan siswa lain. Setelah itu, siswa yang lain dapat memberikan masukan maupun sanggahan kepada siswa yang maju.
c.    Observasi
Dalam siklus kedua ini peneliti juga mengamati kinerja siswa selama pembelajaran berlangsung. Apakah siswa lebih aktif melaksanakan kegiatan dan apakah siswa lebih antusias menyimak cerita rakyat. Selain itu, peneliti juga bertanya langsung kepada beberapa siswa apakah mereka lebih menyukai pembelajaran pada siklus kedua dari pada siklus pertama beserta alasan-alasannya. Hasil kerja (pada lembar jawaban) juga diobservasi dengan cara yang sama dengan siklus pertama.
d.   Refleksi
Pada siklus kedua ini peneliti menganalisa hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan penilaian hasil kerja siswa. analisa kinerja siswa meliputi sejauh mana siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran dan sejauh mana siswa antusias terhadap kegiatan menyimak cerita rakyat melalui media audio dan membandingkannya dengan hasil pengamatan pada siklus pertama dalam bentuk persentase, apakah ada peningkatan atau tidak. Peneliti juga menganalisa hasil kerja siswa dengan cara menentukan rata-rata nilai kelas. Hasil analisa dipergunakan sebagai bahan kajian dan bahan pembanding terhadap hasil penilaian siklus pertama dalam bentuk persentase, apakah ada peningkatan rata-rata nilai. Dengan demikian permasalahan bagaiman aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berlangsung siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Donggo dapat diketahui. Selain itu, dapat di ketahui pula bagaimana hasil belajar menyimak cerita rakyat siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Donggo.
3.5  Metode Analisis Data

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan teknik analisis data secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan kedua jenis data yang diperoleh tersebut, maka teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data secara kuantitatif dan teknik analisis data secara kualitatif.  Pengkajian atau analisa data dilakukan dengan metode kuantitatif untuk penilaian hasil kerja siswa. Sedangkan untuk pengamatan aktivitas siswa dan dokumentasi menggunakan metode kualitatif. Berikut dijelaskan penerapan kedua teknik tersebut.
3.5.1Kuantitatif
Data kuantitatif merupakan data dari hasil tes menyimak cerita rakyat melalui media audio pada siklus I, siklus II dan siklus III. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes dikerjakan siswa pada siklus I, siklus II dan siklus III. Hasil analisis data tes secara kuantitatif dihitung secara persentase, dengan cara berikut.
a.    Merekap nilai yang diperoleh siswa.
b.    Menghitung nilai kumulatif dari tiap-tiap sub aspek penilaian.
c.    Menghitung nilai rata-rata
d.   Menghitung persentase.


1.      Menentukan Kemampuan Individu

Untuk mencari nilai standar kemampuan individu siswa dalam mengerjakan soal tes yang  sifatnya subjektif akan dipergunakan pedoman konvensi skala tiga. Guna menentukan Skor Maksimal ideal, dibuatkan 4 soal atau tugas yang jumlah bobotnya 60. Jika SMI sudah ditentukan maka angka rata-rata ideal atau Mi = ½ SMi  = 30 dan Standar deviasi.
  Kemudian tinggi rendahnya kemampuan individu siswa bisa diukur dengan rumus:
                         Tinggi
                                                                 M + 1.SDi
                         Sedang
                                                              M - 1.SDi
                          Rendah

2.      Menentukan Indeks Prestasi   Kelompok

       Untuk menentukan IPK dipakai rumus:        
            
       Keterangan:
                 IPK              =  Indeks prestasi kelompok
                 M      = Mean atau nilai rata-rata
                 Sm    = Skor Maksimal Ideal atau skor yang dicapai bila semua   jawaban  benar.
        kemudian tinggi rendahnya indeks prestasi kelompok  bisa diukur dengan rumus:
       Sangat tinggi,  bila tingkat penguasaan   = 90 % – 100 %
       Tinggi,  bila tingkat penguasaan              = 80% - 89 %
       Normal, bila tingkat penguasaan             = 65% - 79%
       Rendah, bila tingkat penguasaan             = 55% - 64%
       Sangat rendah,  bila tingkat penguasaan = 0 % - 54% (Nurkancana,1990).
Selanjutnya dengan mengacu pada lembar jawaban para siswa yang telah terkumpul akan dilakukan analisis yang berhubungan dengan berbagai faktor yang menjadi penyebab ketidak mampuan siswa menyimak cerita rakyat.
3.5.2 Kualitatif
Data kualitatif ini diperoleh dari data non tes yaitu observasi, dan dokumentasi. Data observasi dianalisis untuk mengetahui kesulitan siswa selama proses pembelajaran menyimak cerita rakyat. Sementara itu dokumentasi digunakan untuk mencari data mengenai variabel atau hal-hal yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah dan ain-lain. Analisis dilakukan dengan cara memadukan data secara keseluruhan. Analisis dan pendeskripsian data non tes ini bertujuan untuk mengungkapkan semua aktivitas  siswa dan perubahannya selama proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II dan siklus II ke siklus III.


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA RAKYAT MELALUI MEDIA AUDIO PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 DONGGO KABUPATEN BIMA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

22 comments:

Niarly Andara on December 28, 2012 at 12:17 AM said...

Mas Boleh minta lengkap document Skripsi ini??

wirman valkinz on December 28, 2012 at 3:21 PM said...

Niarly Andara# bleh,,,krimin j e-mail adress nya...ntr sy krimin lewt sana,,lok bsa pke Gmail j,,byr lbih mudah

Kris Majalengka on January 9, 2013 at 5:42 AM said...

mas saya juga minta dokumen lengkap skripsi ini ini gmail saya. krismajalengka@gmail.com ditunggu secepatnya yah mas

wirman valkinz on January 9, 2013 at 6:21 AM said...

Kris Majalengka : udah sya krimkan bro,,silhkan cek email,,terima kasih untuk kunjungannya,,semoga membantu

Anonymous said...

mas saya juga minta skripsi lengkapnya ya. nih email saya hanasayang@rocketmail.com

wirman valkinz on February 3, 2013 at 10:12 PM said...

Hana: sudah tak kirimin,,silahkan cek email ya,feel free blek lagi,,trims,,

subhan taqim on February 13, 2013 at 8:24 PM said...

mas saya juga minta skripsi lengkapnya ini email sya, subhantaqim@gmail.com saya tunggu ya

Anonymous said...

Mas....
Saya bisa minta dokumen skripsinya lebih lengkap gak????
Kalau bisa mnta tlong kiriman ke alamt email saya...
womend48@yahoo.com

wirman valkinz on February 14, 2013 at 2:16 AM said...

Subhan dan womed48: sudah saya kirimkan mas bro,,silahkan cek email yach,,,trima kasih sudah berkunjung

Cucu Rahmawati on February 17, 2013 at 12:35 AM said...

mas saya minta dokument lengkapnya untuk skripsi ini,,bleh g??

Cucu Rahmawati on February 17, 2013 at 12:41 AM said...

ini alamat g mail saya coe.anugrah@gmail.com di antos nya mas,,hatur nuhun sateuacana,,

wirman valkinz on February 17, 2013 at 1:39 AM said...

CUCU Rahmawati: udh tak kiriman mbk bro,,slihkan cek emailnya yack,,,terima kasih sudah berkunjung

Anonymous said...

mas wirman
saya minta juga dung
mohon dikirim ke alamat ini ya
angga.adharullah@gmail.com
terimaksih sebelumnya :)

akbar tata on February 26, 2013 at 3:16 AM said...

ass mas boleh minta dokumen skripsinya ,,krim kesini akbartata19@gmail.com

Anonymous said...

boleh ga minta file lengkap skripsi ini? ini alamat email saya ochapitz@gmail.com terimakasih sebelumnya...

wirman valkinz on March 3, 2013 at 4:13 PM said...

AKBARATA, ANGGA,OCHA: silahkan cek emailnya yach,,udh tak krimin mua,,,mg bermnafaat

Subada Gates on March 14, 2013 at 4:47 PM said...

bang krimin jug donk, lgi butuh bnaget nie

subadagates@gmail.com
makasi kka

Anonymous said...

mas bro
minta file ny dunk
tolong yaaaaa
makasi byk
ridhobrew@gmail.com

Momo style shop on April 2, 2013 at 7:02 AM said...

mas aku dian, aku minta tolong mas
boleh kirimin file menyimak dongeng dengan media audio ini ga mas?
ke alamat ocie.die@gmail.com, mohon bantuannya ya mas terima kasih banyak!

Dwi Nofita Sari on April 17, 2013 at 9:22 AM said...

mas saya juga minta donk..dokumen lengkap skripsi ini.
ini emai saya Dwinof172@gmail.com

rasdoyo saja on June 2, 2013 at 5:28 PM said...

mas boleh kirim filenya ke email rasdoyo@ymail.com?? jg ya..

Tiara Aprilia Joseph on July 26, 2013 at 1:46 AM said...

mas boleh saya minta dokemen lengkapnya ya, ini gmail saya apriliajoseph@gmail.com

Post a Comment


Get this widget!